Ingatlah Wahai Sahabat


Green and Fresh

Green and Fresh

…   وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada …”

(Q.S Al Hadiid [57] : 4)

🙂 🙂 🙂

Lagi, Jum’at kembali. Ia hadir membawa pesona yang sungguh mengagumkan. Lagi, saya mengulangi catatan yang sebelum ini pernah tercipta tentang kesan bersamanya. Ya, hari Jum’at adalah salah satu hari yang sangat saya sukai. How about you, teman?

Lagi, bersama hari yang satu ini, kita memperoleh kesempatan untuk jumpa di sini. Yes. Semoga hanya untuk berbagi, kita ada di sini. Berbagi senyuman yang segera kita ukir di wajah ini. Senyuman yang menjadi jalan bagi kita untuk merasakan betapa indahnya hari-hari yang sedang kita jalani ketika kita membawanya serta dalam berbagai kesempatan terbaik.

Lagi, senyuman yang saat ini tercipta adalah untuk membuktikan eksistensi. Sebagai salah satu bukti bahwa kita masih berkelimpahan rezeki untuk dapat berbagi. Wahai, tidak akan lama keberadaan kita di sini. Apalagi yang dapat kita lakukan, selain mempersembahkan yang terbaik dari diri ini?

Lagi, bertanya pada diri sendiri terlebih dahulu sebelum melakukan apapun itu adalah sebuah pilihan yang pasti. Ya, kalau kita akan memperlakukan orang lain, dengan terlebih dahulu memberikannya kepada diri sendiri, semoga ketenangan hati dan kesejukan pikiran senantiasa menaungi. Agar, apa yang sesungguhnya tidak ingin kita alami, oranglain pun akan merasakan dan memikirkan tentang hal yang serupa. Lalu, bagaimana kita memulai hari yang penuh dengan anugerah ini, wahai teman?

Lagi, mengembalikannya kepada diri kita terlebih dahulu, semoga memperkuat tekad yang telah kita sisipkan di relung hati, agar meneruskan apa yang telah ia niatkan. Kemudian mengajak sang pikir untuk turut serta memberikan pertolongan pada jiwa kita yang sedang berbahagia untuk memulai apa yang ia niatkan, hingga menjadi perbuatan. Seiring dengan persetujuan yang telah ia peroleh, maka bolehlah jemari bergerak dengan sepenuh hati, sesuai dengan apa yang hati dan pikiran kita sampaikan. Karena, segala sesuatu apapun itu yang berasal dari kedalaman hati, akan sampai pula ke dalam hati. Hiyaaa… 😀 Saatnya tersenyum membuka hari. Karena hari ini adalah kesempatan kita untuk mengeksiskan diri.

Lagi, keberadaan kita di bumi-Nya pada hari ini, bukanlah tidak berarti. Bermula semenjak kita siuman dari mimpi-mimpi panjang yang melenakan raga, hingga akhirnya nanti kita kembali menjalani hal yang serupa. Apakah yang telah kita perbuat dalam jeda waktu yang berada di antara keduanya. Semenjak kita bangun tidur, kemudian kita tertidur lagi . Karena  siapapun kita, memang semestinya menjalani hal yang satu ini. Agar, kebugaran, dan kesegaran pada raga, dapat kita rasakan pula. Lalu, bagaimana cara untuk mensegarkan pikiran dan jiwa yang seringkali melunglai pada suatu ketika?

Lagi, kita tidak dapat memungkiri bahwa hal ini dapat terjadi, kalau kita tidak bergiat ria dalam menjaga kesegarannya. Apakah kita akan membiarkan kondisi pikiran dan jiwa kita dalam kondisi yang demikian, dalam waktu yang lama? Bukankah kita ada pada hari ini untuk menjadi lebih baik dari waktu ke waktu?

Lagi, jiwa yang tersenyum, akan mensenyumkan sesiapa saja yang berjumpa dengannya. Pikiran yang cerah dan gemilang, dapat menjadi jalan terbukanya pikiran siapa saja yang berjumpa dengannya. Lalu, bagaimana kondisi jiwa dan pikiran kita saat ini? Dapatkah kita mendeteksi kondisi terakhirnya? Bukankah kalau kita mengalami kondisi tubuh yang kurang prima, maka kita segera berangkat ke dokter untuk memeriksanya? Sedangkan untuk memeriksa kondisi pikiran dan jiwa, apakah kita pun tidak bersegera? Ia adalah sahabat kita yang dekat dan senantiasa ada untuk kita. Bagaimana kita menjaganya, agar ia menjadi sahabat terbaik yang pernah kita bersamai?

Lagi, dengan menanyakan keberadaannya semenjak awal hari ini, semoga menjadi jalan bagi kita untuk senantiasa memperhatikan kondisinya sampai ke ujung hari nanti. Ya, karena ia akan segera melanjutkan langkah-langkah lagi. Bersamanya kita meneruskan perjuangan yang sebelum ini kita tempuhi. Perjuangan dalam meneruskan berbagai cita yang belum kita temui. Termasuk juga perjalanan untuk mengeksiskan diri. Ai! Masihkah sore hari nanti, kita mempunyai kesempatan untuk bersama-sama dengannya? Bagaimana kalau salah satu dari keduanya telah  meninggalkan kita terlebih dahulu?

Lagi, menanyai diri sendiri terlebih dahulu, sebelum kita mengajaknya serta dalam menjalani hari ini, adalah salah satu jalan yang dapat mengembalikan ingatan kita. Ya, ingat akan diri, merupakan langkah awal untuk mengingat, penciptanya. Karena kita tidak tercipta begitu saja, tanpa ada yang menciptakan. Bagaimana mungkin kita meniadakan semua ini? Kalau sesungguhnya saat ini kita ada.

Lagi, siapapun di sana ataupun di sini, pasti sangat suka memandang wajah yang tersenyum. Baik yang muda, belia, masih bayi sekalipun, pasti ikut tersenyum pada wajah ceria. Bagaimana halnya dengan wajah kita saat ini? Adakah ia tersenyum karena hati kita benar-benar melakukannya? Ya, apapun yang kita lakukan, semulanya dari sana. Hingga akhirnya sampai pula pada hati sesiapa saja yang ia temui.

Lagi, pancaran senyuman yang berasal dari kedalaman hati, menjadi jalan bagi oranglain untuk tersenyum pula dari dalan hatinya. Karena ia tersentuh untuk melakukan hal yang senada. Tidakkah engkau pernah mengalami hal yang seperti ini, teman?

Lagi, ada beraneka jenis senyuman yang dapat kita pandangi pada lembaran wajah-wajah yang kita temui dari hari ke hari. Bagaimana kita dapat mengetahui jenis senyuman tersebut? Apakah hati kita tersentuh dengan senyuman yang kita pandangi? Ataukah hati kita segera berkata begini, “Wah… aku tidak merasakan hal yang serupa.” Lalu, kita tidak jadi tersenyum. Pernahkah, teman..?

Lagi, senyuman jenis apapun yang kita pandangi, pasti menyimpan arti.  Dalam hal ini, kembali lagi kepada diri kita sendiri. Dapatkah kita memetik makna, hikmah dari senyuman tersebut? Walaupun hati kita tidak segera tersenyum pula bersamanya. Bukankah berbagai keadaan yang kita jalani, beraneka suasana yang kita alami, membawa pesan dan kesan yang abadi? Menjaga kepedulian untuk memetik pesan dan kesan tersebut, lalu mengabadikannya adalah solusi. Agar, apabila kita menemukan kondisi yang kurang kita senangi, maka kita tidak melakukannya pada sesiapapun. Cukup hanya kita yang mengalami. Karena kita merasakan dan mempunyai pengalaman tersendiri atas kehadirannya. Sedangkan pesan berupa kesenangan yang kita terima, maka kita pun menjaganya agar terus ada. Kita peduli padanya, dengan mengabadikannya di dalam jiwa. Kemudian, pada suatu hari saat kita membutuhkannya lagi, maka kita dapat menggunakan dengan segera.

Lagi, kita, engkau dan aku adalah satu kesatuan yang mempunyai keterkaitan satu sama lain. Bagaimana ekspresi yang kita sampaikan, menjadi mudah untuk dikenali oleh yang lainnya. Siapakah yang benar-benar sehati denganmu, teman? Maka yakinlah, apa yang engkau lakukan, segera sampai padanya. Kemudian, ia di sana, pun melakukan hal yang sama. Ya, karena masing-masing kita telah disatukan oleh ingatan.

Lagi apa engkau saat ini, teman? Tersenyumkah? Atau lagi terselimuti oleh mendung yang sedang bergelayut di ruang jiwa. Ai! Masih pagi, di sini. Bagaimana kalau kita melangkah keluar sejenak dari ruangan ini, lalu memandangi alam yang sedang tersenyum pula. Bagaimana kalau kita menyapa mentari yang sedang senyum-senyum sendiri. Ya, dari dahulu hingga kini, mentari itu tersenyum aja yaa… Makin cemerlang wajahnya, dengan senyuman yang ia pancarkan dari hari ke hari. Makin bersinar wajahnya, dengan kemilau keindahan yang sampai kepada kita. Ai! Adakah mentari hari ini?

Lagi, dengan melangkahkan kaki-kaki jiwa yang anggun, saya sempatkan waktu untuk mengintip sang mentari yang sedang bersinar. Untuk beberapa lama, kami saling berpandangan. Ia menatapku, aku mengedipkan mata padanya. Ya, karena tidak mudah bagi kita  untuk dapat menatap keseluruhan wajahnya yang sedang tersenyum, karena ia akan segera menyilaukan mata ini. But, kalau kita masih sangat ingin menyaksikan bagaimana indahnya senyuman mentari hari ini, maka kita perlu berela hati untuk terkena silaunya nan mewah.

Lagi, berbicara dalam rangkaian kata, tentang senyuman. Saya menjadi teringatkan dengan seorang Bapak, yang saya temui kemarin siang. Beliau datang dengan senyuman yang menebar indah pada lembar wajah yang ramah dan bersahabat. Dari kejauhan, kami saling berpandangan sejenak. Ya, karena kami dibatasi oleh sebuah pagar. Sedangkan pagar sedang terkunci. Dari kejauhan, beliau seakan berkata begini, “Haiii… Yani, aku datang untuk menitipmu sebait pesan. Hayoo, tolong bukain pagarnya. Ke sini ya…

Lama, saya melayangkan pandangan pada beliau di sana. Sebelum akhirnya, saya pun bergerak, berlari-lari kecil untuk membukakan pintu pagar.  Ada yang mengajakku untuk menemui beliau. Padahal, saya tidak tahu awalnya, beliau siapa? Dengan penuh tanda tanya di dalam hati, saya pun melangkahkan kaki.

“Iya, Pak… Ada yang bisa dibantu?,” suara yang mengalir, seiring dengan pertemuan dua mata. aHa! Akhirnya jatuh cinta. Hahaa.. 😀 Bukan, bukan jatuh cinta, tapi berbunga-bunga. Yha… apa bedanya?

Saat mengajukan tanya, saya pun melirikkan pandang pada wajah beliau yang sedang tersenyum. Menyejukkan, senyuman beliau begitu menggoda. Hingga akhirnya, senyuman menerpa relung jiwa, ia bahagia. Karena beliau yang baru saja berkunjung adalah orang baik-baik. Bahkan, kedatangan beliau baru saja, adalah untuk menyampaikan sebaris pesan yang sangat bermakna.

Setelah memberitahukan tentang maksud kedatangan, maka, saya mempersilakan beliau masuk. Bapak Wawan, begini nama yang beliau perkenalkan. Setelah akhirnya, kami terlibat percakapan yang sungguh mencekam. Hangat, dan penuh dengan kesan. Siapakah beliau yang sesungguhnya? Lalu, mengapa beliau berkunjung ke tempat kami? Ada keperluan apa? Tidak perlu bertanya-tanya, wahai teman. Karena beliau adalah relasi kami. Ya, beliau hadir, untuk mengetahui bagaimana kondisi terakhir, mesin EDC Mandiri yang saat ini ada pada kami. Ya, beliau memberikan  pelayanan kepada kami, sebagai nasabah pada bank Mandiri.

Lagi, beliau tersenyum. Saya memperhatikan bagaimana beliau berekspresi. Saat menjalankan tugas dengan sepenuh hati, menanyakan berbagai hal, termasuk bercurhat ria. Ahay, kami berbagi informasi. Kami bertukar pengalaman. Kami saling memotivasi, hingga akhirnya, mengalir sebuah kalimat dari bibir beliau, saya menyimak dengan sungguh-sungguh.

“Kepada nasabah, kita perlu memberikan pelayanan yang baik. ……..(bla..bla..bla..)… Tersenyum.. menyambut dengan senyuman,… tersenyum….” Hingga saat ini, satu kata terakhir, mengelilingi alam bawah sadarku. Sebuah kata yang menetap begitu lama di dalam pikiranku. Semenjak beliau menyampaikannya, sampai akhirnya ia meluber ke sini. Ya, begitu inti dari pesan yang beliau sampaikan kepada saya, secara tersirat. Pesan yang perlu untuk saya abadikan, agar ia ada. Terima kasih Bapak Wawan, kita pernah berjumpa. Meskipun hanya untuk beberapa lama, namun saya menangkap bahwa senyuman beliau tulus. Semenjak kami berjumpa, hingga akhirnya kita berpisah. Hati-hati di jalan, ya Pak….. semoga selamat sampai ke tujuan. 

Good Luck.

Lagi, ada pesan yang terpetiki dari sebuah pertemuan. Meskipun kami baru berjumpa untuk pertama kali. Kita berkenalan. Hingga akhirnya, sebaris  nama beliau menjadi jalan, semoga kapan-kapan kita kembali bersua, tentu saja dengan pesan-pesan berikutnya yang tercipta.

Lagi, ada kelegaan di dalam jiwa, setelah semuanya tercurahkan. Karena, beginilah teman… setiapkali ada satu kata yang melekat pada dinding hati, maka ia tidak ingin berlama-lama menempel di sana. Ia perlu segera tersalurkan. Bukankan dengan berbagi kita merasakan nuansa yang lebih indah dari hari ke hari? Berbagi senyuman, adalah salah satu aktivitas yang sangat menyenangkan. Bagaimana kalau senyum-senyum sendiri, tanpa alasan?  Ini perlu dipertanyakan, lhaa.. !

Lagi, senyuman yang kita tebarkan saat membuka hari, menjadi jalan agar senyuman yang lebih indah lagi bersahabat dengan kita dalam menjalani waktu yang akan kita jalani. Bersama senyuman, semakin berkesan saja hari dan kesempatan yang ada. Bersamanya, kita kembali menyadari, tentang arti penting senyuman.

“Lalu, bagaimana kalau hatiku belum lagi tersenyum? What should I do? (binguuuuung),” dalam tanya yang belum terjawab, kita bertanya-tanya sendiri. Pertanyaan yang belum akan menemukan jawaban, kalau saja kita tidak berusaha untuk menemukan jawabannya. Yah, sangat mudah untuk menemukan jawaban. Kalau saja kita mau mengingat, ada Allah yang sedang membersamai diri ini.

Lagi, jiwa yang tenang, bersama ingatan yang berkepanjangan kepada penciptanya. Ia akan mengalami kondisi sebaliknya, kalau merasa jauh dari-Nya. Hanya ada satu solusi untuk mendekatkan diri kepada Allah, ingatlah … Karena Allah selalu ada bersama kita.

“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.”

(Q.S Al Hadiid [57] : 4)

Lagi apa dirimu di sana, teman? Apakah sedang berbahagia, ataukah yang sebaliknya?

Jiwa yang tersenyum, akan mensenyumkan.

Hati yang tenang, akan menenangkan.

Pikiran yang terbuka, akan membukakan mata hati untuk mau menatap indahnya alam ini. Wahai, beraneka tampilan alam sedang menyelipkan pesan kepada kita. Ada banyak kesan yang ia tinggalkan untuk kita simpan sebagai kenang-kenangan dalam perjalanan bersamanya. Kalau saja kita mau peduli, tiada lagi alasan untuk tidak mensyukuri atas apapun yang saat ini ada bersama kita. Pun, tidak perlu mencari-cari alasan untuk tidak mensabari segala yang belum kita miliki. Karena, bersamanya ada pesan, kesan dan bahan pelajaran. Bukankah hari ini adalah hari terbaik yang pernah kita jalani? Wahai, sahabat. Semoga kita selalu ingat akan hal ini. Tidak mudah memang, untuk dapat mengingat dengan segera, segala sesuatu yang belum lagi datang ke dalam ingatan. Namun, berbekal niat di dalam hati, untuk berbagi, semoga ingatan kita pada-Nya menjadi lebih sering. Dari pada ingatan pada selain-Nya. Karena kita berasal dari-Nya, lalu akan kembali lagi kepada-Nya. Ini pasti.

Selamat menjalani hari, menempuh masa yang terus melaju. Semoga kita tersadarkan lebih sering. Aamiin.

🙂 🙂 🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s