Hadiah Terindah Adalah Kehadiran


Hehee...
Estafet; the best of my believe

No more, no more hope except that Allah…

Nothing, nothing happen without Allah…

No one, no one help but Allah…

Now, now only Allah…

 

Allah. Adalah satu kata penegasan yang menjadi awal rangkaian catatan pada hari ini. Yes! Catatan ini sedang menuju angka judul ke tiga ratus sembilan puluh satu. Dari total catatan sebanyak empat ratus empat puluh judul dengan isi yang mesti lebih dari dua ribu dua belas karakter ini, ia hitung mundur. Mundur… mundur… satu judul, untuk maju. Pada kesempatan terbaik ini, catatannya bertemakan tentang bagaimana suasana yang sedang dialami oleh seorang insan yang sedang menata jiwa. Lara, duka dan hampa, adalah kondisi yang sedang ia alami pada saat merangkai catatan hariannya, saat ini. Meskipun ada tetesan airmata yang menyelimuti ruang jiwanya, namun bersama harapan yang tinggi, ia kembali mau melanjutkan langkah-langkah untuk membuktikan eksistensi, bahwa ia ada pada hari ini.

Bagaimana kabarmu teman? Semoga engkau sedang berbunga-bunga bahagia sentosa dan sejahtera yaa… Usah ikut terlarut bersamanya, karena ia sedang mengungkit rasa. Itu saja. Mari kita mengikuti perjalanannya, yuuuuks..?!  Mari kita menatapnya. Kalau-kalau terjadi apa-apa dengannya, maka kita segera siap untuk memberikan pertolongan terbaik, padanya. Bagaimana, teman?

***

Untuk berehat sejenak dari perjuangan, ia perlu mempertimbangkan lebih lama lagi. Mikir dulu sebelum melakukannya.

Untuk kembali berbalik ke awal mula melangkah, ia tidak akan pernah melakukannya. Karena perjuangannya sedang dalam masa puncak. Ai! Menguras tenaga sajakah? Atau bersama luka yang sedang menembus lembut jiwanya, pula? Apakah yang dapat ia lakukan untuk mengembalikan ingatannya yang sebelum ini pergi sejenak? Ingatan yang sedang mencari jawaban dari berbagai rasa yang menerpa ruang jiwa. Jiwa yang ia hanya ingin menjaganya. Jiwa yang ia bawa menjadi sahabat. Jiwa yang kembali mau memberikan senyuman, meski awalnya sulit. Ia kembali menitikkan bulir permata kehidupan.

Azan Isya berkumandang dengan syahdu. Ketika itu, ia sedang melangkah, berjalan, menelusuri sisi alur kehidupan. Menjelang pukul delapan malam, teman. Ia meneruskan perjuangan dengan persediaan energi yang telah ia pakai seharian. Hanya beberapa langkah perjalanan, ia membaca sebuah pesan, yang intinya, “Festival tidak jadi berlangsung.” Padahal, sebelumnya ia telah membayangkan akan berada pada suatu pesta yang megah, mewah dan meriah. Pesta yang menjadi jalan baginya untuk tersenyum lebih indah pada masa-masa berikutnya. Tujuan masih sama, untuk meneruskan langkah menuju bahagia. Namun, adakah ia telah memulai dengan niat yang baik? Ini yang perlu kita pertanyakan. Buktinya, masih ada luka dan sebentuk kecewa yang ia rasa atas berita yang ia baca pada pesan tersebut. Ai!

Melangkah ketika alam telah gelap, gulita, sunyi dan tanpa penerangan yang memadai, bukanlah kondisi yang ia suka. Ya, karena ia sangat takuuuuuuuut aslinya, berjalan di tengah malam. Sure, perempuan adalah ia. Jadi, dapatkan engkau membayangkan teman, bagaimana pikiran yang sedang ia bawa? Ia yang tercipta dengan lebih banyak memakai perasaan daripada logika, merasakan takut berjalan sendirian, hanya raga. Saat itu, pikirannya sedang melayang ke udara. Entah kemana ia hinggap. Tidak dapat terdeteksi, sebelum akhirnya ia pun kembali lagi ke istana hatinya.

Alhamdulillah, bertepatan saat untuk menemui-Nya telah datang. Meskipun hati panas, namun pikiran perlu tetap sejuuuk, do you agree me? Hohooo…😀

Ia sedang merasakan panas yang membara jiwa. Ia terluka, jiwanya  periih. Masih adakah persediaan perban  yang akan ia gunakan untuk membalutinya? Apakah ia masih mampu membersihkan sisa-sisa pedih yang apabila disentuh, akan semakin menyakitkan. Sembilu melukai tanpa memberi kenangan berupa bekas. Hanya perih, kemudian perih, dan terluka. Wah! Gawat!  

Berwudu adalah aktivitas yang pertama kali ia lakukan. Setelah membuka pintu gerbang istana hatinya, kemudian masuk ke sana. Ia perlu membasuh wajahnya segera. Agar, kesegaran kembali ia rasakan. Lalu, sudahkan ia berniat sebelumnya? Buat apa ia melakukan semua? Wiiiits, kesia-siaan adalah pembuka jalan kesia-siaan berikutnya. Ingatkah kita tentang makna hadirnya waktu, teman? Ia yang bergerak engga pelan, namun secepat kilat menyambar dinding hari kita. Ia yang telah menyapa, tidak akan kembali lagi. Waktu yang saat ini sedang kita bersamai, akan meninggalkan pesan, kesan dan atau kenangan untuk kembali kita perhatikan dengan baik, pada waktu setelah ini. Lalu, bagaimanakah kita memanfaatkan kesempatan berupa waktu yang sekarang? Sudahkah kita menggunakannya untuk kembali mengintrospeksi diri, sebelum akhirnya menyalahkan orang lain? Atas berbagai harapan yang belum menjadi kebutuhan. Untuk beraneka pinta yang masih dalam impian. Apakah kita sudah mengembalikannya kepada diri kita terlebih dahulu, sebelum akhirnya kita melemparkan sang harapan, menitipkan pinta, pada beliau di sana. Sudahkah?

Setetes air yang menempel pada pipi-pipinya, belumlah cukup untuk mengungkapkan semuanya. Adalah kelegaan akan ia rasakan, setelah mengalirkan lebih banyak lagi air pada selembar wajah yang masih belum mau tersenyum. Karena ia terluka, ini alasannya. Hingga akhirnya, ia temui wajahnya yang sedang memfokuskan tatap. Tatap yang sedang memberikan perhatian pada bagian terdepan saja. Hingga terlihat matanya seakan bertaut. Alis-alisnya sudah melekat erat. Mereka sedang berakraban. Sedangkan hidungnya, menjadi lebih langsing. Hidung yang awalnya berada pada posisi penuh ketenteraman, kini berjuang keras untuk menunjukkan siapa ia. Hidung yang maju beberapa sentimeter ini, membuat mulutnya pun ikut-ikutan ke depan. Ia bilang, kondisi yang demikian adalah manyun. Right?

Salah siapa yang menautkan kedua alis. Ingin siapa mempertemukan kedua mata, hingga ia menjadi akrab. Maunya siapa, mempertunjukkan keseksian hidung saat ia maju beberapa sentimeter? Siapa yang melakukan permanyunan pada bibirnya? Itu tandanya ia sedang berekspresi. Inilah aku yang sedang berpikir. Menemukan kembali pikiran yang semula bepergian, memang membutuhkan konsentrasi, teman. So, jangan biarkan pikiran kita melayang, terbang, kalau kita tidak ingin dikuasai oleh keadaan. Yes! Menjaganya tetap ada merupakan pilihan. Apakah yang dapat kita lakukan bersamanya?

Akal bersama pikiran yang Allah titipkan kepada kita adalah nikmat, karunia terindah dari-Nya. Adalah anugerah berupa pikiran, hanya Allah titipkan kepada kita, sebagai makhluk ciptaan-Nya. Bersama pikiran yang sedang kita bawa, apa yang mampu kita upaya? Saat rasa menggulung seluruh ruang kesadaran kita. Ketika makna yang tersirat dari sebuah kejadian, masih kita upaya untuk menemukan. Apakah kita tiba-tiba berkata, “Aku bisa!.”

Dengan kesadaran penuh, kitapun mencari solusi yang dapat kita lakukan. Ada Allah disekitaran. Ia bahkan sangat dekat dengan diri kita, lebih dekat dari urat leher yang sedang menempel dengan eratnya. Ya, sentuhlah leher kita meski untuk beberapa lama, rasakan disana ada denyutan. Leher bagian kanan, dan bagian kiri sebelah dalam.

Segera, temukan kehidupanmu, teman. Hari ini masih ada. Bersama engkau yang sedang bersamanya, ia sedang memesankanmu seputik hikmah. Dapatkah engkau merawatnya hingga menjadi buah pengalaman? Pohon kehidupanmu ada di halaman depan tempat engkau bersinggah. Bersama pohon tersebut, ada dedaunan yang kehijauan. Ia sedang berputik, menuju masa menjadi buah. Apakah engkau ingin memetiknya ketika ia masih begitu belia, muda dan masih belum bisa diapa-apain? Bagaimana kalau engkau kecewa, karena menemukan kenyataan bahwa putik yang engkau petik, engga dapat engkau santabp. Piuh…! Pahit? Atau tanpa rasa?

Serta merta menyalahkan keadaan, tanpa memberikan pikiran untuk mengambil peran, akan membuat kita bersesalan. Apakah akan ada senyuman, ketika kondisi yang demikian mendekati sedetik waktu yang sedang kita jalani? Bagaimana cara untuk menetralisir keadaan? Bagaimana kesungguhan kita dalam menata beban yang saat ini ada di pundak? Ia berat. Sedangkan kita pelan pelan berkata, “Aku keberatan.”

Bukankah kita mempunyai pusat harapan? Lalu, ketika harapan masih menyala dengan benderang sinar kebaikan, dapatkah kita tersinari oleh sinar tersebut? Bukankah tiada yang terjadi dengan kesia-siaan, tanpa hikmah yang mempengalamankan? Agar kita tidak bersegera melakukan apapun yang kita inginkan. Kalau itu akhirnya akan menyakitkan, kalau keadaan yang serupa kita alami pula. Apakah kita memberikan perhatian pada hal yang satu ini?

Keinginan yang hanya keinginan, tinggalkanlah. Pastinya bukan kebutuhan kita, kalau keinginan tersebut belum menjadi kenyataan.  Bersabarlah teman. Kebutuhanmu pasti terpenuhi, meskipun berliku jalan sedang engkau tempuhi. Untuk dapat menemukan apakah segala sesuatu adalah kebutuhan? Kita perlu menyadari terlebih dahulu.

Festival yang tidak jadi berlangsung, bukanlah kebutuhannya. Ia pun menitikkan airmata lebih banyak lagi. Di dalam sujud panjangnya, ia mengungkapkan semua. Ia tersedu, tenggelam dalam sungai kehidupan yang ia ciptakan sendiri. Menangis, ia menangis meskipun tanpa suara. Apakah betul, niatnya belum pas atau masih pas-pasan?

Kembali ia bersujud untuk kesekian kalinya. Dalam kondisi demikian, sangat mudah baginya untuk mengumbar perasaan. Ia terisak, tertahan. Untuk meneruskan apa yang menggumpal pada jiwanya. Agar gumpalan itu meluber, mencair, bersama tetesan air yang menetes kemudian membanjir. Kembali ia bersujud, dalam rakaat salatnya yang ke-empat. Apakah ia belum menemukan jawaban, setelah permata kehidupan itu mengurai tanpa pernah merasa kehabisan? Stoknya masih banyak. Buang-buang saja sebagian. Niscaya engkau temukan kelegaan. But, jangan kelamaan teman. Apakah engkau yakin, bahwa ini tidak berlebihan…? Mubazir kaan? Pikirkanlah.

 

Dalam sujud-sujud panjangku,

Ku menemukan harapan,

Masih ada sumber kehidupan,

Allah…,

Kepada-Nya ku memohon pertolongan,

Kedekatan, keakraban, kelekatan yang selama ini ia rasakan, kembali membuka celah. Ia menemukan dari sana ada penerangan. Dari celah yang membuka. Matanya masih sipit, pada mulanya. Hingga, silau cahaya yang menerpanya semakin dekat. Ia pun menempelkan punggung jemarinya pada sisi kanan alisnya. Agar cahaya itu tidak sampai menembus  bola matanya yang masih terus menatap. Ia ingin tahu, ada apa di sana? Dari manakah sumber cahaya itu? Ia masih mencari tahu. Ia tidak sedikitpun mengedipkan matanya. Ia tidak ingin kehilangan moment. Karena ia yakin, waktu yang sedetik saat ini sangatlah berharga. Bukankah ia tidak, sangat tidak menyukai berjalan di tengah gelap, gulita tanpa cahaya? Lalu, bagaimana dengan siluet cahaya yang menerpa hingga ke matanya? Apakah ia tidak dapat menangkap pesan dari kehadiran cahaya?

Percayalah teman, gelap dan gulita tidak selamanya ada. Setelah malam akan ada sinar mentari esok hari. Itupun kalau tidak hujan, gerimis ataupun ia benar-benar sedang menguji kesabaran insan. Yakinlah, ia ada walaupun tanpa sinar yang nyata. Ketika engkau menamai hari dengan pagi, engkau dapat menemukan lagi jalan yang sebelumnya engkau pandangi. Walaupun butuh jeda waktu bernama dini hari untuk dapat menemuinya.

Apakah engkau tidak yakin dengan beraneka kisah yang telah engkau lalui sebelum akhirnya engkau sampai pada hari ini? Bagaimana engkau menjalani semua itu? Ketika tanpa engkau sadari, tiba-tiba engkau telah mengalami segala yang masih serasa mimpi. Apakah engkau tidak meyakini akan peran tunggal yang sedang memberikan bukti? Bahwa benar, Allah ADA bersama kita.

Dapatkah engkau menemukan kembali catatan-catatan silammu? Ketika engkau pernah menduga ia sedang terjadi? Bagaimana dengan semua yang pada waktu itu masih belum engkau jalani, akan tetapi jelas sekali di hadapan matamu yang menatap. Namun kini, semua itu bukan hanya hayalan apalagi mimpi. Kalaupun engkau masih merasa ia sebagai mimpi, maka bagaimana kalau kita melanjutkannya di sini? Yuuuks, kita menemukan keindahan yang lebih indah lagi.

Saya masih ingat, dengan sebuah catatan yang pernah ada pada masa silam. Catatan yang ada karena beliau yang sedang menangis tadi, pernah mencatatnya.  Catatan yang masih ada saat ini, bersama kami. Karena kami tidak lupa membawanya serta, sebelum keberangkatan kami, beberapa tahun yang lalu. Hingga lembaran buku yang telah mulai berubah warna pun sampai ke kota ini. Sebuah diari masa lalu. Hup! Before I give my speech I had better have a little brushup on my subject.

Sebuah catatan dari hati. Xixiixiii. Hati. Bagaimana cara menata hati? Panjaaaaaaaaaaaaang waktunya teman. Langkah-langkah yang kami tempuhi, sungguh banyak sekali. Catatan-catatan yang kami rangkai untuk menatanya, sangat banyak. Apakah engkau ingin mengetahui beberapa bait dari langkah-langkah tersebut? Langkah-langkah yang telah mewujud catatan. Catatan yang memprasasti. Ia pun ingin mengeksiskan diri lagi, saat ini, di sini. Setelah sebelumnya, kalau engga salah, saya pernah pula menitipnya pada lembaran maya ini. Namun, kapan dan dimana, yaa?

Let’s, help me to find it, cry baby… (buatmu yang lagi terluka. Cengeng amat yaaa…. Gitu aja nangis).  Yuuks kita senyum dulu…😀

Catatan yang mengingatkanku pada kekuatan dan keyakinan. Yes! Engkau kuat teman. Catatan yang ia tulis pada awal hari, sebelum waktu Dhuha menepi. Tepatnya enam belas Juli tahun dua ribu lima yang lalu.  Ya, begini bunyinya:

Sudah begitu terlambatkah aku untuk berbuat?

Tidak adakah jalan terbuka untukku melaksanakan niatku? Sudah begitu jauhkah keterlambatan itu? Udah tidak adakah orang yang mau membantu?

Pikirku… masih ada. Tapi dengan cara apa?

Sekarang…

Aku bingung.

Harus kemana? Mengapa?

Apa yang harus aku perbuat.

Tidak adakah lagi celah bagiku, untuk bisa menyelinap dan memasuki ruangan yang selama ini aku harapkan? Tak adakah lagi seberkas sinar yang mampu dan mau memberi petunjuk?

Mengapa?

Aku pengen sekali.

Aku ingin bergabung dengan mereka.

Berkumpul dan ikut menjadi pelaku kegiatan di lingkungan tersebut. Ya, aku ingin sekali. Sangat ingin.

Aku merasa sudah tersisih dari kegiatan itu. Akankah aku dapat menerobos dinding pemisah ini? Akankah ada kekuatan yang bisa membantuku untuk menuju ke sana? Akankah ada?

Ya!

Mereka yang sangat bisa.

Mereka yang memiliki andil di dalamnya.

Akankah mereka mau membuka sedikit peluang bagiku untuk bergabung. Bergabung dan ambil bagian di kehidupan dan kegiatan seperti mereka.

Teman…

Ku cemburu padamu!

Ya!! Terus terang kukatakan. Aku cemburu dengan kalian. Mengapa kalian bisa. Tapi aku tidak bisa! Oh tidak! Tidak mau!

Aku tak ingin mengalah. Aku ingin seperti kalian juga.

Tapi belum terlambat bukan?

Ku ingin seperti kalian, teman!

Aku ingin berhasil juga.

Aku ingin terus belajar, berbuat dan berpikir.

Aku sangat cemburu pada kalian. Justeru karena itu, aku tak ingin ketinggalan dari kalian.

Walau aku tak punya uang, tapi aku berniat di hatiku ini dan aku bertekad tak akan mundur sampai di sini. Aku akan tetap yakin padaNya. Aku akan tetap berdoa dan berusaha. Semoga DIA mengabulkan keinginan dan niatku ini.

Haruskah aku berhenti sampai di sini saja?

Tidaaak! Batinku berontak. Aku tak mau putus asa dan putus harapan. Ayo! Wujudkan cita-cita dan niat tulusmu. Jangan engkau putus asa. Kalau putus asa, tak mungkin cita-citamu tercapai.

Dalam hati ini…

Tercipta dan tersimpan sejuta niat.

Ya… Niat untuk lebih baik

Hidup lebih baik dari sekarang ini

Hidup yang lebih baik dimasa datang

Hidup lebih baik dimasa depan.

Masa depan…

***

Sebuah kalimat yang saya tebalkan, perlu mendapat perhatian setiapkali saya sedang menangis. Apakah pelajaran, perbuatan, hasil pikiran yang dapat tercipta dari aktivitas yang satu ini?

Perempuan mudah sekali menangis. Ia menangis tidak hanya karena terluka. Namun, ketika keharuan dan kebahagiaan menerpa jiwanya, ia juga tidak jarang menyambutnya dengan menangis. Ai! Sungguh insan yang satu ini, penuh dengan perasaan. Apa-apa dirasa. Mengapa engkau menangis, teman?

Bukankah saat ini engkau sedang berpikir? Lalu, apa yang sedang engkau pikirkan? Heeey…, bangunlah sayang. Ini masih pagi. Mari kita melangkah lagi. Bukankah engkau ingin terus belajar, berbuat dan berpikir.

So, what are you waiting for? Keep moving! Then, share your more beautiful smiles in your day. Ke manapun engkau akan pergi hari ini, pergilah. Karena kehadiranmu sangat berarti. Namun satu hal yang pasti, hadirkan Allah dalam setiap kehadiranmu, di manapun saja engkau berada. Ini sudah cukup!

🙂😀🙂

   


One comment


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s