Kabar Matahari


Bagaimana kabar matahari?

Bagaimana kabar matahari?

Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

 ***

Teman, ingatkah engkau dengan siapa terakhir kali berinteraksi? Lalu, kesan bagaimana yang engkau tinggalkan kepada beliau pada saat itu? Bagaimana ekspresi yang engkau perlihatkan kepada beliau? Masih ingatkah engkau wahai teman, kepada beliau yang pernah engkau jumpai sebelum akhirnya kalian berpisah.

Setiap kita, tentu pernah menjalin komunikasi dengan orang lain, bahkan sering. Tidak sekali dua kali. Namun, berulangkali, pastinya. Terkadang, beliau yang datang menemui kita, terlebih dahulu. Ataukah kita yang mendatangi beliau, untuk mengunjungi. Tidak dapat kita pungkiri, setiap kita tentu pernah berinteraksi dengan orang lain. Baik itu anggota keluarga yang sangat dekat dengan kita, bersama teman-teman sepergaulan, beliau yang baru saja kita jumpai, atau kolega yang menjadi bagian dari hari-hari kita saat beraktivitas. Dari hasil berinteraksi, kita dapat mengetahui siapa beliau yang sesungguhnya. Dari waktu ke waktu, itu yang kita lakukan. Tidak terlepas kemungkinan, apakah kita seorang pelajar, pendidik, peneliti, atau pekerja. Semua kita pasti mengenal orang lain, selain diri kita sendiri.

Pada saat pertama kali berjumpa, tentu ada kesan yang kita selipkan di relung hati, tentang beliau. Baik yang sudah kita kenal dengan sebaik-baiknya, maupun yang memang baru sekali bertatap muka. Sungguh, kesan tersebut akan selamanya teringat di ruang mata. Terlebih lagi ketika kita seringkali bersama. Jangankan untuk sekejap dua kejap mata, kita pernah bersapa dengan beliau, bersama, dan tersenyum dalam canda. Walau sekilas, kita dapat melihat siapa beliau yang sesungguhnya.

Terkadang kita menerima kebaikan dari beliau, pada saat pertama kali berjumpa. Terkadang kita baru mengetahui kebaikan beliau setelah lama bersua. Dan yang lebih mengesankan lagi adalah ketika kita pernah menerima pemberian dari beliau, lalu kita bahagia pada saat menerimanya. Ya, kita bahagia, karena beliau baik pada kita. Lalu, kita ingat-ingat lebih sering pemberian tersebut. Kita jaga dan kita pelihara, kita rawat dengan sebaik-baiknya. Begitu telaten kita menjaga, pemberian yang kita terima. Kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya, karena pemberian tersebut sangat berguna. Kita memperoleh manfaat dari apa yang kita terima. Lalu, kita pun tersenyum setiap kali membersamainya. Kita masih ingat, ketika beliau sedang bersama kita. Namun apa yang terjadi setelahnya?

Kita memang tidak selamanya bersama, tentu ada masa untuk berjauhan raga. Kita di sini, sedangkan beliau di sana. Beliau yang pernah baik kepada kita, beliau yang benar-benar baik. Ya, kebaikan beliau yang akhirnya kita ketahui setelah lama bersama.

Three Years Later…

 

Setelah kebersamaan, tentu ada perpisahan. Dan tibalah masanya, kita tidak lagi bersama dengan beliau yang selama ini berada di dekat kita. Beliau melanjutkan kehidupan di lokasi yang berbeda dengan kita, sedangkan kita pun begitu. Kita beralih negeri tidak lagi pada lokasi yang sebelumnya.

Setelah sekian lama waktu bergulir, tiga tahun pun berlalu sudah. Tidak terasa, masa tiga tahun itu telah menjadi jarak yang membentang antara kita dengan beliau. Beliau yang pernah tersenyum di hadapan kita, beliau yang mensenyumi kita saat pertama berjumpa. Setiap kali bersapa, kita menitipkan kesan tentang beliau. Dan itu terjadi, tiga tahun yang lalu.

Hari ini, kita pun menerima kabar terbaru tentang beliau. Kabar terbaru yang merupakan kabar terakhir pula. Kabar yang mengingatkan kita pada kebaikan beliau. Kabar yang akhirnya mengembalikan ingatan kita terhadap beliau. Mengingatkan kita pada masa-masa bersama dulu, kabar yang tidak akan kita dengarkan lagi, tentang beliau.

Kabar apakah itu, teman?

Kabar berita tentang sesiapa saja yang pernah ada di dunia. Kabar berita satu-satunya yang akan orang lain sampaikan tentang kita. Bukan kita yang menyampaikan, namun orang lain. Karena kita tidak akan tahu lagi tentang keberadaan diri ini. Bagaimana mungkin menyampaikan kabar yang serupa? Dan yang mengetahui kondisi terakhir kita adalah beliau-beliau yang ada di dekat kita. Kabar berita yang dapat menitikkan airmata segera, kabar yang mampu menguras seluruh perasaan. Ya, itulah kabar tentang kematian. Kabar terakhir tentang kita. Kabar di akhir usia.

Sesiapa saja, tentu pernah mendengar kabar kematian. Baik dari lingkungan keluarga, dari sahabat sepertemanan, dari berita di media massa, dan lain sebagainya. Cepat ataupun lambat, kita pasti akan mendengarkan juga, kabar berita tentang kematian. Lalu, bagaimana kiranya, saat kita mengetahui bahwa beliau yang pernah berbuat baik kepada kita, kini sudah tiada lagi. Beliau telah kembali kepada pemilik diri yang sesungguhnya. Beliau kini telah berada di lain negeri, negeri yang asing dan sangat berbeda dengan kita.

***

Baru kemarin, saya menerima kabar kelahiran. Dan hari ini, kabar yang sebaliknya sampai pula pada diri ini. Dua sejoli yang sangat berbeda, kini berdekatan. Hanya berbeda satu hari, dan terlihat sekali pesan yang ia sampaikan. Bahwa kelahiran boleh saja terjadi, namun kita perlu mengingat pula tentang kematian. Saat kebahagiaan dan senyuman menghiasi wajah ini menyambut anggota baru dalam kehidupan kita. Bagaimana cara menata ekspresi atas berita berikutnya yang menghiasi hari ini?

Adalah kebaikan yang beliau pernah sampaikan kepada kita, kembali mengingatkan kita, pada beliau di sana.

Walaupun tidak terlihat di depan mata, namun kebaikan tersebut seringkali terasa. Oleh karena itu, berbaik-baiklah dengan kebaikan, dalam berbagai kesempatan menjalani hari di dunia ini. Semoga kebaikan yang kita lakukan merupakan penghujung kesan yang kita tinggalkan kepada beliau. Ya, beliau yang terakhir kali  berinteraksi dengan kita. Walaupun bagaimana adanya, berbuat baiklah segera. Bukan untuk dilihat dan diketahui oleh sesiapa, namun untuk mengingatkan kita pada akhir kehidupan di dunia. Tentang harapan yang terus kita jaga, semoga menjadi nyata.

Rangkaian kata yang kita cipta, mungkin saja dapat kita hapus setelahnya. Saat kita tidak ingin untuk membacanya lagi, kemudian. Namun, bagaimana halnya dengan torehan tinta dari nada suara yang kita tuliskan pada dinding hati sesiapa saja yang berada sangat dekat dengan kita?

Ingatlah wahai teman, tiada yang dapat menghapusnya selain maaf … maaf … dan sekali lagi, maaf. Karena nada suara tak berwujud dalam nyata, ia hanya terdengar. Lalu, ada yang meresapinya. Ingatkah kita kapan terakhir kali berbicara, dan apa yang kita ucapkan? Bagaimana kesan dan pesan yang kita sampaikan, dan cara kita menyampaikannya? Sekalipun ada niat untuk menyampaikan demi kebaikan, namun kita perlu mengetahui dan mempelajari pula bagaimana cara menyampaikannya. Karena, tidak selamanya isi pikiran kita sama dengan pikiran orang lain yang menerima. Berbeda, pasti ada. Salah tanggap, pasti terjadi. Tersilap, mungkin saja seringkali. Lalu, maaf dari mu seringkali senyumkan wajah ini, seiring dengan lirikan hati yang mengedipkan matanya.

Tolong maafkan khilaf dan salah diri ini, yaa. Setiapkali dari ucap bicara suara, ada yang membuat engkau belum dapat menerima. Tolong ingatkan saya, setiapkali ada yang belum pada tempatnya, sedangkan ia terlanjur ada. Terutama kata yang mengalir dari dalam jiwa, lalu menembus nada suara.  Karena sebagai insan tentu saja tidak pernah luput dari salah dan khilaf. Tolong maafkan yaa. Maaf yang ku harap engkau berikan, sebelum akhirnya nafas ini sudah tiada lagi. Semoga lancar alirannya pada saat terakhir kali ia membersamai raga ini. Dan pada saat itu, senyuman pun menghiasi wajah dengan kelegaan yang tercipta. Senyuman yang damai dan segar…

Beliau yang telah tiada kini, menjadi jalan pengingat kita, bahwa pada suatu saat kita pun akan mengalami hal yang sama. Ya, kita juga akan mengalami akhir usia. Kita juga akan menempuh bagaimana keadaan terakhir di dunia. Kita, engkau dan aku, kita sama. Sama-sama tidak akan selamanya di dunia. So, berbenah segera sebelum saat itu tiba, perlu kita laksana. Agar, kita senantiasa dalam kondisi siap setiap detik.

Dengan demikian maka bermudah-mudahlah dalam meninggalkan kesan terbaik bagi sesiapa saja yang membersamai kita saat ini. Karena kita tidak pernah tahu, apakah pertemuan dan kebersamaan kita saat ini dengan beliau, adalah pertemuan yang terakhir di dunia? Pertemuan yang menyisakan kesan dan kenangan bagi kita, yang beliau tinggalkan. Atau pertemuan yang menyisakan kesan dan kenangan bagi beliau ketika kita meninggalkan beliau.

Teman, bukankah kita tidak pernah mengetahui tentang jadwal perjalanan diri ini? Apakah sudah sampai pada tujuan yang sesungguhnya?

Jelas, jelas sangat. Kita yang sedang menempuh perjalanan, menjadikan dunia sebagai jalan, bukan tujuan yang sesungguhnya. Sedangkan tujuan yang sedang kita jelang sedang menanti di hadapan.

Seberapa seringkah kita mengingat kematian, teman. Atau malah kita sudah tidak lagi ingat sama sekali, bahwa sesungguhnya kita juga akan mengalami. So, saat ini kita masih ada untuk mempersiapkan diri, bersiaplah. Karena sewaktu-waktu ia akan hadir menyalami. Baik dalam kondisi siap ataukah belum, kita kuddu siap. Saat ajal kematian benar-benar sudah menjelang.

Sekilas, walaupun sejenak, setiap hari. Belajarlah untuk mengingat kematian. Mengingat, agar kita mau mempersiapkan diri untuk menyambutnya. Agar kita mau menjadi hamba yang terjaga senantiasa. Terjaga sikapnya, terjaga tutur kata dan ucapannya. Kalau kurang bermakna dan bermanfaat adanya, marilah bersegera meninggalkan saja. Sedangkan kalau ternyata sangat penting dan perlu, maka membersamainya adalah kemestian.

Tiada yang mengharapkan kebaikan dari kita, kecuali beliau yang menginginkan agar kita selamat. Sehingga beliau seringkali menasihatkan kita untuk berbuat kebaikan.  Agar kita lebih sering berbuat baik, dan beliau memberi tahu kita, bagaimana cara untuk berbuat baik. So, perhatikanlah benar-benar, setiap susunan kata yang beliau rangkai buat kita. Pahamilah dengan sempurna, setiap ucapan kata yang beliau suarakan di hadapan kita. Hanya saja, terkadang kita belum menyadari apa yang sedang kita jalani. Lalu, kita bermudah-mudah untuk memberikan penilaian kepada sesiapa saja, dalam berinteraksi. Padahal, apapun yang kita terima, kita alami, kita jalani, semua adalah demi kebaikan kita. Hanya itu.

Seiring dengan perjalanan waktu, kita akan sama-sama menyadari, bahwa ternyata sesiapa saja yang pernah menjalin komunikasi dengan kita, dapat mempengaruhi bagaimana cara kita berpikir. Sekalipun tidak dapat disamakan dengan cara pandang beliau, secara perlahan-lahan, kita akan mempelajari banyak hal dari beliau semua. Baik kita sadari, maupun tanpa kita sadari. Oleh karena itu, alangkah indahnya, kalau kita benar-benar memperhatikan apa yang beliau sampaikan. Kalau yang baik, segera resapi dengan pikiran mendalam, lalu aplikasikan dalam sikap dan perbuatan. Namun, kalau ternyata masih berseberangan dengan apa yang kita pahami, segera selipkan dalam ruang ingatan. Jangan membuang begitu saja, karena pada suatu hari ia berguna.

Apakah kita pernah menerima nasihat ataupun pesan dari orang lain? Dan masih ingatkah kita, apa yang beliau pesankan terakhir kali?  Itulah pemberian dari beliau yang kita terima.

Karena pemberian tak hanya berwujud benda dalam nyata. Namun nasihat, petuah pun pesan juga berharga. Sungguh tinggi nilainya. Kalau kita ingin menghitung berapa harganya, sungguh tiada yang dapat mengganti dengan mata uang. Dan yang terlebih berharga lagi, adalah nilai dari siapa yang menyampaikan pesan tersebut kepada kita. Beliau sangat berharga. Karena beliau telah menjadi jalan, sampaikan pesan untuk kita. Ingatlah, kebaikan beliau senantiasa.

Teman, hari ini kita masih ada di dunia, bersama nafas yang menjadi bagian dari anugerah terindah. Lalu, bagaimana kita mempergunakannya? Apakah kita teringatkan kepada detik-detik terakhir kebersamaannya dengan kita? Apakah yang sedang kita laksana bersamanya? Sedang tersenyumkan kita, ataukah malah sedang dalam kondisi penuh emosi? Dalam nuansa penuh kedamaiankah atau sedang bertemankan taburan kata-kata yang semestinya ia tidak pernah ada?

Sungguh, inginkah kita akhir kebersamaan dengan nafas pun seperti demikian? Karena sedetik setelah kita membersamai kondisi yang serupa, bisa saja kita mengalami kematian. Makanya, ingat-ingatlah lagi, tentang janji yang sampai saat ini kita telah terlupa. Janji yang semua kita tidak ingat lagi. Ya, janji dengan Ilahi, pemilik diri kita ini. Diri yang hanya titipan, baik-baiklah kita menjaganya, memperlakukannya, agar ia dalam kondisi terbaiknya saat ia pulang nanti.

Teman, sesungguhnya semua ini, merupakan jalan ingatan kepada diri ini, ia yang sedang menitipkan pesan di hadapanku. Agar kembali teringatkan ia pada akhir kehidupan, setiapkali ia menemuimu. Baik di sini, di sana, maupun di mana saja. Sebagai jalan ingatan baginya untuk segera membenah kata sebelum ia mengalir melalui nada suara. Membenah fikir yang sempat terhadirkan, sebelum ia berubah menjadi perbuatan. Membenari hati yang seringkali menyampaikan suaranya, sebelum ia menunjukkan wujud dengan sikap diri ini. Sungguh, semua adalah untuk diri ini, ia yang seringkali berinteraksi dengan sesama. Ia yang perlu lebih sering mendapatkan peringatan. Agar ia dapat mengingat dengan mudah, apa yang semestinya ia ingat segera. Sebelum ia menghadirkan sikap, ucap, mau pun niat. Ia perlu berbenah terlebih dahulu.

Hari ini, mungkin engkau merasakan bagaimana kehidupan memberimu pesan. Pesan yang tersirat maupun tersurat di depan mata, untuk engkau baca. Sedangkan engkau benar-benar sudah sering memperoleh pesan tersebut pada masa-masa sebelumnya. Lalu, apakah yang engkau lakukan untuk menyikapi hal demikian, teman?

Sekalipun engkau telah hapal dan memahami betul-betul tentang pesan tersebut, namun ia masih sampai padamu untuk engkau baca. Maka, bacalah… agar engkau semakin paham dan mengerti isi pesan yang sedang engkau baca. Karena, kita perlu mengulang dan mengulang lagi agar semakin memahami. Lalu, pesan seperti apakah yang sedang engkau pelajari dalam hari ini yang sedang engkau jalani? Pesan tentang kelahirankah atau yang sebaliknya? Atau, malah dua-duanya sekaligus?

🙂 🙂 🙂

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s