Secepat Itukah?


Warna yang berbeda

Warna yang berbeda

Lantunan ayat-ayat penyejuk jiwa, sedang ia simak dengan maksimal. Al ma’surat sore, menyelingi deru gemuruh yang menyentakkan jiwanya, segera. Lalu, mengalirlah tanya dari bibirnya yang sedari tadi mengatup, “Secepat itukah?”.  Ia menanya pada sesosok wajah yang sedang duduk di hadapannya, yang segera mengangguk.

Belum selesai kisah yang sedang kita rangkai. Hari ini kita masih ada di bumi, untuk mengabadikannya satu persatu. Baik, kalau memang ini yang engkau pilih. Seyakin-yakinnya engkau, teruslah menjadikannya bermakna. Karena engkau bisa, teman.

Tidak banyak lagi kata yang mampu ia suarakan. Hanya beberapa patah kata yang sempat ia susun, mengalir dengan lembutnya. Setelah itu, ia pun tertunduk. Diam, mengikuti alur pikiran yang menggantikan peran suara. Ia sedang menyelami lautan kehidupannya saat ini. Bukan ia tidak mau meneruskan pandangan mata yang semulanya menjadi jalannya menatap dunia. Namun, memang inilah yang telah ia putuskan. Banyak yang menyayangkan apa yang ia pilih. Semoga menjadi yang terbaik, untuk semua.

Masih kelu, tanpa suara. Ia menekur, teruskan pikiran yang sedang menerawang. Buat apa semua ini ada? Apakah hikmah yang sedang ia bawa?

“Tidak banyak waktu yang kita punya, mari kita mengabadikannya dalam catatan hari ini, teman,” ajaknya pada beberapa sahabat yang sedang memperhatikannya sedari tadi.

Beberapa perlengkapan telah ia siapkan. Tetesan rasa sedang memancar. Titik-titik imajinasi, sedang mengendalikan apa yang sedang ia pikirkan. Berlama-lama dalam kondisi sebelum ini, bukanlah tujuan kita ada di sini. Sekehendak jiwa memberaikan apa yang ia mau. Semaunya menyampaikan apa yang ia tahu. Sekiranya masih ada yang perlu kita selesaikan, baiklah kita menyelesaikannya lebih segera. Karena tidak pernah kita mengetahui tentang waktu yang sedang kita jalani saat ini. Akankah kita dapat berjumpa lagi setelah kebersamaan ini? Bukankah waktu bergerak sungguh melesat. Apakah yang dapat kita perbuat dalam kesempatan yang hanya sesaat?

Tidak perlu lagi mengajukan banyak tanya, ia segera melipat suara. Karena anggukan di seberang sana, telah menjelaskan semuanya.

“Iya, semoga engkau mengerti,” begini jawaban yang ia terima atas tanya yang  tadi ia ajukan.

“Bukankah kita hanya dapat berencana, sedangkan Kehendak-Nya adalah penenang terbaik. Apabila ada dari rencana kita yang belum menjadi nyata,” barisan kalimat berikutnya, menyentuh dinding hatinya. Ia simak dengan sepenuh hati. Ia belajar memahami atas bahan ajar yang baru saja ia terima.

“Kalau memang engkau yakin dengan segala yang engkau pilih, teruskan saja. Karena saya yakin, engkau dapat menentukan bagaimana yang seharusnya engkau jalani. Namun, satu hal yang tidak boleh engkau abaikan adalah tentang peran tunggal Sang Pemilik Keputusan. Engkau perlu menyadari akan hal ini, segera. Ketika nanti engkau mengalami hal-hal yang berada diluar rencanamu. Ok?,” dengan nada meyakinkan, ia bangkit. Ia layangkan pandangan sangat jauh ke hadapan. Ya, keberadaannya kini, sangat cocok untuk meneruskan pandang. Karena tepat di hadapannya ada hamparan pemandangan yang luas membentang. Di ujungnya, terlihat jejeran pegunungan yang tidak terlihat jelas, memang. Nuansa alam yang penuh dengan kesejukan. Angin bersemilir, segera memberikan bukti bahwa mereka ada bersamanya.

“Saya memang bukan siapa-siapa bagimu, namun satu kesan yang kita jalani dalam kebersamaan ini, membuat rasa hati awalnya sangat berat untuk melepasmu. Baiklah saya mengatakan hal ini, agar engkau tahu tentang apa yang sedang bersemayam di dalam jiwaku ini. Agar engkau pun mengerti akan makna kehadiranmu bagi diri ini. Agar engkau dapat menemukan di bagian mana posisimu di sini,” Ia menyentuhkan telapak kanannya ke dada. Setelah itu, bibirnya kelu. Ia tidak mampu berucap lagi. Sedangkan permata kehidupan, segera bertebaran membasahi kedua pipinya yang pualam.

Tetesan bening mutiara kehidupan masih tersisa, menganak sungai. Ia tidak dapat membendungnya. Banjir yang tercipta seketika, membuat sosok yang sedang duduk di hadapannya, mengalihkan pandang. Kemudian, ia berdiri, melangkah pelan ke arah kanan. Kedua tangannya sedang bersatu di belakang. Ia sungguh rupawan, dalam langkah-langkahnya yang sedang tidak tegap begini.

Siapakah sosok tersebut?

Kalau melihatnya dari arah belakang, kita tidak akan pernah tahu tentang siapa beliau. Karena, kostum yang ia pakai sedang menutupi sekujur tubuhnya. Pakaian yang longgar, membuat lekukan pada tubuhnya tidak terlihat sama sekali. Ditambah lagi dengan selembar mantel yang sedang ia kenakan. Mantel bulu yang lucu, warnanya putih. Ai! Sosok tersebut sangat suka dengan warna putih. Karena baginya, warna putih identik dengan kebersihan. Warna putih terlihat penuh dengan kecerahan. Bening tanpa warna. Ya, seperti hari ini yang sedang ia alami. Ada putih menyelingi sebagian waktunya.

“Lalu, maukah engkau menitipku bait-bait pesan, sebelum waktu itu datang?,” ia beranikan diri untuk menyampaikan pinta pada sosok yang saat ini sedang berdiri membelakanginya.

“Agar dapat saya menjadikannya sebagai prasasti terindah darimu. Sebagai jalan bagi kita dalam merangkai kisah bersama untuk memanfaatkan kesempatan di sisa-sisa kebersamaan ini. Saya ingin ia ada. Agar ia dapat menjadi kenangan tentangmu. Agar prasasti yang tercipta setelah saat ini, dapat menjadi pengingatku padamu. Maukan?,” ia meneruskan kalimat berikutnya, berisi pengajuan, meminta persetujuan.

Sang sosok tersenyum. Kemudian membalikkan badannya seratus delapan puluh derajat dari posisinya semula. Terlihat mereka sedang berhadapan. Senyumannya semakin lebar, ketika ia menyaksikan, wajah yang sedari tadi bertaburan bulir-bulir bening, menatapnya penuh. Di selembar wajah pualam, juga ada senyuman.

Ia tangkupkan kedua telapaknya, kemudian membawanya lebih tinggi. Telapak yag menangkup, sedang berdiri di depan wajahnya. Senyumannya makin mekar. Senyuman yang menandakan persetujuan, meskipun belum ada suara yang ia ucapkan.

***

Berulangkali, saya mengalami bagaimana rasanya ditinggalkan. Ai! Sungguh haru, sendu, menyentuh ruang hati ini, teman…. Hiks. Beberapa waktu yang lalu, terjadi lagi perpisahan. Yah, salah seorang sahabat kami yang menjalani waktu bersama, ingin meneruskan langkah-langkah perjuangannya, tidak lagi di sini. Saya yang baru mengenalnya beberapa bulan saja, sungguh tertohok. Ada seberkas jejak yang ia selipkan pada ruang hati ini. Ada sejumput harapan yang ia bawa, untuk ia tebarkan dalam menjalani hari-hari. Ada sebentuk pinta yang saya titipkan pada beliau juga. Beberapa saat setelah beliau datang.

Siang yang begitu terik, memang. Saat saya menerima sebuah informasi. Bahwa akan ada di antara kami yang akan melangkah dari sini. Awalnya, saya belum terlalu yakin atas keputusan yang beliau ambil. Namun, setelah menanyakan langsung kepada yang bersangkutan, ternyata benar. Beliau tidak akan lagi di sini, bersama kami. Ini berarti, akan terjadi jarak yang membentang di antara kami. Raga yang selama ini berjarak cukup dekat, hari ini telah berjarak sungguh panjang. Ai! Sepanjang waktu yang sedang kami jalani saat ini, hingga pada waktu-waktu yang akan datang setelah saat ini, sejauh itulah jarak yang membentang di antara kami.

Ada sebuah sapa yang terhadirkan dari ruang jiwa, pada beliau di sana. Sapa yang menandakan bahwa keberadaan beliau sangat berharga. Walaupun tidak lama, dalam nyata.

Ada sudut jiwa yang menggemuruh, ketika ia menerima kabar tentang perpisahan. Walaupun sebenarnya, hanya raga. Sedangkan jiwa-jiwa kita telah lama bersama, meskipun belum pernah bertatap sekalipun. Dengan keyakinan ini, akhirnya saya kembali tenang. Yes! Putusanmu adalah yang terbaik untuk saat ini dan nanti, teman. Selamat melanjutkan langkah. Selagi kita masih dapat saling mengingat, maka selama itu pula kita sedang bersama. Karena kebersamaan yang telah tercipta, akan selamanya ada di dalam ingatan kita.

Ini untuk ke sekian kalinya, saya menyampaikan kabar tentang perpisahan. Perpisahan raga dalam jarak yang tidak lagi sedepa. Akankah kita dapat kembali jumpa, wahai sosok berkacamata? Hahaha… siapakah engkau yang baru-baru ini meninggalkan kami?  😀

Yah! Saya sangat berkesan dan terkesan dengan keputusan yang telah engkau ambil. Sehingga sekata dua kata dari kesan yang menyelip di relung hati ini, mampir pula ke mari. Agar ia abadi dan memprasasti, itu saja. Semoga ia dapat menjadi jalan yang mengingatkan kita satu sama lainnya, yaa. Semoga engkau dapat menemukan jalan baru yang lebih menawan untuk engkau tempuhi dalam meneruskan langkah perjuangan. Agar, banyak cita yang telah engkau patri di ruang hari-harimu, dapat tercapai dengan berhiaskan aneka kemudahan. Walaupun tidak lagi di sini, semoga saya masih dapat mengetahui bagaimana perkembanganmu.

“Baik, semangat dan sukses, yaa…,” begini bunyi sebaris kalimat yang mampu saya ungkapkan, pada detik-detik sebelum beliau berangkat. Buat beliau, sosok berkacamata. Ai! Bapak Ade, terima kasih atas perannya, bantuan dan kerjasamanya selama kita bersama. Walaupun tidak lama kesempatan yang dapat kita manfaatkan, namun ia sangat berharga. Walaupun belum banyak kenangan yang terangkai atas kebersamaan ini, namun beberapa diantaranya pasti ada.

Berikut ini adalah bait-bait harapan yang menjadi kenangan di relung jiwaku.  Hasil dari kontemplasi bertemakan perpisahan dengan beliau, salah seorang teman berbagi saat menjalani aktivitas. Agar ia ada, baiklah menetes di salah satu catatan ini…

Saat kehadiranmu untuk pertama kali, satu kesan yang saya ingat adalah tentang senyuman. Senyuman yang menebar dengan mudahnya dari helai wajahmu, semoga senantiasa ada yaa. Tersenyumlah dalam menjalani hari, walau bagaimanapun warnanya. Karena dengan tersenyum, kita dapat membuat hari bermendung menjadi berseri-seri. Buktikanlah!

Kedua, adalah tentang semangat berbagi. Engkau yang seringkali saya repoti dengan pertolongan-pertolongan, dengan titipan-titipan dan permintaan-permintaan, semoga merelai. Apabila ada di antara ucap bibir ini yang terkesan dan sampai ke hati, tolong maafkan yaa. Tanpa garansi!

Sebelumnya, saya senang saat ada tiga orang sosok baru yang hadir dalam kehidupanku untuk menjalani hari. Beliau yang akan menjadi bagian dari hamba-hamba-Nya. Dan salah seorang dari ketiga sosok tersebut adalah engkau. Namun kini, engkau telah menjauh, pergi. Semoga beliau berdua yang saat ini masih ada, dapat memberikan bukti, tanpa janji!

Selama empat hari, saya belum lagi mau menulis di sini, hingga akhirnya catatan hari ini tercipta. Karena, saya sedang merenungi akan keberadaan diri. Bagaimana dengan saya? Apakah akan mengambil keputusan yang senada? Seperti engkau yang terlebih dahulu telah memutuskan untuk melangkah pada jalan yang lain. Ai!

Paragraf ini adalah kesan ke lima dari hasil perenungan yang terjadi, yaitu tentang kerelaan hati untuk mengabdi, tentang loyalitas dan kesetiaan. Saya ingin memberikan bukti, bahwa selama kita masih mau mengintrospeksi diri, maka kita dapat menemukan beraneka alasan untuk kembali meneruskan perjuangan. Walaupun terkadang, jalan yang kita tempuhi berlubang, berbatu, berkerikil tajam yang menusuk. Semoga, ada kesediaan hati untuk kembali memberikan sebaris jawaban, saat pikir menanyai, “Mengapa engkau masih di sini?”

Kita tidak pernah tahu tentang bagaimana kisah yang akan kita jalani selanjutnya. Namun, berbekal kepercayaan kepada rukun iman yang jumlahnya enam, maka kita dapat menjalani hari dengan sepenuh hati.

  1. Beriman kepada Allah
  2. Beriman kepada malaikat-malaikat Allah,
  3. Beriman kepada kitab-kitab Allah,
  4. Beriman kepada Rasul-Nya
  5. Beriman kepada hari akhir
  6. Beriman kepada qada dan qadar

Kesan ke tujuh tentang perpisahan yang telah terjadi, mengingatkan diri ini pada satu hari yang pasti terjadi. Hari perpisahan yang tidak dapat lagi kita tolak walau dengan alasan apapun juga. Hari pasti yang merupakan pengingat diri, agar ia segera menyadari, tidak selamanya kita mengalami keadaan demi keadaan ini. Kalau saat ini kita bertemu, bersama dan kemudian menjalani hari dengan senang hati, akankah kita yakin dapat kembali mengiringi kebahagiaan sampai nanti?

Bagaimana kita menyadari tentang silih bergantinya cuaca dan iklim dalam hari-hari? Dapatkah kita meluaskan cara pandang akan beraneka kesan, pesan, dan kenangan yang kita alami saat ini? Bagaimana kita memberikan tanggapan atas segala pinta diri, ketika yang terjadi malah sebaliknya. Ya, bukan seperti itu yang sesungguhnya kita ingini. Kita maunya hal yang berbeda. Kita inginnya yang lain. Kita bisanya apa, tanpa pertolongan dari-Nya?  Wahai diri, . . .

Tanggal delapan belas, adalah hari ini. So, apakah yang telah kita lakukan pada hari ini? Bagaimana kita memanfaatkan waktu terbaik yang kita temui pada hari ini? Bagaimana kalau hari perpisahan yang pasti, menemui kita segera? Sudah maksimalkah persiapan kita dalam menyambutnya? Bukankah kita tidak pernah tahu, tentang rencana Ilahi? Jalanilah detik demi detik waktumu dengan sepenuh hati, nikmati hadirnya dengan melakukan yang terbaik, setelah itu, engkau dapat menyaksikan hasil yang terbaik.

Sembilan gelembung yang ada di dalam gambar di atas, untuk mengingatkan diri ini, tentang sembilan hasil kontemplasi setelah lebih dari dua hari belum lagi ngeposting di sini. Xixiixxixiii…. 😀 Adapun hasil kontemplasi yang ke sembilan adalah tentangmu yang saat ini sedang membaca catatan ini. Tolong maklum dan mengerti atas segala yang tercipta. Karena bait-bait yang ada, merupakan pengingat kita untuk segera mengingat akan hari perpisahan yang abadi. So, bukan saatnya lagi mentangisi perpisahan, baiklah kita mengambil sebuah catatan untuk kita tulisi. Lalu, kita beraikan apa yang sedang kita alami tentang satu kata ‘Perpisahan’, di dalamnya.  Setelah itu, baca kembali apa yang telah kita tulis, dengan wajah yang berseri-seri.

Wahai hati, kita sedang memprasastikan salah satu kesan dalam kehidupan. Ia telah menjadi prasasti. Ia ada untuk menjalankan misi yang pernah kita rangkai sebelum saat ini,

“Mempelajari, menghayati, menikmati alam dan mengabadikan hasil yang diperoleh dalam bentuk catatan-catatan sebagai prasasti eksistensi, menciptakan kedamaian setiap detik waktu dalam menjalani hari, menjalin keakraban dalam berinteraksi dengan alamNya, mengaplikasikan hasil yang telah diperoleh selama masa pembelajaran dalam keseharian.”

For, Nai… specially, “Tersenyumlah sayang… karena engkau sedang berbagi.”

Bukankah berbagi itu adalah aktivitas yang sangat menyenangkan, teman. Dan catatan saat ini, tercipta karena saya ingin membagikan segala yang sedang menari-nari di dalam pikiran, sebelum ini. Alhamdulillah, sekarang rasanya lebih ringan. Semoga ada manfaatnya, walaupun secuil hikmah, yaa.

🙂 🙂 🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s