Be There, Where You Are


Mengunjungimu, kapanpun

Aku mengunjungimu, kapanpun engkau mengingatku

Belum banyak yang aku ketahui dari pribadimu. Ya, meskipun kita telah lama berteman, dan itupun jauh di mata. Namun, di hatiku engkau ada. Bagaikan mentari yang selalu terbit setiap hari, itupun engkau  manfaatkan untuk hadir dalam ingatanku. Waktu pagi, adalah mulanya hari. Dan mengapa???? Setiap pagi engkau datang dalam ingatanku? Siapakah engkau yang sesungguhnya? Wahai insan yang menawan hati.

Sesosok pribadi yang telah mencuri sebagian hidupku, kini. Ia ada namun tiada. Ia berarti, masih ilusi. Ia menemani, namun engga di sini. Sungguh! Apakah ini masih mimpi? Padahal aku menyadari, ini telah pagi. Meskipun mentari belum lagi menyinari, namun dari bisikan dentang jam di dinding, aku tahu ia sedang mengingatkan diri, sudah pukul enam pagi di sini. Namun aslinya, masih pukul lima lebih lima belas menit. Yach, lebih cepat empat puluh lima menit, inilah jam dinding di kamarku. Hohooo…

So, apabila engkau datang berkunjung ke sebuah ruangan yang selama ini menjadi tempat berehatku dari aktivitas, maka engkau perlu mengingat catatan saat ini. Ya, agar engkau tidak terkaget-kaget apalagi segera melayangkan pandangan padaku, ini memang tidak biasa.

Kita memang berbeda. Meskipun ini tidak biasa, namun bagiku sudah kebiasaan. Melebihkan jam dinding dari yang seharusnya, adalah kesukaanku. Entah mengapa? Aku suka aja. So, ketika pada suatu hari seorang teman sedang menemuiku, beliau langsung memasang wajah dengan ekspresi keheranan. Ya, alasannya yang itu tadi, jam dinding.

Jam dinding, berdentang sangat jelas. Sepi, sunyi, adalah suasana yang sedang berlangsung di sekelilingku, kini. Karena memang belum ada tanda-tanda kehidupan yang berarti. So, kesempatan terbaik ini, aku manfaatkan untuk merangkai sebuah catatan yang menurutku, adalah catatan pertama dalam kehidupan ini. Catatan yang tercipta karena aku merasakan kehidupan lagi. Setelah beberapa puluh jam yang lalu, raga ini seperti hilang sejenak. Ia sungguh lemaaah dan tidak berdaya. Akibatnya, aku belum lagi menyadari tentang apa yang telah aku lakukan bersamanya, dalam jangka waktu yang telah lama berlalu itu.

Aku? Siapa aku?

Dalam berbagai kesempatan, banyak orang yang aku temui. Pun, tidak sedikit pula yang datang menemuiku. Mereka bilang, “I miss you.”

“Yeaah, me too,” ini jawabku.

—–Haaaaaattttttcccchiiii…!

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin…

😀 (sambil tersenyum lebaaar…)

Dalam jeda waktu yang baru saja berlangsung, Miss Hatchi tiba-tiba datang. Legaaaaa… Apakah yang engkau rasakan selain satu kata ‘lega’, teman? Ketika baru saja bersin dengan kuatnya? Ai! Aku belum benar-benar sembuh, dari serangan influenza yang datang tiba-tiba. Lalu, harus bagaimana lagi? Hikzzz…

Seingatku, sudah lama aku belum mengalami hal yang seperti ini. Ya, meskipun aku belum dapat lagi mengingat dengan jelas, kapan terakhir kali ragaku melemah, namun sepertinya itu sudah berlangsung dalam waktu yang lama. Jadi, memang sudah saatnya kali yaa, ia perlu menjalani. Immunitas-nya lagi kurang stabil. Jadi dech, gini. Xixiiixiiii… Namun, aku senang. Dengan hadirnya flu, maka aku dapat mengalirkan airmata dengan mudahnya. Ya, air yang tiba-tiba saja keluar dari sebelah mata, kemudian diikuti oleh sebentuk perih di sekeliling hidung. Engga nyaman,  memang, menjalani waktu dengan kondisi begini. But, walau bagaimanapun keadaan yang sedang kita jalani, menikmatinya adalah pilihan. Bukankah hidup adalah tentang pilihan, teman?

Engkau, siapapun engkau yang saat ini entah berada di mana. Bagaimana engkau menjalani hari-harimu? Dengan kesibukan yang semakin bertambah dari waktu ke waktu. Bersama kesibukan yang seringkali menyita banyak waktumu. Bersama waktumu yang juga sedang bergerak maju. Lalu bagaimana cara yang engkau tempuh untuk dapat menikmatinya?

Kita tidak dapat memastikan akan berada di mana, setelah di sini. Pun, kita tidak dapat memastikan pula, akan kembali ke sini setelah beranjak dari sini. Lalu, bagaimana bisa, kita tidak menikmati suasana yang sedang kita jalani saat ini, kalaulah suatu hari nanti, kita tidak dapat mengalaminya? Ya, tetaplah di sana, di manapun engkau berada. Karena  ini erat hubungannya dengan kemauan kita untuk memahami perputaran roda kehidupan.

Di manapun engkau berada, kalau engkau menikmati suasana di sekitarnya, maka  engkau dapat memetik hikmah demi hikmah di sana. Walau bagaimanapun kondisi yang sedang engkau alami, kalau engkau menempatkan dirimu dan hatimu dalam menjalaninya, maka engkau merasakan kebahagiaan yang tidak dapat lagi untuk diungkapkan hanya dengan susunan kata-kata saja. Walau bersama siapapun engkau dalam memanfaatkan waktu, namun kalau engkau menikmati waktu-waktu kebersamaanmu dengannya, maka engkau adalah orang yang paling bahagia dari semua orang yang bahagia. Waih! So Sweet. Pun, apapun aktivitas yang sedang engkau lakukan saat ini, kalau engkau menikmatinya maka ia menjadi semacam hiburan yang menyenangkan, kalau engkau menikmatinya. Yach, ini tentang kerelaan hati untuk menempatkan keberadaannya.

Siapapun yang engkau temui, kalau engkau menikmati waktumu bersamanya, maka dipastikan ada pesan, kesan dan kenangan yang engkau ciptakan bersamanya. Lalu, siapakah yang paling berkesan dalam kehidupanmu, teman?

Bagaimanapun cara yang engkau tempuh untuk mencapai tujuanmu, kalau engkau yakin bahwa cara tersebut yang dapat menenangkan hatimu, maka engkau tempuhlah ia dengan sepenuhnya. Karena, apapun yang sedang kita lakukan, adalah tentang pilihan. Kemauan untuk memilih, sebanding dengan keberanian untuk menikmati hasilnya. Ya, karena pilihan yang kita tentukan pada hari ini, akan sangat menentukan bagaimana hasil yang akan kita peroleh setelah saat ini. Begitu pula halnya dengan pilihan-pilihan yang telah kita ambil pada masa yang telah lama berlalu. Ia menjadi semacam landasan, untuk membentuk siapa kita pada hari ini. Semua ada hikmahnya. Untuk selanjutnya, tergantung pada kemauan kita dalam menjalani kehidupan bersama pilihan yang telah kita tetapkan.

Apakah engkau ingin menjadi seorang yang cerdas, maka pilihlah untuk belajar dengan rajin, tekun dan bersungguh-sungguh ketika kesempatan untuk belajar masih ada. Saat engkau ingin menjadi lebih cantik, maka belajarlah untuk merias diri. Lalu, ketika engkau sudah cantik, buat apa semua itu, teman? Menjadilah cerdas, cerdas yang bermanfaat. Menjadilah cantik, cantik yang mencantikkan.

Lagi…

Belum banyak yang aku ketahui dari pribadimu. Ya, meskipun kita telah lama berteman, dan itupun jauh di mata. Namun, di hatiku engkau ada. Bagaikan mentari yang selalu terbit setiap hari, itupun engkau  manfaatkan untuk hadir dalam ingatanku. Waktu pagi, adalah mulanya hari. Dan mengapa???? Setiap pagi engkau datang dalam ingatanku? Siapakah engkau yang sesungguhnya? Wahai insan yang menawan hati.

Engkau yang belum pernah aku temui, walaupun sedetik. Gerak kedip matamu yang belum pernah aku saksikan, perguliran kedua bola matamu yang belum aku pandangi, belum, belum pernah. Kalaupun ada, itupun hanya dari selembar potret. Namun, mengapa engkau begitu mudahnya lekat di dalam hati ini? Siapakah engkau, wahai insan yang mencuri perhatianku? Aku ingin tahu, tentangmu lebih banyak. Bolehkah?

Sejumput harapan sedang aku rangkai, untuk dapat membersamaimu dalam menjalani hari. Namun kini, harapan itu sedang basah, melebur bersama tetesan embun pagi yang mulai pias. Ia sedikit demi sedikit, mulai berkurang. Harapan yang semulanya tumbuh dan berkembang di taman hati, kini ingin menghilang. Apakah yang mampu aku upaya dengan kondisi yang seperti ini? Bagaimana lagi upaya yang mampu aku sematkan, agar ia kembali ada? Ya, harapan yang apabila aku mengingatnya, maka bangkitlah raga segera dari rehatnya. Ia berusaha untuk menggerakkan dirinya, walau tanpa daya, pada mulanya. Namun, ketika ia benar-benar sudah bangkit, dengan senangnya, ia pun melangkahkan kaki-kaki jiwa. Yach, hanya jiwa yang ia punya. Ketika raganya tidak lagi mampu berbuat apa-apa, semoga kekuatan jiwa yang sedang membersamainya, menjadi bukti bahwa saat ini, ia masih ada.

Wahai teman, kalaulah saja engkau memandangi lembaran pipiku saat ini, maka engkau dapat menyaksikan, di sana ada seberkas senyuman. Senyuman yang sedang menebar, karena ia bahagia dapat mengenalmu. Engkau yang menjadi jalan baginya, untuk kembali tumbuhkan harapan. Harapan yang sebelumnya telah melebur oleh tumpukan debu-debu kehidupan. Namun, ketika engkau datang dalam kehidupanku, ada seberkas sinar yang engkau bawa, untuk menyelami debu-debu itu. Ya, sinar yang akhirnya  menembus titik terujung harapanku. Memang sosok sepertimu yang aku cari, sosok yang menjadikanku tersenyum kapanpun aku mau.  Hingga saat ini pun begitu, tepat pagi ini, saat aku ingat kamu. Engkau teman, yang menyinari hari-hariku dengan bening akhlakmu. Akhlak yang terpancar dari benderang pribadimu yang memang rupawan.

Hahaa… sempat aku memandang potretmu, meski ilusi. Namun, aku yakin bahwa selembar wajah yang sedang tersenyum itu, memang engkau yang asli. Benar, kaannnnnnn, teman. Jangan engkau buat aku bertanya-tanya lagi, cukup engkau menjawab dengan “Iya, itu aku”, ini sudah cukup bagiku. How is?

Engkau, kan? Yang seringkali datang dalam mimpi-mimpi malamku? Engkau yang selama ini mengusik kehidupanku? Selembar wajah dalam mimpi, yang membuatku teringat padamu, setiapkali aku siuman dari lelap tidurku. Teman, aku tidak ingin ini hanya mimpi…. So, help me please, untuk meyakinkan bahwa engkau benar-benar ada.  Ai, tolong maafkan aku,  kalau permintaan ini membuatmu merasa terganggu. Ini permintaan hatiku yang saat ini lagi terjaga. Tolong biarkan ia dalam suasana yang seperti ini, dalam waktu yang lebih lama, yaa.  Agar ia tahu, bahwa engkau ada dalam nyata. Tidak lagi ilusi, seperti yang ia alami dalam waktu-waktu yang sebelum ini.

Lagi…

Belum banyak yang aku ketahui dari pribadimu. Ya, meskipun kita telah lama berteman, dan itupun jauh di mata. Namun, di hatiku engkau ada. Bagaikan mentari yang selalu terbit setiap hari, itupun engkau  manfaatkan untuk hadir dalam ingatanku. Waktu pagi, adalah mulanya hari. Dan mengapa???? Setiap pagi engkau datang dalam ingatanku? Siapakah engkau yang sesungguhnya? Wahai insan yang menawan hati.

Aku masih berusaha untuk meraih tuts-tuts ini satu persatu. Agar ia dapat mencipta kata dari huruf-huruf yang akhirnya  menyatu. Ya, agar ia mampu merangkai beberapa kata untuk melebur rindu. Sure, aku merindukanmu. Saat ini, ada gerakan dahsyat yang menyentuh ruang hatiku, lalu ia bertanya, “Kapan engkau mempertemukanku dengannya? Dia yang di sana.”

Aku yang tidak mampu menjawab apa-apa, akhirnya hanya bisa tertawa saja. Ya, mentertawakan rasa yang sedang menggelayut dalam jiwa. Kemudian, kami pun bersenyuman, ketika telah bertemu solusi yang meyakinkan.

“Mari, kita berdoa untuknya. Agar ia baik-baik saja. Semoga ia segera menemukan jalan, untuk mensenyumkan kita lebih indah lagi. Ya, walau jalan apapun yang ia pilih, baiklah kita mengikuti perkembangannya. Karena kita juga tidak tahu, kan? Bagaimana cara untuk dapat ke sana? Bergerak dengan tanpa tujuan yang jelas, ini sungguh tidak disarankan. Melangkahlah, setelah engkau mempunyai tujuan, teman…,” bersama, kami saling menguatkan. Kami bergenggaman tangan, untuk saling mengalirkan kekuatan. Perjuangan masih panjang. Jalan untuk mencapai tujuan, masih terbentang.  Hanya memerlukan kemauan kita untuk menempuhnya. Lalu, ke mana tujuanmu, teman?

Aku yang seringkali bertanya, “Nyampe ‘Bahagia’, Pak?”. Pada setiap supir angkot yang akan aku tumpangi, menuju tempat beraktivitas. Kalau beliau mengangguk tanda setuju, maka aku pun ikut dengan beliau. Dan atau beliau tersenyum, ini sudah menjadi jawaban yang membuatku memutuskan untuk ikut. Ya, bahagia ada tujuanku. Hehee…

Untuk dapat menuju bahagia, itu tidak mudah, memang. Ya, karena ada saja goda, cuba, uji dan aneka rasa yang menyapa sebelumnya. Ya, terkadang, Bapak supir yang pada awalnya mengangguk dan atau mengiyakan, malah bilang begini di separuh perjalanan, “Nyampe pesantren aja ya, Neng. Bapak mau belok.”

Sebuah kalimat yang membuatku berekspresi di dalam hati, “….. (hampa seketika)…..”

Begitu pula dalam menjalani kehidupan ini, teman. Adakalanya, dalam melangkah, kita bertemu dengan orang-orang yang berjanji akan menyampaikan kita pada ‘bahagia’. Namun dalam prosesnya, tidak sesuai dengan apa yang baru saja beliau sampaikan. Bagaimana tanggapanmu tentang hal ini, teman?

Apakah engkau akan balik lagi pada posisi awalmu, lalu mengulangi tanya yang sama, pada beliau yang dapat menjadi jalan sampaikanmu pada tujuan .Red’ bahagia? Ataukah engkau memilih untuk meneruskan langkah-langkah meski goyah, karena baru saja engkau kecewa? Dengan harapan, masih ada tumpangan lain, yang dapat memberikan uluran tangan, ia menjadi jalan mudahnya langkah-langkahmu.

Atau, engkau malah marah-marah pada sang supir tadi?

Kita juga sama-sama tahu, siapa beliau.

Beliau yang tercipta dengan hati. Beliau yang memiliki hati. Sedangkan hati yang kita bawa-bawa ini, berada dalam genggaman-Nya. Hati yang sangat mudah berbolak balik. Hati yang rawan sangat terhadap beraneka rasa. Ia mudah tergoda, lalu mencurahkan tinta rasa. Ia yang seringkali tidak dapat mengendalikan perasaan. Hati yang seringkali membuai kita dengan kekuatannya. Ia yang seringkali membuat kita berkata,  “Yes”. Lalu dengan penuh keyakinan, kita pun melanjutkan langkah-langkah bersamanya. Langkah-langkah raga yang sedang menapak dunia, sedangkan ia sedang memandangi kita dari atas sana. Ai! Apakah kita benar-benar melangkah bersamanya? Ataukah ia telah terbang entah ke mana, sedangkan kita terus saja berusaha untuk dapat mencapai tujuan?

Memberikannya kesempatan beberapa waktu saja, untuk melihat-lihat alam di luar sana, adalah pilihan. Lalu, ketika kita sedang menjalankan aktivitas, kita perlu memanggilnya segera. Ajaklah ia dalam waktu-waktu kita, maka kita dapat menikmati apapun yang sedang kita lakukan. Ini adalah cara termudah untuk dapat mencapai bahagia.

Lagi…

Belum banyak yang aku ketahui dari pribadimu. Ya, meskipun kita telah lama berteman, dan itupun jauh di mata. Namun, di hatiku engkau ada. Bagaikan mentari yang selalu terbit setiap hari, itupun engkau  manfaatkan untuk hadir dalam ingatanku. Waktu pagi, adalah mulanya hari. Dan mengapa???? Setiap pagi engkau datang dalam ingatanku? Siapakah engkau yang sesungguhnya? Wahai insan yang menawan hati.

Walaupun saat ini kondisi tubuhku sangat lemaaah, ia lelaaaah, padahal masih pagi. Semestinya, ia bugar, segar dan sehat. But,virus-virus yang sedang menyerang raga, lebih berkuasa, kiranya. Sedangkan kekebalan tubuh, belum lagi dapat menangkis serangan viruses ithuuu.  Hu um.

With you, I am enjoy my time, now.

🙂 😀 🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s