Sedekah Itu Mensenyumkan Jiwa


Family History

Family History

Meng-nol-kan harta ketika kaya? Bagaimana bisa? Adalah ini sebuah kalimat yang merupakan inti dari suara lembut yang saya simak semenjak awal pagi ini, dari tutur kata beliau Ustadz Yusuf Mansyur.

Saat ini Anda lagi sakit? Ai!  Sakit apa? Tengoklah ke belakang, tentang segala yang kita punyai. Serahkan pada pemiliknya dan kemudian, bersiaplah untuk menyaksikan hal-hal menakjubkan setelahnya. Subhanallah… kalimat-kalimat yang membuat saya bergidik, hiiiiiyy…  Saya yang saat ini masih kurang enak badan, menjadi tercolek jiwanya. Introspeksi diri. Ada hikmah dari setiap kejadian. Termasuk kalimat-kalimat yang baru saja mengalun dengan tenangnya.  Membuat saya mengembalikan ingatan pada beberapa waktu terakhir, yang telah saya jalani. Apakah yang saya punyai? Kembali ingatan menyelinap ke penghujung pikir. Ia berhenti sejenak, kemudian kembali mengalir. Alirannya sampai pula ke sini, lewat jemari yang merantai huruf demi huruf menjadi kata-kata yang tercipta.

Ketika kalimat berikutnya menyinggung tentang maut? Saya semakin merinding. Ai! Tentang kapankah ajal diri? Kita akan kembali pada Allah.  Ingatan yang mampu menggetarkan seluruh raga, membuatnya bertanya seketika, “Apakah yang telah saya persiapkan untuk menyambut janji yang pasti ini?” Ketika saat ini raga begitu lemahnya, bagaimana bisa ia merangkak dan bergerak menggapai pertolongan.  Saat ingatan yang ia punyai, telah sampai pula pada pemandangan berikutnya. Membayangkan tentang kematian, mengingat kembali tentang proses kematian orang lain, yang sempat ia saksikan pada masa-masa sebelumnya. Tentang beraneka sebab yang menjadi jalan sebagai pertanda telah datangnya malaikat maut pada orang yang dituju, membuat tetes-tetes bening permata kehidupan, melimpah ruah, membuat pipi ini basah…

Lemah…

Tanpa kekuatan untuk mampu bergerak, adalah kondisi yang akan kita alami ketika kematian raga telah menjelang. Raga yang selama  ini kita jadikan sebagai sarana untuk melangkah, ia yang kita pakai untuk mengantarkan hati pada kehendaknya. Raga yang seringkali mempertunjukkan tentang  bagaimana suasana yang sedang kita alami dari dalam jiwa. Raga yang terkadang menangis, tersenyum, tertawa, dan berekspresi semaunya. Wahai, raga itu tidak dapat lagi berekspresi ketika kematian telah hadir. Saat malaikat maut tiba-tiba datang!

Ia datang dengan penampilannya yang rupawan, kalem, lembut, ramah, baik dan penuh senyuman, untuk menjemput si baik budi, yang cantik hatinya.  Lalu semerbak haruuum menebar di sekitaran, mengusik perhatian seluruh alam, untuk menanyai, “Aroma apakah ini?” Sedangkan pemandangan yang sebaliknya, akan menghampiri, kalau kita sedang berada dalam kondisi yang bertolakbelakang. Wahai, kita tidak akan tahu bagaimana rupa malaikat maut yang sesungguhnya, kalau kita belum mengalami apa itu kematian.

Kematian raga, pasti akan kita alami. Siapapun kita, sedang dalam perjalanan menuju pertemuan dengan kematian. Lalu, bagaimana dengan kematian hati?  Ya, hati yang begitu mudah untuk tidak peduli dengan kebaikan. Hati yang sungguh mudah melupakan nikmat dari Allah. Wahai hati, bagaimana kita menempatkan posisinya hingga saat ini? Apakah ia sudah benar-benar kita hidupkan? Ataukah saat ini, hati kita sudah berada di alam kuburnya? Hati yang hidup adalah hati yang bahagia ketika menerima nikmat dan anugerah dari Allah, lalu ia bersabar saat mengalami suasana yang tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Ingatkah kita, wahai teman? Bahwa tidak semua keinginan kita sesungguhnya menjadi kebutuhan. Sedangkan kebutuhan kita adalah yang benar-benar kita alami. So, enjoyourtime.

Dalam berbagai suasana, kita berekspresi. Memberikan pertanyaan kepada hati, untuk berekspresi yang bagaimanakah? Adalah pilihan yang perlu kita tentukan. Apakah kita langsung tersenyum meriah sungguh bahagia tiada terkira ketika menerima kebaikan? Sedangkan untuk memberikan kebaikan, kita perlu pikir-pikir dulu. Lalu, kapan kita berbuat baiknya?

Iya, untuk kebaikan, kita seringkali berpikir sebelumnya. Padahal, kita yakin akan peran dan kuasa-Nya atas apa yang kita lakukan. Saat ada seorang Ibu-ibu yang datang kepada kita, dengan tatapan mata yang menyiratkan kepedihan. Ya, mata itu menatap, namun tanpa sinar. Karena ia sedang menanggung derita kehidupan. Lalu, dapatkah di sana kita temukan bahan pelajaran? Meskipun beliau tidak mengungkapkan kepada kita tentang apa yang beliau alami, secara langsung. Namun, belum mampukah kita membaca pesan yang beliau sampaikan dari sorot mata yang mulai berkaca-kaca itu? Wahai… begitu dekatnya jalan kebaikan untuk kita tempuhi. Lalu, setelah kita dekat padanya, mengapa kita kembali menarik langkah?

Tidak banyak pesan yang dapat kita temukan dalam melangkah, kalau kita tidak jeli dalam menatap. Karena pesan-pesan tersirat yang sarat makna, senantiasa ada dan bertebaran di sekeliling kita. Kemauan. Yach, ini kembali lagi kepada kemauan. Sejauhmana kita mau untuk memberikan perhatian pada sesiapapun yang kita temui, meskipun itu untuk pertama kalinya. Bahkan, kita belum mengenal sama sekali, siapakah beliau yang sedang kita jumpai. Tersenyum dengan wajah yang menyiratkan kepedulian, adalah salah satu jalan untuk membuka pembicaraan, “Ibu, ada yang bisa saya bantu?” Sebuah kalimat yang mengalir melalui bibir kita, akan menebarkan aura berbeda pada wajah beliau di sana. Namun, ketika semua itu tiada, adalah kepedulian kita masih perlu dipertanyakan.

“Kemana perginya hati yang selama ini kita bawa?” Saat ia perlu menjalankan fungsinya dalam melanjutkan langkah, tiba-tiba saja ia menjadi kelu tak bisa bicara. Ia diam, ia terdiam. Begitu dalamkah keseriusannya dalam melangkah? Sehingga ia belum lagi mau menggerakkan pandangan meski untuk beberapa lama? Ia ingin segera sampai ke tujuan, ‘bahagia’. Sedangkan tumpangan sedang menanti di hadapan. Ia perlu berangkat, ini maunya. Ia bergerak, dengan meninggalkan jejak-jejak pesan untuk sang Ibu. Sendukah beliau dalam sendiri? Sedangkan kita pun pergi.

Hati baru berkata, setelah supir melanjutkan menyetir. Ingin kembali, untuk bertemu sang Ibu, tidak mungkin lagi. Karena beliau telah jauh berjalan. Ai! Ingatan pada kejadian pada suatu hari yang telah berlalu itu, mengusik  pikiranku sampai saat ini. Akan tetapi, tidak ada artinya menyesali. Menjadikannya sebagai bahan pelajaran, adalah jalan untuk berbuat baik, segera. Ketika kapan saja kita menemukan jalan untuk menempuhnya, maka kita tidak perlu berpikir panjang lagi. Untuk menjadi baik, membutuhkan kepedulian dari dalam hati.

Tidak ada seorang yang baik dengan tiba-tiba, tanpa ia pernah berbuat baik sebelumnya. So, dengan kebiasaannya untuk berbuat baik, maka terkenallah ia sebagai seorang yang baik. Kita, yang baru berjumpa dengan sesiapapun itu, ternyata mempunyai kesan pertama saat pertemuan dengan beliau. Bahwa beliau adalah seorang yang baik. Padahal, kita baru berjumpa, belum pernah berkenalan sebelumnya. Jangankan untuk bertemu dalam tatap mata, mengenal tentang ia saja, kita belum pernah. Namun saat kesempatan untuk berkenalan itu datang, serta merta kita menitipkan sekepinghati pada beliau pula. Tolong, jaga sebagian hati kami. Karena kami yakin, engkau adalah seorang yang baik, maka lekatlah ia dalam ingatan kita sebagai seorang yang baik.

Orang yang baik, kebaikannya akan terlihat jelas meski tersirat. Walaupun hanya dari suara yang mengalir, meskipun dari rangkaian kata yang beliau susun. Semua menjadi jalan bagi kita untuk memberikan perhatian penuh, pada kebaikannya. Lama kelamaan, kebaikan yang ia alirkan tersebut, membuat kita begitu mudah untuk mengingatnya. Ya, saat jalan-jalan menuju kebaikan sedang terbentang di hadapan, untuk kita tempuhi.  Ingatan akan kebaikannya yang seringkali hadir,  membuat kita segera bercermin darinya.  Lalu, kitapun berbuat baik.  Yang kita lihat hanya yang baik-baik saja. Sebagaimana kebaikan yang ia perlihatkan kepada kita, saat pertama kali berjumpa. Berjumpa dalam nada suara yang mengalir, berjumpa dalam pertemuan huruf-huruf yang terangkai. Berjumpa untuk selanjutnya, mengabadikannya sebagai sahabat kita.

Sahabat, adalah cerminan diri kita yang sesungguhnya. Lalu, siapakah sahabat baikmu, teman? Beliau-beliau yang pernah engkau kenal akan kebaikannya, dan engkau mengukir namanya sebagai sahabatmu yang baik. Sungguh, keberuntungan yang patut kita syukuri, saat kebaikan demi kebaikan senantiasa sahabat alirkan. Kebaikan yang menjadi jalan bagi kita untuk berbuat baik pula.

Rangkaian kalimat yang mengalir dari nada suara Ustadz Yusuf Mansyur yang sedari pagi tadi mengalun lembut dari VLC media player, sampai saat ini masih terngiang. Temanya, sedekah. Meskipun kini,  nada-nada sudah berganti dengan lantunan lainnya yang berbeda, namun inti pesan yang beliau telah sampaikan masih jelas,  adanya. Walaupun tidak tersurat dalam kalimat, namun tersurat di dalam hati ini. Teruntuk para ulama yang menjadi jalan sampaikan ilmu pada orang-orang awam seperti saya, semoga pahala dari amalan beliau mengalir deras hingga ke akhir masa. Ketika saat-saat memetik buah kebaikan yang beliau teladankan telah tiba, beliau dapat menikmatinya dengan senyuman yang  menebar indah. Ya, beliau berbahagia karena beliau berbuat baik. Walaupun kebaikan itu telah lama beliau lakukan, namun rekaman jejak-jejak suara jiwa yang menyentuh bagi sesiapa saja yang mendengarkannya, turut serta mendoakan beliau.  Salaam selalu buat beliau-beliau yang memilih untuk menjadi jalan sampaikan kebaikan-Nya…

Kebaikanmu tidak akan pernah pudar tertelan masa. Benderang sinar ilmu yang engkau tebarkan ke seluruh penjuru alam, menjadi jalan untuk menerangi kehidupan. Bagaikan mentari yang terbit setiap pagi, semoga kita dapat mengingati beliau-beliau semua dalam masa yang sama. Wahai, mentari yang bersinar, teruslah menghadirkan kehangatan pada jiwa-jiwa yang dingin membeku. Agar ia dapat merasakan, betapa indahnya menjalani hari bersamamu.

Mentari, ia yang bersinar setiap hari, mempunyai kekuatan yang membuatnya dapat bersinar. Ya, mentari tidak bersinar sendiri. Ia juga bukan merupakan sumber sinar yang mutlak. Ada sinar paling benderang dari teriknya yang mampu menembus hingga ke sudut-sudut alam. Sinari hatimu, maka dari sana kemilau yang paling benderang itu berasal. Kenali hatimu, maka dari sana engkau dapat menemukan pemilik sinar yang sesungguhnya. Apakah kita masih ingat tentang kekayaan yang sesungguhnya, teman?

Bukanlah melimpahnya materi yang kita punyai, menjadi bukti bahwa kita adalah seorang yang kaya. Namun kekayaan hati, tiada yang dapat menandingi. Engkau adalah seorang yang kaya, kalau engkau mau berbagi. Sedangkan kemauan untuk berbagi, hadirnya dari dalam hati. Lalu, apa bedanya hati dengan jiwa, yaa…? Ketika salah seorang guru yang saya kenal di dunia maya ini semenjak beberapa tahun yang lalu, pernah merangkai kalimat begini:

“Jika jiwa saja tak kau punya, kau hendak berbagi kepada dunia dengan apa?” (Fachmy Casofa)

Kalimat yang beliau tulis, seringkali teringat oleh saya, setiapkali akan menulis.  Beliau adalah guru saya dalam menulis. Beruntung dapat mengenal beliau sebagai bagian dari orang-orang yang baik.  Kebaikan itu terbaca jelas dari baris-baris kalimat yang tercipta.  Pesan yang tersirat di dalamnya, menjadi jalan bagi kita, untuk melakukan aktivitas dengan penjiwaan penuh.

Untuk melanjutkan langkah-langkah dalam merangkai kisah kehidupan, saya menulis.  Di sela-sela waktu mencari ilmu, selepas beraktivitas, saya menulis. Saya menulis atas dasar rasa-rasa dan pikir-pikir yang hadir.  Saya menulis, untuk menitipkan beraneka pesan, kesan, dan kenangan tentang apa saja. Temanya bebasss.  Ah… namanya cur-hat, kali yaa…😀

Mengenal, berkenalan dengan orang-orang yang baik, tentu kita senang alang kepalang. Lalu, saat jalan-jalan kebaikan sedang membentang di hadapan mata, dapatkan kita dengan senang hati menempuhnya pula? Apakah kita perlu mikir-mikir lagi untuk menempuhnya segera? Hati, kembali lagi kepada hati yang sedang kita bawa. Kalau guru saya bilang, “Punya Jiwa.”

Begitu pula dengan beraneka aktivitas yang telah, sedang dan akan kita lakukan. Apakah kita membawa sang jiwa segera, dalam menjalankannya? Kalau kita belum lagi mau menyapanya, kemudian mengajaknya serta dalam kebaikan, maka kita belum akan dapat berbuat baik. Yach, ini saja cara mudahnya, untuk kembali mengingatkan diri, setiapkali jalan-jalan kebaikan itu kita temui. Akan meneruskan langkahkah? Atau kita perlu meyakinkan lagi, tentang kehadiran hati.

Kemudian, pada kesempatan yang lainnya, ada lagi seorang Ibu-ibu yang saya temui ketika sedang menanti angkutan umum di pinggir jalan. Beliau yang awalnya sedang berdiri di samping kiri saya, akhirnya mendekat. Beliau berbisik, “Neng, kira-kira di sekitar daerah sini, ada yang bisa memberikan pinjaman engga ya? Kemarin Ibu ke salah satu bank, untuk mengajukan pinjaman. Ibu membawa sertifikat sebagai jaminan. Ibu butuh uang lima  puluh ribu untuk bayaran buku anak di sekolah. Namun, pihak bank malah bilang, kalau untuk mengajukan pinjaman, mesti lebih dari sepuluh juta.”

Saya belum sempat menanya, sebelumnya beliau mengajukan pinjaman dana ke bank yang mana.

“…. mmm… oo00000….,” bagaimana cara untuk menuliskan ekspresi melongo yang sempat saya  perlihatkan setelah  mendengar kalimat-kalimat yang beliau rangkai, yaa. Seraya membuka mata lebih lebar, dengan mulut yang ikut membuka, saya menatap beliau yang sedari tadi baru sempat saya senyumi.

“Iya, Neng, padahal Ibu sangat butuh hari ini,” dengan ekspresi yang mengibakan, mata beliau mulai berkaca-kaca. Saya segera teringat Ibunda yang saat ini jauh di mata. Ibunda dulu, bersusah payah menemukan biaya, agar kami dapat meneruskan pendidikan. Meskipun hingga sekolah lanjutan atas, Ibunda dan Ayah perlu banting tulang mencurah keringat setiap hari.  Ekspresi yang Ibu-ibu tadi tunjukkan, secepat kilat, mengenangkan saya pada masa-masa sekolah. Ketika Ibunda pulang ke rumah, dengan wajah yang sumringah. Ai! Sangat jarang saya melihat wajah Ibunda yang tidak cerah. Begituuu… terus. Setiapkali berjumpa dengan kami, Ibunda tersenyum. Entah bagaimana perjuangan yang sedang beliau jalani ketika kami sedang belajar di sekolah. Seorang Ibu, memang mengesankan.

Tidak berapa lama kemudian, angkutan umum yang kami tunggu pun, datang. Kebetulan kami satu arah dan tujuan. Namun, sebelumnya beliau bilang akan turun lebih dahulu. Sedangkan saya, agak lebih jauhan.

Ketika Ibu berkisah tentang kebutuhan beliau, saya belum mampu memberikan jawaban. Untuk memberikan solusi? Seingat saya, hanya ada lembaran duaribuan, sebagai lembaran tergede angkanya yang sedang ada di dalam tas. Selain recehan lainnya yang seribu dan lima ratusan.

What should I do?,” pikirku berjuang untuk menemukan solusi. Saya tidak ingat sama sekali dengan sepuluhribuan yang ternyata saya bawa. Ingatan baru hadir, setelah beliau turun dari angkot, terlebih dahulu.

Saat ingatan datang, saya pun bergumam pada itu uang, “Engkau seharusnya sudah berpindah tangan.”

:)  < —————————————————————————— > 🙂

Chocolatebutterfly Note

Semoga engkau dapat memetik pesan tersirat dari catatan atas pengalamanku ini teman. Karena selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Dengan belajar dari pengalaman orang lain, kita dapat mengetahui bahwa yang salah itu adalah salah, dengan tidak mesti berbuat salah. Kita juga dapat mengetahui bahwa yang benar itu adalah benar, namun maukah kita menjalankan kebaikan untuk menegakkan kebenaran?

:)  < —————————————————————————- > 🙂

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s