Materi Terakhir


Secerah Sinar Mentari

Secerah Sinar Mentari

Teman, pernahkah engkau mengalami suatu kondisi. Ketika begitu mudahnya untuk melakukan aktivitas dalam hari-hari. Yah, terasa ringan saat menjalaninya. Berbagai kemudahan engkau alami. Sehingga, dari waktu ke waktu yang engkau temui, seakan berlalu cepat sekali!

Teman, ketika mengalami hal yang serupa, bagaimana tanggapan yang engkau berikan? Apakah engkau menjalani waktumu dengan penuh semangat dan apresiasi yang optimal terhadapnya? Seakan engkau hanya hidup pada saat itu saja. Engkau penuh dengan antusias, bersama waktumu yang terus bergulir. Ia mengajakmu untuk meneruskan perjuangan. Karena waktumu ingin agar engkau memanfaatkan kebersamaan dengannya, lebih optimal.

Lalu, bagaimana pula tanggapan yang engkau berikan, ketika hal yang berbeda engkau temui? Yah, ketika pada suatu kondisi, engkau terlihat berubah. Engkau yang sebelum ini penuh dengan motivasi, tiba-tiba merasa hilang arah. Engkau yang sebelumnya mempunyai cita dan harapan akan cerahnya masa yang akan engkau temui, kini penuh dengan kesah. Engkau  banyak mengeluh dan berputus asa. Engkau seakan kehilangan gairah. Tanpa asa yang selama ini membersamai. Engkau lelah dengan keadaan. Engkau begitu mudahnya merasa lemah dan tidak lagi mampu melangkah. Padahal, pada waktu yang sama, engkau perlu teruskan gerak. Engkau tahu, bahwa berhenti berarti mati. Dan engkau belum ingin mati lebih cepat. Bahkan, engkau ingin selamanya hidup dan ada.

Nah! Beriring hadirnya ingatan akan kehidupan abadi yang sedang memandangimu dari kejauhan. Engkau kembali bangkit dan teruskan berjalan. Walau sebenarnya, ragamu telah melunglai dan tidak lagi berdaya. Bahkan, untuk berkata-kata saja, engkau tidak kuasa. Hanya tatapan matamu yang menyiratkan bahwa engkau masih ada. Mata hatimu yang terbuka, segera memandang ke hadapan. Bersamanya, engkau kembali menemukan kekuatan. Hatimu yang selamanya menjadi penguat gerakmu, pembangkit semangatmu.

Teman, pada suatu masa, engkau mungkin mengalami hal yang serupa. Hal yang sebelumnya tidak pernah ada dalam bayanganmu, meski sekejap saja. Namun, ketika ternyata engkau ada pada kondisi yang demikian, ada yang kembali mendorongmu untuk lanjutkan perjuangan. Siapakah di sana, yang sedang memberikan perhatian, padamu?

Ingatlah, lihatlah, perhatikanlah, amatilah sekelilingmu. Ketika engkau masih bersedia walau beberapa menit saja, untuk melayangkan arah pandang ke sekitaran. Engkau yang sedang berada di alam-Nya. Perhatikanlah bagaimana kondisi mereka di sana. Mereka yang kehidupannya mungkin saja tidak sama denganmu. Engkau yang masih dapat berlindung di bawah atap. Ketika gelap malam menyelimuti alam, engkau sedang tenang dalam rehatmu untuk beberapa waktu. Saat siang mencerahi hari bersama kilau sinar mentari, engkau  masih dapat menyaksikan. Bahkan, engkau sangat menyukai pemandangan yang serupa.

Seterik apapun sinar mentari, engkau tidak sedang berpanas-panasan, karena aktivitasmu tidak di alam terbuka. Masih ada ruangan yang menjadi tempatmu melanjutkan perjuangan. Walaupun sedang duduk dengan tenang, hakikatnya engkau sedang berjalan. Engkau sedang meneruskan perjalanan.

Yah! Bergeraklah teman, dengan kemampuanmu yang mungkin berlebihan. Karena, engkau bisa!

Teman, tidak dapat kita hindari, suasana yang tidak kita kehendaki. Apalagi kita sedang berada di bumi. Bumi yang di atasnya terdapat jenis karakter insan. Dan kitapun merupakan insan. Kita sama-sama sedang beraktivitas. Kita saling berinteraksi. Kita bersosialisasi, untuk saling memberi. Kita bertemuan, untuk saling melengkapi. Kita ada untuk membuktikan bahwa kita bermanfaat. Kita bersama untuk saling menguatkan. Karena kita sama-sama mempunyai potensi. Kita ada untuk memperoleh bahan pelajaran untuk kita pahami. Kita tidak pernah mampu menjadi apa yang kita ingini, dengan tanpa peran serta orang lain. So, mendekapi lebih erat keakraban dalam bersosialisasi, dapat menjadi pilihan.

Teman, ketika bersapaan kita begitu senang. Saat membantu, kita merasa lega. Ketika kita mampu menyelesaikan target kita bahagia. Lalu, apalagi alasan yang dapat kita berikan untuk beraneka kisah yang menyelingi sebelum kehadirannya?

Ya, sebelum kita merasakan bagaimana senangnya saat bertegur sapa, maka kita perlu mempelajari terlebih dahulu tentang ilmunya. Yah! Cukup jelas kiranya, bahwa menjalani hari bersama ilmu dapat menenteramkan jiwa. Begitukah, yang pernah beliau-beliau alami pula?

Teman, ketika kita sangat tenang dan lega membersamai hari dengan saling membantu, maka kita pun perlu menempuh proses agar ia tercipta. Karena, untuk dapat merasakan ketenangan dan kelegaan, tidaklah instan dan spontan. Otomatis, kita perlu menempuh proses sebelumnya. Agar, ketenangan dan kelegaan yang paripurna menyelingi ruang hari. Hingga kita benar-benar dapat menikmatinya.

Ya, bersama proses yang terus berlangsung, akhirnya kita akan mengerti juga. Bahwa, tidak ada satupun keadaan, kejadian dan suasana yang kita temui di dunia ini yang terjadi begitu saja. Pasti ada pesan yang ia titipkan untuk kita bawa dalam melanjutkan langkah. Semoga kita bersegera menempatkannya pada posisi terbaik.

Saat bahagia kita rasakan, maka senyuman akan seringkali menaungi relung hati. Hari-hari menjadi lebih berseri. Tiada lagi kata yang mampu kita ungkapkan, selain syukur yang semakin meninggi. Namun, untuk mencapai bahagia yang hakiki, tidak pula semudah membalikkan telapak tangan. Karena, jemari yang berada pada telapak perlu kita ikutkan serta. Ya, ada ujung telapak yang berperan serta. Ia memudahkan kita untuk dapat membalik telapak tangan hingga membuka. Ketika jemari berat adanya, tentu kita bersusah payah untuk dapat memperhatikan putihnya telapak tangan yang ingin kita lihat.

Begitu pula dengan bahagia. Ia terselip pada beraneka kisah yang sedang kita jumpa. Meskipun dari pandangan mata yang sekilas tatapannya, kita belum lagi dapat menangkap makna. Namun, ketika kita berupaya dengan daya yang optimal, niscaya tersingkaplah hikmah segera. Ada bahagia di balik luka. Ada ceria setelah duka. Ada senyuman di penghujung tangisan. Yakinlah akan perputaran roda kehidupan. Semua tercipta berpasangan. So, bersiaplah untuk menyambut harapan yang kembali mensenyumi di hadapan.

Teman, bisa jadi, saat menjalaninya, kita tidak terima. Ya, karena kita tidak habis pikir atas apapun itu yang datang menyapa. Mungkin saja karena memang cara berpikir kita yang belum mampu menangkap makna yang ia bawa. So, kembalikan semua kepada Allah, kalau terdapat keadaan yang kita belum memahaminya. Dan ternyata kita menjalani. Karena, hanya dengan mengingat-Nya, ketenteraman dan ketenangan hati dapat kita rasakan kembali. Dengan demikian, akan lebih mudah bagi kita untuk memahami keadaan. Menjadi lebih ringan dan mudah kita memaafkan. Atas keadaan yang kita tidak ingini, dan ia terjadi. Semoga dapat menjadi jalan bagi kita untuk kembali mengenali diri. Lalu, menanyainya dengan lebih konsentrasi.

“Bagaimanakah tanggapan yang akan ia beri? Bagaimanakah ia bersikap saat menjalani? Seperti apakah keadaan hatinya terakhir kali? Kalau saja pada saat yang sama, merupakan akhir perjalanannya dalam kehidupan ini?.”

Lalu, bayangkah… bayangkanlah teman, detik-detik kita menempuhi ajal diri. Ingatkah kita tentang batas usia yang sudah ditentukan Allah. Batas usia yang dapat kita jelang kapan saja. Tidak menutup kemungkinan, beberapa detik lagi adalah akhir kesempatan kita untuk berada di bumi-Nya. Ai! Dengan begini, tentu lebih murah kita tersenyum dalam menemui beraneka ekspresi. Baik ekspresi yang kita memang mengharapkannya. Maupun ekspresi yang jelas-jelas belum kita bayangkan di dalam pikir. Dan akhirnya ia menemui.

Teman, sungguh mudah untuk menjalani kehidupan ini dengan wajah berseri. Apalagi kalau kita terus-terusan memperbaiki diri. Adalah mengembalikan semua kepada Allah, merupakan salah satu rumus kehidupan. Agar, solusi demi solusi yang selama ini kita cari-cari, dapat segera kita temui.

“Berkisah tentang aktivitas pagi hari yang saya jalani. Beberapa saat setelah sang fajar muncul. Ada aktivitas yang berlangsung bersama diri. Mengerjakan salah satu tugas yang Bapak guru berikan, pada hari kemarin. Tugasnya tentang soal-soal hitungan. Hitungan statistik yang bertaburan rumus-rumus. Sungguh! Sungguh! Rumit sekali. Apabila kita memperhatikan susunan rumusnya. Sungguh! Sungguh! Soal-soal tersebut mampu mengobarkan nyala pikiran hingga ia menjadi berapi-api. Terbakar. Hingga panas sekali. Berasap.”

Hal itulah yang akan terjadi. Kalauuuuu…. saja, kita belum menemukan solusi. Nah! Di sini ada hikmahnya. Bahwa, serumit apapun masalah yang sedang kita alami. Sekomplit apapun susunan rumus kehidupan yang sedang kita hadapi. Yakinlah bahwa semua ada bersama solusi. Ada jawaban setelahnya. Yakinlah. Lalu, bersama kesungguh-sungguhan, berjuanglah untuk memahami rumus tersebut. Bukalah jendela hati, sibakkanlah tirainya. Segeralah menyebut nama Allah, istighfarlah, segera. Karena dengan mengingat Allah, kita akan menemukan solusi. Hanya kepada-Nya kita berserah diri, kembali dan datang lagi.

Teman, tidak ada lagi, selain berserah diri. Dan tentu saja, mengiringinya dengan terus berusaha.  Agar bertemu jawaban dari soal-soal yang ada. Karena, ingatlah kita pada salah satu firman-Nya di dalam al-Quran. Yang tertera nyata sebagai pedoman:

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Q.S Ar Ra’d [13] : 11)

Sehingga jelaslah bahwa, kita perlu berusaha untuk mendapatkan apa yang kita pinta. Kita perlu bergerak untuk dapat sampai pada tujuan. Kita perlu terus berjuang dalam menempuh kehidupan. Karena, ada malaikat-malaikat-Nya yang selalu mengikuti kita. Malaikat yang turut menyaksikan bagaimana upaya yang kita lakukan dalam mewujudkan harapan menjadi kenyataan. Malaikat-malaikat yang turut menjadi saksi atas segala yang kita upayakan. Malaikat-malaikat kita, sedang berada dekat. Turut memberi kita motivasi, mensemangati walaupun raganya tidak terlihat dalam nyata. Karena sesungguhnya para malaikat ada, untuk mengikuti kita bergiliran. Ai! 

“Mengikuti kita bergiliran,…”  

Sungguh potongan kalimat yang sangat menenangkan. Siapa kita yang malaikat-malaikat ikuti dengan bergiliran. Siapa kita, siapa?

Wahai, masih layakkah kita untuk tidak menyadari akan arti kehadiran diri saat ini? Masih pantaskah kita untuk terkalahkan oleh keadaan. Masih maukah kita melangkah, meski dengan segenap kekuatan yang tersedia? Wahai teman, malaikat-malaikat kita sedang mengikuti bergiliran. Membersamai kita yang sedang dalam perjalanan. Semoga dapat mengembalikan kita pada ingatan akan makna kehadiran.

“… mereka menjaganya atas perintah Allah.

Sepotong lagi kalimat yang dapat menjadi jalan ingatkan kita pada kehadiran diri. Kita manusia yang sedang berada dalam penjagaan malaikat-malaikat, atas perintah Allah. Allah Yang Sangat Menyayangi kita, lebih dari apapun juga. Perhatian-Nya begitu dalam pada kita yang sedang menjalani kehidupan. Sungguh, tiada yang sia-sia. Semoga kita segera menyadari dan kembali tersadarkan.

Teman, setiapkali kita memperhatikan alam, semoga setiapkali itu pula kita dapat menatap peran Allah di dalam-Nya. Karena, ada harapan yang sedang kita install lagi. Saat ia terkena virus keadaan. Harapan yang perlu terus kita perbarui, agar ia tidak tenggelam oleh situasi. Aamiin ya Rabbal’alamiin.

Teman, seketika saya teringat pada kisah-kisah yang telah berlalu. Kisah yang pada saat ia terjadi, belum mudah untuk memengertinya. Kisah yang akhirnya menyelip hingga detik ini. Kisah yang sebenarnya, terjadi untuk mengingatkan diri. Agar ia segera menghayati. Lalu, menitipkannya dalam susunan kalimat yang terangkai. Semoga dari waktu ke waktu, kehadirannya senantiasa menjadi jalan hadirkan inspirasi. Untuk memberainya dalam catatan demi catatan, di sini. Pada lembaran diari yang setiap hari dapat saya tulisi. Trus, dapat direfresh menjadi baru lagi. Ketika satu lembaran telah terisi. Tidak seperti lembaran diari masa lalu, yang dapat usang dan habis karena penuh terisi. Sungguh, syukur ini akan terus berlanjut, hingga nanti di ujung usia …

Teman, sebesar harapan yang sedang menggantung di langit cita. Setinggi asa yang terus bertambah jumlahnya. Saya tidak ingin mencoreti lembaran catatan diri, dengan hal-hal yang tidak bermakna. Hanya inginkan ada hikmah di dalamnya. Untuk menjadi pengingat diri. Bahwa ia tidak boleh melakukan hal yang serupa. Ketika pada suatu waktu, ia menerima keadaan yang sebenarnya tidak ia inginkan terjadi. Hanya itu saja.

Semoga setiap catatan dapat menjadi pengingat diri. Ketika pada suatu hari nanti, saya membacanya lagi. Ia dapat menjadi alarm yang membangunkanku lagi, setelah beberapa waktu ia terlelap dalam buaian masa. Berharap kisah demi kisah yang membahagiakan, dapat menjadi jalan senyumkan ia lebih indah lagi. Semoga kisah-demi kisah yang sememangnya tidak ia inginkan, dan terjadi, dapat memberikan ingatan padanya. Lalu ia menanya diri, “Atas dasar apa ia berada di dunia ini? Mengapa ia ada hingga saat ini?”

Teman, untuk sering-sering memandang ke luar dari diri sendiri, tentu lebih mudah. Ya, karena kita dapat melihat beraneka tampilan alam. Namun, untuk melihat ke dalam diri, tentang bagaimana kondisi terakhirnya, sungguh memerlukan perjuangan yang kuat. Perjuangan bersama tekad yang membaja. Sekuat asa yang terus menyalakan harapan. Agar kita mau melangkah lagi, sebelum sampai pada tujuan yang hakiki. Yah.

Teman, selama kebersamaan kita dalam menjalani waktu. Adalah baiknya kita saling mengingatkan. Terutama mengingatkan diri sendiri. Agar ia segera ingat sebelum ia diingatkan. Agar ia segera ingat, sebelum ia mengingatkan. Semoga masih ada kesempatan bagi kita untuk bersua dan bertemu, untuk saling mengingatkan. Tentang makna kehadiran kita di dunia ini. Bukan untuk selamanya, namun untuk sementara saja.  Kehadiran di dunia, untuk melanjutkan perjalanan. Dengan menjadikan dunia sebagai jalan. Jalan yang membuat kita perlu terus dalam suasana sadar saat menempuhnya. Agar kita senantiasa dalam keadaan terjaga saat melangkah.

Teman, dari hari ke hari, langkah-langkah yang engkau pijakkan semakin cepat. Jejak-jejak yang engkau tinggalkan, semakin jelas. Saya menelusurinya satu persatu, untuk terus dapat membersamaimu. Engkau yang baik.  Bahagia dapat mengenalmu. Bahagiaaaaa rasanya, dapat membersamaimu, teman. Jaga terus persahabatan kita, yah. Agar ia terus tersenyum. Karena persahabatan itu indah. Seindah sinar mentari pagi ini.

🙂😉🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s