Don’t Reject Me before Interview


Di mata anda, siapa anda?

Di mata Anda, siapa Anda?

“Jangan pengen menjadi seorang yang gaya, namun pengenlah menjadi seorang yang hebat.” (Ibu R. Aryanti Ratnawati, SE, M.Si)

Saya pernah berhadapan dengan soal-soal psikotest yang terdiri dari berlembar-lembar. Adapun soal-soal tersebut disajikan dalam bahasa Inggris. Soal-soal yang seratus persennya terangkai dalam bahasa asing. Padahal, saya engga ngerti-ngerti amat dengan bahasa yang satu ini. Akhirnya, dengan penuh keyakinan, saya tidak mengisi satupun jawaban dari banyak soal tersebut. Namun, saya menitipkan sebaris kalimat dengan huruf yang agak gede, pada bagian kosong lembaran isian. Begini bunyi kalimat tersebut, “Don’t reject me before interview.”  Memang, ini adalah sebuah keputusan yang saya buat. Keputusan yang sudah saya pertimbangkan sebelum ia tercipta. Keputusan yang saya sudah tahu bagaimana risikonya. Kemudian, psikotestpun berlalu.  Beberapa waktu kemudian, ketika ada panggilan wawancara, saya pun dipanggil.

“Ai!  Kerennya,” gumamku dalam hati. Saat menyimak sebuah kisah dari Ibu Guru tadi siang. Begitu, pengalaman  yang beliau bagikan kepada kami, di sela-sela waktu belajar pada hari ini. Ibu Guru, selamanya baik. Beliau inginkan kita untuk menelusuri jejak-jejak langkah penuh perjuangan yang telah berhasil beliau lalui, sebelumnya. Ya, sebagai seorang Ibu Guru, tentu saja beliau juga pernah mengalami masa-masa seperti yang saat ini sedang kita jalani. Karena episode yang sedang kita alami saat ini, beliau temui  terlebih dahulu.

Teman, jangan takut untuk menjadi berbeda. Kalau memang perbedaan itu yang membuat engkau lebih berani dalam menjalani hidup, maka lakukanlah hal yang tidak sama dengan yang orang lain lakukan. Karena, kita tidak dapat menerka-nerka akan jalan perjuangan ini. Ada waktunya, kita bertemu dengan para sahabat yang memang berbeda dengan kita, maka akuilah. Ada waktunya pula, kita menjadi begitu asing dengan apa-apa yang baru saja kita alami, maka hadapilah. Memang, hidup yang penuh dengan warna dan warni akan menjadikan kita terpacu untuk terus bergerak. Sampaikan senyuman pada berbagai keadaan yang sedang kita jalani, meskipun senyuman itu ringan. Pikirkan sebaris kalimat yang belum pernah kita pikirkan sebelumnya. Lewatilah jalan yang tidak sama ketika berangkat beraktivitas. Kemudian rasakanlah betapa hari-hari yang sedang kita jalani begitu terasa indahnya.

Teman, kita tidak dapat mengenali berbagai pelosok negeri, kalau kita tidak berusaha untuk menemuinya. Kita juga tidak akan pernah mengetahui hal-hal baru kalau kita tidak berupaya untuk mengetahuinya. Semua kembali lagi kepada kemauan. Maukah kita melangkah untuk mengunjungi berbagai tempat yang perlu kita datangi? Maukah kita mencari tahu berbagai informasi tentang banyak hal yang sesungguhnya perlu kita tahu. Ya, mau.

Teman, di mana pun kita berada saat ini, tidak akan terlepas dari yang namanya informasi.  Karena informasi adalah sebuah kepentingan yang sudah merupakan kebutuhan. Era yang sedang kita hadapi penuh dengan informasi. Baik informasi yang datang kepada kita maupun informasi yang kita sampaikan. Dalam hal ini, informasi berfungsi sebagai pelengkap untuk terciptanya sebuah sistem.  Seperti halnya informasi, maka sistem juga merupakan kepentingan bagi kita dalam berinteraksi. Baik berinteraksi dengan beraneka jenis karakter insan di dunia, berinteraksi terhadap diri kita sendiri, atau secara luasnya, kita sebut saja dengan berinteraksi bersama alam-Nya.

Teman, sehubungan dengan berbagai kepentingan yang kita tautkan dengan sesiapa saja yang sedang ada di dekat kita saat ini,  maka di dalamnya terdapat informasi. Ketika akan menemui salah  seorang teman kita yang saat ini jauh di mata, maka kita perlu mengetahui terlebih dahulu tentang keberadaannya, kini. Karena kita perlu tahu, apakah sang teman masih ada,  atau bagaimana? Apakah teman tersebut masih tinggal di lokasi yang sama dengan sebelumnya, atau sudah berada di tempat lain. Apakah teman tersebut masih ingat dengan kita? Ataukah hal yang sebaliknya telah terjadi?

Kita memerlukan informasi tentang beliau.  Kalaupun kita tidak dapat memperoleh informasi secara langsung dari teman yang bersangkutan, maka kita dapat mengetahui informasi tentang beliau dari orang-orang terdekat yang seringkali berinteraksi dengan teman kita tersebut.

Teman, tadi siang, masih dalam sela-sela waktu belajar kami di Sangga Buana, ada sebuah kisah yang Ibu Guru sampaikan kepada kami. Kisah yang senada mungkin saja juga pernah engkau peroleh. Ataukah, engkau yang mengalaminya sebagai salah satu pengalaman pribadi? Begini beliau menuturkan kepada kami.

Ibu, dulu pernah mempunyai seorang teman. Teman satu kampus, yang satu angkatan. Memang Ibu tidak terlalu dekat dengannya. Karena ia adalah seorang yang bergaya. Bukan berarti Ibu engga gaya, namun intinya adalah kami berbeda. Dalam hal ini, ia senantiasa bermobil pribadi ria ke kampus. So, sangat jarang kami pulang bersama. Maklum, saat itu Ibu pulang dan pergi kuliah pakai angkutan umum. Sedangkan teman Ibu tersebut, sangat mewah  penampilannya. Dengan kendaraan pribadi, ia pulang dan pergi kuliah. Pokoknya, ia adalah seorang yang sangat berada. Ibu maklum akan hal ini.  Ibu memang tidak kenal dekat dengan teman Ibu yang kaya tersebut. Namun, satu hal yang saat ini masih Ibu ingat bahwa, Ibu berteman dengan seorang gadis cantik. Sedangkan teman Ibu yang sangat cantik ini, berteman dengan teman Ibu yang kaya tadi. Ai! Intinya gitu. Tercipta segitiga pertemanan, diantara kami.

Waktu ke waktu terus bergerak maju. Hingga akhirnya, kami pun menamatkan pendidikan. Ibu lulus, teman Ibu pun lulus. Kami lulus bersama. Untuk selanjutnya, kami pun meneruskan kehidupan yang berikutnya. Ibu sudah lama tiada mendengar kabar tentang teman Ibu yang kaya tadi. Sedangkan dengan teman yang sangat cantik, Ibu masih menjaga komunikasi. Kami saling bertukar informasi dan kami seringkali berbagi berita.

Hari demi hari kami lalui.  Teman Ibu yang tadinya paling gaya saat menjalani masa-masa perkuliahan, bersama kendaraan pribadinya yang  mewah, kini sudah berubah.  Karena pada suatu waktu, Ibu mendapatkan informasi dari teman Ibu yang sangat cantik, tentang kondisinya. Ya, tidak selamanya kekayaan harta melingkupi kita. Karena kita tidak pernah tahu akan jalan takdir. Kalaulah memang pada masa mudanya ia menjalani waktu dengan gemerlapnya harta, tidak menjamin untuk selanjutnya akan seperti itu. Ya, ini hanya sekadar sharing.  Semoga kita dapat mengambil pelajaran.

Demikian sekilas kisah yang Ibu Guru sampaikan kepada kami. Kisah yang membuat jiwaku menderu, aku terharu. Seakan buliran bening permata kehidupan mau tumpah saat itu saja. Ya, begitu mudahnya saya terbuai oleh keadaan. Ketika pada kalimat yang selanjutnya, beliau merangkai kata-kata begini, “Wahai adik-adik sekalian, untuk pertemuan selanjutnya, silakan kalian tuliskan sepuluh kelebihan dan sepuluh kelemahan yang kalian miliki.  Setelah itu, rangkailah visi dan misi masing-masing. Namun satu kata yang Ibu ingatkan, tidak boleh ada kata “Egois” di dalamnya. Ya, karena semua kita adalah orang-orang yang egois. Kita egois terhadap beribu-ribu sperma yang akhirnya gagal dibuahi. Kita adalah satu dari sekian banyaknya sperma yang berhasil menjadi insan. Kita adalah seorang egois sejati. Saya, adik-adik semua, kita sama-sama mempunyai rasa egois. So, jangan cantumkan kata ‘egois’ sebagai salah satu dari kelemahan ataupun kelebihan kalian yaa.”

Kalimat berikutnya yang beliau rangkai dan sukses saya renungkan adalah yang berkenaan dengan perubahan.  Ya, perubahan erat kaitannya dengan bagaimana kita akan menjalani kehidupan yang selanjutnya.

“Selama ini, bagaimana kalian menerima penilaian dari orang lain? Apakah yang dapat kalian renungkan dari semua penilaian tersebut?  Baik berupa pujian, kritikan, atau apalagi namanya. Baik kalimat-kalimat yang membuat kita sangat senang ketika menerimanya. Ataukah yang membuat kita kembali bertanya melalui pikiran yang berkelana, “Memang begitukah saya adanya?”

Untuk beraneka penilaian yang kita terima, kita dapat memberikan tanggapan terhadapnya. Apakah kita mau mempertahankan hasil penilaian ataukah mau mengurangi. Bagaimana kita menetapkan sikap dalam menanggapinya? Apakah kita mau merubah pola pikir? Bagaimana kita bersikap sangat bersesuaian dengan bagaimana kita berpikir. Ketika suatu waktu kita bertemu dengan penilaian, maka kita dapat menerapkan pola pikir yang sistematis dalam menanggapinya. Adapun pola pikir sistematis terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:

1.  Mengetahui

Pertama sekali, kita perlu mengetahui yang benar itu seperti apa? Kita perlu menemukan informasi tentang bagaimana yang seharusnya? Kita perlu menemukan teori dari kebenaran tersebut. Kita perlu mengetahui dasar-dasar yang menjadi landasan, sehingga terciptanya penilaian. Apabila kita menyadari bahwa memang kita belum mengetahui yang benar itu seperti apa, maka berusaha untuk menemukan informasi adalah pilihan.

Bergiatlah teman.

Karena ada banyak langkah-langkah yang dapat kita tempuh untuk bertemu dengan informasi. Pun, untuk menemukan sumber informasi, sangat mudah. Apabila kita telah meyakini kebenaran atas penilaian, maka kita dapat menerimanya. Namun, apabila masih tersisa beberapa titik dalam ruang pikir atas apa yang kita terima dengan teori, maka kita dapat menempuh jalan berikutnya, yaitu bertanyaaa..??? Ya, bertanyalah. Karena setiap tanya pasti ada jawabannya. Kalau masih belum ngerti, tanya aja.

2.  Bertanya

Bertanya. Dengan bertanya, maka kita dapat mengetahui apa yang belum kita tahu. Kalau memang kita ingin tahu, pasti kita sangat rajin bertanya. Kalaulah kita mau memahami teori yang telah kita peroleh, maka kita pasti menanyakan bagaimana cara untuk dapat mempraktekkannya. Ya, dengan bertanya, kita dapat menemukan satu warna tersendiri dalam perjalanan kehidupan ini. Dengan bertanya, kita dapat bertemu dengan orang-orang baru yang selama ini belum pernah kita temui. Dengan bertanya, kita dapat mengetahui rute-rute yang selama ini belum pernah terbayang meskipun sekejap mata memandang. Dengan bertanya, maka kita menjadi semakin siap untuk meneruskan perjalanan. Karena kita telah mendapatkan sebagian solusi. Ya, bertanya adalah separuh upaya untuk menemukan jawaban.

Biasanya, pertanyaan akan timbul kalau kita sedang berpraktek. Ya, praktek merupakan langkah nyata untuk menerapkan teori yang telah kita peroleh sebelumnya. Teori yang terkadang, berbeda dengan apa yang terjadi dalam kenyataan, dapat menimbulkan tanya. Tanya yang seperti apakah yang sedang kita persiapkan, teman? Bertanyalah, kapanpun kita mau bertanya. Namun bertanyalah hanya pada ahlinya. Agar pertanyaan yang kita sampaikan dapat menemukan jawaban.

3.  Menjawab

Teman, apapun pertanyaan yang sedang kita hadirkan di ruang pikir, maka ada jawabannya. Dalam hal ini, jawaban adalah solusi. Solusi atas apa yang sebelumnya kita hadapi. Solusi merupakan satu kata yang semua kita sangat ingin bersama-sama dengannya. Karena bersama dengan solusi, kita dapat tersenyum lebih indah lagi. Setelah sebelumnya wajah dan pikir kita bertanya-tanya, sebab ia sedang memberikan reaksi atas apa yang ia temui. Ketika sebelumnya ia berhadapan dengan teori.

Teman, apakah engkau pernah mengalami hal yang seperti ini? Ketika apa yang engkau lakukan, ternyata mendapat penilaian dari pihak lain. Dari sebab adanya informasi yang sampai kepadamu, maka engkau mengetahui penilaian tersebut. Engkaupun menerimanya. Lalu, engkau berpikir tentang semua itu. Sudahkah engkau mengetahui bagaimana yang seharusnya? Kalau sudah, maka engkau dapat mengambil kesimpulan dari penilaian tersebut. Namun, pertanyaan berikut tiba-tiba hadir menyapamu, “Kalau yang semestinya bagaimana, yaa?.” Maka engkau telah berada pada bagian berpikir sistematis. Selamat melanjutkan perjalanan pikir yang berikutnya, teman.

Bertanya. Ya, tanyakan saja apa yang perlu engkau tanyakan. Jangan hanya menyimpan tanya sebelum mengetahui jawaban. Karena tanya itu ada untuk memberaikan jawaban pada si penanya. Agar, penanya dapat mengalirkan tanya yang lain, setelah tanya yang sebelumnya terjawab.  Waih!  Betapa indahnya waktu demi waktu yang sedang kita jalani ini, apabila kita segera mengalirkan tanya yang hadir. Dan yang lebih menyenangkan lagi adalah ketika tanya yang kita sampaikan mendapatkan jawaban.  It’s very wonderful moment in this life opportunity, friend.

Jawaban sebagai solusi dari pertanyaan yang kita sampaikan, hanya dapat kita peroleh melalui informasi yang kita terima. Bagaimana cara kita menyampaikan pertanyaan? Bagaimana cara kita menemukan jawaban dari pertanyaan, sangat erat kaitannya dengan sikap yang kita ambil. Apakah kita memilih untuk terlarut dalam pertanyaan-pertanyaan saja? Sedangkan jawabannya masih jauh di sana? Ataukah kita sedang belum mengerti tentang apa yang akan kita tanyakan?

Bertanya, untuk menemukan jawaban. Sedangkan apabila kita menerima pertanyaan, di sinilah sikap berperan penting. Yach! Sebagaimana yang Ibu Guru kisahkan, tadi. Beliau yang sedang berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan berbahasa Inggris. Beliau berusaha untuk memahami pertanyaan demi pertanyaan dalam bahasa asing ini. Pertanyaan yang kalau beliau jawab dengan sekenanya, maka jawabannya belumlah tentu benar. Pertanyaan yang beliau belum mengerti, belumlah beliau jawab. Bahkan beliau mengisahkan bahwa, tidak satupun dari pertanyaan pada lembaran psikotest yang beliau jawab. Nah!

“Bagaimana kabarnya dengan pertanyaan tersebut, Bu?,” sebaris tanya menanyai pertanyaan.

Ketika belum lagi menemukan jawaban dari beraneka pertanyaan yang ada dihadapan, maka kita perlu teruskan usaha untuk memahaminya.  Waktu terus bergerak, maju. Sedangkan kita tidak selamanya berhadapan dengan pertanyaan yang hadir. Kita perlu mengambil sikap. Yes!

“Akhirnya, Ibu menuliskan kalimat  tersebut dengan tulisan yang sangat jelas. Ibu menulisnya dengan sikap yang telah Ibu pilih. Ibu memang tidak menjawab pertanyaan. Namun, sikap yang Ibu pilih memperoleh jawaban dengan terpilihnya Ibu sebagai salah seorang yang dipanggil untuk mengikuti wawancara,” beliau mengisahkan.

Teman, terkadang kita terlarutkan dalam kebiasaan-kebiasaan yang tanpa kita sadari. Sudah sekian lama kita menjalaninya. Cobalah mengubah kalau ia belum semestinya. Kalau kita inginkan tidak dalam kondisi yang sama pada waktu yang terus bergerak, maju, maka kita perlu melakukan hal-hal baru.

Kita perlu beralih dari posisi yang sebelumnya, beberapa langkah.  Berdirilah satu atau dua langkah lebih ke kiri atau ke kanan, dari tempat kita berdiri sebelumnya, saat menunggu angkot.  Xixixxiii… ini inti dari pesan khusus yang tersirat dari Ibu buat saya. Yang ketika beliau menanyai, saya menjawab bahwa dari hari ke hari pada waktu sebelum ini, saya berdiri pada posisi yang sama sebelum si orange datang untuk mengantarkan saya pada “Bahagia.”

😀🙂😀


One comment


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s