Chocolate Butterfly


Tepat malam ini, sudah lebih dari dua puluh empat jam kami bersama.  Chocolate butterfly. Seekor kupu-kupu cokelat berkunjung ke istana hatiku, semenjak tadi malam. Hingga saat ini, ketika saya kembali dari beraktivitas selama hampir seharian di luar, sang kupu masih ada, ternyata. Aaay, so sweet. Baiklah kupu, terima kasih telah menjaga ruangan berehat kami, atas ketulusan budimu.

Teman, sebelum berjumpa dengannya lagi malam ini, saya tidak ingat sama sekali akan keberadaannya di sini. Ai! Tamu yang datang tanpa diundang, tiba-tiba saja hadir membersamai.  Berarti, sudah hampir dua hari ia di sini. Hihii…

Chocolate butterfly, sempat pula saya jadikan sebagai salah satu judul pada catatan hati pada masa yang telah berlalu. Kupu-kupu, juga menjadi ungkapan yang pernah saya sampaikan sebagai teman yang menyejukkan saat dipandang. Ia menjadi jalan yang kembalikan keteduhan pada pikiran yang sebelumnya mendidih dan menyalakan, menyisakan kehangatan. Ya, kupu-kupu adalah salah seekor makhluk hidup yang sangat saya sukai.  Walaupun tidak setiap waktu kami dapat bersama, namun saya senantiasa memberikan perhatian penuh padanya, setiapkali kami berjumpa. Ya, ketika dengan sekelebat, sayap-sayapnya yang gemulai itu melintas tidak jauh dari arah tatap ini.  Maka perhatianku akan mengikuti arah geraknya.

Kupu-kupu, adalah seekor makhluk hidup yang sungguh mengagumkan. Seperti yang dapat kita saksikan, bagaimana ia berproses. Bermula dari seekor ulat yang menggeliat dengan bulu-bulunya yang terkadang mampu menyengat, banyak yang tidak suka padanya. Jangankan mendekat, melihat saja itu ulat, mungkin kita langsung berteriak lalu menutup mata. Eits, semoga Siti tetanggaku yang sangat baik hati, engga sempat membaca catatan kali ini. Aamin. Karena ini berhubungan dengan ulat, terutama paragraf yang sedang tercipta ini.  But, walaupun beliau tersesat ke sini, semoga ada sebaris maaf yang segera terucap, atas apa yang terjadi saat ini.

Ulat, apa yang engkau sedang pikirkan tentang ulat, teman? Apakah engkau terbayang pada warna hijau yang bergerak dengan lambat, merambat, lalu menggerakkan badannya berangsur-angsur, untuk dapat berpindah dari tempat di mana ia berada. Agar, ia tidak berada pada tempat yang sama, sedangkan waktu terus berangsur, tidak pernah menunggu sang ulat.

Ulat, ketika satu kata ini terucap, apa yang engkau alami, teman? Apakah engkau tidak akan mau lagi melanjutkan langkah-langkahmu untuk menelusuri catatan ini? Karena engkau begitu alergi dengan yang namanya ulat? Ai!

Ulat,  seiring dengan berjalannya waktu, kita akan menyadari, bahwa sekalipun ia tercipta dengan nama ulat, namun ulat juga bermanfaat. Ia tercipta dengan manfaat yang melekat dalam masa penciptaannya. Ia ada untuk menjadi pengingat bagi kita. Bahwa tidak ada satu sayap kupu terindah sekalipun yang tercipta, tanpa bermula dari seekor ulat.

Ulat? Merupakan proses awal  yang dijalani oleh seekor kupu, hingga ia menjadi sedemikian cantik. Bermula dari ulat yang seringkali kita menghindar darinya. Karena ia mampu mencubit dan meninggalkan bekas pada kulit yang sempat tersentuh olehnya. Ulat, ia merupakan cikal bakal hadirnya seekor kupu yang mengepakkan sayap-sayap ringannya. Ulat ada karena ulat bermanfaat.

Ulat. Ai! Lebih baik kiranya, kalau kita mengungkapkan segera bagaimana satu kata ini dapat segera berganti nama. Ya, karena tidak selamanya ulat tetaplah ulat. Karena ulat adalah hanya sebuah masa yang perlu kupu-kupu alami, sebelum ia berubah ke nama yang berikutnya, bernama kepompong.  Oia, sebelum ulat, ada lagi namanya yaa… apakah itu, teman? Wahai engkau yang lebih mengerti tentang hal ini, help me please

Setelah beberapa lama keberadaannya di alam dunia, maka sang ulatpun melanjutkan metamorfosisnya menjadi sebentuk kepompong. Ya, kepompong yang ringan, lengket saja tanpa berpindah. Kepompong tanpa makna, kosong dan tipis fisiknya. Apabila kita iseng menyentuh sang kepompong, lalu mengelupaskan kulitnya yang sensitif itu, maka kita sedang meluruhkan cita sang ulat untuk merubah wujud menjadi kupu yang cantik.  Semoga kita tidak pernah melakukan hal yang serupa, yaa. Karena berarti kita telah berusaha menghilangkan sebuah nyawa.  Semoga, semoga tidak pernah hal yang sama, terjadi melalui tangan dan jemari kita.

Selama beberapa masa, kepompong menempuh proses yang perlu ia jalani. Dengan kesabarannya yang telah teruji, sang kepompong terus berdikari. Ia mengakui sunnah kejadian diri. Ia memberikan bukti pada sesiapa saja yang sempat menemuinya, bahwa ia mampu bertahan hingga saat yang telah ditentukan tiba. Ia segera menjadi kupu-kupu. Namun, waktu yang sedang ditempuhnya, tidaklah sebentar, teman. Banyak goda yang pasti saja ia temui dalam menyelami proses untuk berubah diri. Apalagi cuaca yang datang dan pergi silih berganti. Tentu saja merupakan uji yang perlu ia taklukkan dengan sebaik-baiknya. Ya, sekalipun kepompong berlindung di sebalik daun yang melingkupinya. Namun terpaan angin yang berhembus mendekat, tentu dapat membuat ia kedinginan. Walaupun kepompong sedang menempel pada sekat-sekat yang tidak akan pernah mampu kita lihat, namun teriknya panas pada siang yang sangat menyengat, tentu sampai pula padanya. Karena, bagaimanapun suasana alam, tentu kepompong juga mengalami. Sekalipun kepompong sedang berlindung pada sebatang pohon yang begitu kokoh, namun ia dapat mendengar gemuruh yang hadir bersahut-sahutan. Terkejut, kaget, dan terkagetkan, pasti saja ia alami, kaaannnn…?

Kepompong, dengan beraneka uji yang datang menyapanya dalam masa bermetamorfosis, ia terus mempedulikannya. Ia pahami dengan sepenuhnya, pesan-pesan yang sedang alam sampaikan padanya. Ia menjawab tanya yang datang untuk menjadikannya terus terjaga. Ia memberikan pertanyaan pada beraneka kondisi yang belum ia mengerti. Ia sebenarnya sedang bergerak, meskipun tidak berpindah tempat. Kepompong sedang menempuh proses untuk melanjutkan kehidupan yang berikutnya. Dengan cara yang telah tertakdirkan untuk ia jalani, maka kepompong tentu saja berbeda dengan makhluk yang lainnya. Kepompong yang tidak dapat bergerak dengan semaunya. Kepompong yang perlu berkonsentrasi dalam menjalani hari. Kepompong yang rela kosong dan seperti tidak berarti. Kepompong yang seringkali memberikan senyuman, walaupun tidak kelihatan oleh tatap mata. Ia tersenyum, dengan senyuman yang terselip di ruang keberadaan dirinya.

Kepompong, adalah masa yang penuh dengan uji, bagi sang kupu. Kepompong adalah satu proses yang perlu kupu jalani dengan lebih hati-hati. Tidak ada yang boleh menyentuhnya, walaupun tiada sengaja. Tidak ada yang dapat membelainya, walaupun dengan kasih sayang. Apalagi bagi sesiapa yang menunjukkan kecintaan padanya, dengan membantunya membuka diri. Tidak, tidak ada yang boleh membantu sang kepompong ketika ia sedang berwujud kepompong. Hanya atas Kehendak Ilahi, ia terus berbenah diri. Dengan Bimbingan Kasih dan Sayang dari-Nya, kepompong terus melanjutkan proses yang sedang ia jalani.

Kepompong, adalah masa transisi bagi sang kupu. Ia dapat tak berdaya, ketika ada yang memaksanya untuk berubah. Ia segera luruh ke bumi, lalu tidak akan pernah ada lagi, kalau tersentuh ataupun terhimpit oleh beban yang memberatinya. Kepompong adalah proses yang memerlukan energi dari alam. Ia dapat menjadi apa yang ia mau, dengan terus memohon petunjuk dan pertolongan pada Pemilik dirinya yang sesungguhnya. Ya, pada Allah Yang Sedang Menciptakannya, kepompong perlu terus mendekatkan diri. Agar, kemudahan serta kemudahan, dapat ia temui dalam menaklukkan proses yang sedang ia tempuh untuk berubah menjadi kupu-kupu yang jelita.

Kepompong, ia akan mensenyumkan sesiapa saja yang sempat memperhatikan bagaimana proses yang ia tempuh untuk menjadi seekor kupu yang menawan dan jelita. Ia akan menjadi jalan tersedu dan harunya jiwa yang pernah menyaksikannya walau sejenak. Ya, ketika proses yang sedang ia alami terlihat oleh mata yang sedang menatap. Maka kita mungkin saja tidak akan mempercayai.  Padahal, memang hal demikian yang perlu ia laksanai.

Kepompong, memang kurang menarik dari segi tampilan. Apalagi warna yang sedang melekat padanya. Tiada warna dan warni yang cerah pada raganya. Apalagi matanya, memang tidak terlihat. Lalu, bagaimana pula dengan kaki, tangan, sayap?  Owh, tidaklah ia mempunyai sayap yang dapat mengepak, mengembang, lalu membawanya terbang. Belum sempurna proses yang sedang ia jalani. Kini, ia masih berbentuk kepompong. Kepompong yang tidak semua kita dapat menyaksikannya. Karena kepompong, memang seringkali tersembunyi. Ia berada pada tempat-tempat yang aman dan terlindung. Karena ia begitu rapuh, mudah rubuh dan runtuh kalau tersentuh. Memang, begitukah keadaanmu, wahai para kepompong? Tanyaku menanya pada sang kepompong yang entah di mana ia berada saat ini. Namun yakinku, kepompong bagi sang kupu cokelat yang sedang berada di dinding ruang hatiku, sudah tiada lagi. Karena ia telah berubah menjadi seekor kupu yang unik, lucu dan membuatku segera terharu memandanginya.

Kupu-kupu cokelat, ia begitu dekat denganku, saat ini. Pada tepi sebuah jam dinding yang terus berdetak menghitung waktu, ia sedang bergelayut. Sang kupu sedang menyimak suara penuh nada yang jam dinding perdengarkan. Ia begitu asyik dengan waktunya. Hingga kehadiranku tadi, tidak sedikitpun membuatnya berkutik. Ia sungguh tenang dengan aktivitas yang sedang ia jalankan. Tertidurkah engkau, wahai kupu yang baik…. Dari manakah asalmu? Bagaimana cara yang engkau tempuh, hingga sampai pula ke sini, ruang hati kami. Yang jelas, engkau terbang, kannnn…?

 “Ai!, buat apa lagi kita menanyai, kalau ternyata kupu sedang membawa lembar-lembar sayapnya ke mari,” jawab pikirku yang segera menyadari, ada dua lembar sayap bercorak bulat-bulat pada ujungnya.

Sekarang, ia sedang menempel di dinding. Tadi sempat terbang ke sana kemari, lalu menepi.

Setelah saya perhatikan dengan saksama, ada warna hitam pada bagian dalam corak berbentuk bulatan. Sedangkan pada tepi sayapnya, ada semacam garis yang berwarna keemasan. Sungguh, ini bukanlah sekadar hayalan apalagi impian. Seekor kupu sedang tertidur pulas di dalam pandangan mataku. Sungguh, terharu dengan semua ini. Ada beraneka rasa yang mencampur jadi satu. Hingga akhirnya, rasa yang mengalir dari relung hati ini, mencurah pula ke mari. Melalui jemari yang terus bergerak tiada henti, ia turut menyampaikan apa yang sedang saya alami. Semoga, sang kupu betah di sini. Meskipun hanya untuk beberapa lama lagi. Karena dalam yakinku terpatri suara-suara yang menyampaikan, bahwa “Sang kupu tidak selamanya ada untuk menemani.” Karena, ia kan melanjutkan langkah-langkah perjuangannya lagi, untuk melambaikan sayap-sayapnya yang kecokelatan.  Kupu-kupu cokelatku yang lucu, terima kasih atas kehadiranmu dalam ruang ini.

Kupu-kupu, lambaian sayapmu kini belum terlihat lagi. Engkau sedang mentafakur diri, atas  apa yang engkau baktikan pada waktu-waktu yang sebelum ini. Engkau mengibaskan lembaran sayap-sayap itu sebelum ini, berapa kali, hai…?

Sungguh, berbahagianya diri, saat menemukanmu dalam kondisi yang seperti ini. Karena dengan cara begini, pengamatan sedang berlangsung padamu. Engkau sedang ku teliti.  Xixixiiii….

Kupu-kupu, ketika kita melihatnya dari kejauhan, maka kita tidak akan pernah tahu bagaimana wujud aslinya. Terkecuali hanya terlihat warna-warninya saja yang sedang mengundang perhatian kita. Kalau ia berehat sejenak dari aktivitasnya menari-nari di angkasa, maka kita hanya dapat menyaksikan sebentuk lembaran yang sedang berdiri. Tipiiiiiiiiis sekali. Dua sayap itu sedang mengatup. Sedangkan ukiran yang sedang menghiasi sayap-sayap itu, tidak begitu jelas, yaaa…. 😀 But, kalau kita memandangnya lebih dekat, jelaslah sudah warna yang sedang menempel padanya.   Cokelat berhiaskan warna keemasan. Yes! I like it so much.

Kupu-kupu, menjadikanku terharu, tersentuh ruang waktu…

Kupu-kupu, membuatku tersipu, meruntuhkan bait-bait rindu…

Kupu-kupu, adakah engkau tahu, apa yang ada dalam pikirku…?

Kupu-kupu, entah sudah berapa lama ku menunggu, hadirmu menyapaku…

Kupu-kupu, dengan mengingatmu pada waktu-waktu yang telah berlalu, tersenyumlah aku…

Kupu-kupu cokelatku, selamat berehat yaa, semoga kelak pada lain waktu, engkau kembali menemuiku dengan pesonamu yang baru…

Kupu-kupu, semudah merangkai huruf-huruf yang mengisahkan tentangmu, akupun tahu bahwa engkau ada dengan pesan-pesan yang engkau bawa. Agar ada sebaris pikirku yang menepi ke salah satu lembaran catatan ini, tentangmu. Walaupun kita tidak akan selamanya bersama di sini, namun kebersamaan kita untuk beberapa waktu, cukup memberikan bukti bahwa engkau benar-benar ada. Engkau bukan lagi kupu-kupu yang pernah membayang dalam relung hati ini. Engkau bukan semu yang tidak akan pernah tertangkap oleh mataku. Namun, engkau benar-benar tunjukkan wujudmu.

Kupu-kupu,  sayap-sayap cokelatmu menampilkan wujud dalam nyata. Ketika tatap ini tertuju padanya, ada segenap cita kembali menerpa ruang jiwa. Semoga keindahanmu menjadikannya terjaga, lalu mengambil pelajaran dari semua yang engkau pertontonkan.  Untuk mengembalikan ingatannya pada berbagai asa yang sebelum ini pernah ia cipta. Agar ia kembali teringatkan pada lembaran masa berikutnya yang segera ia jelang.  Supaya lebih banyak lagi gerakan yang mampu ia upaya, untuk menjadinyatakan cita yang sebelumnya masih ada nun jauh di ujung mata. Semoga ia segera mendekat, untuk mendekat dan lebih mendekat lagi. Membersamai sang jiwa dalam menempuhi waktu demi waktu yang terus saja berganti. Dari hari ke hari, ia inginkan lebih ringan dalam menjalani kehidupan ini. Menikmati berbagai moment yang menemui, maupun yang ia temui. Memberikan pemahaman terbaiknya pada beraneka kisah yang ia jalani. Untuk ia jadikan sebagai langkah awal dalam menjejakkan kaki-kaki jiwa yang berikutnya. Hingga akhirnya, ia dapat mengukir prasasti terindahnya.

Sungguh, ingin pula ia menjadi sebebasmu yang dapat terbang kian kemari, mengunjungi berbagai negeri dengan senyuman nan menghiasi, menjadi  pemerhati. Wahai, seringan tubuhmu yang sedang melayang ketika sayap-sayap itu mengajakmu mengelilingi arah. Menjadi kupu-kupu di taman hati…  Menjadi kupu-kupu yang menyenangkan bagi sesiapapun yang sempat mengenali, membersamai, mengingati. Menjadi kupu-kupu terindah di seluruh negeri yang ia kunjungi. Sebagaimana engkau yang ku sambut dengan senang hati. Semoga kehadirannya di mana saja, pun menjadi sepertimu juga. Hadir untuk menghiasi, menjadi penghias ruang hati. Sebagaimana engkau yang datang dengan kehendakmu. Engkau, wahai… siapakah yang memberikan petunjuk padamu, tentang lokasi tempat tinggal kami?  Pasti Pemilikmu, yaa.

Kupu-kupu cokelat, ketika engkau pulang nanti, pintu ruang hati kami senantiasa terbuka untuk menyambut kedatanganmu lagi.

🙂 😀 🙂

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s