Satu per Satu


Saat Ini Berharga

Saat Ini Berharga

Satu per satu, kata yang hadir mulai membentuk kalimat. Dari kalimat ke kalimat berikutnya, ada  titik demi titik yang membatasinya. Nah! Terkadang, ada tanda baca-tanda baca lainnya yang menyelingi. Kadangkala ada koma yang menyertai. Tidak jarang pula ada tanda petik maupun tanda seru yang mempercantik hadirnya sebuah kalimat. Dengan penuh keyakinan, jemari terus melangkahkan kaki-kakinya pula. Bersama jiwa yang tersenyum, ia memulai perjuangan hari ini dengan sebuah tekad! “Hari ini perlu menjadi lebih baik dari hari yang kemarin”, begini ia selalu memberikan ingatan pada sesiapapun yang saat ini ada bersamanya.

Jemari. Pada catatan yang ke-empat ratus empat ini, ia ingin menitipkan bait-bait kata yang berhubungan dengan persahabatan dalam perjuangan. Perjuangan yang  bermula dengan jalinan persahabatan, akhirnya akan sampai juga pada tujuan yang telah siap untuk menyambut. Persahabatan yang beriringan dengan rangkaian doa yang terkirimkan menjadi pendukung selamanya. Buat sesiapa saja yang menjadi sahabat dalam perjalanan ini, terima kasih yaa. Karena engkau sangat berarti bagi kami. Tanpa peran dan sertamu wahai teman, tiada mungkin kami masih bertemu denganmu di sini. Hingga saat ini menyapa. Oleh karena itu, selagi langkah-langkah ini masih menjejakkan meski sebuah tapak pada hari ini, seiring dengan ayunan tangan yang menyertainya, kami mengungkapkan terima kasih yang terus mengalir. Bukan untuk memberikan balas budi atas segala yang kami terima, namun karena adanya sebuah suara yang memberikan pinta padamu juga, agar kita dapat terus bersama dalam melanjutkan perjuangan ini. Karena kita tidak pernah tahu kapan terakhir kali kita bertemu di sini. Apakah saat ini adalah pertemuan kita yang pertama sekaligus menjadi yang terakhir? Ataukah kita masih ada kesempatan dan waktu untuk kembali bersua pada masa yang berikutnya? Wallaahu a’lam…

Namun, dengan sepenuh keyakinan yang mengalir dari dalam ruang jiwa, ia menyampaikan pesan padamu teman, bahwa kita akan selamanya bersama di sini. Walaupun tanpa raga yang menyapa dan menyampaikan barisan kata untuk menyambut kehadiranmu. Meskipun tidak pernah engkau mendengarkan alunan suara yang menyampaikan terima kasih atas kehadiranmu. Namun cukupkan? Hanya bait-bait ini yang menjadi perwakilan segalanya. Karena  ia telah menjelma senyuman demi senyuman yang sedang kami rangkai menjadi lebih indah lagi. Agar, semakin banyak wujudnya, yang menyambutmu di sini. Kalau bukan untuk meneruskan mimpi yang sempat tertunda ketika kami siuman dari rehat panjang pada malam hari. Kalau bukan untuk mengeksiskan diri meskipun beberapa lama saja setiap hari, maka tiada pernah ada semua ini. So, atas segala yang terjadi hingga saat ini, mohon maafkan segala khilaf dan banyak kesalahan yang kami perbuat di sini. Apakah ada kesengajaan yang kami tidak sadari, ataupun atas kejadian yang kami sadari dengan sebenar-benarnya, pardon me yaa…

 Sebelum akhirnya kita berpisah untuk selama-lamanya. Sampai waktunya nanti kita berjumpa lagi pada kesempatan terbaik, maka selama itu pula kami akan senantiasa merindui kebersamaan kita seperti saat ini, di sini. Selamat menjalani hari menjadi lebih berarti lagi. Agar manfaat demi manfaat terus menaungi keberadaan dirimu, teman. Di manapun engkau berada. Walau bersama dengan siapapun, di sana. Semoga ada saja makna yang sempat engkau ukir, yaa. Hingga akhirnya nanti, raga tiada lagi di sini. Namun rasa, pesan, kesan, ingatan, bahan pelajaran, berbagai pengalaman dan ilmu pengetahuan yang sempat engkau titipkan, semoga kami dapat membawanya serta dalam langkah perjuangan ini. Karena engkau begitu berarti bagi kami. Meskipun kita belum pernah berjumpa meski sesaat. Walaupun kita sempat bersama walau beberapa menit saja. Ketika kita pernah berkenalan meski sekilas. Baik di alam nyata, maupun di dunia maya yang masih membentang untuk kita lalui. Ketika pada suatu masa yang berikutnya,  kita terpesona saat berjumpa dan kemudian mengatakan dengan sepenuh jiwa, “Ai! Engkau yang pernah saya kenali di dunia maya, kan?.”  “Owh, ternyata ini dia yang dulu pernah menemuiku,” komentarmu. Atau; “Wah! Kan dulu kita pernah bersama dalam menjalankan aktivitas untuk beberapa masa,” tanggapmu pula. Kemudian, kita tersenyum penuh makna di masa yang sama. Ai! Membayangkan saja, tentu tidak asyik… Semoga ia menjadi kenyataan yang membuat kita menyadari dan mengerti bahwa semua ini tidak lagi harapan dan asa yang belum nyata. Namun kita telah mengalaminya dengan segera. Sedangkan kita masih belum percaya atas apa yang sedang berada di hadapan.

Teman, ketika engkau mempunyai keyakinan atas cita yang tercipta dan sangat ingin untuk engkau wujudkan, maka melangkah dan bergeraklah untuk memulainya. Hanya hari ini kita ada untuk melakukan itu semua. Tidak ada lagi kesempatan yang pasti kita miliki, kalau saja semenjak saat ini kita belum lagi menyadari akan pentingnya waktu. Bukankah siapa saja yang kita saksikan hari ini, belum tentu akan kita temui lagi pada masa setelah saat ini? Di sinilah pentingnya memberikan maaf kepada siapa saja.

Dalam kesempatan terbaik ini, saya ingin sangat mengarsipkan tentang perjalanan pada suatu hari yang penuh dengan warna dan warni. Aneka corak penampilan alam, sangat saya nikmati seharian. Karena ada banyak jenis karakter yang saya temui dalam waktu yang tidak lebih dari sepuluh jam saja dalam rentang waktu beraktivitas di luar. Yach, hari yang begitu penuh kesan. Karena ada engkau yang membersamai kami, teman. Engkau yang menjadi jalan hadirnya senyuman ini. Engkau yang sangat saya hargai. Engkau yang sepenuh jiwa ini, begitu berarti. Engkau yang menitipkan banyak pesan dan kesan yang tersirat meski tidak tersurat. Engkau yang menyampaikan pesan melalui gerak, gerik dan ucapanmu dalam bersikap. Engkau yang….. Tiada lagi kata yang mampu mewakili ungkapan terindah dari dalam hati, yang hingga saat ini masih bertaburan di sana. Terima kasih yaaa…

You, Engkau, Engkau, Engkau, Engkau, Engkau, Engkau, Engkau, Engkau, Engkau, Engkau, Engkau, Engkau, Engkau, Engkau, Engkau, Engkau, Engkau, Engkau, Engkau, Engkau, … Sahabatku.

YEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE … S

***

Engkau, adalah Siti my Neighbour yang pertama sekali saya pandangi pada awal hari. Siti yang saat itu sedang memasang kaos kaki, kemudian menempelkan sepatu pada kedua kaki beliau. Siti yang sedang berjongkok, dengan posisi tidak sampai lima langkah jaraknya dengan saya. Siti yang segera mengeluarkan suara, “Wwwaaa… baru bangun yaa.” Begini sapa yang beliau sampaikan, ketika pertama kali melihat wajah saya yang langsung menebarkan senyuman dari balik pintu. Hohoo…😀 Dengan ekspresi wajah yang tersenyum bebas, saya  berhehee … saja. Lalu, tersenyum lebar lagi. Ini terjadi, beberapa saat sebelum akhirnya Siti bilang, “Berangkat duluan semuanya…. Assalamu’alaikum.” Kalimat yang sama beliau rapal setiap kali akan berangkat beraktivitas. Kalimat yang intinya adalah meminta izin, kalau Siti akan meninggalkan wisata baroedak dodol untuk sementara. Sampai tiba waktunya nanti, Siti akan kembali. Biasanya, beliau akan pulang beberapa menit menjelang azan Magrib mengalun. Kecuali hari Jum’at dan Sabtu, maka Siti akan pulang lebih cepat dari jadwal yang biasanya. Karena pada dua hari tersebut, beliau bersama dengan Mamy akan menempuh masa perkuliahan. Yes! Enaknyaaa, bisa kuliah lagiiii….. “Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh,” jawaban yang mungkin tidak Siti dengar lagi, karena beliau segera berlalu. Membuka gembok dan kemudian melangkahkan kaki.  Semangat Sitiii… Titidije yach!

***

Engkau adalah, Resti alias Echi, yang saya temui kemudian, pada hari yang sama.  Akhirnya saya melangkahkan kaki ke lantai dua tempat di mana Echi, Siti Barokah, Shanty, dan siapa lagi namanya yaaach… (wah! Saya belum lagi dapat mengingat sebuah nama, yang kamarnya berada di samping kamar Shanty. Tepat di sebelah kiri, setelah kita menaiki tangga, ada sebuah kamar yang di dalamnya ada seorang gadis manis yang sangat suka warna ungu. Hingga perabotan yang beliau pakai hampir semuanya ungu. Siapa yaa… Siapa yaa… Beliau mudah tersenyum.  Berasal dari Cileunyi (ini juga kalau saya tidak salah ingat). Saya seringkali salah memanggil nama beliau dengan ‘Dewi’. Padahal nama yang beliau punya bukan Dewi. Ai! So sweet dech.

Setelah memanggil nama Siti beberapa kali, akhirnya Echi yang menyahut. Karena ternyata Siti Barokah lagi tidak di tempat, lagi company visit.

“Echi, punya seterikaan engga? Yn mau pinjem yaa. Karena tadi di bawah, seterikaan yang kita biasa pake, engga ada di tempat. Gimana?,” suara saya mengalir semilir angin bertiup.

“Owh, Echi engga punya,” jawab Echi. Lalu ia pun berdiri dari duduknya. Kemudian, menghadap saya.

 “Paling Siti, yang punya.  Bentar yaa…,”  seraya menuju kamar Siti, tetangganya.

“Owh, kamar Siti engga di kunci. Seterikaannya yang ini bukan, Teh?,” Echi memastikan apa yang sedang beliau lihat.  Ya, ternyata sedang ada dua buah seterikaan di kamar Siti pagi ini. Xixiixiiii… Senyumku segera menebar bersama pikir, yang berteriak, “Yes!.”

“Iya Echi, boleh Yn pinjem yaa, tingkiyuu so muach,” saya menerima salah satu dari dua seterikaan yang tadi sedang bermain-main.

 “Mariii…,” jawab Echi.

Kemudian, saya segera melangkahkan kaki-kaki ini, menuruni satu persatu anak tangga yang lantainya berwarna putih. Beberapa menit kemudian, saya pun asyik merapikan pakaian yang akan saya pakai pagi ini. Kostum batik kecokelatan, dengan kerudung berwarna krem. Adalah paduan dua warna yang ikut serta menemaniku seharian ini. Setelah semuanya selesai, maka sayapun bergegas mandi. Sebelum jam menunjukkan pukul tujuh pagi, persiapan untuk berangkat beraktivitas hari ini pun usai.  Lalu, tanpa alasan apa, akhirnya saya pun berangkat ke lokasi aktivitas lebih awal dari biasanya.

***

Beberapa menit setelah pukul delapan, saya sedang berada di sebuah ruangan, pada lantai tiga.  “Assalamu’alaikum,” pada diri sendiri, saya  menyampaikan salam. Karena memang belum ada siapa-siapa pada jam segitu, biasanya. But, setelah saya meneruskan langkah-langkah yang berikutnya, menelusuri ruangan, ternyata di lantai yang sama hanya berbatasan sebuah dinding dengan pintu membuka, sudah ada Bapak Henry. Beliau telah memulai aktivitas hari ini lebih awal.

Segera, saya menuju pojok ruangan, di mana saya biasanya meneruskan perjuangan. Kemudian, membereskan meja yang terlihat belum terlalu rapi. Menyalakan komputer, dan kemudian, merapikan beberapa kertas yang masih berada di sana dan di sini. Beberapa saat kemudian, Teh Feny, teman yang tempat duduknya di samping kanan belakangku, pun datang. Beliau memang suka datang lebih awal. Kami pun bersenyuman, dengan ekspresi yang penuh persahabatan.

Setelah mengecek beberapa perlengkapan yang sekiranya akan dibutuhkan, saya pun melangkahkan kaki ke ruangan Bapak Henry.  Untuk menandatangani beberapa dokumen yang semenjak kemarin sore, telah siap!  Untuk selanjutnya, giliran kaki-kaki ini menuruni tangga, menuju lantai satu, dengan tujuan menjemput dokumen-dokumen yang pada hari kemarin telah saya titipkan pada Ibu Yuke, untuk beliau tandatangani pula.  Setelah bertemu Ibu, beliaupun memberikan selembar cek yang dananya akan kami gunakan untuk membayar pajak.

“Cek-nya jangan lupa difotokopi dulu yaa,” Ibu mengingatkan.

“Baik Ibu,” jawab saya. Kemudian saya segera menemui Mba Ros dalam rangka meminjam stempel untuk menghiasi beberapa lembaran yang sudah ada tanda tangan pimpinan kami.

 “Mbaaa…. Yn minta capcusnya yaach,” sapa saya pada Mba Ros yang segera berekspresi kaget. Karena kami lagi dalam posisi tidak berhadapan, ketika saya datang. Ekspresi yang unik. Kemudian, untuk beberapa saat, kamipun sibuk menempelkan beberapa tanda pada lembaran kertas.

“Wah! Tintanya sudah mulai habissss….,” kita tersenyum bersama.

“Mari, kita mengisi ulang. Tapiiii,… gimana caranya yaaaaa,” kebingungan kita segera teratasi, ketika akhirnya, Teh Siti datang. Beliau memberi petunjuk tentang tinta-tintaan.

Teh Siti adalah salah seorang kolega kami yang tidak sampai sebulan lagi, akan melangsungkan perhelatan akbar.  Empat Maret dua ribu dua belas, adalah hari yang akan paling bersejarah dalam perjalanan kehidupan Teh Siti. Beliau akan menikah. Selamat buat beliau, Teh Sitiiii…..  Masih terlihat jelas ekspresi penuh senyuman yang beliau tunjukkan setiap kali kita bertatapan. Berbunga-bunga di dalam hati, membayang pada wajah yang berseri-seri. Buat Mister “S”, dan Miss “S” “Selamat melanjutkan kisah kehidupan yang berikutnya. Semoga sakinah,  mawaddah wa rahmah hingga ke Jannah. Alhamdulillah…”

***

Engkau adalah Bapak Odik, yang menjadi sarana untuk mengantarkan saya ke lokasi-lokasi yang akan kita tuju pada hari ini. Beliau dengan kebaikan hati, mudah menolong. Ya Rabbi… Mudahkan urusan beliau dari waktu ke waktu. Senantiasa dalam lindungan-Mu. Balasi amal kebaikan beliau dengan pahala yang lebih baik, lagi. Syukur ini, senantiasa mengalir. Di sepanjang perjalanan yang kami lalui, tiada henti bibir ini berucap, “Segala Puji Bagi-Mu Ya Allah, Yang Mengizinkan kami untuk bersama-sama di sini, dalam meneruskan bakti. Selamatkan kami dalam perjalanan ini, hingga nanti kami kembali, Aamiin.”

***

Engkau adalah Bapak Sukisno, yang melayani saya dengan sepenuh hati. “Bakti BCA”, begini dua buah kata yang terukir jelas dekat dengan nama beliau pada name tag, yang menggantung pada kemeja yang sedang beliau pakai. Senyuman, keramahan, bersama suara yang mengalir dengan lepas, menjadi salah satu jalan tersenyumku saat berada di hadapan beliau. Satu persatu, beliau memproses lembaran dokumen yang tadi saya bawa. Hingga akhirnya, semua selesai. “Monggo….,” begini bunyi satu kata terakhir yang beliau sampaikan. “Terima kasih Bapak Sukisno.”

***

Engkau adalah Bapak Suryadi, salah seorang pegawai di BII. Beliau yang ternyata masih muda. Beliau tersenyum, saat pertama kali menemui saya, yang sedang menunggu dari tadi dengan duduk manis di kursi. Baru pertama kali saya bertemu dengan beliau. Setelah beberapa kali, kami berkomunikasi via telepon. Untuk menanyakan banyak hal tentang prosedur pembuatan Bank Garansi. Saya memanggil beliau dengan sapaan “Bapak.” Terima kasih atas  sambutannya.

***

Engkau adalah customer service di gerai Flexy. Hari ini kita berjumpa untuk mengkomunikasikan tentang proses penyembuhan nomor flexy-ku yang hingga saat ini masih dalam kondisi koma. Apakah ia masih mampu bertahan hidup untuk menjadi salah satu sahabatku dalam melanjutkan perjuangan pada masa yang berikutnya di sini? Ataukah usianya sudah tidak akan lama lagi? Sendu rasa hati, untuk berpisah denganmu selama beberapa hari.

***

Engkau adalah kasir di Bank Mandiri yang melayani dengan penuh senyuman. “Bukti lapor untuk Jamsosteknya, mau dititipkan saja?,” beliau menanya terlebih dahulu, sebelum akhirnya saya menyetujui.  “Iya, boleh, terima kasih yaa, Teh..” kemudian kami berpisah untuk sementara. Sampai berjumpa lagi pada bulan depan ya Teh. Mudah-mudahan usia kita sama-sama masih ada.

***

Engkau adalah Ibu Euis, yang menanyai ketika untuk kesekian kalinya,  kami (saya bersama para sahabat; Teh Mey dan Timoet) menghubungi beliau. Perempuan berkulit putih tersebut, adalah Ibu kami yang berikutnya di sini. Bersama Ibu Lela, beliau melayani kami dengan sebaik-baiknya. Dengan kesabaran yang kami tidak tahu lagi sudah sampai setinggi apa tingkatnya. Beliau memberikan kami kesempatan yang berikutnya untuk meneruskan cita di sini, Sangga Buana. Ya Allah… Engkau Maha Mengetahui Yang Terbaik buat kami, para hamba-hamba-Mu.  Mudahkan proses demi proses yang sedang kami jalani. Sudah sampai sejauh ini kami menempuh perjalanan dalam usaha mewujudkan mimpi. Kami ingin menjadi lebih baik dari hari ke hari. Kami ingin menjadi berarti selama keberadaan kami di dunia ini.

***

Engkau adalah gemuruh yang bersahutan pada siang yang terang begini. Meskipun tiada sinar mentari saat ini, namun alam masih cemerlang. Dengan kumpulan awan gemawan nan mulai menghitam, pertanda akan hujan. Gemuruh saling menyampaikan sapaan sesama mereka. Apakah mereka bahagia dapat menguasai siang hari ini? Sedangkan langit mulai meneteskan permata yang sedari tadi ingin luruh ke bumi. Hujan, akhirnya membasahi alam sekitar. Lebih dari satu jam lamanya ia berlangsung.  Gerimis masih bersenyuman dengan tanah yang sedang berpesta bersama tetumbuhan nan gembira, ketika akhirnya, aktivitas hari ini pun berakhir. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju tempat berehat.

***

Dalam perjalanan pulang, saya teringat dengan sesuatu. Vita Rasa. Adalah sore ini, saya sangat ingin mengunjunginya. Untuk memilih beberapa menu yang tersedia. Dalam perjalanan menuju ke toko yang menjual beraneka jenis roti dan makanan basah ini, gerimis masih menari-nari. Ada bekas titik-titik air pada kaca angkot yang sedang saya tumpangi.

Muhun… di payun,” begini kalimat yang saya dengarkan lebih dari sekali. Kalimat tersebut mengalir dari suara sopran sang supir yang sedang mengemudi. Beliau menyahut, ketika ada salah seorang atau lebih dari penumpang yang telah sampai di tempat tujuannya.

“Kirii, yaa,” ini bunyi rangkaian kata yang penumpang sampaikan pada sang supir, untuk meminta berhenti.  Demikian pula dengan saya. Kalimat yang senada, mengalir pula dari pita suara ini. Angkotpun berhenti. Yes, sudah sampai. Saya bergumam dalam hati.

Untuk sampai di toko “Vita Rasa”, saya perlu menyeberang jalan raya terlebih dahulu. Karena memang lokasinya berlawanan arah dengan posisi saya berada kini. “TOLONG BERHATI-HATI SAAT MENYEBERANG.”

“Mbaa… Pesen yang ini yaa…,” bibir ini mengajukan pinta ketika telah tiba di dalam Toko Vita Rasa.

“Buat kapan, Mba?,” tanya penjual.

“Hari ini,” saya menjawab, seraya tersenyum.  Kemudian mengalihkan pandangan pada aneka macam roti yang menarik itu.

“Kalau hari ini, bukan pesan, Mba…. Tapi beli,” jawab Mba penjual dengan ringan. Beliau tersenyum juga.

Jawaban yang membuat saya berpikir,… lalu tersenyum lepas, hehheee…

Engkau adalah penjual yang  wonderful. Thank you very much atas inspirasinya ya, Mba…

***

Engkau adalah Bapak penjual pulsa di “Lingga Cell.”

“Pulsa esia yang seratus ribu, ada Pak?,” tanya yang saya ajukan ketika baru saja sampai di depan konter tersebut.

Engga ada, Neng. Adanya voucher yang lima puluhan,” jawab Bapak Lingga. Tampang serius yang saya pandangi dengan mata penuh tanda tanya.

Bapak Lingga melanjutkan, “Kalau mau, yang lima puluh aja dua kali ngisinya. Untuk modem yaa,”. Beliau menerka dan ternyata terkaan yang benar. Selamaaaaaaat, engkau beruntung.

“Iyaa, betul. Lalu, nanti bagaimana caranya, Pak?,” dengan pikiran yang masih penuh dengan tanda tanya, saya mengeluarkannya satu pertanyaan lagi.

“Ya, nanti ada petunjuknya. Nomornya ingat engga?,” tambah beliau.

“Ingat,” jawab saya singkat seraya menebarkan senyuman pada Bapak Lingga.  Sepertinya, beliau sedang membaca apa yang sedang saya pikirkan. Lalu, saya segera menanya lagi, “Bagaimana kalau minta tolong Bapak aja, tapi saya ambil dulu kartunya, yaaa….. (saya tersenyum, karena memang belum pernah mencobanya.  (biasanya kan saya ngisi pulsa pakai elektrik, bukan berupa voucher, hehehee…).

Beberapa saat kemudian….

Saya kembali. Bapak Lingga sibuk menggosok voucher, mengetikkannya pada keypad hape beliau, lalu berkata, “Pulsanya sudah masuk. Dua kali lima puluh, aja jadinya ya. Karena sebelumnya masih ada saldo pulsa 14ribu sekian. Mau saya bantu aktifin paket internet-nya?,” beliau menawarkan bantuan.

“Terima kasih, Bapak…,” hanya kata-kata ini yang terangkai buat beliau, setelah semuanya beres.

Atas kebaikan yang saya terima dari banyak pihak sepanjang hari yang sangat berkesan tersebut, maka semua menjadi jalan hadirnya diari ini. Catatan ke-empat ratus empat dari total empat ratus empat puluh buah yang perlu tercipta sebelum saya berganti katepe tahun depan.  Menghitungnya mundur, dari semenjak ia tercipta.

Kapankah catatan pertama akan tercipta?

Mari kita merangkainya satu persatu.

🙂😀🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s