Berpikir Tiga Ratus Enam Puluh Derajat


Kaki-kaki di keramaian

Kaki-kaki di keramaian

Berkeliling-keliling mengitari taman. Berpindah dari satu jalur ke jalur yang lainnya seraya bergenggaman tangan. Menawar, memesan kemudian menentukan pilihan. Bergerak melangkah lagi kita ke bagian yang lainnya. Hingga akhirnya, berjumpa dengan sebuah lokasi yang sangat tepat untuk berjongkok sejenak. Yah! Sepertinya, kaki-kaki ini perlu berehat dari perjalanan panjangnya yang belum juga  bertemu ujung.

Pada sebuah kesempatan, kami berjumpa dengan penjual yang sedang menawarkan barang dagangannya. Saya yang sedang bersama dengan Kak Yuli, tertarik untuk menuju ke sana. “Kak Yuli ingin lihat-lihat dulu,” kata beliau. Sedangkan saya, segera mendekat pada beliau, untuk menemani. Dalam jeda waktu tersebut, iseng-iseng ku keluarkan sebuah alat penangkap bayangan yang sebelumnya berada di dalam kantong. Jepret! Hingga terciptalah gambar di atas. Yes! Beberapa pasang kaki, sedang berjalan. Ada pula yang sedang tegak berdiri pada lokasi yang berdekatan. Ada yang bergerak cepat, begitu pula dengan yang pelan. Semua pasti ada keperluan. Karena, pada saat yang bersamaan, kami berada pada tempat yang sama. Salah satu jalur perjalanan di sebuah tempat perbelanjaan, hari ini.

Ketika berada di keramaian seperti ini, apakah yang terbayang olehmu, teman? Bayangan yang segera hadir dari arah pikirmu, lalu memberimu kesempatan untuk menitipkannya pada ingatan. Hingga akhirnya, engkaupun  menyampaikan rangkaian kalimat tentangnya. Atas kepentingan bagaimana engkau datang ke keramaian? Ataukah karena ada sesuatu keperluan yang hanya dapat engkau penuhi kalau berkunjung ke keramaian? Tentu engkau mempunyai berbagai alasan tersendiri, atas semua ini.

Keramaian adalah sebuah kondisi ketika kita bertemu dengan banyak orang. Sebuah lokasi bertemunya orang-orang untuk memenuhi kebutuhannya. Ada yang memberi dan ada yang menerima. Ada yang terlihat dan ada yang melihat. Ada yang menyapa dan ada yang tersapa. Ada yang menemui dan ada yang tertemui. Begitulah keadaan yang dapat kita temukan di keramaian.

Keramaian adalah ketika banyak orang sedang melangkahkan kaki-kakinya. Entah dari mana mereka semua berasal. Tiba-tiba saja, sudah berkumpul pada tempat yang satu. Setelah itu, mereka akan kembali berpisah. Kebersamaan yang sementara, itulah yang mereka cipta.

Keramaian, hanya terjadi sementara waktu. Tidak dalam jangka waktu yang lama, namun berkala. Yach, seperti halnya lokasi yang kita saksikan pada picture di atas. Keramaian tersebut terlihat dari salah satu sisi pada pusat perbelanjaan, tempat cuci-cuci mata, ataupun hanya tempat untuk jalan-jalan saja. Keramaian seperti yang demikian, terjadi hanya beberapa kali saja dalam satu bulan. Tepatnya pada akhir pekan. Ketika engkau menyempatkan waktu untuk berkunjung ke lapangan Gazibu pada pagi tadi, maka engkau akan berjumpa dengan keramaian yang demikian.

Ada banyak aktivitas yang sedang berlangsung di tengah keramaian. Ada yang duduk-duduk di bawah pohon yang rindang, ada pula yang memperagakan barang dagangannya. Ada yang asyik menikmati pemandangan di sekitaran, ada juga yang sedang berjalan-jalan saja. Ada yang sedang berjualan, ada juga yang membeli. Begitulah, kesibukan pada pagi hari tadi. Dan keramaian yang seperti itu, akan berlangsung lagi sepekan kemudian.

Dalam keramaian, kita perlu lebih berhati-hati. Karena, ada saja tindakan yang semestinya tidak terjadi. Namun apa hendak dikata, ketika pelaku kebaikan sedang berlomba-lomba untuk mencari celah terciptanya kebaikan. Maka para pelaku kejahatan pun tidak mau ketinggalan. Ia pun turut beraksi pada saat yang bersamaan. Dengan segenap kegesitan dan kecepatan gerakannya, ada yang merasa terugikan.

“Copppppeeeeeeeeeeeeeetttttt,,…….!!!,” begini bunyi suara seorang perempuan yang terdengar dari kejauhan, oleh kami.

Suara yang terdengar sangat memilukan. Suara yang kami yakin, merupakan korban dari salah seorang pelaku kejahatan. Suara yang begitu mengiris hati. Suara yang kemudian beriring dengan isak tangis yang mengalir deras. Tidak berapa lama kemudian, redalah ia. Karena akhirnya, sang copet pun tertangkap. Nah! Alhamdulillah, tidak ada penghakiman massa di sini. Karena, beberapa menit setelah suara tersebut kami dengar, ada serombongan orang yang sedang berjalan lebih cepat. Dan diantara mereka ada yang sedang merengkuh seorang lainnya. Sang copet ada di sana, di antara mereka. Termasuk pula seorang teteh yang sedang menangis.

Ia menangis…

Terlihat merah pada kedua bola matanya, sedangkan hidung dan pipinya, ikut memerah terkena terpaan sinar mentari yang begitu menyengat. Saya yakin, beliaulah yang tadi berteriak sangat kuat, di tengah keramaian.  Di samping teteh tersebut, ada pula seorang temannya yang sedang melangkah. Mereka bergerak sangat cepat. Sedangkan yang lainnya, memperhatikan apa yang terjadi. Sekilas terlihat, pelaku copet adalah seorang laki-laki yang masih muda. Lalu, terbersit sebuah tanya di dalam hatiku, “Mereka hendak ke mana, yaa?” Tanya yang akhirnya mengalir lewat mulut yang sedari tadi terdiam.

Sebelum tanya kedua mengalir melalui bibir ini, seorang Ibu yang saat itu sedang berada sangat dekat denganku, memberikan jawaban.

“Ini sudah sering terjadi, Neng. Sedangkan pelakunya adalah orang yang sama. Dari waktu ke waktu, ia beraksi. Jadi sudah tidak asing lagi,” begini beliau mengungkapkan. Seorang Ibu penjual nasi dan teman-temannya, mencurahkan apa yang beliau tahu.

Ooooooooooooo…… panjang, disertai dengan tanggapan berikutnya, hadir segera.

“Lha, sebelumnya juga pernah terjadi, ya Bu? Jadi, ia beraksi lagi, setelah sebelumnya juga melakukan tindakan demikian?,” inginku memperjelas apa yang Ibu sampaikan sebelumnya.

“Betul, Neng,” ungkap beliau dengan tatapan mata yang sangat meyakinkan.

Beliau yang lebih sering sudah berada di sana, tentu tahu dengan apa yang terjadi dari waktu ke waktu. Beliau yang berjualan, tentu sangat mengerti kondisi yang sama. Sedangkan saya yang baru beberapa kali berkunjung ke keramaian tersebut, tentu baru tahu setitik saja dari pengetahuan beliau yang melimpah. Dan pengalaman tadi adalah pertama kalinya saya mendengar ekspresi dari seorang korban kecopetan. Dapat terasa, bagaimana kondisi yang beliau alami ketika kejadian tersebut berlangsung. Dari nada suara yang tiba-tiba hadir.

Sungguh, tidak ada diantara kita yang inginkan keadaan yang sama, terjadi. Oleh karena itu, lebih berhati-hati saat berada di keramaian adalah pilihan yang terbaik. Karena, kita tidak pernah tahu bagaimana tujuan sesungguhnya yang ingin beliau tuju dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Walaupun demikian, kita mesti senantiasa berbaik sangka kepada sesiapa saja yang kita temui. Setelah itu, teruskanlah berjalan untuk memenuhi kebutuhan.

Keramaian. Walaupun kita harus berangkat ke keramaian untuk beberapa masa dalam perjalanan. Setidaknya, dari perjalanan dalam keramaian tersebut, kita dapat menemukan buah-buah pesan yang berjatuhan dari pohon kehidupan. Indahnya membaca keadaan. Dengan cara ini, kita dapat menghasilkan sebuah tulisan. Yes!

Ketika dalam keramaian kita berkesempatan untuk berjumpa, maka kita perlu saling menjaga. Saat kita baru berjumpa walau tidak bertatap mata, maka senantiasalah dalam kondisi terjaga. Kecuali kalau tiba-tiba kita pusing karena sedang berada dalam kondisi yang menyesakkan dada. Kita tidak dapat bernapas dengan leluasa. Nah! Segeralah menjauh, selagi sempat. Lalu, ambillah posisi yang sangat aman. Duduk-duduk untuk berehat, sebelum melanjutkan perjalanan dalam keramaian lagi, adalah pilihan kemudian. Setelah itu, melangkahlah lagi dalam keramaian untuk memperoleh bahan pelajaran berikutnya.

Ketika keramaian menebarkan begitu banyak pesan kepada kita, maka begitu pula halnya dengan kesunyian. Sunyi yang sangat berbeda dengan keramaian. Sunyi yang tanpa banyak orang di sekitaran. Sunyi yang mengajarkan kita arti kehadiran. Sunyipun menyempatkan kehadirannya dalam beberapa bagian waktu yang kita jalani dalam kehidupan.

Sunyi. Ya, sunyi yang seperti saat ini, teman. Ketika tiada kaki-kaki yang sedang berjalan di sekitaran. Saat yang terdengar hanya gemericik akibat tetesan air yang menimpa dedaunan. Ini juga keramaian, sebenarnya. Keramaian bersama titik-titik permata kehidupan yang mencurah dari langit. Hujan di luar sana, sekarang.

Ramainya rintik hujan yang menimpa atap, kini hanya tersisa aliran tetesan air yang mulai menepi. Ya, tidak selamanya kita berada dalam keramaian. Setelah semua menunaikan bakti, maka akan segera berlalu. Keramaian yang tidak datang dengan sekehendaknya. Namun, ada yang sedang Mengendalikannya. Kapankah keramaian terakhir kali engkau alami, teman? Lalu, bagaimana kesan yang engkau peroleh dari keramaian yang engkau temui tersebut?

Keramaian, tidak hanya kumpulan dari banyak kaki yang sedang berjalan di sekitaran. Bukan pula hanya terdiri dari rintik hujan yang turun membasahi bumi. Sesungguhnya, keramaian pun ada sangat dekat dengan kita. Gemuruh suara yang hadir dari dalam diri kita, mengingatkan kita bahwa ia ada untuk kita. Lalu, bagaimana pula kita merasakan sunyi ditengah hiruk pikuk dunia ini?

Walaupun saat ini kita sedang menetap di sebuah negeri yang tanpa penghuni. Negeri kita yang nun jauh dari peradaban, memang terlihat sunyi dari kejauhan. Namun, ketika kita menyelami lautan makna yang dapat kita petik saat berada di sini, maka keramaianlah yang terjadi.

Tentang keramaian yang pernah kita kunjungi. Tentang keramaian yang pernah kita ciptakan secara alami, maka terdapat banyak bahan pelajaran dari sana. Ya, keramaian yang sangat bertolak belakang dalam susunan makna. Keramaian yang menimbulkan efek yang berbeda pula.

Ketika kita berada pada tempat keramaian yang sedang kita kunjungi, tentu saja kita bertemu dengan beraneka jenis insan yang berbeda. Namun, saat kita menciptakan keramaian secara alami, maka kita hanya akan berjumpa dengan satu orang yang sama. Itulah engkau dan dirimu, teman. Begitu pula denganku.

Saat engkau berada di tengah ramainya insan yang sedang melangkah, maka tidak akan mudah bagimu untuk menemukan teman-teman yang juga sedang berada di sana. Apalagi tidak ada alat komunikasi yang dapat menjadi jalan terhubungnya engkau dengan teman tersebut. Sedangkan ketika engkau berada di tengah keramaian yang engkau ciptakan secara alami, maka engkau sedang berupaya untuk menyapa seorang sahabat yang sedari tadi menyuarakan deru gemuruh suaranya. Jiwamu yang satu, adalah sahabat terbaikmu sampai kapanpun.

Ketika berada di tengah ramainya insan yang sedang berjalan di sekitarmu, engkau perlu berhati-hati agar tidak kecopetan, misalnya. Itupun, demi kebaikan engkau juga. Lalu, bagaimana halnya, saat engkau berada dalam keramaianmu yang alami, tanpa sesiapa yang akan melakukan tindakan kejahatan padamu. Maka engkaupun perlu lebih berhati-hati. Karena, dari gerak suara jiwa yang berasal dari sunyi, menyampaikan pesan yang dapat menyadarkanmu. Bisa jadi, ia telah mencopet jiwa lainnya yang pernah ia kenali. Ataukah  telah ada yang mencopetnya. Sedangkan engkau belum lagi menyadari, sampai ia menyuarakan apa yang ia rasa.

Keramaian, mengajarkan kita untuk berhati-hati. Dalam keramaian kita juga belajar untuk menjadi lebih peduli. Kepedulian yang menjadikan kita lebih manusiawi.

Wahai teman, saya sungguh tersentuh dengan keadaan yang tadi terjadi. Ketika beberapa orang yang sedang berjalan lebih cepat melintas di hadapan. Saat pencopet dalam keadaan baik-baik saja. Maka disini dapat disimpulkan bahwa, telah ada pengendalian diri. Yah, karena besarnya rasa peduli terhadap sesama, maka tidak ada yang bertindak menyakiti si pencopet. Padahal, tindakan yang ia lakukan telah menjadi jalan menetesnya airmata si teteh yang menjadi korban. Wah! Bagaimana ini?

Ketika pemaafan terjadi, maka ia dapat menjadi solusi awal untuk kedamaian. Saat pencopet mengakui bahwa ia telah bersalah dan meminta maaf, maka memahami dan mengerti terhadapnya adalah tindakan terpuji. Yakinkah kita juga tidak pernah melakukan kesalahan? Karena sesungguhnya, hanya orang-orang yang tidak pernah melakukan kekhilafan saja yang tidak mau memaafkan. Sedangkan sesiapa saja yang mengenali siapa dirinya, maka ia lebih mudah memaafkan orang lain.

Keramaian memang kondisi yang penuh dengan uji. Saat sekejap saja kita lengah, maka kejadian yang serupa akan terjadi. Lalu, bagaimanakah tindakan yang kita ambil saat hal yang sama menyapa diri? Na’udubillaahi minzalik. Semoga kebaikan dan hanya kebaikan demi kebaikan saja yang kita temui, yaa… teman. Dari waktu ke waktu yang sedang kita jalani, inginnya senantiasa dalam penjagaan Ilahi. Semoga kita terus terjaga dalam berbagai kondisi. Baik dalam keramaian yang meminta kita untuk senantiasa berhati-hati. Maupun ketika kita berada dalam sunyi. Sunyi yang kita beranggapan tiada yang mengintai diri. Sunyi yang kita belum lagi menyadari, sesungguhnya banyak juga yang sedang melangkahkan kaki-kakinya bersama kita. Hanya saja, kita tidak dapat menyaksikan bagaimana wujudnya dalam nyata. Kalau saja kita menyadari akan hal ini, maka kita akan lebih sering menyadarkan diri. Sunyi yang menurut kita tidak ada yang akan melakukan aksi pencopetan. Sunyi yang kita yakin sangat bahwa kita dalam keadaan aman. Sungguh, inilah keramaian yang sesungguhnya. Ketika banyak pelaku kejahatan sedang memperhatikan kita dalam kondisi sunyi. Ingatkah kita akan dirinya? Bagaimana cara agar kita dapat senantiasa ingat akan hal ini?

Ketika kita begitu hati-hatinya saat melangkah di tengah keramaian insan yang sedang berjalan. Lalu, kita tidak ingat lagi akan pengawasan pelaku kejahatan terhadap diri, ketika kita dalam sunyi. Ia yang tidak terlihat, tidak berwujud dalam nyata, namun ia ada.

Pencopet keimanan, pencopet ingatan pada Ilahi, pencopet kesadaran kita akan tujuannya yang abadi, pencopet semangat yang semulanya berapi-api. Xixixiiiii…..😀 sudahkah engkau berkenalan dengan pencopet yang sejati, teman? Saat motivasimu tiba-tiba meluntur, luruh seiring dengan tetesan hujan yang merembes ke bumi. Engkau telah kecopetan. Maka, berteriaklah sekuat tenagamu, untuk menyampaikan pada diri, agar ia tahu akan apa yang sedang ia alami. Engkau yang semestinya sudah sampai pada citamu tertinggi. Namun, pencopet-pencopet tersebut telah membawa hartamu yang paling berharga. Engkau mungkin sedang memikirkan akan hal ini.

Bahwa waktumu adalah harta paling berharga yang tidak akan kembali lagi. Bagaimana engkau menjaganya, teman. Agar waktumu itu tidak dicopet oleh sesiapa saja yang senantiasa mengintainya. Agar engkau dapat melanjutkan langkah dengan tenang, bersamanya selalu.

Saat kita berada dalam keramaian karena banyaknya orang yang sedang melangkah di sekitaran, kita begitu berhati-hati akan kecopetan. Lalu, bagaimana dengan keramaian dalam sunyi?  Masih ingatkan kita akan hal ini, teman. Semoga ingatan ini membuat kita lebih giat lagi dari hari ke hari.

 😀😀😀

 

 


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s