Urip Kuwi wang-Sinawang


Pandang Hidup dan Optimisme

Pandang Hidup dan Optimisme

Itulah salah satu gunanya mata. Agar kita dapat saling memandang. Dalam artian, melayangkan perhatian pada kehidupan yang sedang berlangsung di sekitar kita. Hingga akhirnya, kita dapat memperoleh bahan pelajaran dari apa yang kita pandang. Mesti memandang yang bermakna, walaupun memandang dengan tidak biasa. Bukan pandangan yang tanpa harga, pun tanpa arti dan tujuan. Memandanglah apapun yang ingin kita pandang. Namun yakinkan pula bahwa kita sedang memandangi hanya hal-hal yang dapat membawa manfaat bagi keberlangsungan hidup. Tidak hanya kehidupan kita saja, namun juga kehidupan sesiapapun yang sedang berada di sekeliling kita. Termasuk keberlangsungan hidup objek apa yang sedang kita pandangi.

Memandang, tentu saja ada batasannya. Namun, untuk membatasi makna atas hasil pandangan yang sedang kita sampaikan, tentu tidak akan. Karena, setelah pandang memandang terjadi, maka kita dapat memberikan pemaknaan pada hasil pandang. Bukankah kita ingin menemukan kemanfaatan?

Ada banyak objek yang dapat kita pandangi dari waktu ke waktu. Banyak jenis warna yang menyediakan kesempatan untuk menghiasi pandangan kita. Untuk selanjutnya, tergantung kepada bagaimana cara kita dalam menyampaikan pandanganlah, yang menentukan bagaimana kehidupan kita selanjutnya. Ketika kita terlarut dalam pandangan yang kita ciptakan sendiri, maka kita akan sangat mudah untuk tenggelam di arusnya. Kita dapat menghilang bersama larutan pemandangan yang sedang kita aduk di dalam rongga pikir. Kita tergoda dengan rasa dan aroma yang ia hadirkan. Lalu, akankah kita selamanya bersama dengan hasil pandangan yang kita ciptakan tadi? Lalu, kapan kita mau memandang kondisi yang ada di luar sana? Bukankah kehidupan kita adalah saling memandang, agar kehidupan menjadi semakin terasa hidupnya?

Dari aktivitas memandang, kita dapat menemukan pesan-pesan, kesan-kesan dan kenangan-kenangan yang baru. Ya, kenangan, kesan, dan pesan yang tentu saja sangat berbeda dengan yang sebelumnya telah kita tahu. Memandanglah kapanpun engkau  mau. Dengan demikian, beraneka hasil akan engkau peroleh untuk menjadi bekal dalam memperindah perjalanan hidup ini.

Untuk dapat memandang, kita perlu membuka mata lebih sering.  Dengan membuka mata, kita dapat menyaksikan betapa banyaknya jenis pemandangan yang ada di sekitar. Namun, berlama-lama membuka mata untuk satu kali pandangan, tentu kurang baik untuk kesehatan indera yang sedang menatap. Ia akan menjadi kering, dehidrasi karena kekurangan cairan, ataupun iritasi karena kemasukan debu dan kotoran. Ingat, bahwa alat pandang yang sedang kita gunakan, sangat membutuhkan penjagaan dan perawatan terbaik dari kita yang sedang memakainya.

Ketika kita lelah dalam memandang, bolehlah sejenak mengedip-ngedipkan mata. Bolehlah kita menguceknya untuk menyadarkan bahwa ia sedang berhadapan dengan kenyataan, bukan lagi impian. Saat ini, alat pandang kita sedang menembus sinar yang sebenarnya, bukan lagi khayalan seperti dalam bayangan yang sudah-sudah. So, segera yakinkan ia, bahwa semua memang terjadi.

Sesungguhnya, aktivitas memandang tidak mesti membuat kita terbuai atas apa yang sedang kita pandangi. Kalaulah ternyata pemandangan yang sedang menghampar di hadapan membuat kita sedemikian takjubnya, syukurilah itu. Kalaulah akhirnya, kita tidak mampu berucap meski sepatah kata atas pemandangan yang sedang menunjukkan dirinya, tetaplah bersyukur. Segera tarik makna dan pintallah bahagia dalam menikmati waktu bersama pemandangan tersebut. Setelah itu, ulurkan lagi benang kesyukuran untuk memberikan kesempatan pada pemandangan, agar ia tersenyum. Tersenyum ia, karena bahagia menyaksikan kita yang memelihara ketakjuban saat bersamanya. Hingga pemandangan itu akhirnya berlalu dari arah tatap mata, teruslah sampaikan pesona bahagia yang telah tercipta untuknya. Lalu, pandangilah keberangkatannya dengan mengukir harapan di relung jiwa, harap ia segera kembali.

Pemandangan yang indah, tentu semua kita suka. Pemandangan yang memberikan kedamaian dan ketenteraman pada jiwa dan meneduhkan pikiran saat menyaksikannya, tentu ini lebih kita sukai. Lalu, pemandangan seperti apa yang saat ini sangat berkesan di dalam tatapanmu, teman? Apakah engkau tetap menjaga dan memeliharanya sampai sekarang? Lha! Semenjak kapan engkau berpandangan dengan pandangan yang serupa? Kapan pertama kali engkau menemukan pemandangan yang membuatmu sangat ingin berlama-lama menatapnya?

Saling memandang, inilah yang dapat menjadikan kehidupan menjadi semakin hidup. Karena apa yang sedang kita pandang, tentu sangat berbeda dengan pemandangan yang ada pada kita. Ya, pemandangan yang sesiapapun di sana, sedang memandangnya. Karena kita dapat berperan sebagai objek pandang, dan dapat pula menjadi subjek pandangan. Begitu pula dengan pemandangan yang sedang kita saksikan. Ketika kita sedang memandang padanya, maka pemandangan tersebut menjadi objek pandang kita, saat ini.

Tentang kata memandang, apa yang sedang terpikirkan olehmu, teman?  Apakah engkau sedang menetaskan hasil pikir pada sepasang mata yang lentik dan menarik? Apakah engkau sedang membayangkan pepohonan dengan semilir angin yang sedang menyapanya. Hingga ia melambaikan daun-daunnya untuk menyambut sapaan sang bayu?  Atau, engkau sedang memikirkan tentang suasana di sebuah pantai dengan buih-buih di lautannya? Bagaimana engkau memberikan objek atas kata memandang?  Semua ini sangat erat kaitannya dengan suasana pikiran yang sedang engkau jalankan saat ini.

Untuk mengartikan dan menemukan makna atas kata ‘memandang’, terserah pada penalaran kita masing-masing. Namun, sejauh apa makna yang dapat terhadirkan dari hasil pandang kita pada kata ‘memandang’? Hal ini sangat menentukan bagaimana persepsi yang sedang kita lekatkan padanya. Ketika kita membayangkan suasana yang  penuh dengan kesejukan, maka kita seakan sedang melayangkan tatap pada pemandangan alam. Ada pepohonan yang berdiri kokoh dengan dedaunannya yang kehijauan. Ada beberapa helainya yang sedang berguguran dan lengket ke bumi.  Lalu ada pula beraneka jenis makhluk hidup yang sedang bermain-main di sekitar pepohonan. Mereka berpindah dari satu dahan ke dahan yang lainnya, untuk bergerak. Mereka menggerakkan ranting-ranting yang lemah gemulai. Pemandangan ini dapat mengingatkan kita pada burung-burung yang bertengger di atasnya. Sungguh menarik.

Begitu pula halnya, kalau kita sedang membayangkan suasana yang penuh dengan kendaraan. Ada kendaraan beroda dua, kendaraan beroda empat, dan beberapa pejalan kaki sedang berpindah sangat cepat. Di manakah kita sedang memandang, kalau objeknya seperti demikian? Tentu saja tidak di alam yang penuh dengan hijaunya dedaunan, bersama burung-burung yang cantik di sekitaran. Karena suasana yang baru saja, sungguh sangat berbeda tentunya. Ya, pemandangan yang kita saksikan adalah sebuah jalan raya. Ya, jalan raya yang sedang padat dengan kendaraan. Kendaraan tersebut saling mendahului.  Para pengemudi seperti pengeeeeeen cepatnya sampai di tujuan. Sehingga, supir-supir dan pengendara tersebut, untuk sementara terhenti karena ada lampu merah sedang menyala. Pemandangan ini, sangat sering saya alami. Pemandangan yang membuat pikiran menerawang nun jauh ke ujung arah pandang. Pemandangan yang memberikan banyak pesan dan kesan serta kenangan untuk diabadikan dengan baik. Pemandangan yang ketika sekilas saja kita menatapnya, maka ia akan segera berlalu. Kemudian, tiada dapat terselip pesan dan kesan serta kenangan bersamanya. Namun kalau kita mau trace back, ada pesan, hikmah dan bahan pelajaran yang dapat kita petik saat bersamanya. Salah satunya adalah tentang kesabaran.

Banyak supir yang menunjukkan bahwa beliau adalah pribadi-pribadi yang berhiaskan kesabaran, namun banyak pula yang sebaliknya. Akan tetapi, sejauh yang saya perhatikan, pada umumnya, para supir dan pengemudi yang sedang menanti giliran untuk melanjutkan perjalanan, pada sabaaaaarnya. Kesabaran tersebut terlihat dari raut wajah yang beliau pasang. Kesabaran tersebut memancar dari sorot mata yang sedang beliau layangkan. Pun, beliau bersabar untuk tidak membuat berisik di sekitaran dengan tidak membunyikan klakson sembarangan.

Ya.

Bahan pelajaran seperti ini, saya saksikan terakhir kali, tadi sore. Ketika dalam perjalanan menuju pulang, beberapa kali kami bertemu dengan perempatan. Saya yang sedang duduk manis di belakang bapak supir yang sedang mengemudi, begitu terharunya dengan kejadian yang berlangsung dari waktu ke waktu. Pemandangan yang membuat diri ini segera bersyukur, Alhamdulillah…  kiranya para supir sungguh penuh dengan kesabaran. Beliau mengemudi dengan penuh kehati-hatian dan penuh dengan kesabaran. Beliau pada baiiik banget padaku. Hingga perjalanan yang berlangsung lebih dari se-jam-an pun berakhir. Saya selamat sampai ke tujuan. Beliau menjadi jalan yang menghantarkan saya ke lokasi-lokasi yang saya mau. Terima kasih wahai bapak supir yang berbudi.

“Kapan-kapan, kita keliling-keliling lagiiii 😀  Saya ingin menyaksikan pemandangan-pemandangan  yang berbeda, dari yang sebelumnya saya pandangi,” bisik jiwa merangkai visi. Karena kita perlu mengunjungi berbagai negeri untuk menyaksikan pemandangan yang lebih indah lagi. Karena, selagi kesempatan masih memberikan waktu kepada kita untuk membersamainya, maka kita dapat melanjutkan langkah dengannya. Kesempatan itu ada kapan saja, adakah kita dapat memberikan perhatian setiap kali ia datang mendekat?

Teman, kita tidak pernah tahu, pemandangan seperti apa yang akan kita saksikan selanjutnya. Namun, senyatanya pemandangan terindah sedang menyediakan kesempatan untuk kita pandangi. Ia ada untuk memberikan kita sebaik-baik kesan, dan kenangan saat menatapnya. Ia ada untuk menitipkan kita pesan-pesan yang dapat kita petik. Lalu, memberaikan beraneka makna untuk kita kumpulkan dalam memperindah kehidupan yang sedang dan akan kita jalani. Pemandangan tersebut, dapat saja berada di negeri yang sedang kita diami. Atau ia sedang berada di negeri-negeri lain yang membentang dengan megahnya. Wahai, sejauh apakah jarak negeri tersebut dari lokasi keberadaan kita saat ini, teman? Dapatkah kita memandangnya semenjak saat ini, meskipun masih dalam bayangan dan impian?

Teman, kalau pemandangan yang sedang engkau tatap masih dalam bayangan, nikmatilah waktumu bersamanya. Tancapkan keyakinan hingga ke dasar lautan jiwamu, bahwa engkau dapat menyaksikannya dengan kedua mata yang sedang engkau bawa. Yakinlah, bahwa engkau mampu bertemu dan mengalirkan sinaran dari kedua bola matamu, tepat ke arahnya. Lalu, ingatlah detik-detik engkau membayangkan seperti ini, saat ia telah benar-benar menjadi nyata. Kemudian bersyukurlah dalam menjalani waktumu, bersama pemandangan yang sebenarnya telah menjadi nyata, itu.

Teman, ketika pemandangan yang sedang engkau saksikan saat ini, sudah benar-benar nyata, teruslah mengalirkan buliran air penyejuk pada benih-benih tatapmu. Agar, pemandangan yang sedang engkau saksikan menjadi senang saat membersamaimu. Karena ia telah bersua denganmu. Pemandangan yang sebelumnya, ternyata juga pernah membayangkan dapat menjadi bagian dari kehidupanmu.

Ketika objek dan subjek berjumpa, pasti ada satu kisah yang sungguh istimewa di dalamnya. Kisah yang dapat menjadi pengingat bagi objek dan subjek pandang.  Bahwa apa yang pernah berada dalam bayangan meski maya, dapat menjadi nyata. Kalau kita memelihara dan menjaganya sedemikian rupa, hingga ia ada.

“Hidup itu adalah saling memandang.” (Agus S. Gunadi)

Begini bunyi kalimat kedua dalam paragraf perdana yang saya pandangi dari isi sebuah buku penuh energi. Adapun judul dari buku tersebut adalah “Kalau Mau Kamu Mampu – YES YOU CAN.” Ada 20 Kunci Membangun Kepercayaan Diri Menuju Keberhasilan Hidup, di dalamnya. Kedua puluh kunci tersebut, lagi saya pahami. Sampai merangkai catatan pada saat ini, saya sedang berada pada kunci yang ke – tiga. Ai!  Kunci yang terdapat di dalamnya, sungguh menarik. Saya suka membaca bait-bait kalimat yang menguntai dengan lembut. Saya senang dapat  bersama dengan buku yang sebenarnya telah tercipta semenjak Maret tahun 2010 yang lalu. Namun, baru hari ini saya menemukannya.    😀  Heheee…  Sebuah buku dengan dasar cover yang berwarna putih, lalu ada tulisan-tulisan berwarna kuning, merah dan hitam di sekitarnya. Sebuah pemandangan yang mengajak kedua mata ini untuk memberikan perhatian padanya, saat saya sedang berkeliling-keliling di antara banyak buku di sekitaran.  Tiga huruf  C –A –N yang tertulis lebih besar dari yang lainnya, merupakan objek pertama yang terlihat, sebelum akhirnya jemari meraihnya. Rangkaian huruf yang bermakna “Bisa” kalau kita mengartikannya ke dalam bahasa Indonesia.   Kalau dalam bahasa Minang, artinya juga “Bisa”, kuq!  Bukan malah menjadi biso atau bisu atau bisi apalagi bise. Bukan, bukan demikian.  Kalau bahasa Indonesianya bisa, maka bahasa Minangnya juga tetap bisa. Kalau engkau berkata bisa, maka engkau bisa. Kalau engkau yakin bisa, maka engkau bisa. InsyaAllah.

Teruskan keyakinan dengan berdoa, berusaha, berdoa dan berusaha lalu berdoa lagi, dan seterusnya begitu. Setelah itu, pemandangan terindah dapat kita saksikan. Tentu saja dengan menjadikan tawakkal sebagai pengiringnya.  Yakinlah teman, apapun yang kita jalani saat ini, adalah hasil terbaik dari apa yang sedang kita upayakan. Apapun hasil terbaik yang akan kita saksikan setelah saat ini, bukanlah ujung dari perjuangan. Namun, menjadi sebuah pemandangan untuk kita nikmati dengan penuh rasa syukur.  Pandangilah, memandanglah. Dengan demikian kehidupan yang sedang kita jalani menjadi lebih hidup. Karena “Hidup itu adalah saling memandang”, seperti yang Bapak Agus S. Gunadi uraikan di dalam buku beliau yang ke enam. Kalimat tersebut, terdapat di dalam BAB 1 yang ada pada halaman ke-11. Kalau Mau Kamu Mampu. Yes You Can.

Teman, menjadi apapun engkau saat ini, tetaplah menjadi yang engkau mau. Karena engkau mampu. Walaupun saat ini engkau belum menjadi seperti yang engkau mau, teruslah mempunyai visi atas kemauanmu itu. Semoga ia memberimu kemauan untuk meneruskan perjuangan dalam melanjutkannya. Walaupun semua kemampuan telah engkau kerahkan hingga ke urat-urat terdalam, yakinlah bahwa engkau sedang melakukannya bersama kemauan. Karena, tidak ada satu hasilpun yang tercipta dengan sendirinya. Pasti ada proses yang perlu kita tempuh untuk dapat mewujudkannya. Maka, nikmatilah bagaimanapun pemandangan yang sedang engkau saksikan dalam menjalani proses tersebut.  Walau terkadang, pemandangan yang ada di hadapanmu belum lagi dapat terlihat dengan jelas. Karena arah pandangmu sedang mengalami kendala akibat menetesnya buliran permata kehidupan dari kedua bola matamu.  Teruslah berupaya untuk menatap lagi. Karena engkau mampu, kalau engkau mau.

Teman, kalau engkau mau, maka engkau dapat menyaksikan pemandangan yang berbeda dari setiap pemandangan yang engkau saksikan.  Dan pemandangan tersebut menjadi jalan yang membuat hidupmu menjadi lebih hidup. Memandanglah, hanya karena engkau mau.

🙂 😀 🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s