Terjaga Saat Ini


Hiks...

Hiks...

Dari kejauhan, ku melihat mata sang sahabat berkaca-kaca. Entah apa yang saat ini beliau alami. Aku belum mengetahuinya. Namun, dari sorot mata yang beliau pancarkan, saya menangkap ada pesan yang sedang beliau sampaikan. Segera aku mendekat pada beliau yang kemudian segera terduduk. Menunduk, lalu meneteslah airmata yang sedari tadi berusaha beliau tahan. Menangis, ini yang terjadi saat ini. Ya, bergegas bulir-bulir bening itu menuruni kedua pipi beliau. Ia menetes saja semaunya. Entah sudah berapa tetesan yang tercipta, tidak dapat kita menghitungnya. Karena airmata sebagai salah satu zat cair, memang tidak dapat dihitung. Hanya dengan mengukur volumenya, maka kita dapat mengetahui kapasitas airmata yang sedang memancar. Saya tidak akan mau menghitung semua itu, kini. Karena, saya sangat prihatin dengan kondisi sahabat yang kini sedang sesenggukan. Ia lepaskan semua yang terasa, lewat tubuh yang mengguncang. Hikss, tidak tega aku menyaksikan pemandangan yang seperti ini. Perlahan, ku sentuh pundak beliau. Berusaha untuk menenangkan… Namun,  apa yang terjadi? Beliau semakin menggugu. Huhuuuu… huuhuuuuu….. Menangis, lagi dan menangis lagi, ini yang terjadi.

Untuk meredam tangisan yang sudah terlanjur  tumpah, tentu tidak mudah. So, salah satu solusinya adalah memberikan sahabat kesempatan untuk menikmati semua itu. Ya, agar beliau merasakan kelegaan setelah semua gundah itu, lelah…

Sang sahabat, masih belum mau berbicara. Ia masih asyik dengan keadaan yang sedang menerpanya. Apakah beliau menyadari kehadiranku sedari tadi? Hingga beliau tidak bergeming atas sapa yang mengalir dari bibir ini. Ai! Untuk ke sekian kalinya, saya menguraikan barisan ekspresi yang semoga sampai pada beliau. Namun, sahabat hanya membalas dengan tatapan yang sendu. Dari kedua bola mata yang telah memerah, terpancar sebait pesan.

Marah…??

Ai! Sahabatku seorang perempuan. Beliau yang selama ini saya kenal sebagai seorang yang ramah, tiba-tiba berubah. Ya, karena beliau adalah insan biasa yang juga bisa marah. Akibatnya, kemarahan yang sedang beliau derita, menjelma menjadi tangisan yang hadir dengan mudah. Ah…. bukankah amarah adalah salah satu jalan yang menghinakan si pemarah? Bukankah dengan marah, kita akan merasakan apa itu lelah? Akan tetapi, bagaimana lagi kalau semua itu mendera jiwa dan menyesak hingga ke permukaan hati yang akhirnya terluka? Luka yang tidak berdarah, namun ia ada. Yach, seperti teriris sembilu gitu, ngilu…

Luka yang beliau alami, sangatlah parah. Namun, tidak semua orang tahu, karena tidak ada bekas yang menjejak. Ia terselip dengan irisan sangat halus, tersimpan di relung jiwa. Luka yang hadir atas kebelumsiapannya pada kenyataan. Kenyataan yang membuat ia terluka? Wahai, mengapa engkau tidak mempersiapkannya semenjak semula, wahai sahabat? Bukankah kita adalah perempuan yang mudah tergugah rasa? Lalu, bagaimana cara agar semua ini tanpa bekas… (kami berpikir bersama-sama).

Dengan kekuatan pikiran kami yang lebih sedikit dari pada perasaan, kami pun mengerahkan seluruhnya. Tidak sampai sepersepuluh dari perasaan yang hadir, memang. Namun demikian, kami tidak boleh menyerah sebelum berjuang. Karena segala sesuatu, apapun itu pasti ada hikmahnya. Termasuk sebaris luka yang sudah terlanjur menjejak jiwa. Luka yang perlu kami hapus, agar ia tidak pernah ada. Luka yang kami jadikan sebagai penghias warna pada hari ini saja. Kemudian, esok tiada lagi. Memaafkan, adalah salah satu cara untuk menghapus goresan yang menyisakan bekas pada jiwa.

Saya pandangi lagi,  kedua bola mata yang masih merah itu. Sedangkan sisa-sisa airmata masih ada. Di antara isak yang ada dan tiada, ia mengusap kedua matanya yang mulai berubah. Sembab.  Sudah lebih dari sepuluh menit, sahabat mencurahkan apa yang ia rasa dengan menangis. Saya pikir, ini sah-sah saja. Karena memang untuk itu airmata ada. Bukankah bersama tetesannya yang meluruh, dapat menjadi jalan untuk melegakan jiwa seketika? Saat panas akibat bara amarah yang menyala, menguasainya. Ya, bersama suara rintihan yang tercipta, ada pesan untuk kita. Agar tidak menyimpan amarah di dalam jiwa. Sampaikan saja, semuanya.  Niscaya, teranglah ia dengan sekejap mata.

Ada-ada saja. . .

***

Dalam menjalani alur kehidupan, kita seringkali berinteraksi dengan banyak insan. Insan yang juga mempunyai hati dan perasaan. Hati yang senantiasa berbolak-balik ini, berada dalam genggaman Allah. Sapalah penggenggamnya segera, apabila kita merasakan nuansa yang berbeda dari biasanya. Ya, apabila kita mengalami ada kejanggalan yang hati derita. Ai! Betapa kita tidak mempunyai kuasa padanya. Namun, berusaha dengan seoptimal upaya untuk memberikan penjagaan agar ia selamat adalah kemestian.

Hati, yang apabila ia rapuh, sangat mudah luruh dan akhirnya luluh seketika. Apabila ada yang menemuinya dengan wajah yang tidak teduh. Ia akan segera berpeluh, berkeringat karena gerah yang menerpa akibat kepanasan. Bagaimana mungkin kita melanjutkan langkah-langkah ini bersama suasana hati yang serupa? Lalu, akankah kita peduli dengan keberadaan hati yang menemani kini?

Wahai, sahabat masih dalam kondisi semula. Ia masih menetes airmata membasahi wajah. Tolonglah wahai sahabat, aku tidak dapat menyaksikan kondisimu yang seperti ini, dalam jangka waktu yang lama. Karena aku pun akan mudah terbawa suasana.

“Bagaimana kalau kita menangis saja bersama-sama…,” Sebaris tanya yang akhirnya saya sampaikan dengan semangat tinggi, padanya (namun hanya di dalam hati). Semoga sahabat mendengarkannya. Ya, agar kami dapat terus berbagi. Meskipun dalam tangisan.

Sahabat masih belum henti mengalirkan airmata pada pipinya. Saya yang tadinya  berdiri, kemudian duduk di samping kanannya. Dengan memiringkan kepala lima derajat ke arah kanan, saya dapat menatap wajahnya yang sudah banyak berubah. Ya Allah,…

Sebegitu parahkah?

Aku tidak dapat berucap apa-apa lagi. Hanya menyipitkan mata yang sedari tadi membuka dengan sempurna. Aku tidak mengerti, dengan semua ini. Sahabat yang masih belum bicara, akhirnya memandangku dengan segera. Ia mengucapkan kata-kata melalui tatapan matanya yang tidak lagi bening. Karena di sana, ada bekas-bekas duka yang menjejak. Sekali lagi, ia memandangku namun dengan gaya yang berbeda. Kini, dari tatapan itu ada pancaran sinar yang menembus hingga ke ruang jiwaku. Mata yang sedari tadi memerah, mulai bercahaya. Di sana ada harapan yang nyata. Apakah yang ingin engkau sampaikan, wahai sahabat? Aku tidak mau menunggu lama. Hayooo, katakan saja, segera…

Masih dalam tatapan yang bertemu satu sama lain, masih belum ada kalimat yang mengalir dari bibir kami. Kami sedang menyelami lautan jiwa masing-masing. Aku tenggelam pada kedua telaga beningnya, sedangkan sahabat berenang pada pinggiran sungai yang akhirnya mengalir dari kedua selaput tipis ini. Aku terharu dengan pemandangan ini. Mengapa semua terjadi? Tanpa aku tahu sebelumnya, sang sahabat telah menangis begitu saja. Kurangkah penjagaanku padamu, teman? Apakah sebelum ini, kita belum lagi bersapa? Padahal kita sering melangkah bersama-sama. Apakah aku salah,…?

Kini, giliran aku yang meneteskan permata kehidupan dengan bebasnya. Ya, titik-titik mutiara yang sedari tadi menggenang di pelupuk mata, berlarian semaunya. Ia berkejaran satu sama lain. Bermain-main di sekitaran pipi, kemudian sampai pula ke atas pangkuanku. Mereka begitu cerianya. Ai!

“Akhirnya nangis jugaa…,” tawa menggoda beserta lirikkan yang mereka layangkan dengan sesamanya, membuat tangisku semakin menjadi.

“Sudah… sudah… silakan lanjutkan kejar-kejarannya,” bisik jiwa yang mengintip dari ruang rasa, pada airmata.

Kemudian, airmata berikutnya pun segera keluar dari ruangan yang sedari tadi membuatnya sesak. Sahabat yang sudah mulai tenang, melihatku dengan terbengong-bengong. Ia bertanya begini, “Ada apa denganmu?.”  Tanya yang tidak saya jawab segera dengan susunan kata-kata. Hanya menggelengkan kepala, beberapa kali ke kiri, dan ke kanan. Ini yang aku lakukan. Di dalam hati, saya berkata, “Karena aku bahagia, melihatmu tidak lagi menangis. Itu sudah cukup bagiku. Dan senyumanmu pula yang menjadi jalan mengalirnya airmata ini. Airmata penuh keharuan yang maknanya tidak dapat lagi diungkapkan dengan kata-kata. Karena ada kelegaan tersendiri yang menyelimuti ruang jiwa, ketika ia mengalir.

Jawaban yang sahabat tidak akan pernah mengetahuinya, karena suara ini hanya berada dalam ruang hati saja. Tanpa sampai padanya. Kecuali kalau sahabat mengerti dan memahami makna ekspresi berikutnya yang hadir pada wajahku. Senyuman yang menebar, … Ya, senyuman yang mengikuti gelengan. Senyuman yang memesankan pada sahabat, bahwa saya baik-baik saja. Hanya ingin melimpahkan keharuan saja, makanya saya menguntai tetesan airmata di hadapannya. Airmata yang hadir, setelah sahabat mulai tenang.

Kini, tidak ada lagi warna nan memerah dari kedua bola mata sang sahabat. Ya, kemilau yang ia perlihatkan, meneduhkan jiwaku yang sedang tersenyum. Kami pun bersenyuman untuk jangka waktu beberapa menit kemudian. Seraya berpandangan, kami memesankan kalimat-kalimat yang hanya tersirat. Ia ada, walau tidak nyata. Karena kami percaya, suara jiwa kami yang sedang mengalir, sedang bergerak ke arah tujuannya. Dari jiwanya pada jiwaku. Dari jiwaku terhadap jiwanya. Ai! Karena kami adalah soulmate yang saling membutuhkan satu sama lain. Sehingga kebersamaan kami saat ini, di sini, adalah untuk saling mengisi, saling menguatkan. Ketika ada salah satu dari kami yang sedang terbawa suasana, maka yang lainnya mengerahkan kemampuan, segera. Ia sangat tahu tugasnya. Ia sudah mengerti bagaimana cara untuk mengenali suasana. Ia juga sudah sama-sama memahami pribadi masing-masing. Wahai sahabat, terima kasih yaa, atas penampilanmu yang baru saja. Tergeraknya kita untuk bersenyuman, setelah terkungkung oleh belitan  erat rasa yang hadir begitu saja, semoga menjadi salah satu bahan pelajaran. Agar, ketika suasana yang sama hadir lagi, kita sudah mempunyai pengalaman atasnya. Tidak lagi seperti yang terjadi sebelum ini.

“Benar, karena engkau belum mempunyai persiapan.”

Untuk menanggapi bagaimanapun aneka rasa yang kita alami, memang membutuhkan persiapan. Setidaknya, dengan mengenali arena terlebih dahulu. Agar kita tahu bagaimana cara yang dapat kita lakukan saat kita sedang larut di dalamnya.

Orang-orang yang sedang berada di lapangan hijau tempat kita berada kini, bukanlah terdiri dari para pemain sepakbola. Dan kita, bukanlah bagian dari kesebelasan yang sedang berada pada posisi sebagai pemain. Karena kita bukan pemain sepakbola. Namun lapangan hijau yang sedang kita pijak bernama hamparan alam yang membentang luas. Di sanalah kita berada, untuk terlibat dalam permainan bersama. Walaupun kita bukan pemain sepakbola yang sesungguhnya, namun kita adalah bagian dari kesebelasan yang akan memperkuat tim. Oleh karena itu, kita perlu mengenali lokasi di mana kita sedang berdiri. Apakah kita sudah berada di tengah lapangan, sebagai pemain inti? Ataukah baru bersiap-siap menanti giliran. Karena kita pemain cadangankah?

Ya, di manapun posisi kita di alam ini, maka kita perlu berjaga-jaga. Karena sudah pasti, kita sedang menjejaki alam. Bersiaplah teman, untuk membawa dirimu sebagai bagian dari tim yang unggul. Tampillah menjadi pemain terbaik dalam tim yang sedang menaungimu. Bersama keyakinan, bergeraklah. Yakinlah bahwa tim yang berprestasi bukan terdiri dari satu orang yang luar biasa. Namun, gabungan dari orang-orang biasa yang mempunyai harapan memenangkan permainan dengan prestasi luar biasa, adalah kuncinya. Ya, karena dari kebiasaanlah kita tahu, bagaimana cara untuk menjadi luarbiasa. Bagaimana kita tahu cara untuk tersenyum, kalau sebelumnya kita tidak pernah tidak tersenyum. Bagaimana kita tahu betapa indahnya berjuang bersama-sama, kalau sebelumnya kita tidak pernah sendiri.

Sahabat, dari dua bola matamu yang saat ini semakin cemerlang, ada harapan yang nyata. Harapan bahwa kita dapat melanjutkan langkah-langkah perjuangan ini bersama-sama tanpa pernah terusik oleh beraneka coba. Karena kita tahu, satu cara untuk menghadapinya, enjoy it. Yes.

Dengan menikmati apapun suasana yang saat ini kita alami, menjadi jalan bagi kita untuk memaknai kehadirannya. Ketika engkau sangat menikmati saat-saat menangis sebelum tersenyum, semoga engkau pun dapat menikmati indahnya senyuman yang sedang engkau tebari pada alamnya. Ketika sebelum ini, engkau menikmati bagaimana ekspresi yang saya layangkan dari wajah yang tidak tersenyum, semoga engkau mau mensyukuri hadirnya senyuman terindahku, kapanpun ia muncul. Kita tidak akan mengerti, kalau kita tidak mempelajarinya. Belajar lagi, bersama nuansa yang seringkali hati sampaikan, adalah pilihan. Karena kita tidak pernah tahu, bagaimana kondisinya setelah saat ini. Maka, mari bersiap lagi untuk menghadapinya.

Wahai hati yang berbolak-balik…

Tenanglah engkau dengan ingatanmu pada penggenggammu yang sejati,

Wahai hati yang seringkali berubah tak terkendali…

Bagaimana suasana di negerimu saat ini?

Apakah sedang bersinar oleh cerahnya mentari?

Apakah sedang bermendung nan menggelayut, beraaat sekali…?

Apakah sedang terselimuti oleh titik-titik air yang ramaiiiiii..?

Apakah ia sejuk dan tenang, dengan hiasan bunga yang sedang bersemiii..?

Apakah pagar-pagarnya masih aktif menjagai?

Apakah ada wajah-wajah asing yang menemui?

Apakah ia sedang bersiap siaga setiap hari?

Apakah hati kita sedang berseri-seri karena sedang bereuni dengan para sahabatnya?

Bagaimana kalau keadaan terakhirnya belum lagi dapat kita deteksi?

Kemana kita akan melangkah, berlari mencari bantuan dan pertolongan, saat ia sedang dalam kondisi kritis?

Masihkah kita mempedulikannya, yang sedang merenungi diri?

Kalau saja kita belum lagi mau memberikan perhatian berlebih padanya, dapatkah kita memastikan masih bersamanya lagi, setelah saat ini? Karena kita tidak pernah mengetahui, lamanya kebersamaan. Bukankah dengan mengobatinya saat terluka, adalah tugas kita? Bukankah kita yang dapat mendeteksi kesehatannya? Bagaimana kalau ia sedang dalam kondisi kurang prima? Padahal kita sedang bersamanya. Maukah kita melangkahkan kaki dengan sendiri, sedangkan sahabat sedang berjuang keras untuk mengobati dirinya yang sedang tertusuk duri, ketika melangkah. Wahai, mencari seorang sahabat yang baik membutuhkan pengorbanan tiada henti. Namun, saat  sahabat telah kita temui, akankah kita mensia-siakannya?

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s