Belajar Banyak dari Mentari


Terima kasih, sayang...
Terima kasih, sayang…

Pada suatu hari…

Hari ini kelabu. Meskipun mentari ada, namun ia tidak terlalu cerah. Pagi-pagi sekali, saya sudah mulai melangkah. Menuju tempat beraktivitas dengan semangat yang kembali menyeruak. Saya memakai kostum hijau bercorak orange serta rok berwarna hitam. Ada nuansa ceria yang memancar dari warna kerudung yang berwarna orange cerah. Ini hari Kamis, sehat! Mestinya, begitu. Namun, apa hendak dikata. Semacam aura yang berbeda, sedang menjangkiti raga. Ai! Influenze kembali menyapa. Apakah yang mampu saya upaya? Dalam kondisi begini, maunya tiduran saja lebih lama. Kemudian, baring-baring sejenak. Lalu, tiduran lagi sambil baca-baca.  Then, berehat lagi, hanya raga. Karena hanya ia yang sedang melemah, seketika.  Wah! Bagaimana? Bagaimana? Padahal, kita perlu berusaha dengan sepenuh upaya. Agar dapat mencapai apa yang kita damba. Bukankah dengan berusaha, kita dapat menemui cita? Doa adalah penguat raga ketika ia melunglai seketika. Yaa… semoga kesegaran kembali menaunginya. Aamin.

Sedangkan kepala, ia maunya rebahan saja. Mata? Ia mau mengatup berlama-lama. Untuk meneruskan rehat dalam kondisi raga yang suhunya lebih dari semula, belumlah bisa. Lalu, kembali ke sini adalah solusinya. Saya ingin menitipkan bait-bait kata, untuk membuktikan bahwa hari ini saya masih ada. Meskipun dengan sisa-sisa tenaga yang masih melekat, jemari mulai menggerakkan dirinya. Satu persatu, ia menyentuh tuts-tuts yang akhirnya membentuk kata. Susunannya ia bentuk sesukanya. Pokoknya, enjoy saja. Ini masih senja, ketika saya memulai rangkaian kata bersama jiwa. Ia berkata, “Kita Bisa.”

Khusus, bagi sesiapapun yang saat ini juga lagi influenza, kita sehati yaa…😀

Mari kita bertekad untuk sehat! bersama-sama. Semoga segera, yaa…😀

Sehat, sehat, sehat, indahnya nikmat sehat, akan terasa sangat ketika ia mulai mengambil jarak dari kita. Lalu, bagaimana kita mengisi kondisi sehat yang saat ini sedang membersamai? Ya, sebelum ia melangkah beberapa masa dari kita, lalu belum lagi kembali untuk waktu yang tidak dapat ditentukan. Wahai sahabat, indahnya karunia berupa sehat, memang tidak boleh kita jadikan sia-sia. Selagi ia masih bersahabat dengan kita, maka rengkuhlah ia menjadi sahabat terbaik. Begitu pula dengan sesiapa saja yang saat ini sedang ada bersama kita, pandanglah ia sebagai diri kita sendiri. Bagaimana kita menyayangi diri sendiri, sayangi pulalah ia. Bagaimana kita menghargai diri sendiri, perlakukanlah ia sedemikian pula.  Karena kita tidak dapat mereka-reka, masihkah akan dapat membersamainya lagi pada masa yang setelah ini?

Wahai sahabat, senyumanmu di hadapan saudaramu adalah sedekah. Lalu, bagaimana dengan kerutan-kerutan pada wajah, yang engkau cipta dengan semaunya, padahal hari masih pagi? Alangkah makin gagahnya wajah yang tampan, bersama senyuman. Alangkah jelitanya si cantik rupa dengan senyuman. Lalu, kemana senyuman tersebut kita titipkan, kalau wajah-wajah ini masih saja melipat dan mengkerut? Bukankah kita masih muda, belia dan perkasa.

Adalah tampilan yang kita pampangkan pada wajah, memberi gambaran bagaimana suasana hati kita. Lalu, kita tidak dapat membaca bagaimana suasana hati, kalau pada wajah tersebut ada keburaman. Ai! Bercerminlah engkau saat ini juga, bagaimana wajah yang engkau pasang terakhir kalinya? Penuh dengan binar-binar yang bercahayakah? Ia bersinar, menerangi hati yang sedari tadi terselubung mendung yang menggelayutinya. Ataukah, wajahmu bagaikan mendung yang segera berarak menyelimuti wajah mentari yang sedari tadi ia bawa dengan ceria? Mentari bergerak dengan leluasa, tanpa awan semulanya. Ia bersenandung kecil melangkah dan kemudian melangkah lagi. Beberapa langkah kemudian, ia berpapasan dengan sekumpulan gemawan yang sedang bereuni. Wajah sang awan, sedang mendung.

Akhirnya, mentaripun menyelinap di balik awan. Ia tidak terlihat untuk beberapa lama. Alam mendadak kelam, suasananya mencekam seketika. Namun, belum ada tanda-tanda hujan akan membasahi bumi. Akhirnya, memang tidak turun hujan, karena awan yang hadir, hanya sekadarnya. Mengomel-ngomel sendiri, dengan terus berjalan. Berucap pada diri sendiri, entah apa yang ia sampaikan. Kemudian, awan berlalu dengan wajahnya yang mengelabu. Mentari tersenyum menyaksikan pemandangan yang baru saja. Ia tersenyum, karena kembali dapat menatap dunia. Ia tersenyum, karena sinarnya akan menerangi semesta, segera.

Mentari seringkali mengalah oleh keadaan. Ia tidak dapat memaksakan kehendak dengan semaunya. Apabila awan bergerak untuk menutupi alam, ia biarkan gemawan berkeliaran. Bukankah ia masih ada? Mentari menyelinap, menuntun arah gerak gemawan, dengan tatapan matanya yang cemerlang. Walaupun gemilang sinarnya belum lagi terlihat berkilau seperti sediakala, namun di atas sana, ia sedang berbahagia.

“Ketika tiba masanya, sinar kita akan kembali sampai ke bumi,” bisiknya di dalam hati. Mentari, engkau sungguh baik. Saya selalu kagum denganmu. Di sini, dari tempat ini, memang engkau belum terlihat lagi. Namun, saya mengakui, pernah menatapmu meski ilusi. Dengan senyumanmu yang terangi hati, engkau sampaikan beragam janji. Engkau kembali menerangi setelah gelap menguasai alam. Itulah janjimu, janji yang seringkali saya ingati, ketika engkau belum terlihat lagi.

Wahai mentari, tadi, ketika hari ini mulai menepi, engkau masih berani untuk menampakkan diri. Walaupun sinarmu tidak cemerlang, namun engkau ada ketika sore menyapa. Inilah salah satu bukti bahwa engkau tepati janji. Mentari, terima kasih yaa.

Dalam perjalanan menuju pulang dari beraktivitas hari ini, saya menyempatkan waktu untuk memperhatikan langit, sebentar. Ke arah barat, mata ini tertuju. Ia melepaskan pandangnya ke ujung langit. Hingga akhirnya, mata ini terhenti  pada sebuah sinar yang tidak begitu cemerlang. Ia seakan sedang berhimpitan dengan beraneka beban. Mentari, kasihaaaan… Ia berada diantara gemawan yang bersalaman. Gemawan yang beratnya entah berapa kilogram, terlihat sangat gelap. Saya pun memfokuskan tatapan padanya, lekat. Kami berpandangan. Kemudian, tanpa membuang banyak waktu, saya tujukan peneropong arah ini padanya, lebih dalam lagi. Saya ingin membuatnya menyadari, bahwa dari dalam diri ini, ada sekepinghati yang sedang mengungkapkan apa yang ia rasa. Rasa-rasanya, baru kali ia begitu tenangnya dalam menatapi gemawan yang sedari tadi mengomel sendirian.

Baiklah mentari, biarkan semua berlalu. Tetap tersenyum, yaa. Selamat jalan, teman… Selamat melanjutkan perjuangan. Baktikan apa yang mampu engkau beri dengan kemampuan yang optimal. Kemudian, saat malam menyapa alam, engkau boleh meneruskan perjuanganmu yang kemudian. Tetaplah menjadi dirimu yang bersinar bersama senyuman. Keadaan hanya menitipkan pesan, bahwa ia hadir untuk mengkondisikan alam. Agar, tidak berlama-lama engkau menyengatinya. Biarlah keteduhan yang awan ciptakan sejenak, menjadi jalan hadirnya kesejukan. Bukankah engkau sedang  meneruskan perjuangan? Buat apa berlama-lama menatap awan yang terus saja menguraikan apa yang ia rasa. Sebaiknya engkau menyimak, mendengarkan, memberikan perhatian, kemudian memetik pelajaran. Bahwa engkau tidak boleh melakukan hal yang sama, pada sesiapapun. Walaupun baktimu telah menjalar hingga ke seluruh pelosok alam, namun senyuman perlu terus engkau tebarkan, ketika ada yang membuatmu belum lagi mampu melakukannya. Karena kehidupan memang demikian. Usahlah membalasi dengan tanpa kebaikan. Karena semua yang kita lakukan adalah cerminan, siapakah kita yang sesungguhnya?

Untuk teruskan perjuangan meskipun gemawan masih melingkupi, saya yakin bahwa engkau mampu. Sepenuhnya saya menyakini bahwa engkau adalah jalan kebaikan. Termasuk pada awan yang berulangkali membuatmu belum lagi dapat memancarkan senyuman, saat ia mengomel-0mel. Ya, abaikan kalau memang, itu yang engkau inginkan. Diamlah atas kemarahan, niscaya api itu akan padam. Usahlah marah kalau lagi berjalan.  Karena banyak godaan yang sedang menghadang. Duduklah, duduklah, tenangkan pikiran, baru mencurahkan perasaan. Karena tiada guna mengungkapkan apa yang kita pikirkan dengan segera, tanpa mempertimbangkan bahwa ada penerimanya di sana, yang sedang mempersiapkan diri untuk kehadiran serangkaian omelan. Ai! Hari yang kelabu, seperti langit bermendung, bahkan hitam.

Pernahkah teman? Engkau menemui sekumpulan awan yang sedang berarak dengan teman-temannya. Lalu, ia berhenti untuk beberapa lama, di wilayah yang sangat dekat denganmu. Apa yang engkau alami saat hal ini terjadi? Apakah engkau tidak merasakan kesejukan? Apakah engkau merasakan alam tiba-tiba penuh dengan persahabatan? Apalagi kalau saat itu engkau sedang melanjutkan perjalanan. Tentu saja kondisi demikian sangat engkau sukai, kannn? Begitu pula dengan hadirnya awan bersama omelan, pada mentari yang sedang tersenyum. Ia menjadikannya sebagai kesempatan untuk menata keadaan. Dengan tersenyum, engkau dapat menemukan kedamaian, teman. So, tersenyumlah dengan menawan.

***

Keesokan harinya, adalah hari ini…

Hatchiiiiiiii…..!!

Haaaaaatchiiiiih!

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin…

😀😀😀

Ekspresi pertama pagi hari, yang membuatku mengiringinya dengan senyuman lebar. Ai! Benar-benar merasuk ke seluruh raga, hangat pun menerpa mata. Aku malu. Seluruh wajahku merah padam. Ia benar-benar tersiksa. Kami bersama mengalaminya.

Haaaaaattcchiii…! Haaaatttccchiii..!
Suara ini masih terdengar, hingga akhirnya panggilan kemenangan kembali menyapa. Azan Subuh. Dengan langkah-langkah ringan, kami pun menyambutnya. Ada haru menyelimuti jiwa, seketika. Ash shalaatu khairumminannauum. “Shalat itu lebih baik daripada tidur.”

***

SURAT 62. AL JUMU’AH

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ 8
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ 9
Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ 10
Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki. وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ 11

.:: HaditsWeb ::.

Kita tidak pernah tahu, kapan kematian menyapa, lalu membawa kita serta, ikut dengannya. Kita tidak pernah mengetahui akan hal ini, sebelum akhirnya kita benar-benar mengalami. Setelah saat inikah? Beberapa menit lagikah? Sejam kemudian, atau dalam bulan-bulan yang akan kita jelang ke depannya? Bahkan kita tidak dapat memastikan masih akan berjumpa dengan tahun yang akan datang. Wallaahu a’lam bish shawab.

Adapun Al Quran sebagai petunjuk hidup, perlu senantiasa kita jadikan pedoman. Karena di sana, terdapat banyak banget peringatan buat kita yang sedang melanjutkan perjalanan di bumi. Kita yang saat ini masih ada, apa yang dapat kita upaya dalam memanfaatkan masa? Apakah kita begitu mudahnya terlena dengannya?

Wahai jiwa yang mendamba cahaya, kembalilah engkau dengan ketenangan, untuk menemui Rabbmu … husnul khatimah ya Allah, karuniakan kami akhir kehidupan yang baik, yang Engkau ridhai, saat kami kembali pada-Mu … Aamiin ya Rabbal’aalamiin.

Selangkah demi selangkah, kita terus menapak jalan kehidupan. Ada beraneka aktivitas yang sedang kita lakukan dalam menjalaninya. Sebagai guru yang menjadi jalan sampaikan ilmu pada sang awam, sebagai pelajar yang ingin menemukan hikmah demi hikmah berupa pengetahuan, sebagai dokter yang menjadi jalan kesembuhan, dan banyak lagi yang lainnya. Siapakah kita? Bukanlah tentang apa yang kita lakukan sehari-hari. Itu hanya profesi. Sedangkan kita, siapakah kita yang sesungguhnya?

Kembali menyadari makna dan kehadiran kita di muka bumi, menjadikan kita kembali menundukkan hati, ia bukan siapa-siapa. Setinggi apapun jabatan kita, sebanyak apapun materi berupa harta yang kita punya, ia bukanlah penentu siapa kita yang sesungguhnya. Apakah kita merasa berkuasa dengan tingginya nada suara yang membahana ketika berucap? Apakah kita merasa paling keren dengan kefasihan dalam berbicara? Lalu, bagaimana dengan beliau yang Allah karuniakan nikmat begitu berharga, beliau tidak dapat bicara, walau sepatah kata. Dengan ekspresi dan gerakan anggota tubuh saja, beliau berkomunikasi dalam menjalani kehidupan. Lalu, kita yang Allah karuniakan suara yang sempurna, bagaimana bisa menggunakannya semau kita? Alangkah indahnya kelemahlembutan itu…

Namun, ketika pada suatu masa, ia tiada… jiwa pun menderita… Saat yang ia dengar adalah suara-suara yang mampu mencabik-cabik kefitrahannya, maka ia akan segera menyampaikan apa yang ia rasa. Karena ia begitu peka. Tidak mudah baginya untuk mengungkapkan segala, kalau ia tidak tahu bagaimana yang seharusnya. Wahai engkau yang peduli, apakah engkau pernah mengalami akan hal ini?

But, kembali ia menyadari, tentang semua yang ia alami. Apapun yang terjadi menyapanya, untuk menitipkan pesan, tentang makna kehadiran diri. Ia ada untuk menemukan banyak hikmah dari alam-Nya.

Kembali mengintai pikiran, agar ia teringatkan, di sana ada peran Allah Yang Menciptakan. Ya, Allah mengingatkan kita pada-Nya, melalui apa saja. Berbagai tipe insan yang kita temui, menjadi jalan bagi kita untuk kembali menyapa-Nya. Agar kita tidak lupa. Ya, agar kita tidak lupa Allah…

Bukankah kehidupan ini berputar, masa datang dan pergi silih berganti. Sedangkan kita ikut pula bersamanya, dengan senang hati. Apabila suatu hari nanti, kita mengalami hal yang sebaliknya, semoga kita selalu mengingati, betapa kebaikan-Nya tidak  mengenal masa. Semoga kita ingat saat-saat menderita, ketika kita mengalami bahagia. Ya, agar kita tidak lupa. Agar kita tidak lupa pada diri.

Karena masih banyak lagi jalan-jalan yang akan kita tempuhi. Selama usia masih bersama, maka bersahabat dengan alam adalah pilihan. Menyatu dengannya, untuk menangkap bahan pelajaran yang sangat berharga. Ai! Belajar bersama alam, sungguh terasa indahnya.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s