The Best Cooperation


Bersama teman-teman

Bersama teman-teman

Yes! You, engkau, sahabatku!

Teman yang baik, selamanya menjadi jalan yang menuntun kita untuk kembali. Ketika ternyata jalan yang kita tempuhi belumlah yang terbaik. Ya, karena tidak selamanya apa yang kita lakukan bersesuaian dengan yang kita butuhkan. Berdasarkan keinginan dan harapan, kita terus melanjutkan langkah. Sedangkan teman yang baik, senantiasa menjadi pengingat untuk tersadarnya kita kembali. Setelah kita terlarut dalam asyiknya melangkah.

Yes! You, engkau, sahabatku!

Banyak teman yang kita punyai. Namun, ternyata hanya teman yang terbaiklah yang dapat menjadi sahabat kita. Bukan semua. Hanya teman yang mau mengajak kita untuk kembalilah yang dapat kita jadikan sahabat. Sahabat yang bagi kita menjadi begitu berarti. Sahabat yang hanya inginkan kebaikan demi kebaikan untuk kita. Kebaikan yang sahabat punyai, melimpah sungguh meruah. Kebaikan yang ia harapkan, senantiasa ada untuk menjadi bagian dari kehidupan kita pula.

Yes! You, engkau, sahabatku!

Teman, telah sekian lama kita merangkai cita bersama. Semenjak kita sama-sama membayangkan betapa indahnya hari esok yang akan kita temui atas upaya yang kita perjuangkan. Betapa berharganya perjuangan yang sedang kita dayakan, untuk kehidupan kita selanjutnya. Bersama kita kembali melangkah dengan mengerahkan segala kemampuan yang ada. Kemampuan yang kembali mau kita munculkan. Kemampuan yang terus kita temukan. Kemampuan yang dapat menyampaikan kita pada kenyataan, kerjasama. Ya, dengan bekerjasama maka kita dapat  mencapai tujuan. Tujuan yang apabila kita merengkuhnya bersama, maka kita bisa.

Yes! You, engkau, sahabatku!

Berbagai rasa, pikir, dan tentu saja kenyataan sedang kita jalani teman… Adakalanya kita bersenyuman dalam menjalaninya. Pun tiba waktunya kita kembali menyadarkan diri agar ia sadar sesadar-sadarnya. Bahwa ia masih ada di bumi. Bumi yang menjadi jalan baginya untuk dapat sampai ke tujuan. Bumi yang sedang kita pijaki ini, menyediakan banyak jalan untuk kita tempuhi dalam mewujudkan asa. Bumi yang di sekelilingnya tersedia berbagai perhiasan. Perhiasan yang semua kita tentu sangat ingin memakainya. Perhiasan yang sedang kita pandangi, ingin kita miliki. Namun apa daya, kita belum mampu menggerakkan lagi jemari ini untuk menyentuhnya. Kita terus berupaya untuk dapat menggapainya. Kita berusaha dengan sekuat tenaga. Terus melingkarkan gerak tangan yang sedang menjalankan baktinya. Agar kita dapat melakukan yang terbaik bersamanya. Cukupkah perjuangan yang sedang kita lakukan? Bagaimana kabarnya dengan teman yang sedang berada di sekeliling? Apa yang sedang kita harapkan, beliaupun mengimpikan. Apa yang kita pernah bayangkan, beliau sedang dalam upaya untuk mencapainya. Nah! Pedulikah kita pada teman yang ternyata begitu dekatnya dengan kita. Beliau adalah jalan yang dapat kita temukan. Beliau sedang menggapai cita dengan berjuang.

Yes! You, engkau, sahabatku!

Ketika kita sedang berada sangat dekat dengan teman yang memungkinkan kita untuk selamat dalam berjuang, hingga sampai di puncak harapan, maka bekerjasama adalah pilihan. Demi mewujudkan cita bersama. Agar kita dapat memandangi keindahan dari atas sana. Setelah kita sampai pada cita tertinggi yang sedang kita upaya untuk sampai di sana. Lalu, kemana kita bercita? Setinggi apakah cita tersebut sedang kita sangkutkan? Bagaimanakah kabarnya teman-teman yang mempunyai cita yang sama dengan kita. Ternyata beliau masih ada. Alhamdulillahirabbil’alamiin… Engkau, teman yang terbaik, adalah sahabat baik.

Yes! You, engkau, sahabatku!

Teman, terkadang, tidak banyak teman yang kita punyai. Namun, kebanyakan kita pasti mempunyai teman. Dan teman-teman yang sedang menemani kita, ada lebih dari seorang, tentunya, kaannnnn?  Teman-teman tersebut kita pertemani, dengan pertemanan terbaik yang kita berikan. Teman yang kita jaga dengan penjagaan terbaik yang kita upayakan. Teman yang menjadi jalan bagi kita untuk kembali ingat dan mengingat, tentang tujuan. Teman yang selamanya ada di sekitar kita. Teman yang kita temukan pada berbagai sisi kehidupan. Teman yang sedang kita jaga agar senantiasa terjaga. Teman yang menjadikan kita terjaga, selama melanjutkan perjuangan, adalah sahabat selamanya.

Yes! You, engkau, sahabatku!

Dalam melanjutkan langkah perjuangan, ada waktunya, teman berada di samping kiri dan atau samping kanan kita. Terkadang teman berada di belakang kita. Dan pada kesempatan yang lain, kita temukan beliau ada di depan kita. Teman-teman tersebut sedang berjuang dengan perjuangan terbaiknya. Nah! Ketika kita sedang menempuhi perjalanan ini, teman-teman yang siap memberikan pertolongan kapanpun kita membutuhkan, adalah sahabat terbaik. Meskipun pertolongan tersebut  berupa doa-doa terindah yang sedang beliau kirimkan. Ya, karena tidak selamanya raga dan diri beliau ada berdekatan dengan kita. Sekalipun maunya kita, sang sahabat ada di hadapan mata. Ai! Engkau sahabat yang sedang berada sangat dekat, baiklah kita bergenggaman erat. Saat kita mempunyai tujuan yang sama, dan kita pun sedang berada pada jalan yang serupa. Meskipun kita tidak sedang melangkah dalam nyata, namun kita sedang bergerak. Walaupun kita sedang duduk-duduk saja, namun kita dalam upaya untuk mencapai tujuan. Dengan gerakan pikiran yang sedang menjelajahi alam. Bersama perjalanan jiwa yang harapkan tercapainya cita. Sedangkan raga yang kita bawa-bawa, mendayakan sedaya yang ia mampu upaya.

Teman, terkadang kita temui jalan yang kita tempuhi ada kemiringan beberapa derajat  Ai! Memang, terkadang kita berada pada jalan yang miring. Nah! Teman-teman yang sedang berada di dekat kita kembali menjadi jalan lurus dan datar yang mengingati diri, agar kita segera memandang padanya. Eits, tak hanya memandang, sentuhlah ia.  Sentuhan yang mengingatkannya akan tujuan di depan sana. Walau bagaimanapun, kita perlu sampai dengan selamat.  Dalam kegamangan, sahabat menjadi jalan pengingat, agar kita segera menyadari.  Dalam berjuang, menuju ketinggian, kondisi yang sama akan ada. Kuatkan jiwa, bukalah pikir, senyumkan wajah, segera. Rileks. Dengan demikian, ada semerbak cita yang sedang bertaburan di sekitaran. Kesejukan dan kedamaian akan kembali kita rasakan, setelah rasa yang sebelumnya, datang.  Semua itu adalah sahabat dalam berjuang.

Yes! You, engkau, sahabatku!

Yakinlah akan keberadaan teman terbaik sedang membersamai kita selalu. So, dalam kondisi yang bagaimanapun kita dapat menguasai keadaan.  Teman-teman tersebut ada, karena beliau berharga. Beliau ada di sekitar kita, karena beliau bermanfaat. Ada manfaat yang sedang beliau tebarkan, terlebih lagi pada kita yang berada sangat dekat di sisinya. Walaupun kita baru menyadari, bahwa keberadaan sahabat begitu bermakna. Setelah kita sampai pada apa yang kita cita. Di sana ada  kontribusi yang sahabat berikan. Yakinlah, tiada yang sia-sia. Walau bagaimanapun juga, teruskan perjalanan arah pikir menuju kehendaknya. Bantulah jiwa dalam menemukan lokasi-lokasi yang sedang ia tuju. Insya Allah, kerjasama terbaik yang sedang kita upayakan untuk pencapaian tujuan bersama, tercapai segera. Bukankah mereka semua adalah para sahabat baik?  Renungkanlah, bergeraklah, capailah cita bersamanya, dengan indah.

Yes! You, engkau, sahabatku!

Bertiga, kita bersahabat. Y – E – S! Tiga huruf yang sedang berbaris rapi, merupakan para sahabat yang sedang berjuang. Walaupun masih banyak huruf-huruf lainnya yang ada di dalam abjad, namun tiga huruf tersebut adalah sahabat. Mereka sedang meraih cita bersama. Mereka sedang berupa untuk memberikan yang terbaik. Kebaikan yang dapat mensenyumkan bagi sesiapa saja yang ia temui. Tiga huruf yang tidak dapat mencapai apa yang sedang mereka cita, tanpa bantuan dari huruf-huruf yang lainnya.Ya, mana mungkin kita hanya menuliskan yes, yes, dan yes, doang… yaa?   😀

So, beraneka jenis huruf lainnya, sedang berkontribusi. Beginilah perumpamaan tentang sahabat. Walaupun banyak teman yang sedang berada di sekitar kita, namun sahabat adalah yang terbaik. Tiga huruf saja, menjadi tagline dalam catatan ini. Catatan tentang perjalanan kehidupan. Perjalanan yang sedang terjadi, adalah sebuah upaya untuk memprasastikan proses demi proses. Proses yang sedang berlangsung, memang terkadang mensenyumkan. Senyuman yang selayaknya ada. Karena senyuman kita saat ini, adalah benih senyuman kemudian.  Yuuks kita berlatih untuk tersenyum lagi. Bersama. Karena senyuman merupakan salah satu dari sahabat terbaik yang membersamai kita dalam meneruskan perjalanan dalam kehidupan.

Yes! You, engkau, sahabatku!

Teman yang baik, selamanya ada di sisi.  Kalau kita meyakini kehadirannya senantiasa, maka kita dapat merasakan kebersamaan ini. Walaupun hanya dalam mimpi. Hihiii..

“Ai! Ini kan sudah pagi. Mengapa masih ada mimpi? Bukankah telah genap mimpi yang tercipta semenjak tadi? Ataukah, saat ini engkau sedang terlelap lagi?,” beruntun tanya menemaniku kini. Ia menanyai tentang beberapa buah kalimat yang tercipta sebelum ini. Kalimat yang tercipta entah untuk siapa. Kalimat yang menyinggung tentang teman baik. Teman yang sedang saya yakini sedang ada di sini. Namun, pikiran menanyai, dan menyangka bahwa saya sedang terlelap. Padahal benar. Di sini, saat ini, saya sedang terlelap dan bermimpi lagi. Lebih tepatnya, merangkai mimpi demi mimpi yang perlu ada. Karena, kalau tidak begini, maka kehidupan yang sedang berjalan akan terseret arus waktu. Ia akan hilang, tanpa bekas. Kehidupan akan menyisakan apa? Kalau kita tidak berupaya untuk memprasastikannya. Walau dalam bait-bait pagi nan masih sepi.  Karena yakinlah teman, bahwa sepi, sunyi, dan suasana yang seperti ini adalah sahabat terbaik dalam meneruskan mimpi.

Yes! You, engkau, sahabatku!

Sepi, sunyi, tanpa suara-suara sahabat dalam nyata, yang menemani. Kecuali lantunan  VLC media player, yang sedang berbunyi semenjak tadi. Adapun lirik yang sedang mengalun saat ini adalah:

Rabbani – Pergi tak Kembali

Setiap insan pasti merasa
Saat perpisahan terakhir
Dunia yang fana akan ditinggalkan
Hanya amalan yang dibawa

Terdengar sayup surah dibaca
Sayunya alunan suara
Cemas di dada lemah tak bermaya
Terbuka hijab di depan mata

Selamat tinggal pada semua
Berpisah kita selamanya
Kita tak sama nasib di sana
Baikkah atau sebaliknya

Amalan dan taqwa jadi bekalan
Sejahtera, bahagia pulang… kesana

Sekujur badan berselimut putih
Rebah bersemadi sendiri
Mengharap kasih anak dan isteri
Apa mungkin pahala dikirim

Terbaring sempit seluas pusara
Soal bicara terus bermula
Sesal dan insaf tak berguna lagi
Hancurlah jasad dimamah bumi

Berpisah sudah segalanya
Yang tinggal hanyalah kenangan
Diiringi doa dan air mata
Yang pergi takkan kembali lagi

Lirik-lirik yang melantun, sedang memecah sunyinya pagi hari, di sini.  Sedangkan para sahabat masih larut dengan aktivitasnya masing-masing.  Aktivitas pagi bersama sepi, berteman sunyi.  Aktivitas yang sedang mereka rutinkan, terkadang tidak kita ketahui. Namun dalam yakinku, para sahabat sedang bergerak dan melanjutkan perjalanan diri. Beliau semua meneruskan cita, meskipun tanpa suara yang sampai ke indera pendengaran ini. Aktivitas dalam sunyi yang beliau lakukan, merupakan kesempatan terbaik bagiku untuk mampir di sini. Meneruskan gerak langkah jemari. Ia yang sedang berlomba lari. Berolahraga pagi, dan berlatih untuk terbiasa menyalurkan suara hati. Karena, dengan cara begini, ia menjadi tahu tentang apa yang sedang terjadi. Bagaimana upaya yang sedang berlangsung di dalam pikiran. Tentang kehadiran suara dari relung hati. Suara yang berasal dari kesunyian. Suara yang muncul apabila kita mau mendengarkannya dengan lebih konsentrasi. Suara hati, kapankah engkau terakhir kali mengenalinya teman? Suara hati yang menjadi jalan untuk mengingatkan kita kembali, agar segera kembali ke jalan yang semestinya.  Ialah sahabat terbaik yang kita miliki sampai nanti. Sahabat terbaik yang perlu terus kita jagai. Agar ia mau bersuara dan kita bersedia menyimaknya. Sahabat terbaik yang kita pahami keberadaannya bersama diri ini. Sahabat terbaik yang mampu mensenyumkan kita, dengan caranya.

Hari ini, kita masih ada kesempatan untuk kembali.  Kembali sadar dan menyadari akan tujuan keberadaan kita di dunia ini.

Yes! You, engkau, sahabatku!

Engkau, siapapun engkau yang sedang melanjutkan langkah dalam kehidupan ini, tentu mempunyai cita, visi dan misi, bukan? Karena bersama semua itu, kita menjadi lebih bersemangat lagi dari hari ke hari. Merekalah para sahabat yang kembali mau mengingatkan kita akan tujuan yang sedang melambai-lambaikan telapaknya untuk kita salami.

Tujuan? Kemanakah tujuanmu, teman?  Karena tujuan yang akan engkau capai itu, adalah sahabat terbaikmu. Sahabat yang kembali mau mengingatkanmu untuk segera mengingatinya, dalam perjuanganmu. Sahabat yang sedang engkau tuju. Sahabat yang sedang berada nun jauh di hadapanmu. Meskipun ia belum membersamaimu hingga saat ini, namun tujuan ada untuk membersamaimu. Karena ia sahabat terbaik.

Yes! You, engkau, sahabatku!

Senyatanya, memang begitu. Ketika kita sedang berusaha dan berupa untuk mencapai tujuan, maka didalamnya ada proses. Proses yang walau bagaimanapun, mesti kita tempuhi. Proses yang sedang tercipta, merupakan sahabat terbaik kita. Proses demi proses yang kita jalani dari waktu ke waktu, merupakan teman-teman yang sedang membersamai.  Satu proses yang sedang kita tempuh, adalah satu teman. Dan proses berikutnya adalah teman yang selanjutnya. Nah! Betapa banyaknya teman-teman yang kita temui, kalau semakin banyak proses yang kita jalani. Bukankah bersama kita bisa! Ai! Inginku menyaksikan senyuman teman-teman semua, mensenyumiku. Dan inginku tersenyum padamu, bersama senyuman yang lebih indah, dari waktu ke waktu. Senyuman yang kita cipta karena kita sama-sama menjalani proses sebelumnya. Senyuman yang mau mengingatkan kita untuk menyadari akan kehadirannya. Agar kita kembali bersyukur dan bersabar dalam berbagai kondisi. Semoga senyuman demi senyuman dapat terus kita jagai, agar ia ada.

Senyuman saat ini, merupakan proses untuk terciptanya senyuman yang berikutnya.  Bukankah dengan berproses, kita dapat tersenyum.  Bersamailah proses dengan sebaik-baiknya. Karena proses adalah sahabat terbaik yang kita punyai dalam mencapai tujuan.

Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih).

فَأَمَّا الَّذِينَ شَقُوا فَفِي النَّارِ لَهُمْ فِيهَا زَفِيرٌ وَشَهِيقٌ

106

Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ إِلا مَا شَاءَ رَبُّكَ إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

107

Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.

وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ إِلا مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

.:: HaditsWeb ::.

🙂 🙂 🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s