Hai, Engkau?


Hijau Berseri

Hijau Berseri

Hai, engkau.  Setiap kali azan berkumandang, aku teringat padamu. Suaramu nan merdu kembali terngiang di telingaku. Jadi kini, kerinduanku padamu kembali terobati, yaa.

Hai, engkau. Adakah sekarang engkau masih seperti dirimu yang pernah aku kenal? Mengumandangkan panggilan suci dengan irama suaramu nan membuai. Menyerukan perintah Ilahi kepada hamba-hamba-Nya. Ini dulu, bagaimana dengan saat ini, semoga senantiasa, yaa.

Hai, engkau. Terima kasih, yaa.

***

Hai, engkau. Bukankah tujuan hidup kita adalah meraih ridha Ilahi. Bukan karena yang lain, kan? Dan ketenangan hati, kenyamanan serta kelegaan pikiran itulah kebutuhan kita dalam menjalani kehidupan ini. Walau bagaimanapun keadaan yang sedang kita jalani saat ini, meskipun di mana engkau berada, kalau di sana engkau dapat merasakan ketenteraman hati, maka nikmatilah. Ketika engkau bisa menjalankan ibadah dengan baik, bersyukurlah selalu. Karena semua itu adalah anugerah dan karunia terindah dari-Nya, untukmu.

Hai, engkau. Ikutilah kemana arah kehidupan membawamu. Dan kendalikanlah kecepatannya dengan iman, sabar, tabah dan takwamu. Selalulah ingat pada-Nya. Karena Allah Yang Maha Baik, selalu memberikan yang terbaik untukmu.

Hai, engkau. Teruskan baiknya prasangkamu kepada-Nya selalu. Jagalah hatimu dan jalanilah waktu demi waktu yang sedang engkau temui dengan tenang. Berpikirlah lebih indah tentang hari esok yang kan engkau temui.

Hai, engkau. Masih ingatkan? Bahwa kehidupan ini adalah rangkaian perjuangan yang perlu terus kita hidupkan. Sebagai kesempatan untuk mempersiapkan diri sebelum akhirnya kita kembali pada-Nya.

Hai, engkau. Yang menjalani hari dengan penuh keikhlasan, engkau benar bermanfaat dan berguna bagi alam-Nya. Engkau yang sedang merasakan bahwa waktu yang sedang engkau jalani adalah rangkaian nikmat yang terus bersambungan dari detik ke detiknya. Engkau wujudkan rasa syukurmu dengan terus bekerja memberikan yang terbaik. Ya, kebaikanmu memang terkadang tidak terlihat, namun terasa.

Hai, engkau. Ingatku pada lembaran wajahmu sedang menyelimuti pikiranku. Jadi, saat ini ku sedang menyapamu dan menyampaikan ucapan salam lewat semilir angin malam. Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya. Berharap pada suatu  hari yang cerah, kita dapat berjumpa dan melepaskan senyuman yang lebih indah. Menitipkannya melalui denting dawai kasih sayang yang terpancar menyelingi cakap suara.

Hai, engkau. Semoga ingatan ini menjadi lebih kuat lagi dalam menguntai benang yang menghubungkan kita. Tolong maafkan dan relakan saat ini kita berjauhan. Doakanku selalu, agar dapat tabah, teguh, dan bertumbuh subur kesabaran dalam meniti masa yang sedang berlangsung. Begitu indahnya mengalirkan ingatan ini, membuat waktu seakan tersenyum menemani. Adakah engkau mengalami hal yang serupa?

Hai, engkau. Ketulusan dan keikhlasanmu menyampaikan sapa meskipun hanya lewat doa sangat membantuku dalam menjalani hidup dan menghadapi setiap corak warna serta liku langkah yang menjejak dunia. Ya, saat ini, ketika ku jauh darimu. Hanya raga.

Hai, engkau. Banyaknya kenangan yang tercipta selama kebersamaan kita, tidaklah mengapa, yaa kalau kita mengurainya satu persatu. Setiapkali kita mengingat kebersamaan itu, maka menjadikannya sebagai perantara adalah pilihan. Ya, dengan mengenangkannya, kita dapat kembali merasakan keadaan yang sama. Serupa, seumpama mengalami untuk kedua kalinya. Karena ia begitu jelas menembangkan senandung dalam memori ini.  Indah alunannya, menembang bahagia. Lembut gerakannya, menyemburatkan senyuman penuh ketakjuban. Kita pernah ada bersamanya. Ya, masa indah yang tidak terlupa adalah saat-saat menikmati kebersamaan. Adakah engkau mengingati setiap kata yang mengalir selama kita bertukar suara? Dapatkah engkau menyimak dengan sepenuh hati, makna dari kisah yang pernah kita uraikan?

Hai, engkau. Kita pernah menulis kalimat yang sama pada lembaran yang satu. Tentang cita, harapan dan keinginan untuk mewujudkan tekad. Kita ingin lebih baik di masa depan, maju terus untuk meneruskan langkah-langkah penuh perjuangan. Meskipun di dalam prosesnya tidak sedikit rintangan dan halangan yang menghadang. Ai! Bersamanya timbullah kesan yang penuh dengan ekspresi. Terkadang kita menangis bersama, lebih sering tersenyum saat menatap dunia. Lalu, kita terlarut dalam tafakur pada waktu-waktu tertentu. Ada bening bulir mutiara kehidupan menemani ketika itu. Ia menawarkan kesejukan. Alirannya mengantarkan kita menuju ingatan pada muara niat.  Lepaslah semua, mesti tanpa bekas. Seiring dengan deburan gemuruh yang bersahutan, kita berkata, “Bisa!.”

Hai, engkau. Janjimu untuk menjadi jalan hantarkanku pada bahagia, terus engkau upaya. Berjanji untuk menjadi anak yang shaleh, rajin, tekun dan ulet. Bersama usaha  dan doa kita, rengkuhi sukses. Aamiin ya Rabbalalamiin. Sebait kalimat yang kita yakini dengan sejujurnya, kita ingin bermakna. Sebagaimana cita yang terpatri, ia perlu menjadi nyata. Indahnya mengenangkan semua.

Hai, engkau. Engkau pernah bilang padaku, bahwa jalan hidup kita memang berliku. Di tiap tikungan, kita akan bertemu dengan pemandangan baru.

“Lihatlah jauh ke depan, di sana adaview yang berbeda,” begini engkau berucap.

“Ketika engkau temukan belokan atau persimpangan, sempatkanlah waktu untuk memilih jalan terbaik yang engkau yakini,” begini engkau menambahkan.

“Ketika jalan di hadapan lurus membentang, berjalanlah dengan tenang, tersenyumlah,” dengan wajah penuh kedamaian, engkau kembali menyampaikan sebaris kalimat, padaku.

“Tujuan yang telah engkau pancangkan, menjadi pengungkit nyali, saat engkau bertemu dengan jalan yang mendaki. Bukankah melihat alam dari ketinggian, sungguh menarik?,” dengan nada bertanya, engkau mensenyumiku. Engkau pamerkan gigi-gigi serimu yang berbaris rapi. Engkau sungguh manis. Masihkah saat ini senyuman itu engkau tebarkan? Senyuman yang mampu membuatku tersenyum saat mengingatnya.

Engkau seringkali mengalirkan beraneka jenis kalimat untukku. Aku suka, dan ku titipkan beberapa diantaranya, pada lembaran diariku yang saat ini telah usang.

“Tiada insan yang sempurna segalanya. Selagi kita ada di dunia, akan pernah berbuat khilaf. Kekhilafan inilah yang dapat menjadi jalan ingatkan kita pada kebenaran. Maka, jadikanlah kesalahan pada hari ini sebagai pelajaran sebelum melanjutkan langkah di masa datang. Jangan ulangi lagi kesalahan pada hari ini, esok hari. Ingatlah selalu bahwa kita bisa cerdas karena sanggup belajar dari pengalaman yang tercipta sebelumnya. Lalu, jadikanlah ia sebagai acuan untuk melakukan yang terbaik,” ucapanmu yang mengalir, saat ini sangat rapi tertulis, di dalam diariku.

“Ingat! Jangan pernah putus asa, ragu dan kecewa. Karena semua itu akan mematikan semangatmu. Akan tetapi, peganglah hari ini sebagai hadiah terindah yang engkau terima. Lalu, jalanilah kebersamaanmu dengan hadiah terindahmu. Ukirlah sebaik-baik prestasi di dalamnya. Perhatikanlah bagaimana cara yang engkau pilih dalam memanfaatkannya. Sentuh ruang jiwamu, saat ia melakukan aktivitasnya. Agar ia dapat mempersembahkan yang terbaik dari apa yang ia usahai. Serahkan semua hasil yang engkau peroleh pada sesiapa saja yang engkau mau, lalu tersenyumlah pada para pahlwanmu itu,” ramai kata-kata yang mengalir dari bibirmu.

Sekali lagi, ku sempatkan waktu melayangkan pandang pada wajahmu. Matamu yang tidak terlalu sipit, menggerakkan kedua bola hitam yang menari di dalam kelopaknya.  Sesekali engkau lemparkan pandanganmu nun jauh ke hadapan. Engkau menerawang arah. Engkau tidak menatapku. Engkau asyik dengan pikiranmu. Namun, engkau sangat peduli padaku. Engkau kembali lanjutkan kalimat-kalimatmu yang sedari tadi sempat terhenti.

“Jangan pernah merasa kecil dan rendah diri. Karena kita adalah sama-sama makhluk ciptaan-Nya. Kita berasal dari bahan yang sama. Jadi, mengapa harus merasa bahwa diri kita tidak seberuntung mereka di sana?  Kenali apa saja kekurangan kita, kemudian pahami kelebihan kita. Ketika mereka bisa, kita juga bisa. Renungkanlah…,” engkau menunduk.

Aku senang memandang ekspresimu yang seperti ini. Engkau menjadi begitu indah di mataku. Engkau sungguh mempesona.

“Motivasilah diri selalu, dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat dan menambah semangat dalam melangkah. Allah memandang kita dari ketakwaan, bukan dari banyaknya harta, kecantikan ataupun tutur kata. Menjadilah hamba-Nya yang bertakwa. Dengan demikian, engkau sedang merintis jalan menuju kemuliaan. Allah senantiasa Menolongmu, berdoalah pada-Nya dalam banyak waktumu,” engkau meraih tanganku. Engkau menggenggam jemariku.

“Jangan pernah menyerah sebelum berjuang!” inilah kalimat penegasan yang engkau titipkan padaku. Setelah itu, engkau menghilang dari pandanganku. Engkau pergi. Engkau menjauh. Engkau tidak lagi bersamaku. Engkau berjalan, meneruskan langkah-langkah kakimu. Selamat melanjutkan perjuangan, yaa. Semoga kita dapat kembali bersua. Untuk ku menghayati baris-baris kalimat yang mengalir dari ruang jiwamu. Aku senang mendengarkan suaramu itu. Aku bahagia saat menyimak bulir-bulir nasihat yang engkau tebarkan. Semuanya masih ada hingga saat ini. Walaupun ragamu tiada di hadapan. Namun, kini, kita sedang bercakap. Ku titipkan ia di sini, untuk mengingatkanmu bahwa engkau pernah menyampaikan hal yang sama, padaku.

Hai, engkau. Kini… kembali ku rindu dan ingat padamu. Juga pada nuansa alam pedesaan tempat kita berada dulu. Ya, masa kecil hingga remaja yang membuatku ingin mengenangkannya.

Alunan azan yang ku dengarkan di sini, seakan itu adalah getar pita suaramu.

Hai, engkau. Seorang yang begitu berkharisma di mataku. Seorang yang pernah menitipkan bait-bait nasihat untukku. Nasihat-nasihat yang membuatku menitikkan airmata saat membacanya lagi. Aku pernah menuliskannya, begini:

Hidupmu bukanlah perjalanan hidupku.

Begitu pula dengan hidupku yang bukan hidupmu. Namun, selagi kita ada, maka hidup kita adalah kehidupan kita.  Tentang kita yang sedang mengarungi masa di dalamnya. Tidak kita mengetahui akan bagaimana selanjutnya. Tapi, kita tidak boleh pangling saat bahagia. Jalani saja dengan sekadarnya. Walaupun engkau hadapi kondisi yang sangat asing bagimu, Insya Allah kalau kita selalu mengingat-Nya, semua akan menjadi biasa.

Hidupmu bukanlah hidupku.

Ingatlah Ayah Bundamu selalu. Ke manapun engkau akan melangkah, dan apapun yang akan engkau lakukan, bayangkan tatapan beliau terhadapmu. Supaya engkau senantiasa di jalan yang benar.

Hidupmu bukanlah hidupku.

Ingatlah nasihat kedua orangtuamu. Tentang harapan dan pandangan mata yang menatapmu. Ingatlah betapa harunya beliau padamu, ketika beliau tahu bahwa engkau melangkah di jalan ilmu. Pintalah restu beliau selalu, lebih sering… Dengan demikian, engkau sedang merambah jalan yang menawan hati. Teriknya mentari tidak akan terasa lagi, karena engkau sedang melangkah di bawah pepohonan nan rindang.  Naungan yang engkau rasakan dari waktu ke waktu, sangat erat kaitannya dengan doa orangtuamu.

Hidupmu bukanlah hidupku.

Ingatlah waktu. Ia sangat berharga. Jangan buang waktumu untuk hal-hal yang akan tersia. Akan tetapi manfaatkanlah ia dengan baik. Temanilah setiap tarikan dan hembusan nafasmu dengan ingatan yang berlebih pada-Nya. Semoga engkau lebih bahagia dari waktu ke waktu.

***

Seseorang yang mempunyai kelebihan di mata kita, boleh kan? Kita menjadikannya sebagai idola. Baik kelebihan dari cara berjalannya yang bak peragawan, dari tingkah lakunya yang mengesankan, serta penampilannya yang rupawan. Bentuk tubuhnya atau wajahnya, serta suara dan atau tutur katanya yang ramah dan sopan, dapat menjadi jalan bagi kita untuk menghadirkan ingatan pada sosok yang demikian.  Begitu mudah mengalirkan ingatan pada hal-hal yang menempel padanya. Lalu, kita mengenangkan kebersamaan dengannya kalau kita sudah pernah berjumpa dan menjalani waktu bersama. Atau, kita hanya dapat mengalirkan rangkaian pikiran yang hadir, pada tokoh yang barusan.  Ilusi.

Ingatan yang hadir, dapat menjadi jalan bagi kita untuk menghadirkan rangkaian tulisan. Memang tidak ada manusia yang sempurna segala-galanya. Namun, bagaimanapun juga setiap insan pasti mempunyai kelebihan. Baik yang tertangkap oleh mata dalam nyata, maupun dari bayangan. Adapun kelebihan tersebut, membuat kita sangat menginginkan agar ia abadi bahkan lebih banyak lagi. Kelebihan yang apabila kita pupuk dan rawat dengan semaksimal usaha, maka ia menjadi jalan tersenyumnya kita lebih indah lagi.

Lalu, bagaimana halnya dengan kekurangan insan? Setiap kita pasti mempunyai kekurangan. Baik yang kita sadari dengan ingatan yang jelas, maupun yang kita ketahui dari orang lain. Menjadikan kekurangan sebagai pengingat diri agar kita meliriknya sesekali saja, maukah kita?

Di dunia ini, kelebihan dan kekurangan senantiasa ada. Selanjutnya adalah kemauan kita dalam membersamainya. Sehingga terselip kesan tentang diri kita, atas kelebihan dan kekurangan yang kita punya tersebut. Bagaimana kita memakai kelebihan dalam beraktivitas? Bagaimana pula porsi kekurangan yang kita pergunakan dalam menjalani hari? Banyak sedikitnya penggunaan kelebihan dan kekurangan merupakan langkah yang kita tempuh untuk mengenali siapa kita.

***

Sampai saat ini, tetanggaku menjadi idolaku.  Idola yang menjadi pengingatku. Tetangga yang merupakan alarm dalam kehidupanku. Tetangga yang di mataku, beliau mempunyai banyak kelebihan dan juga kekurangan. Kelebihan yang beliau pakai lebih banyak, menimbulkan kesan tentang siapa beliau, bagiku. Adapun kekurangan yang tidak begitu terlihat, tenggelam dalam lautan kelebihan yang terus beliau jaga keberlimpahannya.

Ketika dahulu, tetanggaku adalah laki-laki yang mempunyai kelebihan dengan suara indahnya setiapkali mengumandangkan azan. Maka saat ini, tetanggaku adalah perempuan yang mempunyai kelebihan dengan merdu suara indah yang beliau alirkan setiapkali membaca Al Quran.  Luruh buliran permata kehidupan secepat-cepatnya, setiapkali beliau mengumandangkan suara jiwa dengan syahdunya. Damai alam disekitaran, setiapkali beliau melantunkan ayat-ayat yang menyejukkan.

Semoga, ketika nanti kami telah berjauhan lagi, saya ingin kembali berdekatan dengan beliau-beliau yang bersuara merdu. Semoga tetangga berikutnya yang akan menjadi idolaku adalah beliau-beliau yang mampu meluruhkan permata kehidupan dari ujung mata ini, lebih mudah lagi. Semoga tetanggaku itu adalah engkau, teman. Engkau yang saat ini meski belum bertemu, semoga kita dapat bersama pula dalam nyata.  Meskipun dalam ingatan. Karena tetanggaku adalah idolaku. Dan aku sangat ingin menjadikanmu salah seorang dari idolaku. Idola…😀 Ku ingin kembali mencairkan suara jiwa tentang idola yang menjadi jalan hadirkan tulisan berikutnya.

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (Q.S An Nisa’ [4]: 36)

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s