Memintal Doa; Ibunda


Mentari Pagi

Mentari Pagi

Teman… mungkin saja saat ini engkau sedang berada jauh dari Ibumu. Entah karena adanya keperluan untuk melanjutkan pendidikan di luar kota. Ataukah karena engkau sudah bersuami, dan suamimu mengajakmu untuk menetap bersama. Dalam hal ini, jarak sedang membentang antara engkau dan Ibunda, yang selama ini menjagamu.

Teman… mungkin saja saat ini engkau masih remaja, namun sudah berjarak dengan Ibunda. Ya, semenjak engkau memutuskan untuk ikut dengan anggota keluarga yang lain, contohnya. Sehingga, kebersamaanmu dengan Ibunda menjadi terbatas oleh jarak.

Teman… mungkin saja saat ini engkau sudah tidak lagi mampu memandang senyuman Ibunda yang penuh dengan kasih sayang, karena Kasih Sayang-Nya yang tiada bandingan, sedang merengkuh Ibunda. Ya, kini Ibunda sedang berada di alam lain, berbeda denganmu, teman. Memang engkau tidak bersama dengan beliau, semoga ini hanya raga. Namun ingatan akan awal kehadiranmu di alam ini, semoga menjadi jalan ingatmu pada Ibunda.

Teman… mungkin saja saat ini engkau belum pernah menjumpai bagaimana sosok Ibu yang telah melahirkanmu.  Karena setiap kita tentu saja mempunyai kisah yang sangat tidak mirip satu sama lainnya. Kalaupun ada kemiripan, tentu tidak sepenuhnya sama.  Semua ini ada, untuk memberikan kita bukti bahwa warna-warni tersebut memang ada di dunia.

Teman… kita tidak dapat menyalahkan sesiapapun atas apapun yang sedang kita jalani saat ini. Namun kita dapat menentukan sikap atas apa yang sedang kita jalani. Bukankah keberanian untuk menentukan pilihan adalah salah satu keindahan dalam kehidupan? Bersamanya kita akan menemukan apa yang selama ini kita cari. Bersama sikap yang terbaik, semoga kita dapat tersenyum lebih indah lagi. Bersama senyuman yang kita tebarkan dari waktu ke waktu, semoga kita masih mau untuk melanjutkan langkah-langkah lagi, setelah ia berkata, “Kita memang bisa!”

Teman… sebagaimana yang pernah saya singgung pada catatan sebelum ini, tentang pikiran. Ya, bagaimana kita berpikir, sangat menentukan bagaimana kita dalam bersikap. Beruntunglah orang-orang yang berpikir, karena ia menggunakan salah satu nikmat yang Allah titipkan padanya. Ya, diantara sekian banyak makhluk-Nya yang bertebaran di muka bumi ini, manusia adalah yang mendapat titipan akal, sebagai sarana untuk berpikir. Wahai, semua kita mempunyai hak untuk berpikir. Lalu, bagaimana kita memanfaatkan anugerah yang sangat berharga ini?

Teman… terkadang kita memang begitu mudahnya terlarut dalam perasaan. Apalagi sebagai perempuan. Perempuan yang menggunakan porsi perasaan lebih banyak daripada pikiran. Ai! It’s very beautiful one.

Teman… sebagai seorang kakak atau adik, apakah engkau mempunyai saudara perempuan? Sebagai seorang Ayah atau Ibu, apakah engkau mempunyai putri? Sebagai seorang teman, apakah engkau mempunyai sahabat perempuan? Sebagai seorang kakek, apakah engkau mempunyai cucu perempuan?

Wwwaaa… kakek datangggg… :D  “Siapa nama kakek, Kek? Bagaimana kabar kakek? I wish to meet you, grandpa… untuk menyimak nasihat tentang kehidupan. Tentang bagaimana semestinya kami bersikap, atas berbagai keadaan yang kami jalani. Tentang bagaimana kami menanggapi, sebuah kalimat yang sampai kepada kami… saat kami menangis…

— Kamu jangan nangis —

 Kek… sampai sejauh ini kakek menjalani kehidupan di dunia, sudah berapa banyak kakek melihat perempuan menangis. Sudah berapa kali kakek melihat untaian bulir bening permata kehidupan mengalir dari mata yang sedang menangis? Apakah kakek merasakan apa yang sedang beliau alami? Bagaimana kakek menanggapi keadaan yang seperti ini? Apakah kakek juga berkata, “Kamu jangan nangis…? Kek,… bagaimana… Ataukah kakek juga pernah menangis, mengapa kakek menangis? Apa yang menyebabkan kakek menangis, Kek…?”

Teman… mungkin saja engkau tidak mempunyai perempuan yang dekat denganmu. Namun, bagaimana yang engkau bersikap saat melihat perempuan sedang menangis? Apakah engkau berkata, “Kamu jangan nangis…” juga? Padahal, airmata sudah terlanjur mengalir di pipinya. Aliran airmata yang mulai membanjir itu, sempat engkau saksikan. Bagaimana engkau bersikap, teman?

Teman… engkau mungkin tidak mengerti, mengapa tiba-tiba perempuan menangis. Mungkin engkau bertanya-tanya, mengapa ia menangis? Atau engkau menyampaikan langsung tanya itu padanya, “Mengapa engkau menangis?”.

Teman… pernahkah engkau menyaksikan, ketika begitu mudahnya airmata mengalir pada lembaran pipi seorang perempuan. Ya, mudah sangat. Sedangkan sebelumnya, lembaran wajah yang sedang ia bawa, tersenyum. Lalu, tiba-tiba saja, mentari yang sedang bersinar itu, tertutup awan yang tipis. Perlahan-lahan awan mulai berkumpul. Hingga terbentuklah semacam mendung yang menggelayut di langit hatinya. Meskipun mendung tidak berarti hujan, namun gelap yang menyelimuti alam, merupakan tanda-tanda gerimis akan mengguyur alam. Mentari yang sedari tadi bersinar terang cerah cemerlang, tidak terlihat lagi. Ia hanyut oleh keadaan. Ia pergi untuk meneruskan perjalanan, dari balik awan yang sedang menguasai keadaan. Mentari, akan terus tersenyum. Sampai akhirnya nanti, ia tidak lagi mempunyai kesempatan untuk menyampaikan bukti, bahwa ia ada.

Teman… memang, sesekali kita tidak dapat melihat bagaimana cerahnya sinar mentari. Apalagi kalau malam, ia tidak terlihat. Walaupun tidak terlihat oleh pandangan mata yang nyata, namun aslinya ia masih menjalankan bakti, ia berkeliling untuk menyampaikan kemilau sinarnya. So, belajar banyak dari mentari tentang bagaimana ia bersikap, adalah salah satu jalan yang dapat kita tempuh.

Teman… mungkin saat ini engkau sedang diliputi rasa yang mendalam, engkau sedang pilu, haru dan dikuasai perasaan. Namun, tidak selamanya engkau dalam kondisi yang demikian. Boleh saja, kalau engkau mau mengurai beraneka rasa yang menerpa jiwa, melalui tangisan. Namun, bagaimana sikap yang akan engkau ambil setelah semua itu berlalu? Ini tentang sikap, teman.

Teman… mungkin saja saat ini engkau sedang memanyunkan bibirmu beberapa senti ke hadapan, karena terlalu seriusnya dalam menjalani aktivitas. Ai! Ini pengalaman pribadi, saya yang tadi manyun lho.. hohoo… But, saya tidak mau terlarut bersamanya, apalagi kelamaan. So, senyumanpun segera menebar di pipiku. Sedangkan kedua bibir, tertarik ke samping kiri dan kanan, seimbang. Mari, kita bersenyuman, teman.

Teman… mungkin saja saat ini engkau sedang dalam perjalanan, terjebak macet, tertimpa sinar mentari, kehujanan? Waih! Sungguh, semua ini pengalaman pribadi yang saya alami.  Lalu, bagaimana engkau bersikap dalam kondisi yang seperti ini, teman? Apakah engkau bersikap layaknya insan yang mensyukuri nikmat pikiran? Ataukah kita memberikan kelonggaran pada jiwa untuk menembus alam yang nun jauh dari pandangan? Sejauh apa engkau membawa jiwamu untuk berpetualang, teman?

Teman… mungkin saja saat ini engkau sedang tersenyum penuh kebahagiaan, karena engkau sedang mendapatkan apa yang engkau harapkan. Engkau sedang memandangi sosok idaman? Engkau sedang menikmati lezatnya menu makanan? Engkau sedang terbuai oleh keindahan alam? Di mana engkau berada saat ini, teman?

Teman… mungkin saja engkau sedang berada di hadapanku saat ini. Lalu, maukah engkau memaafkan aku yang seringkali membuatmu tersentuh oleh keadaan? Nai, engkau adalah sahabatku. Walaupun tanpa wujud yang nyata, namun engkau ada, sayang… Engkau yang mudah sekali tersentuh, lalu engkau mengajakku untuk mengalirkan airmata di pipi. Engkau yang seringkali membuatku tersenyum, kalau engkau lagi senang. Engkau yang mengajakku berkeliling ke berbagai negeri untuk menemukan pengalaman baru.

“Mari kita melanjutkan perjuangan,” begini engkau berucap pada suatu hari.

Nai, sahabatku. Pada suatu hari kami sedang beraktivitas. Ia yang sedari tadi tenang-tenang saja, penuh kedamaian, dan menikmati waktu dengan sepenuhnya. Tiba-tiba bereaksi. Karena ada yang menyentuhnya. Ia yang tanpa raga, tidak mampu mengalirkan airmata. Akibatnya, ia meminjam airmataku. Ia yang sedang berucap, namun suaranya tidak terdengar oleh indera pendengaran. Maka, ia memintaku untuk menyampaikannya melalui jemari yang sedang bergerak, berlarian. Ia yang sedang menatap, tidak dapat ku tatap. Maka, matanya yang sedang terbuka, membukakan mataku untuk mau melihat apa yang sedang ia lihat.  Ia yang tanpa kaki, tangan, dan wujud yang nyata, sedang melangkahkan. Ia seringkali mengajakku untuk mengitari alam, membawaku ke tempat-tempat yang mendamaikannya, mengajakku untuk memperhatikan dengan saksama, tulisan-tulisan yang sedang tertulis meski tak nyata.

Nai. Banyak tempat yang ia kunjungi, berbagai negeri ia datangi. Dalam perjalanan yang ia tempuh, sudah beraneka jenis karakter insan yang menyentuhnya. Ia seringkali terharu. Ia begitu mudah tersenyum, ia sangat peka terhadap apapun yang sedang terjadi.  Walaupun engkau tidak akan pernah melihat bagaimana penampilannya, namun saya akan menguraikan lebih jauh tentang beliau, sahabat baikku.

Nai. Semenjak awal kami berkenalan, tidak banyak ia ia jelaskan tentang dirinya.  Namun seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit saya mulai mengenal bagaimana pribadinya. Ia yang bersuara, namun tidak terdengar. Selamanya suara tersebut tidak akan pernah ada, kalau rangkaian huruf demi huruf ini belum tersusun. Ia ada, namun keberadaannya tidak akan pernah terdeteksi, kalau kalimat demi kalimat belum tercipta.

Nai. Ia adalah sahabat baikku, titipan dari Allah, melalui Ibunda. Sebelum aku mengenalnya, Ibunda pernah menyampaikan sebaris pesan, begini, “Tolong jaga hati, ya Nak…” So, setiapkali terjadi sesuatu dengannya, maka saya ingat pada Ibunda. Karena Ibunda sudah menyampaikan hal ini jauh hari sebelum saya berkenalan dengannya. Lalu, bagaimana sikap yang perlu saya tempuh untuk menjaganya,  dalam berbagai keadaan?

Teman… walau sejauh apapun ragamu berjarak dari Ibunda, namun yakinlah akan kedekatan yang sedang tercipta. Engkau yang saat ini ada di dunia, terlahir dengan perantara beliau. Engkau yang merasakan bagaimana nyamannya berada di dalam rahim beliau selama lebih kurang sembilan bulan, bagaimana bisa lupa pada Ibunda? Engkau yang tidak akan pernah ada tanpa izin-Nya untuk menitipkan sementara di rahim Ibunda. Allah sayang pada Ibu kita, Allah sayang pada kita.

Teman… Menjadi siapakah engkau saat ini? Apakah aktivitas yang saat ini sedang engkau tekuni? Bagaimana engkau menjalani hari-hari yang datang dan pergi silih berganti? Siapa saja yang saat ini ada sangat dekat denganmu? Bagaimana engkau dapat mengenali seorang yang selama ini tidak engkau ketahui? Namun, ternyata menjadi sahabatmu yang engkau harapkan bersamanya selalu. Teman yang engkau baru kenali, menjadi mudahnya hadir dalam ingatanmu. Bagaimana engkau dapat menjalani waktumu yang seperti demikian? Ketika dalam berbagai suasana, engkau menghayatinya lebih dalam. Ada saja kebaikan yang engkau terima, padahal engkau tidak merasa sedang membaiki sesiapa. Bagaimana semua ini dapat terjadi, teman?

Teman… mungkin saja saat ini engkau sedang berkumpul dengan para sahabat yang memang demikian engkau harapkan. Bersama engkau berjuang untuk meraih asa dan impian. Bersama engkau saling menguatkan ketika ada salah seorang yang merasa kelelahan dalam perjalanan. Namun, engkau kembali bangkit. Engkau berpikir. Engkau melangkah. Engkau menerima uluran tangannya. Engkaupun bergerak bersamanya. Walaupun dalam ingatan, tanpa pertemuan raga.  Walaupun hanya dalam rangkaian tulisan, belum bertatap mata. Namun, engkau senang dapat melangkah bersama. Engkau rasakan kedamaian bersamanya. Tenteram dan penuh kesejukan, ini yang engkau alami.

Teman… bagaimana engkau dapat berpikir tentang  hal ini? Pesan, peran, dan saran engkau terima tiada henti. Beliau yang mewujud sahabat, sedang berada di hadapanmu untuk menenangkanmu. Engkau mengalami kondisi yang sangat meneduhkan di sampingnya. Walaupun butiran permata kehidupan terus saja mengalir, deras… Namun itulah yang mampu engkau lakukan, pada waktu yang bersamaan. Saat engkau dengan penuh keyakinan berkata, “Inilah sahabatku.”

Teman… terus saja aliran bulir-bulirnya menganak sungai.  Lalu, sampailah ia di muara harapan. Engkau kembali tersenyum, setelah bertemu dengannya. Sebaris suara yang sampai ke indera pendengaranmu, penuh dengan persahabatan, “Kamu jangan menangis…” Kalimat paling menyentuh itu, mencolek jiwamu yang sedang asyik dengan dirinya. Lalu, engkaupun mengangguk, memohon maaf. Engkau meminta maaf?

“Saya tidak menyalahkanmu.  Kamu bisa, namun…,” adalah kalimat berikutnya yang engkau terima.  Sedangkan untuk seterusnya, engkau masih saja menangis. Engkau teruskan suara jiwa yang berkata, bahwa ia begitu tersentuh. Ia sampaikan bisikannya lewat isak yang tertahan. Kalau bukan karena untuk meneruskan langkah dan perjuangan, engkau tidak akan pernah mengalami hal yang serupa. Namun, engkau menikmatinya. Hal ini terlihat dari sebaris kalimat berikutnya yang kembali engkau sampaikan, sesaat sebelum engkau melanjutkan langkah.

“Terima kasih, yaa,”  lalu engkaupun berlalu.

Teman… tidak banyak kalimat yang mampu terucap saat kita sedang menangis. Jangankan untuk menyampaikan suara jiwa, yang ada malah kedamaian di sana. Dalam kondisi demikian, nikmatilah.

Teman… barisan kalimat yang tercipta belumlah mampu menguraikan segala minat yang ingin tersalurkan. Apalagi untuk memberaikan seluruhnya. Namun yakinlah bahwa kita bisa, kalau kita mau. Semoga berbagai keadaan yang sedang kita jalani, dapat menjadi jalan bagi kita untuk meneruskan langkah-langkah ini. Hari ini kita masih ada. Selagi harapan masih menyala benderang, maka saat itu kesempatan dan peluang sedang membentangkan sayapnya. Ikutlah terbang dengannya. Jangan hanya terlarut dalam keadaan. Bukankah layangan bukan bernama layangan kalau ia sedang tergeletak? Bagaimana kita dapat menyaksikan liukannya di angkasa, kalau kita tidak segera mengurai benang, lalu menerbangkannya.

Teman… mungkin saja saat ini Ibunda yang menjadi jalan hadirnya kita ke dunia sedang berada jauh di sana. Memintal doa beliau adalah sikap yang dapat kita ambil, agar kita dapat bermain layangan dengan bagus. Bukankah layangan tidak dapat kita mainkan, tanpa tali? Sedangkan doa Ibunda adalah tali yang menghubungkan kita dengan beliau. Meski dalam ingatan, Ibunda sedang tersenyum menyaksikan. Kalau kita teruskan langkah perjuangan, senyuman beliau akan lebih indah lagi. Teman, Ibunda kita adalah seorang perempuan.  Siapakah yang tidak senang hatinya, kalau melihat seorang perempuan tersenyum? Begitu pula dengan sesiapapun perempuan yang saat ini ada di samping kita, buatlah ia tersenyum lebih indah.

Teman… engkau adalah mentari yang tersenyum di hatiku.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s