Menuju Skripsi, Kisah Berikutnya


“Optimis mampu menyelesaikan skripsi dalam satu semester, insyaAllah.  Harapan untuk menyelesaikan perkuliahan pada Agustus 2012. Kemudian menggenggam hasil terbaik atas usaha dan kegigihan selama ini, I believe,” ungkapnya.

Ketika dengan apa yang engkau upaya engkau yakin, maka tersenyumlah dalam menempuhnya. Sungguh tidak ada satupun yang ada dalam kendali kita, namun masih ada harapan pada Yang Maha Mengendalikan apa-apa yang sedang kita jalani.

Setelah terik mentari menyilaukan arah tatap, yakinilah teman, akan hadirnya kesejukan nan meneduhkan. Begitu pula dengan beraneka warna rasa yang kita temui pada saat ini. Nikmatilah kebersamaan itu sepenuhnya. Karena kita tidak pernah tahu, apakah ia akan kembali menyapa diri. Sungguh kita tak tahu.

Sempurnai hari dengan berbagi, lalu engkau dapat menyaksikan bagaimana tampilan alam yang sedang engkau nikmati. Sungguh, diluar daya pikir yang pernah kita kerahkan, ada pemerhati yang selalu menjagai. Memang kita tidak sendiri dalam perjalanan ini. Ada banyak sarana yang dapat kita manfaatkan untuk berbagi. Nah! Salah satunya adalah lembaran ini. Lembaran maya yang terkadang bertaburan imajinasi, berselingan ilusi, ada di dalamnya. Berhalusinasi bersamanya, juga menjadi pilihan, pada suatu hari. Dan semoga semua bukan hanya mimpi-mimpi saja. Walaupun untuk saat ini, begitu adanya. Ya.

“Ingin berubah lagi, untuk terlarut dalam perubahan itu sendiri,” ungkapnya yang sedang ku wawancarai.

Sebaris kalimat yang selama ini ada di dalam pikirannya. Remaja dua puluhan tahun yang sedang meneruskan perjalanan dalam kehidupannya. Lama ia menatap dengan tatapan yang menembus hingga ke langit jiwa. Hingga saya yang sedang memperhatikannya semenjak tadi, turut terbawa suasana. Ya, begitulah saya adanya. Seorang yang lebih mudah terlarut dalam lautan ekspresi yang ia ciptakan sendiri. Walaupun terkadang, tanpa ia sadari, telah banyak waktu yang ia lewatkan dengan berdiri.

Tegak, berdiri dan belum lagi mau melangkahkan kaki-kaki ini. Sudah banyak kesempatan yang ia lewatkan tanpa pernah ia tahu, bahwa ternyata ia dapat berubah dalam waktu-waktu tersebut. Namun kini, apa yang sedang ia alami, kiranya dapat menjawab segala tanya yang mampir di ruang harinya. Hari-hari yang beberapa tahun terakhir, ia jalani tanpa bersama keluarga di dalam pandangan mata. Jauh nun di ujung samudera, keluarganya berada. Sedangkan ia, sedang berada di sesudut pelosok negeri. Negeri yang ramah, elok dan penuh dengan imajinasi. Negeri yang bukan lagi negeri yang sebelumnya ia lewati dengan berbagai kesan. Namun negeri yang sedang ia temui hingga saat ini, dapat membawanya pada wilayah yang bahkan sebelumnya hanya ada dalam mimpinya. Namun kini, segalanya bukan hanya mimpi apalagi ilusi semata.

Ia yang sedang menyentuhkan punggung tangan kanannya ke arah kening dan pelipis, sedang mengelap keringat yang sedari tadi menetes. Membanjir, hingga melembabkan puncak hidungnya yang mulai bertumbuhan bintik-bintik air. Ia pernah mengalami hal yang serupa, dulu dan sudah lama berlangsung. Ketika suasana alam begitu terik dan menyengat kulit.

Kini, ia sedang berada di bawah terik tersebut. Dengan pelindung seadanya yang ia tempatkan pada bagian-bagian penting anggota tubuhnya, kiranya dapat menjadi pelindung sementara, agar ia merasakan ketenteraman lagi.

Bersama dua orang sahabatnya yang penuh dengan integritas, ia meneruskan perjuangan. Pernah pada suatu hari, seorang teman berucap begini, padanya.

“Hai, kalau kita merangkai pula kisah tentang perjalanan yang sedang kita tempuhi selama kebersamaan di kota ini, bagaimana?”, temannya meminta persetujuan. Sekaligus perizinan untuk mengembangkan apa yang ada dalam pikirannya ke dalam susunan kata-kata yang berasal dari huruf-huruf yang berbeda.

“Tapi, yang merangkai kata, Yaniiii,” Timoet tersenyum lebar di antara kerlingan matanya yang berkedipan dari balik kaca yang membatasi.

“Sebuah kisah dapat tercipta, ia memprasasti,” jawabku di dalam hati. Meskipun kisah tentang kebersamaan kita hanya tersimpan di relung jiwa yang berbahagia akhirnya, why not?

***

Timoet, Teh Mey dan Yani. Pada suatu pagi, bertiga mereka berkunjung ke perpustakaan. Setelah sebelumnya, melakukan penantian panjang sungguh-sungguh. Di depan, ke samping dekat kanopi, hingga akhirnya menentukan pilihan.

“Mari kita ke warnet sebelah. Untuk menemukan bahan Ti dan Teh Mey yang belum lengkap,” ajak dua sahabat.

Tidak berapa lama kemudian, kamipun sudah berjejer dalam barisan baru, di sebuah ruangan yang dapat menjadi jalan berjumpanya kita di sini. Namun sekarang, saat barisan kalimat demi kalimat ini tercipta, kami sudah sedang belum lagi berjumpa. Karena memang, lokasi tempat tinggal kami berjarak. So, untuk sementara, kami kembali melanjutkan aktivitas masing-masing. Aktivitas yang berbeda, tentunya.

Ketika kemarin, saat kami bersama, berada di Sangga Buana, untuk keperluan menambah ilmu dan pengetahuan. Kami ingin menjadi lebih baik lagi. Kami ingin menjadi lebih berarti dari hari ini. Kami ingin menjadi jalan tersenyumnya keluarga yang kami sayangi. Kami ingin menjadi jalan hadirnya kebahagiaan, untuk beliau-beliau yang terdekat dengan kami. Kami yang hingga saat ini masih ada di kota ini, bukan untuk tak berarti. Kami ingin tunjukkan, bahwa kami juga mempunyai visi. Untuk itulah, penantian semenjak pagi hari, kami lakoni. Untuk selanjutnya, mari kita melangkah lagi.

Selepas penantian dan mengunjungi warnet terdekat hanya beberapa menit, lalu kamipun melangkahlah akhirnya, menuju perpustakaan. Untuk memenuhi janji pada masa depan kami. Janji pada diri sendiri.

Semoga, lebih mudah kita memberikan taburan makna dari hari ke hari, detik ke menit, menit ke jam yang sedang kita jalani.

Ketika pertama kali memasuki ruangan yang penuh dengan banyak buku-buku, kami terkesima sungguh terkagum. Ketika pada waktu yang bersamaan, ada sebaris kalimat yang turut hadir untuk menyambut.

“Ruang Baca”, adalah bunyi dari kalimat tersebut.

Perpustakaan yang merupakan sebuah ruang untuk membaca, ber-sharing ria, dan menulis juga bisa. Yah, ada beberapa picture yang dapat kita jadikan sebagai bahan untuk membaca. Begitu pula dengan menulis.

Walaupun hanya ada kalimat “Ruang Baca” yang dapat kami baca, namun kami memanfaatkannya untuk menulis. Karena, terdapat pada satu sisi lainnya, huruf-huruf yang bersusun sesuai abjad. Namun, huruf-huruf tersebut masih belum akan bermakna, kalau kita pandang-pandangi saja.

“Bagaimana, kalau semuanya kita kreasikan? Bagaimana, kalau huruf-huruf tersebut kita gunakan seluruhnya dalam merangkai kisah tentang kebersamaan kita di kota ini?”, tanya selembar hati yang sempat meleleh. Ia sempat kepanasan, tadi. Namun, ketika menatap wajah-wajah para sahabat yang sedang berada di sisi,  ada nuansa lain yang ia rasakan. Hatinya yang semula melebur hingga tidak berbentuk lagi, kini utuh kembali. Ada pelengkap kisah yang sedang berpartisipasi untuk terciptanya kisah ini. Hati, turut serta memberikan kontribusi, pastinya. Karena, tanpa adanya ia, tidak mungkin akan tercipta kisah tentang kebersamaan kita.

Teman, ketika pada suatu hari nanti engkau bertanya pada hari-hari yang telah engkau lalui, untuk engkau buka lembarannya lagi, maka mampirlah pada lembaran ini. Niscaya akan ada beberapa baris kalimat yang dapat mengingatkanmu, bahwa kita pernah terlibat dalam sebuah kisah. Salah satunya adalah kisah tentang penantian. Yah!

Untuk apa menanti? Kalau pada akhirnya, melumerkan hati-hati ini? Untuk apa menanti, meskipun kepastian telah menanti kita terlebih dahulu? Untuk apa menanti, kalau sekiranya kita masih mempunyai aktivitas yang dapat kita jalani? Melakukan aktivitas untuk terwujudnya visi, adalah pilihan untuk saat ini. Ketika misi telah kita rangkai dengan sebaik-baiknya, lalu tidakkah lagi kita mau  membacanya untuk kesekian kali? Walaupun ia telah tercipta semenjak lama, namun dapat menjadi pengobat jiwa yang semulanya demam tinggi. Akhirnya, iapun segar dan bugar kembali.

Walaupun mentari belum terlalu meninggi, namun panas yang tercipta saat teriknya maksimal, dapat kita jadikan sebagai pengingat diri, “Bersabarlah, atas apa yang engkau alami, namun bukan hal demikian yang engkau kehendaki.”

***

Pada siang harinya, setelah Yani, Timoet dan Teh Mey tidak lagi bersama di Sangga Buana, Yani menerima panggilan dari seseorang di seberang sana. Siapakah yang melakukan panggilan tak terduga? Padanya yang sedang beraktivitas sebagaimana hari-hari biasanya.

“Anda sekarang ada di mana?,” sebuah tanya yang Yani terima beberapa saat setelah ia menekan tombol terima panggilan. Dari beliau yang menghubunginya baru saja. Bapak Dekrita. Begini nama yang tertulis di layar yang masih berkedipan bercahaya.

“Sekarang Yani dalam beraktivitas, Pak. Lagi kerja,” jawab Yani.

“Oh, bagaimana kalau Anda menemui saya pada hari Senin?” pertanyaan yang membuat Yani langsung mengalami dilema. Hahaa… namun ia segera tersenyum pada wajah. Kemudian, menenangkan diri sejenak. Dan mengungkapkan segalanya dengan jelas. Hingga akhirnya, Bapak maklum. Kesimpulannya, kita akan ketemu dengan beliau lagi, pada hari Jum’at pagi tanggal dua puluh tujuh April tahun dua ribu dua belas. Tertulis jadwal tersebut dengan indahnya, pada ingatan. Kemudian, ia pun menyampaikan pada rekan-rekan seperjuangan. Semoga, informasi dapat tersampaikan. Dengan tekad dan semangat persahabatan, sms pun terkirim. Pada dua orang sahabat lainnya yang sedang beraktivitas pula. Yes! Karena Teh Mey, Timoet, dan Yani, beraktivitas tidak pada lokasi yang sama. Ada jarak yang membatasi pertemuan raga. Namun saat ada informasi yang perlu menyebar, kami segera kabar mengabari.

Teman, dalam berjuang memang begitu. Apalagi kalau kita berjuangnya bersama-sama. Tidak dengan diri sendiri, yang jadwalnya juga kita miliki sendiri. Kita dapat mengatur jadwal sendiri dengan diri kita sendiri. Namun, kalau berjuangnya bersama-sama, tentu saja jadwal kita yang tidak sama, perlu kita pertemukan. Yah, ada baiknya bersama-sama. Dengan begini, kita menjadi tahu arti kekuatan. Bukankah sehelai lidi tidak dapat membersihkan halaman yang bertaburan dedaunan, dengan dirinya sendiri? Bukankah, setelah ia kita ikat menjadi kumpulan yang lebih banyak lagi, lidi bukan lagi bernama dirinya? Bukankah ia akan berubah nama menjadi sebuah sapu yang dapat kita manfaatkan untuk membersihkan?

Inti dari perjuangan adalah kerelaan untuk berkorban. Baik materi, ataupun juga pikiran. Tidaklah semudah mengucapkan, segala yang kita jalankan. Pun, perlu dengan lebih seksama, kita mendata keadaan. Agar, harapan yang telah kita pancangkan tidak lagi harapan. Ada kenyataan yang membentang di hadapan, ini yang sama-sama kita  inginkan. Untuk itulah, segala perbedaan yang ada, tidak lagi menjadi penghalang untuk menciptakan perubahan. Karena, perubahan itu sendiri, memang perlu kita taklukkan. Sedangkan perbedaan, perlu kita sesuaikan dengan keadaan. Jadwal boleh tidak sama, namun ketika kita mempunyai cita yang serupa, maka kita akan saling bahu membahu untuk mewujudkannya. Karena dengan bersama, kita bisa!

Teman, ada waktunya, kita menemukan keadaan yang kita sangat tidak ingin ia terjadi. Bahkan, kita harapkan hanya keadaan yang penuh dengan kemudahan saja untuk kita jalani. Sedangkan semua yang kita alami, bukanlah seperti itu. Wah! Ujung-ujungnya, merembeslah ia pada aliran pikir yang terus mengalir. Buat apa kita meneruskan perjuangan, kalau kita belum lagi mengerti makna dari perjuangan itu sendiri? Adakah kita menyadari akan hal ini?

Saat kita menyadari bahwa kita mempunyai tujuan yang sama, maka kita akan saling bekerja sama untuk mencapainya. Dengan segala upaya yang kita usaha seoptimal mungkin, satu persatu dapat kita uraikan. Dari hari ke hari, waktu terus bergulir. Tanpa kita sadari, sudah berapa lama kita berjuang bersama-sama, teman? Apakah engkau mengenali sesiapa saja yang engkau ajak untuk meneruskan perjuangan? Sudahkah engkau menemukan sahabat-sahabat terbaik yang menjadi jalan bagimu untuk kembali mau teruskan perjuangan? Setelah engkau menemukan berbagai rintangan. Ketika engkau berjumpa dengan halangan yang membuyarkan tatapan, untuk beberapa masa. Apakah engkau menemukan pemandangan yang sama, setelah engkau melewati rintangan dan halangan itu satu persatu?

Sungguh, para pendahulu kita telah lebih awal mengalami hal yang sama. Namun beliau teruskan apa yang beliau telah cita, tanpa sempat memberikan perhatian penuh pada yang namanya perbedaan. Karena, dengan sepenuh keyakinan, perbedaan dapat kita taklukkan. Setelah itu, nikmatilah saat-saat yang penuh dengan persamaan. Kita menemukan solusi, pada akhirnya.

Dari pengalaman perjalanan pada hari-hari yang telah berlalu hingga saat ini, ada hikmah terselip. Bahwa setiap kita, mempunyai waktu. Adapun waktu demi waktu yang sedang kita punyai, perlu kita hargai. Karena, ketika kita meminta waktu kepada orang lain, kita perlu memperhatikannya. Waktu beliau sangat berharga. Lalu, ketika kesempatan datang pada kita, untuk memperoleh waktu dari orang lain, maka manfaatkanlah ia dengan sebaik-baiknya. Hargai waktu.

Menghargai waktu yang kita punyai, tidak lebih penting dari menghargai waktu orang lain yang kita peroleh. Karena antara kita dengan orang lain, mempunyai keterkaitan satu sama lainnya. Kita adalah insan sosial yang akan selalu berhubungan dengan sesama. So, untuk apa kita menggunakan waktu yang kita punyai? Untuk apa kita memanfaatkan waktu demi waktu yang kita peroleh dari orang lain? Bagaimana kita dapat memberikan perhatian terbaik padanya?

Mengupas tentang waktu, saya jadi teringat pada firman Allah subhanahu wa ta’ala. Q.S Al’Ashr [103]: 1-3,  tentang waktu. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.”

“Kalau hari ini di YPKP, saya ga bisa. Kalau Jum’at siang, saya bisa. Dan untuk hari lain, nanti saya informasikan lagi ke Marya. Jadi, hari ini kalau satu yang bisa ngga usah. Nanti aja langsung bertiga, pada hari yang lain,” begini pesan berikutnya yang kami terima dari beliau yang ingin sangat untuk kami temui di Sangga Buana. Beliau, adalah Ibu Fitria. Pembimbing kami dalam bahan ajar “Perilaku Organisasi.”

Kesempatan hidup, hanya sekali. Waktu yang kita punyai detik ini, sudahkah optimal teman? Untuk mengumpulkan bekal terbaik dalam perjalanan yang selanjutnya.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s