Episode (1)


Maunya saya, merangkai kata setiap hari. Baik pagi, sore, siang ataupun malam hari, ingin rasanya mengabadikan isi hati, fikir dan kegiatan. Namun demikian, segala keinginan tidak selamanya menjadi kenyataan. Terkadang duduk lama di depan lepi, saya hanya bengong doang.  Setelah beberapa lama kemudian, masih dalam kondisi yang sama. Entah mengapa, ya?

Apakah dalam kondisi demikian, saya lagi engga punya ide? Lalu, bagaimana denganmu teman? Apakah engkau pun pernah mengalami hal yang serupa? Ya, walaupun sesekali, dua kali atau beberapa kali. Atau, seringkalikah? Lalu, apakah yang engkau lakukan ketika kondisi demikian menyapamu? Apakah engkau terdiam dalam jangka waktu yang lama di depan lepi yang menyala?

Hmm.., boleh dong, berbagi kesan dan pengalaman tentang hal ini.  ^^

***

Akhir-akhir ini, saya mengalami hal yang demikian. Semenjak satu bulan terakhir, tepatnya. Walaupun telah berdiam lama di depan lembaran bercahaya ini, namun masih belum ada kalimat yang muncul sama sekali. Akibatnya, waktu beberapa jam seakan terbuang percuma. Karena, saya belum mampu merangkai kata sama sekali. Jangankan untuk menitipkan sebaris kalimat, satu kata saja tiada. Apakah yang salah dengan semuanya?

Seluruh ingatan yang sebelumnya hadir, seakan terbang melayang entah ke mana. Padahal, baru beberapa waktu ia hadir. Ingin saya menuliskannya dalam selembar kertas kosong yang ada dalam genggaman. Namun, tetap saja belum ada satu buah katapun yang tercipta.

A page from the mysterious Voynich manuscript,...

A page from the mysterious Voynich manuscript, which is undeciphered to this day. (Photo credit: Wikipedia)

Setelah beberapa hari berlangsung, dalam satu bulan terakhir, saya pun mencoba untuk menemukan jalan. Mengalirkan hasil pikiran dengan memandang alam, menemui sosok-sosok mungil yang penuh dengan keceriaan, lalu menyapanya dengan senyuman. Namun, tetap saja belum ada satu ide pun untuk merangkai sebuah catatan setiap harinya.

Dalam waktu-waktu luang, saya meneruskan perjalanan pada daerah-daerah yang belum pernah saya datangi. Rencananya sie, mau mencuci mata dan menemukan beberapa bait kata untuk diprasastikan. Namun, sekembali dari tempat-tempat tersebut, masih saja belum tercipta walau sebuah tulisan. Sungguh, saya ingin sampaikan tentang uneg-uneg ini, di sini. Siapa tahu, ada diantara para sahabat yang mengalami hal serupa.  Ataukah, ini hanya pengalaman saya saja, yaa?  Dan ia menjadi pengalaman perdana di dunia?

Pernah pada suatu hari. Pagi nan cerah ketika itu. Mentari bersinar dengan megahnya, mensenyumi persada.  Saya yang baru menyempatkan waktu untuk membuka kaca jendela, segera menempelkan punggung tangan pada pelipis. Mengapa? Karena sengatan mentari yang bersinar, mengenai arah tatap ini. Silau.

Tidak mau berlama-lama terkena terpaan sinarnya, saya pun segera melangkahkan kaki. Agar, seluruh tubuh ini bermandikan cemerlangnya. Selangkah demi selangkah, kaki-kaki ini menapak bumi. Dari satu langkah ke langkah berikutnya, saya sempatkan untuk mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lalu, tersenyum menarik.

Tersenyum pada rerumputan yang menyambut dengan lambaian daunnya yang gemulai, sungguh berkesan. Mensenyumi pepohonan yang berdiri kokoh dengan batangnya yang tegap, saya suka. Menitipkan senyuman pada para pejalan yang juga sedang melangkah, tentu meninggalkan sebait harapan. Harapan untuk dapat tersenyum lebih indah lagi, bersama beliau semua. Apabila ada beberapa ekspresi yang kurang mengenakkan dan akhirnya tertangkap oleh kedua bola mata ini, terselip pula harapan untuk tak mau menatapnya lagi. Karena kesukaan mata adalah memandang yang menarik baginya. Dan saya, sangat senang berhadapan dengan wajah-wajah yang tersenyum. Sungguh bahagia rasanya di dalam jiwa, ketika keinginannya bertemu dalam kenyataan. Tentu ia akan tersenyum segera, saat itu juga.

Pernah pada suatu hari, sore. Saya sedang melangkahkan kaki-kaki ini di tepi jalan yang ramai sekali. Di sana banyak orang-orang yang sedang berdiri. Ada laki-laki, pun perempuan. Banyak anak-anak berlarian kian ke mari. Dari satu sisi ke sisi lainnya, yang tertangkap oleh  mata ini hanyalah para insan. Seluruhnya.  Tidak ingin berlama-lama dalam keramaian tersebut, saya pun melanjutkan langkah menuju tempat yang lain. Hingga akhirnya,  sampailah kaki-kaki ini pada sebuah lapangan hijau yang luas membentang. Rerumputan di sekitaran, sungguh meneduhkan saat dipandang. Adem dan tenteram  rasanya.  Lama saya berdiri dengan posisi yang sama, karena terpana setelah sampai di sana. Hingga beberapa menit kemudian, masih begitu. Pada hitungan menit yang ke dua puluh, saya melihat ada seseorang yang sedang melakukan aktivitas serupa. Sepertinya beliau baru datang. Karena, semenjak awal keberadaanku di sana, beliau tiada.  Konsentrasi tinggi yang berlebihan, membuat saya tidak menyadari kehadiran beliau.

Ketika mata ini menatap pada sosok tadi, tubuh jangkung semampai itu, sedang membelakangiku. Sehingga tidak terlihat jelas, siapakah beliau yang sesungguhnya?  Pemuda bermantel putih. Ada garis vertikal berwarna hijau pada bagian punggung. Mantel yang menarik. Ai! Segera pikiranku melayang jauh terbang tinggi hingga ke awan. Dalam bayanganku, beliau seorang yang rupawan. Sungguh inginku memandang wajahnya. Agar segera terjawab dua pertanyaan ini, “Apakah wajah tersebut sedang tersenyum? Ataukah lembaran wajah yang sedang beliau bawa berselimutkan awan gemawan?”

Namun, tiada daya mata ini menatap padanya. Hingga jawaban yang sedari tadi inginkan  hadir, belum menjadi realita. Saya hanya mampu memandang dengan tautan tanya yang masih bersarang di dalam pikiran. Ini yang saya lakukan. Ai! Sungguh, ini bukanlah yang saya inginkan.

Beliau berdiri tidak jauh dari tempat saya berada. Hanya beberapa depa saja, jarak yang membentang di antara kami.  Apabila diantara kami ada yang bergerak selangkah saja, maka kami akan segera bersentuhan. Sungguh jarak yang dekat untuk saling memperdengarkan suara. Namun, untuk mengalirkan nada suara pun belum menjadi pilihan, rupanya. Kami saling terdiam, tanpa gerakan ataupun bahasa isyarat. Saya yang semula terpesona dengan tampilan alam bernama lapangan hijau, semakin terpesona adanya. Pada beliau yang tiba-tiba ada bersama saya di lokasi yang sama. Siapakah gerangan sang pemuda?

***

Saya sangat yakin bahwa beliau mengetahui dengan jelas, siapa diri ini.  Karena saya lebih dahulu berada di lokasi tersebut. Sedangkan beliau yang hadir kemudian, tentu sempat mengedarkan pandangan ke sekeliling, sebelum akhirnya memilih tempat berdiri di sisiku. Pasti ada maksud dan tujuan, serta makna yang tersimpan. Baiklah menjadikannya sebagai salah satu bahan pelajaran. Inilah kesimpulan yang akhirnya menjadi jawaban atas pertanyaan yang saya hadirkan, tadi.

Beliau yang sedang tertegun, meneruskan tatapan mata nun jauh ke hadapan. Seakan ada yang sedang beliau pikirkan. Wahai, engkau…. sejauh apakah pikirmu itu bepergian? Panggillah ia kembali, untuk menyadarkan diri. Bahwa ada yang sedang menjejak bumi.

Beliau terlihat sangat menghayati suasana. Sehingga tidak inginku usik dengan suara yang tidak berarti. Segera, ku berkemas. Rencananya untuk melanjutkan perjalanan lagi. Cukuplah berada di lokasi tersebut, untuk beberapa lama saja. Ditambah lagi, ada seseorang yang ternyata sedang berkontemplasi.

“Semoga engkau menemukan kedamaian, yaa…,” bisikku di dalam hati. Agar tidak terdengar oleh indera pendengaran beliau. Karena saya ingin, beliau terus dalam posisi yang sama, sampai akhirnya nanti, beliau menyadari sedang berada di manakah?

Lalu, saya pun menggerakkan satu telapak kaki, lebih dahulu, untuk melangkah lagi. Ini yang ada di dalam pikiranku ketika itu. Namun apa yang terjadi setelahnya… ???

(will be continue)🙂🙂🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s