Boleh Bookmarks Aja Yaa…, Kisahnya


Dari Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa meminta perlindungan kepadamu dengan nama Allah, lindungilah dia; barangsiapa meminta sesuatu kepadamu dengan nama Allah, berilah dia; barangsiapa berbuat baik kepadamu, balaslah dia, jika engkau tidak mampu, berdoalah untuknya.” Riwayat Baihaqi

Yes!

Yes!

Kisah ini ada banyak. Kisah pertama adalah tentang engkau. Engkau yang baru saja ku temukan. Engkau yang setelah beberapa lama tiada kabar dan beritanya. Engkau yang seringkali ku teringat. Engkau yang akhir-akhir ini, menjadi bagian dari hari-hariku. Engkau yang sangat berarti. Engkau yang berbudi. Engkau yang aku tidak tahu pasti, lagi apa saat ini? Engkau yang bagiku menjadi jalan untuk menitipkan setetes tinta hati. Engkau yang sempat pula mampir ke sini. Walau dalam sebagian waktu paling berhargamu. Katanya, engkau busy, nah lho… koq masih sempat mampir ke mari? Engkau merindukanku, yaa.. 😀

Kisah ke – dua juga tentang engkau. Engkau yang pernah ku temui di jalan ini. Jalan penuh cinta yang sedang aku lalui. Di jalan ini, saat itu ku sedang berjalan sendiri. Aku tiada mengerti sebelumnya, ada apa dengan semua ini? Mengapa aku sampai ke sini? Aku pun menelusurinya setiap hari. Dari hari ke hari, ku jejakkan pula langkah-langkah ini. Sangat jarang aku absen dari aktivitas ini. Berjalan di jalur yang penuh dengan cinta. Bersamamu, akhirnya aku meneruskan perjuangan ini. Engkau yang menjadi sahabat dalam meneruskan perjuangan. Engkau yang belum aku kenali. Engkau yang menjadikan hari-hari selanjutnya penuh dengan warna warni. Indahnya, mengenangkan awal pertemuan kita ini.

Kisah yang berikutnya tentang engkau lagi. Engkau yang aku temui sedang tersenyum. Engkau yang asyik dengan langkah-langkah kakimu yang bergerak maju. Engkau terus saja menyusuri jalanan ini. Sedangkan aku yang sedari tadi hanya memandangi, tergerak pula untuk melangkahkan kaki. Ketika aku perhatikan, engkau sangat menikmati waktumu. Ya, akhirnya aku beranikan diri untuk terus menempuh jalan yang pernah engkau tempuh. Pada suatu waktu, engkau menolehkan pipi kananmu ke arah belakang, aku pun tersipu. Engkau mengetahui, apa yang aku lakukan. Engkau memperhatikan gerak dan gerikku.

“Betul, aku mengikutimu! Lalu, apa yang salah? Tolong, beri tahu aku. Bolehkah? Aku mem-bookmarks jejak-jejak yang engkau tinggalkan? Agar ketika pada suatu hari aku kelelahan dalam melangkah, saat aku terseok jatuh dan belum lagi mampu berdiri, maka jejakmu yang telah aku tandai, dapat ku kenali dengan baik. Agar aku tidak kehilanganmu. Karena engkau sungguh berarti. Bagaimana? Aku bookmarks aja yaa.”

Kisah selanjutnya, masih tentang engkau. Engkau yang belum seratus persen aku kenali. Masih beberapa persen saja, tentangmu yang aku tahu. Namun demikian, hal itulah yang membuatku ada di sini. Kemudian menemuimu. Untuk mengetahui lebih banyak lagi kisah yang engkau rangkai. Kisah tentang perjalananmu di bumi. Engkau memberiku harapan akan masa depan yang penuh dengan mimpi. Ya, saat ini ia masih berbentuk mimpi.

“Namun, tidak selamanya begini, kan?,” aku menanyaimu. Dengan nada yang engkau juga kenali, itulah suaraku. Engkau mengangguk saja, tanda setuju. “Yes!,” senangnya aku. 😀

Saat ini, aku masih ada di sini. Untuk mengikuti kisah yang sedang engkau rangkai. Engkau yang setiap hari menyediakan beberapa jam saja dari waktumu yang dua puluh empat jam itu. Engkau sangat memperhatikan keberadaannya. Sudah berapa lama engkau berada di sini?  Waih! Jangan terlalu lama yaa. Karena aku tidak ingin engkau menghabiskan waktumu yang sangat berharga, hanya untuk membaca rangkaian kata-kata ini. Karena pada umumnya rangkaian ini adalah tentang engkau. Jadi, saya yakin engkau sudah tahu tentang semua ini. Engkau yang menjalankannya, sedangkan aku mengurainya dalam susunan kata.

“Sure! Ingin ku selalu bersama-sama denganmu dalam perjalanan ini.”

Kisah itu? Kisah yang engkau ciptakan belum sepenuhnya aku mengerti. Karena memang begitu adanya. Engkau yang baru ku kenali semenjak beberapa waktu yang lalu, tidak serta merta membuatku lebih cepat mengenalimu. Kalau bukan dengan membaca kisah yang engkau rangkai, aku tidak akan pernah tahu siapa engkau. Kecuali kalau mendengarkan langsung dari teman-temanmu, tentangmu. But, untuk saat ini, aku baru mengenalimu, walaupun sekilas. Sedangkan teman-temanmu, siapa-siapa sajakah beliau? Dapatkah aku berkenalan dengan beliau pula? Ya, teman-temanmu yang seringkali mengelilingimu. Teman-teman hebatmu yang menemanimu dalam berjuang sampai saat ini. Engkau tidak mungkin sendiri, kaan. Mengapa engkau tidak mengajak mereka semua serta dalam langkah-langkahmu? Wahai, engkau yang katanya, busy,  tapi masih menyempatkan waktu ke mari. Engkau ku hargai. Walau dengan menu yang seperti ini, aku ingin engkau menikmatinya. Karena telah berlelah payah engkau ke sini, untuk menemuiku.

“Terima kasih, yaa.”

Kisah ini masih tercipta. Masih bertemakan engkau. Ya, engkau yang tidak mau maju sendiri. Engkau yang menyediakan dirimu untuk kemajuan teman-temanmu juga. Ai! Aku terharu, dapat mengenalmu. Engkau yang menjadi jalan tersenyumku saat ini. Aku punya temaaaaaaaan. Kamu temanku. Bolehkan, ku mengukir kisah tentangmu, di sini. Agar engkaupun tahu, bahwa kehadiranmu begitu berkesan bagiku. Engkau yang menambatkan separuh jiwamu pada sebagian waktuku, saat engkau mampir ke sini. Kemudian membawa sebagian jiwaku ketika engkau melangkah lagi. Ai! Tolong jaga ia yaa. Karena engkau telah mempertaruhkan keberadaanku dengan kehadiranmu. Kalau bukan untuk mengajakku maju, engkau mungkin tidak akan pernah mau untuk menoleh lagi. Karena pedulimu itu, maka engkau memberikan sebagian waktumu untukku. Wahai, baiknya dirimu.

Masih tentang kisahmu. Engkau yang datang tanpa pernah ku tahu, kapankah itu? Saat aku sedang terlelap dalam mimpi panjang pada sebagian waktu rehatku, kah? Sehingga aku tidak mengetahui kehadiranmu. Bagaimana dengan keadaan terakhirmu? Bagaimana kabar tentang perjalananmu? Apakah di depan sana ada rute yang menurutmu perlu untuk ku tempuh pula? Ya, karena engkau telah terlebih dahulu sampai di sana. Hanya karena ingatanmu padaku, makanya engkau berkunjung saat ini. Engkau menengokku.

Kisah yang akan tercipta saat ini, masih tentangmu, teman. Engkau yang tanpa aku sadari, telah begitu lama membersamaiku. Walau aku merasa, itu terlalu berlebihan. Karena aku merasakan hal itu, yaa perasaanku berkata demikian. Betulkah, teman? Walaupun aku tahu, kita sangat jarang bersapaan. Namun dari selirik pesan yang engkau tebarkan lewat nada suaramu yang mengalir penuh dengan kebijaksanaan, engkau menyarankanku untuk terus berjalan. Ketika lemah dan lelah yang aku temui pada suatu keadaan. Memang begini, pengalaman dalam berjalan. Tidak selamanya kita bugar, segar, dan penuh dengan kekuatan. Ada masanya letih itu menunjukkan dirinya dengan penuh senyuman. Senyuman yang segera menyadarkanku, bahwa ia sedang memberikan sebuah kesempatan bagiku untuk berehat.

“Tapi jangan kelamaan,” ini katamu.

Oleh karena itu, aku kembali saat ini teman… Untuk dapat menikmati, meski sebaris senyum dari bibirmu yang mengembangkan keceriaan. Agar aku tahu, bahwa engkau akan mengalirkan sebagian kekuatan yang sedang engkau bawa. Membagi energi dengan sesama teman yang sedang berjalan, adalah sebuah kenikmatan. Bagi yang terberi maupun yang memberi, pasti menyisakan kenangan. Kenangan yang terjalin atas keakraban dalam persahabatan. Bukankah kita akan lebih bertenaga, setelah kita memberikan energi tambahan pada raga yang sedang berjalan. Lalu, bagaimana halnya dengan pikiran yang membentang ke ujung angkasa, tiada bertepi. Tentang hati yang menjadi bagian dari kisah ini, apakah tiada akan kita berikan dukungan? Ia sahabatku dalam perjalanan. Kami bersama, ketika engkau belum lagi ada. Kami teringat akan awal kebersamaan itu. Seperti ini juga keadaannya teman. Semirip dengan kisah yang sedang berpapasan dengan kita. Kisah pertemuan kita di sini, saat ini (lagi).

“Kisah ini terus berlanjut?,” begini tanya yang engkau hadirkan.

“Iya. Lihat saja. Karena semua ini adalah tentangmu, teman. Kisah yang hadir pertama kalinya, karena kau bertemu denganku di jalan ini,”  dengan tanpa memberikan alasan yang lainnya, aku berusaha untuk menjelaskan padamu.

“Ya, semoga kisah ini menjadi bukti, bahwa kita pernah bersama di sini. Engkau akan tahu, pada waktunya nanti, tentang siapa engkau. Walau tidak kini,” aku menambahkan.

Dalam perenungan panjangmu, engkau berusaha mengangkat kedua alismu yang lebat. “Engkau semakin menarik saja,” gumamku. Usahlah demikian, karena aku merangkai semua ini dengan penjiwaan yang penuh. Ya, karena ia pernah ada untuk memberikan sapaan bersama simpulan senyuman yang sangat erat. Mari kita memupuk jalinan persahabatan.

Kisah ini masih sedang berlanjut. Karena engkau sedang ada di sini, teman.  Ya, engkau yang tanpa kenal apa itu kelelahan, masih saja memberikanku kesempatan untuk mengungkapkan apa yang sedang ada di dalam pikiranku. Engkau yang dengan kumpulan kebaikanmu itu, memberikanku peringatan untuk meneruskan perjuangan. Karena kalau bukan dengan cara begini, maka aku akan tertinggal jauh darimu. Karena engkau sedang teruskan berjalan.

“Bookmarks aja yaa,” kembali aku mengulangi permintaan. Yang untuk kesekian kalinya.  Engkau berekspresi unik dan tanpa jawaban. Lalu, ku mengulangi lagi permintaan, “Bookmarks aja yaa?” 😀

***

Kisah. Kisah ini masih tentangmu, teman. Engkau yang menjadi jalan hadirnya bahan pelajaran dari-Nya. Karena engkau adalah bagian dari alamnya. Alam yang berhiaskan tetumbuhan yang beraneka macamnya. Alam yang padanya ada sebuah penampakan yang sangat cemerlang dan gemilang. Ia menguasai siang hari yang seringkali kita temui. Ia adalah mentari yang bersinar berseri-seri. Adakah engkau menikmati waktumu yang hari ini, teman?

“Singgahlah di salah satu halaman perjalanan kami. Kemudian engkau boleh menitipkan beberapa pesan di sini.”

How is?

Teman, kisah ini masih tentangmu. Engkau yang sedang bergiat menggerakkan tubuh dan bagian-bagiannya hingga menghasilkan buah pikiran. Dan salah satunya adalah bagian tubuh berupa jemari yang siap menari ke sana kemari dengan lincahnya. Setiap jemari yang mempunyai tugas tertentu. Mereka bergerak sesuai dengan kewajibannya. Mereka begitu semangat. Yes! Walaupun memang, salah satu dari mereka sudah mulai terlihat lesu. Namun, bagaimana dengan teman-temannya yang masih bersemangat? Terutama telunjuk dan kelingking-kelingking yang sedang bersenyuman. Meskipun dari ujung ke ujung, mereka masih sempatkan waktu untuk saling mengedipkan mata.

“Siapa yang lebih cepat dari semua?”

Kisah ini sudah merembes sampai pada jemari-jemari. Ai! Engkau juga bersama mereka di sana, kan teman? Engkau yang pada awal tadi, sedang menemuiku.  Engkau yang sedang menggerakkannya dengan sepenuh hati. Ya, menggerakkan jemarimu. Bukan jemariku. Karena jemariku yang berbudi, sedang berada di sini bersama-sama denganku. Mereka menanyaimu, “Bagaimana kabar saudara-i mereka yang di sana? Ya, jemari yang menjadi temanmu adalah saudara-i dari jemari kami. Betapa bahagia terasa, ketika pada kesempatan terbaik, kita memberikan kesempatan kepada mereka untuk berreuni? Agar semakin rame pula hari-hari selanjutnya yang akan mereka jalani bersama. Jemarimu dan jemariku, adalah para pelaku bookmarks, tadi. Ia mulai bergerak menuju sasarannya. Padamu, ia kembali meminta izin, “Bookmarks aja, yaa.”

Lha, apanya yang dibookmarks? 😀 ” tanyamu mengagetkan kami yang kembali asyik melangkahkan kaki-kaki jiwa ini.

“Ada deech…,”  jawab kami serentak.

“Termasuk hatimu, juga boleh yaa,” masih berusaha meminta izin padamu. Agar kami tahu, engkau setuju.

Wahai teman, yang sedang melayangkan pandang pada kami yang juga memandang. Masih ada kisah yang akan kami beraikan lagi di sini. Semoga engkau mau mengikutinya, yaa. Karena kisah ini adalah tentangmu yang sedang menemani kami. Engkau yang berjiwa penuh persahabatan. Kami mengenalinya dari tatapan matamu yang menenangkan jiwa kami saat memandangnya. Mata yang bukan elang, namun cemerlang. Mata yang bukan aliran sungai, namun menyejukkan. Sungguh, kami merasa sangat beruntung engkau pandangi seperti itu, walaupun itu hanya perasaan kami saja. Itu sudah cukup berarti bagi kami. Karena engkau melakukannya demi kebaikan kami di sini. Untuk mengalirkannya berlama-lama, engkau pasti tidak sudi. Begitu pula dengan kami yang menyadari akan adab dan pekerti. Tidak baik mengumbarnya, kalau ada yang tidak sudi. Terutama hati beliamu yang pasti segera memberikan peringatan, ingatlah kami yang perlu engkau jaga. Hati, pasti menarik engkau kembali untuk tidak semaunya mengulur kehendak sendiri. Karena sememangnya begitu, engkau mempunyai penasihat yang sangat peduli. Bersamanya, engkau boleh melanjutkan langkah-langkah lagi. Meskipun kami masih jauh berjarak, darimu. Kami di sini sedang mengusahakan untuk berdiri lagi. Setelah lama rasanya, kami terduduk di atas jejeran aktivitas selama seharian ini.

Pada akhirnya, kisah ini akan berujung tentangmu, teman. Karena awalnya ia bermula dengan menyinggung banyak hal yang berhubungan denganmu. Engkau yang berpekerti dan berbudi baik. Engkau yang tidak semaunya menyandarkan diri, kalau belum jelas itu apa. Walaupun pada sepohon kayu yang engkau temui di antara jalan yang sedang engkau tempuhi. Pasti engkau memperhatikan sekelilingnya terlebih dahulu, kalau-kalau ada salah satu makhluk hidup berbulu yang sedang lengket di sana. Ai. Gawat!

Ini kisahku…
Pernah, ketika masih di kampung halaman tercinta. Saat itu, aku berusia belasan tahun. Pada suatu siang yang berhiaskan sinar mentari, aku beserta beberapa orang teman, sedang bermain-main di halaman rumah. Kami main masak-masakan. Adapun bahannya adalah hasil racikan aneka dedaunan dan kelopak bunga yang berwarna warni. Kami mencarinya ke sekeliling pekarangan.
Nah! Pada suatu saat, kami mengunjungi sebuah pohon. Pohon rambutan yang dahannya berbintik-bintik. Ada ukiran menarik yang tercipta alami, pada batang pohon tersebut. Subhanallah… indahnya ciptaan Allah Yang Paling Kreatif. Pada kesempatan tersebut, kami melihat seekor ulat yang sedang tertidur pulas. Fisiknya tidak terlihat jelas, kalau kita tidak memandanginya dengan seksama.  Apalagi pada saat yang sama, ulat lagi tanpa gerakan. Bukan salahnya ulat yang menebarkan bisanya. Namun kami yang menghampirinya, yang salah. Ya, ketika sedikit lagi saja kami menggerakkan jemari ini ke arahnya, maka dapat engkau bayangkan, teman… Apa yang akan terjadi?
Saat itu kami masih kecil.

Ulat berbulu. Ia terlihat menjijikkan. Ia berbisa tanpa kelihatan. Namun aslinya, ia sangat mengagumkan. Bagaimana tidak? Dapatkan engkau menyaksikan seekor kupu-kupu yang sedang melambaikan sayapnya, teman? Dari manakah asal sang kupu yang sedang mendekatimu bersama sayap-sayapnya yang sensitif?

Teman, rangkaian kisah yang terakhir ini adalah tentangmu… karena kupu-kupu itu adalah engkau, sayang…

🙂 🙂 🙂

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s