Menebar Bunga Persahabatan


Semoga Selamat hingga Tujuan

Selamat Melanjutkan Perjalanan

Hari ini ia kembali, merangkai kata suara jiwa. Agar tiada lagi yang tersisa, mengendap pada relungnya. Ya, karena berlama-lama menitipkannya pada hati yang terus menanyai, tentu menyentuh waktunya. Sedangkan waktu yang sedang ia jalani, sungguh begitu berharga. Adalah belum sempurna kiranya, waktu yang ada kalau belum ia manfaatkan untuk berbagi. Berbagi? Ya, berbagi walau suara hati.

Pagi menjelang mentari menampakkan senyumannya yang indah berseri dan cemerlang, ia pun melanjutkan perjalanan. Masih panjang jalur yang mesti ia tempuhi untuk dapat sampai pada tujuan. Namun, waktu yang tersedia, tidak dapat ia menentukan. Akankah sepanjang jalan yang sedang membentang? Ataukah hanya tersisa beberapa detik saja? Wallaahu a’lam bish shawab. Tentang akhir usia dan penghujungnya, inilah rahasia.

***

Pagi ini, hari Sabtu. Kami, saya dan beberapa orang teman, merencanakan untuk olahraga bersama. Konon ceritanya, merupakan kesempatan terakhir kalinya bagi kami untuk bersama-sama seperti ini. Karena beberapa hari lagi, tepatnya pada tanggal delapan belas April akan ada salah seorang dari kami yang akan mengambil jarak. Yah, begitu. Beliau akan berjauhan raga untuk waktu-waktu yang berikutnya. Waih! Betapa semua ini menyisakan kesan tersendiri bagi saya, khususnya. Karena ia yang seringkali mengalami kondisi yang senada, kerapkali mensuarakan isi hati. Tentang perpisahan; semoga hanya raga.

Teh Siti, adalah salah seorang sosok yang sebelumnya juga pernah saya bahas di sini. Sosok yang penuh dengan kebaikan nan bertaburan. Seorang teman yang sekaligus kakak saya di kota ini. Beliau adalah teman yang semenjak beberapa tahun terakhir, menjalani hari bersama. Dalam sebuah bangunan, jalan kami menjemput rizki. Namun apa daya, ternyata memang tidak akan selamanya kita bersama. Ketika ketentuan-Nya menjelaskan dengan rinci atas apa yang mesti kita jalani, maka menerimanya dengan sepenuh hati adalah pilihan yang dapat meneduhkan hati.

Bersyukur atas apapun kondisi yang saat ini kita jalani, menjadi salah satu jalan untuk tersenyum. Karena, kalau tidak begini, apa lagi yang dapat kita upaya. Bersenyuman dari ruang jiwa, seraya menyadari, bahwa ALLAH sangat dekat dengan kita. Termasuk ketika kita terlupa pada-Nya meski sesaat. ALLAH terus ada bersama kita. Adakah kita mengakuinya, teman?

Untuk bertanya dan menanyai diri sendiri lebih sering, tentu dapat membuatnya kembali bertanya atas tanya yang sampai padanya. Oleh karena itulah saya mampir ke sini, untuk merangkai tanya yang sempat hadir dan terlintas di dalam fikir, meski sekilas.

Teh Siti, beliaupun akan pergi…

Mengapa  pergi?  Lalu, bagaimana dengan rencana selanjutnya? Apakah aktivitas berikutnya yang akan beliau tekuni? Apapun itu, semoga beliau senantiasa menikmati dalam menjalaninya. Sehingga hari-hari yang akan beliau jalani setelah saat ini berlangsung, lebih sering bertemankan bahagia dan senyuman, hendaknya. Aamin.

Teh Siti, baiklah…

Semoga kita dapat berjumpa lagi, tentu saja dalam kesempatan terbaik.

Tentang beraneka kisah dan warna-warni kehidupan yang pernah kita temui bersama, di sini, semoga dapat menjadi jalan bagi kita untuk menentukan sikap terbaik dalam melangkah. Agar, banyak pengalaman yang penah kita alami, dapat menjadi bahan referensi untuk kehidupan kita yang berikutnya. Agar kita lebih bergiat-giat dalam mengenali diri. Untuk tujuan apakah ia ada hingga saat ini? Semoga kita menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Meskipun keadaan dan waktu meminta kita untuk mau terus belajar bersamanya.

Agar… agar… agar…  (?) Pertanyaan-pertanyaan dalam kehidupan berikutnya yang akan hadir menyapa, dapat kita temukan jawabannya, seiring dengan bertumbuhkembangnya kedewasaan diri. Karena, tidak ada satupun keadaan yang kita tempuh, yang kita alami, tanpa pesan dan hikmah. Bahwa, kenangan yang tertinggalkan akan menjadi pengingat bagi kita saat ia memerlukannya. Selamat jalan yaa…

Teh Siti, kebersamaan kita yang baru beberapa masa, tentu belum dapat mengurai banyak hal. Namun demikian, semoga catatan saat ini menjadi salah satu bukti, bahwa kita pernah meyakini akan pentingnya kebersamaan. Wah! Ada sejumput haru menerkamkan taring-taringnya yang tajam, pada relung hatiku. Meski pilu, cukuplah ia menjadi jawaban atas pertanyaan yang mengalir.

Ketika kita siap untuk bertemu, maka kita perlu lebih siap lagi untuk sebuah kata yang bertolakbelakang dengan itu. Pertemuan yang mengajarkan kita sebaris senyuman. Pertemuan yang menitipkan kita baris-baris kebahagiaan. Ia akan selamanya ada meski tiada tampak dalam nyata. Begitulah ia, rasa yang terselip pada wajah-wajah yang mau menyelami makna kehadiran bahagia.

Ketika kita bersegera  mengerlingkan arah pandang, atas kebahagiaan yang kita alami pada detik-detik perjumpaan. Maka kita perlu lebih bersiap semenjak awal. Ketika setelah saat itu gemuruh rindu menerpanya. Arah pandang yang mengalirkan suara-suara yang kita bawa serta. Suara yang akan terdengar kalau kita berusaha dengan segenap upaya untuk mengenalinya. Suara qalbu yang selamanya inginkan bertemu dengan sesiapa saja yang ia rindu. Nah! Ketika masa itu berlangsung, semaksimal daya ia sampaikan tentang apa yang ia alami. Sehingga secara tidak langsung kita dapat mengetahuinya dari pancaran tatap mata yang sayu. Ya, cemerlangnya begitu jauh nun di dalam lautan airmata. Sedangkan yang dapat kita tangkap hanyalah benih-benih rindu yang mewujud. Walaupun tiada airmata haru, namun ia sebenarnya sedang berusaha untuk maju. Ia ingin menyampaikan pada semua yang mungkin tahu, bahwa ia sedang pilu.

Teman, pernahkah engkau mengalami suatu kondisi yang engkau tidak dapat mengerti padanya? Kondisi yang membuatmu menanya sebaris kalimat, “Ada apa denganku?” Tanya yang engkau rangkai dengan sendirinya. Tanya yang engkau mau, ada jawaban setelah kehadirannya. Tanya yang engkau sampaikan mungkin hanya pada sang bayu yang sedang menerpa lembaran pipimu. Setelahnya, engkau biarkan angin berlalu bersama hembusannya yang bersemilir. Syahdu, sejuk dan sendu. Inilah nuansa yang sedang engkau temui, saat itu. Ketika pada waktu yang bersamaan,  masih belum ada jawaban atas tanyamu.

Teman, untuk berjarak dengan beliau-beliau yang selama ini ada bersama kita, tentu bukan hal seperti ini yang kita mau. Inginnya kita malah senantiasa berdekatan.

“Inginku senantiasa di sisimu,” begini bunyi rangkaian kata yang kita cipta, untuk menyampaikan apa yang kita mau. Namun, ketika keinginan kita bukanlah yang semestinya, lalu kita mau apa lagi? Sedangkan waktu yang tersisa hanya beberapa detik saja. Menggugukah kita dalam haru yang menebarkan pesonanya ke seluruh arah pandang yang kita tuju? Ataukah, kita mau mengambil beberapa pesan dari keadaan yang sedang kita alami? Ini tentang detik-detik terakhir kebersamaan.

Teman, selalu saja begitu. Ketika akan berlangsung perpisahan, hati ini mendadak haru. Ia yang lebih sering mengalami hal yang serupa. Ia yang sudah tidak asing lagi dengan satu kata tersebut, akan segera termangu bersama bibir yang mengatup. Rapat. Tiada lagi kata yang dapat terucap, apabila ada yang menyampaikan
pesan padanya, tentang perpisahan. Engkaukah itu, teman? Yang akan menitipkan kalimat yang serupa padanya? Lalu, atas dasar apakah engkau mengambil keputusan yang demikian? Bukankah kebersamaan merupakan keindahan yang tiada bandingannya? Bukankah dengan bersama, kita dapat menguntai lebih banyak makna dan kisah yang selanjutnya? Lalu, mengapa engkau melakukan kehendakmu terhadap seorang yang selama ini ada bersamamu? Ini tentang tanya yang hinggap di dahan pikir, semenjak beberapa waktu terakhir. Tanya yang menjelang semenjak dini hari, lalu enggaaaa hilang-hilang sampai malam menjelang. Tanya yang seringkali mengusik pikir, agar ia mengalir. Karena ia hadir untuk mengembalikan segenap arti bagi sesiapa saja yang sempat ia temui.

Teman, ketika salah seorang darimu yang pernah ku kenal, tiba-tiba menghilang? Dapatkah engkau membaca bagaimana suasana dalam ruangan yang engkau tinggalkan? Bagaimana pula kondisi di sana, ruang hati yang engkau bawa serta? Tahukah engkau bahwa padanya terselip sesudut hatiku dengan damai. Ketika engkau mengambil jarak meski sejenak, berarti engkau sedang membawa sekepinghati yang selama ini pun engkau tahu, ia ada bersamamu.

Teman, bukankah untuk mengembalikannya seperti semula, tidak semudah membalik telapak tangan. Ya, tidak sebentar waktu yang kita butuhkan untuk menatanya lagi menjadi sedemikian rupa. Agar kondisinya kembali normal dan sesuai dengan harapan. Tidak. Tidak semudah itu, teman…

Saat engkau mengenalinya dulu, pada awal pertemuan sebagai teman. Maka selamanya ia merajaimu sebagai teman dengan penuh penghargaan. Banyak harapan yang ia selipkan bersama jalinan pertemanan yang sedang terbentuk. Dalam harapan yang sedang menguntaikan benang terkuatnya, ada senyuman yang mengalir. Hingga tanpa kita sadari, telah sekian lama kebersamaan.

Belumlah genap empat tahun kebersamaan, memang. Masih kurang beberapa bulan lagi. Dua bulan, lebih tepatnya. Ya, dalam masa tersebut, kita bersama dalam sebuah bangunan. Dalam waktu yang tidak sebentar, tentu kita mengalami banyak kenangan yang akan terus ada dalam ingatan. Begitu pula dengan pengetahuan yang tanpa kita sadari, ia sedang memberikan sapaan. Sungguh, kesan atas kebersamaan yang akan segera menemui penghujungnya, terus meneteskan buliran kenangan.

Teman, untuk beberapa detik ke depan, pikir ini sedang memutar ulang kisah perjalanan. Bermula semenjak berkenalan dengan beliau, saya memang tidak mempunyai catatan. Karena, memang demikian adanya. Karena, ada senyuman yang segera mengembang dengan mewahnya, untuk senyuman yang beliau tebarkan, pada waktu yang bersamaan.

Namun tentangmu teman, bagaimana pula ya? Tentang awal perkenalan kita. Adalah tentangmu  mungkin terdapat dalam rangkaian catatan. Apalagi kalau engkau belum pernah hadir di hadapan. Senyumanmu yang hanya dapat terbayangkan, akan berubah menjadi bait-bait tulisan, tentunya. Untuk mengisahkan tentang seorang teman dalam perjalanan. Karena teman sepertimu, sungguh bukan sekadar teman.  Karena engkau adalah salah satu pewarna dalam perjalanan. Engkau indah seperti birunya langit, engkau memutih sebersih awan. Engkau cerah sekemilau sinar mentari pada siang yang terik. Engkau rembulan ketika purnama memamerkan senyumannya yang menawan. Engkaulah bintang-bintang yang bertebaran menutupi langit jiwa.

Ai!

Engkau berkelipan meneranginya, mempercantik tampilannya. Engkau mensenyumkan, engkau meneduhkan. Engkaulah pepohonan yang berdaun rindang kehijauan. Engkau aliran sungai yang berujung pada muara kasih sayang. Di sana kita bersenyuman, setelah lama perjalanan menjadi jarak pertemuan.

Teman, ketika pada awal bersapaan kita saling bertatapan, segeralah melebur kebahagiaan. Namun, ketika pada mulanya kita hanya saling bertukar susunan abjad yang berselingan, maka pada waktu itulah kerinduan mulai bertautan. Hati bertanya, siapakah yang sedang memberinya sebuah pertanyaan?

Teman, ketika awal pertemuan kita menerima pertanyaan. Maka pada detik-detik perpisahan dengan teman, kita yang akan mengalirkan barisan pertanyaan. Ke arah mana engkau hendak melangkah, teman? Sudahkah engkau mempersiapkan banyak perbekalan untukmu di dalam perjalanan? Lalu, bagaimana pula dengan beliau-beliau yang engkau rencana menjadi teman dalam  waktu-waktu berikutnya? Beliau yang engkau tahu, sungguh berkesan. Beliau berkenan mengajakmu serta untuk menemaninya  dalam perjuangan.

Buat Teh Siti, teruskan perjalanan. Meski tidak lagi di sini. Masih banyak jalan yang sedang membentang. Begitu banyak persimpangan yang sedang menawarkan keindahan. Untuk selanjutnya, kembali lagi kepada pribadi kita dalam memberikan pilihan. Sebelum memutuskan, semoga pilihan tersebut telah kita  mantabkan dalam pikiran, kita renungkan dengan sepenuh perasaan. Lalu, berucaplah lisan dengan lembutnya, “Selamat tinggal teman…”

Teh Siti, untuk meneruskan perjuangan yang berikutnya, tentu sangat menyenangkan. Apalagi telah terlihat arah-arah yang akan kita tuju. Begitu pula dengan jalan lurus yang sedang mensenyumi. Sedangkan hamparan rerumputan di pinggir jalan, turut serta memberikan jawaban.  Ketika nanti dalam melangkah, Teh Siti mengalirkan pertanyaan pada kehidupan.

Untuk lama waktu kebersamaan yang telah kita tinggalkan, mari membungkusnya dalam bingkisan terindah yang siap kita persembahkan untuk masa depan. Bingkisan yang merupakan hadiah terbaik yang pernah kita cipta. Hadiah yang kita persiapkan semenjak lama. Hadiah yang kita ulurkan pada sesiapapun yang ingin memperolehnya. Tentang pengalaman, ia ada untuk kita tebarkan. Bukankah dengan cara begini, kita kembali mau belajar?

Sedangkan tentang sisa-sisa waktu yang hanya beberapa hari lagi, semoga dapat kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kesempatan untuk mencurahkan beraneka kesan, mengungkapkan lirik-lirik harapan untuk masa yang akan datang. Sebaris nasihat inginku peroleh dari beliau, sebagai alarm yang akan menterjagakanku, kemudian. Setelah beliau jauh berjalan. Agar, tidak selamanya lelap dalam perjalanan. Semoga, alarm tersebut kembali berdenting pada waktu-waktu tertentu. Alarm yang menjadi jalan teringatku pada tujuan yang sedang ia gapai.

Teh Siti, meski baris-baris senyuman yang menjadi jawaban, ku akan merangkainya dalam bait-bait tulisan. InsyaAllah, semoga masih ada kesempatan bagi kita untuk saling bertukar makna, yaa.

Teman, dalam jeda waktu yang hanya beberapa hari lagi, kebersamaan kami akan menemui ujungnya. Beliau yang akan mempersembahkan bakti sepenuhnya pada Mr. Salman, untuk masa yang berikutnya. Ai!

 Teh Siti. Mengingat kebaikan beliau yang selama ini mengalir deras padaku, ingin kuingat selalu. Agar, ketika ingatan itu menyuarakan sapa dalam tanya, dapat kuurai dalam barisan kata yang menjelma senyuman. Agar senyuman yang mewujud tersebut, dapat menjadi jalan untuk mengungkapkan segalanya. Semoga beliau senantiasa dalam kebahagiaan, hingga pada akhirnya, kita kembali jumpa di negeri yang berikutnya.

Teh Siti. Bukanlah kita bertemu hanya sekadar bertamu, namun kita berjumpa untuk mengukir kisah kehidupan. Bukanlah kita berpisah untuk tidak lagi bersama, semoga kebersamaan yang pernah terangkai dapat menjadi jalan bagi kita untuk saling mengingat satu sama lain, yaa.

Kebaikanmu….

Senyumanmu….

Penjagaanmu….

Engkaupun tahu, bahwa menjagaku adalah sebagaimana penjagaanmu pada dirimu….

Engkaupun mau, menerima kehadiranku dalam kehidupanmu semenjak beberapa waktu yang lalu….

 

Keelokan sikapmu….

Keteduhan tatapmu….

Kedamaian bersamamu….

Engkaulah salah seorang saha
bat dalam perjalananku, sahabat dalam merengkuh ilmu dan menemukan pengalaman baru. Engkau titipkan teladan lewat gerak-gerikmu yang tertangkap arah pandang.   

 

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s