Priority


Tidak perlukan sarana transportasi tercepat sekalipun, untuk dapat menemui beliau nun di sana. Hanya saja, perlu keyakinan yang lebih tinggi lagi. Maka akan tercipta kebersamaan, segera. Ya, beberapa saat setelah kami saling berkomunikasi meskipun lewat nada suara yang mengalir.

“Cerah, Alhamdulillah…,” begini kesan atas suara yang beliau layangkan.

Seorang yang sangat berarti dalam kehidupanku. Beliau yang mungkin saja berbeda banyak hal denganku. Namun, kami sama. Kami sama-sama perempuan, yang sebelumnya pernah tinggal bersama. Dan bukan tinggal bersama lagi. Melalui beliaulah, akhirnya saya dapat berjumpa denganmu di sini. Karena kalau tidak ada beliau, kepada siapa saya akan memanggil, Bunda…

Lembut nada suara, menggetarkan deru jiwa

Satu-satunya cara untuk meneruskan keakraban diantara kami adalah dengan berkomunikasi. Karena dengan demikian, kami dapat saling bersinergi untuk mengalirkan emosi. Beliau seringkali mengajarkanku tentang hal ini. Untuk menggunakan hati dalam melakukan apapun. Untuk menemukan hari-hari yang lebih berseri. Karena kami adalah perempuan, hanya itu alasannya.

Kami, perempuan yang sedang dan masih belajar untuk mengerti. Tentang makna kehadiran kami di bumi ini. Kami yang sedang meneruskan bakti untuk membuktikan eksistensi. Bahwa kami ada, sebagai salah satu tanda-tanda kekuasan-Nya. Karena kami mampu berarti, bersama keyakinan yang terus kami tumbuhkembangkan. Kami memang menggunakan naluri, dalam menjalani hari.

Oleh itulah, tolong pahami kami. Xiiiixiiii…

Untaian hari terus menjulurkan selendangnya. Telah berganti pula pada hari ini. Hari ini yang bukan kemarin, sedang kami jalani. Hari yang tidak sama dengan hari sebelumnya. Pun belum mungkin esok akan kami temui. Kami seringkali menyadari akan hal ini. Sehingga, bermudah-mudah dalam mengaplikasikan sabar dalam keseharian, adalah bagian dari aktivitas kami. Begitu pula dengan rasa syukur yang lonjakannya tak terkendali. Kami perlu mengenali agar keberadaannya semakin dekat dengan kami. Terlebih lagi pada hari ini, semenjak pagi yang cerah sebegini. Terbersit ingatan dari ruang pikir. Akan beliau yang sedang berseri-seri, ternyata.

Seulas senyuman yang terukir, menjadi pemula sebelum sapa mengalir lewat suara. Kemudian, bertukar bahasa, kami lakukan semaksimalnya. Walaupun tiada alat paling canggih yang dapat menyampaikan kami segera untuk berjumpa, namun bagaimana dengan ikatan hati yang telah ada? Bahkan sebelum kami mengenal dunia.

“Oh,.. ternyata, inilah dunia yang sebenarnya,” terpikat diri akan tampilannya yang semakin indah saja.  Masih asing.

***

Bunda bilang, “Beliau selalu ingatkan kita putra-putri beliau yang meski jauh di mata, dalam doa-doa yang terkirim.”

🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s