Menggenggam Harapan Bertemuan


Selamat Berutinitas, Sitiii... sebelumnya, mari kita salaman dekat rerumputan nan menghijau

Selamat Berutinitas, Sitiii... sebelumnya, mari kita salaman dekat rerumputan nan menghijau

Saat kelam mengusik malam, terbuai insan dalam kegelapan. Ia terlelap bersama impian. Terus terang menggemparkan seluruh alam, kala purnama memperlihatkan wujudnya. Yes! Masih ada harapan yang terbungkus dalam temaram.  Meskipun saat ini belum ada purnama, namun ada seberkas cahaya yang menerangi. Ia bernama harapan.

Walaupun kini, engkau berada jauh dari teman-teman, namun ketika ingatan sedang engkau tumbuhkembangkan, maka ia adalah penghalau keresahan. Gelisah sedang menerpa jiwa yang belum mengenal makna perpisahan. Gundah dapat mengusik sesiapa yang belum mau mengerti arti kebersamaan. Cukup dengan menghadirkan ingatan, maka kita sedang berdekatan. Sedepa jarak yang membatasi pertemuan raga, bukanlah berarti sebuah kedekatan, saat ingatan berkeliling ke pelosok dunia. Inilah kehidupan kita, teman. Menemukan pemahaman atas berbagai keadaan, adalah sumber catatan.

Saat ini, saya tidak lagi sendirian. Karena ada yang sedang memfokuskan tatapan, pada diri ini. Tatapan yang membuatku segera mengalihkan pandangan ke pangkuan. Nai, sedang berkunjung ke kediaman kami. Ia datang untuk menengokku yang sedang terpaku. Lama ku menundukkan pandangan, terpana atas apa yang sedang terjadi.  Hening untuk beberapa lama, sedang menguasai keadaan. Sampai akhirnya, ia membuka pembicaraan.

Sebuah salam yang ia sampaikan sebelumnya, menjadi pencair suasana. Salam yang mensenyumkan wajah, mencerahkan perasaan, mengalirkan hasil pikiran, lalu menggerakkan jemari hingga ia menyentuh tuts-tuts ini satu persatu. Jemari ingin mengabadikan tentang kisah perjalanan yang sedang kami alami, saat ini. Berhadapan dengan seorang yang sudah lama ku kenal? Siapakah ia sesungguhnya? Aku masih bertanya dalam penasaran yang kian meninggi. Sampai akhirnya sebuah suara sopran, mengalihkan perhatianku.

“Bun… ada dobel tip?,” suara mewujud tanya itu adalah milik Siti, tetanggaku. Segera aku mengalihkan pandangan pada sumber suara. Kemudian, ku lihat selembar wajah dari balik pintu. Wajah yang sudah sangat ku kenal, jelas.

“Iya, ada Bu… Beberapa waktu yang lalu, masih ada. Coba lihat di meja,” jawabku seraya bangkit dari tempat duduk. Aku menghampiri Siti yang sedang melangkah masuk.

Ya, jelas, terlihat dobel tip sedang melingkar dengan nyamannya di antara benda-benda kecil lainnya. Mereka sedang bercengkerama di atas meja belajar, yang kini menjadi meja rias. Di sana, ada bedak-bedakan, harum-haruman, handbody-handbodyan, pentul-pentulan, bros-brosan, dan masih banyak lagi pernak-pernik perhiasan perempuan. Untuk mengabsennya satu persatu saat ini, bukanlah waktu yang tepat, kiranya. Karena memang begitu adanya.😆

Lalu, dobel tip segera berpindah ke dalam genggaman Siti, beliau memerlukannya. Kemudian, Siti pun pamit untuk melanjutkan aktivitas yang sedang beliau lakukan, entah mengapa.. Ai! Tetanggaku yang satu ini, memang rajin sekali. Ada saja kerjaan yang beliau usahakan. Dan dalam hemat saya, saat ini Siti sedang memperbarui pengumuman dan peraturan untuk dipasang di dinding kamar mandi, dech. Saya yakin sangat. Betul kan Siti? Xixixiii…😀

***

Keesokan harinya, adalah pagi ini…

Terdengar keciprat air dari arah kamar mandi, padahal pagi masih subuh. Ada aktivitas yang sedang berlangsung di kamar mandi, teman… Bukan aku yang ada di sana, bukan pula Nai yang sejak semalam menginap bersamaku. Namun beliau adalah Siti, tetanggaku itu…

“Aku giliran piket kamar mandiiiii,” begini Siti bercakap dengan dirinya sendiri, semalam. Kalimat yang beliau sampaikan kepada herself, bermakna pengingat. Ya, karena memang, setiap kami akan sampai pada giliran untuk berberes. Kapankah itu?

Berhubung kami memakai kamar mandi yang sama, maka perlu untuk menjaga kebersihannya bersama-sama pula. Ada peraturan yang kami setujui bersama, untuk kami laksanakan tepat pada waktunya. Dan diantara semua, yang paling rajin mengolah data piket adalah Siti. Ai! Sungguh! Aku begitu salutnya dengan pribadi yang satu ini. Ketika ada yang belum menjalankan tugas dengan maksimal, maka beliau segera bertindak. Tegas! Inilah kepribadian beliau. So, bergiatlah terhadap kewajiban yang perlu kita laksanakan. Ingat… ingat…😉

“Kapankah jadwalku? Kapan lagi jadwalku? Kapan lagi jadwalku untuk berberes? Kapan lagi jadwalku, setelah saat ini?,” tanya yang perlu segera kita sampaikan kepada diri sendiri, beberapa saat setelah ia bertugas. Yes! Bukankah disiplin adalah salah satu jalan untuk mencapai kesuksesan, teman? Bagaimana kita akan sukses menjadi hamba-hamba-Nya yang menjaga kebersihan, kalau kita tidak memulainya dari saat ini?

Jadwal adalah pengingat. Daftar piket adalah jalan untuk mengingat. Sedangkan teman yang kembali bersedia mengingatkan kita untuk mengingat jadwal bertugas adalah hadiah yang mahhhhhal harganya. Tidak dapat kita membeli seorang teman, dengan banyaknya materi yang kita miliki. Bahkan, untuk menawarnya sebelum membeli, karena harganya yang begitu tinggi, kita pasti akan berpikir ulang. Ai! Berapa harga seorang teman?

Ketika kita bersama dengan beliau, kita rasakan kebahagiaan. Saat ia tiada di sisi, kita beraikan ingatan untuk menjadikannya hadir bersama kita. Ya, meskipun dalam ingatan, teman yang jauh serasa berada di hadapan. Begitulah hakikat dalam berteman. Tidak selalu bersama, tidak selamanya berpandangan. Tidak pula dengan berjabat tangan saja, kita dapat berkenalan. Pertemuan rasa, perkenalan hasil pikiran, berkalimat-kalimat huruf yang jemari semaikan, adalah simbol sapaan. Bagaimana kabar beliau yang saat ini sedang jauh di mata? Adakah baik-baik saja?

Teman, pada suatu hari nanti, kita kembali akan saling merindukan. Yach, setelah kebersamaan kita saat ini terbatas oleh jarak. Ketika itulah kita akan kembali beringatan satu sama lain. Sitiiiiiiii, engkau tetanggaku di sini, engkau salah satu alarm kehidupanku, engkau adalah jalan yang mengingatkan setiapkali aku terbuai oleh waktu.

Haii, teman… ? Ada kisah tentang waktu, antara aku dan Siti. Maukah engkau mendengarkan kisah ini? Bersediakah engkau mengikuti kisah kami ini? Ai..! Ayolah, teman…

Mau ga mau, bersedia engga bersedia, aku masih akan mengisahkannya di sini, teman. Meskipun engkau belum memberikan jawaban.😀 Oke, kannn?

But, bagaimana aku memulai kisah? Aku berpikir, dulu yaa. Berpikir, lama ku berpikir. Kalau hanya memikirkan, bagaimana aku akan menguraikannya. So, sembari berpikir, ku ajak jemari untuk bergerak. Ku kenali peran jiwa yang menjadi jalan hadirnya rangkaian kata. Bersama, kami saling mengingatkan saat ada yang belum menjalankan tugas sesuai dengan fungsinya. Pikiran, yang seringkali berjalan-jalan berkeliling entah kemana, segera kami panggil. Ruang hati yang selama ini kami manfaatkan untuk mencurahkan perasaan, perlu kami tata terlebih dahulu. Agar kenyamanan dan ketenteraman selama bersama dengannya, dapat kami rasakan. Sedangkan wajahkuuuuuuuuu, yang sedari tadi belum tersenyum, ku tepuk-tepuk sejenak. Yes, pipiku terasa hangat sangat! Saat ku sentuh lembarannya dengan telapak tangan. But, ketika ku menempelkan semua ujung jemari ke arahnya, ada aura berbeda, teman. Ya, saat semua ujung jemari tangan kanan lengket ke pipi bagian kanan, maka dingin menerpanya. Begitu pula dengan semua ujung jemari kiri. Ketika ia berpindah ke pipi bagian kiri, suasana yang sama sedang berlangsung pula. Karena pada mulanya, jemari ini masih kaku. Ia baru bergerak optimal, saat ku ajak ia ke sini. Hehee, sampai sejauh ini, jemari sudah mulai bergerak dengan cepat. Ia mengalirkan apa saja yang sedang saya pikirkan. Waaaaaw..! Baru saja saya berpikir apa yaa…?

Tidak mau saya kembali ke paragraf awal, kalau rangkaian karakter yang sedang berlangsung, belum mencapai lebih dari dua ribu dua belas karakter. Karena inilah salah satu peraturan yang saya buat setiap kali membikin sebuah catatan yang berjudul. Ya, karena setiap judul akan menjadi pengurang target. Hehehehe, catatan yang perlu tercipta masih banyaaak kiranya.

But, saya sangat senang, ketika dari waktu ke waktu, ia melebur satu persatu. Dan kini, catatan tersebut telah sampai pada angka judul ke tiga ratus delapan puluh empat, dari total empat ratus empat puluh yang saya hitung mundur. Wwuiiih, bibirku memonyong seketika. Tiba-tiba! Hahaaa, aku menulis apa saja ya? Untuk menciptakan catatan dengan judul sebanyak itu?

Tiada yang tercipta tanpa berpikir. Tiada makna yang akan terungkap, tanpa mengajak para sahabat untuk membersamai. Teman, engkaulah sahabat yang aku perjuangkan. Agar kita senantiasa bersama, sampai catatan ini mencapai angka satu. Kapankah? Lets continue our steps together.

Menggerakkan jemari, melangkahkan kaki-kaki jiwa, menggunakan kesempatan terbaik untuk mengalirkan hasil pikir, inilah aktivitas yang saya lakukan selepas rehat. Men-jogging­-kan jemari semenjak pagi hari, mengajak hati untuk mengelilingi dunia imajinasi, menggunakan kesempatan terbaik untuk mengalirkan hasil pikir, inilah aktivitas yang saya aksikan selepas menjalani rutinitas.

Berbicara tentang rutinitas, saya kembali teringatkan dengan Siti. Oiaaa.. Sitiiiii… Berhubung sebelumnya saya akan mengurai kisah bertemakan “Aku dan Siti tentang waktu”, maka inilah saatnya untuk memulai.

“Ai, memang dari tadi belum mulai, Ya?, hahaaa.. ” tanya bertanya aku menanyai diri sendiri yang menanyakan tanya.

Siti.  Beberapa waktu terakhir, beliau mempunyai rutinitas. Rutinitas yang membuat beliau mempunyai jadwal yang sangat lengkap dalam menjalani waktu. Lengkap? Iya, teman. Karena hampir setiap hari beliau berangkat ke tempat aktivitas, tanpa mengenal hari. Yes! Ini rutinitas. Begini saya menyebutnya. Rutinitas yang beliau jalani, setiap hari. Adapun jadwalnya adalah dari pagi sampai sore hari. Nah! Kalau pagi, Siti suka berangkat lebih awal, karena tempat beliau beraktivitas lebih jauh. Jadi, agar beliau datang pada waktu yang tepat, dan sampai dengan selamat di tempat tujuan, maka beliau berangkat pagi-pagi. Semangat Pagiiiii Sitiiii… !😀 Aku yakin, beliau akan menjadi seorang perempuan sejati, pada suatu hari nanti. Semangat Sitiii, engkau bisa!

Siti. Jadwal keberangkatan beliau, menjadi acuan bagi saya untuk memulai siap-siap. Karena, sebetulnya, jadwal kami untuk memulai rutinitas adalah sama. Namun, berhubung lokasi yang akan Siti capai lebih jauh, maka beliau berangkat duluan. Sedangkan saya, perlu segera bersiap, kalau Siti sudah berangkat. Nah! Inilah kesan yang sangat berkesan, teman. Ketika teman menjadi alarm kehidupan, ia menjadi jalan hadirnya ingatan.

Hampir setiap hari, Siti berangkat pada waktu yang sama. Senin sampai Senin lagi, Siti berutinitas tiada henti. Karena memang demikian, jadwal yang perlu beliau taati. Ya, termasuk hari ini. Ketika saya berlibur dari rutinitas, Siti malah sebaliknya. Tiada hari libur dari rutinitas.

Siti, tiada jalan untuk mengasihani diri sendiri, kalau memang ia masih sanggup untuk menyampaikan bakti. Bukankah kehadiran kita di sini, saat ini, untuk hal yang demikian? Dalam haru, jiwaku berkata sepenuhnya, “Engkau perlu mengetahui tentang perjalanan ini, wahai diri. Belajarlah dari beliau, yang senantiasa rela mengabdi. Walaupun beberapa waktu beliau akhirnya jatuh sakit, karena kelelahan fisik. Namun, jiwa yang satu itu selamanya bersenandung riang atas bakti yang ia ciptakan.”

Siti, saat ini beliau lagi mandi pagi. Sedangkan saya, belummmmmm… ??!😀 Karena, sebentar lagi, beliau akan berangkat untuk menjalankan rutinitas. Sedangkan saya, juga akan berangkat. Namun, bukan rutinitas, “Hari ini adalah perayaan hari berbunga-bunganya Teh Siti, sahabat saya yang lain, di kota ini.”

Waih!  Dari Siti ke siti, saya berteman. Dari waktu ke waktu, kami bersama. Apakah makna dari semua ini? Saya yakin, kehadiran beliau dalam kehidupan saya, penuh dengan makna. Ada hikmah yang sedang tersimpan di dalamnya. Hikmah untuk mengingatkan saya pada suatu hari yang pasti. Nah! Bukankah kata ‘PASTI” juga berakhiran dengan –TI? Inilah cara sederhana yang dapat saya lakukan untuk mengingat mati. Hari yang pasti, hari yang semua kita akan menjalani. Kapankah?

Tiada perlu kita bertanya kapan waktu itu datang menyapa. Ya, ketika saat ini kita sedang sendiri, menyepi, tiada sahabat di sisi, nikmatilah kesempatan itu, wahai teman… untuk mengenali diri. Apakah yang sedang ia persiapkan untuk menyambut mati? Bukankah kita tidak tahu kapan waktu itu datang? Adalah dengan mempersiapkan diri menjadi lebih siap dari hari ke hari, menjadi jalan ingatkan diri tentang pentingnya waktu. Kita yang seringkali bertemu dengannya. Kita yang sedang melekat, erat dengan pergerakkannya. Kita yang saat ini sedang menggerakkan jemari, belumlah pasti akan menyampaikan kalimat pada karakter lebih dari dua ribu dua belas. Lalu, untuk mempostingnya? Kita juga belum tahu pasti apakah masih mempunyai kesempatan atau tidak? Wallaahu a’lam bish shawab.

Teman… apabila engkau mempunyai waktu untuk membaca rangkaian catatan yang satu ini, berarti engkau beruntung. Karena saat mempostingnya, saya masih ada. Dan sisa-sisa usia yang akan saya jalani setelahnya, semoga menjadi jeda yang saya manfaatkan untuk merangkai kata lagi. Agar, pada catatan yang selanjutnya, kita dapat berjumpa lagi di sini. Karena saya selalu merindui saat-saat kebersamaan kita di sini. Ketika dengan lepasnya, tawa akan pecah! Karena dengan sumringahnya, senyuman akan menebar. Karena dengan mudahnya, tetesan bening permata kehidupan akan meruah, atas apa yang jiwa alami. Mudah bagiku untuk menangis saat menulis catatan. Begitu pula saat membacanya lagi. Ai! Semua ini sungguh indahnyaaaa…😀

Teman, saat ini Siti sudah siap-siap untuk berangkat. Ini berarti, saya juga perlu bangkit dari tempat ini.  Walaupun bukan perjanjian, namun telah menjadi ingatan tersendiri. Beliau benar-benar sudah cantiiik. Sedangkan saya, belum mandiiii… Hihiiiy…😀 Bereksistensi semenjak pagi hari, adalah kemestian. Apalagi saat ini adalah kesempatan terbaik. Waktu pagi yang masih segar, suasananya masih alami. Ya, lihatlah rumput-rumput itu teman, ia menjadi jalan yang mampu membuka mata kita, ketika ia kembali mau menatap indahnya dunia. Tebarkanlah pandangan terbaikmu ke arahnya, kapanpun engkau mau.

Ketika aku merindukanmu, saya memandanginya… semoga begitu pula dengan engkau. Lewat lambaiannya yang gemulai, ia memesankan kita untuk kembali mengurai ingatan satu sama lain. Walaupun saat ini, kita belum lagi bersenyuman wajah, namun ingatan yang selalu kita pupuk membuat rumput-rumput itu tersenyum.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s