A Note, Today Week


Any day

Any day

Ada apa yang akan terjadi tujuh hari lagi? Satu hari yang akan sangat mengesankan sepanjang perjalanan kehidupanku. Tepatnya, hari Senin berikutnya. Yes! Tidak sabar rasanya, menjelang hari itu. Hari yang mensenyumkanku, semoga engkau juga, teman. Tentang apakah itu?

Tiada tanya yang tidak ada jawabannya. Hanya, kita tidak perlu bertanya-tanya kalau kita memang tidak tahu apakah bunyi rangkaian tanya yang sedang tercipta. Lebih baik senyumi ia ketika datang, karena semua ada hikmahnya.

Sudah setengah semester kiranya, kita menempuh masa pendidikan yang selanjutnya. Hingga sampailah pada ujian tengah semester hari ini. Tadi sore hingga awal malam menjelang, ujianpun telah berlangsung dengan lancar. Alhamdulillah… Ada kemudahan dan perasaan ringan saat menjalaninya. Ada aura yang menenangkan dari sekeliling, saat mengurai jawaban demi jawaban dari soal yang berjumlah meski hanya tiga.  Menyusun dua buah laporan keuangan beserta analisisnya serta sebuah soal yang berisi uraian, adalah tema ujian hari ini. Ada peran serta beliau semua di sana, yang kita pintakan dalam bait-bait kata yang berujar, mengucapkan permintaan, “Tolong doakan yaa, semoga lancar dalam prosesnya.”

Untuk beragam aktivitas yang sedang kita jalankan, kita tidak sedang menaklukkannya sendirian. Pasti ada peran dan serta sesiapapun di sana, yang tanpa kita sadari, sedang memberikan kontribusi. Hal ini terasa sekali, bagi saya. Yach, sebagai pengalaman pribadi. Adalah baiknya kita saling berbagi, tentang hal ini. Tentang apa ya, teman?

Di manapun kita berada, baik saat jauh dari keluarga ataupun sedang berada dalam rengkuhan tatap beliau setiap harinya, yakinlah bahwa beliau senantiasa mengharapkan yang terbaik untuk kita. Ada Ayah dan Ibunda yang tiada henti mendoakan keselamatan kita dari waktu ke waktu. Ada kakak serta adik yang menguraikan ingatan untuk keberhasilan kita sepanjang masa. Ya, meskipun saat ini kita berjauhan raga, namun bagaimana tentang rasa  yang sedang bercakap mesra? Berulangkali kita menguraikan pinta pada beliau di sana, baik dalam ucapan lisan maupun masih dalam ingatan. Semuanya sampai tanpa pernah terhalang oleh apapun juga. Ya, kedekatan yang sedang kita bangun bersama ingatan, akan membuahkan kehendak untuk saling mendoakan.  Besi-besi sedang berangkulan. Mereka saling menguatkan. Ada tinta yang kemudian mengeras, melekatkan besi yang satu dengan yang lainnya. Mereka sedang mendirikan bangunan yang sangat kokoh.

Sesiang hari tadi, saya mendapatkan panggilan tidak terjawab dari sebuah nomor sebanyak lima kali. Ai!  “Siapakah ini yang menelepon siang-siang begini?,” tanya hati segera, setelah menyaksikan angka yang terpajang pada kotak panggilan tak terjawab. Nomor yang sama berulang sebanyak lima kali. Nomor ini saya kenal, rasanya. Nomor ini berakhiran angka … 23816. Seberapa seringkah kami berkomunikasi?  Sehingga kehadiran nomor tersebut yang tanpa nama, membuat saya ingin mengirimkan sebuah pesan singkat, untuk merespon panggilan yang belum terjawab tersebut. Karena untuk melakukan panggilan balik, kiranya ini nomor tanpa nama. Siapakah di sana? Masih tersisa tanya yang kembali menanya. “Ya, lebih baik kita mengirimkan pesan saja, sepertinya ini sangat penting,” bisik pikiran yang sedang mencari jawaban. Namun ia masih saja kelimpungan, tidak tahu lagi mau mencari ke mana. Ia sedang berkeliling ketika akhirnya pesan terkirim,  “Iya, ada yang bisa Yn bantu?.”

Pesan terkirim setelah satu jam semenjak panggilan tadi bertengger di kotak panggilan tidak terjawab. Karena memang, dalam jeda waktu tersebut, saya tidak membawa si eighpy untuk rehat siang bersama. Ia sedang mengisi energi, di atas meja. Ia makan siang sendirian.

Dengan harapan memperoleh balasan dari nomor yang tadi melakukan panggilan, saya pun melanjutkan aktivitas. Asyik menggerakkan jemari di atas keyboard yang berwarna hitam, adalah aktivitas yang saya lakukan. Sesekali, melirikkan pandangan ke pengirim pesan, yang sedang diam. Hape memang dalam kondisi silent, ketika saya beraktivitas. Selama ini, memang begitu. Apakah sudah ada yang memberikan balasan? Tidak beberapa lama kemudian, bukan pesan yang saya terima. Namun, suara nyaring yang cerah ceria menyampaikan sapa dengan gembira, setelah saya menekan tombol terima panggilan. Aku kenal dengan beliau.

“ . . . . . Onnnnnaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……… what happen?,” ekspresi terharu, kaget, plus senang segera mengalir ke seluruh tubuh. Ingatan yang sedari tadi sedang melihat-lihat sekitaran, segera mendekat. Jiwa merapat. Dan indera pendengaran segera memberikan pendapat.

“Nomor ini kan kita kenal,” begini katanya.  Setelah saya kembali melayangkan pandangan pada layar yang sedang berkedipan. Ia bersinar.

Akhirnya, kami tertawa bersama, setelah menyadari, bahwa ternyata nomor tersebut adalah kepunyaan keluarga di rumah. Biasanya atas nama amak. Namun, tadi siang, Onna yang menyapa dari sana.

“Amak, maa Na? Ado aa…?,” tanya beruntun tak henti ku sampaikan.

“Lha, kok bisa ya, menjadi tanpa nama begini, Na…?” tanya berikutnya mengalir pada Onna, kakak perempuanku yang saat ini ada di sana, pulau Sumatera.

“Wah! . . . Hahahaa…,” masih tersisa tawa renyah dari nada suara beliau saat itu.

“Mungkin nomornya kesimpen dua kali, jadinya saat ada panggilan, berbentuk nomor, tidak lagi nama,” Onna menjelaskan dengan penuh pengertian. Ya, beliau memahami akan hal ini.

Saya masih belum segera mengecek nomor, “Hhohooooo… bisa jadi, memang begitu.”

“Ada kabar apa Onna, tiba-tiba nelpon siang-siang begini, tidak biasanya?,” tanya kembali mengalir seiring terdengarnya keriuhan di seberang sana. Sangat jelas. Semua keluarga yang saat ini ternyata lagi berkumpul, pada menyangsikan apa yang sedang saya alami.

Begini menjadi lebih baik, kiranya. Ada kejadian tidak terduga yang membuat kita bertanya, kemudian menggerakkan pikiran untuk menemukan jawabannya. Itulah dunia, ia penuh dengan warna dan warni. Selama bersamanya, kita dapat belajar banyak hal. Termasuk satu nomor asing yang menurut kita adalah orang yang tidak dikenal, ternyata keluarga sendiri.

Terkadang, memang begini, teman. Kita tidak dapat memungkiri akan hal ini. Pernahkah engkau mengalami hal yang senada, teman. Saat engkau begitu tidak mudah untuk mengenali, apapun itu yang selama ini ternyata telah membersamaimu semenjak lama. Karena benar-benar tidak ingatkah? Atau karena belum connect saja. Ya, karena pikiran kita belum terkoneksi lagi dengan apapun yang sebenarnya telah berada dalam kehidupan kita. Inilah salah satu warna dunia. Ia ada untuk memberikan kita satu bahan pelajaran untuk kita pahami. Dapatkah kita menemukan hikmah bersamanya? Ataukah kita malah menjadikannya sebagai suatu yang biasa saja. Sangat jarang ini terjadi. Namun sekali kejadian, ia akan selalu ada dalam ingatan. Ia pun menjadi jalan yang membentuk sebuah catatan, tentang hari ini.

Hari ini, telah berlalu. Hari ini yang tersisa beberapa jam lagi, akan menjadi masa lalu. Ya, kita akan bertemu dengan hari esok ketika kita memanggilnya pada hari ini. Sedangkan kalau esok benar-benar kita jalani,  maka ia akan mewujud hari ini. Kita hanya ada pada hari ini. Lalu, apakah yang sedang kita lakukan bersama hari ini? Apakah kita meninggalkannya tanpa sebaris kenangan untuk kita kenang? Ataukah kita menitipkan kenangan tersebut hanya di dalam ingatan? Bukankah kita adalah seorang insan? Insan yang seringkali tenggelam dalam sungai kealpaan? Begitu yakinnya kita akan ingatan yang berkepanjangan, yaa. Kalaulah kita tidak menitipkannya dalam bahasa tulisan ataupun rekaman, maka ia akan tertelan oleh zaman.  Tidak perlu waktu yang lebih lama lagi. Dalam waktu semalam saja, ia akan segera terbang dari pulau ingatan. Karena, kita akan mempunyai ingatan yang lain setelahnya. Ingatan yang kita pakai untuk menitipkan pesan, kesan dan berbagai keadaan yang kita jalani pada masa yang tentu saja, bukan sekarang lagi. Masa itu adalah hari ini, namun bukan hari ini yang telah berlalu. Hari ini pada saat itu adalah hari yang belum kita jalani pada saat ini. Sedangkan ia sedang menyiapkan diri untuk kita tempuhi. Kita menamainya dengan esok.

Setelah beberapa lama bercakap, bertukar kabar dan berita terbaru, akhirnya pembicaraan saya dan keluarga di sana, berhenti dulu. Berat untuk berpisah, meski pertemuan baru sebatas suara yang mengalir. Berat untuk memutuskan hubungan, walaupun ada suara yang mengatakan, ini tidak akan lama. Berat rasanya, untuk menerima keadaan, namun kalau saat ini yang sedang kita jalani adalah yang terbaik, why not?

Senyatanya kita sedang berdekatan, kalau kita saling mengingat satu sama lain. Sebenarnya kita sedang bercanda dan bercakap kalau kita dapat mengenang bagaimana pertautan rasa yang sedang kita bangun. Begitu berartinya kehidupan yang sedang kita jalani, dengan adanya keinginan untuk saling membaiki. Walaupun tanpa tatap mata yang saling bertukar pandang. Meskipun hanya barisan kalimat yang sedang kita barter.  Onna ternyata mengajukan satu permintaan, agar saya  menuliskan beberapa buah kalimat pada beliau.

“Baiklah Onna, segera Yn kirimkan. Tunggu, yaa…” begini kalimat yang akhirnya tercipta kemudian. Setelah itu, beberapa buah kalimatpun terangkai untuk beliau di sana. Semoga, sampai ya, Onna. Dan sesiapapun yang membutuhkannya, dapat mengenali bait-bait kalimat tersebut.

“Selamat menyambut kiriman. Selamat menerima hadiah sebagai kenang-kenangan.”  Bait-bait kalimat yang tidak terucapkan, hanya mengalir dalam pikiran. Hingga akhirnya, ia sampai pula ke sini, teman. Engkau yang membacanya, ternyata. Padahal, kalimat-kalimat ini saya peruntukkan buat Onna di sana.  Ai! Rezeki memang tidak akan lari ke mana, yaa. Selagi kita berusaha untuk meraihnya, maka ia akan berada dalam genggaman kita. Engkau yang sedari tadi melangkah dan melangkah hingga sampai pula ke sini, menerima pula semacam menu yang terhidang pada malam hari. Ai! Ini adalah pesan tentang perjalanan selama hari ini.

Waktu terus bergerak maju, melaju. Hingga akhirnya sore pun menjelang. Untuk selanjutnya, selepas beraktivitas saya pun melangkahkan kaki-kaki ini menuju Sangga Buana. Tempat berikutnya yang perlu saya singgahi. Biasanya, untuk menggali ilmu dan pengalaman. Namun, pada Senin hari ini, kami ada jadwal ujian. Ujian Tengah Semester. Memang, waktu yang hanya beberapa bulan, menjadi tidak terasa.  Tiba-tiba sudah ujian saja. Semoga hasilnya mensenyumkan, aamiin.

Dan inilah yang akan kita saksikan pada ‘A note, today week’.  Pada pertemuan pertama setelah ujian, tentu saja akan ada pengumuman nilai. Akan ada hasil yang akan kita peroleh. Akan ada buah perjuangan yang akan kita terima. Akan ada beraneka rasa yang hadir. Akan .. akan .. akankah kita masih ada pada hari itu, teman? Untuk menyaksikan semua.

Tentang usia yang sedang berada dalam kuasa-Nya, kita tidak mempunyai peran atasnya. Hanya saja, kita perlu mendayakan upaya yang sebaik-baiknya dalam menempuh waktu demi waktu. Akankah kematian menjelang, sebelum kita bertemu lagi dengan teman-teman yang tadi kita tinggalkan? Dapatkah kita menyaksikan hasil dari jawaban yang kita uraikan saat mengikuti ujian? Bagaimana kalau kita tidak dapat lagi saling bersapaan pada masa yang kemudian, teman… Tolong, maafkan segala kesan dan tindakan yang berlebihan. Apabila ia berbuat diluar keharusan, berbaik hatilah untuk memberinya kesempatan saat ini, untuk meluruhkan semua dalam bait-bait tulisan. Apabila ia merasa telah berbuat kebaikan? Wahai, adakah itu dalam rangkaian keikhlasan? Bukankah kita yang paling tahu, maksud dari apa yang kita lakukan? Sedangkan beliau-beliau yang menyaksikan, dapat memberikan pujian apabila itu beliau kenal sebagai kebaikan. Sedangkan hal yang sebaliknya, akan  hadir tanpa kita pernah tahu. Apakah beliau-beliau menyampaikannya kepada kita, ataukah dibelakang kita yang tidak mendengarkan?

Adalah baik kiranya, kalau ada yang kurang berkenan, kita langsung menyampaikan pada yang bersangkutan. Agar ia menyadari tentang apa yang telah ia lakukan. Bukan malah memberikan kabar pada yang tidak berkepentingan. Kalaulah untuk menitipkan pesan, ada baiknya pada orang yang dapat menyampaikan. Sehingga sang pesan tidak menggantung di dalam peradaban. Agar ia tidak usang di makan usia. Bukankah kita tidak pernah tahu, tentang jatah waktu si penerima pesan? Masih dapatkah ia menerima pesan yang kita sampaikan, segera? Ataukah nanti saja di hari kebangkitan, kita saling bertegur sapa? Namun, yakinkah kita akan jumpa pula di sana? Sedangkan kita belum tahu akan segala amal kebaikan yang kita upaya. Apakah sama dengan beliau? Ataukah kita malah tidak sebanding?

Kita, sedang melakukan apa saja, saat ini, teman?

Apa yang kita lakukan saat ini menjadi cerminan tentang diri kita setelahnya. Karena, saat hari ini telah berlalu, maka kita hanya dapat memandanginya kemudian. Berlama-lama menatapnya tanpa melakukan suatu perbuatan, hanya menyisakan kesan yang tidak bermakna apa-apa. Sedangkan melakukan apa yang dapat kita dayakan, segera, adalah salah satu jalan untuk merangkai harapan. Seperti halnya sebuah bangunan yang sedang berada dalam masa pembangunannya, begitulah upaya yang kita lakukan. Meskipun kita masih berada pada bagian dasar bangunan yang tanpa dinding. Namun, kalau kita berupaya untuk menatanya terus menerus, maka kita dapat menyaksikan bagaimana hasil dari rancangan yang telah kita persiapkan.

“Itu akan dijadikan sebuah hotel,” begini Teh Mey memberikan tanggapan, ketika saya bertanya pada beliau, seraya melayangkan pandangan pada bangunan yang sedang dalam proses. Saya sempatkan beberapa waktu untuk menatap itu bangunan, lalu mengabadikannya.  Dalam perjalanan menuju Sangga Buana tadi sore, lama saya duduk di depan sebuah bangunan yang berseberangan dengannya. Ya, bangunan tersebut berada tidak jauh dari gedung  Sangga Buana yang akan saya datangi. Lalu, terbersit tanya dalam pikiran, “Akankah saya masih berada di kota ini, ketika nanti bangunan itu benar-benar sudah jadi? Sebuah hotel. Atau bangunan dengan nama yang lain?”

“Nama hotelnya, apa ya, Teh Mey?,” kembali saya mengajukan tanya pada salah seorang sahabat yang menjadi teman dalam melanjutkan langkah.

“Belum tahu aku juga,” jawab beliau singkat. Sebelum akhirnya, kami berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing.

Baiklah Teh Mey. Pada masanya nanti pun, kita sama-sama tahu. Semoga kita masih berada di kota ini, yaa… Agar kita dapat pula mengunjunginya untuk berehat beberapa masa, di sana. Ai!

Bangunan berlantai lebih dari lima ini, berlokasi sangat dekat dengan Jl. PHH. Mustofa,  Suci – Bandung.  Ada kisah tentangmu, ketika engkau belum benar-benar sempurna. Saat nanti engkau terlihat gagah, rupawan, megah dan mewah, semoga kembali terangkai kisah yang lebih menawan tentangmu, teman. Meskipun today week note, bukan tentangmu.

🙂😀🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s