Terkesima Sekuntum Bunga


Pagi hari, menjelang siang. Masih segar dalam ingatannya, bagaimana proses yang ia tempuh untuk dapat sampai pada waktu saat ini. Malam. Ya, bermula dari pertemuannya dengan sekuntum bunga yang tegak berdiri dengan tegap, ia terkesima. Putih kelopak kembang yang entah apa namanya, membuat ia tersenyum segera. Bunga unik kecil dan berperawakan kerdil, belum tahu ia. Bagaimana harus memanggil sekuntum bunga yang telah mencuri perhatiannya. Bunga berwajah putih dengan hiasan kuning pada sarinya. Kelopak yang tidak terlalu lebar, sungguh bersih dan bersinar.

Ya. Lihatlah teman… Ketika engkau mau mengarahkan tatapmu  meski sejenak saja pada penampilannya, maka engkau akan terkesima. Bagaimana ia memalingkan wajahnya ke arah cahaya, bagaimana ia bergerak dengan segala daya, ada yang sedang membimbingnya untuk tumbuh, bukan?

Sebagaimana pula bunga yang berperawakan kecil, tidak kalah bedanya dengan kita-kita yang ada di alam ini. Kita yang sedang bertumbuh, untuk mengembangkan senyuman terindah. Kita? Ya, kita tidak bertumbuh dengan sendirinya. Adakah kita menyadari akan hal ini, teman?

Ada dedaunan berwarna kehijauan dan memang hijau asli warnanya, ya.😆 Ada bekas ~ terkena potongan pada helainya yang tidak lagi sempurna. Bagian ujung daun yang hijau tersebut, terlihat mengering. Tanpa klorofil pada bagian yang sama. Walau sesungguhnya, masih tersisa banyak klorofil pada sebagian daunnya yang tersisa. Bunga, ia berdiri di antara dedaunan yang mengelilingi.

Setelah menikmati beberapa menit waktu untuk membersamai bunga yang sedang tersenyum, maka ia pun beralih beberapa langkah agak menjauh. Ia menebarkan pandangan lebih panjang lagi. Hingga ke ujung taman, tempat sang bunga yang sedang tegak tunggal, berada. Nun ke penghujung arah tatap, masih terlihat pemandangan yang serupa. Namun, ada beda sedikit saja, dari pandangan yang baru saja ia sapa. Serupa, tapi tak sama. Mirip, autentik, lokasinya masih sama. Namun, ketika kita turut mengalihkan pandangan hingga ke sudut taman, tiada kembang lainnya. Ya, begitulah adanya.

Kembang yang hanya satu-satunya, putih pula. Hanya ada lebih dekat. Ia sedang tersenyum dengan semarak. Menyambut sesiapa saja yang datang mendekat padanya. Bunga yang sedang mengembangkan kelopaknya yang tidak terlalu lebar, memang. Ia bahagia dapat menikmati suasana pagi yang seperti ini.

Ada senyuman yang menyambutnya, ketika pertama kali ia memasuki gerbang. Setelah beberapa langkah ia berjalan, memasuki halaman yang agak luas membentang. Tepat di ujung halaman, menuju tangga, ada selembar senyuman yang ia pandang.

“Sungguh senangnya, dalam suasana yang begini,” bisik hatinya yang terus saja mengenang. Beberapa kisah yang ia jalani beberapa waktu belakangan. Tentang aneka rasa, warna dan pesona yang ia pandang.

Rasa? Warna? Aneka? Pesona? Wahai, ada gerakan yang sedang ia laksana. Ia ingin lebih banyak menikmati rasa, agar hidupnya menjadi terasa lebih hidup. Ia ingin memandangi lebih banyak warna, agar kehidupannya lebih indah dan bercorak. Ia ingin bersua dengan aneka jenis karakter insan yang berbeda, agar ia dapat memahami sikap mereka. Ia ingin menemui pesona yang membuatnya terkesima. Ia ingin suasana pagi yang sungguh  menenteramkan, lebih sering ia alami.

Sekuntum bunga yang terkesima, sedang belajar menata bahasa. Bahasa budi yang ia bawa. Bahasa budi yang ia terima. Ia ingin mengalirkan semua dalam susunan kata-kata. Walaupun tadi, ia menerimanya hanya dalam ekspresi yang sempat ia pandang dengan kedua matanya yang membuka. Ya, ia melihat wajah-wajah yang tersenyum. Ia memandang tatapan  mata yang memikat. Sungguh, tidak perlu lagi ia menyantap sarapan, sudah kenyang kiranya. Ia sedang menikmati lezatnya wajah yang tersenyum.

Setelah mengabadikan senyuman sekuntum bunga yang sendiri dalam riuhnya gerak gemulai dedaunan tertiup angin, ia pun melanjutkan langkah bersama waktu. Dengan segera ia berlalu. Ia ingin menyaksikan pemandangan yang berbeda. Untuk itulah, ia pun mensenyumi bunga, lebih awal. Awal pertemuan pagi yang semarak, di sisi kiri parkiran gedung BCA.

Ai! Sekuntum bunga yang entah apa namanya, sedang menatap punggungnya. Ia perlahan menjauh, meninggalkan kembang yang raganya telah tertinggal. Namun, potret seteduh itu, sungguh tidak mudah baginya untuk tidak mengenang. Ingin ia menatapnya lagi, kelak. So, menitipkan pada salah satu lembaran ini adalah pilihan yang ia tempuh dengan jelas.

Berada di sisi jalan yang lengang, ia suka. Apalagi kalau di hadapannya melaju sebuah mobil dengan pelan. Ia ingin menyusun beberapa jenis mobil idaman. Xixixiiii, bukan kurang kerjaan, namun memang inilah salah satu pekerjaan yang sangat berkesan, teman. Hehe. Sungguh ia akan menjadi kenangan, ketika kelak kota ia menjadi saksi perjuangan. Setelah tidak lagi kaki-kaki ini melangkah pada tanahnya yang damai.

Bandung, banyak sisi jalan. Begitu pula dengan persimpangan. Banyak simpang, di mana-mana ada persimpangan. Seperti halnya pemandangan di hadapan, persimpangan dengan lengkungan yang tidak tajam, merupakan pemandangan yang tidak asing lagi di kota ini. Beberapa langkah berjalan ke hadapan, ada persimpangan lagi. Kemudian, beberapa menit berikutnya, kita akan kembali bersua dengan simpang. Bahkan, karena banyaknya persimpangan di kota ini, ada salah satu pasar yang bernama “Pasar Simpang.” Pasar yang berlokasi tidak jauh dari tempatku bermukim saat ini. Hanya beberapa menit saja, sudah sampai di sana. Apalagi kalau tidak pakai jalan kaki. Lima menit juga udah sampai di lokasi.

Pada sebuah persimpangan tempat ia berdiri, ada sebuah tembok yang tidak terlalu tinggi. Bukan tugu, bukan pula prasasti. Tembok  polos dengan diameter yang cukup luas, merupakan tempat yang pas untuk bersandar, sejenak. Bersandar, dari kepenatan melangkah. Bersandar untuk melepaskan lelah. Bersandar untuk menguraikan ingatan pada salah satu tembok yang sangat ingin ia kunjungi. “Big Wall”, serasa berada di sana, ketika itu.

Sisi tembok yang membentang dengan kokoh, berikut pepohonan di sekitarnya, merupakan tempat yang sangat meneduhkan. Bersila dan bersimpuh beberapa menit di bawahnya, tentu sangat mengesankan, yaa. Namun, bagian tersebut adalah sisi jalan. So, cukup bersandar saja, adalah pilihan. Apalagi, untuk beberapa saat saja. Karena, ia akan kembali berjalan, setelah berada di tepi tembok selama beberapa menit. Untuk berehat sejenak, untuk mengalirkan kembali energi yang mulai berkurang. Ia membutuhkan semangat baru. Agar langkah-langkah berikutnya dapat ia jalani dengan lebih baik. Ia ingin maju.

Waktu ke waktu, terus melaju. Tidak selamanya pagi atau pun siang. Begitu pula dengan usia kita yang terus berkurang. Maka, sorepun menjelang. Tepat  pukul lima, ia pun meneruskan arah pandang. Mengalihkannya ke luar jendela, untuk beberapa lama. Ia yang akan segera pulang, menyempatkan waktu untuk bersinggah di depan jendela.

Pemandangan di ujung sana, sungguh membuatnya terkesima. Bunga terkesima pesona mentari yang tersenyum. Ia yakin, senyuman yang mentari tebarkan, adalah untuknya. Ia yang sedang memfokuskan tatapan mata, pada sisi-sisi mentari yang menerik. Sore, teduhnya masih belum jelas. Kilaunya masih berfungsi. Mentari sedang mengambil ancang-ancang untuk menyahutkan, “Selamat berjuang, teman…  Untuk sementara, kita berjarak dulu, yaa. Esok ku akan tersenyum lagi, untuk menerangi siang di negerimu.”

Mentari, adalah salah satu benda langit yang ia suka. Berlama-lama memandangnya, merupakan aktivitas yang kembali menjadi jalan segarkan pikirnya yang sempat meredup. Yah! Mentari menjadi inspirasinya ketika siang. Namun, saat malam menjelang, mentari hanya ia kenang. Mereka sudah saling merelakan, atas perpisahan sementara.

Terus, ia pun melangkahkan kaki-kaki menuju lokasi yang berikutnya, halaman depan. Tepat di halaman depan, di balik jendela, bagian bawahnya, ia kembali terkesima. Sebuah tanaman entah apa lagi namanya, ia belum berkenalan. Namun, kelopak kembang yang sungguh sangat keciiillll itu, mengalihkan perhatiannya lagi. Ia kembali tersenyum bersama kelopak-kelopak kembang yang segera tersenyum pula. Masih sore, sehingga kesegarannya masih ada. Apalagi kalau malam hari, yaa. Dalam yakinnya, para kembang yang bermahkota kecil tersenyum, tentu lebih segar lagi. Apalagi esok hari, ketika mentari belum menjelang. Tetesan bulir embun yang menepi pada batang dan daunnya, akan membuatnya bertambah segar. Wahai bunga yang mempesona, terkesima tiba-tiba, mata ini menatapmu.

Engkau menarik. Namun, engkau tetaplah berada di sana, tempatmu bertumbuh. Agar engkau dapat meneduhkan mata siapa saja yang mengalihkan pandangan padamu. Bunga yang menarik, bunga bermahkota kecil yang membuatnya terkesima, sedang berada jauh darinya, saat ini. Namun, ingatan terhadap bunga yang mempesona, membuatnya serasa bersama saja. Itulah makna persahabatan yang sesungguhnya.

Meskipun belum lama berjumpa, namun saat kita menikmatinya, terciptalah persahabatan yang sesungguhnya. Bunga berkelopak kecil yang membuatnya terkesima, adalah sahabat berikutnya yang ia jaga.

Sore terus beranjak. Sedangkan mentari sudah berlalu, menjauh. Ia tenggelam bersama waktu yang mengajaknya meneruskan bakti. Mentari tiada lagi di sini. Gelap pun menerbitkan seberkas harapan yang mencemerlangkan arah pikir, ujian akan segera berlangsung.

Ia pun melangkah menuju  Sangga Buana, dengan pasti. Satu persatu, ia ayunkan tangan yang maju kemudian mundur, lalu maju lagi dan begitu lah seterusnya. Kaki-kaki yang sedang melangkah, terus menyampaikan sapa, padanya yang sedang menikmati suasana. Sore hari yang berasa tidak seperti biasanya.

Ya, kalimat yang terakhir hadir dalam ingatannya, menyampaikan sebuah makna padanya. Ia yang sedang berjalan, meneruskan pikiran yang sedang berjalan. Ada indahnya, menikmati rasa berbeda dalam kehidupan. Bagaimana tidak?

Bayangkan saja, teman? Kalau kita menyantap menu yang itu-itu saja dari waktu ke waktu. Seperti halnya manis berkepanjangan. Tentu bikin ‘nneg ~ yahh. Trus, kita pasti akan sangat ingin untuk mencoba dan menikmati pula menu yang lain, semisal asin, gurih dan pedes, sesekali.

Begitu pula dengan kehidupan yang sedang kita jalani. Kalau pada beberapa menit dalam perjalanan, kita menemukan aura yang tidak sama dengan yang sebelumnya, maka nikmatilah ia. Sebagaimana kita menikmati menu berbeda dalam hidangan yang sedang kita santap. Mmmm,,, yummy. Lezzat, dan mantaf, kan, ya.

Sesekali, cobalah rasa pahit yang menggigit lidah. Contohnya jamu. Sesekali, nikmatilah asamnya rasa yang kita belum pernah coba, seperti mangga yang masih mentah. Bahkan, boleh kita nikmati asinnya garam, beberapa masa. Yah! Agar kita dapat menikmati bagaimana manis itu terasa.

Bunga yang indah, akan menarik kalau ia mempunyai kelopak yang unik. Kehidupan yang baik, akan mengajarkan kita arti berterima kasih. Kesalahan yang tidak terduga, mengajarkan kita bagaimana untuk tersenyum. Karena dengan tersenyum, kita belajar untuk menghargai apa yang pernah kita lakukan. Engkau yang saat ini sedang meneruskan perjuangan dalam menjemput ilmu dan pendidikan, apakah kesan dan pesanmu, teman?

Apakah selama perjuanganmu, engkau menemukan hal yang indah-indah saja? Tanpa pernah menemukan apa itu kesulitan? Semoga engkau dapat menemukan bahan pelajaran, dari apa yang engkau alami. Berikut kemudahan demi kemudahan, menjadi teman yang menguatkan. Agar engkau masih mau tersenyum pada sang malam yang mengajarkanmu arti kesabaran. Sabar dalam menempuh waktu untuk beberapa jam ke depan, tanpa mentari dalam pandangan.

Malam, sudah berjalan beberapa jam. Dan beberapa jam lagi, ia  pun akan berlalu. Semoga kita dapat menyelesaikan soal-soal ujian dengan senyuman pada akhirnya. Karena, ternyata, apa yang kita pikirkan sebelumnya, tidak selamanya bersesuaian dengan kenyataan. Oleh karena itu, hadapilah kenyataan, hingga ia bermuara pada pengamalan.

Kenyataan, kesannya mempengalamankan kita tentang memaknai kehidupan. Pesannya mengajarkan kita bagaimana cara untuk menjadi seorang yang beriman. Sedangkan kenangan yang ia selipkan, memberi kita lebih banyak harapan akan senyuman yang lebih mempesona.

Beberapa menit sebelum melangkahkan kaki menuju ruangan ujian, ia menyempatkan waktu untuk melangkah berkeliling ke sebuah kolam. Kolam yang pada sisinya sedang mengalir sungai kecil. Sungai yang bermuara pada kolam yang ikan-ikannya tidak lagi kelihatan. Ya, jelas. Ini sudah malam, teman. Sedangkan para ikan dan keluarganya, tentu sedang tenggelam dalam perenungan panjang atas kehidupan. Ikan-ikan tersebut, tentu sedang mentafakuri makna kehadiran. Ia yang hadir tentu tanpa kesia-siaan. Ikan-ikan yang mengagumkan. Ikan saja menjalani waktu dengan perenungan, lalu bagaimana dengan kita, teman?

Saat malam mulai beranjak gulita, apakah yang kita perankan pada siang hari? Bagaimana kita menjalani waktu yang telah kita lalui? Waktu yang telah berlalu, tidak. Tidak. Dan tidak akan pernah kita temui lagi. Ia yang telah berlangsung, tentu saja menghilang tanpa bekas, kalau kita tidak berupaya untuk menyelipkan makna di dalam detik demi detiknya. Kita yang hingga saat ini masih ada di dunia. Dunia yang menjadi perantara kita untuk menempuhi negeri yang berikutnya, apa yang sedang kita laksana? Kita akan pulang ke kampung halaman, entah kapan kita tak tahu.

Apakah ketika kita sudah siap dengan segala perbekalan? Waktu kembali pun berdentang? Ataukah malah sebaliknya, kita belum menyiapkan perlengkapan yang kita butuhkan. Bagaimana kita dapat menikmati perjalanan, kalau ternyata masih banyak yang belum kita sediakan? Bagaimana kita dapat menikmati masa-masa berikutnya, kalau saat ini saja kita masih belum bergerak untuk membuktikan, bahwa kita ada untuk menjadi lebih baik.

Kita, adalah bagian dari beliau-beliau yang sedang melakukan persiapan. Kita adalah para perantau yang akan pulang ke kampung halaman. Kita tidak selamanya berada di negeri asing yang kita tidak kenali. Kita hanya sedang mengumpulkan perbekalan, untuk dapat berdamai di kampung halaman. Negeri indah yang membuat kita terkesima. Di taman-taman yang berjejer penuh bebungaan, beserta aliran sungainya yang menyejukkan arah pandang. Semoga, ada waktu untuk kita kembali bersama, di sana. Bertetangga, layaknya bunga-bunga yang berada di satu taman. Bersenyuman, saling mengenang kisah perjalanan. Lalu kita terkesima, dan seakan tidak percaya, bahwa sebelumnya, kita juga pernah bersama.

Terkesima dengan senyuman kembang di taman, pada pagi menjelang siang…

Terkesima pada mentari yang menitipkan pesan, pada sore menjelang malam…

Terkesima pada aliran sungai kecil di Sangga Buana, pada malam menjelang ujian berlangsung…

Selamat ya, teman… semoga kita lulus dengan nilai yang memuaskan.

Aamiiinn…

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s