Semua tentang Kita


Berkalung Keakraban

Berkalung Keakraban

Alhamdulillah, tepat pada saat ini, catatan kita sedang menjejakkan langkahnya pada angka yang ke tiga ratus tujuh puluh sembilan. Ini berarti, kita perlu berjuang lebih banyak lagi untuk mencapai angka satu, yaa.. hahaa..   😀

Teman, proyek ini adalah sebuah tekad yang kita cipta, untuk terus menghadirkan catatan singkat dari sekian banyak kesan, pesan dan kenangan yang kita temui dari waktu ke waktu.  Ya, karena begitu berartinya pengalaman dan ilmu pengetahuan yang kita temui, teman. Ia perlu kita prasastikan, dengan baik. Karena ia penuh dengan makna. Baik pengalaman yang mensenyumkan, maupun yang membuat kita perlu menata hati lebih sering lagi atas apa yang terjadi. Dari banyak kisah yang kita rangkai, ia sedang mengingatkan kita pada satu pertanyaan, “Untuk apa kita ada di sini, hingga saat ini?”

Teman, adapun catatan demi catatan yang sedang berproses ini, isinya sesuai dengan perkembangan semasa. Maksudnya adalah, bahwa setiap apa yang terlintas dalam renungan diri, maka ia ingin mengeksiskan diri. Begitu pula dengan apa saja yang menderu dari dalam ruang hati, ingin sangat ia menunjukkan bahwa ia ada. Bukan sekadar melangkahkan jemari yang tersenyum, namun untuk menemukan jawaban dari berbagai tanya hati, “Siapakah yang sedang memberikan kontribusi atas langkah-langkah kita ini?”

Teman, ketika pada siang hari kita dapat melihat indahnya sinar mentari yang menerangi bumi, maka pada malam hari, bebintangpun berkelipan tiada henti. Saat kita asyik merasakan sejuknya tiupan angin yang menerpa wajah ini, siapakah yang sedang kita ingati? Bagaimana kita menjadi tahu tentang apa yang akan terjadi? Kalau sesungguhnya ‘Ada’ yang sedang Mengatur setiap episode untuk kita perankan dalam perjalanan kehidupan ini.  Lalu, bagaimana cara kita mengenali, menghayati, memahami, dan memberikan ekspresi atas skenario-Nya yang telah tertulis sangat jelas. Bahkan sebelum kita ada di dunia ini, semua terukir dengan indahnya. Bagaimana kita berusaha untuk mengerti akan semua ini?

Teman, ketika pada malam hari, kita dapat menyaksikan semarak kilau cahaya yang mengedip ketika sampai pada tatapan mata ini, “Apa yang kita lakukan ketika itu?” Saat pemandangan yang begitu rupawan,  sedang menunjukkan bukti atas kekuasaan-Nya. Itulah hiasan malam.

Teman, langit malam tanpa bintang, tentu saja kelam. Begitu pula dengan siang hari. Ketika mentari belum tersenyum pada bumi, maka teduh menguasai. Semua pasti ada hikmahnya.  Tidak hanya memandangi, kita perlu memikirkannya. Lalu, bertanyalah diri pada pikiran yang sedang membuka, “Buat apa semua ini, ada?”

Teman, setiapkali engkau menemui kondisi diluar kehendakmu, lalu bagaimana engkau bersikap? Ketika banyak hal sedang engkau jalani, dan memang seperti demikian yang engkau harapkan terjadi, lalu bagaimana engkau dalam menanggapi? Terlarutkah kita dalam nuansa berlebihan atas apa yang tidak kita ingini, namun ia terjadi? Lalu, tenggelamkah kita dalam buaian nan memabukkan atas apa yang memang kita harapkan, dan kita mengalami?

Teman, walaupun mentari dapat terlihat pada pagi hingga sore yang cerah. Namun engkau bersinar di ruang hati ini kapan saja. Kalau bintang-bintang hanya terlihat berkelipan pada malam yang megah.  Namun engkau adalah bintang yang paling terang di relung jiwa ini bersama senyumanmu nan membekas.

Teman, sekalipun mentari dan bintang-bintang itu tidak kita saksikan pada waktu yang bersamaan. Namun kita dapat mempertemukannya dalam ruang pikir. Ketika kelam malam sedang membersamai alam di mana kita berada kini, namun benderang sedang memberaikan sinarnya di sekitaran. Karena ingatan ini. Ingatan pada Pencipta mentari, dapat menerangi kegelapan di relung hati. Ingatan pada-Nya yang Mengatur semesta sedemikian rupa, sehingga benda-benda langit itu seperti sedang bertaburan karena ramainya. Ingatan pada Pencipta bintang-bintang yang jauh di sana, mampu mensenyumkan kita. Bintang-bintang itu seakan tersenyum dengan cantiknya.  Walaupun senyuman itu tidak terlihat jelas. Namun, senyumannya sedang menebar.   Walaupun hanya beberapa saja yang mampu tertangkap tatap mata ini.  Sesungguhnya ia sangat banyak.

Teman, ketika pada siang hari, kita menyaksikan indahnya sinar mentari yang sedang menerangi bumi. Maka kita pun berpikir untuk menjadi seperti mentari yang bersinar. Agar, kita dapat menjadi jalan hadirnya penerangan hingga ke seluruh pelosok alam. Namun, kita tercipta sebagai manusia. Nah! Bagaimana pula kita bercita menjadi seperti mentari?

Teman, saat malam kita menyaksikan indahnya langit yang bertaburan bintang-bintang, maka kita juga sangat ingin menjadi seperti demikian. Kita ingin menjadi penghias malam yang kelam. Kita ingin terlihat bahwa kita ada, meskipun dari kejauhan. Namun, semua ini hanya keinginan.  Sebagai manusia, kita tidak dapat menjadi salah satu dari bintang-bintang tersebut. Lha? Bagaimana ini?  Kemana akan kita alirkan hasil pikir atas harapan untuk menjadi bak bintang di malam hari?

Teman, engkau ingin menjadi seperti mentari? Masih ingin? Engkau mau bagaikan bintang-bintang nan berkelipan di langit kelam? Masih mau? Mengapa….? Bukankah sudah cukup sempurna penciptaanmu sebagai insan yang berakal? Dengan titipan nikmat terindah ini, engkau dapat memikirkan hasil ciptaan-Nya yang sangat engkau kagumi.

Teman, ingatkah engkau bahwa mentari itu tidak ada dengan sendirinya? Dapatkah engkau mengenali bagaimana ia bersinar begitu cerahnya? Ingatkah engkau dengan peran penting Penciptanya?  Saat gemerlap sinar mentari sampai pula padamu, ingatkah engkau bagaimana hal ini dapat terjadi? Ketika setiap pagi engkau kembali dapat menatap indahnya alam yang membentang, bagaimana ekspresi yang engkau hadirkan saat menyaksikannya?  Ingatan pada-Nya yang engkau hadirkan lebih sering, mencerahi hatimu melebihi cerahnya sinar mentari.  Lalu, kapan terakhir kali engkau menghadirkan ingatan kepada Allah, sayang…

Teman, begitu pula dengan bintang-bintang di langit malam yang sedang berkedipan. Ia ada untuk memesankan kepada kita tentang makna kehadirannya. Ia ada untuk mengembalikan ingatan kita yang sebelumnya sempat meninggalkan beberapa lama. Ia menjadi jalan untuk mengingatkan kita kepada Allah.

Teman, tidak hanya mentari dan bintang-bintang saja yang kita temui dalam perjalanan kehidupan ini. Namun, beraneka jenis makhluk ciptaan-Nya sedang membersamai kita di bumi. Bermacam keadaan, suasana, kondisi, iklim, karakter, dan penampakan-penampakan yang dapat kita tangkap, sedang membentangkan jalan ingatan. Agar kita kembali mengalirkan ingatan kepada Allah. Karena ada peran-Nya dalam berbagai situasi. Ada peran-Nya atas harapan-harapan yang kembali mau kita hidupkan setelah ia meredup. Ada maksud-Nya atas banyak keinginan kita yang belum menjadi kenyataan. Begitu pula dengan cita yang masih berada di ujung kenyataan. Yakinlah pada janji-Nya. Kemudian, teruskan langkah untuk mencapainya.

Teman, ketika kita berniat dengan penuh keyakinan, lalu berusaha untuk mewujudkannya, maka kemudahan demi kemudahan akan kita temukan. Walaupun jalan yang kita tempuh begitu eloknya dengan pemandangan yang membentang di sekeliling, nikmatilah.  Mengedarkan arah pandang pada view yang berada di sekitar saat sedang melangkah, adalah salah satu cara untuk dapat menikmati perjalanan.

Teman, sesekali, tujukanlah tatapan ke arah mentari yang sedang bersinar cerah pada siang hari, agar kita mengerti betapa tajam sengatannya. Semoga kita segera mengingat Penciptanya, atas apa saja yang sedang ia sampaikan kepada kita. Ya, karena semua bukan atas kehendak sang mentari. Ia hanya menjalani peran untuk menjalankan bakti pada siang hari.

Teman, saat engkau sedang melangkah dalam kegelapan di sekeliling, terutama pada malam hari. Maka sempatkanlah waktu untuk mengalihkan pandangan ke arah atas. Di sana ada kerlipan yang unik sangat. Perhatikanlah setiap kedipannya. Walaupun tidak menyilaukan tatapanmu, namun ia memberikan kedamaian pada matamu. Ya, ia akan menarikmu untuk berlama-lama memperhatikannya. Namun, jangan kelamaan yaa. Karena berlama-lama terkena hembusan angin malam, tentu akan mempengaruhi kondisi fisik. Bersegeralah kembali ke dalam ruangan. Lalu, titipkanlah suara-suara yang dapat engkau sampaikan atas hasil perenunganmu yang barusan.  Meskipun sampai larut malam…

Teman, terkadang kita masih belum mau memetik buah-buah pesan dari apa  saja yang kita alami. Terkadang, kita memang menginginkan untuk terlarut beberapa lama dengan keadaan. Kalau memang hal yang demikian sedang engkau lakukan, semoga tidak kelamaan. Karena, kita masih perlu teruskan langkah perjuangan. Bukan untuk menenggelamkan diri dalam lautan keadaan saja, kita ada. Namun, masih banyak peran penting yang perlu kita upaya selagi kita masih ada di dunia. Walaupun untuk mengenali makna yang tersimpan memang tidak mudah, namun yakinlah bahwa engkau mampu.

Teman, perlahan, bukalah pintu hati yang sedang engkau bawa itu. Sibakkan tirai pada jendelanya yang sudah lama belum engkau kunjungi. Segera, bersihkan ruang pikiran yang sebelumnya penuh dengan debu-debu yang menghinggapi.  Lalu, bergegaslah untuk menggerakkan ragamu kian ke mari. Berbenah lebih tekun lagi, lebih rajin dari hari ke hari.  Ruang yang sedang engkau masuki kini, senantiasa sedia untuk menyambutmu kapanpun engkau mau menyinggahinya. Berlama-lama di sana, tentu lebih baik lagi. Mendekorasinya sesuai dengan apa yang engkau ingini, sangat baik. Namun, ketika ada yang memberikan masukan atas apa yang engkau usahai, maka tolong, hargailah.

Teman, ruang yang sedang engkau singgahi saat ini sedang mensenyumimu. Dengan pintu hati yang terbuka, engkau dapat merasakan segarnya angin dari luar yang bersemilir.  Ketika jendela terbuka, juga begitu. Dari sana, sirkulasi  udara akan terjaga. Sesekali, melangkahlah ke sana, buka jendelanya, kemudian nikmatilah waktumu yang paling berharga.  Engkau edarkan pandangan nun jauh ke hadapan. Sepanjang arah pikiran yang engkau ciptakan, terbentanglah jalan untuk engkau tempuh, kemudian. Dari sana, engkau menciptakan impian. Engkau ingin terbang bebas ke hadapan, melayang, ikut bersama angin yang tidak kelihatan. Engkau melanjutkan petualangan ke pulau harapan. Engkau berada di sebuah tempat yang selama ini hanya dapat engkau bayangkan. Engkau sedang berbahagia bersama para sahabat yang sedang melanjutkan perjalanan. Kalian bergenggaman tangan, melangkah bersama.

 “Hey! Teman-teman… pada mau ke mana?” saya menanyakan.

Mewujudkan impian, teman. Mau ikut?” salah seorang dari kalian memberikan tanggapan. Lalu, beliau mendekatiku.  Seraya mengulurkan tangan, beliau  menyampaikan salam.  Ramah senyumannya, teduh tatapannya. Sedangkan wajah itu, cerah! Sungguh cerah! Ia sedang tersenyum.

Ini bukan mimpi, kannnnnnnn…..?” seraya menyentuhkan bagian belakang telunjuk kanan ke pelupuk mata kanan,  saya berusaha mengingat.  Tapi seingatku, baru pertama kali melihat wajah ini.

Siapakah engkau yang sedang menyampaikan sapa?” belum  sempat ku menerima jawaban atas tanya yang datang tiba-tiba, sebuah telapak tangan menyentuh pundakku.  Saya berpaling. Ingin tahu keadaan.  Lembaran jemari yang masih menempel ini, milik siapa?

***

Teman, hidup ini begitu singkat! Lakukanlah hanya hal-hal yang bermakna. Berdiri berlama-lama, di depan sebuah jendela memang menyenangkan. Apalagi ketika dalam waktu yang bersamaan, sepoinya angin sedang menawarkan persahabatan. Ai!  Sungguh ini yang engkau harapkan. But, selain itu masih ada jadwal yang sedang menyediakan persahabatan. Masih banyak yang perlu kita kerjakan.

Sudah sekian lama engkau berdiri di depan jendela yang terbuka, apa yang sedang engkau lakukan, teman” bisik sebuah suara yang segera menyadarkanmu.  Suara itu sedang menyapamu. Suara itu datang padamu, untuk  menitipkan tanya. Bagaimana engkau memberikan jawaban atas tanya yang ia sampaikan?

Teman, sudahlah… ketika apa yang engkau inginkan ternyata belum lagi dapat engkau wujudkan, berarti itu belum merupakan kebutuhanmu. Tentu masih banyak hal penting yang perlu engkau laksanakan pada saat ini. Beraikanlah bakti atas keberadaanmu. Engkau sangat berarti.

Teman, meskipun engkau sedang berada dalam waktu malam yang gulita, namun tiada bintang-bintang yang berkelipan dari atas sana. Maka menjadilah engkau bintang-bintang yang menghiasi malam, dengan ingatan tertinggimu pada Rabb, kita. Karena, kita tidak dapat menyalahi keadaan, hanya menikmati. Selagi engkau  mau berusaha untuk menghayati apa yang sedang engkau jalani, maka engkau mampu memetik buah hikmah darinya. Ketika engkau  masih menyediakan kesempatan kepada harapan untuk menyala, maka engkau dapat memberikan bukti bahwa ia memang ada.

Teman, sekalipun pada siang hari, engkau belum lagi dapat menyaksikan cerahnya sinar mentari. Namun dengan menghadirkan ingatan pada-Nya, engkau sedang menerima terpaan hangat sinar mentari.  Hal yang sama sedang saya lakukan. Sebagai jalan untuk mencerahkan siang yang bermendung kelabu, hadirlah engkau di relung hati. Karena engkau adalah mentari di hatiku. Lalu, kalau malam juga begitu, saat kelam begitu menggulita, maka ingatan pada kerlipan sinar akhlakmu yang gemerlapan, menjadikan malam penuh dengan kesan. Engkau adalah jalan hadirkan ingatan pada-Nya. Sebagaimana mentari dan bintang-bintang yang merupakan ciptaan-Nya. Engkau juga.

Teman, setiapkali melihat mentari yang bersinar dapat menjadikan kita ingat pada Allah. Saat melihat kerlipan bintang-bintang di langit malam merupakan salah satu cara kita untuk mengembalikan ingatan kepada Allah. Maka, dengan mengingatmu juga merupakan jalan bagi saya untuk mengingat Allah. Karena engkau, aku dan alam-Nya yang sedang kita bersamai ini adalah sama-sama ciptaan Allah. Lalu, bagaimana mungkin kita tidak akan saling mengingat, kalau Pencipta kita adalah sama? Bagaimana kita tidak saling mengingatkan, kalau kita sama-sama meyakini bahwa dengan cara demikian, maka kita dapat merasakan kedekatan.

Mentari, bintang, memang sama-sama ciptaan Allah. Namun, mereka berbeda.  Ketika mentari bersinar pada siang hari, maka  bintang-bintang dapat terlihat pada malam hari. Begitu juga dengan kita. Walaupun kita sama-sama hamba-Nya, namun kita juga berbeda. Adalah tingkat ketakwaan yang menjadi pembeda kita di dalam pandangan-Nya.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S Al Hujurat [49]: 13)

 🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s