Awal Mengenalmu, Engkau Baik


Berkomunikasi

Berkomunikasi

Beberapa masa yang lalu, saya berkenalan dengan seorang teman. Teman yang ternyata bukan teman biasa. Karena setelah perkenalan berlangsung, akhirnya kami menjadi lebih akrab. Keakraban yang kami rangkai dengan berkomunikasi. Komunikasi yang kami bangun dengan kokoh. Karena dengan berkomunikasi, kami dapat saling bertukar informasi. Di sini, saya tidak akan menceritakan siapa beliau. Karena? Karena apa? Karena secret! 😀 Ahaahaa.

Maksudnya, karena saya menjaga privasi beliau, teman yang sangat ku hargai.

Teman, terkadang kita memang tidak menceritakan kepada sesiapa, teman yang sangat berarti bagi kita. Karena, mungkin kita mempunyai alasan yang tepat. Alasan yang kita ciptakan, mengapa kita membuatnya. Alasan yang menjadikan kita aman. Alasan yang menjaga kita agar tenteram dalam menjalani waktu. Alasan yang mungkin menjadi alasan pertama yang kita buat dalam kehidupan. Lalu, dengan penuh kepercayaan, kita menitipkannya pada identitas seorang teman yang kita kenali. Begitu pula yang saya lakukan saat ini. Alasan yang saya ciptakan, karena saya yakin ini adalah yang terbaik. Dengan demikian, teman yang tadi ku kenali, pun terjaga keshaleh/ah-annya.

Namun, pada suatu hari nanti, saya akan memberaikannya dalam catatan yang akan tercipta. Walaupun tidak kini, semoga pada waktu yang lain. Dan semoga menjadi yang terbaik buat kita bersama. Siapakah teman yang saya maksudkan?  Engkaukah?

Siapapun engkau dan dirimu, pasti mempunyai teman, kaan? Nah teman yang saya kenali tersebut pun berkisah tentang hal ini. Ia pun mempunyai teman-teman yang lainnya. Teman yang ia kenali, pun akhirnya ia akrabi. Berikutnya, ia pun mengenalkan temannya yang lain, kepada saya. Akhirnya, kami berkenalan pula. Perkenalan tak terduga dengan temannya teman, tentu sangat mengesankan. Apalagi teman dari teman tersebut, ternyata sehati dengan kita.  Sehati dalam artian seide dan sepemikiran. Sejurusan dalam perjalanan.

Hingga kini, saya dapat merasakan manfaatnya. Saya yang semulanya sedang melangkah, tanpa teman di sisi, kini mempunyai teman. Saya yang sedang celingak-celinguk sendiri di daerah yang baru, kita merasa tidak asing lagi.

Hal ini berlangsung dari hari ke hari. Setelah perkenalan, kamipun lebih sering terlihat bersama. Tidak hanya pada pagi hari. Siang hingga malam hari, kami menjalani waktu bersama. Kami melakukan aktivitas bertemankan senyuman yang lebih sering kami tebarkan.

Ada bahagia bersamamu teman. Karena kebahagiaanmu yang melimpah, mensamudera hari-hari. Tenggelam di dalam  lautan kebahagiaan bersamamu, sudah menjadi hal yang biasa. Karena, setiapkali kesempatan untuk berjumpa, kita dapat saling mengingatkan. Bahwa setiap kita perlu menebarkan kebahagiaan. Tidak hanya salah seorang saja yang membawanya. Namun, semua berkewajiban dalam hal ini.

“Berbagi kebahagiaan, bersama kita bisa!,” begini ikrar yang kami camkan pada relung hati, lebih sering.

Agar kami kembali teringatkan padanya, maka kamipun menuliskannya di sini. Kami nulisnya rame-rame dan saling memberikan masukan. Mengoreksinya juga bareng-bareng. Ai! Serasa dunia ini kita yang punya. Riuh rendah suara alam, menjadi saksi atas kebersamaan kami. Namun, ketika pada suatu waktu salah satu dari aneka ciptaan-Nya tersebut jauh di mata, kami merindukannya. Mentari. Tanpa sinarnya yang menemani kami dalam menjalani waktu, tentu kurang asyik. Saat mendung menguasai alam. Gelap, hampir gulita. Temaram, tak benderang. Seperti layaknya malam tanpa rembulan, remang-remang. Padahal, ketika itu adalah siang.

Walaupun kondisi alam yang sedang berlangsung tidak cerah, namun mentari sedang bersinar kapanpun kami mengharapkan kehadirannya. Ya, karena ada beliau di sisi, teman yang ku hargai. Termasuk temannya teman yang telah ku kenali dari teman yang lebih awal berkenalan denganku. Hingga saat ini pun begitu. Jelas terasa kehadirannya menjadi lebih dekat. Karena teman yang saat ini sedang membersamaiku mengubah perannya sebagai mentari yang menyinari alam. Sehingga, keadaan alam yang bermendung pada mulanya, tidak lagi begitu menjadi perhatian. Mengentaslah ia bersama cemerlang senyuman yang teman tebarkan di sekitaran. Sungguh indahnya persaudaraan, berada di lingkungan yang menghargai arti kebersamaan. Menjadi kenangan tersendiri untuk kita tempelkan pada dinding hari ini. Agar iapun  menyadari tentang kehadirannya yang penuh dengan makna.

Berbeda dengan saat ini, ketika mentari bersinar sungguh cemerlang, tiada teman di sisi. Saya sedang ‘olangan’ bertemankan seberkas lembar catatan untuk saya tulisi. Bertemankan mentari yang tersenyum nun jauh dari angkasa, saya melangkah pada hari ini. Bersama langkah-langkah yang perlu tercipta lagi. Agar ada sejejak dua jejak yang memprasasti. Hingga akhirnya nanti, ia menjadi saksi atas kehadiran diri ini di dunia. Tepatnya pada hari ini.

Hari ini, saya ingin memberaikan apa yang sedang memenuhi ruang pikir. Ruang yang akhir-akhir ini berhiaskan aneka topik, tema dan cerita. Ruang yang seringkali saya usaha untuk menatanya agar ia rapi dan berseri. Karena di dalamnya, saya berada kini. Berada di ruangan yang menjadi titipan sementara. Ruangan yang bukan saya miliki, namun saya sedang memanfaatkannya untuk berteduh. Ruangan yang tidak terlihat. Ruang fikir.

Mungkin kita pernah salah dalam mengenal seorang teman. Ataupun kita pernah mengenal teman yang salah. Namun, bukan berarti kita tidak dapat menemukan kebenaran dari kesalahan saat perkenalan dengan seorang teman. Bukan pula kita tidak dapat memetik kebenaran dari teman yang kita anggap salah. Semoga hanya anggapan kita saja, bahwa teman yang kita kenali adalah orang yang salah. Semoga demikian.

Berhubung apapun yang akan kita sikapkan dalam perbuatan, berurusan dengan pikiran. Maka kita perlu menatanya terlebih dahulu. Agar dapat kita memahami, tentang apa yang sedang kita jalani. Dan sebelumnya, bukan hal demikian yang kita ingini. Orang bijak bilang, berpikir positif.

Begitu pula dengan kebaikan. Seorang yang kita kenal belum baik pada mulanya, ternyata pada akhirnya ia adalah seorang yang baik. Lha, apalagi kalau pada awal perkenalan, kita mengenal seseorang sebagai pribadi yang baik. Dan memang demikian adanya ia, benar-benar baik, ternyata. Bersyukur diri atas keberuntungannya dalam melintasi waktu.

Kita tidak dapat membuang teman yang kita kenal belum baik. Ketika belum ada kebaikan yang dapat kita peroleh darinya. Yah, selama pertemanan, kesalahan demi kesalahannya saja yang kita lihat. Kekeliruan demi kekeliruannya saja yang kita munculkan ke permukaan. Sehingga, rona wajah kita pun berubah setiap kali bertatapan dengan teman tersebut. Padahal kepada teman lainnya yang kita temui, wajah berbeda kita tampakkan. Lalu, dapatkah kita mengerti dan mengenali bagaimana perasaannya teman yang kita anggap belum baik tadi? Ketika ia tahu, bahwa hanya di hadapannya kita memasang wajah yang demikian. Karena, kita tidak pernah tahu, bagaimana baiknya ia yang kita nilai belum baik.

Begitu pula dengan lingkungan. Di manakah engkau berada saat ini, teman? Apakah di lingkungan yang sebelumnya memang engkau harapkan? Ataukah engkau sedang berada pada sebuah tempat yang menurut pikirmu, bukan. Lalu, bagaimana engkau menyikapi apabila pernyataan yang sama menjelajahi ruang pikirmu? Meskipun engkau telah berusaha dengan sepenuhnya untuk menghadirkan pikiran yang positif. Namun tetap saja, engkau mengakui kebenaran dari apa yang sedang engkau pikirkan. Engkau seakan tidak menerima kenyataan. Engkau inginkan berangkat saja, pergi dan terbang untuk merasakan kebebasan. Engkau ingin menjauh, dan tidak kembali lagi ke lokasi tersebut. Engkau ingin berpindah, untuk mengunjungi tempat yang lain.

Ketika suasana yang sama benar-benar engkau alami, sesungguhnya bukanlah lingkungan yang salah. Bukan lingkungan tersebut tidak tepat untukmu. Bukan pula pikirmu yang salah, ingin meninggalkannya. Bukan, sekali lagi saya mengatakan bukan. Namun, sesungguhnya, engkau sedang jenuh. Ya, ketika kondisi pikirmu tiba-tiba berubah. Ia tidak seperti biasanya. Engkau yang sebelumnya enjoy your life, happy where you are at there, but sometime, you feel bored. So boring and think differently. 

Ketika engkau benar-benar mengalami kondisi yang demikian, berarti engkau sedang berpikir. Engkau sedang mengalami perubahan. Engkau mulai menemui kenaikan pola pikir. Dan pada kondisi yang sama, perlu adanya input yang membangun, padamu. Ya, padamu. Untukmu yang sedang jenuh, perlu memperoleh asupan gizi terbaik, buat pikiranmu. Bawalah ia ke wilayah yang baru. Ajaklah pikirmu menjelajahi alam lain yang berbeda dari biasanya. Kunjungilah daerah baru yang mungkin saja, memang belum pernah terpikirkan olehmu. Bergeraklah. Untuk memenuhi apa yang sedang engkau pikirkan. Sekalipun pikiranmu inginkan berkeliling ke seluruh pelosok dunia, mungkin. Ataukah ia ingin mengunjungi hijaunya pemandangan alam. Lokasi yang benar-benar engkau ingin kunjungi, datangilah.

Mengajak beberapa orang teman untuk turut serta denganmu, adalah pilihan. Ya, tentu saja dengan teman-teman yang sebelumnya telah engkau kenali. Teman-teman tersebut juga dapat memberikan masukan padamu. Tentang beraneka lokasi yang sebelumnya pernah ia kunjungi. Sedangkan engkau belum pernah ke sana. Aturlah rencana sedemikian rupa, lalu saksikan apa yang akan terjadi. Engkau akan menemukan kehidupanmu yang baru, sekembali dari lokasi-lokasi yang engkau datangi. Dengan demikian, hidupmu akan menjadi lebih hidup. Yakinlah.

Saya pun seringkali mempraktikkan hal ini, sebelumnya. Ketika kejenuhan melingkupi ruang pikiran. Saat aktivitas sehari-hari mengalihkan perhatian sedemikian rupa. Ia tenggelam di dalamnya untuk beberapa lama. Padahal, kondisinya tidak selalu prima. Ia yang kita pakai terus-terusan, akan meminta hal berbeda pada lain waktu. Berpandai-pandailah dalam menyikapi keadaan walau bagaimanapun adanya.

***

Pada saat perkenalan dengan teman yang saya sampaikan pada awal catatan kali ini, adalah di wilayah yang baru. Ketika itu, saya sedang melihat-lihat sekitar. Di daerah baru yang saya kunjungi hanya beberapa kali saja. Dan kunjungan saya saat itu, memang untuk yang ke sekian kalinya. Daerah belantara, rimba yang  penuh dengan pepohonan. Sedangkan jalan-jalan yang membentang, sungguh banyaknya. Persimpangan akan terlihat lebih sering, setiapkali kita melangkah. Ada saja jalan yang siap untuk kita tempuhi. Di sana, banyak orang sedang beraktivitas. Ada yang sedang bercakap-cakap, bersenda gurau dengan lepasnya, tersenyum, tertawa, pun ada yang sedang dalam duka. Banyak ekspresi yang terlihat, terdengar, pun hanya dapat dirasakan. Beraneka tampilan sedang menunjukkan peragaan. Ada yang mengesankan, menghibur, pun memesankan. Ada yang menitipkan harapan, menuangkan perasaan, dan lain sebagainya. Kesibukan yang komplit ada di dalamnya.

Saat anak-anak kecil asyik dengan permainannya, orang dewasa pun tidak mau kalah. Mereka juga mempunyai permainan. Saat para remaja bergembira dengan teman-teman belianya, para orang tua pun lebih aktif dalam menunjukkan perannya. Saat orang tua-tua sibuk memberikan petuah, nasihat dan pemahaman, ada yang memperhatikan, pun tidak jarang yang mengabaikan. Ketika pada suatu hari saya mendatangi wilayah tersebut, mau tidak mau sayapun menjalani waktu di dalamnya. Hingga saat ini, pun begitu. Di dunia maya, namanya.

Ketika sedang berada di negeri ini, kita dapat mengunjungi berbagai negeri yang ingin kita temui. Karena saat berada di dalamnya, banyak pilihan yang menawarkan bantuan. Saya yang ingin berada di sekitaran Big Wall di China, baru dapat memandangnya dari kejauhan. Ai!  Masih ada harapan untuk kita bertemuan, ya Chin…

😀

***

Memang ada saatnya, kita ingin berada pada negeri yang baru. Kita ingin menjalani waktu dengan suasana yang baru. Tidak dengan kondisi yang itu-itu saja. Karena dengan demikian, kita dapat merasakan kehidupan yang lebih hidup.

Memperbarui pikiran, adalah salah satu cara untuk dapat menemukan solusi. Meskipun tidak mudah, memang. Namun, selagi kita masih hidup, dengan napas yang mengalir ke seluruh anggota tubuh, maka kita dapat melakukannya. Kita dapat berpikir dan terus berpikir.  Namun, jangan hanya berpikir doang. Kita perlu membuktikannya dalam kenyataan. Agar, apa yang kita pikirkan tersebut, dapat mewujud dan berbentuk. Nah! Pikiran seperti apakah yang sedang engkau ciptakan saat ini, teman?  Kalau saya boleh mengetahuinya, bolehlah engkau mencoretkannya pada ujung catatan ini. Namun kalo ga boleh, silakan menuliskannya pada lembaran agenda kehidupanmu saja. Karena, apa yang engkau pikirkan saat ini, merupakan salah satu jalan yang dapat engkau tempuh menuju apa yang engkau harapkan. Ketika pada suatu saat jenuh menghadang pikirmu. Ya, tidak dapat kita pungkiri, akan hal ini.

Entah kapan ini bermula. Saya juga tidak mengetahuinya. Ya, saat saya merasakan bahwa kehidupan ini ;terkadang memang; tak ada logika. Saat bermunculan kehendak di dalam diri, untuk meneruskan kehidupan. Ia ingin survive. Ia ingin melakukan apa yang sangat ia inginkan untuk terwujud. Ia berjuang mengajak semesta untuk membantunya dalam berjuang. Ketika itu, saya seakan kehilangan daya tahan. Banyak harapan yang bermunculan, memenuhi ruang pikiran. Ia ingin meruah ke permukaan, lalu memberikan senyuman satu persatu. Harapan demi harapan itu,  ingin membuktikan bahwa ia ada. Ia tidak hanya ilusi saja. Nah! Pada kondisi demikian, ada seberkas sinar yang kembali mengingatkan diri, bahwa ia tidak boleh terbuai oleh keadaan. Ingatkanku pada sebuah lirik yang memesankan:

Hijjaz-Fatamorgana

Sudah menjadi lumrah kehidupan di dunia
Cabaran dan dugaan mendewasakan usia
Rintangan dilalui tambah pengalaman diri
Sudah sunnah ketetapan ilahi

Deras arus dunia menghanyutkan yang terleka
Indah fatamorgana melalaikan menipu daya
Dikejar dicintai bak bayangan tak bertepi
Tiada sudahnya dunia yang dicari

Begitu indah dunia siapa pun tergoda
Harta pangkat dan wanita melemahkan jiwa
Tanpa iman dalam hati kita kan dikuasai
Syaitan nafsu dalam diri musuh yang tersembunyi

Pulanglah kepada Tuhan
Cahaya kehidupan
Keimanan ketaqwaan kepadanya
Senjata utama

Sabar menempuh jalan tetapkan iman di hati
Yakinkan janji tuhan syurga yang sedia menanti
Imanlah penyelamat dunia penuh pancaroba
Hidup akhirat kita kekal selamanya

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata kepada putranya Imam Hasan “Janganlah engkau mendorong perempuan untuk melakukan pekerjaan di luar kemampuannya. Maka hal yang demikian lebih baik bagi keadaannya dan lebih menenangkan hatinya serta lebih menjaga kecantikannya. Maka sesungguhnya perempuan adalah lembut seperti bunga dan bukan seorang yang gagah.”

🙂 🙂 🙂

videokeman mp3
Matahariku – Agnes Monica Song Lyrics


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s