Buatmu Sahabat


Buah yang lebih dahulu matang, akan ada yang memetiknya

Buah yang lebih dahulu matang, akan ada yang memetiknya

Siang hari. Mendung mulai terlihat, meski samar. Yani yang sedari tadi asyik di kamar, segera melangkah ke depan pintu. Ia membuka daunnya lebih lebar. Tidak seperti tadi, yang hanya terbuka empat puluh lima derajat saja. Ia melangkah menuju jemuran. Tempat mengeringkan pakaian setelah ia mencucinya pagi tadi. Lumayan kering,  meski tak garing. Yach, sudah sampai sejauh ini, jam telah menunjukkan pukul satu siang. Namun, berhubung mentari belum lagi menunjukkan  wajahnya dengan jelas, beginilah jadinya.

Bandung. Akhir-akhir ini, memang sering diguyur hujan. Baik pagi, siang ataupun sore hari, hujan bisa saja turun. Kapan saja, tetesan air yang bening itu, akan segera menitik ke bumi. Begitu pula dengan siang ini. Meskipun semenjak tadi pagi belum turun hujan, suasana seperti ini adalah pertanda. Mendung mulai menggelayut langit. Agak kelam, memang. Namun, masih terlihat bening pada beberapa titik, di tepi langit.

Setelah memindahkan beberapa pakaian yang belum sepenuhnya kering ke tempat yang teduh, Yani pun kembali ke lokasi di mana ia berasal. Kamar menjadi tujuannya. Di sana, ada sebuah alat komunikasi yang baru beberapa menit yang lalu ia sentuh. Ia baru menelepon Ayah dan Bunda di seberang sana. Ia meminta doa beliau, agar dimudahkan dan lancar dalam menempuh ujian akhir esok hari. Selain itu, untuk mengobati rasa rindunya pada beliau semua.

Tidak cukup rasanya, hanya bertemu dalam rangkaian suara dan atau barisan kalimat yang tercipta. Kalau ada jiwa yang senantiasa merindukan pertemuan, maka ingatan adalah jalan yang dapat kita tempuh. Ia ingat dengan beliau-beliau yang sampai saat ini jauh nun di ujung mata. Yani, yang sabar ya.

Beberapa menit kemudian, ia kembali menatap kedipan pada layar alat komunikasi yang sedang duduk manis di kursi. Memang, tadi ia menaruhnya di sana.

Hanphone berwarna silver cerah, menyampaikan sebuah pesan untuknya. Adapun pengirim pesan, berasal dari sebuah nomor yang asing. Buktinya, tidak ada nama yang tercantum pada lembaran bercahaya. Hanya barisan angka yang ada. Ia membuka kuncinya, lalu menuju pada inbox tempat bersemayamnya pesan. Lalu, membaca pesan yang singkat isinya.

xxx1798 : “Haii,” begini sapaan yang ia terima.

Sebuah kata yang terdiri dari empat huruf saja. Huruf-huruf yang membuatnya ingin segera memberikan respon. Namun, masih ada tanda tanya di ruang pikir?

“Siapakah pengirim pesan,” bisik jiwa yang segera menanya pula.

Yani belum akan menemukan jawabannya, kalau ia tidak segera menanya, ataupun memberikan tanggapan. Untuk selanjutnya, ia pun mengetikkan beberapa huruf yang singkat pula, sebagai jawaban atas sapa.

“Iyaa…😀 ,” berikut emoticon yang mengikuti di belakang.  (pesan terkirim, dengan sukses)

Beberapa saat kemudian, ia menerima balasan atas pesan yang tadi ia kirimkan. Pesan dari seorang di seberang sana, yang ia belum mengenal, siapakah beliau? Rangkaian kalimat yang membuatnya bertanya lagi, seraya memutar pikir hingga ke ujung dunia. Tentang sesosok insan yang menyapanya pada siang sebegini. Semoga ada hikmah atas semua ini. Ia pun membaca dengan sepenuh hati.

xxx1798 : “Aq benci, sebel kamu lupain aq gitu aja,” ada nuansa tidak biasa, yang ia terima.

Berulangkali, ia meneruskan perjalanan pikir. Pikir yang bertanya, dan akan terus bertanya. Belum akan ada jawaban, kalau ia tidak meneruskan upaya untuk menemukannya. Ia ingin menyelesaikan segalanya. Karena seingatnya, inilah pertama kalinya ia menerima kalimat yang serupa. Seumur hidupnya, ini yang pertama. Wah! Pengalaman pertama memang selalu berkesan, yaa.😀 Hingga akhirnya, sampaikan sang kalimat ke dalam salah satu lembaran ini, tentang perjalanan seorang teman.

Ia tersenyum. Yani mensenyumi lembar bercahaya yang baru saja ia pandang. Ia mengalihkan pandangannya sejenak, ke angkasa. Mendung masih menggantung, ringan. Ada kelabu di atas sana. Sebentar lagi, mungkin akan turun hujan, bisiknya. Lembut.

Tidak berapa lama kemudian, ia mengarahkan pandangan pada jemari yang siap beraksi. Ia ingin menemukan solusi. Semoga Allah meridhai pertemuan kita ini, teman… ungkapnya dengan lirih. Suara yang tidak terdengar, sedang memberikan jawaban atas tanya yang kembali menyapanya. Yani, mimpi apakah ia semalam, hingga siang ini, ia mengalami seperti mimpi, lagi.

Yani mencubit pipi kirinya dua kali. Kemudian meletakkan handphone, dan menempelkan kesepuluh jemari. Telapaknya bertemu, mereka bersatu. Kemudian, ia membawanya ke arah depan wajah, dan mengusapkannya perlahan. Ujung jemari berangsur turun, lalu ia menghentikan  sejenak di depan hidung. Lalu, mengambil alat komunikasi yang tadi ia titipkan. Ia mulai menyusun kata, membentuk ekspresi atas apa yang ia damba.

“Calm, ada afa, ada afa? Mendung, yah,” entah apa maksudnya menyusun kalimat yang demikian. Setelah yakin dengan apa yang ia lakukan, berikut tanggapan yang akan ia terima, ia pun mengirim pesan dengan baik. Message sent, success.

Tidak ada harapan akan ada balasan, dari pesan yang ia terima. Karena, ia memang tidak berpikir ke arah sana. Yani pun melanjutkan aktivitas berikutnya. Saat makan siang, telah menjelang. Ia ingin menikmati menu yang ada. Ketika jadwal datang menyapa, maka kita perlu memanfaatkannya dengan baik. Bukankah apa yang kita lakukan, adalah bersesuaian dengan apa yang kita pikirkan? Sedangkan bagaimana lingkungan memberikan tanggapan atas apa yang kita jalankan, merupakan pewarna dalam perjalanan. Niscaya kehidupan yang sedang kita jalani menjadi lebih indah.  Hasil lukisan yang akan tercipta, menarik, akhirnya.

Sesuap, dua suap, Yani menyalurkan menu pada alat pencernaan pertama. Rongga mulut menerima dari tangan, kemudian menuju tenggorokan, dan mengumpul dalam usus-usus yang mengolah. Baru beberapa suapan, pesan tampil dengan senyuman. Ada pertanyaan di dalamnya. Ada jawaban yang ia minta.

xxx1798 : “Ayo, emang ni sapa???,” tiga buah tanda tanya, mengikuti, pula.

Sungguh, siapakah di seberang sana? Ada tanya yang menanya pada pertanyaan yang ia terima. Apakah  makna atas segala yang kita alami, teman? Ketika dari waktu ke waktu, kita menerima tanya dan kita pun mengajukan tanya. Lha, kalau saling tanya menanya, siapa yang akan memberikan jawabannya?

Baik, semoga ini menjadi iklan dalam tayangan kehidupan yang kita perankan. Yani meyakinkan dirinya sendiri. Dengan sempurna, matanya kembali melayangkan pandangan ke langit yang semenjak tadi mendung. Kini, mulai terlihat lebih cerah. Langit, bersih dan cerah seketika. Meskipun belum lagi terlihat senyuman mentari, namun ia inginkan selalu bersamanya. Meskipun tiada senyuman yang ia terima, maka ia pun tersenyum segera.

“Aku Mentari, xixixiii… qmuh Mendung, kan?,”  rangkaian kata yang ia cipta, sesuai dengan apa yang sedang terjadi di sekitarnya.

Karena Yani, memang begitu, ia sangat mudah terbawa oleh suasana. Saat keadaan yang sedang mengelilinginya menampilkan suasana yang bagaimanapun, maka dapat menjadi bahan untuk merangkai dalam bait-bait tulisan. Yes! Ada mendung, di sini. Nah! Bukankah ia ingin menjadi mentari, ketika mendung menyelimuti langit-Nya? Biarlah alam mendung meneduhkan bumi, kalau hati kita bersinar cerah, maka alam akan mengikuti. Niscaya, berseri dan gemilang akan kita temui.

Setelah merangkai hanya beberapa huruf saja, Yani mengirimkan pada nomor yang sama. Ia masih belum tahu, ada siapa di seberang sana. Seiring dengan perjalanan waktu, memang hal yang seperti ini akan kita alami. Apalagi kalau kita mau mengambil hikmah darinya. Akan menjadi bahan untuk terciptanya inspirasi. So, rangkaian kalimat pada catatan kali ini, semoga dapat membuat kita saling mengingat, teman.. Atas partisipasi dan peranmu, walau tiada di sisi. Namun, rangkaian pesan yang pernah engkau kirimkan, ada maknanya. Walaupun singkat wujudnya, kalau engkau mengirimkan dengan sepenuh hatimu, maka maknanya akan memekarkan kembang senyuman pada diri ini.

Entah siapa di seberang sana, Yani belum tahu. Sosok misterius, tanpa wajah. Dalam barisan kalimat yang terangkai, mereka berkomunikasi. Ada tanya, ,ada jawaban. Ada ekspresi yang bermunculan. Untuk mendial nomor yang bersangkutan, belum menjadi pilihan. Mari kita lanjutkan.

Sedianya, ada aktivitas yang sedang berjalan, setiap waktunya. Walaupun kita sedang melakukan aktivitas penting sekalipun, di dalamnya yakinkan ada komunikasi. Agar, kita tidak terlupa dengan siapa diri ini. Apalagi kalau suasana tempat kita berada, begitu hening. Segera, segeralah teman, menyapa diri dan Pemiliknya. Agar kita temukan ketenangan, kapanpun kita menginginkan.

Yani asyik menikmati menu yang masih tersisa. Seteguk air pada mulanya, membasahi tenggorokannya. Ia menelan dengan seksama. Hikmat dan penuh rasa. Lezat dan  ada rasa pedas juga. Namun, sedikit, sebagai penghias menu saja.

Beberapa saat kemudian, ada pesan masuk dari nomor yang serupa. Alat komunikasi yang sedari tadi ada dekat dengannya, tersenyum menatap padanya. Ia tersenyum, karena kembali menerima pesan.

xxx1798 : “Iya, aku Mendung, kamu geledek. Hohohooo…,” begini bunyi pesan berikutnya, yang ia terima. Pesan yang menjawab tanyanya tadi. Alam mendadak cerah. Mentari tersenyum, dengan gembira. Ada kemilau yang ia sampaikan lewat tatapan matanya yang sempat mengintip dari balik awan.

Suasana alam yang sangat cocok untuk merangkai pesan berikutnya. Yani menyelipkan bahasa entah dari mana ia belajar kalimat-kalimat tersebut. Yang pastinya, ia pernah membaca gaya tulisan yang serupa. Ingatannya segera berputar, cepat, menemukan pusat bahasa. Yes! Dulu, saya pernah menemukan bahasa ini, dari seorang sahabat yang sedang berkomunikasi dengan orang asing yang ia tidak kenal. Namun, ketika kalimat dan bahasa yang ia terima memancingnya untuk memberikan umpan, maka ia pun memberikan umpan tersebut. Pancingmu ia lemparkan ke dalam kolam yang penuh dengan ikan-ikan segar. Segar? Ya, ikan yang sedang berada di dalam kolam tersebut, segar dan lincah geraknya. Semoga pancing menemukan ikan terbaik dan bagus rupanya. Yani sedang memancing.

“Oia, tadi aqw liat ammuh mampir di sini. Trus pergi lagi, yaaa… Sampai jumpa lagi Mendung…,”

~ Mentari ~

Ia mengirimkan pesan dengan senyuman yang mengembang pada wajahnya. Dengan nama yang mampu mensenyumkannya, ia memberikan balasan, bahwa tadi ia melihat mendung. Namun, sekarang mendung sedang menepi. Cerah di sini, begini inti pesan yang ingin ia sampaikan. Lalu, pesanpun terkirim dengan baik. Semoga beliau di sana, menerima pesan dengan tersenyum pula, ungkap Yani tanpa suara.

Kalau kita merangkai kalimat dengan tersenyum, maka senyuman pun akan mengembang pada wajah beliau di sana. Begitu pula dengan yang sebaliknya. Saat ekspresi yang kita alami penuh dengan ketidakbahagiaan, maka kita pun akan menerima hal yang sama. Yani bahagia, karena ada yang menyapanya. Menyampaikan sapa, ataupun mengungkapkan apa yang ia rasa. Meskipun pengirim pesan belum lagi ia kenal, dengan baik. Identitasnya masih tersimpan di atas pucuk-pucuk daun yang bergerak tertiup angin. Mentari yang beberapa menit terakhir sempat menampilkan senyuman, hanya sekilas. Kini, alam kembali teduh. Bahkan lebih damai. Ada tanda-tanda hujan akan turun. Ya, memang demikian adanya. Karena memang, tidak berapa lama kemudian, tetesan bening permata kehidupan pun luruh ke bumi. Dingin mulai terasa.

Menit ke menit berikutnya, Yani terus menyantap menu makan siangnya. Selera tumbuh, ia pun bersyukur. Karena, sangat jarang hal yang seperti ini terjadi. Kalau rezekinya mulus, maka mulutnya akan menerima menu dengan semangat. Namun, saat moodnya lagi turun, memandang makanan saja, tentu sudah cukup baginya.  Berteman seorang asing di seberang sana, ada kisah yang ingin ia cipta. Ai! Ini pengalaman berharga baginya.

Entah sudah menit ke berapa, ia kembali menerima pesan selanjutnya.

xxx1798 : “Hahaha bisa za Bundo ni, ni Ebi,” balas Ebi.

Yani tidak menyangka sama sekali, kalau yang mengirimkan pesan-pesan yang telah berlalu adalah Ebi. Ebi, teman satu kostannya dulu, ketika mereka sama-sama berjuang di sebuah lembaga pendidikan formal di kota ini. Namun kebersamaannya dengan Ebi hanya berlangsung beberapa tahun saja. Seingat Yani, tidaklah sampai satu tahun. Walaupun demikian, ada kenangan terindah yang melintas dalam pikirnya, ketika ia membaca pesan tersebut. Yani pun membalas pesan Ebi dengan wajah berseri penuh bunga-bunga senyuman yang bermekaran.

“Ebii, di sini mendung lagi. Wkwkwk. Ebi udah makan belum? Yn lagi makan siang. Di mana Ebi sekarang? Lamma tak jumpa, yaa…😀 ,” pesan terkirim.

Selanjutnya, balasan pesan dari Ebi, nyangkut di layar bercahaya lebih cepat.

Ebi menjawab,  “Lama buangeetttttt, di sini panas. Ebi barusan makan mie ayam. Di Jakarta.” Ringkas dan jelas, Yani memahami.

Segera ia menyampaikan jawaban, tidak menunggu lama.

“Wah! Ebiii… inget waktu masih bareng-bareng di kostan. Rindu cabe terasi+kangkung masakan Ebi, (-) hehe. Oia, Abim pasti udahgedeya. Abim-nya udah punya adek lagi, kah?,” barisan kalimat lebih panjang sukses terangkai.

Ebi memang pintar memasak. Kalimat yang mewakili deru haru yang menerpa relung kalbu. Ingin ia menatap wajah sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Ebi yang sudah menikah, kini tinggal di Jakarta, Ibu kota, Bersama suami tercinta, meneruskan perjuangan bersama. Bandung, adalah kota pertemuannya dengan sahabat baik, yang berasal dari kota penghasil dodol, Garut. Ya, Ebi yang berasal dari Garut, pernah tinggal di Bandung, kini sedang berdomisili di Ibukota.

Ebi pun membalas, “Belum lah, udah tiga tahun lima bulan. Iya, masak-masak kalo libur. Emang masih kos di situ???”

Tiga buah tanda tanya, menandakan Ebi sangat membutuhkan jawaban. Jawaban penting yang perlu Ebi tahu. Bahwa, “Masih, kan Yn masih setia sama P’Darsono“.

Ebi pun mengirimkan beberapa buah kata berikutnya,  “Panjang umur yaa”.

“Alhamdulillah.., Ebi Jakartanya masih tempat yang dulu?” balasan terkirim. Yn menanya lagi.

Ebi: “Iya, Bundo cepat-cepat nikah, kan sudah tuah, hihii”

“Iya, doain dari sana yah Ebi. Xixii. Ini Yn lagi ikhtiar di sini. :D  , ” bahagia aja ia merangkai kalimat pinta untuk seorang sahabat nun jauh di mata.

Ebi : “Emang ada cow??? Pasti nyari orang Padang juga yaa”.  Karena Ebi sangat tahu, siapa  Yn.   :D  Seorang perempuan yang berasal dari pulau seberang. Beliau tak hanya berprasangka ataupun menduga-duga. Semoga menjadi doa. Karena kita tidak pernah tahu, berjodoh dengan orang mana, entah siapa? Adapun dalam harapanku terjalin sebuah cita. Bersua jodoh di dunia, lalu bersama hingga ke surga. Aamiin. Di manapun engkau berada, berasal dari negeri manakah? Semoga tanya dapat terjawab, atas izin dari Allah.

“Orang mana aja. Yang pastinya shaleh, beriman dan bertaqwa. Masih muda namun dewasa. Ya, co yang deket belum ada. Tapi Yn yakin, yang jauh ada. Hahaa. Semoga ia mendekat, Aamiin,” buliran suara jiwa, mewujud mutiara kata. Menjadi jalan untuk menjawab pesan yang Ebi sampaikan. Engkau ada. Tidak hanya dapat dibayangkan saja. Sungguh nyata. 

Ebi , dengan ketulusan, mengaminkan, “Aamin. Bundo pengen yang kerjaannya gimana??? Kantoran atau gimana?”  Serasa sedang menjalani wawancara saja. Ai! Inilah kalimat-kalimat interview yang sedang Yn usaha untuk menjawabnya. Lalu, ia menyampaikan dalam rangkaian kata.

“Yang bisa ngajak Yn pulang kampung dengan bahagia. Kan, Yn lama belum pulang, yah… Ah, rindu sangat! Kalo kerjaan, relatif, yang jelas halal.  Karena jalan rezeki ada dari mana aja. Kalau kita mau usaha, ya kan Bie. Ebi punya calon buat Yn..?😀 ,” di lembaran ini, Yn memprasastikan kalimat-kalimat yang ia yakin merupakan barisan doa. Karena beberapa waktu setelah saat ini, rangkaian kata tersebut akan segera ia hapus dari dalam inbox.

Ebi me-reply,  “Ntar di selidiki dulu.” Sure? Ebi serius?’

“Oke. Ditunggu laporan hasil penyelidikannya.😀 Ebi baik-baik di sana, ya. Titip salam buat keluarga, ya.

Terima kasih,

~Yani~

Di penghujung komunikasi, selembar senyuman penuh kebahagiaan menebar pada relung jiwanya.  Mentaripun tersenyum, bersamanya.

Ebi, terima kasih ya, atas inspirasinya. Semoga kita dapat berjumpa lagi, yaa.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s