Siapakah Engkau yang Sesungguhnya?


Dek...

Dek...

Masih terlihat bintang-bintang yang bertaburan di langit, beberapa saat sebelum saya mampir di sini. Ihiy! Masih pagi, sepi, sunyi, gulita tanpa mentari di luar sana. Begitulah gambaran alam tempat ku berada kini, teman.  Suasana begitu bersahabat. Merupakan kondisi yang sangat cocok untuk menuangkan apa saja yang belum tertuang. Agar ia tumpah semua, meleleh, mengalir, dan sampai pula ke hadapanmu, kini. Selamat menikmati menu catatan pada awal hari ini, yaa.

Hey, bagaimana kabarmu saat ini? Apakah masih terjaga dalam semangat dan terpelihara dalam hasrat untuk menjadi lebih baik pada hari ini?

Masihkah ada persediaan keinginanmu untuk kembali menyalakan harapan? Ya, agar ia menjadi lebih benderang, bersinar, berseri dan menerangi hari-harimu yang berikutnya. Masihkan? Lalu, bagaimana pula dengan rencanamu ke depannya? Masihkah akan tetap pada kondisi yang sama? Padahal waktu terus bergerak maju untuk memberikan bukti bahwa ia ada untuk menjadi bermakna. Bagaimana dengan teman-temanmu di sana? Semua pada bahagia dalam membersamaimu menjalani hari, kan?

Yakin?

Teman, engkau mungkin saja sedang berada di sebuah negeri yang belum pernah saya kunjungi. Engkau boleh jadi sedang menikmati suasana alam yang sejuk dan indah pemandangannya. Wah! Saya mau ke sana jugaa… May I? Di manakah engkau saat ini?

Teman, meski hanya sesekali saja kita bersua, namun tidak menutup kemungkinan untuk dapat bersua lagi. Walaupun belum pernah sekalipun kita bersapa, semoga saat ini merupakan kesempatan terbaik bagi kita untuk dapat saling menyapa. Who are you?

Teman, engkau bisa jadi baru pertama kali mampir ke sini, karena engkau baru menemukan lembaran ini. Bagaimana kesan yang engkau alami saat pertama kali menjejakkan kaki pada ruang hati kami? Apakah ada pesan yang dapat engkau titipkan, meski beberapa saja, di antara pikiranmu yang hadir?

Teman, engkau yang sedang asyik menikmati waktumu yang paling berharga. Semoga dapat menikmati detik demi detiknya dengan sempurna, ya. Agar apapun yang sedang engkau lakukan, menyisakan kepuasan tersendiri, di relung jiwamu. Agar engkau dapat mensenyumi berbagai hasil yang tercipta bersama waktumu yang saat ini. Bahkan, engkau ingin kembali mengalaminya, persis sama seperti yang pernah engkau alami. Nah! Waktu terus bergerak. Sedetik ia berlalu, tidak akan pernah kembali lagi. So, tiada akan mungkin engkau dapat menikmati kebersamaan dengannya yang telah engkau jalani. Enjoyourtime, now, only.

Teman, tanpa pernah kita sadari, terkadang kita menyia-nyiakan sebuah kesempatan. Padahal, kesempatan adalah berharga. Ia hadir mungkin untuk satu kali saja. Kesempatan tersebut kemudian berlalu dari kehidupan kita. Kesempatan yang tidak dapat kita rengkuh lagi. Kesempatan, kapan terakhir kali engkau datang?

Teman, saya mempunyai sebuah kisah tentang  hal ini. Berhubungan dengan kesempatan yang datang menyapa, atau saya yang menyapa? Ai! Inti pesan dari kejadian tersebut adalah agar kita menjadi lebih terjaga setiap saat. Ya, agar kita dapat merengkuh kesempatan yang datang, kemudian tersenyum bersamanya. Kesempatan tersebut, menjadi jalan tersenyumnya kita lebih indah lagi apabila kita mau memetik pelajaran darinya. Namun, yang sebaliknya akan terjadi, ketika kita membiarkannya pergi, berlalu dan kemudian menghilang dari tatapan. Adalah sebuah kisah yang membuatku teringat hingga pagi ini. Ingatan yang melekat tidak pergi-pergi. Selamanya begitu. Ia akan senantiasa terbayang-bayang, kalau masih saja belum tercurahkan. Ia akan selalu mengikuti kalau belum teralirkan. Karena, ada pesan tersirat di dalamnya. Pesan yang hanya akan dapat kita maknai, kalau kita mau memahaminya dengan sepenuh hati. Ya, karena pesan yang kita petik dari alam-Nya, terkadang memang tidak tertulis. Pesan tersirat, memberikan kita kesempatan untuk merangkai catatan lagi. Yes! Inilah suara hati yang ingin saya sampaikan, pada beliau di sana, gadis kecil yang sedang berdiri membelakangiku.

***

Dek, saat melanjutkan perjalanan pada siang hari beberapa waktu yang lalu, saya bertemu denganmu. Engkau yang awalnya, saya lihat dari kejauhan. Kemudian, saya terus berjalan, melangkahkan kaki-kaki ini satu persatu. Mata ini yang sedang mengedarkan arah pandang ke sekeliling, tertuju pula padamu. Ketika itu, engkau sedang melangkah pula. Ya, engkau pun berjalan, dengan arah yang berlawanan denganku. Hingga akhirnya, kita pun berdekatan. Keberadaanmu itu, mengalihkan perhatianku segera. Ya, perhatianku akhirnya tertuju padamu.  Engkau yang sedang bermain-main di sekitaran, menciptakan ingatanku pada masa kecil dulu. Engkau juga mengingatkanku pada suasana alamnya, yang terik. Ya, semenjak kecil saya seringkali bermandikan sinar mentari.  Sama seperti waktu itu. Seperti siang hari yang memberikan saya kesempatan untuk berjumpa denganmu. Namun, dalam kesempatan tersebut saya belum menanyakan, “Siapakah namamu, Dek?”

Dek, memanfaatkan detik yang sedang berlangsung memang perlu. Ya, kalau sedetik saja saya lengah, maka saya akan kehilangan moment paling berharga ini.

Jepret!

Hehee.

😀

Sukses!

Aku senang…

Ku bahagiaaa…

Cerahnya hari menjadi lebih terasa.  Bahagia menerpa ruang jiwa. Sungguh pengalaman yang begitu berharga. Ada seorang gadis belia sedang berdiri di hadapan. Gadis kecil yang sedang menikmati waktu. Ia sedang asyik sendiri.

Dek, engkau sedang membelakangiku. Ketika akhirnya, saya  mendekat padamu. So, potretmu pun abadi, tampak belakang. Setelah itu, hapeku pun mati. Kehabisan baterai rupanya. Hahaa… Saya merasa menjadi orang paling beruntung dari banyaknya beliau-beliau yang sangat beruntung, saat itu. Ya, moment yang paling mengesankan adalah ketika kita sempat mengabadikan sebuah picture,  setelah itu hape mati. Xixixiiii… ^^

Dek, kita memang belum berkenalan saat itu. Saya hanya melayangkan pandangan padamu sekilas, engkaupun begitu. Belum terjadi sapa dan tanya apalagi jawaban diantara kita. Engkau sedang menikmati kesendirianmu. Engkau sedang menatap nun ke arah yang penuh dengan kehijauan. Engkau adalah gadis manis yang berambut pirang.  Apakah kita dapat berjumpa lagi, pada kesempatan yang lain? Ai! Saya tidak terlalu yakin akan hal ini. Karena, wajahmu saja, saya tidak menatap jelas. Lagipula, kita belum berkenalan.  Sungguh, terharu di dalam jiwaku kini, atas kesempatan yang hilang.  Bagaimana dengan ekspresi wajahmu, ketika picture ini tercipta? Apakah engkau sedang tersenyum menampakkan gigi-gigi serimu yang mungil? Ataukah engkau sedang memanyunkan bibirmu beberapa sentimeter ke hadapan? Apakah engkau tahu, kalau saya sedang memperhatikanmu pada detik-detik sebelum tenggelamnya sinar di layar hapeku?

Dek, terik mentari siang itu sangat menyengat.  Di bawah pancaran sinarnya yang cemerlang saya sedang berjalan-jalan berkeliling-keliling.  Tanpa arah.  Hanya ingin menikmati pemandangan alam, doang. Ya, untuk menemukan view-view yang menarik, cantik untuk ku abadikan.  Selangkah demi selangkah, kaki ini meneruskan perjuangan. Hingga akhirnya, ia pun mendekat pada lokasi tempatmu berada. Apakah lokasi tersebut merupakan tempat tinggalmu? Ataukah engkau sebagai pendatang?  Lalu, bagaimana dengan para Ibu yang sedang berada di sana? Karena, ada sebanyak 3 (tiga) orang ibu-ibu yang sedang berkumpul, ketika itu. Ibumukah, salah seorang dari beliau?

Dek, siapakah engkau sesungguhnya, manis…  Saya sangat ingin berteman denganmu.

***

Teman, tanpa kita sadari, mungkin kita telah mensia-siakan lebih banyak kesempatan lagi, sebelum ini. Apakah kita masih ingat dengannya? Bagaimana kita menyikapi apabila ingatan akan kesempatan yang terabaikan, datang menyapa? Apakah kita masih terlarut pada pesona pikir yang kita ciptakan sendiri? Bukankah masih ada hari ini untuk kita berbuat yang terbaik? Dan hari ini, tepatnya saat ini merupakan kesempatan terbaik yang pernah kita temui dalam kehidupan. Biarlah sebelumnya kita ternyata lalai, lupa dan lengah. Kalau saja kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari semua itu, maka kita dapat memanfaatkan kesempatan saat ini dengan sebaik-baiknya.

Teman, untuk mengembalikan waktu yang telah berlalu, itu tidak mungkin. Karena waktu terus melaju dengan cepat dan gesit. Ia sedang meneruskan pengabdiannya dengan optimal. Kalau saja kita belum dapat menangkap peluang yang ia bawa, maka kita tidak akan pernah lagi berjumpa dengan kesempatan yang sama. Ia datang sekejap saja.

Teman, terhadap berbagai kesempatan yang datang menyapa dalam setiap detik waktu, semoga kita dapat memanfaatkannya dengan baik. Bagaimana dengan kesempatan kita yang masih ada hingga saat ini?  Untuk apa kita memanfaatkan keberadaan ini? Apakah kita menyia-nyiakan kesempatan untuk menghadirkan ingatan pada Pencipta Yang Menjadikan kita Ada? Kita tidak tercipta dengan sendirinya, lho yaa…. 😆

Teman, ketika kita mau  menyadari keberadaan diri, maka kita akan segera bangkit dari tempat kita duduk. Kita akan bangun dari tempat kita berbaring. Kita akan melangkah dari tempat kita berdiri. Kita akan mensegerakan gerak kaki yang mengayun agar ia mau berlari. Ai! Indahnya perjalanan ini.

Teman, dari hari ke hari, akankah kita menjadi begini-begini saja? Tanpa pernah mau untuk menjadi lebih baik lagi? Apakah kita akan menikmati waktu dalam suasana yang sama, itu-itu saja? Apakah kita yakin masih mempunyai kesempatan hidup untuk jangka waktu yang lama? Bukankah kita telah tercipta dengan ajal yang pasti? Akankah detik ini menjadi kesempatan terakhir kita menghirup segarnya udara pagi hari? Apakah saat ini merupakan detik-detik pamungkas, bagi kita menyaksikan sinar mentari yang sedang mensenyumi? Bagaimana kita memanfaatkan kesempatan yang paling berharga ini?

Teman, kita tidak pernah tahu tentang jangka waktu usia yang sedang membersamai. Apakah kesempatan bersama dengannya dapat kita optimalkan penggunaannya? Bagaimana kalau usia kita tidak lagi lama?

Teman, selagi pagi marilah kita mendata diri, bakti apa yang akan kita lakukan pada siang nanti. Selagi mentari belum bersinar menerangi bumi, marilah kita berbenah lebih sering lagi. Selagi kesempatan masih menemui diri ini, mari kita memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Selagi usia masih ada, mari kita mengoptimalkan dengan sepenuhnya. Selagi jalan masih membentang di depan sana, mari kita melangkah untuk  menempuhinya. Selagi teman-teman masih ada, mari kita saling mengingatkan tentang tujuan yang akan kita capai. Selagi dan sekali lagi saya menanya pada gadis belia yang sedang berdiri di depan pagar yang tinggi.

“Siapakah engkau yang sesungguhnya?,” pikir ini mengalirkan tanya.

Lagi tanya yang sama mengalir dengan cepat. Buat adik kecil yang sedang menatap ke hadapan. Semoga engkau bertumbuh menjadi putri yang bermanfaat ya, Dek. Teruskan langkah-langkahmu yang pernah menjejak. Tidak baik berlama-lama dalam kondisi yang sama, sedangkan waktu terus beranjak. Semoga engkau dapat memanfaatkan detik-detik yang sedang berlangsung, yaa. Ketika pikirmu sedang berlangsung, bolehlah engkau mengalirkannya. Sesekali, layangkanlah pandangan ke sekelilingmu. Ada yang sedang memperhatikanmu, mendoakanmu, mengharapkan kebaikan untukmu. Ada yang sedang menanyaimu, “Engkau lagi apa saat ini?.”

Teman, hingga paragraf yang kesekiannya dalam catatan pagi ini, terang sudah mulai mengembangkan keanggunannya. Cerah di sekitar. Sedangkan musik alam sedang menyenandungkan kesyahduan. Air yang bergemericik, sedang mengalir. Suara-suara para sahabat, sedang bergantian. Ada yang sedang berbersih dan merapikan beraneka perlengkapan. Ada yang sedang berolahraga dengan semangatnya.

“Aaaaaaa hhaaaa.. haaaaa… ada yang berbadminton ria, di halaman, rupanya,” suasana menjadi sedemikian hidup.  Begitulah suasana di lingkungan tempatku berada kini. Alam yang semulanya penuh dengan kesunyian, karena tiada bunyi-bunyian, sekarang mendadak semarak dan menarik. Wah!  Suasana tersebut berpindah pula ke mari. Ai! Saya memang begitu, mudah terbawa suasana, ketika sedang merangkai catatan. Sorry, teman… atas segala yang ada.

Tiba-tiba, mata ini menatap ke pojok kanan bawah pici. Di sana tercantum pengingat bernama waktu yang sedang bergerak, berubah dan sekarang angka tersebut sedang berada pada posisi 6.37 WIB. Masih pagi, kannn? Ada yang sedang ia pesankan padaku, agar mengingat waktu. Ya, ini adalah waktunya untuk bersiap-siap. Bersiap untuk meneruskan langkah perjuangan yang berikutnya. Karena setelah ini, ada jadwal lagi. Jadwal untuk meneruskan langkah di alam lain, bukan di sini. Alam yang penuh dengan kenyataan. Alam yang selamanya menitipkan banyak pesan, kesan dan kenangan untuk kita abadikan.

Teman, waktu kita tidak lama lagi. So, memanfaatkan detik demi detiknya adalah jalan untuk hadirkan senyuman. Teruskan perjuangan, walau di manapun engkau berada. Selalulah memperbarui  harapan, agar ia bahagia dapat bersama kita. Bersama kesegaran alam, teruslah menghirup napas. Rasakan alirannya dengan baik. Maka, engkau mampu menikmati masa yang sedang berlangsung. Pandangilah beraneka ekspresi yang sedang engkau temui, lalu petiklah pesan dari sana. Nikmatilah saat ini. Ia tidak akan kembali lagi. Sedetik kita meninggalkannya, tentu tidak bertemu lagi. Kecuali ada ingatan yang sempat kita selipkan pada lembarannya. Maka dari sana, kita dapat menyaksikan kembali apa yang pernah terjadi.  Ketika kita mau menghadirkan ingatan setelah ia berlalu.

Teman, dari pertemuan yang terjadi meski sedetik tatap, kita dapat menghadirkan catatan. Dari sejenak kebersamaan yang benar-benar kita nikmati, ada pesan yang tersirat. Dalam waktu yang berlangsung setiap saat, kita dapat menemukan kesan. Meskipun hanya saat ini kita mempunyai kesempatan untuk menghirup segarnya udara pagi, semoga kita masih mempunyai harapan. Harapan untuk melakukan yang terbaik. Segera. Semaksimal yang mampu kita upaya, semoga kita dapat menangkap pesan tersirat yang datang menyapa. Semoga kita dapat mengabadikan kesan terindah mesti dalam susunan kata yang tercipta. Hingga akhirnya, kenangan-kenangan yang pernah ada, menjadi pengingat kita pada masa yang berbeda.

Teman, masa yang ada merupakan kesempatan terbaik untuk dapat melakukan kebaikan demi kebaikan, lebih banyak. Semoga kita dapat memanfaatkan berbagai kesempatan dalam kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Aamiin.

Terjemahan

Text Qur’an

Ayat

Demi masa.

وَالْعَصْرِ

1

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,

إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

2

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

3


.:: HaditsWeb ::.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s