In the Middle of Tea Plantation


Mark Darrough Photography

Mark Darrough Photography

Keseimbangan waktu yang kita punyai, adalah untuk mencapai kebahagiaan. Salah satu cara untuk memanfaatkan waktu adalah dengan melakukan segala sesuatu yang dapat menghadirkan kebahagiaan. Memfokuskan pikiran hanya pada satu hal, akan membuat kehidupan kita menjadi tidak berwarna. So, melibatkannya pada beraneka jenis keadaan, adalah salah satu cara untuk menemukan kebahagiaan.

Berbahagia. Membahas tentang satu kata bahagia yang telah berimbuhan ini; kebahagiaan, tentu sangat menyenangkan. Karena, semua kita pastinya, sangat mengerti tentang kata ini. Kata yang apabila kita ucapkan dengan suara yang mengalir, maka dapat membuat wajah menjadi lebih cerah. Kemudian, kita pun menebarkan senyuman terindah pada selembar wajah yang sedang kita bawa ini.

Bahagia, apakah yang teringat olehmu teman? Ketika satu kata bahagia sampai pula padamu. Saat kebahagiaan tidak hanya sebuah kata, namun ia sedang engkau jalani. Engkau menikmati lebih banyak waktumu bersamanya. Engkau menyambut detik-detik waktumu yang berikutnya, dengan bahagia. Wahai, betapa kehidupan yang selanjutnya, senantiasa kita harapkan. Karena, dalam waktu yang akan kita tempuh, ada bahagia.

Teman, atau barangkali saat ini engkau sedang menyusun draft tentang rencana-rencana bahagiamu. Ya, rencana bahagia yang membuatmu dapat tersenyum lebih indah dalam menjalani hari, saat ini. Rencana bahagia yang ingin segera engkau wujudkan. Rencana yang kelak akan menjadi kenyataan. Wahai, apa sajakah rencana bahagiamu itu teman? Lalu, bagaimana cara yang engkau tempuh dalam upaya untuk menjadikannya ada?

Bahagia, tanpa perencanaan terlebih dahulu, mungkin saja engkau dapat mengalami kebahagiaan. Bahagia adalah sebuah kata yang sangat sarat dengan makna. Ya, bahagia adalah kata yang dapat mengantarkan kita pada suatu kondisi yang begitu kita senangi. Dan ia bukan hanya sebuah kata yang tersusun dari beberapa huruf saja. Ia bukan hanya sebuah kata. Karena kata bahagia adalah satu diantara banyak kata yang sedang kita usaha untuk tercipta, kalau memang saat ini ia belum menjadi nyata.

Bahagia, terdiri dari tujuh huruf yang tersusun menjadi satu. Hingga terbentuklah kata bahagia. Berada dalam kondisi bahagia merupakan suatu keadaan yang paling mengesankan. Apabila ia belum ada, kita mendambanya. Saat ia sedang membersamai kita, maka kita pun menikmati kebersamaan dengannya. Bahagia yang seperti apakah yang engkau damba, wahai teman?

Bahagia. Untuk dapat membersamai kata bahagia dan menjadikannya teman dalam menjalani waktu, ada banyak cara yang dapat kita lakukan. Salah satunya adalah dengan menghadirkan terlebih dahulu dalam harapan. Ya, karena bahagia akan menjadi benar-benar ada saat kita begitu yakin akan kedatangannya.

Bahagia. Berbagai negeri dapat kita kunjungi untuk menemukan bahagia. Banyak kota dapat kita datangi, untuk merasakan bahagia. Berjalan dan mengitari komplek dan perumahan di sekeliling tempat tinggal, juga menjadi salah satu jalan untuk membersamai bahagia. Saat-saat berjumpa dengan para sahabat yang baik adalah kunci bahagia. Menghabiskan waktu luang dengan menjalani hobi juga dapat membuat kita bahagia. Berbahagialah kapanpun engkau mau. Kalau engkau telah mengetahui bagaimana cara untuk berbahagia. Karena bahagia bukan hanya sebuah kata, ia benar-benar ada.

Adapun salah satu cara untuk merasakan kebahagiaan adalah ketika berjumpa dengan teman-teman yang baru. Yah, beliau yang selama ini belum pernah kita temui, belum sempat kita kenali, tiba-tiba hadir di depan mata.  Lalu, kita berkenalan, kita bersapaan, bertukar kisah, berbagi senyuman. Kita berpandangan, kita menikmati kebersamaan. Begitu singkat waktu terasa, tanpa pernah kita menyadari, akhirnya waktu untuk bersama pun usai. Semoga kita dapat berjumpa lagi, untuk melanjutkan percakapan.

Lalu, bagaimana halnya dengan rencana bahagia yang telah kita susun dengan sangat menawan. Rencana untuk pertemuan bersama senyuman. Ai! Senyuman penuh kebahagiaan tentu akan menebar dengan lebih menarik lagi. Wahai, saat pertemuan dengan beliau-beliau yang selama ini telah kita kenali. Wajah-wajah yang sebelumnya pernah kita pandangi dari layar ingatan. Wajah yang pernah hadir dalam harapan, lalu kita pun menciptakan sebuah pesan pada diri sendiri, untuk mengingatkannya.

“Pada kesempatan terbaik, saya akan bertemu dengan beliau,” begini pesan yang kita cipta. Lalu, wajah pada layar ingatan tersebut, kita tempatkan pada posisi yang aman. Agar ingatan menjaganya sampai menjadi kenyataan. Itulah salah satu jalan kebahagiaan. Ketika kenyataan yang seperti harapan, hadir dalam pandangan.

***

Teman, tentang pertemuan dengan beliau yang pernah ada dalam ingatan, saya ingin berbagi.  Kisah ini pun berhubungan dengan pertemuan bersama beliau yang belum pernah hadir dalam ingatan.

Tepat beberapa hari yang lalu, Jum’at. Ada rangkaian kisah yang sungguh sangat tidak mudah untuk merangkainya dengan kata-kata. Makna yang tercipta apabila berganti dengan susunan huruf yang tercipta, belumlah tersampaikan sepenuhnya. Karena saya menyadari, akan kemampuan diri tentang hal ini. Namun demikian, kisah tersebut perlu ada dalam bentuk tulisan. Agar, ia menjadi salah satu jalan untuk hadirkan ingatan pada dua buah kata berikutnya yang merupakan jalan bahagia; syukur dan sabar.

Bersyukurlah, saat kita mengalami pertemuan dengan beliau yang selama ini kita harapkan untuk bertemu. Dan, tumbuhkanlah kesabaran yang bibit-bibitnya telah menebar sebelum detik ini hadir. Karena, bersama syukur dan sabar yang senantiasa kita jaga dengan sempurna, maka kita dapat berbahagia kapanpun kita mau. Ya, bersyukur atas beraneka keadaan yang kita jalani dan kita bahagia saat menjalaninya. Bersabar dengan berbagai kondisi yang kita alami saat ini, sedangkan bersamanya belum ada bahagia.

Ai! Bukankah engkau ingin mengikuti kisah yang akan saya paparkan, teman?

Pada siang hari menjelang sore, tanggal enam, saya menyempatkan waktu untuk berjalan-jalan. Tujuannya hanya ingin mensegarkan pikiran dan menemukan fosil-fosil pengetahuan yang terpendam di dalam perjalanan waktu. Selangkah demi selangkah, kaki ini berjalan. Ia menikmati kesegaran yang menebar di sekitaran. Karena baru saja hujan membasahi alam. Dan kini, bukti hadirnya hujan terlihat dari sisa-sisa air yang masih membasahi jalanan. Saya sedang berada di atasnya. Berjalan dengan tujuan menikmati alam. Itu aja.

Setelah puas melangkah, akhirnya hadirlah pikiran untuk melanjutkan perjalanan dengan kendaraan. Tidak berapa lama kemudian, saya sudah duduk manis di samping bapak supir yang sedang menyetir. Dengan sepenuh ingatan, terbersit harapan untuk mengunjungi sebuah tempat yang sebelumnya juga pernah saya kunjungi. Menemui teman-teman, yang tidak pandai berjalan. Karena ia tidak mempunyai kaki-kaki untuk dilangkahkan. So, mengunjunginya adalah pilihan yang telah saya putuskan. Karena, begitu besarnya harapan untuk pertemuan. Yes! Perpustakaan kata.

Dengan segenap harapan yang sedang menyelimuti ruang pikiran, meneteslah senyuman dari detik-detik waktu yang bergulir. Sedetik berlalu, berganti dengan menit. Beberapa waktu berikutnya, menitpun berkumpul menjadi lebih banyak. Sebelum hitungannya mencapai satu jam, saya telah sampai pada tujuan. Kebaikan supir angkot yang penuh dengan pengabdian, tidak akan pernah terbalaskan sampai kapanpun. Namun, seberkas senyuman yang sedang menebar pada ujung kebersamaan dengan beliau, kiranya dapat mencairkan kebaikan tersebut. Hingga luruhlah ia dengan seperlunya. Agar, kebahagiaan segera memancar pada relung jiwa beliau yang baik itu.

Ya, dengan tersenyum pada sesiapa saja yang kita temui, maka kita dapat merasakan kebahagiaan. Apalagi kalau kita tersenyum pada beliau yang penuh dengan kebaikan. Kebaikan yang mengalir pula pada kita. Sungguh tidak akan pernah terbalaskan, hanya dengan senyuman saja. Maka merangkai beberapa bait kata untuk kita bingkiskan pada yang berkepentingan merupakan salah satu jalan menuju ke arah bahagia.

Setelah berpamitan pada beliau yang menjadi jalan sampaikan saya lebih cepat pada tujuan, maka kaki-kaki ini pun kembali melangkah. Melangkah untuk menemui teman-teman yang sedang bersenyuman dengan sesamanya. Belum lagi puas kaki-kaki ini melangkah untuk yang ke sekian kalinya, tibalah saya pada tujuan. Perpustakaan kata. Banyak banget buku-buku di sana. Ada beraneka jenisnya. Semua cantik, jelita dan rupawan. Saya berbahagia sungguh tiada terungkapkan, saat kami kembali jumpa. Kebahagiaan atas pertemuan yang terencana. Pertemuan yang terjadi untuk kesekian kalinya, setelah sebelumnya juga pernah bersama.

Satu persatu, saya temui. Kami bersalaman, bersapaan meskipun tanpa suara. Namun, ada bahagia saat kejadian tersebut berlangsung. Semua menyisakan kenangan. Banyak pesan yang teman-teman sampaikan tentang kehidupan. Beraneka kisah dan pengalaman ia sampaikan dengan jelas. Apalagi ilmu pengetahuan, sungguh membuatku ingin selalu bersamanya. Sungguh mengesan!  Kehidupan yang lebih baik, sedang ia tawarkan.

Di tengah keasyikan membersamai teman-teman yang penuh dengan pengertian, konsentrasiku pecah! Ada sebuah suara yang sedang menyampaikan informasi.  Suara lembut yang mengalun dari sumber informasi, mengabarkan pada sesiapapun yang sedang mendengarkan, bahwa ada pesan penting yang sedang ia sampaikan. Pesan yang secara tidak langsung, membuatku segera mengalihkan perhatian. Ku tutup lembaran kertas yang telah bertaburan dengan banyak huruf. Ku simak pesan dengan fokus. Intinya, pesan tersebut mengabarkan bahwa beberapa puluh menit lagi akan ada talk show bersama beliau, “Oki Setiana Dewi” di lantai 1 Gedung Gramedia Merdeka, Bandung.

“Asyiiiiikkkkkk!,  😀  ” hatiku bahagia berbunga-bunga.

Ku ingin jumpa dengan beliau, sejak lama.  Dan beberapa menit lagi akan menjadi kenyataan.  Sungguh! Tidak semua rencana-Nya menjadi rencana kita. Dan tidak semua rencana kita adalah rencana Allah. Namun, ketika rencana Allah adalah rencana kita, betapa indahnya dunia terasa. Tiba-tiba, pelangi muncul di ruang ingatan. Warna-warninya yang megah, menampakkan lengkungan yang bersahaja. Talk show berlangsung dengan lancar.  Terima kasih … ya Allah, Alhamdulillah…  Senyum+senyum aja si aku dalam rentang waktu pertemuan yang tidak sampai dua jam tersebut. Senyuman yang mengakibatkan terjadinya perkenalan dengan teman yang saat itu juga sedang berada pada lokasi.

Teh Ica, adalah perempuan berikutnya yang saya temui pada hari yang sama. Teh Ica yang berada tidak jauh dariku, menyapaku terlebih dahulu. Setelah sebelumnya, kita sempat bertemu pandang.

“Sini Teh, …,” ajak beliau. Ketika menyadari bahwa masih ada ruang kosong di antara kami. Kemudian, kami pun berdekatan. Kita bersebelahan. Tersenyum bersama, menikmati waktu. Aliran suara-suara yang kami dengarkan dengan serius, terkadang mensenyumkan. Terkadang pula menyentuh. Keharuan terus saja menghadirkan wujudnya dalam ruang jiwaku. Ai! Hari yang mengesankan. Pertemuan dengan beliau yang sebelumnya ada dalam ingatan, bersamaan dengan berkenalan sama Teh Ica yang sebelumnya belum pernah jumpa.

Teh Ica, berasal dari Lembang. Hadir ke Bandung, untuk berbagai keperluan. Beraktivitas dan berorganisasi serta menggali pengalaman. Selain itu, untuk menemukan pengalaman juga.  Pertemuan tersebut kami manfaatkan untuk saling bertukar informasi. Termasuk bertukar alat koneksi. Yes!

“DT – Teh Ica” adalah identitas tentang beliau, yang tersimpan pada layar handphoneku. Setelah saya menyimpan nama beliau. Karena, di Bandung, Teh Ica  juga beraktivitas di DT.  Hehee… Identitas tersebut, artinya Teh Ica yang beraktivitas di DT.  Sedangkan DT sendiri merupakan singkatan dari Darul Tauhid.

Selain Teh Ica, saya juga berkenalan dengan temannya Teh Ica. Namanya Teh Mela. Teh Mela, berasal dari Pengalengan. Benar, kan Teh Mela. Teh Mela dan Teh Ica berteman, karena beliau sama-sama beraktivitas bersama di Darul Tauhid.  Di sanalah beliau menjadi lebih dekat. Karena seringnya pertemuan, dengan aktivitas yang sama. Akhirnya kita bertemu, wahai Teh Ica dan Teh Mela? Pernahkah Teteh merencana atas pertemuan dan perjumpaan tersebut?

Adalah atas izin dari Allah, kita menjalani. So, betapa kita tidak berbahagia, karena begitu besar perhatian-Nya buat kita. Saat kita belum lagi terbayangkan atas semua, Allah sedang menyiapkan rencana-Nya. Wahai, lalu bagaimana cara agar rasa syukur ini dapat melimpah? Bagaimana kesabaran ini terus tertumpah dari detik ke detik waktu yang sedang kita jalani. Sungguh kehidupan ini sungguhlah indah, kalau kita mau memetik buah-buah hikmah yang rasanya manis, harum dan ranum. Harumnya yang tercium di ujung hidung, membuat kita sangat ingin merasakan manisnya. Manis yang dapat kita rasakan saat mencicipinya. Buah yang perlu kita kupas terlebih dahulu, sebelum menikmatinya.

Buah-buah hikmah dalam kehidupan kita, sedang berada pada pohon waktu. Kita sedang bersamanya, setiap detik. Pohon yang terus bertumbuh dan rindang daunnya.

Waktu yang sedang kita jalani, membawa pesan terindah untuk kebahagiaan kita. Kebahagiaan yang semua kita sangat ingin bersamanya, lebih sering. Kebahagiaan yang terkadang, kita rasakan sangat jauh. Karena pada waktu yang bersamaan, kita terlarut dalam perasaan yang kita ciptakan sendiri. Kebahagiaan yang kita rasakan sangat jauh, karena kita sedang mengambil jarak darinya. Padahal, sesungguhnya tidak ada jarak antara kita dan bahagia. Sangat dekat, beginilah posisinya dengan kita. Bahkan lebih dekat dari rangkaian kata yang sedang kita cipta.

Ya, bahagia itu adanya di dalam jiwa yang berbahagia. Ia berbahagia karena ia mau mengambil hikmah dari beraneka kisah yang sedang ia jalani. Atas kesadaran yang begitu tinggi, ia mengakui bahwa, Allah sedang Mengatur perjalanan yang sedang ia tempuh. Karena ada kisah terindah yang sedang dirancang-Nya. Kisah yang tidak lagi dapat terungkapkan dengan susunan kata. Selain, kita berusaha untuk merangkainya saat ia terjadi. Karena, ingatan kita tidaklah selamanya ada untuk keadaan yang sedang berlangsung. Ia akan ikut dengan waktu. Setelah itu, kita akan bertemu dengan kisah yang baru. Kisah yang berbeda.

Oleh karena itu, perlunya menjadi seorang yang berpikir dan menyikap beraneka keadaan dengan cara yang berbeda.  Dengan demikian, tidak ada lagi waktu yang dapat kita gunakan untuk merutuki keadaan. Yang ada hanya rasa syukur atas berbagai kondisi yang sesuai dengan harapan. Lalu, bersabar dengan kesabaran berlebih, saat apa yang kita harapkan ternyata masih harapan. Berbahagialah teman, kapanpun engkau mau, ketika syukur dan sabar telah menjadi teman terbaikmu. Yakinlah, bahwa pelangi ada karena ia bermakna.  Untuk itu, nikmatilah pelangi kehidupanmu.

🙂 🙂 🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s