Have the Game in Hands


Prinsip yang meneguhkan, keyakinan yang menguatkan. Teringat tentang prinsip, mengupas tentang keyakinan, tentu semua kita mempunyainya. Lalu, apakah prinsip yang engkau jaga selalu, teman? Bagaimana pula kabarnya dengan keyakinanmu yang menguatkanmu? Seberapa jauh engkau menempatkannya? Ataukah, keduanya sedang berada sangat dekat denganmu hingga saat ini.

Berbicara tentang prinsip dan keyakinan, saya teringat akan sebuah kata bernama aktivitas. Aktivitas yang semua kita mempunyainya pula. Sebagaimana halnya keyakinan dan prinsip yang melekat pada pribadi kita. Yah. Bersamanya, kita menempuh waktu dengan sebaik-baik. Bersama harapan untuk menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu. Tidak hanya kebaikan pada hari ini dan saat ini saja. Namun, kita senantiasa mendamba ia menyelingi alur perjalanan yang akan kita tempuh.

Aktivitas, adalah kegiatan. Kegiatan adalah perbuatan. Meskipun tidak selamanya kegiatan adalah aktivitas, pun tidak selalu perbuatan menjadi kegiatan. Karena masing-masing mempunyai makna. Makna yang hanya dapat kita ketahui setelah berkecimpung langsung di dalamnya.

Kegiatan, adalah sesuatu yang kita kerjakan. Apa yang kita lakukan, berkesinambungan. Kegiatan yang meminta waktu kita. Kegiatan yang membutuhkan kehadiran kita. Walau pada kenyataan, tanpa peran yang kita berikan, kegiatan akan terus berlangsung, berlanjut dan berjalan. Yah, begitu. Dalam artian, kegiatan tersebut berasal dari pihak eksternal di luar diri kita. Selain itu ada pula kegiatan yang kita ciptakan. Dengan demikian, kegiatan mempunyai makna yang lebih luas. Lalu, kapan terakhir kali engkau melakukan kegiatan, teman? Termasuk kegiatan bersama dengan pihak eksternal, di luar sana. Kapan ya? (berpikirku sejenak, menyelami lautan waktu).

Terlibat di dalam kegiatan, memang sangat menyenangkan. Apalagi kalau kita menjadi penyelenggara atas kegiatan tersebut. Lalu, bagaimana kalau kegiatan yang kita lakukan berhubungan dengan pihak eksternal? Tentang kegiatan yang meminta waktu kita untuk membersamai. Kebersamaan yang menciptakan ruang berikutnya dalam mencipta kegiatan. Silaturrahim.

Pada suatu masa dalam kehidupan, kita dapat lebih sering melakukan kegiatan. Dalam prosesnya, tentu saja ada berbagai pihak yang terlibat. Apalagi ketika kita berkegiatan dengan teman-teman yang baru kita temui. Tentu menyisakan kenangan dalam menyusun kisah perjalanan diri. Oia, bagaimana pula kalau kegiatan yang kita lakukan bersama dengan teman-teman yang sebelumnya sudah kita bersamai? Aha! Akan semakin terasa kualitas pertemuan. Akan mengungkit jiwa untuk meluruhkan segala perbedaan. Begitu pula dengan ingatan, ia akan seringkali menunjukkan kehadirannya. Bahwa ia ada.

Kegiatan, dapat kita lakukan kapan saja dan di mana saja. Apakah kita melakukannya bersama dengan teman-teman di lingkungan tempat tinggal yang berlokasi sama. Ataukah melakukan kegiatan di tempat yang berbeda. Dalam melakukan kegiatan, seringkali kita mengunjungi lain wilayah dan daerah yang tidak sama. Karena, kita perlu melanjutkan perjalanan. Kita ingin merasakan bagaimana cuaca dan iklim pada wilayah yang baru, tersebut. Dengan demikian, akan ada warna berikutnya yang menempel pada kanvas hari. Kita bersama, melukis senyuman.

Beberapa waktu yang lalu, saya beserta teman-teman pun demikian. Kami berkegiatan bareng-bareng. Di lokasi yang satu, kami bersama. Untuk mencipta senyuman terbaru, merangkai harapan bersama. Yah, di dalamnya ada motivator yang memandu kegiatan. Motivator yang diangkat sebelum kegiatan di mulai. Motivator yang kehadirannya untuk menumbuhkan motivasi bagi para pelaksana kegiatan. Motivator yang berperan ganda. Waih! Peran ganda, maksudnya adalah, beliau sebagai pelaksana, pun penyelenggara, turut berperan sebagai panitia. Ah, sama aja yah?

Sungguh bagus! Pertama mengetahui akan hal ini, saya bertanya sendiri, “ Siapakah yang akan menjadi motivatorku, nanti?”.  Pertanyaan yang hadir, beberapa saat sebelum akhirnya, moderator membacakan sebuah nama untuk kami. Termasuk saya, akan dimotivatori oleh seseorang. Who is she?

 

Kami, saya dengan beberapa orang teman yang lain berada dalam sebuah grup. Dalam satu kelompok, bernama unik. Yah! Nama yang mengesankan, memesankan kami, khususnya saya. Tidak lama berselang, moderator menyampaikan sebuah nama, tertuju buat kami. Seraya melayangkan tatapan ke arah sesosok pribadi, beliau perempuan.

Nova Nuryasa, begini nama beliau. Saya yang berada jauh dari perempuan energik ini, belum dapat menatap wajah beliau secara langsung, ketika itu. Berhubung, kami sedang tidak bertatapan. Hanya saja saya membayangkan figur yang mempunyai semangat berapi-api, penuh dengan motivasi. Lalu, sedang tersenyum ketika berhadapan dengan kami. Imajinasipun kambuh ketika itu. Dalam harapan, pribadi yang bernama Teh Nova, begini saya menyapa beliau. Adalah seorang yang baik. Nah! Seiring dengan berjalannya waktu, detik ke menit terus melaju. Tidak banyak kesempatan yang dapat kami bersamai. Hanya menghitung dentang jam di dinding, tentu bukanlah sebuah kegiatan yang bermanfaat, kiranya. Maka, kamipun berkenalan satu persatu. Ketika akhirnya, Teh Nova tiba-tiba muncul di hadapan kami dengan jilbab ungu, ketika itu. Sungguh anggun dan penuh dengan energi. Ada nuansa haru ketika itu. Sosok yang mengingatkanku, pada teman yang ku kenali pula pada masa yang lalu. Sekilas, Teh Nova mirip dengan Dice, teman sekolahku dulu. Dice Diveyanti, bagaimana kabar dirimu, friend?

Hampir seharian kami bersama. Walaupun sebenarnya, tatap muka hanya berlangsung beberapa jam saja. Ya, karena ada kegiatan lain yang menyelingi kebersamaan kami pada hari yang sama. Teh Nova yang sedang berada di depan kami, sempat ku abadikan potretnya. Yah! :D  Alhamdulillah…

Kita Bisa

Kita Bisa

“Hai, Teh Nova…,” sapa jiwaku ketika itu. Namun, beliau tidak berpaling ke arahku. Karena sedang berkosentrasi menyimak moderator yang sedang menyampaikan ‘informasi’.

Beberapa hari telah berlalu, semenjak kegiatan berlangsung. Namun, masih ada usiaku. Akhirnya, kami kembali dapat bertemu, walaupun lewat huruf-huruf yang terkirim. Melalui alat komunikasi, kami bertemu. Bersapa, saling menanya. Tentang bagaimana kabarmu, wahai temanku? Walaupun jauh di mata, kita dapat seringkali bersua, dalam ingatan yang menguat.

Hari ke hari, terus melaju. Maju, dan menyisakan rindu. Bagi hati-hati yang sempat bertemu, ia akan seringkali mengurainya dalam denting waktu. Baik pagi, siang, sore, malam, hingga dini hari sebelum fajar menyingsing. Pada berbagai kesempatan, mereka inginkan bersama selalu, untuk memberai rasa yang seringkali hadir semaunya. Syahdu, mengingatkan semua. Ketika jiwa mengharapkan pertemuan, namun raga belum mengizinkan. Harapan kita kembali mencipta pertemuan, meskipun dari balik tabir yang membatasi. Selalu, ada harapan. Harapan yang menguatkan. Harapan yang mendukung keyakinan, akan janji-Nya. Allah Maha Tahu Yang sebenarnya kita butuhkan. Ya, semoga kita dapat memahami apa Mau-Nya. Dengan demikian, akan mengalir deras kesejukan di relung qalbu, atas segala yang luput dan kita sangat menginginkan sebelumnya. Lalu, bergemuruh syukur memenuhi setiap sudutnya, untuk mengungkapkan kebahagiaan atas terpenuhinya keinginan. Karena tidak selamanya keinginan kita adalah kebutuhan. Dan kalau ternyata keinginan bukan hanya inginnya kita, tersenyumlah lebih indah, bersamanya. Karena engkau benar-benar membutuhkannya. Allah Maha Tahu.

Lama waktu bergulir, terus ia mengalir. Sehari dua hari, berbulan-bulan masa berjalan. Tahun pun berganti satu persatu. Berabad-abad lamanya masa berlangsung. Setahun dua tahun bukanlah penentu eratnya persahabatan. Apalagi abad-abad yang belum tentu semua kita menempuhi umur selama itu. Ya, setiap detiknya saja yang perlu kita tahu, sudah sejauh apa kita memanfaatkannya? Dan seberapa manfaat yang kita sampaikan di dalamnya? Detik yang menguatkan hitungan tahun, detik yang mengeratkan jalinan hari. Hingga tibalah kita pada hari ini.  Sudah berapa lamakah kita menjalani waktu?  Dan apa sajakah yang telah kita titipkan padanya yang akan segera berlalu?

Hari ini, saat masih pagi. Inginku menitipkan bait pesan dari sahabat. Pesan yang menitipkan sebuah prinsip, berisi keyakinan yang menguatkan. Pesan tersebut datangnya dari seorang teman yang belum lama ku kenali. Baru satu kali kita bersua, dan itupun dari jauh. Hohoo… Teh Nova, masih ingatkah engkau dengan diriku? Engkau yang menjadi motivator kelompok, akan selamanya memotivatori kami. Keep in touch, build communication, share the newest experience, and get our best future, together.

“Nova Bestfriend” adalah nama yang tertulis pada data kontak beliau, di hapeku. Sebuah data yang tercipta setelah beliau mengirimkan pesan, untuk ke sekian kalinya. Pesan dalam rangka berkegiatan, “Assalamu’alaikum… teteh, yang bisa kumpul hari ini siapa aja? Biar tempatnya dikondisikan, hehe ^^. Nuhun, maaf ganggu.”

Sebuah pesan singkat pada pagi hari. Pagi yang sejuk. Walaupun mentari telah tersenyum dengan mewahnya, namun hari ini terlihat syahdu. Ada nuansa berbeda dengan diriku. Nuansa yang tidak sama dengan biasanya. Walaupun begitu, hari ini masih ada nafas yang membersamai. Ada keyakinan yang terhidupkan selalu. Keyakinan dan prinsip yang tercipta semendjak dahulu. Keyakinan yang menguatkanku. Prinsip yang meneguhkan. Ini kisahku merangkai waktu. Lalu, bagaimana denganmu, teman?

“Wa’alaikumsalam,  Teh Novaa… 😀 inginnya ketemu lagi. Tapi maaf, sekarang Yn ga bisa ikut Teh. Semoga lain waktu masih ada kesempatan jumpa. Titip salam buat teman-teman, terima kasih. –Yani-“, pesan terkirim. Sukses. Selalu begitu. Yess!

Tidak berapa lama kemudian, berdering hapeku dengan nada khasnya. Ia sedang menyampaikan sebuah pesan singkat dari sahabat. Sahabatku. Terima kasih atas motivasimu. Walaupun tak dapat kulihat senyuman itu, namun ia sedang menemuiku dengan ragamu.

“Ok, siap2… Yang penting jaga kesehatan ya. Biar ga sakit, soalnya lagi rawan. Hehe. Oia, Teh Yani teh rumahnya di mana?,” tanya beliau.

Ada firasatkah yang menyentuh harimu, teman? Ataukah hanya perasaanku saja yang mengungkapkan tanya? Sungguh, tiada yang berlalu tanpa makna. Semoga kita senantiasa dalam limpahan kesehatan berkepanjangan. Aamiin. Ku balas pesan dengan sebait doa, “InsyaALLAH, semoga kita senantiasa berlimpah kesehatan. Teh Nova juga yah. Miss you, karena ALLAH. Yn sekarang tinggalnya di Cikutra, Teh. Dari gedung wakaf deket banget. Tinggal jalan. Hehe. ^^,” anginpun membawa pesan pada beliau sahabat baikku. Adakah engkau menunggu jawabku?

Dalam yakinku, kita bertemu karena Allah, kita bersama karena-Nya. Pun tentang ingatan yang hadir kapan saja. Karena Allah, semua terjadi, semoga kita memahami. Dan lebih sering mengembalikan segala kepada-Nya. Atas apa yang kita kehendaki, maupun yang sebaliknya. Sungguh, sangat mudah mengingati-Nya. Lalu, mengapa kita seringkali melupakan-Nya. Astaghfirullaahal’adziim. Mohon ampunlah wahai diri. Engkau hamba-Nya, tentu sangat butuh kepada-Nya.  Kebutuhan tertinggi seorang hamba adalah Rabb-nya.

“Cukupkan kami dengan apapun Pemberian-Mu, Ya Allah… Tumbuhkan syukur di dalam jiwa kami, atas karunia-Mu yang melimpah. Bukalah pintu hati kami selalu, untuk dapat menemukan hikmah dalam berbagai keadaan. Termasuk saat ini. Penuhi ruang hati kami dengan kesabaran, banyak-banyakin… luaskan, lebarkan lagi ruang tersebut. Aamiin ya Rabbal’alamiin”.

“Oia, yang rumahnya deket itu… Alhamdulillah, atuh.. Ya sudah sekarang mah ayo kita beres-beres rumah,” jawab teh Nova dari seberang sana. Waih! So sweetde. Seharian kita bakal berbenah. Hari-hari berikutnya pun akan begitu. Semoga dapat tercipta rumah impian kita yang sesungguhnya. Rumah yang tenang, adem dan ayem. Bertaburan lantunan bacaan kitab suci Al-Quran di dalamnya. Inilah rumah impian yang sebelumnya singgah di ruang pikirku. Dan kini… ia masih serasa mimpi. Benar-benar terjadi.  Subhanallah.

Lalu, bagaimana pula dengan ingatan, cita, dan harapan yang saat ini sedang kita bangun? Kita pupuk, kira rawat sedemikian rupa. Semoga ia menjadi nyata. Kelak, terjawab semua tanya, lalu tersenyumlah lebih indah, wahai my bestfriend. Bersama kita bisa. Tuk rengkuh asa yang terlanjur tinggi kita sangkutkan. Meskipun untuk beberapa menit, kita perlu menyapanya lebih sering. Agar ia dapat menjejak di hadapan mata. Rumah dengan ruang <mushala> di dalamnya. Khusus. This is one of my specific dream for next home sweet home.

Berkegiatan di lingkungan yang ramah, tentu kita suka. Mencipta lingkungan yang demikian, tentu mudah apabila kita bekerjasama dalam menciptanya. Siapa yang tidak akan betah berlama-lama di lokasi yang ia sangat suka berada di sana? Siapa yang tak bahagia dan ceria, ketika bersama dengan teman baik yang senantiasa mengingatkannya? Siapa pula, yang tidak berkesan kehadirannya, apabila memang ia didamba? Lalu, siapa pula yang tidak mampu menjadi teman terbaik, kalau memang ia mau?

Teman baik. Teman terbaik. Kita akan sangat mudah menghadirkan ingatan kepada teman yang terbaik, kalau kita menemukan ciri khas yang ada pada pribadinya. Apakah tentang kebiasaannya? Apakah dari nada suaranya? Kita juga dapat menentukan kebaikannya, dari apa yang ia lakukan. Lalu, kita mencantumkan namanya menjadi salah seorang teman baik diantara teman-teman yang kita kenal kebaikannya.

Begitu pula saat berkegiatan, dalam menjalankan aktivitas. Baik secara langsung ataupun tidak langsung, kita akan berjumpa dengan teman-teman. Lalu, aktivitas seperti apakah yang engkau lakukan bersama dengan teman-teman yang engkau jumpai? Bagaimana engkau meneguhkan prinsip yang sebelumnya engkau bangun? Bagaimana engkau memelihara keyakinan yang membuatmu menjadi kuat? Bahkan kekuatan dalam keyakinanmu akan semakin bertambah saat engkau bertemu dengan teman-teman yang membuat prinsipmu semakin mantab. Melalui hasil interaksi dengan teman-teman selama engkau beraktivitas, keyakinanmu semakin kuat. Maka bersyukurlah atas karunia tersebut. Tidak semua orang mempunyai keberuntungan sebagaimana beruntungnya engkau. Karena keberuntungan kita dapat ditentukan dari seberapa banyak kita bersyukur saat bersama keuntungan tersebut.

Sungguh, tidak mudah menemukan teman terbaik. Namun, kalau teman tersebut kita temukan, adalah menjaganya selalu menjadi aktivitas yang melegakan. Walaupun kaki belum lagi dapat melangkah dengan optimal, untuk menemuinya. Meskipun raga belum lagi mempunyai kekuatan untuk mengantar hadiah sebagai ungkapan terima kasih. Namun masih ada yang dapat kita upaya, temuilah ia dalam keheningan. Saat tiada suara yang menyelingi. Ketika alam turut bersatu padu untuk memberikan dukungan atas upaya yang kita lakukan. Berailah semua dalam bait-bait doa. InsyaALLAH, yang jauh akan semakin dekat. Bahkan tak berjarak meski sedepa, dari ingatan. Indahnya merantai ukhuwah karena Allah semata.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s