Tragedi Malam Hari Dua Puluh Sembilan Maret


Bukan Gerbang Wisata Kita

Bukan Pagar Wisata Kita

Tanggal dua puluh sembilan Maret di wisata kita. Bapak Darsono, Mamy Dery, Kak Yuli, Ratih, Fatma, Dian, Shanty, Rini, Siti Barokah, Resti, Ekeu, Siti My Neighbour,  dan Dewi yang lagi sakit gigi… (semoga segera baikan lagi ya Chibby).

Sebuah tragedi yang kita tidak pernah membayangkan sebelumnya, terjadi hari ini. Pada malam Jum’at, tepatnya tanggal dua puluh sembilan Maret tahun dua ribu dua belas. Wahai engkau yang namanya terabsen sebagai saksi atas kejadian ini, ingatkah engkau? Ketika dalam kondisi yang kritis sebegini, kita rela antri untuk mengumpulkan seember dua ember air, secara bergantian. Ai! Tragedi klasik yang baru pertama kali terjadi, seumur-umur saya berada di sini. Setelah hampir enam tahun menjadi penghuni di kostan ini, hari ini adalah yang paling berkesan. Yes! Malam-malam, gelap-gelapan, kita kerja bakti. Kita bergotong royong untuk mengumpulkan tetesan air yang mengalir melalui selang. Kebaikan Bapak Darsono, yang sangat baik, ingin ku ingat selalu.

Bapak Darsono, beliau yang telah berusia lanjut, rela kita repotkan hingga malam menjadi larut sampai lebih dari pukul sembilan. Demi menunggu kita yang perlu memenuhkan bak kamar mandi hingga benar-benar penuh. Kalau engga? Bagaimana dengan besok pagi…? Kan kita-kita perlukan air yang sebelumnya tiada. Wah! Sungguh! Dalam keadaan yang seperti ini, karakter asli masing-masing kita akan terlihat jelas. Ya, bagaimana tentang kepedulian pada keadaan. Tentang kemauan untuk bekerjasama. Tentang keinginan untuk saling membantu. Kalau dengan bersama kita mampu, why not?

Mamy Dery, beliau adalah yang paling kita tuakan di sini. Beliau, rela menjagai kita-kita yang sedang mengantri, menemani dan memberikan semangat lagi, ketika ada yang mulai terlelahi akibat mondar-mandir dari satu sisi ke sisi lain. Ditambah lagi dengan basah-basah yang sedang membanjiri kaki dan sekitarnya. Apalagi dalam waktu yang bersamaan, hujan turun membasahi bumi. Sempurnalah sudah. Tragedi ini memang perlu kita abadikan. Walaupun dalam bentuk tulisan yang pias. Sedangkan kenyataan yang kita alami, belumlah terungkapkan seluruhnya. But, enjoy it. Seberapa katapun yang kita cipta atas keadaan yang kita alami, ia berharga.

Siti My Neighbour, adalah seorang yang akhirnya menjadi jalan bergeraknya saya. Ahahahaaahahaaaa… awalnya, saya ada di kamar, lagi berasyik ria dengan aktivitas. Lalu, Siti datang menyapa, memberikan peringatan, akan pentingnya air. Hihiiii…

“Sitiiii, peace, yaach!, peacee….. peacee…,”  bahagia rasanya, menjadi salah seorang tetangga beliau. Ya, bertetangga dengan Siti yang seringkali mengungkapkan segalanya dengan sportif. Kalau ada yang perlu kita sampaikan, ya ungkapkan saja. Begini prinsip yang melekat pada beliau. Hingga akhirnya, pada malam ini, saya kembali belajar satu hal penting dari beliau. Tentang kepedulian. Ya, Siti adalah seorang pribadi yang sangat peduli dengan keadaan. Ketika sekejap saja ada yang berubah dengan apa yang semestinya ada, maka beliau akan segera bertindak. Beliau segera mengingatkan, apabila ada yang masih belum ingat. Beliau dengan sigap akan memberikan tanda-tanda dari gerak dan gerik yang beliau cipta. Bersama nada suara yang menyapa, beliau menyampaikan segalanya, langsung ke tujuan. Siti, engkau adalah tetangga sang idola selamanya. Selamanya, inginku teringat akan kenangan atas kebersamaan kita. Dalam beraneka suasana, ada hikmah yang kita petik di dalamnya. Be your self. Engkau membuatku terharu, Nduk.

Kemudian, relawan berikutnya yang bekerja bakti dalam menangani tragedi yang sedang terjadi, adalah Dian. Dian yang bersukaria bermain air, terlihat lebih bersemangat! Apakah Dian engga kedinginan?

“Dian, sudahlah… gantian, nanti kedinginan,” kata Mamy Dery.

Setelah beliau memperhatikan, semenjak tadi, Dian terlihat khusu’ dengan posisinya. Berjongkok di depan ember-ember yang lagi mengantri untuk di isi. Kemudian, Dian menuruti nasihat Mamy. Dian pun berlalu, berpindah ke sisi lain. Lalu menempati lokasi yang berbeda dari awalnya. Ya, kasihan Dian, sedari tadi tiada henti-hentinya menunjukkan bukti, bahwa beliau adalah sahabat yang sejati. Yes! Begitu, lebih indah kan… teman.

Kemudian,  adalah lagi, Siti Barokah. Siti yang sedang berheadset ria, asyik dengan nada-nada yang beliau simak. Dengan sebuah alat yang sedang menempel di telinga, beliau terlihat enjoy. Memindahkan air, mengangkat, membawa, kemudian mengestafetkannya ke seorang teman bernama Rini,  lalu ke Shanty. Ya, karena kamar mandi yang baknya perlu beliau penuhkan berada pada lantai dua.  Ayoooo… kita bisaa..! Sempurnanya upaya, atas usaha yang kita lakukan bersama-sama. Hingga, tanpa terasa, satu persatu bak kamar mandipun penuh. Semuanya. Tiada yang tersisa. Begitulah…

Selain itu, adalagi seorang yang menjadi tetangganya Dian, beliau yang kamar mandinya juga berada di lantai atas, terlihat sangat bersemangat, rupanya. Fatma! Ai! Saya tidak menyangka, ternyata kerjasama Fatma boleh juga. Beliau sungguh membuatku terpana. Ada sebentuk pesona lain yang beliau tampilkan dalam waktu bekerjasama. Ya, karena selama ini, saya mengenal beliau sebagai seorang yang pendiam, tidak banyak bicara. Namun, ketika diminta untuk bergerak, berjuang dan memberikan kontribusi untuk kemaslahatan umat, maka beliau terlihat dan ada. Wah! Selamat buat Fatma. Engkau sungguh-sungguh luar biasa, teman. Teruskan bakti yang serupa dalam berbagai kesempatan yang engkau temui. Maka engkau mampu. Yes!

Ada Shanty, yang turut membantu Siti Barokah dan Rini, ada juga Kak Yuli yang juga lebih kami tuakan di sini. Beliau semua memberikan citra tersendiri. Citra terbaik yang perlu memprasasti dalam salah satu catatan perjalanan ini. Resti yang ternyata baru datang dari bepergian, senyum dari kejauhan. Beliau cantik, menarik dan menenangkan jiwa yang sempat memandang. Ada seorang yang mau menyampaikan pesan buat Resti, siapa yaaa…?

Pesan:  “Kalau pakai air, yang hemat yaa,” kata Siti Barokah. Hahaa, kami tertawa bersama, menyimak kalimat-kalimat ringan yang terdengar memecah kesunyian. Adalah detik demi detik waktu berjalan sedemikian cepatnya. Tidak terasa, sudah beberapa kali Bapak Darsono menanyakan, “Sudah penuhkah? … lalu beliau bertanya kembali kalimat yang sama, “Sudah penuhkah….”.

Lha, ternyata yang paling lama penuhnya adalah bak yang ada di kamar mandi kami (Siti My Neighbour dan Dewi, serta Fitri). Kami berempat merupakan deretan tetangga satu atap. Nah! Bagaimana dengan Fitri, yaa? Tidak terlihat adanya Fitri diantara kerumunan para penghuni wisata ini, semenjak tadi. Beliau senyatanya sedang tidak ada di tempat, karena terlihat kamar yang biasanya beliau tempati, sedang gelap, sunyi dan tiada berpenghuni.

“Fitri lagi kemana, sayang….?,”  belum ada kabar tentang keberadaan Fitri hingga saat ini. Semoga beliau baik-baik saja, aman dan senantiasa dalam lindungan serta bimbingan-Nya. Aamin. Karena sampai sudah larut malam seperti ini, Fitrii belum muncul-muncul juga. Belum ada berita tentang kondisi terakhir beliau. Kemanakah Fitri yang kalau sudah berdandan, terlihat sungguh cantik bak bidadari turun ke bumi. Fitri yang mudah tersenyum, baru beberapa hari ada di sini. Seingat saya, belumlah genap sebulan kebersamaan beliau bersama kami. Adapun kesan pertama saat bertemu dengan Fitri, beliau adalah anak baik-baik, ramah, dan mudah tersenyum. Saya senang menyapanya. Beliau tersenyum ketika kami berpapasan. Saya bahagia menatap wajah yang beliau tampilkan setiapkali kita saling bertukar senyuman.

Fitri, nama beliau mengingatkanku pada nama-nama Fitri lainnya, yang berkesempatan mampir dalam perjalanan kehidupanku. Ada Teh Ashafi yang mempunyai panggilan Fitri, ada Fitria Mayasari yang biasa kami panggil Fit, juga ada Teh Mey, yang nama beliau adalah Fitri, serta Fitri-Fitri berikutnya. Ada Fitria, yang akhirnya berubah nama menjadi Kaito, lalu ada juga Fitria selanjutnya yang tetap bernama Fitria. Wah! Sudah berapa orang yang namanya Fitri, yang saya kenali di kota ini yaa…. Lebih dari lima orang, pastinya. Namun saat ini, tersisa satu yang raganya dekat di sini. Sedangkan yang lainnya, kita berjauhan saat ini. Hanya raga. Sedangkan jiwa-jiwa kita dapat saling menyatu, saat kita mau mengembalikan ingatan satu sama lain. Ingatkah kita dengan para sahabat yang sebelumnya pernah kita bersamai, teman? Walaupun saat ini, beliau sedang berada nun jauh di sana. Kita berada dalam rentang jarak yang tidak lagi sedepa. Ada yang sedang menjadi perantara pertemuan raga kita, rupanya.

Teman,…  engkau yang pernah menjadi teman dalam menjalani waktu bersama, akan senantiasa ada di dalam hati ini. Engkau yang namamu pernah terukir dan tertulis baik dalam susunan kata berbentuk tulisan, maupun yang selamanya ada dalam ingatan, semoga kita dapat saling mengingat sampai kapanpun, yaa. Termasuk menghadirkan ingatan tentang satu tragedi yang pernah kita alami, pada malam ini. Malam Jum’at ternyata.

***

Teman, kita tidak dapat memberikan penilaian langsung kepada seseorang dari pengamatan  pertama saja. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kita dapat mengerti seorang yang pernah kita kenali. Kalau kita bersegera memberikan penilaian kepada seseorang ketika satu kali berjumpa, maka kita tidak akan pernah tahu, apakah penilaian kita tersebut sudah tepat atau belum. Karena, dari sekilas tatap mata, kita dapat memberikan penilaian. Namun yakinkah kita akan penilaian yang sedang kita berikan pada pandangan pertama, adalah yang terbaik?

Untuk dapat mengetahui bagaimana seseorang yang sesungguhnya, kita perlu memberikan lebih banyak waktu untuk menjadi bagian dari kehidupannya. Lalu, buat apa kita ada bersama-sama dengan seseorang yang sedang kita bersamai, kalau kita belum dapat mengetahui siapa beliau? Adalah waktu kita sangat berharga, kalau hanya kita gunakan untuk mencari-cari kesalahan dan kelemahan seseorang. Bukankah kita tidak pernah mengetahui, bahwa kita juga mempunyai kesalahan dan kelemahan. Hanya dengan kembali mau memberikan penilaian kepada diri kita terlebih dahulu sebelum mengalirkan penilaian kepada orang lain, maka kita menjadi lebih mudah untuk memahami. Karena, apa yang akan kita lakukan kepada siapa saja, perlu kita kembalikan terlebih dahulu terhadap diri kita. Lebih awal. Ya, agar kita tidak bersikap berlebihan atas penilaian yang kita berikan. Agar, kita tidak berlebihan dalam menilai kelemahan siapa saja. Agar kita tidak pula berlebihan dalam menilai kelebihan yang kita punyai. Supaya keseimbangan terjadi di sekeliling. Dengan demikian, waktu demi waktu yang sedang kita jalani bersama, menjadi begitu berharga. Kalau kita sudah memahami bahwa waktu sedetik saja sangat berarti, lalu untuk apa kita memanfaatkannya, teman?

Waktu yang kita pasti tidak akan bertemu dengannya lagi, setelah ia berlalu. Waktu yang kita tahu, sedang bergerak terus melaju. Waktu yang meski beberapa detik sekalipun, tidak akan dapat kita rengkuh lagi, setelah ia meninggalkan kita. Waktu-waktu yang paling berharga, adalah saat ini yang sedang kita jalani. Lalu, apakah yang sedang kita upayakan dalam menjalaninya?

Masihkah kita berusaha untuk mencari-cari kesalahan orang lain? Sedangkan kita ternyata lupa kalau kita juga pernah salah. Ketika kita bersibuk ria memberaikan penilaian yang berhubungan dengan orang lain, tidak ingatkah kita tentang pentingnya waktu sedetik saat ini, teman. Waktu yang sedang kita jalani, begitu berharga. Ia akan memberikan kita penilaian pula, atas apa yang sedang kita laksana bersamanya. Waktu yang menjadi jalan untuk menentukan, seberapa bernilaikah kita? Waktu yang juga sedang memberikan penilaian atas diri kita. Waktu yang secara tidak langsung, memberikan perhatian terbaiknya untuk kita. Bersama waktu yang terus bergerak, sebenarnya kita sedang terlarut. Ya, karena kita ada di dalam waktu. Saat ini pun, begitu.

Tentang kepedulian, juga membutuhkan waktu. Seberapa pedulinya kita terhadap sekeliling, merupakan hasil dari perjalanan yang kita tempuh dalam waktu-waktu yang sebelumnya. Sejauhmana rasa peduli yang kita pakai dalam memberikan tanggapan terhadap apapun yang kita temui dari waktu ke waktu, sangat erat kaitannya dengan aktivitas sebelumnya yang kita laksanakan. Karena, apa yang kita lakukan saat ini, adalah kumpulan dari waktu yang kita temui sebelum detik ini berlangsung.

Waktu, ia menjadi jalan yang mengingatkan kita kembali, ketika kita mulai tidak mengingatnya. Termasuk ketika kita tidak mengingat apa saja kesalahan yang kita lakukan. Kita akan sangat mudah menyalahkan orang lain, kalau kita benar-benar yakin bahwa kita tidak pernah salah. Namun, seorang yang menyadari kalau ia pernah salah, maka pemakluman akan menderaskan alirannya dari relung jiwa.

Ia tetap akan memberikan penilaian terhadap keadaan yang sedang ia amati. Namun penilaiannya bukanlah penilaian yang tanpa dasar. Ia memang menyampaikan apa yang ia ketahui dari sesiapa saja yang ia kenali, namun penyampaiannya berdasarkan pemahaman yang dapat dibuktikan. Ia memang bermudah-mudah dalam memaklumi apa saja yang telah ia pahami, namun pemaklumannya beserta alasan yang dapat dipercaya. Karena, ia melakukan semua, dengan landasan yang jelas. Ia bersikap, ia berucap, ia menyampaikan, ia memberikan penilaian. Karena ia menyadari bagaimana yang seharusnya.

Kalau bukan karena adanya harapan untuk melakukan yang terbaik, maka lebih baik ia tidak pedulikan saja semua yang ada. Akan tetapi, dari satu sisi dirinya, ia membawa pesan untuk lingkungan di mana ia berada. Secara tidak langsung, ia sedang memesankan bait-bait suara yang senantiasa ia bawa. Agar suara tersebut tidak hanya ia yang menyimaknya. Agar sesiapa saja yang sempat bertemuan dengannya dapat pula memahami suara yang serupa. Walaupun dalam penyampaiannya, ia masih menemukan kendala. Meskipun dalam pengucapan, ia masih temukan kebelumsempurnaan. Walaupun dari hasil penilaian dan sikap yang ia teladankan, belumlah sesuai dengan apa yang ia harapkan. Namun, ia terus berjuang dan berusaha untuk melakukan yang terbaik. Karena yang ia idamkan hanyalah kebaikan demi kebaikan, selamanya. Itu saja. Agar ia menjadi lebih sentosa dan sejahtera bersama lingkungan di mana ia berada. Semenjak dahulu, memang hal demikian yang hadir dalam citanya.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s