Pesan Ilalang


Ilalang dari bukit Awi Ligar; Bandung

Ilalang dari bukit Awi Ligar; Bandung

Dalam detik-detik menjelang pertemuan ini,

Ada seruas nadi yang seakan henti berdenyut,

Ada sesudut raga nan terus bertanya,

Semoga beliau sehat-sejahtera, senantiasa,

Setiap kita, tentu mengalami apa itu pertemuan. Pertemuan merupakan sebuah kata. Kata nan mampu menggembirakan jiwa ketika ia terucap oleh bibir. Sebuah kata yang membuat pikiran kembali menetaskan sekumpulan tanya. Tanya yang hanya akan terjawab kalau pertemuan benar-benar terjadi.

Setiap kita, setiap saat, mengalami yang namanya pertemuan. Boleh jadi saat ini juga demikian adanya. Karena pertemuan tidak hanya sebatas pertemuan raga dalam nyata. Namun pertemuan ingatan juga merupakan bagian dari satu kata ini.

Kapanpun kita menginginkan pertemuan terjadi, maka ia tidak akan pernah terlaksana tanpa izin dari-Nya. Berbeda halnya kalau tidak kita inginkan sebelumnya, maka pertemuan akan terjadi atas kehendak-Nya. Siapakah yang sedang, akan dan telah menemuimu saat ini, teman? Apakah hal demikian yang benar-benar engkau inginkan terjadi?

Pertemuan dengan beliau-beliau yang kita rindui selalu, tentu sangat kita inginkan. Pertemuan dengan beliau yang belum pernah kita temui, belum tentu kita menginginkannya. Namun, pertemuan dengan beliau yang sebelumnya pernah  membersamai kita, pasti mengisahkan sebuah makna terdalam di ruang hati, apabila ini terjadi. Surprised!

Tentang pertemuan, kita hanya dapat merencanakan, sesuai dengan keinginan yang sedang kita rangkai. Semaksimal upaya, kita dayakan agar rencana yang telah kita susun sedemikian rupa dapat berjalan dengan lancar. Semoga, pertemuan dengan sesiapapun yang saat ini sedang engkau rancang, berlangsung dengan beraneka kemudahan, yaa… buatmu di sana.

Bertemunya raga, untuk membuktikan bahwa kita ada. Berjumpanya mata yang saling menyelami arah tatap adalah pertanda bahwa di sana ada sekelumit rasa yang sedang mengalir deras. Bersuanya kita untuk kembali mengingatkan diri pada arti pertemuan.

Teman, sebuah pertemuan merupakan langkah awal untuk mengenali tentang siapa yang sedang kita temui. Meski sebelumnya kita telah bertemu, bersama dan menjalani waktu. Namun, ketika pertemuan terjadi, kita tentu sudah banyak berubah. Bukan lagi sama dengan ketika bersama-sama dulu. Kebersamaan yang terjadi sebelum pertemuan saat ini berlangsung. Karena dalam jeda waktu yang terbentang dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya, pasti ada yang telah kita upaya. Apakah tentang banyak pelajaran dan pengalaman yang kita petik di dalam rentang waktu tersebut, ataukah beraneka warna kehidupan yang kita pandangi.

Adalah rasa yang tidak sama,  akan segera kita alami saat pertemuan kembali terjadi.  Ya, rasa tersebut sangat berbeda dengan yang sebelumnya pernah kita alami. Masa pada detik-detik di ujung pertemuan ini. Masa ketika kita mengalami bukan pertemuan. Dan rasa itu sungguh mampu meluluhkan segala pertahanan yang selama ini kita bangun. Rasa yang seakan sangat berkuasa atas keseluruhan diri kita. Ya, rasa tersebut merajai hingga persendian terdalam sekalipun. Namun, bukan lagi rasa demikian yang sedang kita hadapi ketika terjadi pertemuan.

Wajah yang sedang tersenyum itu, mengembangkan kebahagiaan tak bernama. Entah apa yang sedang ia pikirkan, sampai sebegitu cerahnya senyuman yang sedang ia rangkai. Entah apa lagi yang sedang berlarian memenuhi ruang pikirnya, ketika bening tatap mata itu mengkerling dengan bebasnya. Entah bagaimana pula kondisi hatinya pada waktu yang sama. Ketika pertemuan terjadi, ia sedang menikmati sebaik-baik waktunya. Entah bagaimana metode yang sedang ia rancang sebelumnya, hingga ketika pertemuan terjadi, ia menjalani dengan begitu tenangnya. Tidak banyak ekspresi yang berlebihan dari tatapan bola matanya, hanya bening yang memberikan jawaban. Tidak banyak juga suara yang ia perdengarkan dari pita nan lembut itu. Namun, hanya senyuman sahaja yang mampu ia pertontonkan. Meskipun tanpa suara yang berlebihan, sesungguhnya ia sedang merangkai melodi untuk ia abadikan. Tidak banyak memang bukan berarti sedikit. Namun, cukup adalah kata yang tepat untuk melukiskan apa yang sedang ia lakukan.

Pertemuan. Satu kata ini yang sebelumnya senantiasa ia rancang dengan sepenuh hati. Pertemuan yang membuatnya kembali menjelaskan pada dirinya sendiri, bahwa masih banyak beliau-beliau di luar sana, yang begitu peduli padanya. Pun tidak sedikit dari beliau yang juga merancang rencana yang sama, seperti yang ia lakukan sebelumnya.

Pertemuan, siapakah yang tidak inginkan pertemuan? Apalagi pertemuan dengan beliau yang selama  ini sangat kita rindui. Ai! Sungguh bergunung-gunung rasa syukur akan segera meninggi ketika pertemuan terjadi. Kesabaran yang telah meluas menyamudera. Hingga menenggelamkan seluruh kehidupan yang sedang kita lalui dan terpenuhi oleh hamparan sejuknya, akan tertumpah dengan sendirinya. Tidak akan mampu lagi kita membendung alirannya yang sedang mengalir deras. Akan bertambah-tambah kemauan untuk mengokohkan proses untuk membangun rasa syukur hingga ia meninggi lagi. Ya, bahkan lebih tinggi dari gunung-gunung tertinggi sekalipun. Gunung hanyalah semacam ilustrasi untuk mempresentasikannya.

Bertemu bukankah sebuah perjalanan. Namun ia merupakan sebentuk tempat pemberhentian. Tempat untuk berehatnya kita dari lelah dalam melanjutkan perjalanan. Di dalam pertemuan, kita dapat saling membagi persediaan perbekalan. Dalam waktu yang terjadi selama pertemuan, kita dapat memanfaatkannya untuk saling berbagi tentang berbagai kisah yang kita alami dalam perjalanan. Bertemu pasti ada maknanya. Karena dengan bertemu, kita dapatlah saling berpesan dan memesankan. Pesan yang berharga, tentu selamanya dapat kita pergunakan. Pesan yang persediaannya tidak pernah terbatas. Ya, stocknya akan selalu ada dalam ingatan, selama kita mengingat, tentunya.

Pertemuan. Apakah yang sedang engkau pikirkan tentang satu kata ini, teman?  Apakah engkau sedang membayangkan sesosok wajah yang baru bagimu? Ataukah engkau sedang mengenangkan kisah-kisah masa lalu yang segera berkelebat sangat cepat dalam pikiranmu? Ai! Dengan siapakah engkau terakhir bertemu pada hari ini? Yakinkah engkau akan bertemu lagi dengan beliau setelah pertemuan itu terjadi?  Sedangkan kita bukanlah penentu akan hal ini. Hanya rencana yang sedang kita rancang sedemikian rupa, yang di dalamnya kita merangkai harapan akan bertemuan lagi. Kalau pertemuan yang pernah tercipta, meninggalkan kesan terbaik di dalam ruang hati kita. Maka kita berharap pertemuan selanjutnya dapat terjadi lagi. Bahkan kita harapkan sangat, pertemuan tersebut dapat menjadi lebih berkesan lagi, dari yang telah kita lalui, baru saja.

Temukanlah apapun dan siapapun yang sangat ingin engkau temui. Lalu, bersabarlah dalam menempuh proses untuk terciptanya pertemuan. Setelah pertemuan terjadi, segeralah bersujud  dalam syukur tertinggi, pada-Nya yang memberikan izin padamu untuk menjadinyatakan rencanamu sebelumnya. Karena, apapun yang sedang kita jalani saat ini, tidak pernah terlepas dari peran dan Izin dari-Nya.

Bertemu, dapat menjadi jalan untuk menghangatkan kembali kebersamaan yang pernah tercipta. Selama waktu yang kita jalani saat pertemuan, tentu kita akan kembali berkisah tentang pengalaman yang pernah kita alami sebelumnya. Termasuk bertukar berita yang belum kita bagikan kepada beliau yang kita temui.

Wahai, alangkah indahnya pertemuan… Ia mampu menjadi jalan cerahkan kembali pikiran yang sempat pergi nun jauh ke ujung ingatan.

Wahai, betapa bahagianya menjalani pertemuan… Bersamanya kita dapat mengurai rasa dan mengolahnya bersama, dalam pertukaran suara yang tercipta, segera.

Wahai, seringkali senyuman memekari wajah-wajah ini saat pertemuan terjadi… Ia memberaikan pesan yang ingin kita utara dengan sempurna.

Wahai, berulangkali kita mengalami sebuah kata bernama pertemuan… Namun keindahan yang sangat berkesan adalah saat kita menjumpai beliau yang kita damba.

Wahai, insan yang mendamba pertemuan… Semoga segera ia terlaksana. Pertemuan dengan beliau yang selama ini sedang engkau ingat dengan pikirmu saja. Pertemuan dengan beliau yang bahkan belum pernah terbayang dalam ruang pikirmu, siapakah beliau yang  akan menemuimu?

Wahai insan yang bertaburan syukur di dalam jiwa, setiap detik engkau saling bertemuan… Meskipun hanya untuk beberapa masa saja, namun itu sangat berkesan, kannn…?

Wahai pribadi-pribadi menawan yang sedang mengukir senyuman dalam pertemuan… Abadikanlah senyuman terbaikmu di dalamnya. Karena tidak dapat lagi kita mengalami hal yang serupa dengan yang baru saja terlaksana. Adalah pertemuan yang selanjutnya mengingatkan kita pada tema yang berbeda.

Wahai engkau yang turun ke jalan untuk melangkahkan kaki-kakimu untuk terciptanya pertemuan… Tegaklah tubuhmu dengan sempurna, menataplah matamu dengan sepenuhnya. Karena engkau sedang berhadapan dengan kenyataan. Ya, kenyataan yang tentu saja membuatmu perlu berpikir lebih luas lagi. Kenyataan yang tidak selamanya sama dengan yang pernah engkau bayangkan. Teruslah melanjutkan langkah-langkahmu yang telah tercipta sejak semula. Hingga akhirnya engkau benar-benar bertemuan dengan ;pertemuan.

Wahai, sungguh beruntungnya engkau yang sedang bertemuan… Adalah di sana sedang melingkupimu para malaikat yang tersenyum menyaksikan, menyampaikan doa agar kalian terus saling bertemuan dalam ingatan. Meskipun raga akan kembali berjarak oleh rentang yang tidak sedepa. Agar berbagai kemudahan kembali membentangkan sayap-sayapnya, untuk mempertemukan kembali para insan yang mendamba pertemuan.

Wahai, kelak kita sama-sama tahu dan mengerti, bahwa untuk mencipta sebuah kata pertemuan, memang penuh dengan proses. Ada proses yang kita senyumi, pun ada ekspresi sebaliknya yang kita akan alami. Bahkan, tanpa kita sadari, telah banyak warna-warninya yang turut memberikan kontribusi. Sesungguhnya, semua ada untuk membuat kita kembali menyadari. Bahwa warna-warni tersebut yang membuat kehidupan menjadi demikian terasa hidupnya. Yes!

Wahai, sebuah kata bernama pertemuan. Ketika bersamamu kami dapat saling bersenyuman, teruskan senyuman yang pernah kami rangkai, dengan tulusmu dalam berbagi. Saat bersamamu kami bersukacita menjalani detik demi detik waktu yang kami temui, kembalikan ia saat kami tidak lagi bersamamu. Agar kami dapat merasakan pertemuan dan kebersamaan dengan pesona yang sama, setiapkali kami inginkan bertemu. Namun, yang terjadi belum lagi sesuai dengan yang kami inginkan.

Wahai, pertemuan yang baik dan cantik serta menarik ketika diucapkan. Akhirnya, engkau benar-benar memberikan jawaban atas beraneka rencana yang pernah kami cipta, tentangmu. Pertemuan yang mensenyumkan, pertemuan yang memberaikan bukti, bukan hanya janji-janji. Ia benar-benar berdedikasi untuk sesiapa saja yang pernah mengukirnya di dalam ruang imaji.

Wahai pertemuan, ketika engkau hadir untuk membentangkan jembatan kisah, tolong izinkan kami untuk menyeberang di atasmu. Agar kami dapat merangkai kisah terindah atas kebersamaan yang tercipta dalammu.  Ketika kami sedang menyeberangi lajur yang menghubungkan antara sebuah pertemuan dengan pertemuan berikutnya.

Wahai pertemuan yang banyak orang sedang mendamba padamu. Akankan engkau memperlakukan kami dengan cara yang sama, seperti engkau memberikan perhatian berlebihmu pada sesiapa saja yang bersama denganmu? Bagaimana kalau engkau memberikan warna yang berbeda dalam hari-hari yang akan kami jalani, sebelum engkau benar-benar mendekat? Sebagai bukti bahwa engkau ada untuk menjadi pelengkap dan pengurai beraneka tanya.  Ya, dengan membuktikan bahwa engkau dapat memberikan yang terbaik untuk kami yang sedang melangkah menuju padamu. Karena, untuk melakukan semua ini, kami telah merencana dengan baik.

Wahai pertemuan yang menarik hati. Apakah engkau sedang memperhatikan kami yang sedang melangkah menuju padamu? Bersama keyakinan akan bersua dengan engkau yang hanya sebuah kata, kami terus melangkahkan kaki-kaki ini. Lalu, engkau akan mempertemukan kami dengan siapa?

Wahai pertemuan yang hanya sebuah kata. Meskipun hanya sebuah kata, namun engkau bermakna, hadirmu sungguh berarti.  Karena tanpamu, bahagia yang kami rasakan belum lagi dapat terbagi. Hanya dengan pertemuan, kami dapat saling menyalurkan segala yang ada ini. Engkaulah senja yang memperantarai bertemunya siang dengan malam.  Engkaulah pagi yang menjadi penghubung antara gelapnya dini hari, dengan pagi yang bertaburan sinar mentari. Engkau ada di dalam waktu-waktu yang sedang kami temui. Engkaulah jalan yang sedang kami tempuhi dari detik ke detik waktu. Karena engkau ada kapanpun, sebagaimana waktu yang terus bergerak, melaju dengan gesit.

Wahai pertemuan, ketika kegelapan sedang kami jalani saat ini, harapan akan hadirnya engkau, merupakan jalan tersenyumnya kami saat ini. Karena masih ada nyala sang harap yang sedang membenderangi ruang pikir kami. Bersama engkau yang hanya sebuah kata, ia kembali menerangi.

Wahai pertemuan yang tidak dapat kami mendeteksi sedang berada di mana, engkau kini. Engkau yang benar-benar peduli pada kami. Engkau yang kembali mau menetralisir ruang pikir ini, agar ia segera ingat, bahwa engkau betul ada.  Walaupun engkau hanya sebuah kata, namun engkau ada untuk menyampaikan makna, atas keberadaanmu. Karena engkau adalah jalan yang menghubungkan para perindu pertemuan. Engkau sungguh berjasa. Bersyukur dapat mengenalimu, bersabar untuk dapat bersapaan denganmu lagi.

Wahai pertemuan yang berbudi, tolong beri kami sebanyak-banyaknya pesan ketika kami sedang bersama-sama denganmu. Agar kami dapat memperoleh banyak hikmah, pelajaran dan pengalaman darinya. Karena kami sangat inginkan hari ke hari, detik ke detik waktu yang sedang dan akan kami jalani penuh dengan makna. Karena begitu besarnya keinginan untuk membersamaimu lagi, setelah engkau tiada untuk sementara waktu.

Wahai pertemuan yang menjadi jalan tersenyumnya kami lebih indah lagi. Teruslah engkau hadir, lebih sering dari apa yang pernah kami rencana. Karena ada pesan yang memang seharusnya engkau titipkan pada kami.  Karena pesan-pesan yang engkau bawa, perlu segera engkau sampaikan.

Wahai, banyak diantara kita yang saat ini sedang mengingat tentang pertemuan. Lalu, apa yang sedang kita persiapkan ketika ingatan akan pertemuan tersebut memenuhi ruang pikir ini, teman? Apakah kita sedang mendayakan upaya yang optimal dan semaksimalnya, dalam menjelang sebuah kata bernama, ‘pertemuan’. Karena pertemuan adalah sebuah kata yang sarat dengan makna. Ia ada dengan banyak pesan yang sedang ia bawa. Banyaknya pesan yang sedang ia bawa, semoga menjadikan kita menghargai, sebuah kata bernama ‘pertemuan.’  Bersama keyakinan, dapat membersamainya lagi, setelah untuk beberapa masa, ia membentang di antara waktu demi waktu yang sedang kita jalani. Meskipun pertemuan belum lagi terjadi, semoga kita masih mau melanjutkan langkah, yaa. Melangkah menuju sebuah kata, ‘pertemuan’.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s