Teman Lama Tak Jumpa


♥

Walau tanpa nama yang berbaris dalam susunan huruf di lembaran maya. Engkau senantiasa ada menjadi pengingat saatku lupa. Walau berulangkali kita bertatap dalam nyata, namun berasa hampa di dalam jiwa, kalau kita tak saling menyapa. Buat yang telah merangkai kalimat dalam picture ini, terima kasih yaa. You are the new one, of my friend.

Teman, bagaimana kabar beliau-beliau di sana, saat ini ya? Buat teman-teman yang telah lama belum lagi bersua, apakah masih ada? Bagi teman-teman yang sedang melanjutkan langkah perjuangan, semoga senantiasa dalam naungan dan lindungan-Nya, aamin. Selama kita masih ada di dunia, maka kita perlu saling mengingat satu sama lain. Walaupun terbentang jarak yang cukup jauh untuk bertemunya raga, namun semoga doa senantiasa mengalir, membanjir, yang menjadi jalan teringatkan kita semua.

Teman-teman yang saat ini sedang terlelah dan terlemah karena beratnya himpitan aneka coba dalam menempuhi masa, semoga terus bergerak ya. Karena, gelap tak selamanya. Ada masa terang menerpakan sinarnya ke dunia kita. Pun tidak selamanya malam melingkupi alam hingga gulita sekitarannya. Akan ada benderang yang membersamai siang. Buat engkau yang sedang berduka di dalam jiwa, yang sabar ya friend.

Ada saatnya kita menempuhi waktu tanpa kita duga, ternyata kita dapat tersenyum dalam menjalaninya. Bahkan, tidak jarang pula hal yang sebaliknya menunjukkan diri. Kita boleh menikmatinya. Karena dalam berbagai keadaan, di setiap kondisi, ada hikmah dan makna yang dapat kita petik. Sekalipun pada waktu yang bersamaan, kita masih belum dapat mengerti, lalu menanyalah hati, “Mengapa semua ini terjadi…”

Tidak ada yang dapat kita lakukan, selain berupaya untuk mengembalikan keadaan menjadi lebih baik lagi. Ya, dengan berupaya, bersama doa yang terus mengalir, semoga kedamaian dan ketenangan dapat kembali kita rasakan, setelah ketidakberesan menerpa relung hati. Ai!  Dunia memang menyediakan beraneka pernik untuk kita. Lalu, maukah kita membersamainya?

Olah pikir, mengaturnya, mengembangkannya selebar-lebarnya, lalu menyentuhkan kehadirannya pada kenyataan. Adalah salah satu pilihan yang dapat kita ambil, ketika ia terbang sungguh jauh dari apa yang semestinya kita pikirkan. Ya, pikir yang semaunya saja menjelajah hingga ke penghujung negeri. Sedangkan raga kita masih di sini. Ia masih berada di atas bumi yang sedang berotasi. Kita sedang menginjakkan telapak ini, hingga ia melekat dan menjejak. Kita sedang melangkah, teman. Bukan lagi merangkak, beringsut, ataupun merayap. Langkah sudah dimulai, maka melanjutkannya adalah kemestian. Kalau sejenak saja kita henti, maka kita akan tergilas oleh perubahan. Apakah yang engkau pikirkan, teman?

Sepanjang waktu yang telah kita temui, lebih dari satu jenis dan karakter teman yang kita kenali. Setiap teman, membawa warna tersendiri. Ada yang memperlihatkan warna dirinya dengan putih yang berseri-seri, sehingga kita menjadi begitu ingin menatapnya lebih lama lagi. Kehadirannya yang tanpa corak kecuali hanya kepolosan, membuat kita sangat ingin mewarnainya. Kita inginkan ia menjadi berwarna-warni. Harapan kita untuk kebaikannya di masa yang akan datang, teman tersebut lebih menikmati harinya. Karena ia bahagia dengan beraneka warna yang akan segera menghiasi kehidupannya.

Selain itu, ada pula teman yang mengembangkan senyumannya dengan megah, cerah, sebagaimana sinaran mentari pagi hari. Ia hadir dengan pesona warna yang kemilau. Terang benderang karakternya, menjadi jalan bagi kita untuk memasang niat semenjak mula, lalu berkata dengan diri sendiri, begini, “Ai! Indah pekertinya, baik budinya, tulus baktinya, ingin dech menjadi seperti itu. Asyik kayaknya yaa, menjadi pribadi yang berperilaku terpuji.” Lalu, kita pun bergiat-untuk meneladani teman yang kita temui tadi. Meskipun pertemuan kita baru terjadi beberapa menit saja. Namun kesan selama bersamanya, menitipkan kita sebait pesan, memprasasti dalam lembaran diari, untuk kita abadikan. Kita menceritai sang diari tentang sosok yang kita temui tadi. Kita ingin mengabadikan tentang beliau, agar kita dapat membacanya lagi, nanti.

Wajah-wajah yang sedang berseri, seumpama bebungaan yang sedang bermekaran. Anggrek yang sedang berada di taman, telah berbunga rupanya. Ada banyak warnanya. Beraneka ragam corak anggrek-anggrek itu. Kita memandanginya, dengan senang hati. Kita menyapanya, kita menemuinya. Kita sampaikan salam terbaik sebagai jalan untuk memberikan tanda, bahwa kita ingin merangkai pertemanan dengannya. Saat sambutan yang kita terima ternyata positif, maka kita pun bahagia. Wahai teman, sudah sejauh apa kita melangkahkan kaki-kaki ini, hingga akhirnya dapat berjumpa dengan pribadi yang seperti ini? Perlukah kita mengelilingi bumi ini, untuk dapat mendeteksi satu persatu, teman yang sedang kita susuli? Ataukah, kita hanya perlu melayangkan sebait puisi, untuk menyampaikan suara hati? Apakah kita begitu yakin dengan apa yang sedang kita laksanai?

Terus kita melangkah menelusuri sisi kehidupan dari waktu ke waktu. Berulangkali kita berjumpa dengan persimpangan yang membuat kita terhenti untuk beberapa jenak. Kita sedang memberikan perhatian terbaik, pada pikiran yang segera menyampaikan keputusan. Mestikah kita melangkah pada jalur yang di sini, di sana, ataukah kita masih belum mampu memberikan jawaban pada pikir yang sedang bertanya? Tanyalah pada hatimu, tentang apa yang sedang engkau jalani. Kalau ia berkata, “Lanjutkan!” maka segeralah membenahi perlengkapan yang tadi sempat kita rehatkan sejenak. Kumpulkan lagi energi yang beberapa waktu sebelum ini, menyebar. Agar, kita dapat kembali melanjutkan perjuangan yang masih akan terus berlangsung ini. Kita mempunyai kesempatan hanya saat ini, teman.

Mengendalikan arah pikir agar ia kembali mengingat teman-teman yang pernah kita bersamai, merupakan salah satu jalan yang dapat mensenyumkan kita lebih indah lagi. Karena dapat kita alami sendiri, bagaimana kiranya bila teman-teman tersebut sedang berjarak dengan diri. Tentu ada yang berbeda, dengan yang sebelumnya kita alami.

Teman, walau berapa banyakpun jumlah dalam kuantitas, namun kualitas tentu perlu kita peduli. Karena teman yang kita pergauli sangat menentukan bagaimana kualitas diri kita sendiri. Sekalipun satu teman yang sedang kita hadapi, kalau kita dapat menjadikannya sebagai pengingat diri, maka cukuplah menjadi bukti. Bersama teman kita dapat menelusuri jalan yang sedang membentang dengan indahnya. Ialah alarm kehidupan yang kembali mau mengingatkan kita saat tak ingat padanya walau sedetik. Ia merelai dirinya untuk berkorban, demi kebaikan kita sebagai temannya. Ia tentu saja menjadi satu dari sekian banyak teman yang kita perhitungkan. Karena teman tersebut bernilai. Ia berharga, tinggi kualitasnya.

Berulangkali teman, kita bertemu dengan sosok-sosok baru. Terkadang kita yang menyapa, tidak jarang pula kita yang tersapa. Ada masanya kita mengulang tanya,  terkadang kita yang menerima tanya. Ya, karena diantara kita dapat saling melengkapi saat bersama. Ketika ada yang menanya, maka yang lainnya menyediakan jawaban. Apakah kita beraikan itu jawaban dalam kalimat-kalimat yang mengalir deras saat mendapatkan tanya? Maukah kita melakukan aktivitas yang mulia ini? Karena dengan demikian, kita menjadi jalan untuk sampaikan kebutuhan teman akan jawaban. Baiklah, ketika pada suatu masa kita menerima tanya yang akhirnya membuat kita bertanya, maka segeralah menghubungi sumber jawaban terdekat. Agar, kita dapat menemukan segera, jawaban yang tepat. Supaya pertanyaan tidak mengendap, sebelum ada yang menjawab.

Teman-teman dekat, selamanya menjadi jalan pengingat, saat kita tersesat di rimba dunia yang begitu lebat. Ya, karena tidak selamanya kita berada dalam pantauan teman-teman yang saat ini tiada. So, beliau-beliau yang sangat dekat dengan kita, bersedia mengumpulkan hasrat untuk dibagikan. Agar, selamanya kita dapat saling menyebar nasihat, meskipun tidak dalam waktu yang dekat, semoga segera dan bermanfaat.

Teman, senantiasa mempunyai persediaan niat yang baru dan diperbarui. Niat yang tujuannya, untuk mengembalikan semangat. Agar, teman-teman yang  sempat menemukan semangatnya sedang luntur, segera teringatkan lagi, bahwa ia pernah bertekad. Tekad yang perlu terbukti, tak hanya rangkaian kalimat-kalimat saja, ketika ia tertulis. Pun, tidak hanya menjadi penghias alunan suara saja, ketika ia terucap. Tekad yang bulat, terus menggulirkan diri, hingga ke akhirat.

Tentang teman lama yang sedang kita ingat. Salah satu tujuannya adalah untuk mengetahui kondisi terbaru teman tersebut. Apakah ia dalam kondisi sehat? Ataukah  sedang bertaburan dengan terpaan kilat yang hadir ketika gelap. Ia lesat. Terlarutkah ia bersamanya? Bersama cuaca yang mengakibatkan hadirnya kilat. Atau; ikutkah ia dengan semilir angin yang menerpa? Bagaimana pula dengan sesiapapun yang saat ini sangat dekat dengan teman yang sedang kita ingat?  Semoga semua dalam kondisi terbaik. Dalam nuansa penuh dengan semangat! Yaa…

***

Dalam menempuh perjalanan kehidupan ini, pada suatu hari, saya bertemu dengan seorang teman. Teman yang sedang menempuh masa studi.

Ia adalah pelajar. Namun demikian, dalam hari-harinya ia tidak hanya belajar. Karena, ada aktivitas lain yang ia lakukan disela-sela waktu belajarnya. Ya, berbisnis. Inilah yang sedang ia lakukan.

Meskipun sang teman belum menjadi seorang pebisnis yang profesional, namun ia ingin menjadi demikian. Ia mulai merintis bisnis sejak dini.

Ia mengawali dari pikiran yang ia hadirkan. Ia berbuat setelahnya, kemudian bergerak terus hingga mengalami perubahan. Dari waktu ke waktu, ia terus berjuang. Ia sedang merintis jalan agar dapat menuju sukses seperti yang ia harapkan. Bersama proses, ia mencicipi beraneka rasa. Rasa yang ia temukan saat melakukan survey. Rasa yang membuatnya kembali menyadari, inilah kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan yang membuatnya perlu terus belajar. Belajar tentang strategi bisnis, belajar dan kembali mempraktikkan.

Pernah, pada suatu waktu, ia terkena tembakan dari apa yang sedang ia kerjakan. Eits! Dalam kondisi begini, ia menghindar, dong.  Agar ia dapat bertahan. Karena ia masih ingin hidup. Muda  dan berjaya, inilah asa yang ia damba. Ia ingin menjadi pengusaha yang sukses.

Untuk mencapai sukses, tentu tidak mudah. Pasti perlu melakukan penelitian, menemukan banyak informasi, dan mengikuti petunjuk dari para senior yang telah terlebih dahulu mempunyai pengalaman.

Dalam menjalani proses, terkadang ia alami lelah! Namun, ia tidak pasrah. Beban yang dipikulnya memang berat, namun ia mempunyai tekad. Ia memperhatikan bagaimana para senior menemukan solusi demi solusi, sebelumnya. Dari para senior, ia memperoleh masukan, saran dan pesan yang berharga. Setelah memperoleh, ia segera memberi. Tak banyak yang ia simpan, hanya menginvestasi. Investasi, ya investasi. Ini yang ia lakukan.

“Untuk masa depan,” begini ia berbagi, pada suatu hari.

Dalam berbagai kesempatan terbaik, ia berusaha menemukan informasi. Berkomunikasi, adalah jalannya untuk bertemu dengan informasi. Karena komunikasi adalah jalan sampainya informasi dari pengirim kepada penerima informasi.

“Dengarkan pesan, saran dan nasihat dari para senior, namun jalankan apapun yang perlu kita laksana,” begini bait kalimat yang ia sampaikan pada sebuah pertemuan dengan kami.

Dalam menjalani proses, ia bekerja keras. Ia melanjutkan niat dengan berbuat. Ia mempunyai tekad untuk mewujudkan target. Karena baginya, target adalah pelecut semangat. Ketika semangatnya mengikat diri dengan keadaan. Ya, ia perlu teruskan perjuangan.

Tidak sebentar memang, waktu yang ia tempuh. Untuk kembali bangkit, ia perlukan masa yang cukup panjang. Hingga akhirnya, dengan gagah dan penuh percaya diri, ia pun melangkah dengan pasti. Mengayunkan tangan, melangkahkan kaki sepenuh hati. Selagi masih mempunyai kesempatan, baginya itu merupakan solusi. Ya, solusi yang ia cari ketika beraneka uji menyurutkan nyali.

Kini, teman sedang jauh di mata. Namun beliau senantiasa dekat di hati. Karena kami pernah bersama, meskipun dalam ilusi. Siapapun beliau, di manapun berada saat ini, semoga benar-benar ada. Ya, sosok yang penuh dengan dedikasi. Meskipun separuh jiwanya pergi, atas apa yang sedang ia usahai. Semoga bersama harapan untuk terwujudnya segala mimpi, ia terus menjagai tekad agar tidak lari. Walaupun sang tekad sempat pergi, ia segera menyusulnya untuk kembali membersamai. Tekad yang membersamai hingga ia sampai ke ujung, tujuan yang menanti.

Ketika bisnis pertama yang sedang dirintisnya gagal, ia kembali merambah peluang untuk bisnis yang lainnya. Perubahan tak lagi sekali dua kali ia alami. Bahkan telah beraneka jenis ia telusuri. Memang ia merasakan apa itu pahit, karena ia mengecap dengan indera perasanya. Namun dengan rasa yang sedang ia cicipi, ia menjadi tahu bahwa inilah kehidupan. Tidak hanya satu rasa saja yang ada. Banyak ragamnya.

Ia pernah berduka!

Ia terluka, juga.

Ia pun alami apa itu kecewa.

Ia menangis, karena perih.

Ia pedih dan teriris hatinya.

Beberapa saat kemudian, semua lebur, hancur semua bersama tetesan bulir bening yang segera membanjir. Lalu, nyala perlahan meredup, padam tanpa bekas. Sedangkan sisa-sisa pembakaran di dalam relung hatinya, terbawa oleh arus kesejukan yang memuara senyuman.

Aneka rasa, memang ia alami. Namun, ia tidak mengenalnya lebih dalam. Yang ia mengerti dari semua, hanya sebagai penghias perjalanan. Itu saja. Setelah bertemu dengan duka, luka, kecewa dan sejenisnya, kembali ia mengayunkan tangan, melangkah lagi dengan lebih tegap.

Ia tersenyum lagi, seraya menyalakan alat komunikasi, lalu menikmati waktunya. Ia menerima informasi, ia memberikan informasi. Komunikasi terus berlangsung, sambung menyambung. Aneka informasi menjadi jalan baginya untuk kembali mau menebarkan senyuman. Karena ia sangat yakin, siang tak selamanya. Malam akan berganti dengan benderang. Tepat saat mentari menyemburatkan cemerlangnya dari ufuk timur. Saat itulah, harapannya kembali. Hari ini perlu menjadi lebih baik lagi. Aamin.

 Bisikan yang ia dengar sungguh menyenangkan.  Seirama dengan sampainya kicauan burung yang silih berganti, ke indera  pendengarannya, terbukalah jalan ingatan. Ada teman yang perlu ia sapa. Ada teman yang masih ada, meski jauh di sana. Ia ingat sahabat lama. Lama tak jumpa. Lama belum lagi bersua.

“Bagaimanakah kabar teman lama?,” tanyanya.

“Teman lama yang berwajah cakep, sopan dan baik hatinya. Aku sukaaaa…,” bisik jiwa yang segera bersuara.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s