Share Our Ultimate of Life


Menyusuri Jalan Waktu

Menyusuri Jalan Waktu

Kebaikan-kebaikan Ibu dan Bapak kepada Yani, sudah tidak terungkapkan lagi dengan kata-kata. Hanya Allah Yang Tahu. Yani hanya mampu bersyukur kepada Allah.  Kepada-Mu hamba memuji ya Rabb. Karena hanya atas izin-Mu semua terjadi. Bersama Kasih Sayang-Mu. Balasilah kebaikan-kebaikan Ibu dan Bapak dengan pahala yang setimpal di sisi-Mu ya Allah… Aamin ya Rabbal’alamiin.

Sebait kalimat pembuka catatan kali ini, adalah catatan yang pernah saya rangkai pada tujuh April tahun dua ribu enam silam. Ya, meskipun sebait saja, namun ia ada. Barisan kalimat  yang tercipta pada waktu saya masih berada bersama beliau, Bapak dan Ibu. Namun beliau kini jauh di mata. Ai! Rindu pertemuan, dengan Ibu dan Bapak di Jakarta. Semoga Bapak dan Ibu dalam keadaan terbaik, dalam lindungan-Nya, kapanpun. Meskipun tatapan mata ini belum lagi sampai pada beliau, namun ada seberkas tetesan tinta hati yang mengalir saat ini. Ia ingin mengungkapkan satu persatu atas apa yang ada. Agar, tetesan demi tetesan tersebut bermakna.

Buat beliau, Bapak dan Ibu, terima kasih Ibu, terima kasih Bapak. Ketika ingatan pada beliau hadir, terulurlah sapa meski tanpa suara. Ia ada, ia mengalir.  Hingga sampai pula pada salah satu lembaran hari ini. Lembaran yang putih dan sebelumnya masih kosong, mulai terisi sedikit demi sedikit. Karena huruf demi huruf mulai tersusun dengan baik. Yes! Spesial buat beliau meski jauh di mata, namun di dalam hati, beliau ada.

***

Ibu, mengenal kata Ibu, apa yang terbayangkan olehmu teman? Apakah engkau terbayangkan dengan seraut wajah yang penuh dengan kesabaran dan ketabahan? Apakah engkau menangkap sebaris senyuman yang menebar dari wajah beliau yang mulia? Apakah engkau dapat menatap banyak pesan yang sedang beliau sampaikan, meskipun hanya dari tatapan mata yang bersinar, berkelipan? Bagaimana engkau dapat mengetahui apa yang Ibu pinta, saat engkau belum lagi dapat membaca ekspresi yang beliau tampilkan dari sosok wajah yang penuh dengan kasih sayang itu.

Teman, bagaimana kabar ibumu saat ini? Apakah beliau baik-baik saja?

Ibu, ketika kita mengeja huruf demi huruf yang akhirnya melafalkan ‘Ibu’, ke mana arah pikir engkau layangkan, teman? Apakah engkau dapat menemukan makna tersirat dari kata tersebut? Bagaimana engkau mengenal pribadi bernama Ibu? Apakah beliau ada dalam ingatanmu saat ini? Lalu, apa yang engkau pikirkan saat teringat pada Ibu?

Teman, untukmu yang saat ini sedang berada sangat dekat dengan Ibu, apakah kalimat terakhir yang engkau sampaikan pada beliau? Bagaimana raut wajah yang engkau tampakkan pada beliau? Wajah yang beliau memandangnya? Seperti apakah ekspresi wajah Ibu setelah engkau bertatapan dengan beliau? Apakah Ibu bahagia berada bersamamu?

Teman, buat engkau yang saat ini sedang bersua dan bertatap mata dengan Ibu, tersenyumlah, bersyukurlah… karena tidak semua mempunyai kesempatan yang sama sepertimu. Lalu, apakah engkau telah memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya? Dapatkah engkau membayangkan bagaimana kiranya rasa yang akan engkau alami, ketika berada jauh dari beliau? Saat ingatan pada Ibu menyelimuti hatimu, kepada siapa engkau menyampaikan semua itu?

Teman, beruntungnya kita yang saat ini masih dapat menatap wajah mulia Ibu yang penuh dengan kelembutan. Ya, kelembutan jiwa yang sedang beliau bawa, terpancar dari tatap mata beliau yang teduh. Tenang di dalam hati, saat kedua mata kita bertemu pandang dengan beliau. Seakan tidak mau berpaling walau sekejap saja, dalam moment-moment yang seperti ini. Maunya kita, membawa beliau serta dalam seluruh waktu yang kita temui. Karena, ada kedamaian yang beliau tebarkan, lewat mata yang memandang. Siapapun beliau, Ibu adalah sosok yang penuh dengan kasih sayang. Meskipun kita baru berjumpa dengan beliau, pada tahun-tahun terakhir keberadaan kita di dunia. Namun Ibu adalah pribadi yang selamanya mengagumkan. Tenang bersama beliau, senang menatap beliau.

Ibu, adalah sebutan yang seringkali kita sampaikan pada beliau, perempuan dewasa yang kita kenal. Selain itu, juga ada sapaan senada yang menjelaskan tentang perempuan yang kita tuakan, seperti bunda, mama, mami, umi, dan lain sebagainya. Dengan kata apapun kita menyapa beliau, bebas. Karena kita mempunyai alasan tersendiri, saat melantunkan panggilan tersebut.

Pada perempuan mulia yang sungguh berjasa ini, saya seringkali terpesona. Ya, karena pesona yang beliau bawa, membuat diri ini sangat ingin mengetahui, ada apa di balik sosok bernama Ibu. Hingga ketegaran yang melekat pada beliau, tidak mampu terobohkan oleh terpaan sepelik apapun. Tetaplah Ibu penuh dengan keteguhan, ketika pada suatu waktu ujian kehidupan melanda hari-hari beliau. Ibu tidak pernah menampakkannya, dengan sengaja. Walau bagaimanapun cara, beliau paling pintar dalam mengelola rasa.

“Ibu, baik-baik saja, Nak…,” ungkap beliau pada suatu hari.

Ketika bibir ini menyampaikan sapa pada Ibunda nun jauh di kampung halaman. Sedangkan dari nada suara yang beliau alirkan, jelaskan semua tentang apa yang sedang terjadi. Ibunda, seringkali tidak ingin menguraikan apa yang beliau rasai. Ibunda, hanya inginkan ketenangan kita alami.

Ibunda, selamanya peduli. Walau jauh dari tatapan mata, sekalipun. Namun rengkuhan tangan beliau yang hanya sedepa, seakan menjulur lebih dekat. Ya, jarak bukan lagi penghalang untuk terciptanya pertemuan dengan beliau. Karena Ibunda, seringkali menjadi lebih dekat dengan kita setiapkali ingatan ini memekarkan kelopaknya. Hingga, kembang senyuman yang beliau punya, membuat wajah kita tersenyum pula saat itu juga. Bahkan, saat malam mulai menampakkan wajahnya, masih terlihat warna-warni senyuman beliau nan menyisakan semerbak. Haruuum, sungguh wangi.

Ibunda, kini… lembaran potret beliau menjadi jalan, untuk sampaikan kerinduan yang menggemuruh. Bahagia yang menebar saat beliau tersenyum, kembali luahkan gembira dalam jiwa. Senantiasa rangkaian doa beliau kirimkan, meskipun tiada kita meminta sebelumnya. Apalagi saat kita untaikan pinta. Maka Ibunda akan berkata, “Ibunda selalu mendoakanmu, Nak.”

Dalam berbagai kesempatan, Ibunda sampaikan segalanya. Agar kita dapat kembali berkumpul di surga-Nya. Biarlah ketika kita di dunia berpencar dan mengalami aneka warna rasa. Semoga semua meluah dalam lautan bahagia, ketika kelak kita bersua. Untuk berbagi kisah tentang segala yang muncul. Semoga ada tautan makna yang dapat kita eratkan, dari waktu ke waktu. Karena dari detik ke detik yang sedang kita jalani, ada makna yang ia bawa.

“Ketika saat ini kita terjebak dalam sunyi yang mengungkit jiwa untuk menyampaikan bahwa ia sedang merasa sepi. Maka mengembalikan ingatan pada hari-hari yang lebih sunyi lagi, merupakan salah satu jalan untuk menyadarkannya.  Ingatan akan lokasi berikutnya yang akan kita temui, setelah menyelesaikan langkah dalam perjalanan di dunia ini.  Saat di luar begitu sunyi, tiada suara yang menyelingi, adalah baik kalau kita menyetel suara dari dalam. Ya, suara yang kita alirkan dari dalam diri. Suara hati.”

Saat sekeliling kita ternyata begitu gelap, belum ada lagi sinar yang sampai. Maka memilih untuk menyalakan sinar dari dalam diri kita, adalah salah satu aktivitas yang sangat menyenangkan. Dengan demikian, kita dapat memberikan penerangan pada sekeliling yang semulanya gulita.

Untuk dapat menjalani kehidupan ini dengan lebih baik, kita membutuhkan cara pandang yang berbeda dari waktu ke waktu. Terlebih lagi saat arah pikir membawa kita pada kehidupannya. Maka, itulah kesempatan terbaik untuk mengikutinya. Pikiran yang dapat memberikan kita senyuman terindah, kalau kita memikirkan tentang indahnya tersenyum. Betapa mudah teman, untuk merasakan kebahagiaan, kalau kita mau memikirkan tentang kebahagiaan, terlebih dahulu. Begitu pula dengan beliau-beliau yang saat ini sedang berada jauh dari pandangan mata kita yang sedang menatap. Mengembalikan ingatan pada masa-masa kebersamaan, kiranya dapat mencairkan gumpalan rindu yang menyelimuti jiwa. Ya, jiwa yang semenjak semula menyampaikan apa yang ia rasa. Bahwa ia merasakan kerinduan yang sempurna. Setiapkali ingatan pada Ibunda menyapanya.

Wahai, tidak hanya Ibunda saja yang seringkali hadir dalam ingatan kita. Namun Bapak, juga. Ya, karena beliau-beliau adalah pribadi yang begitu berarti dalam kehidupan kita. Ibu dan Bapak, Ayah dan Bunda, Papa dan Mama, Abi dan Umi, lalu apa lagi yaa..?

Dua kata tersebut hadirnya berdampingan. Ketika kita menyebutkan keduanya sekaligus, maka apakah yang sedang terbayang dalam pikirmu teman? Apakah engkau sedang membayangkan kedua orangtuamu yang saat ini jauh di mata? Ataukah engkau segera memberikan jawaban, bahwa beliau berdua sedang berada di hadapanmu saat ini. Ya, beliau sedang bercengkerama denganmu. Beliau sedang menemanimu dalam menghabiskan beberapa waktu, bersama. Beliau sedang menyaksikan engkau yang sedang sibuk belajar, saat ini. Ai!  Rajinnyaaaa…

Ataukah, engkau sedang mengingat seorang Ibu dan Bapak yang pada siang hari tadi,  sempat engkau temui. Beliau sedang melangkah berdua, menyeberangi jalan raya. Ya, ketika engkau sedang berada pada lokasi yang sama dengan beliau. Hanya saja, arah yang sedang engkau tuju berseberangan. Engkau sedang menyeberang jalan, sedangkan dari arah yang berlawanan, engkau melihat dua orang; Ibu dan Bapak yang juga sedang menyeberang. Nah! Tepat di tengah, engkau berpapasan dengan beliau. Engkau tersenyum, sedangkan beliau berdua mensenyumimu pula. Pada saat yang sama, ingatanmu segera melayang nun jauh ke ujung dunia. Engkau teringatkan pada kedua orang tuamu. Engkau  merenung sejenak, hanya beberapa detik saja.

“Teeeeeeeeeeeet,” tiba-tiba, engkau terkagetkan.

Engkau menyadari, ternyata engkau masih perlu melanjutkan langkah-langkah lagi. Engkau masih dalam perjalanan. Engkau sedang menyeberangi jalan raya, rupanya. Engkau pun melangkah segera. Engkau ingin cepat sampai di seberang sana. Engkau tidak mau berlama-lama pada lokasi tadi. Karena, beberapa detik saja engkau tak ingat, maka engkau akan kehilangan kesempatan. Ya, kesempatanmu untuk melanjutkan perjalanan di dunia dapat berakhir. Engkau perlu melangkah dengan segera. Engkau ingat pada kedua orang tuamu yang sedang menantimu. Engkau terbayang wajah beliau yang penuh dengan kasih sayang. Engkau jadi pengen menyentuh kedua tangan beliau, menyalami, lalu terlelap di sana. Engkau ingin melakukannya, namun apa daya. Raga beliau tiada dalam tatap mata. Bagaimana engkau menyikapi hal yang serupa, teman…

Adalah ingatan yang sampai saat ini bertengger indah dalam ruang pikir. Ingatan yang menjadi salah satu jalan untuk kita tempuh dalam menciptakan pertemuan dengan beliau di sana. Doa, kemudian menjadi kendaraan yang mengantarkan kita untuk bersua. Agar ingatan yang telah tercipta, dapat menjadi nyata. Ia segera menyampaikan kita pada pribadi yang penuh cinta.

Teman, pernahkah terbersit dalam ingatanmu walaupun sekejap saja, tentang keadaan yang serupa?  Ataukah engkau sedang  menjalaninya pada waktu yang sama? Ya, saat bait-bait ini tercipta dari tetesan tinta jiwa yang merangkainya segera. Bagaimana engkau menjalani keadaan yang sama? Pada waktu engkau benar-benar merindukan sesiapa saja yang hadir dalam ingatanmu. Ketika engkau tidak lagi dapat menyampaikan semua dalam nada suara yang mengalir dengan derasnya. Dan ketika itu, engkau tiba-tiba terpana. Engkau masih belum percaya dengan apa yang engkau alami. Engkau benar-benar belum mengerti dengan semua yang terjadi. Inginkan menangis untuk meluapkan segala. Namun, airmatamu tiada yang bersedia untuk menetes. Inginkan untuk merangkainya dalam susunan kata agar engkau tahu bahwa ia ada. Dan engkau pernah mengalaminya. Ternyata, tiada lagi tinta yang tersisa. Ya,alat tulismu yang selama ini engkau gunakan untuk merangkai suara hati dalam diari, sedang kehabisan energi. Hingga akhirnya, engkau memilih alternatif lain. Baiklah kita berbagi di sini. Pada salah satu halaman maya yang sangat berbudi. Untuk membuktikan eksistensi, mencipta prasasti perjalanan diri. Engkaukah yang sedang merangkai catatan serupa, teman?

Dari waktu ke waktu, engkau bertemu dengan kondisi yang berbeda. Berulangkali, engkau mengalaminya. Engkau ingin menyaksikannya kembali pada waktu yang lain, tentu saja setelah saat ini berlalu. Makanya, engkau sisihkan beberapa menit waktumu untuk menjadikannya ada. Supaya, pada waktu yang lain itu, engkau menjadi tahu akan semua yang engkau cipta. Hanya tumpahan rasa yang tidak kenal waktu.

Hujan menetes satu-satu, menyapa tepi daun. Tetesannya pun jatuh ke bumi, meninggalkan sisa-sisa basah. Berlanjut jatuhannya, ke sela-sela tanah yang segera menyatu. Tanah tersenyum, karena ia kembali bugar. Ia segar dan berseri-seri. Senyuman tanah memang tidak terlihat jelas saat ini. Karena ia sedang berada di dalam kegelapan malam. Tiada pula terperhatikan bagaimana ekspresinya ketika menadah hujan yang mendekat, perlahan.

Tertimpa tetesan hujan, itulah yang ia alami beberapa waktu yang lalu. Namun, tanah berbahagia. Karena ia yakin akan makna yang hadir setelah hujan turun. Bebungaan yang sedang bertumbuh bersamanya, akan bermekaran. Dedaunan yang semenjak tadi tertimpa tetesan hujan, pun mengalami kebahagiaan yang serupa. Karena akar-akar pada batangnya yang kokoh, memperoleh tambahan persediaan minuman. Ya, asupan gizi pun berlimpah, meruah ke seluruh pelosok keberadaan diri.

Tumbuhan, tanah dan rerumputan, begitu bahagianya bersama tetesan air yang menyapanya. Lalu, bagaimana pula dengan kita yang bertemankan titik-titik permata kehidupan?  Dapatkah kita memetik makna dari kehadirannya, kapan saja ia menyapa? Kalaulah tanpanya, kita tidak akan dapat menyaksikan bagaimana kebersihan itu tercipta. Sedangkan tanpa setetes air, kita tidak akan ada. So, enjoyourtime, only. While share our ultimate of life, together.  Dengan demikian, kita mengerti tentang arti hadir diri.

Bukankah dari sepi dan sunyi, kita dapat mendengarkan nada-nada terindah? Bukankah dengan memanfaatkan kesempatan saat ini, kita dapat merangkai kisah? Hanya saja, kita segera berkata sudahlah… lalu rebah dan pasrah. Tanpa pernah mau mengambil  hikmah dari keadaan yang sedang kita jalani. Kalau memang kita ingin tersenyum lebih indah, maka melangkahlah dengan gagah.  Kalau ternyata tujuan itu ada, baiklah kita segera menjelangnya.

🙂 🙂 🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s