Surya Tenggelam


Dari balik awan gemawan, ia masih mensenyumiku.

Mentari di ufuk barat

 

Alhamdulillah, HRD Manager di perusahaan tempat ku saat ini bekerja, menyampaikan pesan dari Direktur bahwa aku tidak jadi bekerja di sini hanya sampai akhir bulan September 2009. Akan tetapi, diundur sampai akhir tahun 2009. Ya, Allah, Engkau Yang Menentukan segalanya untuk hamba jalani dan keputusan terbaik Engkau pula yang menentukan Ya Rabb.  Lakukan yang terbaik pada hari ini, tetap semangat! Dan keputusan terbaik adalah hak Allah subhanahu wa Ta’ala.

Lalu,?

Mengapa masih melupakan Allah, wahai 1kepinghati? Belumkah engkau benar-benar yakin hanya pada-Nya…

Lalu,?

Masihkah engkau bergantung kepada selain-Nya? Wahai 1kepinghati, bicaralah, sampaikan bagaimana jawabmu atas keputusan-Nya?

Lalu,?

Apa pesan dan kesan yang dapat engkau suarakan dari kejadian hari ini?

  1. Hadapi setiap permasalahan dengan ketenangan, ingat pada Allah selalu
  2. Jaga apa yang ada pada kepalamu, agar terjaga pikiranmu
  3. Hargai oranglain, namun hargailah dirimu terlebih dahulu. Sehingga menjadikan oranglainpun menghargaimu
  4. Lakukan yang terbaik. Lakukan yang terbaik dalam setiap detik yang engkau miliki
  5. Konsentrasilah…
  6. Jangan pernah terburu-buru dalam mengambil keputusan
  7. Ingat! Jangan pernah mencampuri urusan orang lain. Selesaikanlah urusanmu sebersih-bersihnya, jangan berpaling dari tanggungjawab yang dipercayakan kepadamu
  8. Do the best that you can do. Okey… 😉

***

Teman, dalam berbagai situasi yang ku alami dari waktu ke waktu, tidak selamanya keadaan sesuai dengan keinginan. Namun, ada satu cara khusus yang rutin ku lakukan dalam kondisi yang demikian. Membaca catatan lama, menelaah hari-hari yang tertinggalkan dalam bait-bait kata, lalu merenungkan apa yang terukir di sana. Membaca lagi beberapa kalimat singkat yang pernah ku cipta pada masa yang telah usang, dapat menjadi jalan bangkitku lagi. Yah. Ketika keadaan meminta diri untuk belajar lebih tekun lagi. Ia perlu meneruskan apa yang pernah ia cita. Ia masih ada.

Teman, ketika teman tiba-tiba mengambil keputusan untuk masa depan yang akan ia jalani, maka kita perlu memberikan dukungan. Meskipun jalan yang beliau tempuh tidak lagi sama dengan yang selama ini kita jalani bersama. Beliau telah menemukan persimpangan di hadapan. Lalu, beliaupun memilih arah yang berbeda, dengan apa yang kita pilih. Ke manakah teman? Kembali sebuah suara hadir dengan segera. Ia menanya, ia meminta jawab. Ia ingin selalu bersama dengan teman yang selama ini ada dekat dengannya. Beraktivitas bersama, mengerjakan rutinitas dalam nuansa bahagia. Namun, saat teman telah memberikan pilihan atas apa yang akan ia laksana, ada sesudut hati yang menyampaikan apa yang ia rasa.

Teman, kini sore telah berlalu. Berganti malam yang mengelam. Sedangkan siang, entah esok akan kembali menjelang, atau kita yang telah terlebih dahulu berpulang. Tidak, tidak kita mengetahui tentang hal ini. Hanya saja, kalau esok ternyata kita masih bertatap dalam sapa lalu berbincang-bincang, maka peluang masih ada. Kita dapat memanfaatkan peluang yang datang, untuk sekadar bertukar cara pandang, berganti pendapat dan memberikan jawaban atas pertanyaan yang bersilang. Engkau menanya, aku menjawab. Atau sebaliknya. Aku yang menanya, sedangkan engkau yang lebih paham, memberikan jawaban. Agar, tiada lagi kata-kata yang hilang, padahal ia pernah ada dalam pikiran kita masing-masing.

Teman, bertanya, kembali ku bertanya. Tentang apa saja yang sedang berlangsung. Bahkan, tidak jarang ia menghilang dari perjalanan pikir yang datang. Tentang tanya yang silih berganti, menunjukkan diri, lalu mengurai segalanya dalam pikiran ini. Ia berkumpul terus mengelilingi hampir seluruh ruang yang masih longgar. Sampai akhirnya, tiada lagi bagian yang benar-benar tak berisi. Pikirku penuh dengan tanya demi tanya yang silih berganti.

“Ada apa dengan semua ini?,” tanya yang serupa kembali menghampiri. Tepat setelah pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya, telah terlebih dahulu datang. Mereka menyerang, menunjukkan keberadaannya beramai-ramai. Pernah pada suatu ketika, tatapan mataku tiba-tiba berkunang. Siang saat itu. Ya, di sebuah ruangan yang merupakan tempat beraktivitasku selama  hampir seharian, ada nuansa berbeda yang terasa. Entah apa namanya. Namun, seingatku, kejadian itu adalah untuk yang  pertama kalinya dalam perjalanan hidupku. Sejenis bayang-bayang yang melayang, bermunculan di hadapan. Tiada wujudnya yang jelas. Hanya sebentuk bintang-bintang, berputar, lalu bergerak dengan cepat. Orang bilang, mata berkunang-kunang.

Beberapa saat kemudian, iapun menghilang dari pandangan. Tiada lagi peredaran yang ia cipta. Cemerlang, cerah dan kembali normal tatap mata yang sedang menebarkan gemilang. Kemilau hari kembali dapat kunikmati dengan sepenuh hati. Alhamdulillah, bersyukur diri atas apa yang kembali ia alami. Setelah beberapa menit sebelumnya, ia sempat berhenti dari aktivitasnya. Ia tertimpa beban yang begitu berat!! Kalau dipikul. Namun, ia tidak berwujud. Hanya dapat terasa, kemudian memberati arah pandang.

Teman, pernahkah engkau mengalami kejadian yang senada, meskipun hanya untuk beberapa saat saja? Untuk pertama kalinya pulakah? Atau engkau telah membersamainya semenjak lama? Hingga akhirnya, ia berlangganan untuk menemuimu? Semoga tidak, yaa. Segar, cerah dan cemerlangnya kondisi pikir dari waktu ke waktu, inilah yang kita inginkan, yaa.  Agar kita dapat menjalankan aktivitas kapanpun dengan hasil yang memuaskan. Karena, dalam menjalankannya, kita penuh dengan kesegaran, fit dan bugar. Yes! Semangat melanjutkan aktivitas teman. Meskipun malam telah merangkak gulita. Ditambah pula dengan titik-titik hujan yang mulai membasahi persada, namun tidak lah menjadi jalan terhalangnya semangat kita untuk meneruskan perjuangan melukis cita.

Teman, engkau juga tahu, saat ini musim hujan. Tepatnya, di wilayah Bandung. Hohohooo.. karena saat ini, saya sedang berada di kota ini. Nah! Akhir-akhir ini, gemuruh bersahutan, bersama kilat yang sambar menyambar, seringkali memperagakan kemampuannya. Begitu pula dengan hujan, seakan mempunyai lebih banyak masa untuk menguasai dunia.  Meraja, dari hari ke hari. Tidak kenal pagi, siang ataupun malam hari. Ia turun saja semaunya. Terkadag tanpa pernah memberikan aba-aba sebelumnya. Tiba-tiba sudah ada saja bunyi bergemuruh sungguh ramai menimpa atap. Ya, seperti yang baru saja terjadi. Tanpa pernah saya sadari, ada suara berbeda yang sampai ke indera pendengaran ini. Seperti suara ketukan yang bernada. Namun, banyaaaaaaakkkkk bunyinya. Berulangkali, dan itupun cepat sekali. Tiba-tiba, suaranya menjadi lebih banyak. Banyak, dan akhirnya baru ku menyadari, kalau suara ketukan yang tadi, berasal dari tetesan hujan dari langit. Gelap di luar, sedangkan saya sedang berada di dalam ruangan. Jadi, sebesar apakah tetesan hujan yang baru saja turun ke bumi? Aku tak tahu. Ya, begitu.

Teman, terkadang, tanpa pernah kita sadari, tiba-tiba pertanyaan demi pertanyaan hadir dengan mudahnya dari dalam pikiran. Pertanyaan yang memerlukan jawaban. Namun, kita belum lagi dapat memperoleh jawaban tersebut dalam waktu singkat. Karena, pertanyaan tersebut mungkin saja hanya akan terjawab, kalau kita telah mengalaminya secara langsung. Pertanyaan yang seperti apakah, sebagai contohnya; teman?

Oh, tentang jodoh, misalnya. Tentang rezeki, pastinya. Tentang maut, juga begitu. Tentang apa lagi yaaa… ?

Yah! Tentang takdir. Tentang bagaimana kehidupan yang kita jalani. Tentang keadaan yang kita akan alami. Semua adalah beberapa bagian dari pertanyaan yang seringkali hadir dalam pikir ini. Pertanyaan abadi yang selamanya belum akan terjawab, kalau kita sendiri tak mengalaminya langsung.

Kapan engkau akan menemukan jodoh terbaikmu? Adakah engkau yakin, bahwa dia yang selama ini ada bersamamu, merupakan seorang yang telah Allah persiapkan untuk menjadi bagian dari hari-harimu yang berikutnya? Sebegitu tingginya kah keyakinanmu itu, teman? Sedangkan engkau belum mengalami pertemuan dengan beliau yang engkau yakini sebagai jodohmu.

Begitu pula dengan rezeki. Kita yang sedang bertebaran di muka bumi ini, telah Allah atur kadar rezekinya. Apakah pada hari ini, kita kebagian banyaaaak, bahkan diluar dari perkiraan kita? Apakah rezeki kita hari ini mengalir dengan derasnya, sebagaimana tetesan hujan yang sedang menderukan suara bak gemuruh di luar sana? Ataukah rezeki kita bertebaran sungguh banyaknya, bagaikan sinar mentari yang bersinar cerah. Hingga akhirnya, rezeki kita tersebut, secara tidak langsung banyak pula yang merasakannya. Rezekimu, bukan milikmu sendiri. Namun, engkau hanyalah sebagai jalan sampaikan ia pada yang selayaknya menerima. Sadarilah…

Oia, bagaimana pula dengan batas usia kita di dunia?  Tentang maut yang sedang mengintai. Ia yang sedang bersiap siaga untuk menjemput kita, ketika perintah telah ia terima dari Allah. Maut yang akan datang kapan saja, tidak pula mengenal masa. Masih mudakah kita? Lalu, kitapun berleha-leha dengan usia. Bukankah kita tidak tahu, bahwa ia hanya titipan sementara, saja?  

Masih beliakah kita, dengan keadaan yang serba ceria. Lalu, dengan semaunya kita berhuru hara bersama kawan-kawan seumuran. Kita habiskan masa yang ada dengan aktivitas yang mungkin saja tidak berguna sama sekali. Namun, kita larutkan waktu yang ada di dalamnya. Kita pun tenggelam di lautan masa muda yang penuh dengan warna. Kita mengecap segala rasa, bersamanya. Kita nikmati waktu yang ada, tanpa pernah berpikir dengan baik, tentang bagaimana masa selanjutnya yang akan kita temui. Ai! Saya yakin, bahwa engkau yang saat ini ada di sini, adalah seorang yang baik-baik, teman. Engkau adalah seorang yang  penuh dengan integritas, berdedikasi tinggi, dan penuh dengan inisiatif. Masa depanmu sedang engkau ukir dengan tinta terbaik yang telah engkau celupkan bersama kuas yang saat ini sedang berada di tangan kananmu. Engkau siap melukis lagi, hari-harimu yang berikutnya. Engkau memang tidak tahu, tentang bagaimana kisah hari esok yang akan engkau temui. Namun, dengan apa yang engkau lakukan saat ini, itu merupakan jawabanmu atas tanyaku, “Engkau mau menjadi apa, teman?”

Teman, tidak perlu banyak bertanya, apalagi menanya-nanya. Tentang apapun saja yang engkau sedang jalani. Kalau engkau belum lagi berbuat, maka tanyamu belum akan terjawab. Walaupun banyak orang yang sedang berada di sekitarmu, berusaha memberikan jawaban untuk pertanyaanmu. Bergeraklah, bergiatlah. Maka, engkau pun mengetahui, jawaban terbaik yang engkau inginkan. Bukan tentang kepercayaan diri yang terlalu tinggi, namun karena keyakinannya pada Pemilik Diri, maka ia melanjutkan perjuangan lagi. Engkau ada, karena engkau bermakna. Maka, usahailah agar engkau mampu menjadi bermakna. Seep?

Teman, di sela-sela waktumu beraktivitas, engkau dapat menemui teman-temanmu yang sedang beraktivitas pula. Nah! Pada masa tersebut, engkau dapat manfaatkan waktumu untuk menyapanya, menanya padanya, lalu belajar banyak bersamanya. Karena, waktu demi waktu yang kita punyai, tidaklah panjang. Hanya saat ini saja, setelah itu belum pasti. Manfaatkanlah masa-masa luangmu dengan sebaik-baiknya, sebelum kepadatan jadwal memenuhi hampir seluruh waktumu. Akibatnya, apa yang pernah engkau lakukan pada masa luangmu, tidak lagi dapat engkau laksana pada masa tersebut. Terkenangkah engkau dengan beliau, teman-temanmu itu?

Teman, kita tidak pernah mengetahui, bahwa apa yang sedang kita lakukan saat ini, ternyata dapat membawa efek positif bagi kehidupan kita yang selanjutnya. Kalau kita memang sudah mengetahui, mengapa harus berdiam diri? Laksanai apa yang dapat kita upaya, lalu berbuatlah apa yang ingin kita dayakan. Semoga kelak, pada masa berikutnya, ia menjadi jalan yang menguatkan kita lagi.

***

Teman, meskipun catatanku bukan catatanmu, namun catatan ini adalah untukmu. Walaupun catatanmu bukan untukku, namun saat engkau menciptanya dan ia ada, maka catatan itu tercipta juga untukku. Engkau dan aku barteran ilmu. Barteran suara hati, barteran hasil pikiran. Barteran pengalaman, pun barteran kisah-kisah dalam perjalanan. Semoga kelak kita mengerti, bahwa semua ini adalah jalan, untuk hadirnya senyuman yang lebih indah lagi. Itupun kalau saat ini kita sedang tersenyum. Nah! Kalau saat ini kita lagi tidak dalam keadaan tersenyum, semoga pada waktu yang akan datang kita dapat tersenyum bersamanya. Tersenyum, karena kita tidak percaya dengan apa yang pernah kita laksana. Kita terpesona, kita terpana. Kita berbunga-bunga bahagia. Kitapun terbang ke masa lalu, bersama-sama dengannya. Engkau yang pernah menciptanya, akan kembali ia ingat. Engkau yang mengusaha adanya ia, tentu tidak melakukan sesuatu yang sia-sia. Karena semua yang engkau laksana, adalah untukmu. 

So, semakin banyak engkau merangkai kata, maka semakin banyak pula pesan, kesan, kenangan yang akan kembali padamu. Semua akan menceritaimu tentang masa-masa yang  pernah engkau lalui bersamanya. Tentang kebersamaanmu dengan para sahabat baikmu, tentang sapaan yang engkau sampaikan pada teman-teman barumu, pun tentang cita yang pernah engkau cipta. Hingga semua tanyamu terjawab, seiring dengan perjalanan waktu. Percayalah teman, engkau ada karena engkau bermakna. Bukan untuk mencari jawaban, namun engkau sedang merangkai jawaban atas tanyamu.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam Al Quran. (Q.S Ar Ra’d [13]: 11) yang artinya:

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

11

Sehingga jelaslah bagi kita, tentang peran ikhtiar dalam menjalani kehidupan. Bergeraklah maka engkau dapat sampai ke tujuan. Namun, sebelum menggerakkan langkah pertama, engkau perlu mengetahui terlebih dahulu, “Engkau hendak ke mana?”

Setelah itu, baru melanjutkan perjuangan. Jalan masih terbentang di hadapan. Kalau kita bersedia untuk menelusurinya, maka kita dapat bertemu dengan pemandangan yang berbeda, di sepanjang perjalanan. Buat Teh Siti, yang hari ini melanjutkan perjalanan meskipun tidak lagi lama aktivitas kita yang sama, semoga kita dapat saling mengingat, di ruang jiwa. Sampai berjumpa lagi, Teteh…. 

“Semangat ya, sayang….,” bisik Teh Siti, di penghujung salam sore tadi.

🙂🙂🙂

 


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s