Pesan dari Sahabat


Hehee...

Hehee...

Sahabat…

Semua orang ingin menjadi sempurna…

Tapi menjadi sempurna itu melelahkan.

Hanya dengan bersyukur atas apa yang telah Dia anugerahkan pada diri kita…

Kita bisa mencapai kesempurnaan.

Aamiin.

Sahabat…

Mari kita belajar mensyukuri nikmat Allah…

Diiringi dengan Doa dan Ikhtiar.

***

Bait-bait kalimat di atas adalah sebuah pesan yang telah saya terima semenjak tanggal tiga puluh satu Januari 2012 yang lalu. Sebuah pesan yang akan segera saya hapus. Ya, untuk mengosongkan folder pesan masuk yang telah berkumpul banyak di dalam inbox hapeku. Begitu aku selalu. Tapi, sebelum itu, lebih baik rasanya untuk menitipkannya di dalam salah satu lembaran catatan hari ini. Karena ada inti penting yang ia sampaikan. Semoga bermanfaat. Meskipun saya tidak tahu pasti, siapa yang merangkai kalimat-kalimat tersebut untuk pertama kalinya. Terima kasih yaa, untuk titipan inspirasinya. Di sini saya  menjawab,

“Yuuuksss,.. :D  Mari kita bersyukur dengan iringan doa dan ikhtiar yang sempurna.”

Untuk setiap pesan yang tertuju pada diri ini, yang pernah ia baca walaupun sekilas, kalau berasal dari dalam hati, maka akan sampai pula ke relung hati ini. Ruang hati yang sedang kami bangun di sini adalah salah satu sarana untuk mengumpulkannya. Agar setiap pesan yang bermakna dan berkesan, menjadi bukti bahwa kita pernah bersama dalam perjalanan ini. Bukankah hasil yang maksimal tercipta atas perbuatan banyak orang? Maka, semakin banyak partisipasi yang menemani perjalanan kita, maka semakin bagus hasil yang akan tercipta.

Tidak ada yang tercipta sia-sia. Baik yang kita lakukan kepada oranglain, maupun yang kita terima dari sesiapapun itu. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari semua itu. Agar jalan-jalan kebaikan yang kita bukakan untuk orang lain, menjadi jalan bagi kita untuk menjadi lebih baik dari hari ini. Karena setiap kita adalah pribadi-pribadi yang perlu bersinergi dengan sesama. Apabila hari ini kita dapat tersenyum, bukankah senyuman itu tercipta atas bantuan dan pertolongan dari pihak lain? Kita tidak pernah melakukannya sendiri. Namun, ada pihak-pihak yang walaupun tidak kita sadari, sebenarnya beliau berperan. Meskipun lewat sebait pesan yang beliau kirimkan.

Pesan, pernahkah engkau menerima pesan, wahai teman? Lalu, pesan yang seperti apakah yang seringkali engkau terima? Apakah pesan tersebut membuat engkau berpikir?

Pesan, merupakan jalan yang mampu mengembalikan ingatan kita pada hal-hal yang sedang disampaikan oleh apa yang terdapat di dalam pesan tersebut. Walaupun pesan berisi sebuah kata saja, ia berarti. Apalagi pesan yang kita terima terdiri dari rangkaian beberapa buah kata. Yakinlah, bahwa pengirim pesan merangkainya dengan maksud yang baik. Ya, agar kebaikan yang telah beliau terima atas pesan tersebut, dapat tersampaikan kepada kita pula. Lalu, apa yang kita lakukan ketika menerima pesan?

Pesan, tidak hanya berbentuk rangkaian kalimat saja. Namun, sikap, tingkah laku, gerak-gerik dan ekspresi pada wajah juga merupakan sebuah pesan. Pernahkah kita menyaksikan seorang anak kecil yang sedang menangis tersedu-sedu di tepi jalan? Pada siang hari yang sangat terik, sang anak menangis dengan kuatnya. Ia melepaskan segala beban yang ia rasakan melalui banjir airmata yang membasahi kedua pipinya. Ia hanya menangis. Lalu, dengan suara yang semakin meninggi, dikuceknya pula kedua matanya yang penuh dengan uraian butir-butir nan bening itu. Airmata kembali berjatuhan. Sang anak terus meronta, menangis dan mengurai rasa. Sedangkan di sebelahnya, ada seorang laki-laki separuh baya, yang sedang tergeletak, tidak tidur. Sepertinya beliau kelelahan. Lemah. Hingga beliau membiarkan sang anak kecil menangis begitu saja. Adakah yang salah?

Begitu tayangan pesan yang saya terima siang itu. Saya membaca pesan dari kejadian yang berlangsung tadi. Dalam perjalanan menuju pameran buku di Jl. Braga no. 129 beberapa hari yang lalu. Ketika kami (saya bersama dua orang sahabat), melewati sebuah lokasi yang tidak bersih, memang. Di emperan sebuah toko. Hal yang mengusik perhatian kami saat itu juga. Lalu, Ukhti, salah seorang teman saya pun menghampiri anak kecil yang sedang menangis, seraya bertanya, “Kenapa Adik…?” Tiada jawaban yang terdengar dari bibir mungil sang bocah. Ia hanya memperkeras suaranya. Ketika engkau sempat melihat pemandangan yang demikian, apa yang dapat engkau lakukan, wahai teman?

Pesan, kita tidak perlu membaca banyak buku untuk dapat menemukan pesan penting yang kita perlukan. Namun, dengan mengenali pesan yang kita baca, maka kita dapat menciptakan buku-buku yang memesankan. Apakah pesan yang engkau baca dari kejadian yang seringkali engkau temui, teman. Ketika seekor kucing duduk terdiam di depan rumah, ia merenung. Lama sang kucing tanpa gerakan, kecuali hanya menggerak-gerakkan kedua telinganya yang indah. Pasti ada pesan yang kucing sampaikan pada kita. Agar kita dapat memikirkan atas apa yang sedang ia alami. Ai! Emang kucing siapa?😀

Dari pesan yang tersirat, kita dapat merangkai pesan yang tersurat. Menuliskan hasil pengamatan dari apa yang kita saksikan merupakan salah satu jalan untuk menulis pesan. Lalu, apakah pesan yang kita tuliskan tersebut bermakna?

Di sepanjang perjalanan kehidupan, kita pasti menemukan beraneka makhluk hidup yang sedang berjalan pula. Ada juga benda mati yang terdiam dengan sepenuh hati. Bermula dari pertama kali kita melangkahkan kaki, hingga sampai di tempat tujuan yang sementara, banyak pesan yang dapat kita petiki. Tidak hanya yang tertulis, namun yang mau kita hayati. Seberapa peduli kita pada tulisan yang menebar indah di alam-Nya yang megah ini? Sampai di mana perhatian yang kita sangkutkan untuk dapat memetik pesan-pesan terindah dari kehidupan ini?

Sudah berapa lama kita ada di dunia ini? Berapa masa yang kita lewati untuk menjadi seperti ini? Ada berapa banyak insan yang kita temui dalam masa tersebut? Dan tahukah kita, siapa kita saat ini? Bersama siapa kita melanjutkan perjalanan hanya untuk mampu memetik pesan-pesan dari alam-Nya. Apakah yang telah kita baktikan pada beliau-beliau yang membersamai kita sampai sejauh ini? Berpesan dan memberikan pesan, dapat membuat kita saling mengingatkan. Untuk sesiapapun yang sempat berpesan kepada diri ini, semoga dapat menjadi jalan bagi kita untuk mengembalikan ingatan yang pernah ada.

Siapapun yang menyampaikan pesan kepada kita, terimalah. Dengan tidak memandang siapa pemberi pesan, namun dengan memahami apa yang beliau pesankan. Karena setiap perangkai pesan, tidak selalu menunjukkan siapa dirinya yang sesungguhnya, hanya karena beliau tidak ingin diketahui. Nah! Kalau kita tidak tahu siapa pemberi pesan, akankah kita mengabaikan inti dan makna dari pesan yang beliau titipkan? Bukankah hikmah yang sempurna terkadang datang dari orang yang belum kita kenali sama sekali. Sedangkan beliau berperan untuk memberikan kebaikan kepada kita. Karena beliau peduli. Lalu, bagaimana dengan beliau yang memberikan pesan kepada kita, sedangkan beliau mengenal kita dengan baik. Wah! Ini menjadi pesan yang sangat luar biasa! Ia mampu mensenyumkan kita lebih semarak lagi. Walau bagaimanapun isi dari pesan tersebut, yakinlah pada saat terbaik, ia berguna. Meskipun  bukan saat ini. Namun, pada waktu yang akan hadir setelah hari ini, yakinlah.

So, apapun bunyi pesan yang kita hayati dengan sepenuh hati, jangan langsung membuangnya kalau kita tidak menyukainya. Karena terkadang, apa yang kita tidak sukai saat ini, dapat menjadi jalan yang memotivasi diri untuk melangkah pada masa yang berikutnya. Ya, ketika kita memerlukan pesan yang bernada sama, maka kita dapat melihatnya lagi. Ini semua adalah tentang pilihan.

Kalau kita langsung meninggalkan pesan yang menemui kita, dan tidak mau untuk memandanginya lagi, maka bagaimana rasa yang pengirim pesan alami? Bagaimana beliau sudi memberi pesan kepada kita lagi? Akan tetapi, kalau kita menyimpannya rapi, pesan yang beliau rangkai dengan sepenuh hati, maka insya Allah, pada suatu hari yang lebih indah, kita dapat mengingat beliau yang menjadi jalan dalam perjalanan kehidupan kita menemui tujuan. Bukankah memang demikian, teman?

Walaupun pesan tersebut berisi tentang kekurangan diri, semoga ia menjadi jalan bagi kita untuk melecut semangat. Agar kita tidak berlama-lama terpana dengan apa yang terjadi. Kalau kita tahu ke mana kita melangkah, maka kekurangan adalah batu pijakan yang menjadi jalan bagi kita untuk senantiasa ingat. Kita hanya boleh memberi sedikit perhatian  saja padanya. Sedangkan yang perlu kita berikan pemahaman yang optimal adalah pada kelebihan diri. Dengan demikian, semakin indahlah hari ke hari yang sedang kita jalani. Tidak ada yang sempurna, namun kemauan untuk memberikan yang terbaik, membuat kita mampu untuk melangkah lagi. Hari ini perlu lebih baik dari hari kemarin.

Dengan adanya pesan yang kita terima, maka kita dapat menyadari tentang siapa kita yang sebenarnya. Karena, ada beberapa hal yang kita belum menyadari, namun orang lain mengetahui banyak tentang siapa kita. Wahai teman, adakah pesan terindah yang engkau sampaikan pada sahabatmu yang sedang melanjutkan perjalanan? Ketika beliau sedang menempuh perjalanannya pada rute yang telah lama ia tempuhi. Sedangkan ia ingin terus menikmati perjalanannya, walaupun rute tersebut sudah ia kenali. Teman, bersahabat denganmu sungguh meneduhkan.

Ketika sebait pesan yang engkau sampaikan telah kami terima, maka wajahmu segera  hadir saat itu juga. Kami menyambutnya. Yakinlah, ekspresi yang engkau tampilkan, tersirat dari pesan yang engkau layangkan. Dan bayangan itulah yang mampu memberikan pemahaman pada kami di sini, bagaimana perhatian yang engkau berikan. Ketika pesanmu bernada bahagia, maka kami menyambutnya dengan sukacita. Namun, saat pesan yang engkau rangkai berisi hal yang sebaliknya, akan demikian pula keadaan yang kami rasakan. Wah! Bukankah semesta akan memberikan pantulan dari apa yang kita lakukan? Ketika kita ingin agar penerima pesan tersenyum saat menerima pesan dari kita, maka tersenyum saat merangkainya adalah pilihan. Kecuali kalau kita menginginkan hal yang sebaliknya, terjadi.

Teman, bagaimanapun kondisi yang engkau alami saat menulis pesan, terserah padamu. Karena semua itu adalah gambaran tentang siapa engkau. Yakinlah, suasana hati yang kita alami saat merangkai pesan, tersampaikan jelas pada pesan yang kita cipta. So Sweet. Saya, seringkali mengalami akan hal ini. Terlebih lagi ketika merangkai sebuah catatan di dalam diari. Saat suasana hatiku lagi berserabut maka demikian pulalah hasil yang akan tercipta setelah. Nah! Yang paling mengesankan adalah ketika membacanya lagi. Hal yang kita tidak menyadari saat menuliskan, akan kita sadari ketika kita membacanya. Wahai…. merangkai senyuman menjadi lebih indah, ternyata membutuhkan proses yang tidak sebentar yaaa…

Ketika pagi menyapa kita dengan senyuman mentari yang berkilauan, lalu kita membalasnya dengan hal yang bagaimana? Saat ia menyampaikan kehangatan pada jiwa kita yang diliputi awan nan memutih, apakah kita belum lagi mampu menyibakkan awan tersebut dengan jemari yang tersenyum pula? Bukankah kita inginkan hari ini cerah berseri? Bukankah mentari telah menyampaikan pesan pada kita melalui senyuman yang ia tebarkan. Apakah kita tidak akan menerimanya dengan senyuman pula, padahal pesan tersebut buat kita. Maka tersenyumlah, sayang…

Mendidik hati untuk kembali belajar tersenyum, tidaklah mudah. Apalagi yang perlu kita perbuat kalau ia berlama-lama dalam kondisi yang sama? Bukankah tujuan kita di sini adalah untuk merangkai senyuman? Bagaimana kabarnya dengan tetesan tintanya yang tidak lagi setetes, namun telah membanjir. Bagaimana dengan semua huruf yang telah bertaburan pada salah satu halaman diari hari ini? Apakah kita tidak mau tersenyum saat membacanya nanti, ketika ia telah mencapai karakter lebih dari dua ribu dua belas. Wahai hati, engkau simpan di mana rasa syukurmu pada hari ini?

Ketika sebelum mampir di sini, engkau telah membaca sebuah pesan dari sahabat yang berbaik hati untuk mengingatkanmu. Saat engkau terkesan dengan apa yang beliau sampaikan. Lalu, engkaupun menitipkannya di sini. Kemudian, engkau berikhtiar dalam waktu pagimu untuk merangkai kalimat yang lebih banyak lagi. Apakah engkau belum lagi bersyukur atas karunia ini? Bukankah dengan bersyukur, Allah memberi lebih banyak nikmat lagi, padamu. Dan tahukah engkau wahai hati, salah satu nikmat tersebut adalah kebahagiaan yang engkau rasakan ketika citamu tercapai. Ya, meneteskan tinta hati. Sedangkan tetes-tetes itu telah sebanyak ini. Lalu, sebanyak apa rasa syukur yang sedang engkau bangun saat ini? Tersenyumlah… Ya, tersenyumlah saat ini. Itulah jalan syukurmu, teman.

Tidak ada yang dapat membuat wajah kita tersenyum dengan menawan, kalau hati masih berlepotan dengan rasa yang ia cipta sendiri. Bagaimana bisa, kita mensenyumkan lebih banyak orang, kalau kita sendiri belum lagi mau tersenyum untuk diri sendiri terlebih dahulu. Ai! Perjuangan ini membutuhkan perjuangan yang sempurna. Ikhtiar yang kita lakukan berhiaskan doa akan menjadi jawabannya. Walaupun ketika kita memintanya untuk datang pada saat ini, namun ia belum lagi menyahut, maka teruskanlah perjuangan. Melangkahlahl lagi, wahai jemari. Walaupun saat ini, suasana hatimu sedang dalam kesibukannya sendiri. Hati yang begitu gemar membuat wajah ini menjadi mudah berganti ekspresi. Yaa Allah Yang Maha Membolak balikkan hati, bimbingan-Mu adalah harapan kami.

Bimbing kami selalu dalam menjaga hati ini agar senantiasa sesuai dengan yang Engkau ridhai. Karena kami sangat ingin tersenyum lebih indah lagi bersama-sama dengannya. Ia perlu kami ajak serta, saat kami bahagia. Tiada ia akan tertinggalkan walaupun sesaat atas berbagai keadaan yang kami tempuhi. Aamiin.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s