Panas Vs Dingin


Fire ; Ice

Fire ; Ice

Membara dan mendidihkah? Meleleh dan mencairkah? Membiru atau menyalakah? Menetes dan mengalir atau cerah dan bersinarkah? Selalu ada dua pilihan yang dapat kita tentukan dalam menjalani kehidupan.

Ya, seperti dua warna yang saat ini sedang memperagakan pesonanya, dapat kita perhatikan pada picture di atas. Ambivalence by Betelgeux. Siapakah beliau yang mencipta tampilan tersebut? Dua warna yang menyelingi dengan warna hitam yang dominan, menjadi dasarnya. Hingga keberadaan dua warna yang berbeda tersebut, terlihat begitu mencolok di mataku. Aku suka. Aku jatuh cinta padanya saat pandangan pertama terjadi. Ai! Romantis bersamanya. Suasana yang saya alami saat bertemu untuk pertama kali dengannya, adalah seperti berada di bawah gerimis. Gerimis yang semenjak pagi tadi, belum henti-hentinya turun ke bumi, membuatku ingin berlama-lama berada di bawah tetesannya. Haru hatiku, menetes airmata ke dalam. Mengumpul ia di dalam kedua telaga bening ini. Hingga tidak ada basah-basah di pipi, dalam episode menangis saat ini. Tangisan yang begitu berkesan, ia meninggalkan kenangan.

Aku memandang picture tersebut sungguh lama, menatapnya, memperhatikannya, memahaminya, menelusuri setiap sudut keberadaan dirinya. Titik-titik kecil yang membentuk persegi panjang dalam posisi berdiri, sungguh rapi. Dua lingkaran dengan warna yang tidak sama, sangat menakjubkan. Ia memang sempurna.  Lingkaran yang berisi, sebentuk gelembung cahaya. Ia sedang menempa tatapan mata ini, untuk segera menyelaminya. Ya, seperti bola api yang sedang membakar dirinya. Inilah pemandangan yang berada di sekitar lingkaran yang pertama. Perhatikanlah teman, lingkaran yang berwarna orange itu. Ada gejolak nyala yang sedang bergerak, meliuk ke arah atas. Yach, beberapa lembar garis yang berbentuk spiral, melambangkan api yang sedang membakar. Ai! Sungguh, aku ingin terus-terusan memandangnya. Mengamati keberadaannya, membenamkan kedua bola mata ini hingga ke setiap sudut keberadaannya. Ditambah lagi dengan titik-titik kecil yang ada di sekitarnya. Baik pada bagian atas maupun bawahnya.

Coba engkau perhatikan lebih saksama lagi, teman. Ternyata kecil-kecil wujudnya yang tadi kita anggap titik, bukanlah demikian adanya. Karena, ia adalah bintang-bintang yang bersinar. Bintang-bintang tersebut bertebaran dengan rapi. Ia hanya berada pada tempat-tempat tertentu saja. Sungguh hasil kreasi yang membuatku ingin menjadikannya sebagai sebuah view kenangan. Agar ia  kembali dapat saya pandangi pada kesempatan yang lain, maka saya memindahkannya ke sini.  Gambar tersebut saya temukan pada sebuah folder di dalam arsip. Ia menarik. Ia memesankan, ia mengesankan. Ia beraikan bahan pelajaran, melalui tampilan yang ia pamerkan.

Ketika kita melayangkan pandangan ke bagian paling kiri, sebelah bawah, maka kita dapat menyaksikan lembaran bunga api. Ia sedang tidak bergerak saat ini, namun terkesan sedang menyala. Api tersebut seakan membakar lingkaran yang berbentuk elips, lalu meruntuhkannya perlahan-lahan. Hingga tetesan tersebut berkumpul di dasar lantai. Ya, kita sebut tempat berhentinya reruntuhan bunga api tersebut dengan lantai saja yaa. Hehee.

Meskipun tetes-tetes bunga api telah berada di lantai, namun ia tidak menghilang. Wujudnya masih ada. Iapun berjumpa dengan sesamanya. Kemudian, membentuk kumpulan yang akan berubah menjadi api yang dapat menyala lebih terang. Itulah pemandangan yang sedang saya perhatikan saat ini. Saya sangat asyik dengannya.

Sekarang, mari kita beralih ke picture  yang berwarna biru, yuukks teman. Mari kita perhatikan pula ia dengan saksama. Ada apa dengannya? Pesan apakah yang dapat kita temukan dari warna yang menyejukkan pandangan ini? Ya, warna biru adalah warna yang berbeda dengan warna orange.  Karena biru adalah biru dan begitu pula dengan orange. Mereka adalah warna-warna yang menarik, cantik, dan unik, seperti pernak-pernik berupa manik yang berkemilau. Menatap warna biru lebih lama, akan menyejukkan mata ini. Berbeda dengan warna orange yang identik dengan semangatnya, maka warna biru membawa kedamaian. Tenang, kalem dan bersahaja, inilah kesan atas warna yang satu ini. Namun, apa yang akan terjadi, kalau kedua warna ini berada berdekatan? Ya, seperti saat ini, mereka berdua sedang berdampingan.

Yang terjadi adalah…. hadirnya sebuah catatan pada hari ini. Xixii..iiii, 😀  Mari  menjejak aspirasi, bersamanya. Inspirasi itu memang tiada bertepi, teman. Dari manapun, kita dapat menemukan bahan pelajaran. Dari apapun saja, kita dapat memperoleh rangkaian kata untuk kita curahkan dalam bentuk tulisan. So, begitu mudahkan? Untuk mengurai kalimat menjadi catatan. Yes! Tulisan adalah kumpulan dari hasil pemikiran. Saat kita berpikir tentang sesuatu hal, maka ia akan mengabadi kalau kita menyampaikannya dalam bentuk tulisan. Bagaimana kita dapat memberikan perhatian pada hal-hal yang kecil sekalipun, kalau kita belum memfokuskan pikiran padanya?

Teman, bukankah dari hal-hal kecil sesuatu yang besar dapat tercipta? Ingatkah kita dengan sebuah gunung yang sedang menjulang dengan gagahnya? Ingatkah kita akan bahan-bahan yang sedang membangunnya? Bagaimana kita dapat mengenali apa itu puncak gunung, kalau kita tidak mengenal dari bahan apa sang gunung terbentuk. Yes, engkau betul, teman. Bebatuan yang saling mendukung satu sama lainnya adalah jawabannya. Dengan segala kerendahatiannya, bebatuan yang paling bawah bersedia untuk menahan batu-batu yang ada di atasnya. Ia rela berkorban, ia mau memberikan bantuan. Ia sungguh berkepribadian. Adabnya yang memegang keteguhan, terus begitu selamanya. Ia yang dengan penuh keyakinan, mengatakan bahwa walaupun keberadaannya di bawah, namun ia senang. Karena tanpa ia yang menyokong, maka bebatuan yang berada di atasnya akan luruh, bergemuruh, lalu bertebaran ke sekitaran. Begitu seterusnya, semakin banyak tumpukan bebatuan yang tersusun di bawahnya, maka semakin kokohlah keberadaan sang gunung yang sedang menjulang. Ia tidak bernama gunung, kalau bebatuan tadi berada di bawah, semuanya. Sedangkan tidak akan bernama gunung, kumpulan bebatuan tersebut, kalau semuanya di atas.

Batu-batu yang melayang?

Yang berada di atas itu, awan namanya. Karena ia ringan. Sedangkan bebatuan yang beratnya tidak seperti awan, akan melekat erat ke permukaan bumi. Apabila kita membawanya ke dalam ranah  kehidupan, maka kita dapat mengambil pelajaran. Bahwa kaum yang status sosialnya berada pada bagian bawah, adalah pemerhati terbaik bagi kelas menengah. Sedangkan kelas menengah adalah pendukung untuk kaum yang status sosialnya lebih tinggi. So, apa yang dapat kita petik dari pembahasan barusan, teman? Tidak lain adalah tentang kemauan untuk saling menguatkan. Saat kita sedang berada di atas, maka ingatlah sesiapapun yang berada di bawah. Karena tanpa beliau kita bukanlah atasan.  Lalu, ingat juga betapa pentingnya bawahan sebagai bagian yang sangat berperan terhadap atasan.

Tidak ada yang perlu kita rendahkan. Walaupun bawahan posisinya memang berada pada level sebagai bawahan, namun ia juga mempunyai perasaan, dan pemikiran. Bukankah dengan pergerakan yang ia upayakan, ia juga dapat mencapai posisi sebagai atasan? Semulanya ia memang berada pada titik terendah. Namun, ketika bawahan berusaha dan terus bergiat ria, tidak menutup kemungkinan, posisinya bahkan melebihi atasan, kelak pada kemudian hari. Ai! Kita tidak dapat memastikan tentang perjalanan takdir. Selagi kita memikirkan kehidupan yang lebih baik, maka kehidupan akan membaiki kita dengan sebaik-baiknya. So, hargailah bawahan kita sebagaimana ia yang sangat menghargai kita, saat ini. Karena kelak, ia akan melakukan hal yang sama. Seorang bawahan, mengambil teladan dari atasannya.

Eitss.. 😀 Gimana kabarnya picture yang berwarna biru, tadi? Lama ia memberikan perhatian pada kita yang menyinggung urusan bebatuan hingga menjelma gunung. Ia simak pula bagaimana kita memberai tentang atasan dan bawahan. Lalu, saatnya kita memberikan perhatian padanya. Biru, ya  si biru.

Mari teman… kita perhatikan bagian atas lingkaran yang berwarna biru. Ada sebentuk lengkungan ada di sana. Banyak yang kecil-kecilnya, namun ada satu yang lebih jelas terlihat. Lengkungan berbentuk sabit, ia menghadap ke bagian luar. Bulan. Ya, saat ini saya teringat dengan bulan, ketika melihat gambar biru yang melengkung tersebut. Apakah yang sedang engkau pikirkan tentang hal ini, teman? Apakah yang akan engkau namai pada bentuk melengkung yang seperti demikian?

Ya, mari kita sebut saja dengan bulan. Bulan adanya pada saat malam. Bulan bercahaya, karena adanya pantulan dari sinar mentari. Bulan. Saat ini belum ada rembulan di sini, teman. Karena gerimis masih berkuasa. Ia menyuara rerintiknya yang meriuh.  Kalau saat ini tidak malam, ingin saya berada di luar sana, untuk membersamai gerimis yang sedang bersuka ria. Ia menyampaikan pesan tentang kesejukan. Berada di bawah gerimis, terkena tetesan air, kemudian kedinginan. Ai! Mari kita bermain di bawah hujan, kapan-kapan lagiiiii…. 😀

 Mariii, kita perhatikan lagi lingkaran biru yang berhiaskan elips di luarnya, yuuks..? Tepat pada bagian kanan sebelah bawah, ada pemandangan yang serupa dengan elips pada luar lingkaran orange.  Walaupun terlihat serupa, namun aslinya ia tidak sama. Saat ini, kita dapat menyaksikan tetesan yang bentuknya oval, jatuh pula ke lantai. Kemudian ia dapat melebar, menebar, ia mencair.  Tetesan berwarna biru tersebut, bukanlah bunga-bunga api yang akan siap membakar, namun ia ada untuk memberikan kedamaian. Ketika tetesan tersebut berkesempatan sampai pada selembar kertas, maka ia membasahi. Kalau ia menitik pada tanah yang sedang kering, maka ia melekatkan. Saat tetesan air itu mengenai tetumbuhan yang sedang melambai, maka ia akan memberikan bekas berupa titik-titik air pada lembaran daunnya. Itulah tampilan yang dapat kita lihat pada warna biru yang menenteramkan.

Ketika kita membawa kedua warna tersebut pada keseharian, maka kita dapat menamai warna orange dengan senyuman dan warna biru menjadi sesenggukan. Kedua warna tersebut, pasti ada dalam kehidupan kita. Dua warna tersebut, menjadi penghias dalam hari-hari yang kita jalani. Apakah saat ini engkau sedang tersenyum, teman? Karena bahagia menyapamu dalam memanfaatkan sisa usia. Maka bersyukurlah atasnya. Tidak ada pilihan lain yang dapat engkau lakukan, selain mensyukurinya. Itulah warna harimu. Ia adalah pelengkap kisah yang sedang engkau perankan. Namun ingatlah, sekejap saja engkau berkedip darinya, yakinkan ia masih ada setelah kedipan itu engkau lakukan. Begini cara termudah untuk memelihara senyuman. Tersenyumlah apabila engkau membutuhkannya, teman. Tidak perlu menunggu waktu. Hanya tersenyum. Maka engkau dapat menikmati betapa indahnya hidup yang sedang engkau jalani bersamanya.

Warna biru, memesankan tentang kesejukan, kedamaian dan ketenteraman. Apakah saat ini engkau lagi sesenggukan, teman? Ai! Semoga engkau dalam kondisi tersenyum. Dalam harapku berkata demikian. Ya, karena bersama nuansa yang biru sampaikan, ada pesan tentang kedamaian. Berdamailah dengan perasaanmu. Kalau memang buliran permata kehidupan sedang lekat di kedua bola matamu, maka berailah ia dengan penuh kesabaran. Sabarlah dalam menemaninya. Niscaya ia akan jatuh berirama. Mengalirnya deras, tidak menyakitkan. Menitiknya pelan, tidak membuai. Ia adalah bagian dari warna kehidupan kita. Birunya hari ini, semoga tidak membirukan tatapanmu akan hari yang pasti. Semoga engkau dapat memberikan perhatian yang lebih dalam lagi, pada hari itu. Hari yang memberikan bukti atas segala suara hati. Hari yang memang kita belum menjalaninya. Karena ia ada pada masa depan.

Teman… Yakinkah engkau tentang hadirnya pagi setelah kelam malam menyelubungi bumi? Bagaimana pula dengan nyala api yang sedang membara di ruang hati? Akankah ia selamanya membakar jiwamu yang satu? Bagaimana kalau kondisinya penuh dengan luka bakar? Kemana engkau akan mencari obatnya, sekira engkau inginkan kesembuhan segera? Sedangkan dokter ataupun perawat, sangat jauh di sana. Bagaimana kita dapat membawanya melangkah, kalau kondisinya sedang mengenaskan? Siapa yang tega memandangnya, kalau wujudnya ada dalam nyata?

Kita tidak dapat menyangkal, akan dua keadaan yang menjadi penghias kehidupan. Kesenangan yang membekaskan senyuman. Serta kepiluan yang menyisakan sesenggukan. Semua adalah pertanda bahwa kedua warna yang baru saja kita saksikan benar-benar ada. Itulah pesan dari kehidupan untuk kita yang sedang melangkah di dalamnya.

Adanya kesenangan yang kita sambut dengan senyuman. Adanya kejadian berikutnya yang berseberangan dan bertolakbelakang. Semoga kita menjadikannya sebagai salah satu langkah untuk menemukan kedamaian.

Ketika orange adalah senyuman, maka biru adalah ketenangan. Bagaimana cara kita dalam memberikan penamaan terhadap kedua warna ini, sangat menentukan bagaimana sikap yang akan kita ambil selanjutnya. Nyalakan senyuman dalam menikmati kesenangan, dinginkan pikiran dalam menjalani ketidaksenangan. Engkau dapat memilih, apa yang semestinya ingin engkau jalani.  Kehidupan ini adalah tentang bagaimana kita memikirkannya. Saat kita memikirkan tentang kebahagiaan, maka kita dapat berbahagia. Saat kita memikirkan kesejukan, maka suasana yang demikian sedang memberi kita kesempatan untuk dapat membersamainya. Meskipun belum kenyataan. Bagaimana jadinya, hari-hari yang akan kita jalani, kalau kita mempersiapkan segala kekuatan dalam menyambutnya?

Masih ingatkah engkau teman… tentang bebatuan yang menyusun hingga terbentuk gunung yang menjulang? Masih ingatkah engkau teman… tentang kisah antara atasan dan bawahan?

Bagaimana bebatuan yang saling membantu dapat mengokohkan berdirinya bangunan? Bisakah kita mengambil pelajaran darinya? Benda mati yang tidak mempunyai pikiran dan perasaan, namun ia berperan untuk memberikan kita pemandangan, berupa gunung yang menjulang tinggi hingga seakan merengkuh awan.

Ingatkah kita teman… ? Tentang atasan yang menghargai bawahannya?  Padahal, atasan levelnya lebih tinggi, sedangkan bawahan memang berada di bawahnya. Namun demikian, bawahan berperan penting atas kesuksesan atasan.

Mari kita merenungkan….

Kalau saat ini kita sebagai atasan. Dapatkah kita membayangkan bagaimana jadinya diri kita, apabila perlakuan yang kita terima dari atasan adalah seperti yang kita lakukan terhadap bawahan kita? Dengan menanyai sikap sebelum memutuskan untuk bertindak, semoga kita segera teringatkan wahai teman. Akan adanya hari perhitungan. Hari yang pada waktu itu, tidak ada lagi perbedaan antara bawahan dan atasan. Mungkin saja, kann..? Kalau bawahan kita adalah yang lebih mulia pada hari pembalasan. Karena ia gemar memaafkan.

🙂 😀 🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s