Praktik Pengungkapan di Seluruh Dunia


Terapkan pemasaran ke dalam diri kita. Hingga kita menampilkannya ke luar dari diri. Memberikan yang terbaik dan itulah diri kita yang sebaik-baiknya.

Terapkan pemasaran ke dalam diri kita. Hingga kita menampilkannya ke luar dari diri. Memberikan yang terbaik dan itulah diri kita yang sebaik-baiknya.

Semenjak awal mengenalmu, engkau tidak pernah menghilang dari ingatanku. And how about you?

Meskipun pertemuan raga belum menunjukkan parasnya, entah bagaimana rupamu. Aku tidak tahu pasti. Namun kini, namamu senantiasa menari-nari dan mengelilingi ruang melodi, di dalam hati. Pure.

Kelak, engkau mengerti tentang semua yang ku alami kini. Semoga kita kembali tersenyum bersama, mengenangkan kisah awal berkenalan. (Oh, yaa… )

Pengungkapan mencakup keluarnya informasi mengenai suatu hal tertentu, suatu keadaan, kepribadian, lama dan jangka waktu tertentu. Pengungkapan ada yang bersifat wajib, dan sukarela. Pengungkapan yang bersifat wajib, di tetapkan oleh peraturan. Sedangkan pengungkapan yang bersifat sukarela, terjadi karena adanya keinginan untuk memperoleh pengakuan.

Praktik pengungkapan terjadi karena sang pengungkap telah mempunyai kompentensi dalam mengungkapkan. Sehingga ia menjadi lebih terbuka dalam melaporkan aktivitasnya. Ini tidak terlepas dari peran dan kinerja entitas yang terlibat di dalamnya. Apakah yang ingin engkau ungkapkan, teman?

Saat pengungkapan terjadi, ada sebaris tanya yang mengikuti.

“Akankah kita dapat melenggang lebih leluasa lagi, ya..? Demi menggapai segala cita dan mengungkap berbagai makna dari alam semesta.

Pengungkapan bermaksud untuk merancang dan memperkirakan sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang.  Untuk menafsirkan profitabilitas dan prospectus pada masa depan, menjadi lebih baik.

Dalam praktik mengungkapkan, ada beberapa alternatif yang kita butuhkan. Salah satunya adalah sarana. Adapun sarana yang kita pakai dalam mengungkapkan adalah, suara. Untuk dapat mengeluarkan suara, kita memerlukan energi. Untuk mengetahui apakah kita mempunyai energi ataukah sebaliknya, kita perlu memeriksa dengan teliti.

Adapun sumber energi pada raga, berasal dari maintenance yang kita lakukan hampir setiap hari. Yah, tubuh kita yang terdiri dari beraneka jenis sisi, juga membutuhkan maintenance. Selayaknya mobil yang seringkali kita reparasi, kita service dan kita jagai dengan baik. Agar ia dapat melaksanakan fungsinya sebagai alat kendara yang dapat menjadi jalan sampaikan kita pada tujuan, lebih cepat. Selamat sampai ke lokasi yang ingin kita capai, adalah harapan yang senantiasa kita lantunkan dalam tasbih, tahmid, tahlil dan takbir dalam menempuh perjalanan, bersamanya.

Mobil yang hanya benda mati, tak bernyawa, tanpa rasa, pikir apalagi suara jiwa, senantiasa kita rawat dengan baik. Tidak jarang kita memberikan perhatian terbaik untuknya. Lapisan besi-besi yang saling menyatu, bahkan kita sangat sayang padanya. Kita memperhatikan betul-betul apa saja yang ia butuhkan untuk dapat berfungsi. Kita penuhi berbagai persyaratan yang menjadi pendukung lancarkan proses pergerakannya. Kita penuhi ia dengan bahan bakar yang cukup, bahkan lebih. Kita suplai ia dengan mesin-mesin yang terjaga. Kita sangat mempedulikannya dengan sepenuh hati. Mobil yang menjadi kendara untuk mengantarkan kita, hanyalah rangka tanpa nyawa. Sedangkan kita? Adalah sangat jauh berbeda dari benda mati bernama mobil yang tidak akan bergerak kalau tidak kita nyalakan  mesinnya. Ia tidak akan beringsut sedikitpun, kalau kita tidak mengendalikan pergerakannya. Bahkan, ia akan semaunya bergerak, tanpa pengemudi yang telaten.

Begitulah keberadaan mobil yang kita rawat pelihara dengan semaksimal mungkin. Kita kasih padanya, atas raganya yang mengkilat dan gemilang. Kita duduk dengan nyaman di dalam ruangnya yang super sejuk dan nyaman. Kita sangat senang berada bersamanya, saat ia dalam kondisi bersih, wangi dan penuh dengan kesegaran. Wahai, bagaimana dengan raga-kita yang sedang menemani?

Raga yang di dalamnya ada jiwa yang benar-benar ada. Jiwa yang bersuara, tanpa pernah henti berkata-kata. Ia menyampaikan apa yang ia rasa, setiapkali ia berinteraksi dengan alam-Nya. Jiwa yang seringkali kita bahkan lupa pada kehadirannya. Padahal, ia adalah titipan yang perlu kita jaga. Ia adalah sahabat kita yang seringkali menasihati kita saat terlalai. Jiwa yang mengingatkan pikir kita saat ia tak ingat dengan apapun juga. Sungguh, masihkah kita tega untuk tak memberikan perhatian penuh padanya?

Raga yang sedang menatap kita dengan matanya yang berkelipan. Raga yang bersamanya ada dua daun telinga. Daunnya siap mendengarkan nada-nada apa saja. Raga yang bersamanya, bersusunan jemari yang gemulai. Mereka dapat bergerak, kalau kita bersedia  menggerakkannya. Kita mengusaha untuk menyapa pemilik jemari, pada mulanya. Karena yakin kita yang tertinggi, akan Tatapan, Pandangan dan Pantauan-Nya yang tidak pernah hilang. Ada yang tak melengahkan kita walau sedetikpun, teman. Ada Pemerhati Yang Maha Tahu, bahkan ke relung jiwa kita terdalam. Yah, jiwa yang seringkali kita tidak menyadari akan keberadaannya.

Adapun salah satu alat maintenance sang insan yang mempunyai raga, adalah bahan makanan. Di antaranya adalah makanan untuk raga, dan makanan untuk jiwa. Berpikir kita lebih lama, tentu ia sangat membutuhkan maintenance juga. Karena, apabila mesin-mesin yang sedang menjalankan fungsinya bekerja terus-terusan, tanpa berjeda, maka kita dapat menyaksikan apa yang akan terjadi, bukan?

Banyak jenis bahan makanan yang dapat kita konsumsi, sebagai proses maintenance raga, jiwa dan pikir. Namun, ada satu jenis makanan yang sangat ingin mejeng pada salah satu halaman ini, untuk beberapa paragraf ke depan. Adapun makanan tersebut adalah gado-gado bercampur cinta.

Gado-gado? Yah! Gado-gado.

Membahas tentang gado-gado, apakah yang terlintas dalam pikiranmu, teman? Apakah ada rasa pedes, asin, asam atau kah manis yang sedang mengalir dalam ruang imajinasimu? Ataukah ada rasa hambar  pula yang menyelip dalam gado-gado yang sedang engkau bayangkan?

Bagaimanapun juga, percayaku sangat sungguh yakin, bahwa gado-gado cinta akan terasa nikmat dan lezat rasanya, ketika kita mengonsumsinya.

“Mengapa?,” tanya sahabat yang saat ini sedang berada dekat denganku.

“Karena pengolahnya sudah professional,” jawabku sekenanya, seraya mencubit pipinyayang cabi.

“Waih….,” sahabat berusaha menghindar dariku, lalu bangkit dari duduknya yang sedari tadi sungguh manis.

Aku yang sedang menyaksikan ekpresinya baru saja, segera tergelak, berderai. Kamipun bersenyuman. Ia yang berusaha menjauh, kembali mendekat. Kami pun melanjutkan diskusi ala dua sahabat yang sedang bermain-main.

Di sebuah taman, kami berada saat ini. Taman yang penuh dengan bebungaan di sekeliling. Sedangkan dekat dengan tempat kami berada, ada sepohon kayu yang rindang daunnya. Nah! Di bawah pohon yang rindang tersebut, kami ada. Untuk beberapa menit ke depan, kami akan menjalani waktu di sini.

Sesaat sebelum kami bercakap, ada tema yang sangat ingin kami bahas, tentang pengungkapan. Dengan disaksikan oleh senyuman mentari yang sedang menatap dari kejauhan, kami pun memulainya.

Satu persatu, kami merangkai suara yang tercipta. Dari menit ke menit, berlalu dengan lebih cepat, terasa. Bagaimana tidak? Kami yang sedang menikmat waktu, kami yang sedang belajar praktik mengungkapkan di seluruh dunia.

Dalam rangka mengungkapkan apakah ini?

Tadinya, kami sedang belajar mata pelajaran Akuntansi. Nah! Salah satu judul materi adalah tentang  “Praktik Pengungkapan di Seluruh Dunia.” Namun, catatan saat ini bukanlah tentang pengungkapan dengan bahasan yang serupa. Kami ingin mengungkapkan apa yang sedang kami alami saat ini. Termasuk apapun yang  pernah kami alami pada masa-masa sebelum saat ini hadir. Yah! Kami ingin mengungkapkan tentang apa saja yang sempat mengalir dari dalam pikiran ini. Salah satunya berisi tentang pikiran yang hadir pada masa lalu.

  Masa lalu yang telah berlalu? Ternyata banyak menitipkan kita banyak pesan, kesan maupun kenangan untuk kita ungkapkan pada sesiapa saja yang membutuhkannya.

Untuk dapat mengungkapkan, ada beberapa resep yang perlu kita pahami dengan sepenuhnya. Yaitu, pemahaman tentang bagaimana cara terciptanya gado-gado cinta, sebagaimana yang telah kita singgung pada paragraf sebelumnya.

Adapun resep yang kita butuhkan untuk dapat terciptanya gado-gado cinta adalah :

1. Smie

1. Smile

1. Smile,

1. … dst

Smile, siapakah di antara kita yang belum pernah berkenalan dengan smile? Ataukah memang, kita sudah benar-benar akrab dengan smile yang meneduhkan mata saat memandang padanya?

Smile merupakan salah satu resep terbaik, di antara banyak resep terbaik lainnya. Oleh karena itu smile berada pada peringkat pertama. Karena mengawali segala aktivitas dengan tersenyum, ada nuansa berbeda yang dapat kita capai. Semoga dengan senyuman, banyak hal yang sedang kita upaya, dapat berlangsung dengan damai, teduh, adem dan ayem. Tenteram dan segar bawaaannya, hingga akhir masa beraktivitas menjadi penutup jumpa kita.

Do you have an idea about this?

Lalu, satu yang berikutnya adalah smile pula. Smile yang telah kita kenali pada mulanya, dapat menjadi jalan kita bersapa dengan beliau yang belum pernah jumpa. Smile yang membuat kita mau berdekatan dengan sesiapa saja yang kita jumpai. Lalu, kita mengalami nuansa yang penuh dengan kesejukan, selama berada bersamanya. Sosok dan pribadi yang membawa senyuman, tentu kita sangat suka. Walaupun kita belum lagi berkenalan dengannya.

Bagaimana halnya dengan seseorang yang sebelumnya ternyata kita pernah bersua. Tentu bahagia sungguh tiada terkira, segera menjelang hingga ke pelosok jiwa.

Ialah perempuan yang selama ini berada nun jauh dari tatap mata, selama ini.

Ialah laki-laki yang penuh dengan kharisma sepanjang hari.

Ialah perempuan yang elok budi, berpekerti penuh dengan pengertian.

Ialah laki-laki yang senyumannya cerah bak mentari sore hari.

Ialah perempuan yang kita kenal meski sekejap, lalu teringat seterusnya.

Ialah laki-laki yang sebentar saja kita bersapa, selanjutnya ia menghilang dari dunia kita.

Ialah perempuan yang senantiasa membaluri jiwanya dengan keikhlasan, ketulusan dan kesabaran. Senantiasa kita rindu kehadirannya setiap waktu. Namun, ketika ia tiada dalam pandangan, alangkah syahdunya di dalam kalbu, rindu ingin bertemu.

Ialah laki-laki yang menghiasi hari-harinya dengan akhlak terpuji.

Ialah perempuan yang baik hati, ramah dan senang merangkai puisi, entah ke mana ia kini.

Ialah laki-laki yang menjadi sahabat selama ini, pun menghilang tanpa bekas.

Ialah perempuan yang semoga baik-baik saja, semoga baik-baik saja, semoga baik-baik saja.

Ialah laki-laki yang menggelungkan seluruh suara jiwanya, dalam bait-bait kata yang tercipta.

Ialah perempuan yang selamanya penuh dengan keteguhan.

Ialah laki-laki dan perempuan yang bersatu, untuk menciptakan kehidupan baru.

Dalam sebuah keluarga yang mereka ingin wujudkan, terselip rindu saat belum bertemu. Dalam harapan yang sedang mereka ungkapkan, tercipta kalimat-kalimat baru. Semoga semua berjalan dengan lancar, mudah dan senantiasa bertaburan hikmah. Ada sekepinghati yang sedang menjenguk pelupuk hari-harinya yang membisu. Entah untuk berapa lama? Aku tak tahu. Namun, ada doa yang senantiasa mengalir padanya. Seorang perempuan bernama Ibu.

Ketika seorang laki-laki dan perempuan mewujudkan citanya untuk merengkuh kehidupan yang lainnya. Saat itu tercipta kisah yang baru. Kisah yang menjadikan mereka menjadi lebih produktif, dari waktu ke waktu. Ketika produktifitas ini terkuak dalam karya nyata, maka tersenyumlah berbahagia. Lalu, bersegeralah mengabadikannya. Segeralah.

Teringat pula pada Ibu yang mungkin saat ini sedang tidak ada dalam tatapan mata. Terkenang pula pada barisan doa yang beliau alirkan dari sujud-sujud panjang di saat kita sedang terpulas. Beliau bangun untuk memberikan kita asupan energi. Yah! Kita yang terlelap karena lelahnya raga. Kemudian kembali bangkit untuk meneruskan gerak berikutnya. Atas ingatan pada harapan ibu yang kita bawa pergi. Bersama semua itu, kita bergerak lebih sigap lagi. Untuk memberikan bukti, bahwa kita tidak pernah berlama-lama dalam buaian suasana yang menghanyutkan ingatan. Kita senantiasa ingat ibu. Ibu…

Sehingga adanya kita di sini, saat ini, untuk menebarkan benih-benih senyuman. Senyuman tersebut sedang kita tebarkan pada wajah-wajah yang menawan dan mempesona. Karena ada energi yang terbaru, dari dalam raga yang sedang menaunginya. Alhamdulillah… bahagianya menjadi buah hati beliau. Sehingga beliau  mendoakan kita, sepenuh cinta.

Ibu, belum akan lengkap pengungkapan tentang beliau, sampai kapanpun. Karena ibu adalah objek yang sedang kita tuju. Objek yang sedang kita upaya untuk menerima ungkapan atas apa yang sedang kita sampaikan.

Buatmu ibu, ungkapan segala rasa atas apa yang ia alami. Sungguh berulangkali belumlah sempurna, kiranya. Pada ibu yang senantiasa mampu membuat relung jiwa tersentuh. Ibu, yang menjadikan dunia penuh dengan warna. Melalui tulus kasih beliau menjadi jalan tersenyumnya kita sampai saat ini.

Lalu, siapakah diantara kita yang seringkali melupakan Ibu? Duhai…

Ungkapan apa yang seringkali kita sampaikan kepada ibu, perempuan yang berbudi sungguh baik hati? Bagaimana sampai saat ini, kita masih dapat meneruskan langkah perjuangan dengan berteman doa-doa beliau. Doa yang sampai kepada kita, segera dan tanpa kenal waktu. Adakah kita mengungkapkan terima kasih, pada beliau… (wahai, anak-anak Ibu?)

Di manapun kita berada, di sana ada ibu. Ibu sebagai sosok yang penuh dedikasi. Untuk buah hati tersayang, beliau rela berjuang dan berkorban. Tidak pandang waktu, ibu berbuat untuk membahagiakan kita. Ibu mana lagi yang menyayangi kita, melebihi kasih sayang beliau menjadi jalan hadirnya kita ke dunia ini? Ibu mana lagi, yang kita pandangi sorot matanya, lalu kitapun segera menyadari siapa diri ini. Ibu…

Begitu tulusnya senyuman yang beliau alirkan, hingga menerpa jiwa kita yang nun jauh di ujung dunia. Ibu, senyuman beliau yang cemerlang, bahkan melebihi cerahnya terik mentari yang menerangi bumi pada siang hari. Bahkan, ketika warnanya berubah menjadi jingga pada sore hari, senyuman yang menebar dari wajah Ibu, masih putih dan berseri.

Rindang pepohonan yang sedang menaungi pun, seringkali tertembus oleh sinar mentari yang menerpanya. Sedangkan senyuman ibu yang menebar dari kejauhan, dapat menembus ruang jiwa kita yang jauh dari pandangan beliau. Kita dapat menyaksikan senyuman beliau, bahkan menembus jarak, sekalipun. Betapa mulianya seorang Ibu…

Inilah pengungkapan kita atas apa yang kita rasa. Atas bahagia yang jiwa alami, kini…

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s