Let's go !!


Mentari dari balik gerbang

( ~~ :) ~~)

Orang yang profesional merupakan orang-orang yang berpendidikan, penuh kejujuran, berjiwa sosial yang tinggi, berkelimpahan dalam hal materi, berkelimpahan jiwa, senang berbagi dan mereka bertanggungjawab dengan banyak aktivitas yang sedang mereka laksanai. Senantiasa melakukan yang terbaik yang mereka mampu. Kalau pun melebihi dari kemampuan yang mereka miliki sekalipun, mereka terus mengusahai. Begitulah profesional yang semestinya.

Ia yang melaksanakan apapun yang perlu untuk ia kerjakan. Bukan karena ia membutuhkan, namun karena ia menyadari bahwa ada kebutuhan yang terpenuhi dengan apa yang ia baktikan. Tidak perlu mencari-cari alasan untuk tidak melakukan pekerjaan. Namun, ia senantiasa mencari alasan mengapa ia melakukan.

Orang yang profesional senantiasa menaburi hati, pikiran dan kehidupannya dengan pendidikan. Pendidikan yang baginya, sangat berarti. Pendidikan yang ia hargai sebagai salah satu sarana untuk memperoleh bahan pelajaran. Sehingga, berbagai kesempatan yang memungkinkan ia untuk menempuh pendidikan, ia peluk dengan segera. Ia meneruskan langkah-langkah bersama jalur yang menjadikannya dapat memperoleh pendidikan. Dari manapun, bersama siapapun, ia belajar. Karena baginya, selama masih berada di alam yang membentang dengan indah, merupakan sarana terbaik untuk belajar. Ia adalah pembelajar yang senantiasa mau berbenah. Berguru pada siapa saja, karena gurunya ada di mana-mana.

Profesional dalam memberikan bukti atas tanggungjawab yang ia emban. Memberikan jawaban atas pertanyaan yang dirinya sampaikan kepada kehidupan. Ia terus berjuang dengan usaha terbaiknya. Walaupun terkadang, ia temui hal-hal baru yang memintanya untuk belajar lebih rajin lagi. Karena ia ada untuk melakukan yang terbaik, bahkan melebihi kemampuannya. Ketika niat telah tercipta, ia perlu mendapat perhatian. Karena niat adalah tongkat yang kembali mau menopang tubuhnya ketika lemah dan lunglai saat melangkah, ia alami. Tertatih berjalan, melangkah kembali. Ia teruskan berusaha, berjuang dan bergerak karena ia mampu.

( ~~~  :)  ~~~)

Ia mempercayai bahwa wajah bukanlah segala-galanya. Namun, wajah adalah cerminan dari hati yang terdalam. Baginya, mempercayai oranglain adalah penting. Apalagi untuk mempercayai bahwa seorang yang baik hati itu ada. Ya, sungguh tinggi kepercayaannya akan hal ini.

Banyak jenis kepribadian yang ia temui di sepanjang perjalanannya. Banyak jenis karakter yang ia jumpai. Ada yang berwajah rupawan namun berkepribadian sederhana. Sungguh tulus baktinya. Meskipun tidak terlihat oleh mata dalam nyata, namun ia mengerti tentang apa yang ia hayati. Ia memahami mengapa semua terjadi. Karena ia meyakini, ada sekepinghati yang terus menjagai.

Pada kesempatan yang lain, ia berjumpa dengan orang yang cerdas namun sederhana dalam penampilan. Tidak ada yang berlebihan. Sehingga, tidak terlihat jelas, tentang siapa beliau yang sesungguhnya. Biasa. Namun, setelah diperhatikan dengan saksama, ada yang berbeda, ternyata. Ada aura dan kharisma yang ia tangkap dari tampilan yang sederhana. Berkepribadian, mempunyai kebijaksanaan. Dan dari sanalah ia menyadari sebuah kalimat yang sebelum ini pernah ia baca. Tidaklah layak memberikan penilaian kepada seseorang dari tampilan saja. Sebelum kita menyelami ke ruang-ruang eksistensi, belumlah pantas kita menilai seseorang dengan segera. Ia kembali belajar untuk mengenali kehidupan di sekitarnya. Ia menjadi peduli akan hal ini. Ia sedang mengajak diri untuk bersosialisasi.

Dari waktu ke waktu, ia bertemu dengan teman-teman. Ada yang baik, dihormati, penuh dengan percaya diri dan gemar berbagi. Ia mengerti kini, teman-temannya adalah cerminan siapa ia yang sesungguhnya. Dari sini, ia kembali berbenah diri. Ia perlu bersama dengan beliau-beliau yang baik. Ia ingin menghormati sesiapa yang ia temui. Karena besarnya perhatian pada masa depan. Ia kini sedang melangkah lagi.

Satu persimpangan ia temui. Ia melangkah lagi. Ada jalan lurus membentang di hadapan. Di sekitarnya banyak teman yang sedang bercengkerama. Banyak jumlah teman-teman di sana. Ia ingin berkumpul dengan mereka semua. Maka ia mulai membuka diri. Ia memperkenalkan siapa ia. Ia mengenali teman-teman yang ia sapa. Ia menyelami kehidupan mereka hingga ke dasarnya. Waih! Kedalaman makna yang sedang ia bersamai, sungguh membuatnya kembali mensyukuri. Ia bersabar, ketika belum dapat mengunjungi teman-teman lagi, ketika pada suatu waktu mereka berjarak raga. Ia percaya akan perjalanan ini. Selagi ia mau  melangkah, maka mereka dapat bersua kembali.

Dari hari ke hari, ia berjanji dengan dirinya sendiri. Bahwa masa depan yang lebih indah akan ia bersamai. Selagi ia mau menjaga diri, menjaga niat agar tidak berubah. Ia mesti melangkah dengan sepenuh hati. Ia bersamai teman-teman yang ia kenali, dengan sebaik-baiknya. Karena ia yakin, teman-teman tersebut dapat menjadi jalan baginya untuk mengenali, siapakah ia yang sesungguhnya?

Berbeda mereka dalam banyak hal. Perbedaan yang membuat ia tidak selepas-lepasnya berinteraksi. Perbedaan yang memberinya ingatan akan inti berkomunikasi. Ia sangat peduli tentang hal ini. Temannya yang penuh dengan kebaikan, tentulah menginginkan kebaikan baginya pula. Karena ia sangat yakin, bahwa kebaikan akan berdekat-dekatan dengan kebaikan. Ia percaya sungguh percaya. Ia bahagia dapat mengenali mereka semua. Walaupun hanya sekejap mata, kebersamaan yang tercipta. Untuk selanjutnya, selamanya mereka bersapa dalam rangkaian doa yang mengulurkan suara.

Tanpa bicara, mereka sedang bercengkerama. Meski diujung tatap ada sebait suara, namun ia tidak mengalirkan seluruhnya. Ada batasan yang perlu ia pahami pula. Gerbang asa memang sedang berdiri dengan kokohnya. Ia mentari. Nun jauh di ujung sana, sedang bersinar dengan cemerlang. Temannya yang setia berbagi dari hari ke hari, ia bersamai.

Sungguh kenikmatan yang tiada terperi, ketika ia kembali mengingati, bagaimana bakti mentari setiap hati. Ia ingin menjadi pribadi bak mentari, rela menerangi tanpa mengurangi kemilau sinar yang ia punyai. Bahkan, tanpa dikenali sekalipun, ia terus tersenyum. Senyumannya menjadi bukti, bahwa ia ada hari ini.

Berkulit hitam, berkulit putih, berkulit sawo matang, berkulit sawo mentah (karena belum dimasak yaaa?) ia tidak pedulikan. Karena ia tidak memandang teman dari tampilannya saja. Baginya, teman yang baik hati dan berbudi, sopan serta penuh dengan pemahaman, itulah yang ia suka.

Teman yang berkepribadian bagus, seperti mentari yang bersinar dengan gemilang. Ia sedang menata hari-harinya dengan lebih baik. Bersama harapan yang terus bertumbuh dan berkembang, ia melanjutkan perjuangan. Tidak ada yang terjadi tanpa makna, kembali ia mengingatkan diri. Ketika pada suatu hari, keadaan membuatnya luluh sejenak.

Namun, beruntungnya ia mengenali teman-teman yang berbudi. Teman-teman yang memberinya pesan, untuk terus melangkah lagi. Teman-teman seperti itulah yang terus ia jagai, ada. Agar, ia kembali teringatkan akan niat awal mengapa ia ada di sini. Ia ada bukan untuk tak bermakna.  Ia ingin menjadi seorang yang bermanfaat. Ia ada karena berarti.

Temannya berpesan tentang banyak hal, padanya. Termasuk sebuah pesan penting tentang berpikir. Ya, karena pikiran adalah awal gerakan yang kita kerjakan. Saat kita berpikir dengan baik, maka kita akan mengerjakan yang baik-baik. Kalau kita berpikir bahwa kita bisa, maka kita bisa melakukan apa yang sedang kita laksana. Ia terus menata apa yang ia pikirkan. Sekelebat, ia berpikir tentang betapa indahnya masa yang akan datang. Ia membayangkan kebahagiaan menjadi teman terbaik. Namun, tidaklah semua tercipta dengan tiba-tiba.

“Mari kita berproses,….,” ajak temannya.

Mereka melangkah bersama, dengan sebaik-baik langkah. Karena mereka inginkan yang terbaik maka kebaikan demi kebaikan ia usaha untuk menemani. Ia pernah terjatuh, luka dan berdarah. Temannya menjadi jalan pengobat luka. Temannya merengkuh lagi jemari, agar tubuhnya kembali mau berdiri. Temannya mengelap darah yang menetes, dengan hati-hati. Temannya adalah teman yang baik. Ia sangat ingin membalas kebaikan yang teman lakukan padanya. Ia sungguh terharu mengingati semua. Ia pun berusaha untuk mewujudkan citanya. Ia ingin mensenyumi kehidupan dengan senyuman yang lebih indah.

Ia adalah perempuan, sedangkan teman-temannya ada yang perempuan dan tidak sedikit pula yang laki-laki. Pernah, pada suatu hari, teman laki-laki mengingatinya begini, “Perempuan adalah pendukung terbaik bagi laki-laki. Perempuan sangat berarti. Tanpa peran perempuan di sekitarnya, tidak ada laki-laki yag dapat memenangkan kehidupannya. Oleh karena itu, berbahagialah wahai perempuan, karena hadirmu sungguh bermakna.”

Lalu, pada kesempatan yang lain, temannya menitipkan pesan tentang kehidupan. Pesan yang ia ingat lebih lama, lalu ia menuliskannya. Pesan tersebut adalah tentang cara untuk menjadi orang yang berbahagia. Salah satu jalan untuk menjadi orang yang berbahagia adalah dengan berpikir yang positif. Ya, karena dengan berpikiran positif, kita dapat membayangkan keindahan yang tercipta bersama kebahagiaan. Meskipun dalam bayangan, namun bahagia itu ada. Bayangkanlah bahagia, maka engkau dapat berbahagia. Pikirkanlah tentang kebahagiaan, maka ia datang menjelang. Walaupun belum sekarang, ia ada. Yakinlah.

Pada waktu yang lainnya, teman berpesan tentang jalan untuk menempuh bahagia.

“Carilah teman sebanyak-banyaknya,” begini teman berpesan.

Namun, teman menambahkan dengan kalimat yang berikutnya.

“Carilah teman yang lebih banyak lagi, maka engkau dapat menjadi seorang yang berbahagia. Namun kebahagiaanmu akan menjadi sempurna dan lengkap, kalau engkau mempunyai teman yang sejati,” teman pun tersenyum sungguh cemerlang. Secerah mentari yang bersinar. Terangi pikir, sinari hari.

“Ai!  Terima kasih, yaa…,”  dari balik gerbang yang menjadi jarak, ia menatap mentari.

( ~~ :) ~~)

Bersama teman-teman, ia belajar dari alam. Karena yang ia tahu sebelumnya, belajar sebagai suatu proses yang sedang ia jalani sampai saat ini. Karena ia lebih sering menyadari bahwa ia “tidak tahu”. Lalu, ia pun mengusahakan untuk  “mencari tahu” atas segala ketidaktahuan tersebut. Hingga akhirnya ia pun tahu, bahwa hanya ada satu hal yang ia tahu, yaitu “Ia tidak tahu”.

Ia memilih untuk belajar dari alam. Karena alam miliki kekuatan untuk menyebarkan beragam pesan pada kita. Ia adalah jalan yang menyambungkan kita dengan tujuan. Ia berupa kehidupan yang sedang kita jalani. Ia adalah hasil ciptaan Allah subhanahu wa Ta’ala, Rabb kita. Alam, menjadi salah satu pengingat, hingga mengingatkan kita pada-Nya.

“Kami bahagia dapat bersama-sama denganmu dalam melanjutkan perjalanan ini,” pengakuannya pada alam. Ia tersenyum saat melangkah, ia menikmati setiap langkah yang menjejak. Ia menikmati setiap gerakan tangan yang mengayun.

“Saat inikah kesempatan terakhirku untuk berpijak di bumi yang indah ini?,” ia bertanya pada diri sendiri.

Berada di antara beraneka macam ragam dan corak alam-Nya, sungguh berkesan. Warna-warni dunia begitu berharga untuk kita tinggalkan tanpa memetik hikmah darinya.

“Wahai semesta alam, terima kasih yaa,” ungkapnya dengan sepenuh hati.

“Terima kasih, wahai alam yang baik. Salam selalu untukmu,” ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Menghirup segarnya udara hari ini.

Ia kembali ke sini, saat ini, dengan senyuman yang lebih indah. Untuk mengabadikan hasil pelajaran itu, teman.  Agar ia menjadi tahu tentang apa yang sebelumnya ia tak tahu.  Hohooo…

Pada malam, siang, pagi dan dini hari sekalipun, ia manfaatkan untuk belajar. Tentang malam, ia mengungkap pikir:

Malam, adalah bagian hari.
Malam, adalah perantara pagi dan penghujung hari ini.
Malam, adalah penghubung antara awal hari dan akhir siang.
Malam, adalah kesempatan untuk bermuhasabah, tafakur, lalu menunduk tafakur, bersyukur atas nikmat hari ini.
Malam, adalah pesona nan mengajarkan kita arti terangnya mentari pada siang hari.
Malam, meski kelam, namun ia menawarkan kedamaian.
Malam, adalah peluang untuk menorehkan sebait kalam, berupa coretan kehidupan.
Malam, adalah salah satu suasana alam.
Malam, engkaulah jalan kembalinya kami menitikkan mutiara-mutiara dalam pekatnya sunyi.
Malam, engkau mengingatkan kami pada siang hari, lewat terangnya cahaya rembulan.

Sedangkan tentang siang hari, ia ingin mencurahkan pula di sini, begini:

Siang hari adalah saat untuk berbagi. Siang hari kita kembali melangkahkan kaki-kaki ini. Untuk menyusuri alur kehidupan yang telah membentang di hadapan. Ia ada untuk kita lalui.  Siang hari itu adalah hari yang selalu ku nanti. Harap mentari bersinar cerah.

Ai! Mentari, engkau telah kembalikan senyuman kami. Tetaplah di sini. Untuk menerangi hati-hati kami yang perlu sinar terangmu. Siang hari, engkau ingatkan kami pada Ilahi Rabbi.

Ya, Allah, bimbing langkah kami dalam menyusuri jalan ini.
Jalan yang telah kami pilih untuk dapat menuju pada-Mu dengan gembira di hati.
Ya Allah, Engkaulah harapan kami.
Terima kasih ya Allah… untuk segala karunia ini.
Pada-Mu kami memuji, tiada henti.
Untuk sampaikan rasa syukur ini…🙂

Bersama istiqamah, ia memohon kemudahan dari Allah subhanahu wa ta’ala, agar langkah-langkahnya menjadi semakin penuh makna dan bertabur arti. ^^

Ia berdoa, ia berusaha.

Begitu pula dengan sore hari. Meskipun singkat, namun berai kata ia rangkai bersamanya, karena:

Sore, saatnya kita tersenyum . . .
Sore, ternyata . . . ?
Hehehee …

Lalu, bagaimana pula dengan pagi hari? Inilah saat yang ia paling sukai:

Pagi hari, adalah saat-saat yang paling mendebarkan baginya.

Ia bertanya pada semua, “Adakah mentari bersinar hari ini?”

“Wahai teman, kami menantimu,” bisiknya dari balik tirai yang mulai membuka.

( ~~ :) ~~)

Buat sahabat, ia pun merangkai bait-bait kalimat. Agar menjadi salah satu pengingat baginya, tentang sahabat. Karena baginya, sahabat adalah cerminan siapa ia yang sesungguhnya. Bersahabat dengan siapa saja, ia senang. Sungguh! Peran sahabat sangat berarti bagi perkembangannya. Ia yakin dapat menemui para sahabat baik, sebagaimana yang pernah ia impikan. Ia berusaha untuk membersamai para sahabat yang ia kenal baik. Karena dengan keyakinan dan usaha yang sungguh-sungguh, ia yakin dapat menyelami kemajuan. Ia ingin menjadi lebih maju bersama para sahabatnya. Mereka ingin menjadi lebih baik bersama-sama. Untuk itulah, lembaran daun persahabatan berjatuhan setiap harinya. Seiring dengan perjalanan waktu, daun-daun tersebutpun mengering. Namun, tidak! dengan beraneka kesan dan pesan serta kenangan yang sahabat titipkan padanya. Semua muda, hijau dan segar dipandang.

Sahabat,

Sepatah kata yang engkau ucapkan, sebait kalimat yang engkau rangkai untukku, ku kenang selalu dalam perjalanan ini. Terima kasih, yaa… atas segalanya. Engkau benar dan betul-betul ku hargai.

Sahabat,

Engkau tersenyum, maka engkau makin cantiiik…

Engkau tersenyum, maka engkau “Ada” di hatiku…

Engkau tersenyum, maka engkau makin menarik…

Sahabat,

Tentang hari ini? Berapa kali kita mengingat-Nya?

Sahabat,

Engkau dan aku adalah satu kesatuan yang berjumpa atas izin dari-Nya…

Engkau dan aku adalah sama, ya, kita sama…

Engkau dan aku adalah sama-sama hamba ciptaan-Nya….

Ya, kita sama.

Hanya “Taqwa” pembeda kita.

:) :) :)

MY SURYA

Profesional person,who is ..educated,,,, honest,,,humen being…with more money…etc…they are who responsible with all activity around them.  And always do the best as they can, (🙂 )

Innocent face, innocent means.. he or she, believe all persons,,, good heart..handsome .. etc,  simple,, intelligent,,,may be beautiful,,, etc…wise person, respected.. good friend,, more confident to get really bright life in future,.  Not think about religion, who are good person…he is great, (🙂 )

Someone, who have black  skin or white skin.  Although skin colour also black,, but the heart pure is white… very clever worker and talent also… good personality, dilligent and kind, and would be better in life.  A family that rich or middle or poor… it’s ok, living in town.. working in city but in last period like village only.. there only good atmosphere and good persons.

Opinion,..

  • Everybody think that parent made us..
  • Oh, no…

View original post 242 more words


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s