Fanny You Are Beauty


Fanny. Pertemuan kami pertama kali adalah beberapa hari yang lalu. Tepatnya pada tanggal sembilan September tahun dua ribu dua belas. Pertemuan pertama yang sangat mengesankan bagiku. Tentangmu yang penuh dengan ekspresi, pun keceriaan. Lagu masa kanak-kanak yang masih melekat erat dengan pribadimu, terus menyenandung dengan merdunya. Lagu yang tidak perlu terdengar dengan nada suara yang mengalir, namun hanya jiwa yang mendengarkannya. Aku sangat berkesan dengan Fanny.

Seorang putri, adiknya Fitly. Kami akhirnya menghabiskan waktu hingga beberapa jam lamanya. Seperti sudah lama bersama, kami pun bermain dengan bahagia. Saling bercanda dan bertukar tatap mata, itulah yang kami lakukan dalam kebersamaan. Waktu yang bergulir seakan tiada terasa. Hingga akhirnya, sore pun datang. Sore yang menjadi pertanda bahwa Fanny perlu kembali lagi ke tempat ia semula datang. Karena keesokan harinya, Fanny mesti bersekolah. ‎​(y);)•s̶̲̥̅̊!!!ρ̩̩̩̩̥<3•s̶̲̥̅̊!!!ρ̩̩̩̩̥({})(y)

Oke Fanny,… Dengan segala kerelaan, aku pun menyadari. Bahwa tidak selamanya Fanny ada di sisi. Namun kehadirannya sebagai salah satu jalan yang kembali ingatkan diri ini. Bahwa setelah adanya pertemuan, ada bentangan jarak yang menjadi pembatas. Inilah yang kemudian berlangsung. Beberapa waktu setelah Fanny berangkat, akupun masih dapat memandangi senyumannya yang telah menghiasi salah satu lembar catatan perjalanan kehidupanku.

Bagiku, bersama dengan Fanny merupakan pengalaman baru. Karena kami baru bertemu. Pertemuan yang menyisakan pesan mendalam tentang pentingnya kebersamaan. Kebersamaan yang walaupun tidak kami rencanakan sebelumnya, namun pasti ADA yang telah Merencanakan pertemuan kami. Sungguh terasa indahnya kebersamaan ini. Terlebih lagi kebersamaan yang tanpa kita duga sebelumnya, dan akhirnya kita menjalani, ya Fanny…

Fanny adalah adik kecil yang senang berekspresi. Selama kami bersama, ada banyak ekspresi yang ia tampilkan dari wajahnya. Tatapan mata yang berkedipan lalu berlarian kian ke mari, mencerminkan bahwa Fanny adalah seorang putri yang cerdas. Ekspresinya ketika bertanya, memanyunkan bibir beberapa senti meter, pun terjadi. Selain itu, Fanny juga sempat hampir mengundang mendung di lembaran wajahnya yang belia. KyaAAa… Hampiiir saja. 😀 Karena, karena, karena apa coba?

Aku yang memperhatikan perubahan ekspresi wajahnya, menjadi tidak tega. Namun apa boleh dikata, pada saat yang sama, dalam menit-menit yang serupa, ada hal penting yang tidak dapat aku tinggalkan. Jadinya, yaaaaa dilema. Ђåαª(*)ђåαª(*)ђåαª(*)ђåαªː̗̀

Walaupun tidak tega, namun aku tetap menjalankan apa yang sedang aku laksana. Karena memang begitu pentingnya. So, "Tolong maafin Teteh ya Fannnn…," pintaku di dalam hati. Seraya memandangi wajahnya yang beberapa saat lagi akan menderaskan tetesan permata kehidupan, hanya mampu ku ucapkan, satu kata -Maaf- yang tertuju padanya.

Beberapa puluh menit dalam pertemuan pertama, kami habiskan waktu dengan berfoto ria. Lebih sering Fanny yang menjadi objek, tentunya. Dan Fanny sangat suka. Ia begitu menikmati detik ke detik sesi pemotretan yang terus berlangsung. Dan lama kelamaan, kami pun mengganti lokasi, tidak lagi pada tempat semula. Sudah beberapa kali kami berpindah. Mulai dari depan pintu, di sisi lemari, menempel pada dinding bercat putih dan di lantai pun tidak ketinggalan. Masih belum puas, kami pun berpindah ke sini. Xiixixiiii… Dan inilah kamiiii, saya dan Fanny adiknya Fitly.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

“Pesan-pesan positif dan konstruktif, sangat berguna demi masa depan kita”

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s