Training Motivasi dan Psikologi


Soulnya Dapet

Soulnya Dapet

Nah! Kalo yang beraroma kaya gini, saya sangaaat suka. Apalagi kalau mengusik tema soul. Seperti yang berlangsung  selama hampir seharian tadi. Sebuah seminar yang saya ikuti karena materinya bertemakan “The Power of Soul – Rahasia Kekuatan Jiwa”. Dengan pembicara Bapak Dwi Wijayanto, ST. Beliau merupakan ketua dari Soulusi Community sebagai penyelenggara.  Hari yang sangat mengesankan. Bagaimana tidak? Tanpa terasa, waktu bergulir tanpa sempatku menyadari. Tiba-tiba udah sore ajah. Hehe. Acara mulainya pukul delapan lebih beberapa menit. Kemudian berakhir, ketika jarum jam hampir menunjukkan angka lima sore.

Setelah keluar dari ruangan berlantai tiga pada penghujung siang harinya, halaman dan jalanan terlihat basah. Yah, sampai-sampai, gemericik hujanpun tidak kedengaran. Karena gemuruh ramainya suara saat acara berlangsung.

Selama “pertunjukan” – pada bagian ini, saya menyebutnya sebagai pertunjukan. Karena, banyak ekspresi dan akting yang terjadi di sela-sela acara inti. Entah karakter yang membuat kami segera histeria, ataupun permintaan moderator yang tidak biasanya, pada para peserta. Termasuk saya, menjadi peserta dalam kesempatan tersebut.

Adapun tagline dalam training berjudul “Express your real potential, be an exist moslem”. Sebuah kalimat yang sungguh-sungguh inginku melekatkannya lebih lama di dalam diri ini. Agar ia dapat mempraktikkan apa yang ia ketahui, dari hasil transfer yang di sampaikan oleh pembicara. Karena, memang untuk hal yang demikianlah kita ada di dalam hari-hari.

Hal yang paling mengesankan, adalah ketika setiap kami dipanggil satu persatu, ke sebuah ruangan. Ruangan dengan seorang motivator yang sudah bersiap untuk memberikan personal motivation training. Wah! Seumur-umur, dalam beraneka seminar, pelatihan, dan atau training yang saya ikuti, baru kali ini terjadi. So, terkaget-kagetlah saya, ketika sekitar pukul empat sore, panitia meminta saya untuk menelusuri sebuah lorong menuju ruangan yang telah disediakan. Tidak ada pilihan lain, kecuali menjejakkan kaki satu persatu menuju ke ruangan yang dimaksud. Dengan banyak tanda tanya yang akhirnya bertelur di pikiran, sayapun bergerak. Satu langkah, dua langkah, tidak sampai sepuluh langkah dari tempat di mana panitia berada, sampailah saya pada tujuan. Para peserta yang lainpun demikian, pastinya. Hanya saja, kami dipanggil bergiliran. Satu persatu.

Di ruangan tersebut, pertanyaanpun menetas. Berwujud beberapa ekor anak ilmu dan pengalaman. Lalu, saya membawanya pulang, dan memasukkannya ke dalam salah satu sangkar di ruang maya. Lalu ia bermain-main di sini. Semoga ia tetap hidup, sampai selamanya, seterusnya dan selalu. Aamiin.

Ketika menginjakkan kaki pada langkah menuju sepuluh tersebut, saya menatap sesosok wajah yang sedang duduk di sebuah kursi. Dengan meja kaca di depan beliau. Wajah tersebut  terlihat tenang. Dengan ekspresi yang memancarkan kedamaian.

”Siapakah beliau?,” bisikku di dalam hati.

Belum sempat tanya terutarakan, beliau telah menyapa duluan. Sedangkan saya menanggapi dengan senyuman yang sulit untuk dijelaskan. Masih bertanya-tanya di dalam hati. Sedangkan pikiran terus berlari. Ia ingin tahu, ada apa di balik semua ini.

Bapak Adi, begini nama beliau. Nama yang akhirnya saya tahu, setelah bertanya kepada beliau, di sela-sela sesi penyampaian materi motivasi untuk personal, dari beliau.

Adapun inti dari aliran suara yang beliau nadakan, bahwa keberadaan beliau untuk menambahkan bekal bagi para peserta training. Bekal yang menjadi suplemen khusus bagi kami yang termotivasi untuk datang pada seminar tersebut.

“Tujuan kita berada di dunia ini adalah untuk menjadi khalifah Allah, dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Dengan mendamaikan jiwa lebih sering, mencerahkan pikiran senantiasa. Maka kita dapat menjalankan fungsi tersebut dengan sebaik-baiknya.  Sedangkan pedoman yang perlu senantiasa kita jadikan panduan dalam menjalani waktu adalah al-Quran dan as-Sunnah. Agar kita segera kembali pada petunjuk hidup yang kebenarannya, telah teruji. Beriman dengan kesungguhan yang paripurna, senantiasa memohon kepada Allah dalam rangkaian doa yang kita alirkan dalam berbagai kesempatan terbaik, insyaAllah keselamatan hidup di dunia ini hingga ke akhirat nanti, dapat kita capai. Aamiin ya Rabbal’alamiin.”

Engkau, aku, beliau, semua yang kita temui tentu mempunyai tujuan dalam kehidupannya. Tujuan yang ingin kita capai tentu telah kita tetapkan semenjak awal. Lalu, kitapun bergerak untuk mencapainya. Pergerakan yang kita yakini, dapat menjadi jalan sampaikan kita pada tujuan dengan bahagia.

Tidak ada seorangpun di dunia ini, yang akan hidup selamanya. Pasti, pada hari yang telah ditentukan oleh Allah, saat kita akan menemui akhir kehidupan. Entah kapan, kita tidak tahu. Namun yang jelas, waktu tersebut pasti akan kita jelang. Nah! Untuk keperluan apakah kita menjalani waktu menjelang detik-detik terakhir kehidupan kita datang?

Beribadah. Ya, beribadah adalah aktivitas yang kita lakukan. Ibadah yang kita upayakan dapat menjadi jalan tenangkan jiwa kita yang seringkali tergoda resah, gelisah dan gundah. Ibadah yang merupakan inti terpenting dari banyak aktivitas yang kita lakukan. Karena, meniatkan aktivitas apapun yang kita jalankan untuk dasar beribadah kepada Allah, dapat menjadikan kita bersungguh-sungguh dalam melakukannya.

“Siapkah kita untuk meniatkan apapun yang kita lakukan atas dasar ibadah, kepada Allah saja?,” sebuah pertanyaan yang akhirnya transit di ruang pendengaran ini. Pertanyaan yang apabila kita jawab dengan  “Setuju”, maka ia menyemat di relung qalbu. Pertanyaan yang akan menyapa kita kembali, setiapkali niat kita berubah dalam proses yang kita lakukan selama beraktivitas. Ya, karena tidak dapat kita pungkiri, aktivitas yang kita lakukan dari waktu ke waktu, tidak selamanya sama. Ada aktivitas berbeda yang datang menyapa, atau kita yang menyapanya. Ada aktivitas yang kita temui ataupun ia yang menemui kita. Lalu, siapkah kita beribadah kapanpun?”

Setiap detik waktu yang kita jalani, adalah dalam aktivitas. Baik aktivitas pribadi, maupun aktivitas dalam lingkungan sosial. Baik aktivitas yang telah biasa kita lakukan, maupun aktivitas yang baru kita kenali. Kesanggupan untuk menjalaninya atas dasar ibadah kepada Allah, membuat kita merasa yakin dapat menjalankannya dengan baik dari waktu ke waktu.

Karena, untuk dapat beribadah, kita memerlukan keyakinan terlebih dahulu. Tidak dapat kita beribadah, tanpa keyakinan, tanpa niat yang kita cipta. Oleh karena itu, berada dalam kondisi sadar setiap waktu, adalah kita. Bukankah kita ada untuk menjadi khalifah Allah yang siap beribadah kepada-Nya saja? Tidak menyekutukan-Nya dengan apapun juga. Niscaya, kebaikan demi kebaikanlah yang akan ada di dalam relung pikir, bersemayam di ruang jiwa. Kemudian teraplikasi di dalam tindakan dan sikap yang kita gerakkan.

Sebelum ini, banyak cita yang kita pancangkan, untuk kita jadikan dasar dalam bergerak. Banyak pula harapan yang kita semaikan, agar ia bertumbuh mendaun kemudian berpohon. Begitu pula dengan keinginan, dan kemauan yang pernah kita selipkan dalam ingatan. Semua itu merupakan langkah awal yang kita tempuh, dalam menyambut hari esok. Apakah yang kita persiapkan pada waktu-waktu yang sebelum ini, sedang kita jalani pada hari ini. Bagaimana kita menata ulang arah pikir pada saat ini, menjadi tolak ukur terhadap segala hal yang akan kita hadapi pada hari yang akan datang. So, berhati-hatilah dengan apapun yang kita citakan, kita harapkan, kita niatkan dan kita pikirkan. Karena, ia dapat menjadi kenyataan, dengan afirmasi yang kita pupuk seiring perjalanan waktu.

Yah!

Mau menjadi apapun kita pada hari esok, dapat bermula dari apa yang kita perbuat pada hari ini. Bersiaplah teman, untuk hasil terbaik pada  hari esok atas apapun yang sedang kita rancang pada hari ini.

Kita dapat berniat, berusaha dan berdoa. Sedangkan keputusan terbaik berada dalam genggaman Allah. Apapun yang kita harapkan, kebaikan sebagaimanapun yang kita dambakan, akan menjadi pendorong kita untuk berbuat. Bahkan, ketika kita baru membayangkannya dalam pikiran, merasakannya dengan segenap peran yang jiwa sampaikan, maka kita dapat telah benar-benar mengalami. Begitu kuatnya peran afirmasi terhadap kehidupan kita. Lalu, afirmasi yang bagaimanakah yang seringkali kita sampaikan kepada diri ini?

Diri yang menemani kita dari waktu ke waktu. Di dalamnya terdapat relung hati kita, pada bagian terdalam. Diri yang menjadi sarana bertempatnya ruang pikir pada bagian atas tubuh kita. Di dalam pikiran yang seringkali bertanya. Termasuk pertanyaan yang hadir, ketika kita melanjutkan langkah demi langkah menuju ke sebuah ruangan. Ruangan yang kita tidak tahu, ada apa makna kehadiran kita di dalamnya?

Pertemuan untuk pemberian motivasi secara perorangan, berlangsung tidak sampai sepuluh  menit, kiranya. Namun, pertemuan yang sejenak tersebut, menyelipkan inti-inti pesan buat kita. Agar, kita dapat menyadari keberadaan diri. Untuk keperluan apa kita ada di sini, hingga saat ini?

Kalaulah untuk mengeksiskan diri, dengan tanpa pertimbangan yang berarti, tentu menjadi hal yang sia-sia saja ia. Namun, kalau semenjak awal kita telah mendata niat, menyusun agenda, kemudian mengulurnya bersama benang waktu. InsyaAllah waktu pertemuan kita yang sekejap sekalipun, dapat bernilai ibadah di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Sekalipun kita melakukannya di sela-sela aktivitas yang sangat padat, sekalipun.

Semoga, kehadiran kita di manapun, berapa lamapun, dapat menjadi aktivitas yang bermanfaat, mengandung makna, dan bernilai ibadah, hendaknya. Karena, memang untuk beribadahlah kita ada di dunia ini. Selain itu untuk menunjukkan bahwa kita ada. Kita ada sebagai khalifah-Nya di muka bumi.

Sesuai dengan tagline training yang berkenaan dengan jiwa, maka kehidupan yang sedang kita jalani, tidak pernah terlepas dari kata “jiwa”. Kembali kepada tujuan kita berada di bumi, menjelajah hingga ke awal perbuatan, niat. Ya, niat berasal dari dalam jiwa. Jiwa yang merupakan unsur terpenting bagi eksistensi seorang insan bernama manusia, itulah kita. Kita yang dikaruniakan Allah dengan jiwa yang sempurna, berbeda dengan ciptaan-Nya yang lain. Tidak ada yang dapat menandingi kemuliaan kita dari semua ciptaan-Nya. Termasuk malaikat-malaikat sekalipun. Kita yang sempurna dengan kesempurnaan yang paripurna, adakah kita menyadarinya?

Berbekal akal untuk berpikir, kita dapat menjelajahi hingga ke pelosok negeri. Bersama jiwa yang melekat pada diri ini, kita dapat merasakan beraneka jenis rasa. Kita dapat berekspresi mulai dari yang membahagiakan sampai yang mengharukan hingga yang menyentuh ulu hati. Semua dapat kita alami, kalau kita mau berekspresi. Begitu pula dengan fisik yang seringkali kita peragakan. Ia tercipta untuk kita manfaatkan dalam rangka beribadah kepada Allah. Karena, semua akan kembali kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Tentang titipan yang terdiri dari akal, jiwa, dan jasad yang sempurna, akan ada pertanggungjawaban kita di akhirat kelak.  Untuk keperluan apa kita bersamai ia? Adakah kita mengoptimalkan fungsi masing-masingnya, sesuai dengan kadar terbaik? Bagaimana dengan kualitas dan hasil yang kita peroleh dalam mendayagunakannya? Apakah kita telah memanfaatkan optimal, sesuai dengan yang sesungguhnya? Bagaimanakah kelak ia berkisah tentang perannya selama bersama kita? Kaki-kaki, tangan-tangan, dan anggota tubuh lainnya yang terlihat, memang saat ini ia tidak dapat bersuara. Namun, pada hari pertanggungjawaban, semua akan bersuara. Untuk memberikan kesaksian atas apa yang kita lakukan selama bersamanya, dalam kehidupan dunia.

Begitu pula dengan jiwa yang seringkali bersuara.  Ia yang bersuara, untuk mengingatkan kita senantiasa. Suaranya yang seringkali kita tidak pedulikan, mungkin? Ataukah kita memang tidak lagi dapat mendengarkan lembut suaranya yang tertata, untuk mendamaikan kita kapan saja.

Kalau saja kita tidak lagi dapat mendengarkan suara jiwa yang menyapa? Bisa jadi kita belum terlalu peduli terhadapnya. Karena, jiwa yang bening seringkali menyampaikan kebaikan untuk kita.  Ia mengingatkan kita senantiasa, agar segera kembali kepada kebaikan, sebagaimana ia adanya.

Suara jiwa, dapat kita menyebutkan dengan feeling. Feeling akan muncul, kalau kita melakukan hal-hal yang memungkinkan ia dapat bersuara. Diantaranya adalah; honesty, empati, dan sincerity.

Kejujuran sangat mahal harganya. Mahal yang tidak dapat kita ganti dengan nilai barang seberapapun tingginya. Kejujuranlah yang dapat menghadirkan suara jiwa. Jiwa yang akan menjalani hari dengan penuh kedamaian. Seringkali ia menenangkan jiwa kita, kejujuran yang senantiasa kita jaga. Karena, dengan kejujuran, akan ringanlah jalan pikir, menderaslah gerak aktivitas. Hingga kita dapat menikmati waktu demi waktu.

Empati. Dalam berinteraksi dengan sesama, kita tidak dapat terlepas dari satu kata empati. Untuk dapat mempunyai feeling yang positif. Karena, dengan gemar berempati, maka jiwa kita akan mensuarakan kebaikan lebih sering lagi. Lalu, maukah kita menjaganya ada, senantiasa?

Selanjutnya adalah sincerity. Merupakan kesungguhan hati, keikhlasan, dan ketulusan. Dengan ketulusan yang terjaga, kita dapat menemukan feel dalam hari-hari. Feeling yang membuat kita lebih mudah memunculkan pikiran positif. Pikiran yang merupakan awal dari tindakan, berkaitan erat dengan jiwa yang kita bersamai.

Setelah semuanya kita yakin terjaga, maka selamat melanjutkan perjuangan berikutnya. Karena, langkah masih perlu kita jejakkan, dalam menempuh perjalanan kehidupan. Seiring dengan niat yang baik, kemudian dilanjutkan dengan tindakan. Karena, tidak bermakna hasil pikiran dan suara jiwa yang tercipta, kalau kita belum mengaplikasikannya dalam tindakan nyata. Ia tidak akan pernah ada, tanpa kita upaya agar ia ada.

Rasanya, masih ingin berlama-lama di sana, bersama-sama dengan para sahabat yang bersemangat dan penuh antusias. Rasanya, ingin kembali berkumpul dan bertemu dalam sapa, untuk saling menyemangati. Tentu saja dalam waktu yang berbeda. Semoga, dalam kesempatan terbaik, kita dapat kembali berjumpa, untuk saling memotivasi.

 For; Teh Ica yang mirip Cucu, sahabatku. Terima kasih atas invitenya, see you. Teh Mela, sampai ketemu yaa...😀

Selain mendata keberadaan jiwa, pikiran dan tindakan, kita juga perlu mendata kondisi lingkungan. Di mana kita berada saat ini? Siapa saja yang kita bersamai dan membersamai? Perhatikanlah dengan sangat baik dan penuh kesungguhan. Karena, lingkungan sangat mempengaruhi kehidupan kita yang akan datang. Kalaulah kita harapkan hari-hari yang kita jalani penuh dengan motivasi, maka berdekat-dekatlah dengan beliau yang dapat mengalirkan energi positif ke dalam diri. Kalau kita harapkan kehidupan berikutnya penuh dengan kebaikan, maka bergiat-giatlah untuk mendekati beliau-beliau yang baik. Selain itu, segeralah mengambil keputusan dari saat ini. Karena kita, dapat membuat keputusan terbaik untuk kebaikan bersama. Dengan terus memohon bimbingan dari Allah, Yang Maha Tahu Segalanya tentang kita. Termasuk deras gemuruh suara hati yang ingin kita alirkan, sekalipun. Sungguh! Tidak ada yang luput dari Perhatian-Nya.

🙂😀🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s