Bertumbuh Bersama Alam


Melangkah dari perbukitan di sesudut alam, menuju makam pahlwan di perantauan
Melangkah dari perbukitan di sesudut alam, menuju makam pahlawan di perantauan

Hari ini, masih pagi. Lama ia duduk terdiam, sebelum akhirnya ia pun meraih sebuah buku yang sedari tadi duduk manis di meja belajarnya. Buku yang setelah sekian lama menemaninya dalam melangkah. Buku tulis yang sudah hampir penuh ia tulisi. Hanya tersisa beberapa lembar saja dari total seratus lembarnya yang masih kosong. Kembali, ia meraih sebuah pulpen dengan tinta berwarna hitam. Setelah membuka penutupnya, ia mulai menuliskan sebuah kata, “Iqra’”.

Belum jadi ia melanjutkan kalimat-kalimat yang berikutnya. Hanya satu kata itu saja yang sempat ia tuliskan. Kemudian, ia kembali menutup buku tulis yang sedari tadi sedang tersenyum padanya. Karena buku mempunyai harapan, bahwa ia akan menerima curhatan lagi. Ai! Akhirnya tidak jadi.

“Wahai buku tulis yang cantiikk, sorry, yaa….. Aku ingin jalan-jalan dulu,” ucapnya seraya tersenyum dengan lepas. Kemudian, ia melangkahkan kaki ke arah pintu yang sedang terbuka. Berdiri sejenak di depan pintu, kemudian ia kembali masuk ke dalam ruangan di mana ia berada sebelumnya. Kemanakah ia akan pergi?

Betul, hari ini adalah hari libur.  Itu tandanya, tidak ada aktivitas rutin seperti biasanya. Sehingga moment yang seperti ini, ia manfaatkan untuk memperhatikan alam dengan view-nya yang unik. Pun, tidak ada aktivitas di dalam ruangan, mestinya.  Oleh karena itu, ia berencana untuk melanjutkan langkah-langkah di alam yang sedang membentang indah, agar ia dapat membaca pesan yang tersirat, dari alam. Ya, berada di alam adalah aktivitas yang sangat ia sukai. Berjumpa dengan aneka makhluk hidup yang sedang beraktivitas, bertemu dengan tumbuh-tumbuhan yang bermacam ragam coraknya, dan satu hal lain yang sangat ingin ia perhatikan adalah mentari yang bersinar cerah. Hari ini, mentari belum bersinar.  Bersama sedikit tiupan angin yang segera menerpa pipinya, ia terus melanjutkan langkah. Sungguh, keadaan seperti ini yang sangat ia sukai. Sehingga, dalam berbagai kesempatan terbaik, ia menjalaninya dengan sepenuh hati.

Bersama buku tulis yang sedang berbahagia di dalam kantongnya, sebuah pulpen berwarna hitam, dan sebotol air putih yang saat ini terlihat berwarna orange, (karena ia menyimpannya di dalam sebuah botol berwarna orange)  ia pun melanjutkan langkah. Disimpannya semua perlengkapan tersebut di dalam tempat yang aman. Agar, ketika nanti ia benar-benar membutuhkan, dapat ia pergunakan.

Beberapa keping  uang juga sudah ia kantongi. Sebagai jaga-jaga, kalau ia membutuhkannya dalam  perjalanan nanti. Engga mungkiin kan, ia berjalan terus-terusan. Kalau kaki-kakinya ingin bermanja, maka ia dapat meminta kendaraan untuk mengantarkannya pada tujuan. Agar, ia tidak kelelahan dalam perjalanan. Sampai berapa lamakah ia melangkah?

Berulangkali ia mengedarkan pandangan ke sekeliling.  Banyak ekspresi wajah yang ia temukan saat melakukan aktivitas ini. Ketika sedang beruntung, ia dapat menatap wajah-wajah yang sedang tersenyum. Namun, tidak jarang, ia menemukan wajah-wajah yang tanpa perhiasan terindah ini. Akibatnya, ia tersenyum di dalam hati, bergumam sendiri, “Beginikah wajahku ketika aku tanpa senyuman?  Ketika aku sangat senang menatap wajah-wajah yang tersenyum  ketika berjumpa denganku, bagaimana mungkin aku dapat menikmati semua itu kalau aku belum lagi mau tersenyum?.” Akhirnya, ia pun tersenyum lebih awal. Ia menyapa seorang Ibu-Ibu yang sedang asyik melangkah. Beliau lagi berjogging ria, ternyata. Ia penasaran dengan keadaan ini. Lalu, sebaris tanya pun meluncur dari bibirnya, “Ibu usianya sudah berapa tahun?.” Di sela-sela langkah yang masih menjejak, sang Ibu menjawab dengan tersipu, “Ibu mah,… sudah delapan puluhan tahun, Neng.”

“Oaaaaa…..,” surprised. Ia terkejut. Ia kaget. Saat memanggil beliau dengan sapaan Ibu. Ternyata, ia sedang berhadapan dengan beliau yang telah sesepuh.  Apakah ia tidak membaca dari tampilan wajah yang sudah mulai keriput? Apakah ia belum memahami bagaimana beliau melangkah dengan ketundukan yang hampir mencapai lima belas derajat ke bawah? Bagaimana ia memanggil beliau Ibu, sedangkan tatapan mata itu tidak lagi belia dan cerah? Bagaimana ia dapat memanggil beliau Ibu, kalau saja, beberapa helai mahkota yang menjulur keluar dari jilbab beliau, telah berubah warnanya, tidak lagi hitam? Apakah ia tidak dapat mengeja huruf demi huruf yang tersusun dari ujung kepala hingga ke mata kaki beliau yang tidak tegap lagi? Wahai, apakah baru saja ia tidak melihat dengan matanya? Bagaimana beliau melangkah meski terseok-seok, namun di sana ada harapan? Apakah ia tidak mau belajar dari seorang nenek yang telah berusia lebih dari delapan puluhan tahun? Ketika saat ini ia masih mampu melangkah dengan gesit dan rupawan. Saat ia masih mempunyai kesempatan untuk mengabadikan peradaban. Ketika semua itu  sedang membersamainya, kini. Lalu apa yang sedang ia lakukan dalam memanfaatkan waktu?

 Dari penampilan. Kita tidak dapat langsung menerka-nerka seseorang dari penampilan saja. Kalau kita ingin mengetahui siapa ia sepenuhnya, maka kita perlu membersamainya dalam jangka waktu yang lama. Ya, tidak hanya sekejap waktu yang kita perlukan untuk dapat memahami seorang teman. Namun, ketika seorang teman telah kita bersamai dalam jangka waktu yang lama, maka kita dapat mengenali siapa ia. Lalu, bagaimana dengan seorang nenek yang baru saja ia temui? Bagaimana ia dapat mengetahui kalau nenek ternyata telah tua, kalau ia tidak mau membaca apa yang tersirat dari penampilan nenek?

Memang, nenek tidak membawa sebuah buku bacaan yang sedang beliau pampangkan di hadapan, dengan tulisan yang sangat jumbo. Karena memang, nenek tidak mampu berdiri dengan tegap. Namun, dari gerakan yang nenek lakukan, setidaknya ia dapat membaca ada pesan yang sedang nenek sampaikan padanya. Sebelum ia menyapa nenek, sebaiknya ia memperhatikan dulu dengan sepenuh hati, buat apa semua ini ia lakukan? Apakah hanya untuk berbasa basi saja, kemudian segera berlalu. Ataukah masih banyak bahan pelajaran yang ingin ia ungkap selama bersama dengan beliau?

Nenek. Dalam usia beliau yang tidak lagi muda, masih ada semangat untuk berolah raga.

“Agar nenek segar dan bugar, Neng…,” begini jawaban yang nenek sampaikan, di sela-sela langkah yang terus maju. Di samping nenek, ia berjalan. Seraya membimbing tangan beliau yang sangat lembut, bersama kulit tipis yang sungguh lembuuut… ia membayangkan sedang menggenggam tangan seorang bayi.

 Wahai kembali ke asal mula, beginilah proses kehidupan insan di dunia. Kita yang awalnya tidak mampu ngapa-ngapain, serba diladenin, pada akhirnya akan menempuhi masa yang demikian lagi. Ini juga kalau usia kita masih ada. Kalau tidak? Kesempatan kita untuk menikmati kehidupan di dunia hanya sampai masa muda saja. Hingga nanti giliran tiba, menutup usia pada waktu yang kita tidak pernah tahu, kapankah?

Hampir setiap hari, kita berjalan di hamparan alam yang beratapkan awan gemawan. Hampir setiap hari pula, kita berkeliling di lingkungan sekitar, untuk menikmati pemandangan alam. Bahkan, tidak dapat tidak, kita menatap banyak insan yang sedang berjalan. Apakah para tetangga yang sedang asyik menjalankan rutinitas berjualan, para sahabat yang menjadi teman dalam perjalanan, para hamba-Nya yang mengantarkan senyuman ke hadapan, ataupun aneka bebungaan yang bermekaran. Dari semua itu, kita dapat mengambil pelajaran. Membacanya dengan sepenuh hati, adalah pilihan yang pasti. Kalau kita mau memperoleh kesejukan hati, maka kita dapat membaca kebaikan-kebaikan yang sedang bertebaran, sungguh banyak sekali. Namun, kalau kita menginginkan hal yang sebaliknya, mampukah kita meyakinkan diri akan berkesempatan menemuinya lagi?

Seperti saat hadirnya hal-hal yang belum kita sukai. Apakah kita masih akan mempunyai waktu lagi untuk bersamanya, setelah saat ini ada? Bukankah segala yang kita temui sedang menitipkan pesan untuk kita pelajari. Sedangkan kesan yang walau bagaimanapun wujudnya, adalah jalan untuk menginsafi keberadaan diri. Buat apa kita ada saat ini?

Hingga akhirnya, kenangan terindah sedang kita rangkai dari hari ke hari. Itupun kalau kita mau menitipkannya di dalam diari. Yes! Tidak ada lagi kesempatan untuk memikirkan hal-hal yang tidak semestinya kita pikirkan. Melangkahlah dengan pasti, karena semua yang kita hadapi adalah atas izin Ilahi. Dengan menyadari semua ini, insya Allah, akan menjadi dinginlah pikiran yang semulanya mendidih. Akan menjadi tenanglah jiwa yang awalnya bergelombang seperti ombak di pantai kehidupan.

Tenangnya laut, terlihat dari kejauhan. Sedangkan riak-riak kecil itu akan terlihat berserabutan, kalau kita mendekatinya. Bahkan pemandangan yang paling menyeramkan, sedang berada di sekitaran, kalau kita sedang berada di tengah lautan. Mengingat betapa indahnya ketika berada di atas air laut yang membiru. Rasanya, ingin kembali ke sana. Berada di atas sebuah boat, lalu berteriak sepuasnya… Hingga akhirnya, sang pengemudi boat geleng-geleng kepala, karena memahami. Bahwa saat itu adalah pertama kalinya saya berada di tengah lautan. Wuuiiiih, Pangandaran Beach, I love, I miss you so much.

Lama ia terlarut dalam perenungan panjang. Hingga sampai pula ke lautan yang sedang membentang indah. Padahal, ketika itu ia sedang berada di daratan. Tepatnya, di area taman makam pahlawan, Cikutra. Sepanjang perjalanan, nenek terus bercerita tentang kisah masa muda beliau. Kisah yang akhirnya ia visualisasikan dengan pantai Pangandaran.

Neng…  Kehidupan ini menyajikan beraneka gelombang yang datang silih berganti.   Di lautan bernama kehidupan, kita perlu lebih sering menyadari keberadaan diri. Sedang berada di mana kita saat ini? Ya, karena dengan mengingat hal ini, maka kita kembali mau tersenyum ketika badai datang menerpa. Ia akan berlalu. Adakalanya kita merasa terombang ambing bersamanya, adakalanya kita merasakan ketenangan. Karena kenangan terindah akan hadir saat kita mau menikmati setiap detiknya dengan baik,” Nenek menasihatinya.

Ia tersenyum, menyimak, seraya meneruskan langkah demi langkah yang kembali mengayun.  Mensejajarkan dengan gerakan kaki-kaki nenek yang melangkah satu persatu. Walaupun tanpa ayunan tangan dan kaki yang tidak gesit. But, nenek masih terus melangkah. Ketika kaki kiri di depan, maka kaki kanan berada di belakang. Begini proses melangkah yang sedang nenek lakukan. Ia pun begitu. Sama.

Nenek. Tidak ada lelah yang tersirat dari wajah beliau. Tangan nenek yang sedari tadi ia genggam, perlahan melepas. Dengan suasana masih berkisah, nenek mengarahkan telunjuk ke arah samping.

“Di daerah sana, ada makam keluarga nenek,”  ungkap nenek. Dengan pandangan yang tertuju jauuuh ke depan, nenek merendahkan nada suara beliau.

Seiring dengan tatapannya yang segera tertuju ke bagian ujung yang telunjuk nenek arahkan, ia beralih ke mata redup milik nenek. Ia pun tersadar. Kini, makam-makam nan memutih telah berada di sekitaran. Tidak ada lagi keriuhan ataupun bising yang berasal dari mesin kendaraan dan suara klakson. Pemandangan alam berubah menjadi hamparan nisan yang sedang berdiri. Rapiiiiiiiii sangat. Ai! Nisan-nisan nan memutih.

Tidak banyak lagi kata yang mampu ia susun. Senyuman, anggukan, serta persetujuan atas barisan kata yang sedang nenek susun, merupakan kesenangannya. Ya, menyimak adalah aktivitas yang paling ia sukai. Ia adalah tipe pendengar sejati.

Sesekali dilayangkannya pandangan ke langit pagi. Masih belum ada sinar mentari yang mensenyumi bumi. Hingga akhirnya, ia dan nenek pun berpisah. Setelah bersama lebih dari setengah jam lamanya, ia memperoleh pengalaman dan pengetahuan dari beliau yang baru saja ia jumpai.

“Berjalan-jalan ke alam pada pagi hari, untuk menghirup udara yang masih bertaburan oksigen, sangat baik untuk kesehatan. Dan yang lebih mengasyikkan adalah saat kita bertemu dengan beliau yang sudah berusia. Kemudian, menangkap pesan tersirat dari setiap baris kalimat yang sedang beliau cipta, adalah salah satu jalan yang dapat kita tempuh untuk merangkai sebuah catatan. Bagaimana kalau setiap pagi, kita berjogging ria? Walaupun belum mandi?? Xixiixiii…😀 Oh indahnyaaaaa…!”

Setelah berpamitan dengan nenek, ia pun melanjutkan langkah-langkah lagi. Saat ini, rute yang sedang ia tempuh adalah tepi jalan raya. Karena, memang dengan cara begitu, ia dapat sampai ke asalnya.

My boarding house, I am comiiing,” bisiknya di dalam hati. Kendaraan yang sangat ramai, membuatnya perlu melangkah dengan hati-hati. Berjalan di sebelah kiri jalan adalah lokasi  yang tepat untuk pejalan kaki.

Agar selamat sampai tujuan, maka kita perlu berhati-hati saat melangkah. Meskipun sebagai pejalan kaki, namun rambu-rambu dan aturan perlu kita taati. Tidak ada peraturan yang tercipta dengan sendirinya, tanpa ada maksud yang terselip di dalamnya. Buat apa ia tercipta, kalau kita tidak menjalankannya? Untuk itulah, TOLONG PATUHI PERATURAN!

Tidak sampai sepuluh menit melangkahkan kaki dari area taman makam pahlawan Cikutra, ia telah sampai di wisata baroedak dodol. Ternyata, banyak dari teman-temannya yang telah sibuk sendiri. Ada yang sedang mencuci, bersiap-siap untuk melanjutkan bakti, bersih-bersih dan lain-lainnya. Pokoknya, kesibukan wanita karier di hari libur gitu dech. Saat semua teman-teman sedang ada di kostan, ketika itulah tercipta keramaian. Seperti rumah sendiri. Ada yang bernyanyi-nyanyi kecil saat mencuci, merapal hapalan ayat suci al-Quran, menyiapkan sarapan pagi, dan-dan, lainnya.

Ia, yang baru saja kembali dari jalan pagi, meluruskan kaki sejenak, berehat dan kemudian mandiiii. Setelah segar dan fresh ia pun merangkai catatan dengan senyuman yang mengembang indah. Ai! Ketika itu, mentari telah bersinar.

“Mariii, saksikan kami yang sedang mengisahkan tentang perjalanan tadi, ketika engkau belum ada, teman…,” meski mentari tidak menyahut, namun ia yakin, bahwa mentari sedang memandanginya. Terlihat, dari sebagian sinarnya yang menelusup lewat pintu yang terbuka. Ia meraih buku tulis yang telah menjelma diari. Bersama sebuah pulpen berwarna hitam, ia abadikan pelajaran yang sedari tadi menari-nari di dalam pikirannya.

Jiwanya legaaaaaa….. setelah semua ia ungkapkan. Ada kebahagiaan tersendiri, ketika ia kembali membaca catatan yang tercipta. Meski bagaimanapun adanya, ia sedang berusaha untuk membuktikan bahwa ia ada.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s