Kuncup Bunga Senyumanmu Mekar di Taman Hatiku


Hati yang telah terkeping dan berpecah-pecah. Kini terasa hangat mengalirkan derasnya yang mulai membanjir. Aku rindu kebersamaan kita. Ketika kita tersenyum bersama. Ketika kita saling menukar tatap  mata. Saat kita saling membagi bahagia atas apa yang terasa. Sungguh, kerinduan yang ingin ku lebur dengan segera. Dan kebetulan, saat ini aku sedang berada di sini. So, sorry, apabila ku curhati yaa..  😀

Semoga dengan cara begini, aku dapat menyampaikan apa yang sedang ku alami. Agar beliau yang saat ini ada di sana, kembali tersenyum. Seperti halnya senyuman yang pernah beliau ukir saat kami sedang menikmati kebersamaan. Di teras penuh kebahagiaan, saat semua insan belum menyadari keberadaan kami. Saat kami dengan lepasnya saling mengalirkan energi terbaik. Dan tentu saja, aku ingin mengabadikannya. Sebagai bagian dari perjalanan kehidupan yang pernah aku lewati. Sungguh! Terasa sangat, bagaimana kenangan itu dapat mengubah kita menjadi seperti apa yang kita damba. Hanya dengan menghayati dan menyelami lautan ingatan, kita dapat menghadirkan rangkaian kalimat.  Walaupun singkat, namun ia tiada bertepi. Karena pada kalimat yang tercipta masih ada koma di ujungnya. Ini berarti, masih ada lanjutannya, bukan?

Engkau yang menjadi jalan sampaikan aku ke tujuanku. Aku yang bukan siapa-siapa tanpa adanya engkau di dalam kehidupanku. Aku bukanlah seorang yang sempurna tanpa engkau yang terus menjadi jalan selamatnya aku. Engkau tulus dan penuh dengan kasih sayang. Rela memberikan yang terbaik bagiku, sedangkan engkau sendiri mungkin sempat tak terperhatikan. Demi aku, engkau berkorban banyak hal. Sekian lama engkau berjuang dengan sepenuh pengorbanan dan pernahkah aku mengalami hal yang sama seperti yang engkau alami?

Terkadang aku merasa perjuanganku sungguh telah optimal. Namun belumlah sebanding dengan apa yang engkau alami. Waktu yang engkau tempuh untuk menjadi seperti saat ini, mungkin belum sebanding dengan yang aku alami. Baru seberkas dan selembar tipis dari banyaknya lembaran hari  yang engkau lalui.

Engkau yang lebih berpengalaman dariku, beribu-ribu ilmu pengetahuan tentu saja telah engkau rengkuhi. Pengalaman hidup, ilmu tentang kehidupan, pun tentang asam garam kehidupan. Sunggguh! Belum ada bandingannya dengan apapun yang aku alami hingga saat ini.

Teringat padamu, menjadikan aku rindu sungguh ingin bertemu. Walaupun hanya di dalam ruang ingatan, aku ingin kita terus bersama. Walaupun raga terpisahkan jauhnya jarak yang membentang. Semoga jodoh untuk pertemuan, masih menjadi bagian dari waktu yang akan kita lalui berikutnya.

Tegarmu dalam menjalani ranah godaan, beriring dengan liku-liku jalan yang mesti engkau tempuh. Hingga kini menjadi salah satu pengobar ketegaran. Bersama harapan yang pernah engkau selipkan, aku ingin menjadi sepertimu yang tulus dalam berjuang. Walaupun jauh dari keramaian, meskipun terpisahkan oleh belantara yang berjejer di sekitaran. Ternyata, suara-suara alam merupakan suara terindah yang pernah aku dengarkan. Sebagaimana engkau yang sangat suka kedamaian, semoga ketenteraman senantiasa menjadi bagian dari hari-harimu yang berikutnya. Hingga akhirnya kelak kita bersua dalam tatap mata. Lalu kita pun bersenyuman sebagaimana mentari pagi yang mengkerlingkan matanya perlahan.

Sinar kebaikan yang engkau contohkan, terus membenderangi harimu yang masih jauh di hadapan. Sementara hari ini, terus engkau lalui dengan sepenuh pengabdian. Sungguh, aku ingin merengkuh erat pundakmu, untuk menjadikan kita lebih berdekatan. Tak hanya dalam ingatan, namun juga raga ini.

Ketika kebersamaan yang sebelumnya hanya ada dalam hayalan, perlahan mulai mendekati kenyataan. Aku segera mengembalikan pikiran pada masa-masa yang silam. Lalu, bertanyaku pada seluruh alam, tentang peran yang ia sampaikan. “Benarkah engkau turut mendoakan kami agar dapat bersama dalam berbagai kesempatan?” Sedangkan alam tidak menjawab apa-apa. Hanya ku lihat ia tertunduk, tawadu’. Tiada tersirat satupun kesan, tentang jawaban yang ia sampaikan atas tanyaku. Diam, hening dan tanpa getaran sedikitpun. Sungguh tenteram, damai dan penuh dengan kesejukan, ketika berada dalam suasana yang bersamaan. Dan engkau adalah bagian dari alam yang tiada memberiku jawaban setiap kali aku mengajukan pertanyaan. Engkau seringkali membuatku terkesan. Engkau benar-benar memberikan teladan tentang keikhlasan.

Walaupun bergeraknya mentari sungguh perlahan, namun ia akan sampai pada waktu sore. Sekalipun kita memberikan perhatian pada gerakannya yang tiada kelihatan, tentu kita tiada akan sanggup bertahan berlama-lama membentangkan tatapan. Karena kita masih mempunyai aktivitas lebih penting selain memperhatikannya. Namun demikian, mengapa mentari begitu penuh dengan pesona? Sehingga, tiada hari yang terlewatkan tanpa memberikan perhatian padanya. Apakah karena kita telah bersatu dalam hal perasaan, ingatan dan pertumbuhan raga? Sungguh, seakan tiada dapat terpisahkan meskipun sehari sahaja adanya. Engkau adalah mentari di hatiku.

Pertautan erat pemikiran terhadapmu, menjadi jalan bagiku untuk mencurahkan perhatianku yang berlebih, padamu. Sekalipun engkau jauh nun di ujung sudut ingatan , namun keberadaanmu terasa sangat dekat di sini. Ya, setiapkali aku mengingatmu, muncullah harapan untuk kita bertemuan. Sebentar, sebentar, aku … Aku sedang mempercayai apa yang sedang aku alami saat ini. Tiba-tiba saja, ingatan terhadapmu semakin berlebih dan meninggi memenuhi ruang pikiran ini. Adakah karena telah begitu dalamnya kerinduanku terhadapmu? Padahal… “

Engkau yang saat ini jauh di mata, menjadi demikian lekat di hati ini. Sungguh, seakan tiada jarak yang memisahkan kita. Tiada lagi. Tiada. Sangat dekat keberadaanmu di sini. Dan aku dapat menyaksikan bagaimana engkau tersenyum, bagaimana engkau menyampaikan kalimat padaku saat menitipkan pesan. Bagaimana gerakanmu saat mendekatiku, setiapkali aku terdiam dan asyik dengan apa yang aku lakukan. Engkau begitu sabar dan penuh perhatian. Sekalipun aku seringkali membuatmu kecewa!  Ai! Semua itu tidak akan terjadi, kalau aku mengenalmu.

Engkau yang mengenalku dengan sebaik-baiknya, tidak mempermasalahkan bagaimana aku bersikap terhadapmu. Engkau yang menyayangiku, seringkali memaafkanku dengan setulus hatimu. Sehingga akhirnya aku mengerti kemudian, bahwa engkau begitu tulus mencintaiku. Lalu, bertanyaku dengan diri ini, sudah seberapa dalamkah cintaku terhadapmu? Apakah mencapai kedalaman cintamu yang tiada berujung? Nun. Jauh di dalam ruang hatimu, aku tahu ada harapan untuk memberikan yang terbaik untukku. Ya, untukku. Sedangkan aku? Apa yang telah dan sedang aku perjuangkan untuk menunjukkan padamu, bahwa aku sangat mencintamu…. Aku sungguh belum dapat memberikan jawaban dengan ungkapan suaraku yang akhirnya tertahan. Aku yang tersedu dalam sedan yang tak berkesudahan. Hanya ingin memberikan senyuman terindah untukmu. Walaupun akhir kehidupanku menjelang, hanya senyuman yang ingin ku berikan, padamu. Senyuman yang ku coba dan ku usaha untuk tercipta setiap harinya. Senyuman yang merupakan ungkapan terdalamku atas cintamu.

 Senyuman yang mungkin saja saat ini belum dapat engkau pandangi dengan tatapan matamu yang penuh kemuliaan. Namun aku yakin, kesempatan akan memberikan kita waktu untuk saling mempertukarkan senyuman. Beberapa saat lagikah, hari ini, bulan depan, atau …

Aku ingin, kita bersua segera. Sehingga tiada perlu menghitung waktu seperti baru saja. Karena, engkau ada, begitu dekat denganku, setiapkali aku memunculkanmu dalam ruang ingatan. Semoga, semoga engkau lebih sering tersenyum, sebagai balasan atas apa yang aku lakukan. Kita memang berjauhan, belum lagi dapat bergenggaman tangan. Kita memang terpisahkan oleh jarak yang membuat raga kita berjauhan. Namun, ingatan akan kebersamaan kita, membuatku kembali mau bangkit dan berjalan. Aku, ingin menemuimu, bersamamu. Untuk mengukir kenangan terindah kita yang berikutnya. Ya, bersama senyuman yang lebih indah, aku menemuimu dalam kenyataan.

Beberapa saat yang lalu, engkau mungkin belum hadir dalam ingatanku. Karena keterbatasanku sebagai seorang insan. Namun, aku tidak pernah tahu,  apa yang saat ini engkau pikirkan.  Secepat kilat, engkau segera hadir dalam ingatan ini. Dan aku baru tahu, bahwa engkau sedang memikirkanku, seiring dengan hadirnya engkau di ruang pikirku. Ai! Walaupun kita berjauhan raga, namun senantiasa dapat bersalaman dengan genggaman yang semakin penuh keakraban. Engkau selalu ku jaga.

Tentang harapanmu terhadapku, nasihat dan pesan yang sangat berharga, ingin ku bersamai selamanya. Walaupun semua yang engkau sampaikan padaku, tidak mudah untuk menjalankannya. Namun aku yakin, sungguh percaya. Bahwa doamu yang mengalir dengan mudahnya, membuatku mudah untuk menjalankannya. Nasihat berharga, berisi pesan untuk kebaikanku. Aku memperjuangkannya. Ya, bersama doa-doa terbaikmu, aku yakin bisa! InsyaAllah...

Namun demikian, kita sebagai hamba yang tentu saja berselubung lupa, hilaf dan alfa. Seringkali terbuai goda tak berkesudahan di depan mata. Selalu saja ada yang menarik-nariknya untuk mengalihkan perhatian. Ai! Bersama mata, kita dapat melihat indahnya dunia, bersama mata yang terbuka, kita wujudkan segala cita yang sedang melambaikan tangannya untuk kita rengkuh. Dan salah satu cita tersebut, telah engkau pesankan semenjak lama. Aku ingin merengkuhnya, bersamamu. Tolong aku dengan doamu. Karena, saat kita berjauhan raga, tiada seorangpun yang tahu tentang apa yang kita laksana. Hanya Allah subhanahu wa ta’ala, senantiasa menitipkan pada kita sebaik-baik pengetahuan. Agar kita terus melangkah pada jalan-jalan yang diridhai-Nya.

Sebelum kita benar-benar berjarak seperti ini, engkau sempatkan waktu untuk membekaliku dengan berkantong-kantong pesan. Pesan yang ku ingat selalu, ada dalam ingatan. Namun demikian, aku belum ingin menuliskannya di sini, agar aku dapat mengingatnya terus menerus, dan menjalankan. Karena, satu alasan. Kalau aku menuliskannya, berarti aku sedang berjuang untuk mengabadikannya. Namun, kalau aku belum menuliskannya, berarti aku sedang berjuang untuk menjalankannya. Dan aku yakin, mampu bersama doa-doamu yang terkirim untukku.

Ibunda, sejauh tatap mataku memandang kini, hanya ada hamparan luas langit yang penuh dengan bebintang.  Ai! Aku suka…

Ibunda , banyak orang bilang kita mirip. Itu dulu, ketika aku masih kecil. Namun, kini masihkah banyak orang bilang kalimat yang sama, sedangkan waktu telah lama bergulir?  Saat engkau dan aku terus menempuhi waktu. Walaupun dulu aku masih mempertanyakan kemiripan kita, namun kini aku percaya bahwa kita benar-benar mirip. Kita sehati, tiada terbagi. Kita sama-sama mempunyai harapan yang ingin kita wujudkan. Kita mempunyai kemiripan rasa, pikir pun tak jauh berbeda. Ketika dulu ibunda pernah bilang bahwa kita sama di hadapan-Nya, kini aku semakin percaya dengan semua. Ya, tiada perbedaan di antara kita. Sama-sama hamba-Nya.

Terkadang kita lupa bahwa moment yang semestinya tidak kita lupakan adalah tentang kebersamaan yang berlangsung saat ini.

Terkadang kita lupa bahwa moment yang semestinya tidak kita lupakan adalah tentang kebersamaan yang berlangsung saat ini.

Berpijak di atas bumi yang sama, menghirup segarnya udara yang sama. Udara segar tak berpolusi sama sekali, sungguh anugerah terindah yang perlu terus kita syukuri. Ketika mentari bersinar begitu menyengatnya meskipun masih pagi, syukur yang kita hadirkan di dalam diri ini membuat lentera paling berkuasa saat siang menyapa itu, akan menunduk dengan izin-Nya.

Sungguh! Sungguh rasa ini menjadi berbeda ketika ingatan mengalir demikian derasnya terhadap beliau. Seorang yang sangat berarti dalam perjalanan kehidupanku. Beliau yang memberikan kasih sayang walau tiada terlihat oleh mata yang memandang. Hanya terasa dan seringkali membuatku perlu mengelola perasaan. Seakan apa yang aku jalani, menjadi terasa mimpi. Bersama beliau yang seringkali membuatku tersenyum. Aku sungguh merasa menjadi seorang yang paling beruntung di dunia ini. Menjadi bagian dari kehidupan beliau, dan beliau adalah jalan yang sampaikan aku hingga menjadi seperti saat ini. Hingga aku menyadari bahwa aku bukan siapa-siapa tanpa peran beliau yang sangat menyayangi. Baik penjagaan yang tidak saja berupa bimbingan tangan saat kami melangkah, maupun perhatian yang tidak selalu dapat ku lihat dengan jelas. Hanya saja, ada yang menyentuh ruang hati, setiapkali aku menyadari bahwa penjagaan beliau begitu berlebih terhadapku. Sekalipun aku seringkali bersikap tak biasa, namun beliau mengerti dan begitu peduli. Beliau nasihati aku dengan sepenuh hati. Memesankan nasihat dari lubuk hati terdalam, hingga akhirnya aku menjadi luluh. Dan jiwa yang semenjak semula aku coba tegar-tegarkan, hancur juga. Sungguh, aku tidak  mampu membendung aliran yang mudah saja tumpah pada pelupuk mata ini, setiap kali ada yang membincang tentang beliau.

Bahagianya beliau adalah senyumanku. Sedangkan keadaan yang sebaliknya apabila beliau mengalami, aku tentu menjadi orang pertama yang berurai airmata. Sungguh, rasa kami mungkin sudah tiada terpisahkan lagi. Kami sehati, sampai nanti.  Dalam harapku terbersit janji, untuk menjagainya selalu. Sekalipun raga ini telah kembali menjadi tanah dan tiada lagi di dunia ini. Namun setiap baris kalimat yang hadir dan itu berarti, ku persembahkan buat beliau, yang sangat ku hargai. Sebagai ungkapan terima kasihku terdalam. Karena begitu banyaknya kebaikan yang beliau berikan terhadapku. Dan aku belum begitu yakin, dapat menggantinya dengan apa yang aku upayakan. Sungguh, aku merasa hal ini adalah ungkapan isi hati.

So, akrabilah kebersamaan dengan sebaik-baiknya, saat ini. Dengan sesiapapun kita sedang menjalani waktu. Karena, kita tidak dapat mengetahui sampai berapa lama lagi kita akan bersama. Semoga hanya senyuman yang kita tinggalkan di hati beliau yang akhirnya tersenyum pula. Seindah senyuman mentari pagi, kami belajar untuk menghadirkan senyuman pula. Walaupun sesungguhnya, senyuman mentari jauh lebih indah, tapi kami yakin… seindah-indah senyuman adalah senyuman yang berasal dari hati yang berseri. Seperti senyuman ibunda yang kembali ku pandangi hari ini. Beberapa saat sebelum langkah-langkah kaki ini menjejak bumi. Kami masih berada di bumi yang sama. Dan aku yakin, beliau senantiasa mengirimkan doa terbaik teruntuk buah hati yang beliau sayangi. I love you Ibunda… Walaupun jauh di mata, namun di dalam hati tercipta pertemuan antara kita.  Lalu, mentari pun tersenyum menyaksikan kemeriahan yang segera tercipta di sekitar.   Tersenyumlah lebih indah, hari ini. Senyuman yang engkau ukir  hingga akhir waktu.

Dalamnya kasih sayangmu seringkali sampai kepadaku. Sekalipun ke ujung negeri aku pergi. Terima kasih wahai Ibunda…

🙂 🙂 🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s