Ekspresi Hari Ini


Beliau ada hati setinggi angkasa....

Beliau ada hati setinggi angkasa…. (Photo credit: Lal Azmi)

Dapat dipastikan. Dalam perjalanan hidup kita hingga saat ini, ada orang-orang spesial yang hadir. Beliau yang akhirnya menjadi bagian dari kisah perjalanan kehidupan kita. Beliau yang kita hargai dengan nilai tanpa tandingan. Beliau yang namanya kita sisipkan pada berbagai lembar waktu. Beraneka cara kita upaya, agar keberadaan beliau menjadi ada.

Dapat dipastikan.  Diantara banyak orang-orang spesial dalam kehidupan kita, tentu saja beliau mempunyai hari-hari spesial. Seperti hari kelahiran, misalnya.  Nah! Bagiku khususnya, akan mengingat hari-hari tersebut. Baik dengan menyempatkan waktu merangkai kata teruntuk beliau, ataupun hanya menepikannya pada ingatan saja.

Berbeda. Ya, beliau yang bagi kita spesial akan kita perlakukan berbeda. Berbeda dalam artian tidak sama dengan yang lainnya. Bukan untuk memilih kasih atau memilah sayang. Bukan pula untuk mengabaikan sebagiannya. Namun, setiap kita tentu mempunyai cara tersendiri untuk mengekspresikan kasih dan sayang.

Sebagaimana pada masa-masa yang telah berlalu, saat ini pun begitu. Termasuk hari esok dan selanjutnya. Bagi orang-orang yang spesial tersebut, aku ingin mengabadikan bait-bait kalimat. Walaupun begini adanya, namun aku ingin ia ada. Hingga akhirnya, ekspresi tersebut berwujud pula. Agar, pada suatu hari nanti, ketika aku dan beliau yang spesial tersebut telah melewatkan hari ini, kami dapat mengenangnya lagi. Bukan untuk mengembalikan ingatan pada masa lalu.  Masa lalu biarlah berlalu. Namun, yakinkah kita bahwa keberadaan kita saat ini tidak ada hubungannya dengan masa lalu??

Oleh karena itulah, aku tidak ingin melewatkan hari ini begitu saja. Meskipun akhirnya hari ini akan menjadi masa lalu, sesudah ia berlangsung. Biarlah hari ini tertinggalkan, dengan kisah terindah yang sempat memprasasti.

Buat beliau yang istimewa, aku ingin lebih sering menitipkan serpihan kata. Walaupun serpihan tersebut tidak lagi mempunyai bentuk karena telah bercerai berai. Sekalipun aku tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menyatukan serpihan tersebut. Namun aku ingin mengumpulkannya. Mengumpulkan serpihan tersebut satu persatu. Lalu, menyatukannya dalam bait-bait kalimat.  Agar ia memprasasti untuk selama-lamanya. Hingga tidak dapat jemari ini merangkainya.  Aku hanya ingin mengumpulkannya. Dan salah satu kesempatan tersebut adalah hari ini.

Hari ini, tentang hari ini. Masih ingatkah engkau, wahai teman, tentang hari ini? Hari yang sangat berarti dalam kehidupanku. Terlebih lagi bagi beliau yang istimewa. Beliau yang meskipun saat ini tiada di hadapan mata. Beliau yang untuk ke sekian kalinya, menetapkan hari ini sebagai salah satu hari istimewa dalam kehidupan beliau. Lagi lagi aku ingin merangkai kata di dalamnya. Lalu, ku bingkiskan teruntuk beliau di sana.

Inilah serpihan ekspresiku.

***

Belum lama, kami saling mengenali. Belum, belum sampai sepuluh tahun. Ya. Namun angka tersebut hampir mencapai sepuluh. Angka yang masih terlalu muda. Angka yang masih belia, balita.  Dalam hitungan angka yang kurang dari sepuluh tahun tersebut, beliau menjadi bagian dalam kehidupanku. Lebih tepatnya, semenjak tahun dua ribu enam. Ai, baru enam tahun, dan menjelang angka ke tujuh.

Beliau yang baik, berbudi, murah tersenyum, ramah dan bersahaja. Karakter yang beliau bawa, mengesankan bagiku. Aku masih belum sepenuhnya percaya, namun aku mesti percaya. Walaupun aku masih belajar untuk mengerti, namun aku perlu memahami. Ya, karena semua ini adalah kenyataan, bukan ilusi ataupun imajinasi. Dejavu, apalagi. Bukan, bukan demikian.

Oleh karena itu, maka aku pun menitipkan serpihan kata-kata teruntuk beliau. Agar menjadi jalan yang lebih meyakinkanku tentang semua kenyataan yang aku alami. Tentang aneka ekspresi yang tertangkap oleh tatapan mata, sebelum hari ini hadir.  Tentang senyuman yang mengembang dari wajah-wajah beliau, setiap kali kami berkomunikasi. Tentang tanggapan yang beliau sampaikan, dalam berbagai kesempatan kami berinteraksi. Tentang kenangan yang melekat dalam ingatan, hingga kini. Ya, hingga hari ini hadir, kami pun berjauhan raga. Karena ada jarak yang membentang di antara kami. Sama seperti hari, ketika kami belum bersua sama sekali.

Walaupun demikian, selagi masih ada waktu untuk merangkai catatan. Maka, di dalam catatan tersebut, ku sisipkan nama beliau yang istimewa. Beliau yang menjadi bagian dalam perjalanan kehidupanku, beberapa tahun terakhir.  Semoga kebahagiaan yang mengalir pada beliau, bertaburan semerbak indahnya. Agar, hari-hari yang akan beliau jalani, tepatnya setelah hari ini, menjadi lebih berkah. Semoga, limpahan anugerah senantiasa menjadi teman dalam detik demi detik waktu yang beliau temui.

Buat:  Bapak Ir. Adriza, M.Si dan Dede Rohanah, A.Md.  

Selamat hari lahir  buat beliau yang berarti dalam perjalanan kehidupanku. Semoga kebahagiaan yang beliau rasakan pada hari ini, membukakan gerbang kebahagiaan untuk hari-hari yang berikutnya.  Agar beliau berbahagia lebih sering, dalam naungan dan lindungan-Nya. Aamiiin ya Rabb

***

Terkadang, tanpa kita sadari, eitss… ‘tanpa ku sadari’ ternyata senyuman dapat mengembang dari wajah ini, ketika melakukan hal-hal kecil yang tidak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya. Hal-hal kecil yang apabila kita lakukan, maka ia akan menjadi sebuah kenangan terindah pada suatu hari nanti. Dan hal kecil yang kita lakukan dengan senyuman saat ini merupakan langkah awal untuk menghadirkan senyuman yang lebih indah, setelah saat ini. Maksudnya, begini.  Dengan merangkai catatan, misalnya. Apabila hari ini kita menitipkannya pada sebagian waktu yang kita temui, maka setelah satu bulan kemudian, catatan kita tentu tidak satu lagi. Namun, menjadi tiga puluh buah banyaknya. Nah!  Ketika kita merangkai catatan pertama dengan senyuman, maka untuk tiga puluh catatan setelahnya, senyuman kita akan mengembang lagi. Dan apa yang terjadi setelah satu bulan tersebut? Senyuman yang kita kembangkan tentu tidak satu lagi, bukan?

Begitu dengan hari ini. Apabila hari ini, kita merangkai satu catatan untuk dua orang yang spesial dalam kehidupan kita. Lalu, pada hari yang berikutnya, kita merangkai lagi catatan-catatan sebagai serpihan ekspresi terhadap beliau. Kita merangkainya dalam waktu yang berbeda, kepada beliau yang istimewa. Selang satu hari berikutnya, kita teringatkan lagi akan ekspresi yang belum kita prasastikan. Bahwa ternyata, ada lagi yang berkesan dalam perjalanan kehidupan kita. Ada beliau yang kembali menitipkan kenangan bagi kita. Lalu, prasastikanlah ekspresi yang kita alami dengan senyuman.  Ai! Sebuah aktivitas yang menyenangkan, bukan?

Aktivitas yang kita senangi. Lalu, kita pun melakukannya dengan lebih baik dari waktu ke waktu. Karena kita yakin, membersamainya lebih sering dapat menjadi jalan yang mensenyumkan kita lebih indah lagi. Kita merasakan bahwa hari-hari ini menjadi lebih bermakna. Adalah lebih baik kiranya, selama menjalankan aktivitas tersebut, kita dapat memetik pengalaman. Lalu, menuai ilmu pengetahuan terbaru. Ilmu pengetahuan yang sebelumnya tidak kita temukan. Salah satunya  adalah pengetahuan tentang perjalanan diri.

Dalam berbagai kesempatan terbaik, kita dapat menebarkan serpihan ekspresi melalui kata demi kata, ataupun mengumpulkannya menjadi kalimat. Lalu, kita pandangi rupanya satu persatu dengan ekspresi penuh. Melalui ekspresi terbaik, kita titipkan ia pada lembaran waktu. Hingga akhirnya kita tahu bahwa sedetik yang telah kita alami akan menjadi masa lalu.

Untuk dapat menebarkan serpihan ekspresi atau mengumpulkannya dari waktu ke waktu tentu membutuhkan ketekunan. Rajin saat melakukannya, berkesinambungan dan berturut-turut adalah lebih baik. Agar, kita menjadi biasa dan terbiasa. Lalu, ekspresi yang bagaimanakah yang sedang kita titipkan pada lembaran waktu, teman? Untuk dapat mengetahuinya, kita tidak perlu bertanya dengan diri sendiri ataupun menanya kepada sesiapa yang sedang berada di dekat kita. Hanya saja, ekspresi tersebut dapat kita ketahui dari apa yang kita hasilkan. Berupa ketenangankah kesannya? Mencerminkan kebahagiaankah? Atau malah ekspresi yang penuh dengan buliran permata kehidupan nan tumpah bebas mencurah?

Untuk dapat berekspresi, kita memerlukan banyak hal. Diantaranya adalah sarana dan prasarana, waktu dan kemauan, serta niat di dalam hati. Apabila salah satu dari semua itu kurang, maka kita belum lagi dapat berekspresi dengan optimal. Apalagi untuk menitipkan ekspresi pada lembaran catatan. Tentu saja kita membutuhkan sarana untuk merangkai kata hingga mewujud tulisan atau memerlukan kertas polos untuk menitipkan sebuah gambar. Berekspresilah dengan cara dan gayamu. Lalu, tersenyumlah saat menatapnya kembali. Senyuman yang engkau hadirkan saat menatapnya untuk kedua kali, perlu lebih indah dari sebelumnya, ok?

***

Dalam berbagai situasi kita dapat berekspresi. Saat menyaksikan tampilan alam, kita juga dapat memunculkan ekspresi. Seperti ekspresi penuh senyuman, ekspresi berisi kekaguman, ekspresi yang menandakan kalau kita sungguh takjub, atau ekspresi lainnya. Adapun semua ekspresi tersebut menjadi ada karena kita mempunyai kemauan dan niat untuk menghadirkannya. Seperti wajah yang tiba-tiba terkaget! Lalu mata membuka dikit. Karena baru saja, ia menyaksikan seekor cicak jatuh di lantai, misalnya. Atau ketika melihat mentari pagi bersinar dengan megahnya, maka kita segera mengangkat alis seraya menarik bibir ke samping kiri dan kanan secara seimbang.  Kita bahagia menatapnya, .. kita pun tersenyum.

Begitu pula dengan sebuah bola api pada sisi langit barat sore tadi.  Namanya mentari yang mau tenggelam. Baru mau. Karena, masih terlihat kekuatan sinarnya, saat mata ini mengarahkan pandang pada langit barat. Subhanallah… Aku sungguh terharu menatapnya. Warna yang jingga, sungguh mengesankan. Sejingga hatiku yang tiba-tiba menyala. Aku ingin menatapnya lebih lama. Namun apa daya, retina pun perlu mendapatkan penjagaan yang sempurna. Ia tidak boleh berlama-lama menatap pada arah yang terlalu tajam. Agar kesehatannya terus terjaga, maka aku pun bersedia untuk menarik mata kembali. Kemudian, mengedarkan arah pandang pada sekeliling.

Untuk berekspresi, tentu ada peraturannya. Kita tidak dapat berekspresi semaunya saja. Karena walau bagaimanapun juga, kita masih mempunyai rambu-rambu dalam hari-hari. Sebagaimana kendaraan yang sedang menempuh perjalanan bersama supirnya. Maka, sang supir perlu menaati rambu-rambu yang telah terpasang di tempat-tempat tertentu. Apabila sang supir taat aturan, maka lalu lintas pun berjalan lancar. Tiada lagi kita mendengar klakson yang bersahutan. Tiada pula kita mendengarkan gemericit kendaraan yang tiba-tiba mengerem mendadak. Hingga menimbulkan suara yang melengking tinggi. Tidak. Hal yang demikian tidak akan pernah terjadi, sama sekali. Itu hanya perumpamaan saja.

Dalam berekspresi, kita perlu mendata situasi. Kapan saatnya kita tersenyum, pun kapan saatnya kembali mengalirkan bulir bening permata kehidupan. Situasi yang perlu kita kenali adalah kondisi sesiapa saja yang sedang berinteraksi dengan kita. Apabila kita berekspresi sesuai dengan keinginan kita saja, tanpa terlebih dahulu mengenal sekitar, maka dapat dipastikan bahwa apa yang sedang kita harapkan hanyalah harapan semata. Karena kita perlukan beliau yang sedang kita hadapi.

Dalam berekspresi, memang kita mempunyai kebebasan. Namun, kebebasan tersebut adalah dalam batas-batas yang manusiawi. Sesuai dengan aturan kehidupan sesama insan. Apabila kita sedang berhadapan dengan seorang yang sedang ‘mengharu biru, syahdu, sendu, pilu di dalam qalbu’, maka kita perlu memahami. Kita tidak serta merta menyampaikan apa yang ingin kita ekspresikan begitu saja. Namun, mengerti dengan keadaan, adalah pilihan. Kalau perlu, berpalinglah sejenak, untuk beberapa saat. Kemudian, segeralah kembali untuk mengetahui keadaan terbaru. Tentang hal ini, aku pernah mengalaminya. 😀

Betapa bahagianya hati ini, saat berjumpa dengan seorang yang penuh dengan pengertian. Sangat peduli, beliau sungguh memahami bagaimana suasana hati dan keadaanku. Ya.

Sedikit berkisah tentang pengalamanku, sehubungan dengan hal ini. Aku sungguh bahagia, berbunga di dalam jiwa, bermekaran, warnanya merah marun. Bunga Dahlia.  Ketika dalam suatu waktu, aku sedang berselimutkan kesenduan. Tiba-tiba datanglah seseorang untuk menemuiku. Beliau menghadapku, untuk menjalin komunikasi. Karena, memang perlu dan sangat penting, kiranya. Namun demikian, dalam waktu yang sama, beliau menyaksikan bagaimana kondisiku yang sesungguhnya.  Lalu, beliaupun berpaling sejenak. Beliau tidak langsung menemui. Malah balik lagi. Xixixiiii. Sedangkan aku, yang akhirnya menyadari kehadiran beliau, segera menoleh. Sedangkan beliau, sudah berlalu.

Tidak berapa lama kemudian, suasana kembali sejuk. Sendu berganti semilir angin yang bertiup dengan tenang. Suasana yang sebelumnya aku alami, kini telah berganti. Karena sudah ada tanda-tanda, sinar mentari kan muncul lagi. Itu berarti, senyuman mulai mengembang dari bibir ini. Wajahku kembali segar. Aku pun tersenyum.

Nah! Beliau yang semula ingin menemuiku, sepertinya mempunyai ‘feeling’ akan hal ini. Hal ini dapat aku ketahui dengan kehadiran beliau untuk kedua kalinya.  Lalu, dengan ekspresi yang seakan tiada apa-apa, beliau segera tersenyum ke arahku. Ada nuansa berbeda yang beliau ekspresikan. Beliau tersenyum dengan ramah, bersama tatapan mata yang penuh pemahaman. Aku yang menyaksikan, segera menyambut dengan senyuman. Karena aku pun tidak mau kalah sama senyuman yang beliau tebarkan. Bagiku, setiap sesiapa yang memberikan senyuman padaku, maka ingatanku segera menemui sebuah benda angkasa penuh sinar. Itulah mentari. So, setiapkali engkau menemuiku dengan tersenyum, maka senyuman itu adalah mentari bagiku. Ai! Betapa hari-hari ini menjadi lebih cerah, bersama senyuman.

***

Pengalaman berinteraksi dengan beliau-beliau yang dengan mudahnya mengembangkan senyuman saat berjumpa dengan sesiapa, memberikan kesan bagiku. Bahwa aku dapat menjadikannya sebagai bahan pelajaran. Bukankah, segala sesuatu yang kita senangi, akan disenangi pula oleh selain kita?  Oleh karena itu, tersenyumlah terlebih dahulu, apabila kita inginkan orang lain tersenyum pada kita. Sungguh sebuah rumus yang ringan, yaa…

Rumus yang tidak memerlukan angka-angka untuk menciptakannya. Namun, memerlukan kesediaan jiwa untuk menjalankan. Berekspresilah, sebagaimana engkau ingin orang lain berekspresi terhadapmu. So, ada pesan buatmu sahabat… ‘let’s smile, more beautiful smiles of yours.’

Ekspresi hari ini, ku bingkiskan buat beliau yang sedang berbahagia. Ekspresi yang terangkai dalam bait-bait kata, mewujud kalimat demi kalimat. Semoga, kebahagiaan lebih sering membersamai hari-hari kita ke depannya. Dengan cara-Nya, kita tersenyum menjalani hari. Karena-Nya, kita mengabadikan senyuman mewujud prasasti hari ini.

🙂 🙂 🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s