Free-Dy


Sebelum Free-Dy Berlalu

Sebelum Free-Dy Berlalu

Lihatlah kami. Kami adalah sekumpulan kertas. Hari ini, penata kami akan melakukan prosesi pemindahan barang-barang ke lokasi baru. Termasuk kami. Lokasi tersebut belum pernah kami tempati. Sehingga sangat besar keinginan kami untuk segera sampai di sana. Tempat yang akan kami jadikan untuk bernaung pada masa-masa yang berikutnya. Kemanakah kami akan dipindahkan?

Kami. Kami belum tahu, pasti. Namun, beberapa hari yang lalu kami pernah mendengar kabar, bahwa kami akan dijual saja?? Haaaaa…? Berarti kami akan dikomersialkan, dong.  Sampai saat ini, tentu saja masih kabar burung dan belum terbukti kebenarannya. Walaupun kami mendengarkan langsung dari sang juragan. Namun, kami masih ingin membuktikan kebenarannya.  Sebelum fakta menunjukkan data yang dapat dipahami, maka kami belum akan percaya. Karena, sebagai insan, beliau tentu dapat berubah pikiran, sesuai dengan kemauan. Oleh karena itu, yuks, mari. Ikuti perjalanan kami selanjutnya, untuk lebih jelas.

Btw, siapa kami? Xixiii….😀

Kami. Kami adalah tumpukan kertas. Kami adalah lembaran yang sebelumnya bening, bersih, putih dan suci. Namun kami telah mengalami masa-masa yang penuh dengan uji. Kami sempat mengalami bagaimana rasanya kepanasan, berada di antara mesin-mesin yang menggiling tubuh lembut kami. Ya, dari serbuk kayu, kami berasal. Namun kini, kami telah berubah nama, menjadi kertas. Kertas yang bermanfaat. Kami lebih berarti dari waktu ke waktu. Sehingga kami menjadi sangat berbahagia sampai saat ini. Kebahagiaan yang tidak lagi dapat kami ucapkan dengan kata-kata. Meskipun banyak orang berusaha untuk mencoreti diri ini dengan taburan ilmu. Namun, kami masih merasa bukan siapa-siapa. Karena kami sebelumnya hanyalah serbuk yang mengampas. Selain kebahagiaan yang melekat, kami merasa sangat beruntung. Kami dapat pula berada di sini, saat ini. Untuk berkisah tentang perjalanan diri. Walaupun begini adanya kami, lembaran kertas yang tidak lagi kosong.

Kami. Meskipun tubuh kami berwarna putih, namun kini kami tidak lagi bening. Yah, karena ada beberapa bagian dari anggota tubuh kami yang sudah tak lagi seperti sediakala. Walaupun begitu, kami bangga menjadi diri kami sendiri. Karena keberadaan kami, bermakna.

Kami. Sebelumnya, kami tidak tahu apa-apa. Kami berasal dari hutan yang belantara. Kami terpencil dari keramaian kota. Kami berada di antara semak-semak yang belukar. Kami bertemankan makhluk buas. Kami menjadi tempat mereka berlindung dan bernaung. Karena batang kami yang kokoh, menjadi jalan yang meneduhkan alam. Kami awalnya batangan pohon.

 Pada suatu hari, ada yang melihat kami dari kejauhan. Ada yang tertarik dengan tubuh kami yang tinggi semampai pun berisi. Kami gemuk, penuh gizi. Sedangkan pada batang kami, ada lapisan-lapisan yang saling menguatkan. Yah, bagian terdalam diri kami, itulah yang mereka butuhkan. Mereka meneliti dan mengamati dengan sebaik-baiknya. Apakah benar, kami layak untuk mereka tebang dan bawa ke perkotaan?  Ketika itu, kami saling berpandangan. Dengan sesama teman yang sedang bertumbuh, kami tebarkan senyuman semampu kami. Lambaikan dedaunan perlambang sambutan, bahwa kami sangat senang dengan kedatangan para pengamat. Kami senang ada yang mengunjungi. Kamilah pohon yang sudah berusia. Kami kuat, kokoh dan teguh. Itulah kami.

 Kami. Kami yang terpilih, akhirnya mengalami masa karantina. Kami ditebang dengan hati-hati. Agar, tidak ada bagian tubuh kami yang cedera. Mereka inginkan kami utuh sempurna, sesuai dengan apa yang mereka lihat sebelumnya. Kami sangat berharga.

Tunggu, tunggu, kami sedang menelusuri sejarah perjalanan diri. Bolehkan?

 Kami. Untuk beberapa lama, kami menempuhi banyak proses. Mulai dari masa tebang dan penelitian, masa pengangkutan dan pembelahan diri. Ai! Sungguh! Ketika badan kami dibentuk sesuai dengan selera, sesungguhnya kami tidak tega. Kami benar-benar tersiksa ketika itu. Awalnya kami tidak mampu menerima kenyataan. Namun, apa boleh buat, masa tersebut perlu kami jalani. Untuk menjadi diri kami yang lebih bermanfaat. Karena, kalau tetap dengan postur perkasa yang kami bangga-banggakan, kami tidak akan berharga mahal. Oleh karena itu, masa tersebut pun kami tempuh dengan meninggalkan kisah yang penuh hikmah.

 Kami belajar untuk menjadi pribadi yang sabar. Kami berusaha untuk kembali mengembangkan senyuman. Pada suatu kesempatan, kami menatap ke arah langit, untuk bertanya pada bintang-bintang.

 “Mengapa oh mengapa? Kami tercipta sebagai diri kami. Mengapa kami tak bintang yang terlihat indah? Mengapa kami bukan mentari yang bersinar dengan cemerlang? Mengapa kami bukan awan gemawan yang seringkali berarakan ke berbagai arah? Mengapa kami tak menjadi angin saja? Angin yang menyejukkan. Mengapa? Mengapa oh mengapa, kami tak mentanah saja. Rela terinjak-injak dan tersimpan di permukaan bumi. Mengapa kami mesti mengalami masa-masa yang menyakitkan ini?”

 Kami sungguh ingin tahu, akan hal ini. Sehingga pertanyaan demi pertanyaan seringkali menanyai. Ia hadir, saat kami belum menyadari. Sedang di mana kami saat ini? Buat apa kami begini?

 Kami.  Terluka tak berdarah, teriris tak perih. Kami memang tidak mempunyai rasa, hati dan pikiran. Namun kami pun hamba Tuhan, yang tercipta dengan kemanfaatan. Kami memang bukan benda yang dapat bergerak dan berjalan, namun kami hanya akan berpindah setelah ada yang meraih pergelangan.

 Kami kini, masih seperti yang dulu. Kami tetap belum dapat bergerak semau yang kami inginkan. Kami patuh akan keadaan, kami pasrah pada takdir.  Kami sekarang, sedang bercengkerama dengan teman-teman yang lainnya. Teman-teman yang sebelumnya pun mengalami kisah senada. Kami gagah hari ini, bukan tiba-tiba. Kami putih, bersinar dan cemerlang, bukan karena kami memolesinya dengan aneka perhiasan. Namun, kami menjadi begini karena ada yang sedang menata penampilan ini. Kami hanya menyaksikan, menjalani dan memerankan. Atas perintah yang tertuju kepada kami. Sungguh! Inilah perjalanan kami. Kami yang sedang bersenyuman, penuh dengan ketakjuban! Atas apa yang terjadi.

 Kami. Sekiranya ada yang mau merengkuhkan jemarinya ke arah kami untuk menyalami, tentu kami sambut dengan gembira. Karena tingginya syukur kami, atas keberadaan kami saat ini. Walaupun kami dikomersialkan, kami akan dipindahkan? Ai!

 Kami.  Hanya tumpukan lembaran yang tercoreti. Kini pun kami sudah akan dianggap tak berarti. Kami yang selama ini mereka baca dan pelajari, kini akan diasingkan ke lain negeri. Meskipun begitu, kami masih terima fakta ini. Kami masih berusaha mencari makna dan pelajaran. Lalu bertanya sekali lagi, “Ada apa dengan semua ini?”

 Kami. Kami terkadang bebas digunakan untuk keperluan apa saja. Apalagi ketika kami hanya dalam bentuk lembaran begini. Kami yang tak menyatu, kami yang terberai. Kami terkadang digunakan sebagai coretan tak menentu. Lembaran kami yang awalnya polos pun penuh dengan huruf-huruf. Kadangkala ada yang menulisi kami rapi dan tertata. Namun seringkali kami mengalami masa-masa tanpa makna. Tumpahkan segalanya pada diri kami, sebebasnya.

 Kini, ada yang menyebut kami diari bebas. Akhirnyaaaaa. Ai! Hal itu yang dilakukan oleh sang penata yang akan memindahkan kami? Ya, free diary. Itulah nama baru kami. Beliau memanggil kami, Free-Dy. Panggilan yang kami akui, sungguh sebuah penghormatan. Kami merasa lebih dihargai beberapa tingkat. Kami yang kini menjadi lebih bersemangat dalam mengabdi. Karena kehadiran kami saat ini, bahkan sangat bermanfaat. Biarlah kami dicoret dengan semaunya. Untuk melepas segala beban yang sang penata kami alami. Biarlah ia sampaikan suara isi hatinya terhadap kami, sebagian. Walaupun memang tidak seluruhnya. Karena lebih banyak bagian akan ia serahkan sepenuhnya, kepada Pemilik dirinya, yang kami tahu sungguh Pemurah. Semoga beliau dapat berjumpa dengan-Nya dalam sebaik-baik akhir kehidupan. Aamiin.

 Kami. Kumpulan kertas berdebu, yang kini tak lagi kuyu. Kami sekarang segar, cerah dan menceriakan. Beliau yang semula sedang menangis tergugu, merengkuh salah satu lembar kami yang terpisah. Kemudian menulisinya satu persatu. Kami tertempeli lagi dengan huruf-huruf yang menyatu. Pernah pada suatu waktu, kami terheran-heran dengan apa yang ia laku. Keheranan yang membuat kami segera bangkit dari duduk. Terperanjat. Terkejut dan tidak ingin berlalu, untuk melewatkan. Saat sekembali dari sebuah tempat, beliau sang penata kami, tersenyum dan bersenandung dududuuuu…. syalalaaaaa…, tampaknya beliau sedang berbahagia.

 “Ada apa gerangan dengan beliau yang sedang bersiul-siul riang?,” kami bertabur kesanksian.

 Kami kedip-kedipkan mata beberapa kali. Kami telusuri hingga ke ujung langkah-langkah kaki yang beliau ayunkan. Pertama kali beliau tersenyum pada kami.  Bahagianya, senang hati kami tiada terkira. Kami direngkuhnya. Seraya tersenyum, beliau sampaikan sebait pesan buat kami.

 “Engkau tak jadi ku jual, untuk saat ini. Apalagi untuk dibuang percuma. Karena engkau masih berguna, sayang,” seraya menepis beberapa bagian diri kami yang berdebu.

 Beliau memindahkan tumpukan kami dengan sangat hati-hati. Menggeser kami yang saat ini mempunyai tinggi hampir satu meter. Sedangkan berat kami, tidak sampai dalam hitungan lima kilogram. Sungguh ringan, apabila dibandingkan dengan berat kami pada zaman dahulu kala. Ya, saat kami masih di hutan. Betapa ringannya kami setelah mengalami berbagai tempaan. Kami dapat merasakan perubahan ini secara berkelanjutan.  Apapun yang terjadi kemudian, akan kami jadikan sebagai bahan pelajaran, saja. Agar kami dapat terus belajar. Belajar untuk menjadi lebih baik dan berguna. Lebih bermanfaat, itulah salah satu cita kami dalam menjalani hari. Apakah engkau juga begitu, teman?

 Kami. Sudah sekian lama kami menceritaimu hanya tentang diri ini. Kami yang sekarang berganti nama menjadi Free-Dy. Lalu, siapakah namamu yang semenjak tadi bersedia menemani kami hingga saat ini? Dengan maksud apakah teman, engkau menepikan beberapa masa dari waktumu untuk kami di sini? Padahal kami hanya lembaran kertas yang usang. Kertas usang yang sebelumnya akan dipindahkan entah ke mana. Sepanjang perjalanan gerak matamu untuk sampai pada paragraf ini, tentu mengalir doa darimu untuk kami. Sure? ?  Engkau sungguh peduli, kalau begitu adanya. Teriring salam dari kami, sebagai penawar segalanya. Semoga engkau yang berjiwa sosial tinggi, dapat mencapai citamu dengan lancar dan mudah. Sebagaimana halnya yang telah engkau cipta sebelumnya. Tak seperti kami yang menjalani takdir memang begini, semenjak dini.

 Kami tak tahu mau berbuat apa? Kalau tidak ada yang menggerakkan kami untuk berpindah, kami akan berada pada lokasi yang sama. Kalau bukan ada yang menebang kami, kemudian mengelupaskan kulit-kulit tebal yang melindungi kami, tentu kami akan tetap berdiam di hutan. Hutan belantara yang akan menjadi tempat kami selamanya. Hingga detik akhir usia tiba, kami terus saja begitu. Kami akan keropos pelan-pelan. Kami akan habis dan merunduk dan tidak dimanfaatkan. Kami akan kering, seiring dengan bergugurannya dedaunan yang kehijauan. Kami akan hilang tanpa bekas. Dan nama kami akan tiada, sampai akhir waktu. Karena kalau kondisi yang sama benar-benar berlangsung, kami hanyalah pohon.

 Kami. Kini, saat ini, kami sedang menemani sang penata yang sedang berbahagia. Beliau memindahkan kami ke sebuah sudut kamarnya. Di atas sebuah meja, kami bertahta. Di balik kertas agak tebal yang telah ia hias sedemikian rupa, kami berada. Kami sekarang lebih tampan dan merasa segar. Karena kami telah didandani sungguh rupawan. Free-Dy. Catatan perjalanannya kemudian. Beliau memanggil kami dengan nama Free-Dy. Nama yang agak ke-Inggris-an. Karena memang ada bahasa Inggris di dalamnya.

 Oh, kami baru tahu.  Ternyata beliau mempunyai maksud atas semua. Ada rencana yang terselip di ruang pikirnya. Beliau akan mendata kosakata di dalam diri kami yang baru. Katanya, agar dapat belajar bahasa yang berbeda, kapan saja.

 “Tentu untuk meneruskan cita merangkai asa, yaa?”, tanya kami dengan segera.

 Beliau mengangguk, menepikan beberapa helai kami yang lainnya. Beliau terlihat sedang menggerakkan tangan-tangan itu dengan gemulai, seraya duduk bersimpuh sungguh anggun.  Kami ingin selalu ada di sisinya, untuk menemani kapan saja. Siap sedia, kapanpun beliau membutuhkan peran kami. Segera, kami akan mengabdikan diri. Penuh hikmat dan kerelaan. Karena beliau adalah jalan yang menjadikan kami lebih keren. Hehee, Free-Dy. Sapa kami dengan nama ini.

 Kami. Kami akan ada semenjak saat ini, bersamanya. Beliau yang akhirnya menyelamatkan kami. Beliau yang menjadikan kami lebih berarti. Untuk menjadi sarana berbagi. Berbagi tentang banyak hal, seperti suara hati, cita dan harapan. Karena kami yakin, beliau mempunyai banyak persediaan dalam hal ini. Suara hati yang seringkali menampakkan kehadirannya, akan kami saksikan pula. Ya, karena akan tertumpah di ruang-hari kami yang berikutnya. Sedangkan tentang cita dan harapan yang akan bermunculan, menjadikan kami ingin segera mengetahui. Yah! Karena kami sangat ingin tahu akan hal ini. Keingintahuan yang bukan sekadar ingin tahu. Akan tetapi karena kami peduli. Kami ingin mengikuti perjalanan beliau hingga nanti. Sampai kami benar-benar tidak bermanfaat lagi. Begitu, teman.

 Kami. Pada hari-hari yang bebas, dalam artian tidak ada aktivitas. Maka beliau akan lebih sering menemui kami. Pada banyak waktu selepas bepergian, beliau akan mengunjungi kami segera. Untuk menitipkan beberapa bait pesan.

 “Pesan Hari Ini.” Beliau memberi judul catatan yang akan tercipta. Judul tersebut adalah salah satu penanda, bahwa pada hari-hari yang penuh dengan pesan, beliau pernah menjalaninya. Lalu, membaginya pada kami di sini. Kami akan menjaganya dengan sepenuh hati. Bahkan melebihi penjagaan yang beliau berikan pada kami. Karena pesan-pesan tersebut sangat kami hargai. Sebagai kumpulan ilmu pengetahuan yang tersurat, dari apa yang beliau baca secara tersirat. Sebagai catatan perjalanan yang akhirnya ada, untuk kesan yang beliau peroleh.

 Kami. Kami setia di sini. Untuk beliau manfaatkan kapan saja. Kami pun turut menjadi saksi, tentang beraneka warna hari yang beliau alami pada masa yang akan datang. Karena kini, kami adalah sahabat barunya. Sahabat berbagi, apa saja. Berbagi kisah tentang bahagia? Berbagi kisah menuju bahagia? Berbagi kisah-kisah yang sebaliknya?

 “Semoga seringkali bahagia, yaa…,” ini doa kami untuknya. Semoga seluruh alam, turut mendoakan kebahagiaan baginya.  Bagi sesiapa yang menemukan kami.

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s