Kita Melangkah di Jalan Dakwah, Bergandengan Hingga ke Jannah


Dakwah Kita Hari Ini

Dakwah Kita Hari Ini

Pemimpin Anda adalah seorang yang otoriter? Bagaimana menanggapinya? Bersikap seperti apakah Anda dalam menghadapi sang pemimpin?

Pemimpin efektif adalah yang terbaik memberikan pelayanan. Terlepas dari berapapun usianya, dan sebanyak apapun pengalaman yang telah ia kantongi. Sampai sejauh apapun seorang mengunjungi berbagai pelosok negeri untuk menjemput ilmu dan pengetahuan. Belum menjadi penentu akhir, apakah ia dapat menjadi pemimpin yang didambakan oleh orang-orang yang berada dalam kepemimpinannya. Lalu, siapkah kita menjadi pemimpin yang didambakan?

Pemimpin yang hadirnya ditunggu, kepergiannya menyisakan rindu. Pribadi yang menyenangkan, penuh dengan dedikasi. Bijaksana dalam bersikap, penuh ketawadu’an. Senyumannya mengesankan, mengagumkan. Ai! (Episode melanjutkan mimpi niyyy… Xixixiii…😀 )

Dalam teori kepemimpinan, terdapat tipe pemimpin yang tergabung dalam struktur inisiasi yaitu pemimpin yang cenderung memberikan instruksi sesuai dengan harapan yang telah ditentukan. Dengan menetapkan hasil terlebih dahulu. Agar bawahan penuh dengan inisiatif dan inovasi dalam mengikuti apa yang telah diinstruksikan. Untuk mencapai hasil yang optimal.

Ada keuntungan pada tipe pemimpin seperti ini, karena seorang pemimpin yang semestinya berpandangan jauh ke depan, terlebih dahulu mengetahui keadaan yang akan terjadi. Dalam hal ini, berbagai hal yang pemimpin instruksikan, pasti ada hubungannya dengan kebaikan bawahan. Pemimpin segera mentransfer pengetahuan yang terlebih dahulu telah diketahuinya kepada bawahan. Namun cara penyampaiannya yang mungkin saja belum dipahami oleh bawahan. Sehingga bawahan beranggapan bahwa pemimpin tersebut adalah seorang yang otoriter. Di sini, pentingnya komunikasi yang berkesinambungan antara pihak yang diberi instruksi dengan pihak yang memberi instruksi. Agar, tidak terjadi miskomunikasi yang menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan oleh kedua belah pihak.

Bagi pihak yang diberi instruksi, dalam hal ini bawahan, perlu belajar lebih banyak lagi. Terutama mengetahui perkembangan yang terjadi. Baik dalam bidang yang sedang digeluti ataupun perkembangan sehubungan dengan aktivitas pada lingkup yang lebih luas.

Pengetahuan sangat berperan penting untuk menghadapi pemimpin dengan tipe otoriter. Karena, bersama dengan pengetahuan, seorang yang berhubungan dengan tipe ini akan lebih mudah untuk memahami dan menjadikan setiap hasil interaksi sebagai bahan masukan. Agar, untuk ke depannya, dapat melakukan aktivitas dengan lebih baik lagi. Berpandangan jauh ke depan, adalah ciri pribadi yang terus belajar. Menjadikan pengalaman hari ini sebagai bekal dalam melanjutkan langkah. Semoga semoga dan semoga, hari esok yang akan hadir, menjadi lebih cerah. Terima kasih wahai para pemimpin, bagaimanapun tipe yang engkau terapkan dalam menjalankan proses kepemimpinan. Walaupun otoriter, sekalipun.

Beraneka pengalaman pada masa lalu, kondisi lingkungan, keadaan alam, turut menjadi penentu karakter seorang pemimpin. Mungkin ada diantara kita yang mengenal seorang pemimpin. Begitu baiknya beliau dalam memimpin. Sehingga berbagai kekaguman, salut dan penuh ketakjuban pun memuai dalam hari-hari. Sangat bahagianya kita berada di lingkungan yang beliau pimpin. Karena kita adalah bagian dari lingkungan tersebut? Ataukah, hanya menjadi pendatang yang berkunjung untuk beberapa masa saja. Ada kehangatan dan aura kekeluargaan yang sang pemimpin tebarkan. Ada kesejukan menaungi relung pemikiran. Atas kebijaksanaan dan kharisma yang memancar dari pribadi sang pemimpin, kita dapat menangkap pesan, bahwa beliau adalah seorang yang arif.

Pada kesempatan yang berikutnya, berbeda pula yang terjadi. Pada kunjungan ke lain negeri, kita berhadapan dengan pemimpin yang bertipe tidak sama dengan sebelumnya. Bahkan, sangat bertolakbelakang dengan yang pernah kita bersamai, kita jumpai dan kita temui.

Ini pemimpin dengan tipe baru. Mungkin kita berpikir demikian. Ada karakter yang tidak biasa, yang kita tangkap dari cara beliau menjalankan kepemimpinan. Terkesan memerintah, terkadang. Terkesan ingin dilayani, seringkali. Begini hasil pemikiran yang hadir di dalam ingatan kita, pada saat berinteraksi dengan pemimpin tersebut. Lalu, bagaimana sikap yang semestinya terhadap pemimpin dengan tipe seperti ini? Yah, karena kita menjalani aktivitas di dalam masa kepemimpinan beliau.

Pemimpin yang baik adalah ketika mampu memberikan pelayanan terbaik. Setidaknya, begini salah satu ingatan yang hadir, ketika kita sedang menghadapi pemimpin tersebut. Bukankah, lebih baik kalau kita kembali mengingat, untuk keperluan apa kita bertemu dan bersama. Ada pesan yang kembali mengingatkan, tentang tujuan utama keberadaan kita di dunia. Sebagai khalifah yang menjalankan peran sebagai hamba-Nya.

Memang kalau kita teruskan perjalanan pikir, ia tidak akan menemukan ujung. Ketika pada suatu hari hati bertanya, “Bagaimana bisa, saya berjumpa dengan seorang yang seperti ini, yah?” Atau pada kesempatan lainnya, ia bertanya lagi, “Kok bisa ada yah, karakter demikian di dunia?” Berpikir lagi kita untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang muncul dari relung rasa. Kasihan ia yang masih terus menanyai, atas berbagai keadaan yang ia alami. Banyak tanya yang menyapa, tentu saja membutuhkan jawaban untuk melerainya. Bahagianya ia saat tanya demi tanya memberikan jawaban. Bahagialah ia menemukan jawaban yang memang kita juga mengharapkan.

Hanya dengan keyakinan akan peran serta Allah di dalam berbagai keadaan yang ia tempuhi sajalah, ia mampu bertahan. Meskipun di tengah lautan pemikiran yang penuh dengan riak-riak mencengangkan, sekalipun. Banyak orang bertanya pula, “Mengapa engkau mampu bertahan? Sedangkan yang lainnya sudah entah berada di mana.

Beralih dari kenyataan, bukanlah jawaban, kiranya. Saat kenyataan menguraikan beraneka kesan untuk kita tangkap maknanya, maka itulah jawaban yang sesungguhnya. Tidak perlu lagi menanya apalagi mengira dan menduga, untuk memberikan alasan. Dan kemudian lari dari kenyataan. Karena kalau bukan dari hal-hal yang membuat kita terlonjak kaget saat menjalani, tentu tidak ada indahnya kehidupan ini. Terkadang memang demikian. Ada masanya kenyamanan meninggalkan hari-hari. Kita seakan mengalami suara jiwa bak deburan ombak yang mengalihkan perhatian. Kaget setengah hati, atas apa yang menghampiri. Lalu, buih-buih mendekati, ringan dan membasahi kaki. Di tepi pantai kehidupan, kita berada kini. Terusik ketenangan atas keadaan yang menyapa.

Sungguh. Tidak selamanya lingkungan berakrab ria. Ada masanya angin mendesau dan menyisakan dingin menusuk tulang. Ada pula waktunya, mentari menerik sungguh menyengat. Alam yang sedang kita bersamai, memang demikian. Ia penuh dengan kejutan. So, belajarlah kembali sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling. Terus pedulikan keadaan. Bersahabatlah dengan lingkungan. Karena hadirnya sebagai bagian dari perumpamaan. Bertemanlah dengan al-Quran, yang senantiasa mengingatkan kita pada peta kehidupan. Agar kita tidak kehilangan arah saat menempuh jalan menuju tujuan. Ada hikmah dalam berbagai keadaan. Semoga kita dapat memetik bahan pelajaran untuk menjadikan kita mau terus belajar dengan memahami kalam-Nya.

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (Q.S Ar-Ra’d [13]:17)

Dalam masa kepemimpinan yang kita temui saat ini, tidaklah selalu ideal. Selayaknya Rasulullah dalam memimpin. Ai! Teringat pribadi yang mulia ini, menderaskan airmata rindu, haru menyeruak kalbu seketika. “Ya Allah, rahmatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau merahmati Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

Ketika pemimpin mengenali perannya, tentu tidak lagi kita temukan berbagai keluhan dari bawahan. Yah, bawahan yang juga insan manusia biasa. Tentunya mempunyai batasan dalam berbagai hal. Seperti halnya pemimpin yang mempunyai wewenang, bawahanpun mempunyai perasaan. Selayaknya pemimpin yang dengan mudahnya memberikan perintah, bawahan tentu memiliki tanggungjawab. Bagaimana upaya yang ia kerahkan untuk dapat memahami pemimpin dengan tipe yang sebelumnya tidak ia kenali? Bagaimana pula bawahan memberikan pelayanan terbaiknya, sekiranya pemimpin belum lagi mengenali arti kehadirannya. Bolehlah pemimpin memberikan perintah dalam lingkup yang dimengerti oleh bawahan. Selagi berada pada jalur yang semestinya. Namun, kalau untuk membaca pikiran pemimpin dan apa yang menjadi harapan pemimpin, tentu memerlukan perhatian lebih.

Lebih mengerti dan memahami, antara bawahan dan pimpinan. Sama-sama menghayati peran masing-masing, dapat menjadi solusi awal untuk mencairkan suasana. Karena kekuatan seorang terletak pada kesanggupannya untuk menunjukkan, bahwa ia sanggup memberikan pelayanan prima. Pelayanan terbaik.

Selama kehadiranmu di dunia, dalam menjalani kehidupan, adakah engkau bertemu dengan pemimpin yang berkarakter mau menang sendiri, teman? Ai! Memangnya pertempuran, yah…😀 Pakai menang segala. Maksudnya begini. Apabila kehendak perlu dituruti, adalah harapan untuk terciptanya senyuman. Namun, ketika ternyata kenyataan menyisakan kesan yang berbeda, maka senyuman pun terbang entah ke mana. Untuk selanjutnya, bersenyumanlah jiwa dengan sesamanya, ia kembali menanya, “Mengapa oh, mengapa… jarang ku lihat wajahnya tersenyum?” Padahal, kalau beliau tersenyum, tambah bertambah kharisma yang melekat pada pribadi yang mempesona.

Ya, Allah… ampuni hamba, Astaghfirullaahal’adziim. Beristighfarlah sayang, segera mengingat Allah. Karena, hanya dari cara pandang yang berbeda, kita dapat memetik makna. Sekalipun dari seraut wajah yang sedang manyun sekalipun, di sana ada pesan.

Ketika seorang pemimpin tersenyum kepada bawahan, betapa indahnya. Saat sapaan menyelingi perjumpaan. Ketika saling menampakkan keceriaan. Sungguh bahagia menitipkan senyuman yang berikutnya. Lalu, bagaimana kalau hal yang serupa masih ada dalam ingatan? Dan kenyataannya, keadaan berbanding terbalik dengan pinta sang jiwa.

Ya, Allah… kumpulkan kami dengan hamba-hamba-Mu yang berjiwa hamba,” bermohon jiwa pada pemilik-Nya.

Untuk memulai hari dengan senyuman, tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Apalagi kalau suasana jiwa penuh tetumbuhan yang belum dirapikan. Ya, seperti melihat taman yang belum tertata, begitulah kesan yang hadir. Ketika kita memandang selembar wajah yang terlihat penuh dengan beban.

Apa yang sedang ada dalam pikiran pemilik wajah?,” menanyalah selagi tanya masih bebas menyampaikan tanya.

Karena, setiap tanya pastikan ada jawabannya. Kalaulah jawabannya masih menggantung di langit asa, semoga seiring dengan bertumbuhnya bunga senyuman pada sekeping hati, kita dapat memberikan jawaban lebih awal. Senyumanmu yang begitu mahal, sungguh tak ingin kubeli. Namun, berbagi senyuman untukmu yang menyimpannya semenjak tadi, tentu menjadi pilihan hati. Tersenyumlah lebih awal, menyapalah lebih dahulu. Maka, hangatlah suasana seketika. Ada lembaran wajah di depan sana, yang sedang menunjukkan bagaimana pupuk cita telah berfungsi. Pandanglah matanya yang sedari tadi meredup, karena beratnya himpitan kehidupan. Ada pesan yang ingin ia sampaikan, lewat sorot yang menyampaikan suara. Ada pinta yang ia tumbuhkan, meski tanpa kata yang mengalir dari bibir yang mengatup.

Sekilas, memang terlihat tanpa logika. Namun ketika kita belajar untuk memaknainya, ternyata senyuman bermakna ganda. Yah, selain membuat pemberi senyuman penuh dengan kebahagiaan, pun akan mengalirkan kekuatan pada sesiapapun yang dihinggapinya. Termasuk wajah seorang pemimpin yang kita hadapi dalam kenyataan. Pemimpin yang sedari tadi sedang berdiri dan tegak melayangkan arah pandang ke hadapan. Banyak pikiran yang sedang mengintip dari masa depan. Beliau sedang mengarungi hari-hari yang akan kita jalani. Beliau adalah pemimpin yang sedang menelusuri kemewahan berikutnya. Pemimpin yang sedang mengedip-ngedipkan matanya, seraya menyipitkan sesekali, tentu sedang berpikir sungguh dalam.

Ketahuilah teman, bahwa tidak ada pemimpin yang menginginkan selain kebaikan bagi sesiapa saja yang berada bersamanya. Hanya saja, barangkali cara pandang kita yang belum sampai pada apa yang pemimpin harapkan. Mungkin kita masih terlalu muda untuk mengerti kehidupan. Sedangkan pemimpin, tentu telah jauh berjalan. Beliau tahu lebih dahulu, bagaimana menyikapi keadaan. Beliau yang berpandangan jauh ke depan, sedang menyiapkan secuplik kisah untuk kita. Kita yang saat ini sedang berada di dalam masa kepemimpinan beliau, semoga dapat memetik pesan dari kebersamaan yang sedang tercipta.

Ada masanya kita terlepas dari kesabaran, ada waktunya kita terusik oleh keadaan. Hai! Semuanya semoga dapat menjadi jalan hadirkan ingatan, bahwa sebagai insan, tentu seringkali tersapa godaan. Ada masanya memang, kita mengerlingkan tatapan pula, untuk menata pemikiran menanyainya segera.

Mengapa kita mengalami kondisi yang benar-benar belum kita mengerti, teman?”, tanya suara hati.

Termasuk berhadapan dengan pemimpin yang menurut kita, “Wah! beliau otoriter, ni.”

Mau menang sendiri. Hanya memberikan perintah. Tanpa pernah mengerti, bagaimana kondisi terlebih dahulu. Apakah kita sedang dalam keadaan siap, ataukah belum. Trus, tiba-tiba datang begitu saja, mengalirkan sebait kalimat yang bermaksud agar kita menjalankannya.

Sungguh, tiada hal yang terjadi, tanpa hikmah di dalamnya. Sebait pesan dari seraut wajah, memesankan kita untuk lebih sering terjaga dan dalam kondisi sadar menjalani hari. Ada makna dari waktu yang terus bergulir detik ke detik. Bagaimana bisa, kita menyadari semua, kalau kita belum lagi mengingat fungsi kehadiran di muka bumi? Sekalipun kita mempunyai seorang pemimpin yang bagaimanapun karakternya, maka syukur akan semakin bertambah. Karena berkesempatan jumpa dengan beliau di dunia. Berharap sabar meningkat dari waktu ke waktu, kalau pun ternyata ada yang kita belum mengerti dalam kenyataan kita menjalani.

Sungguh indahnya hidup ini, bersama beliau yang juga menyadari dan mengerti makna kehadiran diri ke dunia ini.

Catatan ini, sebagai bahan muhasabah diri. Dari seorang insan yang sedang meniti hari. Semoga selamat sampai pada cita tertinggi, kita semua kembali bereuni di alam yang berikutnya. Tidak hanya di dunia maya terlebih lagi di dunia ini. Ada alam lain yang sedang menanti kehadiran kita. Siapkah kita dalam mempertanggungjawabkan masa-masa kepemimpinan saat ini, di sana?

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s