Detik-detik Membersamai Senyuman yang Lebih Indah


Nak...

Nak… Inilah detik-detikmu menuju awal menyatukan hati dalam ikatan suci “Pernikahan”

Detik-detik menjelang akad nikah berlangsung, bagaimanakah suasana yang engkau rasakan teman? Berbagi pengalaman, yuuks..?😀 Kita berbagi suara hati, yuuks? Karena belum semua kita mengalami hal yang serupa. Belum semua kita menempuh masa yang sama.  Agar, bagi yang belum menjalaninya, dapat bersiap siaga. Agar ia pun berbahagia, sebagaimana bahagia yang engkau rasa. Semoga untuk beberapa masa berikutnya, temanmu yang belum bersua dengan pasangannya, dapat bertemuan pula. Deal, kan? Aamiin ya rabbal’alamiin.

Nak, selamat yah…. Semoga engkau dapat berhikmat sepenuh pengabdian pada beliau yang kini berada di sampingmu. Seorang pribadi yang memilihmu untuk menjadi bagian dari hari-hari beliau berikutnya. Menjadilah istri shalihah, penyejuk mata suami, penyegar ingatan sepanjang hari, penebar kasih, penyemai rindu.

Engkau bisa, sayang….

“Teh Ashafyyyyyyy, lama kita tak jumpa yaaa……,”  ekspresi histeria tak terhingga.😀

***

Walaupun dari selembar potret, saya dapat merasakan kehadiran beliau saat ini. Beliau sedang berada di hadapan, untuk tersenyum sebagaimana biasanya. Senyuman yang menebar dengan ringannya. Seringan kapas yang beterbangan. Dan senyuman tersebut, menerpa wajahku, lalu hinggap di hati ini. Hatiku bahagia, hatiku berbunga-bunga. Sungguh ceria, indah terasa.

Hari ini, adalah hari bahagia buat beliau. Salah seorang teman baikku di kota ini. Teh Ashafy, begini sapaan akrab teruntuk beliau. Beliau yang beberapa puluh menit yang akan datang, segera melangsungkan pernikahan. Semoga diberi kelancaran dalam prosesnya. Teman, mengalir doa untukmu di sana. Selamanya ia ada, meskipun kita belum bertatap mata.

Lama kami belum berjumpa lagi, setelah beberapa waktu yang lalu terjadi perpisahan. Berhubung beliau akan meneruskan aktivitas di tempat yang lain. Sehingga kami akhirnya belum lagi dapat bersama. Selamat meneruskan perjuangan, Tetehku yang cantik, baik, dan tulus. Dalam ingatan, kita bersenyuman. Bersama pertemuannya, kita dapat saling bersapaan. Selamanya persahabatan, terus terjalin hingga kita tidak lagi bersamanya. Ingatan, sepanjang ia masih kita tumbuhkembangkan, selama itu pula kita dapat bersua. Sungguh indahnya ukhuwah, yaah.

Kita yang sebelumnya tidak saling kenal akhirnya pernah bersama. Kita yang sebelumnya berasal dari kota yang berbeda, pernah bersua di kota yang sama. Engkau yang akhirnya memberi warna dalam hari-hariku. Engkau turut mewarnainya dengan ketenangan wajah yang memancarkan senyuman. Engkau titipkan sebuah warna yang engkau bawa, untuk mempercantik lukisan tentang perjalanan kehidupanku. Teman, engkau suka warna merah, saya masih ingat itu. Hohooo…

“Teh Ashafy, sekarang masih suka warna merah marun merona, kah?” (hehe).

Teh Ashafy, satu yang menjadi ciri khas beliau adalah penyuka warna merah. Kekhasan tersebutlah yang dapat menjadi jalan bagiku untuk mengembalikan ingatan. Bahwa merah berarti berani. Merah itu semangat. Merah itu melambangkan energi. Kekuatan yang menyala. Motivasi yang membara. Semoga beliau senantiasa dalam kondisi prima, sehat dan sejahtera.

Ai! Rinduku menerpa ruang jiwa, teringat kerlipan mata yang beliau punya. Indah sekali!😉 Aku sangat ingin menatap sorot mata itu, pada hari ini. Pada hari bahagia yang sedang beliau jalani. Untuk menangkap pesan tersirat yang sedang beliau alirkan. Untuk menambah energiku dalam melanjutkan perjalanan ini. Untuk menjadi jalan ingatkanku pada seorang nun yang saat ini entah berada di mana. Semoga kami pun dapat bersua di dunia. Agar tercipta kisah berikutnya, dalam perjalanan jiwa hamba. Yah, ketika ia pun bertemu dengan teman baiknya. Sahabat yang akan menjadi bagian dari hari-hari penuh senyuman, berikutnya. Dalam ingatan, engkau ada. Walaupun hingga saat ini kita belum lagi berjumpa. Ku ingin merangkai senyuman berikutnya menjadi lebih indah lagi, bersamamu. Bersama beliau yang Allah takdirkan sebagai jodoh hamba. Aamiin.

Namun, untuk saat ini, kita masih belum bersama. Untuk menyaksikan tekadmu melalui tatapan mata yang penuh cahaya. Cahaya yang aku suka. Cahaya yang menjadi jalan untukku mengingat sumber cahaya. Cahaya yang tidak lagi cahaya, namun menjelma sinar yang kuat. Engkau mentari di hatiku.

Engkau sinari siangku dengan mulianya akhlakmu. Engkau terangi malamku dengan keteguhan imanmu. Engkaulah pribadi yang akan menerima titipan atas sekepinghati ini. Engkau, who are you?

Teh Ashafy, adalah sesosok pribadi yang baru ku kenali beberapa tahun terakhir. Yah, semenjak saat ini. Dalam kebersamaan kami, terangkai pula bait-bait kata yang terselip di ruang hari.

“Dalam perjalanan ini, kita butuh sahabat-sahabat yang tak hanya menemani, namun mampu mengobati hati kita yang seringkali kurang sehat.  Untuk kembali menggugah rasa agar lebih bermakna ia.  Walau masih kecilnya kuantitas usia pertemuan dan pertemanan kita, namun saat kita masih mau dan mampu untuk terus bergerak,  kita dapat mencapai kualitas yang lebih bagus lagi.  Selagi kita masih punya kemauan dan tekad yang kuat untuk menyatukan visi dan menyamakan tujuan, membangun rasa saling membutuhkan, dan saling menguatkan, insya Allah tidak ada satupun yang tidak dapat kita selesaikan.  Ya, bersama kita bisa!.

Semua terasa indah dalam kebersamaan.  Seperti sebuah kalimat yang dulu pernah engkaudanaku membacanya.

Pemberian yang paling berkesan adalah kebersamaan

Begitu kira-kira bunyi kalimat tersebut.  Terima kasih untuk seorang yang telah merangkai kata hingga berhasil menjadi satu kalimat tersebut, hingga sampai saat ini kita masih dapat nikmati keindahannya dan kita rasakan manfaatnya.

Wahai sahabatku,

terima kasih atas hadirmu,
mencerahi hati yang bermendung kelabu,
mensenyumi wajah dengan derai canda tawamu,
engkau bagian dari kehidupanku,
hadirmu penuh hikmah membawa berjuta ilmu,
yang dalam perjalanan ini, ia menjadi teman dan guru,

Wahai sahabatku,

terima kasih atas segala perhatian,
tolong ingatkan aku, saat ku dalam kekhilafan,
tolong doakan aku, saat ku berada jauh darimu apalagi saat kita masih berdekatan,
tolong maafkan aku, setiapkali ku terlanjur berbuat kesalahan,
tolong bimbing aku, dalam meraih ridha Tuhan,
tolong aku dalam menjaga keikhlasan,
tolong aku menjaga keistiqomahan,
agar kita bahagia bersama dalam kedamaian,

Wahai sahabatku,

terima kasih untuk menjadi sahabat yang paling berharga,
kita satu walau punya sifat yang berbeda,
untuk melangkah demi tujuan yang sama,
walaupun perjalanan yang kita tempuh masih lama,
namun ia demikian indah terasa,
bersama semangat karenaNya,
hingga nanti di akhir usia tiba.

“Special for My Friend Ashafy, F.”

Konon nama beliau tersebut berarti “Barisan suci“.
Subhanallah…. namamu sungguh indah Friend, seindah pribadimu…

:) :) :)

Allahumma tawwil ‘umurana fi ta’atika wa ta’ati rasulika waj’alna min ‘ibadikas salihina.
“Ya Allah panjangkanlah umur kami dalam mentaati-Mu, dan mentaati utusan-Mu serta jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang saleh.”

Aamiin ya Rabbal’alamiin.

:) :) :)

Catatan tersebut tercipta, ketika kami masih bersama. Catatan tersebut hadir, bertepatan dengan hari yang juga istimewa bagi beliau. Sebagai kenangan yang selamanya ada, catatan dapat mengingatkan kita akan hari-hari yang tidak ingin terlupa. Semoga, catatan saat ini, menjadi prasasti yang mulia, selamanya. Aha! Indahnya pernikahan. Untuk pertama dan terakhir kalinya.

Bersama harapan yang kita rangkai, ada doa. Semoga Teh Ashafy dapat menjalani kehidupan yang hari-hari yang berikutnya menjadi lebih berbahagia. Bersama beliau yang tidak hanya rupawan raganya, namun mempesona pula jiwanya. Beliau yang senantiasa mengingatkan Teteh, pada Allah. Beliau yang akan menemani Teh Ashafy dalam menikmati waktu demi waktu dengan sepenuhnya. Beliau yang menerima titipan dari Ayahanda. Ayahanda yang menitipkan titipan pula, kepadanya. Allah yang memiliki kita, Maha Tahu yang terbaik untuk kita. Semoga beliau menjadi sebaik-baik suami yang Teteh damba, yah. Selamat menempuh hari-hari berikutnya bersama, ya Teh. Dengan terus belajar dan memetik hikmah yang akan hadir, berikutnya. Karena, ada hikmah dalam setiap keadaan. Iya, kan teh.. yaa?😀 He.

Teh Ashafy, beliau pernah berada pada tempat tinggal yang sama denganku di kota ini. Kami pernah satu kostan. Di rumah Bapak Darsono, kami bertemu. Melalui Mamy yang menjadi teman beliau pada mulanya, akhirnya kami bersua pula. Mamy yang lebih dahulu telah bersama denganku. Kita satu kostan.

Kebersamaan tercipta, agar kita dapat merasakan, nuansa kekeluargaan. Kami pernah satu atap, untuk menemukan keakraban. Kami pernah satu lingkungan, untuk belajar arti persaudaraan. Kami pernah beraktivitas bersama, untuk belajar bagaimana cara memahami. Kami pernah bersenyuman, ai! senyuman Teh Ashafy indah sekali. Aku suka dengan karakter beliau yang keibuan. Perempuan yang lembut, ramah dan mudah tersenyum.

Ruang hati beliau memang belum pernah ku kunjungi. Karena ia bertempat nun jauh di dalam diri beliau. Namun, saya dapat merasakan ketenteraman saat berada dekat dengan beliau. Yah, saat kami berdekatan. Namun kini, beliau jauh dari pandangan. Hanya ingatan yang dapat menjadikan kita saling bersenyuman. Walaupun tidak sedang berhadapan, raga.

Pernah kami terlibat dalam perjalanan yang sama, perjalanan jauh untuk berrekreasi. Tentu saja bersama teman-teman yang lainnya di sini. Bersama kami meneruskan perjalanan. Bersama kami bergenggaman tangan. Bahkan, berpotretpun kami tidak ketinggalan. Ai! Kini semua tinggal kenangan. Masa yang telah berlalu, terbayang mengukir ingatan. Memang kini kami tidak lagi berdekatan raga, namun jiwa kami saling berangkulan. Tidak pula jarak menjadi alasan, untuk terciptanya perjumpaan kemudian.

Teh  Ashafy, adalah salah seorang teman yang sama-sama melanjutkan perjuangan denganku, di kota ini. Kami menempuh masa-masa pendidikan, di lembaga yang sama. Walaupun kami tidak satu angkatan, namun kami berteman. Meskipun kami tidak menjalani aktivitas belajar di ruangan yang sama, selama masa pendidikan, namun kami dapat sama-sama belajar. Karena belajarnya kita, tidak saja hanya di dalam ruang beratap. Tidak pula di ruangan yang berbatasan dinding. Kami dapat belajar kapan saja, dan di mana saja. Selalu ada kesempatan yang kami manfaatkan untuk memetik hikmah dan pelajaran.

Selagi alam luas membentang, sepanjang jalan masih ada, selama langit menaungi, itulah sarana yang kami gunakan untuk belajar. Yah.

Hingga saat ini pun demikian. Kami yang telah lama berjarak, tetap dapat saling mengingat. Beliau yang mempunyai keperluan di lain tempat, tidak lagi dapat bersama-sama dengan kami di sini. Begitu pula dengan teman-teman yang lain. Pada umumnya, di antara kami kini memang sudah pada berjarak raga. Kecuali hanya beberapa saja yang berdekatan. Sungguh, kita inginnya terus bersama, berkumpul dan bersua. Namun, keinginan bukanlah selamanya kebutuhan, bukan?

Ada kebutuhan yang perlu kita penuhi, meski tidak lagi di sini. Ada kebutuhan yang kita peroleh, ketika kita berpindah ke sana. Begitulah alur dalam kehidupan. Ada masanya kita bertemuan, ada saatnya pula untuk berjarak raga. Percayalah teman, selama kita pernah bersama, ingatan akan terus bermekaran. Ia menjadi jalan yang mensenyumkan kita setiapkali kehadirannya menyapa. Sungguh, indahnya berreuni dengan masa lalu. Namun, kehidupan kita adalah hari ini.

Yes!

Teh Ashafy. Hari ini, tepatnya pada tanggal enam Mei tahun dua ribu dua belas, adalah hari yang beliau nanti-nanti.  Hari yang akan menjadi sejarah tersendiri, bagi seorang insan di dunia ini. Beliau akan menikah dengan seorang yang lainnya. Sehingga, setelah hari ini, beliau akan terlihat bersama. InsyaAllah. Semoga banyak kemudahan menaungi ruangan yang sedang menaungi. Semoga lantunan doa menjadi penguat dua insan yang akan menyatukan hati. Untuk selamanya ya, Teh…

Hari ini adalah pernikahan kami

Fitri Ashafy

&

Bripda Arief Joko Wicaksono

“Doa Rasulullah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, pada pernikahan putrinya Fatimah Az-Zahra r.a dengan Ali Bin Abi Thalib r.a. “Semoga Allah Menghimpun yang terserak dari keduanya dan kiranya Allah Memberkati dan Memberi mereka berdua keturunan yang lebih baik, menjadikannya pembuka pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah, serta pemberi rasa aman bagi umat.” “Barakallahu laka wa baraka ‘alaik, wa jama’a bainakuma fi khair” Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang maupun susah dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibn Majjah)

🙂

Ketika dua hati menyatu, ada harapan yang sedang mereka bangun. Ketika dua hati siap untuk melangkah bersama, ada arah yang sedang mereka tuju. Seiring dengan mulai meningginya mentari yang tampak malu, tidak begitu dengan beliau di sana. Ada bahagia yang sedang bersemi. Ada cahaya yang menyinari relung kalbu. Ada lembaran baru yang membuka untuk mereka tulisi bersama-sama.

Selamat membuka lembaran kehidupan yang baru, bersama pribadi baru. Beliau yang engkau kenal, baru beberapa waktu yang lalu. Beliau yang baru-baru ini, menemui kedua orangtuamu. Untuk memintamu menjadi bagian dari kehidupan beliau berikutnya.

Saat pertemuan berhiaskan senyuman. Kebersamaanpun melukiskan senyuman. Harapkan bersenyuman sampai ke ujung jalan. Berbahagia bersama di dunia hingga ke akhirat.

***

Ketika kita berniat untuk melangkah, maka melangkahlah. Walaupun ada beberapa keadaan yang meminta kita untuk mengalihkannya.  Begitulah salah satu tips sukses dalam menikmati waktu. Ya, karena keadaan terkadang membawa kita ke dalam negerinya yang kita belum pernah kenali. So, mengenalinya adalah pilihan.

Ketika kita berniat untuk menemui sahabat yang saat ini jauh dari pandangan, maka berangkatlah. Karena ada jalan yang dapat menyampaikan kita ke arah yang menjadi tujuan. Yakinlah. Kita pun sampai. Inilah salah satu kunci dalam persahabatan. Menguatkan jalinan silaturrahim, dapat menjadi jalan agar kita lebih berbahagia. Lalu, tersenyumlah lebih indah di bawah terpaan sinar mentari yang terbit dari relung hati.

Sebarkan selamat pada kehidupan. Petik buah manfaat yang ia titipkan. Kapanpun, kita dapat memperoleh hikmah dari perjalanan ini.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Q.S Ar Ruum [30]: 21)

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s