Menghijaunya Daun Ukhuwah


Iman harus selalu fresh, segar dan kehijauan

Iman harus selalu fresh, segar dan kehijauan

Ibu, sampai saat ini, masih belum ada alasan yang mengunjungi ruang pikir ini. Alasan untuk melanjutkan perjalanan pada jalur lain, selain di sini.

Entahlah…

Atau, mungkinkah? Karena adanya kejutan-kejutan dahsyat setiap saat, yang menghidupkan lagi hasrat? Lalu tumbuhnya semangat untuk menaklukkan kejutan yang dapat hadir kapan saja?

Ataukah karena adanya sebentuk lecutan hebat yang menggerakkan pikir agar ia tidak muter-muter? Agar berpikir untuk menyederhanakan sikap dalam berbuat dapat terlaksana?

Untuk itukah ibu? Ananda masih bersama dengan ibu di kota ini? Ibu yang penuh dengan ketulusan, telah ajarkan banyak banget kesan, pesan ataupun pengalaman. Akan terkenang selamanya, karena ia pernah ada di sini. Salah satu halaman untuk berbagi. Untuk menghidupkan lagi hati-hati yang sempat melayu dan tertunduk dalam kelu. Hati yang tersedu karena ia menggugu dan terharu. Hati yang mengenali penuh arti setiap kejadian yang ia temui. Hati yang sedang memaknai, “Ada apa hikmah dari semua ini?

Ibu, sungguh belumlah sempurna segala rasa, kalau kita menyusunnya dalam rangkaian kata saja. Sedangkan rona muka yang kita pasang saat sedang bertatapan, adalah penyempurna segala yang kita rasa. Ya, karena rasa ada bukan untuk kita baca dengan mata yang sedang menatapnya. Rasa yang tersusun dari kata-kata yang saling menaut. Bukan, bukan hal demikian yang menjadikan kita kembali mensuarakan jiwa.

Karena ada beberapa pesan yang ingin tersampaikan, hingga rangkaian kata tercipta. Tentang sorot mata yang kita bawa ke mana saja, tentang ekspresi wajah yang kita perlihatkan. Tersenyumkah kita? Atau malah mensenyumkan?

Ibu, atas berbagai kelucuan yang baru kita sadari setelah ia terjadi, sungguh menjadi prasasti yang akan selalu abadi. Setiapkali kita mengingatinya, setiap kali itu pula, kita mensenyumi diri sendiri. Terkadang, mentertawainya, atas apa yang pernah ia laksana.

Kita yang pada saat menjalani, mungkin merasa pangling atau tidak percaya. Kita merasa semua berjalan dengan biasa saja. Namun, saat kita menengok ke belakang, lalu menghayatinya dengan seksama, ternyata ada hal-hal yang menggelikan. Ai! Meskipun saat ini sudah malam, ia tidak akan hilang bersama kegelapan yang membungkusnya. Kejadian demi kejadian, pengalaman demi pengalaman, bahkan sebaris senyuman, senantiasa ada dalam ingatan.

Ketika kita baru menyadari tentang apa yang telah terjadi, baru kita mempercakapi diri sendiri, “Engkau ada-ada saja.

Beberapa kilas kejadian, ternyata ia tidak sengaja melaksana. Beberapa menit keadaan, ia anggap hal yang biasa saja. Namun, saat beberapa masa berikutnya ia menatap apa yang telah ia laksana, ada gerakan yang mencoleknya, jiwapun tersentuh, seketika.

Ibu, kebersamaan kita di sini hingga saat ini, untuk menjalani beberapa episode dalam kehidupan. Episode yang sedang kita perankan, sebagai para artis kehidupan. Kita yang sedang menghayati skenario, mencoba pula untuk mempraktekkan. Kita sampaikan bagian yang sedang kita perankan. Kita berkomunikasi dengan para pemeran lain yang sedang berinteraksi dengan kita. Yah! Semua kita tentu ingin menjadi pemeran terbaik, pemeran favorit, ataupun pemeran utama.

Alangkah indahnya hari-hari kita, ya Bu, dengan peran-peran ini” bisik jiwa ananda.

Dengan skenario berbeda, pada hari-hari yang tidak sama, kita terus berusaha. Kita berlatih untuk menjadi aktor sebagaimana yang kita mau. Kita meneladani beliau yang sukses dalam berperan. Sebagai apapun, dalam beraktivitas yang bagaimanapun. Tentu, semua dapat menjalani dengan lancar, seakan tanpa beban, karena seringnya berlatih dan melafalkan skenario. Memperbaiki lagi saat ada yang kurang pas, kemudian berlatih lagi tiada henti.

Terkadang, peran yang kita jalani, untuk sebuah episode yang sedang kejar tayang. Berhari-hari, kita berlatih kemudian berperan sesuai dengan skenario. Pada beberapa hari, kita terlihat masih segar, bugar dan penuh semangat. Kita begitu menikmati suasana. Dari waktu ke waktu, menit ke jam terus melaju. Sedangkan kita tidak menyadari, bahwa telah lebih dari beberapa jam, kita menjalankan peran. Kita begitu asyik dengan beliau-beliau yang sedang menjadi teman bermain. Kita saling tersenyum kalau ada yang bersikap di luar skenario. Kita saling memaklumi, terkadang kita tertawa bersama. Kita pun mengabadikannya dalam ingatan.

Pada kesempatan yang lain, ada beberapa skenario yang belum kita pahami. Kita mencoba untuk memengerti. Kita bertanya pada beberapa teman yang sangat dekat di sisi. Kita menanyai tentang bagaimana cara untuk mengekspresikan peran yang seperti ini dan begitu. Kita sangat rajin melatih diri.

Nah! Hari berikutnya pun begitu, kita perankan lagi kehidupan yang kita jalani, sesuai dengan skenario yang kita terima. Walau terkadang, pada hari yang berikutnya tersebut, kita belum terlalu memahami apa yang akan kita perankan. Lalu, kita menjalankan semampu yang kita sanggup. Kita pun pernah salah dalam menjalaninya. Kita lelah, karena seringkali mengulang dan mengulang lagi. Padahal, peran yang sama, memang untuk pertama kali kita terima. Bersabarlah kita dalam menjalaninya.

Pada episode lainnya, kita terlihat sangat bahagia. Kita gembira sungguh ceria, karena apa yang kita laksana bersesuaian dengan inginnya sutradara. Kita tersenyum bersama. Kita lega dan menggempitakan ruang hati dengan suara-suara yang kita ciptakan sendiri. Tidak kalah pentingnya, suara alam pun bersahutan. Beburung yang sedang berkicauan, menambah semarak keadaan. Desau angin yang bersemilir, mengingatkan kita pada pohon rindang yang lebat daunnya. Kita mengalami kesejukan yang sungguhan. Kita bernaung di bawah pohon.

Pagi, siang, hingga sore menyapa, kita menjalani waktu bersama. Lebih sering kita bersua, kita bertatap mata, lalu saling mengingatkan satu sama lainnya. Ibu sungguh baik, penuh dengan pemahaman.

Ibu, kelak kita berjauhan raga, tidak lagi sebagaimana hari ini, semua akan terkenang dalam ingatan ananda. Termasuk aneka warna hari yang kita pandangi bersama. Yah, kita sama-sama melihat bahwa biru itu menyejukkan mata saat kita memandangnya. Maka, kita sama-sama menengadahkan wajah ke langit yang biru. Ada beberapa gumpal awan yang berwarna putih di sekelilingnya. Kita pun memaknai putih yang bak kapas. Kita belajar bagaimana cara memaafkan. Agar kita merasakan hati menjadi sebening awan yang memutih.

Awan, adalah kapas-kapas ringan yang berterbangan di udara. Dengan memandang awan, beberapa saat saja, kita dapat mengenali. Bagaimana keadaan hati saat ia terasa ringan. Plong, tenang dan damai. Kita pernah mengalami hal yang serupa.

Pada kesempatan berikutnya, kita arahkan tatap dan pandangan pada kemiringan sembilan puluh derajat. Maka, kita dapat menikmati pemandangan yang berbeda dari yang sebelumnya kita nikmati. Ada pepohonan yang merimbun. Kita juga dapat menyaksikannya, di bagian belakang rumah ibu. Di sana ada beberapa batang pohon yang tidak menjulang, memang. Namun, ketika menyempatkan beberapa waktu untuk mengalihkan pandang padanya, kita dapat menemukan kedamaian. Ada lembarannya yang berjatuhan pada tanah yang basah.  Daun yang jatuh, mengajarkan kita arti kehidupan. Tidak selamanya kita berada di atas.  Tidak selamanya kita mengalami kegamangan di awang-awang. Kita akan menginjak bumi dengan tepat. Lalu, melangkah di atasnya, leluasa. Ya. Itulah seni dalam kehidupan. Agar kita dapat mengambil pelajaran dari apa saja yang kita temui.

Selain itu, ada pula yang sedang melambaikan jemari, pada kita yang sedang memandangnya. Ya, dedaunan tersebut, masih berada pada tangkai dahan. Ia sedang menikmati bagaimana suasana alam dari arah atas. Ia sedang menyaksikan kita yang berdiri di bawah rindang pohonnya. Dedaunan memberikan sapaan pada kita. Sapaan yang tanpa kita sadari, sudah lama ternyata. Ia memberikan perhatian. Sungguh, kita tidak pernah sendirian.

Di manapun, kapanpun, bersama siapapun, ada yang sedang inginkan kebaikan untuk kita. Beliau yang secara tidak langsung, mengenalkan kita bagaimana cara menjalani kehidupan dengan baik. Beliau yang terlebih dahulu telah mempunyai pengalaman. Beliau yang telah mengecap bagaimana asinnya garam kehidupan. Beliau yang pernah merasakan bahwa asam itu adalah asam. Mengedipkan mata bersama rasa yang satu ini, beliau pernah alami. 😉

Segerr.

Ibu, cukupkah hingga saat ini pengalaman dan pengetahuan yang akan kita saling bagikan? Bukankah belum ada pilihan yang meyakinkan ananda untuk meneruskan perjalanan? Kalau jalan yang sedang kita lewati saat ini memang yang terbaik bagi kebaikan kita, mari kita menapaknya dengan bahagia. Namun, kalau ternyata, jalan ini bukanlah yang terbaik, kita kan segera berjauhan raga.

Ibu, ketika keadaan terbaik kita jalani, maka dapatlah kita saling mensenyumi. Apakah senyuman dengan raga yang masih dapat bersua? Ataukah senyuman yang hanya dapat kita layangkan. Mungkin lewat susunan kata menjadi kalimat untuk menyapa? Ataukah dapat melalui selembar potret yang saling kita pandangi? Bagaimana kalau melalui pita suara?  Kita masih dapat berkomunikasi, wahai Ibu.

So, tidak ada lagi jarak yang berarti, saat kita saling menguatkan. Atas jalinan ukhuwah yang telah kita taut eratkan semenjak awal berjumpa. Ada seberkas sinar yang memancar dari wajah ibu, ketika itu.

“Ibu yang baik,” pikirku saat itu.

Lalu, kita duduk berhadapan. Dengan batasan daun meja yang membentang, kita saling bertukar suara. Ibu menanya, ananda mengalirkan jawabannya. Ada ingatan yang sedang melanglangbuana saat itu, ibu. Ananda teringat beliau-beliau nun yang sedang jauh di sana.

Ada harapan yang sedang beliau pintal mewujud doa, dari waktu ke waktu. Agar ananda menjadi anak yang lebih baik dari beliau. Bukan lagi seperti beliau yang perlu menetes keringat dari hari ke hari, untuk menjemput rezeki. Namun, beliau mendoa dalam waktu-waktu terbaik, agar ananda dapat berguna. Berguna, karena ananda ada. Ada, untuk menyampaikan guna. Yah, melalui jalan yang ibunda bentangkan, tahun hampir menempuh angka empat. Akankah ia genap untuk melengkapi waktu kebersamaan kita? Ataukah … Wallaahu a’lam bish shawab.

Wahai Ibu yang ananda sayangi, terngiang jelas pesan Ibunda beberapa saat sebelum kami berjauhan raga. Jarak yang tidak lagi sedepa. Beliau yang pernah menyampaikan susunan kalimat buat ananda dan sesiapa saja yang ananda temui. Ya, kalimat yang beliau cipta, menjadi sarana menitiknya bulir permata kehidupan segera. Kalimat yang menjadi jalan menetesnya ia lebih deras lagi. Apabila ananda berjumpa dengan apa yang beliau suara.

“Semoga sesiapa saja yang engkau temui, adalah orang yang baik-baik ya, Nak,” begini inti dari rangkaian kata yang beliau ungkapkan.

Nah! atas ingatan tersebut, luruhnya bulir permata kehidupan segera. Saat kebaikan yang ibu alirkan terasa sangat. Maka tetesannya tidak akan dapat terbendung lagi. Tumpahlah ia lebih banyak. Ia menjawab doa demi doa yang ibunda lantunkan, wahai ibu…

Ibu, meskipun kita baru berjumpa beberapa tahun terakhir, namun ada takdir yang kita tempuhi bersama. Hingga saat ini, kita masih bersama. Menjalani apa yang sedang kita perankan saat ini dengan sebaik-baiknya, adalah pilihan. Agar kita dapat mengenangkan kebersamaan ini, ketika kita tidak lagi bersama. Agar ada kisah yang dapat kita perkenalkan pada kehidupan yang baru kita temui. Bahwa kita pernah mengalami hal yang seperti ini. Sungguh, pengalaman tidak akan dapat terbeli dengan materi yang bagaimanapun banyaknya.

So, atas banyak ilmu dan pengalaman yang ibu sampaikan dengan senang hati, ananda berbagi di sini. Sungguh terasa indahnya persaudaraan, kekeluargaan dan pengertian.

“Ketika ukhuwah menembus rasa,

menyentuh langit-langit jiwa, asa dan cita,

sungguh!

hal terindah yang tidak akan pernah pupus terhempas masa.”

Ketika hampir setiap waktu kita bersama, bersapa lalu bersenyuman. Ada keindahan tersendiri yang ananda rasakan. Apalagi saat mengingat lekuk pada wajah ibu. Saat senyuman mengembang dengan lepasnya, dari sana. Beriring dengan kerlingan mata yang ibu lambaikan. Di bawah kedua kelopak mata yang lebar, Ibu meneruskan arah pandang. Menembus, terus ke relung jiwa terdalam. Dari dalam telaga bening yang memancarkan sinar kedamaian, ananda temukan nuansa yang melegakan. Ya, dari sorot mata Ibu yang penuh dengan kasih sayang, tidak mudah untuk melupakan.

Ibu, kelak kita berjauhan jarak dalam raga, jua. Namun dalam harapan yang memancangkan tekad, kita terus dapat saling bersama, dalam ingatan yang terjalin. Ya, karena masih belum ada alasan yang meyakinkan, untuk menempuh jalan di sana.

Ibu, pertama kali kita berjumpa, pada kedua bola mata ini mengalir bulir yang tidak jadi jatuh. Saat kebersamaan kita, lebih sering ia meleleh dengan semaunya. Ai! Sungguh mudahnya ia mengalir. Bagaikan airmata tersedia cukup banyak. Bahkan mensamudera tiada tepi. Begitulah keadaannya di sini.

Ibu, ada harapan yang sedang menyangkut di dinding hati ananda, kini. Agar bila tiba masanya nanti kita berjarak untuk selamanya, senyuman dapat membentangkan jembatan untuk kita tempuh. Jembatan yang menjadi perantara bersuanya kita lagi. Jembatan ingatan.

Saat detik-detik terakhir kita bertatap dalam pandangan mata, semoga tetesan bening permata kehidupan yang mengalir, tiada. Sedangkan senyuman yang kita pertukarkan, menjadi kendaraan yang siap membawa kita pada tujuan yang selanjutnya. Ananda yang akan  melanjutkan langkah perjuangan, pada negeri lain, bukan di sini.

Ibu, dalam harapan tertulis jelas, pilihan demi pilihan yang akan ia tentukan. Sudah banyak jenisnya. Salah satunya adalah pilihan untuk mengambil keputusan. Semoga bagaimanapun hasilnya nanti, adalah yang terbaik untuk kebaikan kita. Untuk kebaikan ibu dan sekeluarga, untuk kebaikan ananda yang sedang meneruskan langkah perjuangan.

Rerimbun pepohonan yang tumbuh di belakang rumah ibu, telah lebih dahulu ikut dan serta. Ia akan selamanya ada, untuk menjadi jalan pengingat kita. Bahwa, kita pernah bersama pada lokasi yang satu. Kita pernah sama-sama memandangnya, meski dari daun jendela yang menutup. Ya, angin yang berhembus dari arah pepohonan, begitu sejuknya. Sehingga, kalau berlama-lama dalam kondisi jendela yang membuka, tidak baik untuk kesehatan kita.

Ibu, kelak kita mengerti, tentang makna dari apa yang kita jalani, meski tidak saat ini. Sebagaimana ibu yang telah terlebih dahulu mengecap bagaimana rasa yang ada dalam kehidupan, ananda belumlah demikian. Lebih lama, ibu telah mencoba bagaimana perbedaan diantara semuanya. Sedangkan ananda yang masih muda dan belum tahu banyak, sungguh perlu belajar lebih giat lagi. Belajar tentang bagaimana menyikapi ekspresi berbeda yang ia terima. Belajar untuk menggunakan logika, tak hanya perasaan.

Ibu, sebagaimana ibu yang juga perempuan, ananda mengerti benar bagaimana semua ini terjadi. Kita yang terkadang terbuai keadaan, tidak mudah memang untuk menghindarnya. Kita yang tercipta dengan permata kehidupan sebagai teman.Tentu sangat mudah ia menyapa, ketika ia tahu bagaimana rasa yang kita alami.

“Ibu, setiapkali ibu menitikkan airmata, tersenyumlah… ,

ananda sayang ibu.”

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s