Potret Senja Menjelang Engkau Berlalu


This slideshow requires JavaScript.

Sekian lama kita bersama. Dan kini, kita masih bersapa. Walau tidak lagi seperti sediakala, kini telah berbeda. Engkau yang menjadi salah satu sumber inspirasi, kini perlahan terdiam. Dalam bisu yang engkau pertahankan, aku bertanya selalu.

“Ada apa denganmu?”

Tiada jawaban yang ku terima, hanya ekspresi saja yang engkau perlihatkan. Engkau tersenyum. Engkau mensenyumiku. Sedangkan aku, kembali bertanya, tanya yang serupa.

Awal kita bertemu tanpa pernah kita tahu sebelumnya. Namun akhirnya, kita pun menjadi bagian yang seakan tidak terpisahkan. Ada kenangan yang engkau titipkan dalam setiap waktu. Padaku, engkau beraikan lebih banyak  hal untuk kita kenang dari hari ke hari. Namun kini, hanya ada wajah yang ku lihat mulai tertunduk. Tidak pernah ku melihat hal yang demikian, sebelumnya. Ada yang tak biasa, ku pikir. Ah! Semoga hanya pikiranku saja.

Beberapa saat berikutnya, ada senyuman yang engkau tebarkan. Dari kejauhan. Senyuman yang menimbulkan tanya berikutnya, bagiku. Aku yang mengenalmu,   engkau mungkin juga telah mengenalku. Karena sudah sekian lama kita bersama.

Meski dari kejauhan, ku lihat ada yang engkau ingin sampaikan. Lalu, aku berusaha melangkah menuju padamu. Agar, aku dapat mendekatimu, dan berada lebih dekat denganmu. Untuk ku tatap lebih jelas, matamu itu.  Untuk kesekian kalinya, aku ingin tahu apa yang ingin engkau pesankan. Dan kini, kita sedang duduk berdekatan. Aku memandangmu seraya tersenyum. Sedangkan engkau, kembali memasang ekspresi yang semula. Engkau tersenyum lebih indah. Ai!

Saat ini, kita kembali bersama. Setelah beberapa masa yang lalu, kita berjarak untuk sementara. Selain ekspresimu, tiada yang aku ingat tentangmu. Seperti saat ini, engkau masih menyimpannya untukku. Ya, senyuman pertama yang aku lihat dari wajahmu, masih ada untukku.

Beberapa masa aku berlalu darimu. Dan kini, aku kembali untuk menemuimu. Engkau yang beberapa saat lagi, akan berlalu dari hari ku. Hari ini. Setelah itu, aku pun akan kembali asyik dengan aktivitasku, tanpamu. Sore, menjelang senja. Kebersamaan kita, untuk ke sekian kalinya.

Aku kembali padamu, untuk menghadirkan kenangan baru tentang kita. Karena kita masih bersama. Walaupun sebaris senyumanmu yang tersisa, aku mengabadikannya segera. Agar senyuman tersebut tetap tinggal bersamaku, ketika engkau telah benar-benar berlalu dari hadapanku.

Semudah ini cara yang aku terapkan untuk menghargaimu. Engkau yang menjadi jalan bagiku hingga aku sampai di sana, ujung perjalananku. Ketika kita pernah terlibat sapa, kembali mengurai berita tentang kita. Saling berbagi kisah yang kita alami. Karena kalau bukan dengan cara begini, kita tidak akan pernah tahu tentang apa yang kita alami. Hanya dengan mengukur jarak perjalanan diri, kita kembali mau menyadari. Sudah sejauh apa kita melangkahkan kaki-kaki ini?

Engkau yang turut menjadi salah satu sarana bagiku berehat, setelah lama ku menempuh perjalanan. Engkau yang kini tersenyum padaku, meski dalam diammu. Dan aku tahu, bahwa engkau  masih peduli. Walaupun tiada kata yang engkau selipkan. Aku yakin, ini semua adalah demi kebaikanku. Kebaikanmu, dan juga semua. Semoga aku dapat mengerti, memahami dan menyadari. Bahwa, engkau yang sedang berdiri dalam diammu, hanya inginkan yang terbaik untukku.Ai! Betapa aku semakin mengagumimu. Walaupun tanpa bicara kata, engkau masih menjadi penasihat terbaikku.

Aku menemuimu saat senja. Banyak yang juga berkunjung mendekatimu. Semoga engkau menyadari kehadiranku. Dan engkau masih mengenalku. Walaupun saat itu, matamu masih menutup. Sedangkan engkau sedang dikelilingi oleh sayup-sayup suara yang meramaikan harimu. Ai! Semoga suaraku nan tidak merdu adanya, dapat engkau dengar. Walaupun lebih banyak suara sedang menambah keindahan alam di sekitarmu.

Dengan genggaman tangan yang semakin erat, engkau selipkan padaku selembar kertas. Aku yang sedang menatapmu, tidak sempatkan waktu untuk segera membacanya. Karena, aku tidak ingin kehilangan kesempatan terbaikku. Engkau yang beberapa saat berikutnya, segera memalingkan pandangmu. Aku merasa sungguh beruntung ketika mata ini akhirnya dapat menyelami lautan bening yang membentang di bawah kelopak matamu.

Sejenak, engkau terpaku. Tertunduk, kembali menunduk. Aku dapat melihat, engkau sedang memikirkan banyak hal. Engkau sibuk dengan pemikiranmu. Sehingga tidak mempedulikan lagi ekspresi yang aku hadirkan terhadapmu. Aku memahamimu dengan sepenuh pemahaman yang masih ku jaga. Sedangkan engkau teruskan berpikir, tanpa menoleh lagi, padaku.

“Engkau mempunyai banyak urusan, yaa…?,” begini rangkaian kalimat yang aku hadirkan, tanpa berani aku ucapkan padamu. Karena aku tidak ingin mengusik kedamaianmu.  Semoga engkau kembali mengangkat wajahmu. Wajahmu yang putih bersih, bersinar di hatiku. Aku bahagia dan merasa sangat senaaaangggnya, kita kembali bersama.

Sekilas, ku pandangi lembar kertas yang engkau titipkan di dalam genggamanku. Kertas putih yang telah penuh dengan tulisan. Tintanya biru, sungguh rapi. Engkau menuliskan sebait pesan, teruntukku. Aku masih belum percaya dengan apa yang aku pandangi. Aku masih seakan berada dalam ruang mimpi. Aku merasa, ini hanya ilusi atau sebuah imajinasi semata. Aku masih mengulang-ulang untuk menatap lembar kertas putihmu, lagi. Untuk ke sekian kalinya, aku begini. Aku ingin engkau tahu, tentang apa yang terjadi denganku. Namun, seakan engkau telah lama pergi. Engkau benar-benar tiada bersuara sama sekali. Ai! apa pesan dari semua ini? Aku ingin segera membacanya.

Barisan kalimatmu, sangat rapi. Tersusun dengan tinta yang indah warnanya.

“Warna biru adalah kesukaanku,” begini engkau pernah menyampaikan padaku, pada masa yang lalu. Ya, ketika kita saling bertukar informasi tentang diri. Masa itu telah berlalu, memang. Namun aku masih ingat, hingga saat ini. Dan dengan demikian, aku memahami. Mengapa engkau merangkai tulisan dengan warna yang sama, saat ini.

Engkau pernah mengatakan padaku, bahwa biru itu dapat mengingatkan kita pada langit yang memayungi bumi. Biru mengingatkan kita pada samudera yang membentang luas. Engkau sampaikan semua itu padaku, untuk mengembalikan ingatanku pada indah ciptaan-Nya. Engkau selipkan rangkaian hikmah terhadapku, dari setiap susunan kata yang engkau ucapkan. Hanya beberapa kata saja. Namun, sedikitpun sangat berarti bagiku.

Berbinar mataku seketika itu juga, lalu ku pandangi wajahmu sekali lagi. Untuk meyakinkan bahwa engkau benar-benar ada di hadapanku. Bukan hanya ilusi, ternyata. Karena apa yang selama ini masih bersemayam di dalam hatiku, mulai menjadi nyata. Terbukti semua, dengan apa yang engkau sampaikan. Engkau yang hadir di hadapanku untuk menjadi jalan kembalikan ingatanku terhadap pencipta kita. Ai! Semula memang aku masih mendamba, namun seiring dengan bergulirnya waktu, aku semakin yakin dengan janji-janji-Nya. Dan engkau adalah salah satu yang DIA janjikan terhadapku. Janji untuk mempertemukanku dengan salah satu ciptaan-Nya yang dapat mengembalikan ingatanku terhadap-Nya setiapkali kita bersama.

"Semakin tinggi harapan semakin sakit jatuhnya. (Emaknya Hamid - Di bawah Lindungan Ka'bah)

🙂 🙂 🙂


“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s